Senin, April 30, 2018

Agama Tertentu dan Kelompok Tertentu.

Tertentu, adalah kata ajaib di Indonesia. Ia bisa menjadi kata ganti oknum. Ia bisa untuk mengaburkan masalah. 

Persis di sosmed, orang menyebut starb**** untuk starbukcs, kont** untuk kontol. Hampir mirip para akademisi (baik luar dan dalam negeri), yang malu-malu atau takut menyebut, siapa dipersekusi dan siapa mempersekusi paska 30 September 1965 dulu.

Tak ada yang berani menyebut sebagaimana faktanya. Siapa korban terbesar dalam tragedi nasional 1965? Anggota PKI, yang terlibat gerakan 30 September 1965? Atau kaum abangan, yang belum beragama isl** (baca; Islam), kaum nasionalis anggota PNI, kelompok Kejawen, atau pendukung Sukarno yang musuh Suharto?

Siapa yang melakukan pembantaian besar-besaran, setelah peristiwa 30 September 1965? Adakah yang menganalisis, bahwa kekuasaan politik penguasa Indonesia, saat itu, mulai menyeret agama untuk legitimasi dan indoktrinasi kekuasaan?

Transformasi ideologi pada Amien Rais menjelaskan hal itu. Bagaimana doktor ilmu politik (tentang Timur Tengah) itu belajar dari Ali Shariati cum suis, masuk ke ICMI, dan perlahan kemudian memakai sentimen agama, untuk menyingkirkan Megawati (sukarnois). Makin ke kanan, ia ke Petamburan, setelah sebelumnya ke Hambalang. Keduanya bukan bagian dari isu perjuangan, dan bahkan musuh ideologi Amien Rais. 

Sejak kapan agama dipakai sebagai alat legitimasi, dan intimidasi dalam praktik demokrasi? Mungkin sejak gagal menjadi pewaris ajaran mulia, karena perilaku mereka sendiri yang tidak mulia. Ketika mimpi dan nafsu kuasa tak terwujud, karena performance mereka sendiri, yang memang tak akseleratif, tak mampu meyakinkan khalayak. 

Di situ, majoritas menjadi senjata ampuh, juga bagi kelompok tertentu yang bisa memainkan. Bisa jadi oleh Amien Rais, PKS, Prabowo (sebagai pewaris mazhab soehartoisme), Rizieq Shihab, atau gabungan ke-empatnya, mungkin ditambah HTI pula. Bagaimana bisa berkomplot? Tak ada yang haram untuk yang dihalalkan. 

Karenanya jangan heran jika teriakan ganti presiden selalu diiring tekbir. Meski bisa jadi kelak ada taktik lain. Misal; Ganti Presiden, Haleluya! Ganti Presiden Om Swastiatu. Setidaknya untuk menutupi fakta, gerakan ini diprakarsai PKS. 

Mengapa PKS merasa penting dengan gerakan ganti presiden? Karena mereka menginginkan kekuasaan itu. Nyadar sebagai partai gurem, diambillah artikulator bernama Prabowo, sebagai soehartois, yang paling pas bagi mimpi bersama para korban Jokowi, secara geo-politik dan geo-ekonomi. Mereka yang selama ini dalam zona nyaman sepanjang Orba, kini runyam karena perubahan-perubahan mendasar dari Jokowi. 

Sentimen agama dianggap senjata ampuh. Murah-meriah. Selalu saja demikian. Ada kelompok tertentu dari agama tertentu, untuk isu-isu tertentu atau kekuasaan tertentu. Sudah barang tentu, tertentu beda dengan terkentu. 

Siapa yang terkentu dalam hal ini? Politik? Agama? Atau, kebodohan pihak terkentu?

1 komentar:

Khianat Politikus Ketika Keringat Rakyat Belum Kering

Oleh: Sunardian Wirodono Sudah jamak, pemilu usai rakyat ditinggalkan. Rakyat pemilik hak suara, sebagaimana...