Jumat, Desember 07, 2018

Capaian Prestasi Spektakular Sandiaga Uno: Dari Santri ke Nabi Yusuf



Sungguh menggetarkan capaian prestasi Sandiaga Uno, cawapres pasangan capres Prabowo Subianto dalam Pilpres Republik Indonesia 2019.

Berkait deklarasi capres-cawapres Prabowo-Sandi, presiden PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Sohibul Iman, mentahbiskan Sandiaga Uno sebagai santri post-Islamisme (4/8/18). Oleh karena itu, namanya tak hanya Sandiaga Uno, melainkan harus disebut lengkap sebagai Sandiaga Salahuddin Uno.

Kita tahu Salahuddin jenderal dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit. Panglima Perang Salib yang sadis, dan mampu menaklukkan Yerusalem. Betapa amat sangat menggetarkan sekali bukan? Jangan bilang bukan, kecuali kapir!

"Saya kira beliau seseorang yang memang hidup di alam moderen, tetapi beliau mengalami proses spiritiualisasi dan Islamisasi, sehingga saya bisa mengatakan saudara Sandi adalah merupakan sosok santri di era pos-Islamisme. Dia benar-benar menjadi contoh pemimpin muslim yang kompatibel dengan perkembangan zaman," tutur Sohibul Iman memberikan argumentasi.

Menurut PKS, salah satu ciri Sandiaga yang bisa dilihat sebagai sosok santri post-Islamisme; Ialah kedekatan dengan tokoh-tokoh agama. Kedekatan dengan ulama dan perilaku Islami, yang menunjukkan kesalehan pribadi itu bagian tidak terpisahkan. Ciri lain, masih menurut orang PKS, aktivis post-Islamisme adalah cenderung pragmatis, realistis, dan bersedia berkompromi dengan realitas meski tidak selalu ideal. Namanya juga partai dakwah, harus pintar berdakwah, apalagi ada tarifnya.

Ditegaskan Sohibul, Sandiaga atau aktivis post-Islamisme ini, bukan sekuler. Post-Islamisme adalah tahapan terkini, dari gerakan dakwah Islam setelah revivalisme dan strukturalisme Islam. Gerakan ini mulai menguat seiring dengan kebangkitan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki. Mulai jelas ‘kan di sini?

Post-Islamisme adalah gerakan yang lebih mementingkan tercapainya esensi Islam, moderat, menyatu dengan sistem yang sedang berjalan, yaitu demokrasi. Pendekatan mereka lebih pragmatis. Yaitu tercapainya target riil, seperti ekonomi, pembangunan, pertumbuhan, dan kesejahteraan masyarakat secara umum. Kalau ada orang PKS, seperti Mardani Ali Sera nampang di youtube bersama Yusanto dari HTI, untuk teriak ‘Ganti Presiden’, karena tahrir pada hisbut itu maknanya adalah ‘ganti’. Bukan ba’dal dalam pengertian melanjutkan (yang sudah ada). Ganti presiden artinya ganti sistemnya sekalian! Pancasila itu thogut!

*

Tapi kenapa PKS memilih atau mendukung Sandi? Ya, punya apa PKS selain ideologi islamismenya itu? Maka Sandi harus dibaptis dulu, sebagaimana Sohibul Iman menyebut santri era Post-Islamisme. Mangkanya, tidak sembarangan cawapres kita yang satu ini. Meski semula Partai Demokrat menolak pencawapresan Sandiaga, toh SBY dan AHY menerima juga pada akhirnya. Mengenai persoalan Jenderal Kardus dicuitkan Andi Arief? Jika kardusnya hilang lenyap, biasanya bukan menguap, tapi mungkin ada kardus lain lagi. Toh SBY, dan AHY, yang dibilang ahli strateg oleh filsuf macam Rocky Gerung, harus ngisep ibu jari dalam Pilpres kali ini.

Status religius Sandiaga Salahuddin Uno, dalam waktu relatif singkat, semakin meningkat di mata pendukungnya. Dalam waktu sebulan saja, Sandiaga sudah disebut mencapai level ulama. Bahkan ia bisa menyingkirkan dua ulama rekomendasi Ijtimak Ulama GNPF, Ustaz Abdul Somad dan Ustaz Salim Segaf Al Jufri.

Pada 16 September 2018, GNPF Ulama dalam Ijtimak Ulama II, akhirnya mendukung Prabowo-Sandi. GNPF memahami bahwa Prabowo tak memilih ulama menjadi cawapresnya untuk menghindari perpecahan umat. Tapi apa kata PKS?

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, mengatakan Sandi adalah ulama. Dalam Alquran, demikian HNW, istilah ulama disebut dalam Surah Asy-Syura dan Surah Fatir. "Kedua-duanya, justru ulama itu tidak terkait dengan keahlian ilmu agama Islam. Satu tentang ilmu sejarah, yaitu dalam Surah Asy-Syura dan Surah Fatir itu justru science, scientist," kata HNW. Maka mengacu dua surat itu, cawapres pendamping Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, juga seorang ulama, lebih muda dan ngganteng dibanding ulama sebelah yang juga cawapres.

"Menurut saya sih, Pak Sandi itu, ya, ulama, dari kacamata tadi. Perilakunya, ya perilaku yang juga sangat ulama, beliau melaksanakan ajaran agama, beliau puasa Senin-Kamis, salat duha, salat malam, silaturahim, menghormati orang-orang yang tua, menghormati semuanya, berakhlak yang baik, berbisnis yang baik, itu juga satu pendekatan yang sangat ulama. Bahwa kemudian beliau tidak bertitel 'KH' karena memang beliau tidak belajar di komunitas tradisional keulamaan," tutur HNW.

Capaian Sandiaga, memang spetakuler. Sebulan kemudian, pada Oktober 2018, Koordinator Jubir Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyamakan Sandiaga Uno dengan Mohammad Hatta. Begawan Ekonomi Indonesia, sebelum Sumitro Djojohadikusumo disebut begawan. Meski mendapat protes dari cucu Bung Hatta, dan dituntut minta maaf, tim kampanye Prabowo-Sandi tak mau minta maaf. Dahnil membandingkan Prabowo dengan Sukarno dan Jenderal Soedirman, Sandiaga dengan Mohammad Hatta.

Setelah diprotes cucu Bung Hatta, Dahnil kemudian mengatakan; "Yang jelas, Bang Sandi sejak awal ingin meneladani kepemimpinan Bung Hatta. Setiap kepemimpinan hari ini kan pasti berusaha mencari keteladanan dari kepemimpinan sebelumnya. Nah salah satu kepemimpinan yang bisa kita teladani adalah Bung Karno, Jenderal Soedirman, kemudian Bung Hatta," ujar Dahnil.

*

Pada bulan Nopember 2018, tak ada capaian berarti dari Sandiaga. Mungkin sebagai seorang religius, dan tawadhu',  dia menghormati bulan pahlawan Indonesia. Atau mungkin waktu itu lagi disibukkan dengan kampanye ke pasar-pasar. Dan sempat bikin sebel para pedagang pasar, karena selalu menghinformasikan harga-harga naik. Itu menjadi kampanye negatif bagi para pedagang pasar, karena calon pembeli bisa jadi beralih ke supermarket, milik teman-teman Sandiaga Uno yang bisa lebih murah.

Tiba-tiba, dalam bulan Desember, tepatnya 4 Desember 2018, dalam kampanye di Surabaya, Sandiaga memberikan pernyataan;  Bersama Prabowo, siap menyelesaikan masalah ekonomi dalam waktu tiga tahun. Jika Nabi Yusuf butuh tujuh tahun untuk menyelesaikan krisis ekonomi, pasangan Prabowo dan Sandiaga Salahuddin Uno percaya diri bisa melakukannya lebih cepat.

“Nabi Yusuf butuh tujuh tahun. Insyaallah, saya dengan Pak Prabowo cukup tiga tahun untuk memulihkan perekonomian Indonesia,” ujar Sandiaga Salahuddin Uno. 

Guna mewujudkan janji ini, Sandiaga Uno punya tiga kiat. Itu kalau Sandiaga terpilih sebagai Wapres karena Prabowo menang jadi capres. Tidak mungkin Sandi kepilih sebagai wapres sementara Prabowo kalah pilpres bukan? Penistaan agama? Enggaklah, ‘kan yang ngomong Sandiaga Salahuddin Uno, bukan Ahok yang penista agama itu?

Dengan klaim mampu lebih cepat, kita tak tahu, artinya hal itu lebih pintar atau lebih bodoh? Untuk mencapai level melampaui nabi saja, Sandiaga butuh waktu dua bulan. Bandingkan, Agustus 2018 ia disebut santri Post-Islamisme, September kemudian HNW menyebutnya ulama. Bulan berikutnya, Oktober, disebut Dahnil sebagai Bung Hatta Baru. Sungguh capaian post-millenial banget. Apakah Sandiaga mengambil paket kilat, tiap bulan naik tingkat?

Hanya harus diakui, capaian yang melampaui nabi, mungkin lebih sulit. Butuh waktu dua bulan, untuk memberikan pernyataan bisa 4 tahun lebih cepat, dibanding capaian Nabi Yusuf dalam menyelesaikan krisis ekonomi.

Jika kita percaya urutan 25 nabi, Kanjeng Nabi Yusuf pada nomor 11 (sesudah Yakub dan sebelum Ayub), artinya sampai dengan Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu’ alaihi wasallam, sebagai nabi (25) terakhir, berselang 13 nabi? Hitung rata-rata, jika para nabi berusia 100 tahun (konon ada yang 300 tahun lebih), maka krisis ekonomi itu terjadi sekitar 2000 SM (sebelum –kalender- Masehi)?

Krisis ekonomi macam apa? Naik-turunnya Dollar AS, karena perang dingin dengan Cina? Atau karena para pemain bursa saham, yang dikuasai kelompok Yahudi dan Yakuza terjebak bermain gaple? Dan semua itu dilalap habis oleh Sandiaga Uno, hanya dalam tiga tahun saja? Dengan cara mengurangi impor, mengajak pengusaha swasta dan prioritas pembangunan infrastruktur yang terprogram dengan lebih baik? Soal infrastruktur, ya, iyalah. Karena infrastruktur basic sudah diselesaikan di era Jokowi.

*

Tapi, tahukah Anda, krisis ekonomi macam apa, di jaman Nabi Yusuf itu? Bagaimana cara Nabi Yusuf menyelesaikan? Dalam sejarah Mesir Kuno, telah mencatat terjadinya ancaman krisis pangan, akibat perubahan iklim ekstrim yaitu musim hujan (masa subur) dan El Nino (musim kering), selama 7 tahun berturut-turut. Kondisi ekstrim seperti itu sampai sekarang belum pernah terulang kembali.

Bermula dari mimpi seorang Raja Mesir, yang 'melihat tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus, dan tujuh butir (gandum) yang hijau, tujuh butir lainnya kering'.  Mimpi itu tak bisa diterjemahkan menjadi informasi yang jelas. Sehingga raja mengundang seluruh jajaran pegawai dan cendekia istana, untuk menafsir mimpi. Tapi tak seorang pun yang mampu menjelaskan secara memuaskan, dan tuntas tas-tas-tas seperti orang jualan tas Hermes.

Hingga kemudian tampilah Nabi Yusuf, sebagai penta'wil mimpi. Yang akhirnya membuat negara saat itu dapat memprediksi kejadian luar biasa, yang akan terjadi 14 tahun ke depan. Pengetahuan inilah yang disebut sebagai wahyu dari Tuhan. Kemudian setelah itu, langkah kedua diambil Raja Mesir, menjadikan Nabi Yusuf sebagai pejabat pemerintah. Sebagai bendaharawan yang mengatur urusan pangan rakyat selama menghadapi masa krisis.

Pertimbangan utama memilih Yusuf, karena pengetahuannya, dan juga amanah serta bisa dipercaya (QS 12:55). Kemudian disusunlah strategi antisipasi, seperti melalui produksi massal gandum di masa subur. Teknologi panen  gandum, yaitu dengan memetik bersama tangkainya, agar memiliki daya simpan yang lama. Pengaturan sistem pembenihan, agar benih untuk musim tanam berikutnya tetap tersedia. Manajemen stok pangan yang berkeadilan. Dan terakhir, membudayakan tolong-menolong sesama warga negara yang kesulitan pangan.

Langkah-langkah itulah, yang dilakukan Yusuf, sebagaimana secara tersirat dalam Quran (QS 43-53). Apakah, katakanlah dalam 4.000-an tahun kemudian setelah masa itu, di Indonesia pada 2018 dan seterusnya, berada dalam situasi seperti jaman Nabi Yusuf? 

Mungkin saja, jika menghadapi kasus seperti jaman Mesir Kuno itu, dengan pengetahuan dan alat baru seperti jaman kini, jangka 3 tahun terlalu lama dibanding 7 tahun pada 4.000 tahun silam. Tapi, jika logika ini dipakai, bisa dituding menghina kemampuan Sandiaga, yang bisa 4 tahun lebih cepat daripada masa yang dibutuhkan Nabi Yusuf kala itu?

Kenapa membandingkan dengan Nabi Yusuf? Bisa jadi karena Sandiaga adalah turun dari Salahuddin, yang semula bernama Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi, pendiri Dinasti Ayyubiyyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr. Yusuf bin Najmuddin lebih dikenal dengan nama julukannya, Salahuddin Ayyubi atau Salah ad-Din, atau dalam lidah Jawa sebagai Pangeran Saladin.

*

Tidak berkait itu sih. Tapi mungkin lebih karena waktu itu Jokowi menyebut film serial Game of Thrones sebagai perumpamaan ihwal kondisi ekonomi Indonesia dan dunia saat ini. Sementara mengatakan tak ada film yang relevan untuk menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Presiden Joko Widodo sebelumnya menyinggung serial Game of Thrones dalam pidatonya di pertemuan tahunan International Monetery Fund - World Bank atau IMF-World Bank di Bali. Jokowi menyebut bahwa hubungan antarnegara ekonomi maju terlihat seperti yang digambarkan serial tersebut. Jokowi lantas mengutip satu tagline terkenal dari film Game of Thrones, yakni Winter is Coming.

Sandiaga mengakui bahwa istilah winter is coming tepat menggambarkan ancaman global terhadap perekonomian Indonesia. Namun, dia berpendapat kondisi internal dalam negeri juga perlu dibenahi. Sandiaga menyebut, ekonomi internal ibarat kemarau panjang. Sandiaga lantas berpendapat, film Yusuf Asshidiq Alaihissalam lebih tepat untuk mengumpamakan kondisi Indonesia saat ini. "Saya kebayang film yang Nabi Yusuf itu, yang tujuh tahun kita paceklik," kata santri post Islamisme sekaligus ulama ini.

Ya, sudahlah. Itu urusan para dewa, yang bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan allah subha’nahu wa ta’alla. Rakyat dengan kualitas nalar sederhana, lebih percaya bahwa pilpres (pemilihan presiden) di Indonesia hanyalah peristiwa manusia biasa. Dalam wacana demokrasi sekuler, yang lebih butuh manusia biasa saja, dan membumi.

Manusia biasa yang jujur, sederhana, tidak korup, dan bisa kita ukur rekam jejaknya. Tetap sebagai manusia biasa, yang mampu mendengar, dan mau menerima kritikan. Yang dalam lagu kanak-kanak sering dinyanyikan; Peramah dan sopan. Baik budi dan tidak sombong.

1 komentar:

Karena Jokowi Merugikan Mereka, Dibunuhlah Jokowi

JOKOWI, dalam kaitan pencapresan 2019, sering diposisikan anti Islam dan anti ulama. Bagaimana muncul tudingan itu, ...