Sabtu, Agustus 05, 2017

Zoya yang Dibakar. Sebuah Rekonstruksi Teks


Siti Zubaidah (25) isteri Zoya, menunjukkan foto suaminya yang tewas dibakar.

Jika pun benar Zoya melakukan tindakan pencurian, layakkah menghakiminya, dengan membakarnya hidup-hidup hingga tewas?

Tulisan ini mencoba menelusuri, bagaimana sebuah kejahatan massal mencoba ditutupi secara tidak adil. Mungkin oleh pelaku, penyebab kejadian, dan bahkan polisi yang tak berani mengambil resiko. Maka dibangun framing, Zoya adalah pelaku tindak kriminal.

Siapakah Zoya? Dia adalah Muhammad Aljahra (30) lelaki yang dibakar hidup-hidup hingga tewas, karena dituding mencuri ampli mushalla di bilangan Bekasi.

Menurut Sumiyati (41), istri pengurus Mushala Al-Hidayah, Desa Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi, dia membenarkan bahwa amplifier di mushala tersebut hilang (Selasa, 1/8/2017) dicuri orang.

“Iya amplifiernya hilang, pas dilihat ampli-nya udah enggak ada,” kata Sumiyati, saat ditemui di Mushala Al-Hidayah, di Kampung Cabang 4, Desa Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi (Jumat, 4/8/2017). Dia menjelaskan, amplifier mushala tersebut masih digunakan waktu Shalat Ashar. Setelah itu, ada seorang pria yang shalat di mushala tersebut dan setelahnya ampli tiada.

Sumiyati menjelaskan, usai pria tak dikenal itu shalat di Mushala Al-Hidayah, suaminya, Rojali (41), mengecek pengeras suara yang akan digunakan untuk acara malam hari.  “Kan mau ada acara haul pas malamnya, jadi suami saya mau tes speaker-nya. Pas dicoba enggak ada suara, terus dicek lagi ternyata amplifiernya udah enggak ada, dan ada kabel yang udah digunting,” kata Sumiyati.

Bagaimana test speaker tanpa menghidupkan ampli terlebih dulu, ini sebuah keajaiban. Logika teknisnya, hidupkan ampli dulu, baru test mike. Bagaimana mungkin test speaker, ketahuan tidak ada suara, baru cek ampli? Hanya Sumiyati yang bisa menjelaskan tentu. Kita juga tak tahu, apakah malam itu ada acara haul di mushalla? Bagaimana acara haul itu berlangsung, ketika orang se Indonesia Raya tengah memperbincangan kebiadaban pembakaran manusia?

Kesaksian Sumiyati, sangat bias. Setelah mengetahui amplifier mushala hilang, kata Sumiyati, Rojali mencurigai Zoya yang mencurinya. “Lalu dikejar, ketemu di jembatan muara. Pas dilihat benar amplifier mushala ada di motornya. Tapi katanya, dia (pelaku) lari. Saya enggak sempat nanya-nanya lagi,” kata Sumiyati.

Menurut Sumiyati, suaminya masih sempat melihat Zoya dalam kondisi basah karena nyebur ke sungai, dan ditangkap warga. Namun, kata Sumiyati, suaminya tidak melihat saat Zoya dihakimi warga dan dibakar hidup-hidup di Pasar Muara Bakti.

Sumiyati mengatakan, suaminya hanya meminta amplifier yang dicuri dari mushala dikembalikan. Namun, menurut Sumiyati, pria yang diduga pencuri amplifier itu malah kabur. “Penginnya ampli-nya dibalikin, cuma rupanya dia takut kali ya, jadi malah kabur,” ujar Sumiyati.

Setelah mengetahui amplifier mushala hilang, suaminya mengejar pria yang diduga pelaku, dan tertangkap di jembatan muara. Saat diajak bicara baik-baik, kata Sumiyati, pelaku melarikan diri hingga tertangkap dan dihakimi massa.

Zoya yang diduga pencuri amplifier, akhirnya dibakar hidup-hidup oleh massa tepat di Pasar Muara Bakti, Babelan, Kabupaten Bekasi pada Selasa (1/8/2017) sekitar pukul 16.30 WIB.

“Ya Allah sampe dibakar begitu, kan kita ngenes ya. Pas dia maling kami gregetan ya, tapi pas dibakar kami ngenes, apalagi istrinya lagi hamil ya, kasian jadinya,” ucap Sumiyati, yang juga menjelaskan dia dan suaminya tak ada di lokasi saat Zola dibakar hidup-hidup, karena sudah kembali ke rumah.

Keterangan Sumiyati tak cukup meyakinkan, karena tidak kronologis. Dari sejak Zoya masuk mushalla sudah diamati dan dicurigai. Hingga ‘tiba-tiba’ ada pengecekan ampli oleh pengurus mushala. Menegur Zoya di tempat parkir motor, dan kondisi ampli yang basah, karena konon Zoya nyebur ke kali ketakutan dikejar massa.

Dari logika peristiwa, lebih memungkinkan adalah Zoya keluar dari mushalla membawa ampli (entah ampli milik sendiri atau mushala), ada orang yang melihat atau mencurigai, kemudian meneriaki Zoya sebagai maling. Orang-orang di sekitar itu, mungkin sedikit saja karena Ashar biasanya masjid tak seramai Maghrib. Orang-orang yang ada di sekitar bergerak spontan, dan Zoya lari. Tentu saja, ini baru dugaan yang lain, untuk mencoba membangun kronologi kejadian.

Tempat Kejadian Perkara Zoya dibakar
Dalam penjelasan Kombes Asep Adi Saputra, Kapolres Metro Bekasi, yang ditemui di kantornya (Kamis, 3/8/2017); "Peristiwa tersebut benar adanya dengan petunjuk-petunjuk dari saksi yang telah melaporkan. Benar juga orang yang diduga pelaku (pencurian) meninggal dunia, dikeroyok massa dan dilaporkan sebagai pengambil barang tersebut."

Asep menjelaskan, adanya dugaan pencurian tersebut menurut saksi marbot dan pengelola mushala yang telah diperiksa. Zoya telah diamati oleh saksi sejak kedatangan ke mushala tersebut. “Orang tersebut datang menggunakan motor dan memang benar membawa amplifier lainnya sebanyak dua buah ada di motornya,” kata Asep.

Asep mengatakan saat itu Zoya datang dengan gerak-gerik mencurigakan. Salah satu marbot masjid melihat Zoya mengambil air wudhu dan masuk ke mushala. Namun tak selang beberapa lama, Zoya pun keluar dan pergi meninggalkan mushala. Setelah dilihat ke dalam mushala, saksi melihat amplifier yang ada dalam mushala sudah hilang (bandingkan dengan keterangan Sumiyati pada awal tulisan).

Akhirnya pengelola mushala mengejar pelaku, namun tak ditemukan. Saat mereka berbalik arah untuk kembali, ternyata berpapasan dengan Zoya (apa maksud berbalik arah dan kemudian berpapasan, dengan kaitan proses pengejaran sebelumnya? Ini juga aneh). Zoya di situ ditegur dan diminta mengembalikan amplifier yang diduga dicuri dari mushala. “Namun saat ditanya, pelaku langsung lari dan meninggalkan motor. Sehingga akhirnya didapati oleh masyarakat dan terjadi pengeroyokan sampai pada pembakaran orang yang diduga sebagai pelaku itu,” kata Kombes Asep.

Jika sudah diamati sejak kedatangan, bahkan dicurigai, bagaimana bisa kehilangan jejak keberadaan pelaku? Apalagi sehabis shalat ashar itu, pengurus mushala langsung mau mengecek keberadaan amplifier yang sudah tidak ada?

Setelah kejadian pengeroyokan, polisi melakukan olah TKP, dan didapatkan beberapa barang bukti. Di antaranya satu unit sepeda motor milik Zoya. Kemudian, dua unit amplifier di motor tersebut, lalu satu amplifier ada di tas gendong warna hitam. Asep mengatakan, amplifier yang menjadi barang bukti diakui milik mushala.

Bandingkan lagi dengan kesaksian Sumiyati, ampli dalam kondisi basah, yang logikanya mungkin ampli dibawa sambil lari dan basah karena Zoya nyebur kali saking takutnya? Tapi kenapa di motor Zoya yang terpakir di halaman mushalla ada tiga ampli, dua milik ampli dan satu milik mushalla? Mungkin dimaksud Sumiyati dalam kondisi basah itu? Kalau ampli berada di sepeda motor, yang diparkir di dekat mushalla, bagaimana bisa dalam kondisi basah? Disiram setan?

Baiklah itu soal ampli, yang karena Zoya sudah meninggal, semua alibi atas barang bukti pasti hanya dalam konstruk alibi pengurus mushalla, Sumiyati, dan mereka yang berada dalam framing Zoya sebagai pencuri ampli. Dan karena itu sah sebagai sasaran kemarahan massa?

Sementara itu menurut keterangan saksi lain, Noval Putra (22), pemilik toko di Pasar Muara Bakti, tempat aksi pembakaran Zoya, bahwa yang diduga mencuri amplifier sempat mengatakan dirinya bukan maling sebelum tewas. Zoya dikeroyok dan dibakar hidup-hidup oleh massa, tepat di Pasar Muara Bakti, Babelan, Selasa (1/8/2017), sekitar pukul 16.30 WIB. Lihat rentang waktu ini, 16.30 pembakaran, dilaporkan jam 17.00, dan polisi baru datang pukul 18.00 setelah maghrib. Coba ukur, berapa jauh kantor polisi sebagai pelindung masyarakat itu dengan TKP?

“Dia (pelaku) bilang kalau nggak maling. ‘Saya nggak maling’ dia seringnya bilang itu,” ujar Noval, yang menyaksikan kejadian tersebut (kompascom, Jumat 4/8/2017). Massa yang menghakimi tidak percaya meski Zoya berulang kali mengatakan dirinya bukan maling. Di tengah massa yang menghakimi Zoya, kata Noval, terdengar suara orang menimpali "maling mana ada mau ngaku."

“Banyak juga warga yang teriak 'bakar aja, bakar aja.' Sempat ada yang mau amanin tapi kalah jumlah,” kata Noval yang berjualan sepatu dan sandal. Zoya awalnya akan dibawa ke balai desa untuk diamankan. Tapi jumlah warga yang ingin mengamankan Zoya kalah banyak dengan massa yang ingin menghakimi.

Noval mengaku melihat Zoya masih hidup saat dipukuli warga. Tubuh Zoya mulai dibakar massa sekitar pukul 17.00 WIB, dan polisi datang ke lokasi sekitar pukul 18.00 WIB saat Zoya sudah tewas.

Noval mengatakan Zoya yang diduga mencuri amplifier mushola, ditemukan di jembatan Muara, perbatasan Desa Suka Tengah, Kecamatan Suka Wangi dengan Desa Muara Bakti, Kecamatan Muara Bakti. Dari penjelasan ini, logikanya, Zoya melarikan diri atau lari dari kejaran massa sejak dari mushalla. Kenapa Zoya lari? Bisa jadi karena diteriaki maling. Oleh siapa? Oleh yang pertama kali melihatnya. Dan mungkin itulah yang membuat massa di sekitar tempat itu, spontan bergerak mengejar. Karena ketakutan, Zoya melarikan diri. Ini pun juga sebuah kemungkinan.

"Dia lari mau kabur, dia dari kali. Pas dari kali udah ditungguin warga. Motornya ditinggalin di dekat sasak masjid," kata Noval saat ditemui di lokasi pembakaran Zoya di Pasar Muara Bakti (Jumat, 4/8/2017).

Setelah Zoya ditangkap, awalnya pria yang diduga melakukan pencurian itu akan dibawa ke balai desa, agar lebih aman dan terhindar dari amukan massa. Noval menjelaskan, saat itu warga mengarak terlebih dahulu dari jembatan sampai pasar, sekitar satu jam.

Zoya ditangkap warga sekitar pukul 16.00 WIB kemudian dibakar pada pukul 17.00 WIB. Selama Zoya diarak, beberapa kali warga menghantamnya dengan menggunakan balok kayu.

Noval menjelaskan, warga yang berkerumun begitu banyak, mencapai lebih dari ratusan orang. "Saya enggak berani liat pas pada mau bakar, enggak tega litanya, saya taunya sudah kebakar doang. Pas dipukulin masih hidup, sempat juga dikeroyok. Pas dibakar masih nafas dia, nah sesudahnya kayanya langsung meninggal," kata Noval.

Mari kita teliti kembali penjelasan Kapolres Metro Bekasi, Kombes Asep Adi Saputra tentang dugaan pencurian berdasar keterangan saksi marbot dan pengelola mushala yang telah diperiksa polisi. Katanya,  Zoya telah diamati oleh saksi sejak kedatangannya ke mushala tersebut karena dianggap mencurigakan. Nah catat ini, telah diamati sejak kedatangannya di mushala.

Zoya datang menggunakan motor dan membawa dua amplifier di motornya. Lalu Zoya mengambil wudhu, masuk ke mushala, dan tak lama kemudian keluar dari mushala.
Saksi mengecek ke dalam mushala, melihat amplifier yang ada dalam mushala sudah hilang. Akhirnya, pengelola mushala mengejar pelaku, tetapi pelaku tidak ditemukan.
Saat berbalik arah untuk kembali, mereka berpapasan dengan Zoya (ini penjelasan yang secara tekstual agak susah dibayangkan). Kemudian mereka menegur Zoya dan meminta pria itu mengembalikan amplifier, yang diduga telah dicuri dari mushala tersebut.

“Namun, saat ditanya, pelaku langsung lari dan meninggalkan motor sehingga akhirnya didapati oleh masyarakat dan terjadi pengeroyokan sampai pada pembakaran orang yang diduga sebagai pelaku itu,” kata Kombes Asep.

Setelah pengeroyokan tersebut, polisi melakukan olah tempat kejadian perkara, dan mendapatkan beberapa barang bukti. Di antaranya satu unit sepeda motor milik Zoya, dua unit amplifier di motor, dan satu amplifier ada di tas gendong warna hitam. Asep mengatakan, amplifier yang menjadi barang bukti itu diakui milik mushala. Menurutnya, berdasar keterangan saksi di lapangan, Zoya diduga merupakan pelaku pencurian tiga unit amplifier mushalla. Wah, nambah.

Bagaimana menurut Siti Zubaidah (25), isteri MA? Suaminya biasa mencari barang-barang atau amplifier bekas lalu direparasi di rumah, untuk kemudian dijual lagi setelah diperbaiki. "Suami saya jual beli amplifier bekas, ngerakit box-box salon. Kalau saya enggak kerja," ujar Zubaidah saat ditemui di kediamannya, Kampung Jati, Desa Cikarang Kota, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.

Atas dasar itu, ia menduga, suaminya ketika itu sedang mampir untuk shalat. Amplifier tersebut bukanlah hasil curian, melainkan sudah dibeli. Penjelasan ini juga menarik dikembangkan. Dibeli oleh siapa? Kalau misalnya dibeli oleh Zoya, ampli yang mana dan siapa penjualnya, di mana transaksinya?

Tapi bagaimana kita membangun rekonstruksi peristiwa kebrutalan massa itu, ketika Zoya sudah tewas? Kita kehilangan saksi kunci.

Almarhum Zoya telah dimakamkan pada Rabu (2/8/2017) sore di TPU Kedondong, BTN Buni Asih Kongsi, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Zoya atau Muhammad Aljahra, meninggalkan Zubaidah serta seorang anak laki-laki berusia empat tahun, dan bayi tujuh bulan yang masih dalam kandungan sang istri.

Akan halnya keluarga dan tetangga, tak yakin Zoya mencuri. Zubaidah mengaku pertama kali mengetahui kondisi suaminya dari pihak kepolisian yang datang ke rumahnya Selasa (1/8) malam sekitar pukul 23.00 WIB.

"Ya katanya suami saya nyuri amplifier di mushala di daerah Babelan. Terus dihakimi, digebukin, terus dibakar hidup-hidup. Sempat enggak percaya, masa suami saya. Kalau bukan liat di foto itu, saya enggak percaya kalau itu suami saya," kata Zubaidah.

Bagaimana mungkin Polisi bisa mengatakan bahwa Zoya mencuri amplifier, dan itu disampaikan kepada keluarga korban, tanpa bukti?

Mushalla Al Hidayah, Hurip Jaya, Babalen, Bekasi
Zubaidah tak percaya suaminya tewas di mushala kawasan Babelan itu. Menurutnya  daerah itu bukan jalur suaminya bekerja. Biasanya suami bekerja ke daerah Cileungsi untuk mencari amplifier bekas. "Karena kan itu enggak satu jalur, lain jalur itu mah. Setahu saya, dia ke daerah Cileungsi, arah-arah Bogor."

Selain itu, berdasar video yang ia lihat di media sosial, amplifier mushala itu masih ada di lokasi. “Saya sempat lihat dari (video) YouTube, kalau amplifier punya mushala masih ada di dalam mushala. Di video itu ada suara orang yang ngomong begitu, tetapi sekarang videonya sudah enggak ada,” ujar Zubaidah.

Ia menduga, suaminya bukan mencuri, tetapi tengah berada di mushala untuk shalat, dengan membawa amplifier bekas yang akan direparasi karena takut barang dagangannya dicolong orang jika ditinggal di jok motor. “Jadi dia udah dapet barang (amplifier), pas dia selesai shalat terus langsung ada yang liat bawa amplfier, ya mungkin itu langsung diteriakin maling, langsung dihakimi warga,” kata Zubaidah.

Ia menyampaikan, dalam video yang dilihatnya, Zoya belum sempat mengikat amplifier, tetapi sudah diamuk dan diteriaki massa. Namun, kata Zubaidah, video yang ia tonton itu sudah hilang dari media sosial. Siapa yang mengunggah dan siapa yang menghilangkan? Ini juga pertanyaan menarik.

Coba kalau tokoh Imung, atau Detektif Conan nyata ada, mungkin mereka tertarik melacaknya. Reserse professional mana mau menangani kasus rakyat kecil ini? Sedang kasus besar macam penyiraman mata Novel Baswedan saja polisi “tidak tertarik” menanganinya.

Zubaidah meminta pihak kepolisian mengusut tuntas dan mengungkap pelaku yang membakar suaminya. “Mudah-mudahan terungkap yang membakar suami saya. Saya cuma minta keadilan saja buat suami saya. Kalau pun umpamanya suami saya bersalah, melakukan pencurian itu, tapi kan enggak harus sampai dianiaya atau dibakar begitu kan, dia bukan hewan,” kata Zubaidah yang juga meminta jika pelaku telah diketahui dan diamankan polisi, harus diproses sesuai hukum berlaku.

Menurut Zubaidah, suaminya teknisi elektronik. Biasanya memperbaiki pengeras suara seperti toa yang rusak, sound sistem, televisi dan lainnya. "Saya pasrah dengan kejadian ini," kata Zubaidah yang sudah diperiksa polisi di Polsek Babelan. Dalam pemeriksaan itu, penyidik menanyakan seputar profesi dan keperluan pergi dari rumah. "Saya di sana diminta tanda tangan, enggak tahu apa isi berkas yang saya tanda tangani," katanya.

"Saya tidak menyangka kejadian ini menimpa suami," kata Zubaidah yang sudah kehabisan airmata meratapi kesedihan ditinggal suami secara tak wajar. Suaminya merupakan tulang punggung keluarga. Penghasilannya tidak menentu. "Dalam seminggu biasanya mendapatkan Rp 300 ribu, paling banyak Rp 500 ribu," kata Zubaidah.

Untuk mendapatkan elektronik bekas atau rusak, biasanya mencari di sejumlah tukang barang bekas. Dari situ dibeli untuk dibawa pulang, diperbaiki, kemudian dijual lagi. Mencari rongsokan biasanya keliling ke beberapa tempat.

Pandi (40) mertua almarhum Zoya, mengatakan menantunya itu sering keliling mencari barang elektronik bekas selepas shalat Dzuhur. Hal ini dikarenakan tidak punya kendaraan sebagai alat transportasi. "Kami menyewa sepeda motor milik kerabat (Honda Revo dengan nomor polisi B 6755 FR), sehari Rp 15 ribu. Kalau saya jatahnya pagi mencari televisi bekas, nah kalau menantu saya selepas zuhur jalan," kata Pandi. Karena itu, Pandi sangat menyangsikan tuduhan dari kepolisian, yang menyebut menantunya pencuri amplifier di mushala.

Lia (33) seorang warga yang tinggal di sekitar kediaman Zoya, mengatakan hal senada. Lia mendesak polisi mengusut tuntas orang yang telah membakar Zoya. “Kalau dari keluarga sih minta nama baiknya kembali, tapi kalau hukumannya (untuk yang telah membakar) sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Lia.

Lia tidak percaya Zoya melakukan pencurian. Menurut dia, Zoya sosok yang baik. “Orangnya baik, suka shalat berjamaah, ramah, enggak mungkin maling,” kata Lia. Ia pun menyesalkan sikap warga yang main hakim sendiri dengan mengeroyok dan membakar Zoya.

Kombes Asep Adi Saputra memastikan, pihaknya akan menyelidiki warga yang main hakim sendiri dengan mengeroyok dan membakar Zoya. Menurut dia, saat ini para saksi sudah memberikan keterangan terkait penegasan laporan tersebut. Ada dua saksi yang telah diperiksa, yaitu marbot dan pengelola mushala.

Asep mengatakan, perilaku main hakim sendiri seperti halnya mengeroyok dan membakar orang itu merupakan tindakan yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.
"Saya kira tindakan ini juga tidak dibenarkan. Main hakim sendiri namanya. Tidak boleh begitu," kata dia.

Pihak kepolisian telah mendatangi keluarga Zoya. Menurut Asep, setiap orang memiliki hak asasi manusia sehingga tidak dapat diperlakukan seperti itu, walaupun diduga orang tersebut mencuri.

Warga yang melakukan tindakan main hakim sendiri, dapat terancam sejumlah pasal dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal tersebut antara lain Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan, Pasal 170 KUHP tentang Kekerasan, dan Pasal 406 KUHP tentang Perusakan.

Berdasarkan Pasal 351 KUHP, penganiayaan diartikan sebagai perbuatan dengan sengaja yang menimbulkan rasa tidak enak, rasa sakit atau luka. Pasal ini dapat mengancam tindakan main hakim sendiri yang dilakukan terhadap orang yang mengakibatkan luka atau cidera.

Kemudian, berdasarkan penjelasannya, kekerasan yang dimaksud pada Pasal 170 KUHP yakni kekerasan terhadap orang maupun barang yang dilakukan secara bersama-sama, yang dilakukan di muka umum seperti perusakan terhadap barang, penganiayaan terhadap orang atau hewan, melemparkan batu kepada orang atau rumah, atau membuang-buang barang sehingga berserakan. Pasal ini dapat disangkakan kepada mereka yang main hakim sendiri di depan umum.

Lepas dari kejahatan kemanusiaan dengan membakar tersangka pencurian, bagaimana kronologi yang sesungguhnya menurut Anda? Permasalahannya sesungguhnya sederhana. Tetapi begitu kejujuran hilang, dan ingin menutupi kesalahan diri atau kelompoknya, kita akan mendengar begitu banyak alibi.

Dan alibi yang dibangun, dimungkin untuk memposisikan Zoya dalam posisi salah, agar dengan demikian tindakan kekejian yang lebih jahat daripada “sekedar” mencuri amplifier itu bisa dimaklumi.

Semoga keadilan menemukan jalannya, bagi mereka yang teraniaya.


| Dirangkum dari kompascom dan detikcom serta berbagai sumber lainnya oleh Sunardian Wirodono.

Jumat, Juli 28, 2017

Sunardian Wirodono dalam Agama, Politik, dan Seks

"Nam-sembilan, Lapan-nam, Sembilan-sembilan"
HIDUP MULIA TAPI RA MUTU 
 
99 TULISAN PENTING SUNARDIAN WIRODONO TENTANG AGAMA, POLITIK, DAN SEKS

DATA FISIK BUKU 9 X14 CM., 600 HALAMAN

HARGA UMUM RP 150.000 (SUDAH TERMASUK ONGKIR) 


 PRIORITAS UNTUK PRE-ORDER (PALING TELAT 5 AGUSTUS 2017) DISKON 33%
UNTUK DONASI CETAK RP 100.000

TRANSFER KE: 
BCA No. 0373042223, atau 
MANDIRI No. 137.00.0521519.5, atau 
BRI No. 0891-01-029140-53-7 

KONFIRMASIKAN KE SMS/WA:
0813 9397 9400 (SW). 

SALAM SAYA: 
SUNARDIAN WIRODONO 
0813 9397 9400

Sabtu, Juli 22, 2017

Jokowi dalam Marwah Politik Perubahan dan Kepercayaan


Dibandingkan para jagoan, yang sudah malang-melintang sejak Orde Baru, Jokowi adalah “anak kemarin sore”. Tapi justeru karena itulah, ia lebih bisa dipercaya.

Satu hal yang sering dinafikan, tak dimengerti atau disalahartikan, bahkan bisa jadi digelapkan, bahwa rakyatlah sesungguhnya yang selalu menghendaki perubahan. Namun tidak demikian halnya dengan para elite, baik di dunia politik, pendidikan, dan akhir-akhir ini agama. Mereka lebih mewakili sistem kekuasaan yang korup, yang justeru makin berkecenderungan menutup kemungkinan perubahan itu.

Selama 32 tahun dalam kungkungan Soeharto, dan kemudian dalam situasi transisi hingga dua periode kekuasaan SBY, Indonesia belum banyak berubah. Dari berbagai indikasi sosial, ekonomi, politik, justeru paska longsornya Soeharto, Indonesia makin terpuruk.

Utang luar negeri makin menumpuk, angka korupsi meningkat, dan kesenjangan ekonomi melebar, dengan tetap menunjukkan piramida korban manusia. Ekonomi Indonesia masih dikuasai hanya oleh 3 persen dari populasi rakyat sebesar 250-an juta, dengan distribusi ekonomi 70 persen masih berpusar di Jakarta, sementara sisanya dibagi tidak merata ke 33 propinsi.

Fakta-fakta itu dengan jelas menunjukkan ada yang salah dalam perjalanan kepemimpinan nasional kita. Namun sama salahnya ketika kita menganggap bahwa kesalahan itu bertumpu pada satu sisi, apalagi sebagaimana pandangan Anies R. Baswedan, yang menyerang kebijaksanaan pemerintahan Jokowi setelah keterpilihannya selaku Gubernur DKI Jakarta. Apalagi Anies Baswedan sama sekali mengabaikan faktor-faktor makro sebelumnya.

Ada faktor melekat yang tak bisa dipisahkan, yakni situasi kepolitikan. Partai politik, yang semestinya menjadi ajang penggemblengan kepemimpinan masyarakat sipil, tidak juga beranjak. Indonesia masih terbagi dalam kasta-kasta tertentu, di mana kaum elite di segala lapisan, masih menjadi katub penyumbat cita-cita UUD 1945 dan Pancasila, sebagai dasar negara Republik Indonesia. 

Kemenangan Rakyat. Terpilihnya Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia, dalam Pilpres 2014, bukan hanya merupakan kekalahan bagi Prabowo, yang memang berhasil disingkirkan oleh Jokowi dalam pemilihan presiden itu. Kemenangan Jokowi adalah kemenangan rakyat yang tak mempercayai partai politik sebagai wadah perjuangan politik rakyat, dalam menentukan kepercayaan dan harapan.

Bahwa tingkat partisipasi rakyat pada Pemilu 2014 meningkat, bahkan dengan sangat tinggi, hal itu tidak bisa dibaca sebagai menaiknya tingkat kepercayaan rakyat pada parpol. Lebih karena memang tidak ada jalan lain, dengan itulah rakyat mendapatkan pemimpinnya. PDI Perjuangan, memakai Jokowi sebagai branding atau vote getter, dan mau tak mau menjadi pilihan rakyat, untuk mengantarkan Jokowi ke kursi kepresidenan. Di situ lebih mudah mengatakan Jokowi yang dibutuhkan oleh PDIP daripada sebaliknya.

Bagaimana membaca logikanya? Partai politik, masih merupakan lembaga yang belum mendapatkan kepercayaan penuh dari rakyat. Itu lebih karena reputasinya yang rendah. Bahkan ketika rakyat bisa memilih langsung presidennya, sejak 2004 dan 2009, justeru kenyataan lain yang didapat. Keterlibatan Partai Demokrat dalam banyak kasus korupsi (dalam posisi sebagai partai pengusung dan bentukan SBY selaku presiden), di mana banyak elite partainya masuk penjara, adalah catatan paling menyakitkan. Apalagi dengan slogan; Katakan tidak pada korupsi!

Momentum kemenangan rakyat pada Pemilu 1999, melalui PDI Perjuangan paska rezim otoritarian Soeharto, sama sekali tak bisa dijaga. PDIP tidak siap dengan kemenangan itu. Dan rakyat menghajarnya dalam dua pemilu sekaligus (2004 – 2009). Pemilu kembali dibajak oleh elite politik dan para oligarki partai. Jika PDIP kembali bisa memenangkan pemilu (2014), adalah karena kata kuncinya; PDIP menang Jokowi presiden!

Mau tidak mau, waktu itu, rakyat harus mencoblos untuk memenangkan PDIP, agar dengan demikian Jokowi bisa dicalonkan sebagai presiden. Tentu saja pertanyaannya kemudian, siapakah Jokowi? Dalam berbagai polling, tentang kandidat presiden, nama Jokowi berkibar, bahwa mengalahkan Megawati dan Prabowo. Jokowi adalah sebuah pesona baru. Ia adalah representasi wajah rakyat, yang selama ini tak bisa ditunjukkan oleh partai politik. Hanya dalam dua tahun sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi meloncat naik menjadi Presiden Republik Indonesia. 

Jokowi sebagai Representasi. Rakyat tidak bodoh membaca tanda. Seiring dengan maraknya medsos, di mana jaringan komunikasi dan informasi publik terbuka begitu rupa. Sosok Jokowi dari sejak Walikota Solo (2005), sudah menjadi daya tarik publik, yang merindukan pemimpin a-politis, pemimpin yang mempunyai wajah dan watak berbeda, yakni sebagai pelayan publik (public servant) yang bekerja dan hanya bekerja. 

Track record Jokowi, terbuktikan ketika “tarikan pusat” menghendakinya, yakni ketika partai-partai politik di tengah kegagalannya melakukan kaderisasi, menangkap sosok-sosok pribadi yang menjadi magnet mimpi-mimpi rakyat. Meski sama sekali hijau dalam dunia politik, tidak dikenal di pasar politik Jakarta, apalagi nasional, senyatanya Jokowi mampu mengalahkan Fauzie Bowo, sang pertahana dalam Pilkada DKI Jakarta (2012).

Apa yang terjadi kemudian hanyalah hukum alam. Nama Jokowi melambung ke level nasional bukan karena kekuatan politiknya, namun lebih pada sosoknya, individualitasnya, karakternya. Nilai-nilai personalitasnya yang menjadi jauh lebih penting, daripada abstraksi nilai-nilai luhur, yang sering digembar-gemboirkan partai politik, namun kosong dalam implementasi dan keteladanan.

Itulah yang tercermin dalam Pilpres 2014. Jokowi dibaca oleh rakyat karena kinerja (dengan melihat track-record sebagai Walikota Solo dan Gubernur Jakarta). Jokowi sebagai representasi, itulah yang mengalahkan apapun. Sementara Prabowo, sekalipun “tokoh nasional”, reputasinya menimbulkan pro-kontra, disamping track-recordnya sama sekali belum terukur, kecuali dalam puja-puji kampanye, yang semua orang bisa saja membuat sejarah dengan berbusa-busa. Tetapi rakyat, sebagian besar, tidak bodoh membaca Prabowo, meski kaum elite dan menengah atas berbondong-bondong mendukung dalam semangat anomali.

Hal-hal itulah, kemampuan pembacaan oleh rakyat, yang luput dilihat, atau bahkan mungkin tak dimengerti kaum elite dan apalagi para oligarkis. Persoalannya bukan hanya sekedar Jokowi sebagai anak bajang, atau anak gelap dalam sejarah politik Indonesia. Namun semua itu terjadi, ketika dunia politik Indonesia terlalu lama asyik-masyuk dengan kepentingannya sendiri yang korup.

Partai politik bukan sebagai lembaga perjuangan, yang mewakili atau mengakomodasi kepentingan-kepentingan rakyat. Paska Reformasi 1998, ketika tumbuh begitu banyak partai-partai politik, yang terjadi hanyalah partai-partaian, lembaga politik abal-abal yang hanya mengatasnamakan rakyat, namun sama sekali sejurus dengan itu menunggangi rakyat. Rakyat benar-benar hanya sebagai alamat palsu dan atas nama. Tujuan sebenarnya tetap hanyalah untuk kepentingan orang-orang partai itu sendiri.

Bukti yang paling mudah atas hal itu, maraknya partai (setelah lepas dari belenggu otoritarianisme Soeharto) adalah maraknya angka korupsi di Indonesia. Korupsi melebar bukan hanya di kalangan eksekutif, melainkan pada kalangan legislatif. Senyampang itu pula, tentunya di kalangan judikatif, sebagai lingkaran dari konstruksi korupsi yang selalu cenderung terjadi secara massif dan sistemik.

Partai politik abai dengan tugas utamanya, menyiapkan rekrutmen masyarakat sipil, dalam rangka menyediakan pemimpin-pemimpin rakyat, untuk membawa bangsa dan negara ke arah keadilan dan kesejahteraan, yang makmur dan merata. Hal itu sama sekali tak terlihat atau diabaikan.

Maka ketika publik, di dorong oleh media, melihat sosok Jokowi, dari sejak sebagai walikota Solo, dia menjadi daya tarik luar biasa. Dan demikianlah sejarah menjadikannya. 

Kepemimpinan Masyarakat Sipil. Tren kepemimpinan sipil, pada akhirnya, kembali ke hukum alamnya, ialah kepercayaan rakyat. Ukurannya sangat sederhana, lebih melihat track record atau kinerja. Dan sebagai pekerja profesional, Jokowi mampu menjadi manager dalam mengadministrasi kepentingan-kepentingan masyarakat. Di situ kuncinya.

Kita kemudian melihat Jokowi Effects, yang dimulai pada tahun 2005, merambah ke beberapa daerah, seperti Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng, 2008), Suyoto (Bupati Bojonegoro, 2008), Deddi Mulyadi (Bupati Purwakarta, 2008),  Tri Rismaharini (Walikota Surabaya, 2010), Yoyok Riyo Sudibyo (Bupati Batang, 2012) Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi, 2012), Ridwan kamil (Walikota Bandung, 2013), dan Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama yang fenomenal, meski kalah dalam Pilkada Jakarta 2017. Pasangan Jokowi sebagai wakil gubernur Jakarta (2012) itu, bahkan sangat kontroversial, sampai harus dikalahkan dengan politik identitas, yang penuh isu SARA dan ujaran kebencian.

Mereka semuanya bukanlah berangkat dari partai politik, tetapi tokoh yang didukung dan didorong oleh masyarakatnya. Partai politik kemudian melihat hal itu sebagai keniscayaan, dan mau tak mau mengakomodasi atau bahkan memanfaatkan. Satu-satunya yang terjun ke partai politik, adalah Ahok (yang semula adalah pengusaha). Walaupun pada akhirnya, setelah menjabat Gubernur menggantikan Jokowi, Ahok menyatakan keluar dari partai politik.

Nama-nama yang disebut di atas, adalah warna baru model kepemimpinan masyarakat sipil di Indonesia. Mereka datang dari rakyat, dan tidak tersandung kasus korupsi. Bandingkan beberapa bupati dan gubernur dari parpol, kebanyakan justeru terjebak dalam korupsi.

Longsornya kekuasaan Soeharto, adalah juga konsekuensi demiliterisasi, yang menjadi amanat Reformasi 1998. Kepemimpinan masyarakat sipil ini muncul, memberikan janji perubahan jauh lebih berarti. Pada akhirnya, masyarakat yang tampaknya a-politis, menemukan jalan untuk mendapatkan pemimpinnya. Ialah pemimpin yang lebih bertaniah pada kinerja, dan mengabdi pada kepentingan masyarakat. Bukan lagi model kepemimpinan  korup sebelumnya, yang bukan saja elitis, tetapi mengabdi pada kekuasaan semata.

Perubahan adalah kata yang sering didengungkan partai politik, namun sama sekali tak tercermin atau terimplementasi dalam gerak-gerik orang-orang partai. Mereka justeru tak menginginkan perubahan itu. Mengangkangi kekuasaan yang bersifat elitis, sebagaimana para pendahulu mereka pada jaman Orde Baru.

Partai politik menjadi begitu lamban, karena tertimbun kepentingan-kepentingan ekslusifnya. Tidak mempunyai garis ideologi dan platform yang jelas. Mereka kemudian hanya berperan sebagai “alat legitimasi” atau kendaraan. Dengan melihat apa yang dikehendaki rakyat, partai kemudian mendekat sebagai media tumpangan. Orang-orang partai lebih banyak sebagai agen dealership, daripada agen leadership masyarakat warga.

Dengan latar belakang yang relatif “bersih”, tidak terikat dan terjebak masa lalu, generasi kepemimpinan Jokowi menjadi lebih leluasa bergerak. Tentu saja ganjalannya adalah mereka-mereka ini berada dalam situasi pancaroba, situasi transisi. Sementara angin perubahan bukanlah situasi yang nyaman bagi mereka, yang selama bertahun-tahun berada dalam comfortable zone.

Belum lama lalu, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam laporan bertajuk Government at a Glance 2017 (dipublikasikan pada 13 Juli 2017), menunjukkan pemerintahan Indonesia tertinggi dalam tingkat kepercayaan masyarakatnya. Laporan tersebut merangkum berbagai indikator pencapaian pemerintah di sektor publik, dari anggota OECD di beberapa negara termasuk Indonesia. OECD menggunakan hasil survei yang dilakukan Gallup World Poll (GWP), lembaga survei internasional berbasis di Amerika Serikat (satu-satunya lembaga polling yang mengumpulkan data mengenai tingkat kepercayaan kepada pemerintah).

Indonesia, Swiss, India, Luxemburg, Norwegia dan Kanada, dalam data Gallup itu, menduduki peringkat atas. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Indonesia (tahun 2016) sebesar 80 persen, meningkat dibanding tahun 2007 yang hanya 28 persen. Indonesia berada di tempat tertinggi, jauh lebih tinggi dibanding negara-negara maju anggota OECD, seperti Amerika Serikat (30 persen), Inggris (31 persen), Jerman (55 persen), Prancis (28 persen). Dan masih lebih tinggi disbanding beberapa negara berkembang non-OECD, seperti India (73 persen), Brazil (26 persen), Afrika Selatan (48 persen).

Tingkat kepercayaan terhadap pemerintah itu, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani,  dipengaruhi oleh pengukuran tentang; apakah masyarakat menganggap pemerintah dapat diandalkan, cepat tanggap dan adil, serta mampu melindungi masyarakat dari risiko-risiko, dan kemampuannya dalam memberikan pelayanan publik secara efektif. 

Perubahan yang Mendasar. Tidak mudah melalui perubahan ini. Karena perubahan sebuah bangsa, juga negara, tak bisa bertumpu pada seorang presiden semata. Di jajaran bawahnya, kalangan birokrasi pemerintahan, betapa pun juga tidak mudah menerima angin perubahan. Demikian pula jajaran legislatif dan judikatif, yang masih didominasi wajah dan karakter lama. Perubahan akan sangat lamban rasanya, jika tak boleh dibilang terlalu utopis.

Belum lagi di kalangan pendidikan, kita juga belum melihat gairah perubahan yang signifikan, dengan melihat involusi di kalangan masyarakat luas. Apalagi ditambah munculnya politik identitas, setelah kita kehilangan arah paska Reformasi 1998. Dasar ideologi kebangsaan kita, mengalami satu kekosongan panjang. Masyarakat terlanjur dalam keyakinan; bahwa politik adalah sesuatu yang kotor dan tak berguna. Atas dasar itulah, kaum oportunis memanfaatkan politik praktis, dengan menunggangi sikap acuh tak acuh masyarakat. Padahal, dalam sisi itu, orang baik dan orang pintar, membiarkan orang jahat menguasai negara, dengan cara mereka enggan terlibat.

Kita belum melihat perubahan mendasar pada partai politik. Lihat perdebatan mereka dalam membahas UU Pemilu (2017). Sebanyak 40 persen anggota parlemen walk out karena menolak voting, untuk sebuah undang-undang yang menentukan hajat kepolitikan di Indonesia. Namun senyampang itu, beberapa yang mengaku kaum pintar dan ahli tata-negara, akan menggugat UU itu karena dianggap tidak konstitusional. Bagaimana mungkin produk parlemen dan Pemerintah dibilang tidak konstitusional? Maka kemudian bisa terjadi, nasib sebuah UU akan ditentukan oleh 9 hakim di Mahkamah Konstitusi. Mana lebih tepat, ini demokrasi liberal, demokrasi elitis, atau tirani minoritas?

Di situ, lagi-lagi, politik (praktis) memang menyebalkan, karena hanya berurusan dengan kekuasaan. Tidak pernah langsung ke politik mensejahterakan warga. Mereka mengedepankan politik kekuasaan lebih sebagai dalih. Sebagai alasan untuk mensejahterakan warga. Tapi tidak pernah langsung mensejahterakan warga dalam praktiknya. Berbelok dulu, berputar-putar dalam arus politik kekuasaan, hingga mereka lupa akan alasan yang dikemukakan sebelumnya.

Jika kita melihat politik ‘presidential threshold’ Jokowi, yang ‘ngotot’ 20-25 persen, kita bisa melihat arah yang diinginkannya. Bagaimana terjadi konsolidasi partai politik dan pada akhirnya, penyerdehanaan sistem kepartaian. Munculnya satu mekanisme kandidasi presiden, akan lebih terukur daripada mengikuti ritme demokrasi liberal, yang membolehkan siapa saja melakukan apa saja.

Jokowi, bagaimana pun adalah presiden, dan ‘lebih apalagi’ lagi, dia adalah pembelajar yang baik. Tidak mungkin Jokowi nir-politik. Tetapi mantra politiknya bukan pada kekuasaan, melainkan bekerja di dalam spirit pengabdian seorang pekerja.

Memang tidak gagah, di dalam masyarakat yang masih mimpi tentang pemimpin yang perkasa. Jangan lupa, dunia berubah, meski kebijaksanaan sejati itu abadi. Di dalam ke-kerempeng-annya, dia lebih bisa diandalkan, karena apa yang disebut ‘trust’ itu. Sebagaimana para konglomerat kaya sakerat-erat pun tak bisa membeli waktu, begitu juga kepercayaan. Orang gagah perkasa pun tak akan bisa menarik-nariknya, dengan seberapapun duit yang tanpa seri itu. Duit tanpa seri? Jangan-jangan duit palsu!

Demokrasi tanpa kendali, tanpa aturan, adalah juga demokrasi tanpa arah. Lagi-lagi kita akan melihat, orang-orang seperti Prabowo, meski mengklaim punya banyak pendukung fanatik, tak akan pernah memenangkan jamannya, sekiranya masih hanya suka menarik-narik kepercayaan dengan gimmick. Kepercayaan selalu datang dengan sendirinya, dengan tulus-ikhlas. Seperti tuyul, datang tak diundang, tapi pergi minta digendong.

Melangkah ke masa depan, kini jauh lebih dipercaya, daripada kembali ke masa lalu kegelapan.


Sunardian Wirodono, penulis, tinggal di Yogyakarta.

Kamis, Juli 20, 2017

Pretty Asmara dan Mengapa Narkoba


Ketika malam-malam mengantarnya pulang ke kost-an Pretty Asmara, saya merasa mobil saya tak berdiri kokoh, agak miring. Itu lantaran Pretty ini benar-benar perempuan berbobot. Bobotnya ya ampun, dibanding saya yang waktu itu paling banter cuma 48 kilogram.

Itu puluhan tahun lampau, ketika ia masih berada di Yogya, dan saya membutuhkan satu peran tokoh yang aktingnya cuma makan 'mulu, tanpa dialog. Dan ia cukup menghayati peran itu tanpa protes. 

Puluhan tahun kemudian, saya dengar kabar ia ditangkap polisi, di sebuah hotel di Jakarta. Kabar yang beredar, ia adalah pengedar narkoba. Sudah sekitar dua tahunan ia lakoni hal itu. Mengapa bisa demikian?

Saya bisa mengerti mengapa bisa demikian. Ketika saya masih bekerja di stasiun televisi di Jakarta, menyutradarai beberapa program acara televisi, saya dekat dan akrab dengan kehidupan mereka yang disebut artis ini. Baik mereka yang main sinetron, pelawak, maupun penyanyi.

Yang paling terasa dalam kehidupan mereka, yang oleh orang luar disebut penuh gebyar, menggairahkan, adalah sebuah beban kerja, kesunyian di tengah roda yang berputar berdesing dengan cepatnya. Ini semua karena kata lain dalam kehidupan para artis ini adalah eksistensi, dan itu adalah pertarungan yang terus-menerus.

Dulu ketika belum sangat terkenal, Gogon adalah orang yang bisa punya tingkat konsumsi yang lebih besar dari penghasilannya. Apalagi ketika Srimulat main di Indosiar yang cuma seminggu sekali. Belum tentu Gogon bisa ikut main dalam setiap minggunya, karena mesti antri saking banyaknya anggota Srimulat. Dan berapa honornya sekali main, yang satu episode tapi kemudian dipecah menjadi dua tayangan (dua episode tapi tetap dengan honor dihitung satu episode saja)? Tidak sangat besar baik waktu itu maupun waktu sekarang.

Ketika acara 'Aneka Ria Srimulat' (1996) ngetop di Indosiar, bibit perpecahan justeru muncul. Tak ada lawakan baru, bagi yang sudah sering nonton Srimulat. Tapi bagi penonton televisi, lelucon Srimulat masih bisa mengundang tawa. Padahal, yang terjadi semua hanya menghangatkan masakan lama. Bedanya, pada saat itu kekompakan tak ada, aturan tak ada, organisasi tak ada. Masing-masing pelawak berebut lucu. Karena siapa yang dianggap paling lucu, kemungkinan besar dikontrak menjadi bintang iklan. Itulah saatnya terjadi 'bunuh-bunuhan' di atas panggung.

Tak sebagaimana konsep Teguh Srimulat dulu, bahwa grup lawak adalah tim bersama. Seperti dalam tim bola voli, ada pengumpan, smasher, dan yang jagoan melakukan blocking lawan. Sejak melambung kembali di televisi, Srimulat perlahan hancur. Meski beberapa nama sempat terkenal, mengorbit, dan kaya, kehidupan pribadi mereka sebagian besar blangsak. Sebagiannya lagi terlibat narkoba, baik yang ketangkap maupun tidak.

Ketika saya menangani satu acara di televisi, yang melibatkan banyak artis, meski yang saya butuhkan hanya beberapa, yang datang dan nungguin syuting bisa tiga kalinya. Tentu sebagian nunggu sekiranya dapat luberan casting. Tapi tak jarang sebagian besarnya nunggu syuting usai, dan kemudian mereka mengajak ropyan-ropyan, hura-hura, artis yang baru nerima honor untuk menraktir.

Sosialita semacam itu, berat diongkos. Karena jika tidak diikuti, orang bisa dibully, disingkirkan, dijauhi, dan itu artinya pintu karir bisa tertutup. Biaya ropyan-ropyan ini, dalam banyak hal jika diikuti, bisa jadi jauh lebih besar dengan jumlah honorarium yang mereka terima. Dan ketika mereka sudah masuk sindikasi narkoba, susah keluar, kecuali menjadi agen, pengedar, atau bandar. Pola rekrutmen semacam ini sama persis di dunia pelacuran.

Terutama pada level artis kelas 2 dan 3, persoalan kedekatan artis dan narkoba begitu menggurita. Agak berbeda dengan yang kelas 1 atau papan atas. Kasusnya bisa sangat individual. Kita lihat bagaimana Raffi Achmad yang mesti syuting lebih dari 24 jam. Dan itu terjadi tiap hari. Tanpa jeda. Tidur atau istirahat di sela-sela pekerjaan. Dini hari ketika orang-orang biasa terlelap di ranjang, sang artis tenar harus bekerja.

Di situ narkoba bisa masuk, dengan alasan yang paling manusiawi. Untuk menjaga vitalitas. Dan jadilah kita lihat beberapa artis terkenal terjerembab dunia itu. 

Faktor lain dalam dunia artis dan narkoba adalah perputaran duit yang kenceng. Dan pola rekrutmen dalam dunia hiburan kita, tak punya standar jelas. Sering orang mengejeknya hanya mengenal dua pola; Wajah cantik dan sexy banget, atau sama sekali hancur-lebur. 

Kalau yang potongannya pas-pasan, atau biasa-biasa saja, syaratnya lebih banyak. Kalau penyanyi benar-benar suaranya mesti bagus. Kalau main sinetron aktingnya mesti oke. Pada yang cantik banget dan ancur banget, dalam dunia sinetron dan lawak, tak butuh syarat yang aneh-aneh.

Pekerjaan yang sesungguhnya tak berat-berat amat secara fisik ini, bisa dimasuki siapa saja. Sementara, imbal baliknya cukup memadai. Siapa yang tak tergiur dengan nasib Raffi Achmad, Tukul Arwana (dulu waktu masih dikontrak stasiun televisi untuk acara hariannya), Sule dan Andre? 

Bisa dibayangkan, tiap hari, bahkan di beberapa stasiun televisi. Jika sekali tampil honor sekitar Rp 15 s.d 30 juta, berapa dalam sebulan? Belum untuk yang berhonor di atas angka-angka itu. Beberapa nama artis, menjadi milyarder dalam waktu cepat dan "mudah".

Pretty bukan bintang kelas 1, bahkan mungkin akhirnya juga bukan kelas 2. Dunia hiburan di Jakarta, dirubung laron-laron berjibun. Persaingan sangat ketat. Yang tak kuat pasti akan tersingkirkan. Sementara pergaulan mereka yang sudah mengakar dalam sosialita, menjebak mereka dalam high cost society. Dan kita mengerti apa akhirnya yang terjadi, jika tak kuat iman.

Jangan lupa, dalam sosialita para artis itu, mereka yang semula tak latah, bisa jadi latah. Itu juga melanda para pemandu sorak, atau para penonton bayaran yang dengan peran itu mereka bisa mendapat duit Rp 50.000 per-program. Mereka hanya bertugas untuk tepuk tangan, tertawa, sorak-sorak, joget-joget, untuk memberi kesan acara yang sedang dibuat itu bermutu dan digemari. 

Beban hidup menjadi artis Indonesia, sungguh berat. Karena di balik kegemerlapan, mereka hanya bagian kecil dari sekrup besar bernama industrialisasi yang kapitalistik. Mungkin bagi satu artis mendapat honor perprogram antara Rp 1 juta hingga Rp 50 juta, dalam kelas masing-masing, dianggap besar. Apalagi tiap hari dan tidak hanya dari satu program. Tapi dalam dunia industri televisi, yang mereka terima hanyalah bagian kecil dari perputaran uang yang ada di dalamnya.

Kita bisa melihat, berapa tarif iklan, satu slot untuk sekali tayang itu? Tarif premium, untuk waktu-waktu prime-time, yang dianggap jam-jam unggulan antara 17:00 s,d 21:00, bisa mencapai Rp 10 juta s.d Rp 25 juta per-slot, yang hanya 30 detik itu. Padahal, satu produk tentu tak hanya pasang iklan satu kali, dan bukan pula hanya pada satu stasiun televisi. Kita bisa bayangkan, jika menurut aturan tayangan iklan hanya 20% dari total siaran 24 jam, berapa duit yang berputar di situ? 

Dan artis adalah sapi perah yang baik, serta murah. Makanya kerja keras mereka sering terantuk, atau tenggelam, dalam dunia pelarian bernama narkoba. Baik artis yang ngetop, atau pun (apalagi) yang tersingkir.

Sunardian Wirodono, tinggal di Yogyakarta, pernah bekerja di industri televisi Jakarta.

Senin, Juli 17, 2017

Sinicisation Slavoj Zizek


Pengantar : Slavoj Zizek (68) seorang filsuf psikoanalitik Slovenia, kritikus budaya, sarjana Marxis, peneliti senior di Institut Sosiologi dan Filsafat di Universitas Ljubljana. Menuliskan tentang problem ekonomi politik di China, berikut paradoks dan problematikanya. Tulisan berjudul 'Sinicisation' itu dimuat di London Review of Books, Vol. 37 No. 14 · 16 July 2015, page 30, sudah dua tahun lewat, namun tetap menggelitik.

Saya tidak tahu apa penerjemahan setepatnya atas kata itu, kecuali dalam Indonesia hanya menjadi 'sinisisasi' (ataukah penyinisan?). Yang pasti, kata kerja itu berangkat dari kata dasar sinis, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sinisme memiliki dua pengertian yakni : (1) pandangan atau pernyataan sikap yang mengejek atau memandang rendah, (2) pandangan atau gagasan yang tidak melihat suatu kebaikan apapun dan meragukan sifat baik yang ada pada manusia.

Majas sinisme, digunakan untuk menyatakan sindiran secara langsung. Oleh karena itu, majas ini termasuk kedalam kategori majas sindiran. Majas sinisme merupakan kebalikan dari majas ironi yang menyindir seseorang atau sesuatu dengan mengatakan hal yang berlawanan/sebaliknya.
Slavoj Žižek menyimpulkan bahwa sosialisme dengan karakteristik Cina yang dikembangkan Partai Komunis di China sebenarnya adalah 'kapitalisme tanpa perjuangan kelas' dengan beberapa paradoks dan problematikanya.

Ini sebuah tulisan yang agak cukup panjang, sekali pun jika dibaca sekali saja, hanya butuh waktu kurang dari lima menit. Memahaminya, itu soal lain lagi. Tergantung bukan hanya keseriusan membaca, melainkan tingkat kepentingan kita.

Ketika Alain Badiou mengklaim bahwa demokrasi adalah jimat kita, pernyataan ini harus dipahami secara tepat oleh Freud, bukan hanya berarti bahwa kita meningkatkan demokrasi menjadi mutlak yang tak tersentuh. 'Demokrasi' adalah hal terakhir yang kita lihat sebelum menghadapi 'kekurangan' konstitutif dalam bidang sosial, fakta bahwa 'tidak ada hubungan kelas,' trauma antagonisme sosial. Ketika dihadapkan pada realitas dominasi dan eksploitasi, perjuangan sosial yang brutal, kita berkata, 'Ya, tapi kita punya demokrasi!' Seolah itu cukup untuk memastikan bahwa kita dapat menyelesaikan atau setidaknya mengatur perjuangan, mencegahnya meledak.

Kasus demokrasi yang patut dicontoh sebagai jimat, disediakan oleh buku terlaris dan blockbusters seperti The Pelican Brief atau All the President's Men, di mana beberapa orang biasa mengungkap sebuah skandal sampai ke tangan presiden, yang akhirnya memaksanya (Richard Nixon) untuk mengundurkan diri. Korupsi ada di mana-mana dalam cerita-cerita ini, namun dampak ideologis mereka, ada dalam pesan lepas landas yang optimis: betapa negara demokrasi yang hebat inilah, tempat beberapa orang biasa seperti Anda dan saya, dapat menjatuhkan orang terkuat di bumi!

Inilah mengapa sangat tidak tepat menyebut sebuah gerakan politik radikal baru dengan sebuah nama yang menggabungkan sosialisme dan demokrasi: ini menggabungkan jimat utama tatanan dunia yang ada dengan sebuah istilah yang mengaburkan perbedaan utama. Setiap orang bisa menjadi sosialis saat ini, bahkan Bill Gates: cukup untuk mengakui kebutuhan akan semacam kesatuan sosial yang harmonis, untuk kebaikan bersama dan untuk merawat orang miskin dan tertindas. Seperti yang dikatakan Otto Weininger lebih dari seratus tahun yang lalu, sosialisme adalah Arya dan komunisme adalah Yahudi.

Kasus yang patut dicontoh dari 'sosialisme' hari ini adalah China, di mana Partai Komunis terlibat dalam kampanye legitimisasi diri yang mempromosikan tiga tesis: 1) Aturan Partai Komunis saja dapat menjamin kapitalisme yang berhasil; 2) aturan Partai Komunis atheis saja dapat menjamin kebebasan beragama yang otentik; Dan 3) peraturan Partai Komunis yang terus berlanjut sendiri dapat menjamin bahwa China akan menjadi masyarakat konservatif berkadar Konfusianisme (harmoni sosial, patriotisme, tatanan moral).

Ini bukan sekadar paradoks yang tidak masuk akal. Alasannya bisa jadi sebagai berikut: 1) tanpa kekuatan stabilisasi partai, perkembangan kapitalis akan meledak menjadi kekacauan kerusuhan dan protes; 2) Pertarungan faksi agama akan mengganggu stabilitas sosial; Dan 3) individualisme hedonis yang tak terkendali akan menimbulkan keruwetan harmoni sosial. Poin ketiga sangat penting, karena yang ada di belakang adalah ketakutan akan pengaruh korosif dari nilai-nilai universal 'Barat: kebebasan, demokrasi, hak asasi manusia dan individualisme hedonis.

Musuh utama bukanlah kapitalisme seperti itu, tapi budaya Barat tanpa akar yang mengancam China melalui arus internet yang bebas. Ini harus diperjuangkan dengan patriotisme China; Bahkan agama harus 'didiskristuskan' untuk menjamin stabilitas sosial. Seorang pejabat Partai Komunis di Xinjiang, Zhang Chunxian, mengatakan baru-baru ini bahwa sementara 'kekuatan bermusuhan' meningkatkan infiltrasi mereka, agama harus bekerja di bawah sosialisme untuk melayani pembangunan ekonomi, harmoni sosial, kesatuan etnis dan penyatuan negara: 'Hanya ketika seseorang Apakah warga negara yang baik bisa menjadi orang yang beriman. 'Tapi 'sinisisasi' agama ini tidak cukup: agama apapun, tidak peduli bagaimana 'berdosa', tidak sesuai dengan keanggotaan Partai Komunis.

Sebuah artikel dalam buletin komisi-komisi untuk Inspeksi Disiplin Partai, mengklaim karena ini adalah 'prinsip ideologis yang menentukan, bahwa anggota Partai Komunis tidak dapat menjadi religius', anggota partai tidak menikmati hak kebebasan beragama: 'Warga negara China memiliki kebebasan Keyakinan agama, namun anggota Partai Komunis tidak sama dengan warga biasa; Mereka adalah pejuang di garda depan untuk kesadaran komunis. 'Bagaimana pengecualian orang-orang percaya dari partai ini membantu kebebasan beragama?

Analisis Marx tentang ketidakseimbangan politik Revolusi Prancis tahun 1848, muncul dalam pikiran. Partai Ordo yang berkuasa adalah koalisi dua sayap royalis, Bourbon dan Orleanis. Kedua partai tersebut, menurut definisi, tidak dapat menemukan denominator yang sama dalam royalisme mereka, karena orang tidak dapat menjadi seorang royalis pada umumnya, hanya pendukung sebuah rumah kerajaan tertentu, jadi satu-satunya cara bagi keduanya untuk bersatu berada di bawah bendera 'Kerajaan anonim Republik'. Dengan kata lain, satu-satunya cara untuk menjadi seorang royalis pada umumnya adalah menjadi seorang republiken.

Hal yang sama berlaku untuk agama. Seseorang tidak bisa beragama secara umum: seseorang hanya bisa percaya pada tuhan, dewa, dan merugikan orang lain. Kegagalan semua upaya untuk menyatukan agama menunjukkan bahwa satu-satunya cara untuk menjadi religius pada umumnya adalah di bawah bendera 'agama anonim ateisme'. Secara efektif, hanya rezim atheis yang bisa menjamin toleransi beragama: saat kerangka atheis ini lenyap, pergulatan faksi antaragama akan meledak. Meskipun kelompok Islam fundamentalis menyerang West Godless, perjuangan terburuk terjadi di antara mereka (IS berfokus pada pembunuhan Muslim Syiah).

Namun, ada ketakutan yang lebih dalam bekerja dalam larangan kepercayaan religius terhadap anggota Partai Komunis. "Ini akan menjadi yang terbaik bagi Partai Komunis China jika anggotanya tidak mempercayai apapun, bahkan dalam komunisme," Zorana Baković, koresponden China untuk surat kabar Slovenia Delo, baru-baru ini menulis, "karena banyak anggota partai bergabung dengan gereja-gereja (kebanyakan dari mereka adalah gereja Protestan), justru karena kekecewaan mereka terhadap bahkan jejak terkecil dari cita-cita komunis mereka telah lenyap dari politik China sekarang ini.'

Singkatnya, oposisi yang paling serius terhadap kepemimpinan partai Tionghoa hari ini, dipresentasikan oleh komunis yang benar-benar yakin, sebuah kelompok yang terdiri dari kader partai lama, yang sebagian besar sudah pensiun yang merasa dikhianati oleh korupsi kapitalis, yang tak terkendali bersama kaum proletar dan meyakini bahwa 'keajaiban China' telah gagal : Petani yang telah kehilangan tanah mereka, pekerja yang telah kehilangan pekerjaan dan berkeliaran mencari alat bertahan hidup, yang lainnya dieksploitasi oleh perusahaan seperti Foxconn dan lain-lain.

Mereka sering mengambil bagian dalam demonstrasi massa yang membawa plakat yang berisi kutipan dari Mao. Kombinasi kader berpengalaman dan orang miskin yang tidak mengalami kehilangan, berpotensi meledak. China bukanlah negara yang stabil dengan rezim otoriter yang menjamin keharmonisan, dan dengan demikian dapat menjaga dinamika kapitalis terkendali: setiap tahun ribuan pemberontakan pekerja, petani dan minoritas harus dikepung oleh pihak berwenang.

Tak heran jika propaganda resmi berbicara terus menerus dari masyarakat yang harmonis. Desakan inilah yang menjadi saksi kebalikannya, ancaman chaos dan kekacauan selalu ada. Seseorang harus menerapkan aturan dasar hermeneutika Stalinis di sini: karena media resmi tidak secara terbuka melaporkan masalah tersebut, cara yang paling dapat diandalkan untuk mendeteksi adalah dengan mencari ekses positif dalam propaganda negara -semakin harmonis dirayakan, semakin banyak kekacauan Dan antagonisme harus disimpulkan. Cina penuh dengan antagonisme dan ketidakstabilan yang nyaris tidak terkendali yang terus mengancam untuk meledak.

Hanya dengan latar belakang inilah seseorang dapat memahami politik religius Partai Tionghoa: ketakutan akan kepercayaan secara efektif, adalah ketakutan akan kepercayaan komunis ', ketakutan terhadap orang-orang yang tetap setia terhadap pesan emansipatoris universal tentang komunisme. Orang terlihat sia-sia dalam kampanye ideologis yang sedang berlangsung untuk menyebutkan adanya antagonisme kelas dasar yang tampak jelas dalam demonstrasi para pekerja. Tidak ada pembicaraan tentang ancaman 'komunisme proletar'; Semua kemarahan diarahkan bukan melawan musuh asing. 'Negara-negara tertentu di Barat,' sekretaris partai Chinese Academy of Social Sciences menulis pada bulan Juni 2014, Mengiklankan nilai mereka sendiri sebagai 'nilai universal', dan mengklaim bahwa interpretasi mereka tentang kebebasan, demokrasi dan hak asasi manusia adalah standar yang dengannya semua orang harus diukur.

Mereka tidak mengeluarkan biaya apapun ketika harus menjajakan barang-barang mereka dan menjajakan barang dagangan mereka ke setiap sudut planet ini, dan membangkitkan 'revolusi warna' sebelumnya, dan di belakang tirai. Tujuan mereka adalah untuk menyusup, meruntuhkan dan menggulingkan rezim lainnya. Di rumah dan di luar negeri, pasukan musuh tertentu menggunakan istilah 'nilai universal' untuk membasmi Partai Komunis China, sosialisme dengan karakteristik China, dan ideologi arus utama China. Mereka merencanakan untuk menggunakan sistem nilai Barat untuk mengubah China, dengan tujuan membiarkan orang-orang China melepaskan kepemimpinan dan sosialisme Partai Komunis China dengan karakteristik China, dan membiarkan China sekali lagi menjadi koloni beberapa negara kapitalis yang maju.



Tulisan ini mendapat tanggapan dari Keith Flett (entah siapa, dalam LRB, Vol. 37 No. 15 · 30 Juli 2015) : “Beberapa di antaranya benar, tapi kebenaran tertentu menutupi kebohongan yang lebih umum. Tentu saja benar bahwa seseorang tidak dapat dan tidak mempercayai pengesahan Barat akan 'nilai-nilai universal' kebebasan, demokrasi dan hak asasi manusia: universalitas itu salah, dan menyembunyikan bias ideologis Barat. Meski begitu, apakah cukup untuk menentang nilai-nilai Barat dengan alternatif tertentu, seperti Konfusianisme yang merupakan 'ideologi utama China'? Bukankah kita membutuhkan universalisme yang berbeda, proyek emansipasi universal yang berbeda? Ironisnya di sini adalah bahwa 'sosialisme dengan karakteristik China' secara efektif berarti sosialisme dengan karakteristik kapitalis, yaitu sosialisme yang sepenuhnya mengintegrasikan China ke dalam pasar global. Universalitas kapitalisme global dibiarkan utuh, diam-diam diterima sebagai satu-satunya kerangka yang mungkin; Proyek keharmonisan Konfusian dimobilisasi hanya untuk menjaga tutup pada antagonisme yang datang bersamaan dengan dinamika kapitalis global. Semua yang tersisa adalah sosialisme dengan warna nasional Konfusianisme: sebuah sosialisme nasional, yang cakrawala sosialnya adalah promosi patriotik dari negara sendiri, sementara antagonisme yang imanen dalam perkembangan kapitalis diproyeksikan ke musuh asing yang menimbulkan ancaman bagi harmoni sosial. Apa yang diibaratkan partai Tionghoa dalam propaganda patriotiknya, yang disebutnya 'sosialisme dengan karakteristik China', adalah versi lain dari 'alternatif modernitas': kapitalisme tanpa perjuangan kelas. 

Slavoj Žižek menyimpulkan bahwa sosialisme dengan karakteristik Cina yang dikembangkan Partai Komunis di China sebenarnya adalah 'kapitalisme tanpa perjuangan kelas' (LRB, 16 Juli). Masalahnya, seperti yang ditemukan Rusia beberapa dekade yang lalu, bahwa tanpa konflik kelas, kapitalisme tidak akan berkembang dengan cukup kompetitif dalam skala dunia. Makanya, sangat mungkin, saat ini (akan) terjadi krisis ekonomi China.