Jumat, Juli 10, 2009

"Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa"



Karya Prof. Dr. Tjipta Lesmana , MA

Posted by ramay on Mar 20, '09 1:30 AM for everyone Dari kompas.com

"Behind the Scene" Tingkah Laku Para Presiden Indonesia (1)
Suatu ketika, pada era pemerintahan Gus Dur, Laksamana Sukardi (Menteri Negera Badan Urusan Negara) ikut serta dalam kunjungan kenegaraan ke Eropa dan Asia . Jadwal Presiden sangat ketat sehingga membuatnya teler. Para anggota rombongan pun kelelahan luar biasa. Di Seoul, Gus Dur menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri Korea . Kedua pemimpin negara duduk berdampingan. Perdana Menteri Korea berbicara kalimat demi kalimat yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah. Rupanya, karena sangat lelah dan tidak menarik mendengarkan terjemahan, Gus Dur tertidur..

Pada salah satu bagian, PM Korea berujar, "Mr President, we have an excelent nuclear technology for power plant. If you are interested, we would be happy to have it for you. (Tuan Presiden, kami memiliki teknologi nuklir yang canggih untuk pembangkit tenaga. Kalau Anda berminat, kami bisa mengusahakannya untuk Anda)," Pemerintah Korea menawarkan bantuan teknologi nuklir untuk pembangkit listrik Indonesia . Saat itu, Gus Dur tidur pulas sekali. Selesai pernyataan itu diterjemahkan dalam bahasa Inggris, PM Korea menoleh ke arah Gus Dur menunggu jawaban. Namun, tidak ada jawaban. Laksamana cepat-cepat membangunkan Gus Dur. "Gus.... Gus... bangun! Gus... dia tanya apakah kita interested dengan power plant technology yang dia punya." Gus Dur karena baru terbangun dari tidurnya dan belum berkonsentrasi langsung nyeplos, "My Minister ask about your nuclear technology.! (Menteri saya bertanya tentang teknologi nuklir yang Anda miliki)," Laksamana geli bercampur malu. Anggota rombongan pun tersipu-sipu, tidak berani melihat wajah PM Korea. "Kita semua malu. Merah muka kita di hadapan Perdana Menteri Korea ," tutur Laksamana.

Demikian salah satu cerita yang terungkap dalam buku Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa karya Prof Dr Tjipta Lesmana , MA . Buku yang baru diluncurkan Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada pertengahan bulan November menguak pola komunikasi politik enam presiden yang pernah memimpin Indonesia , dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Tjipta melakukan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Ia melakukan wawancara secara mendalam dengan 25 orang yang dekat dengan keenam presiden itu. Sebagian besar informan adalah mantan menteri sehingga mereka sering berkomunikasi dengan Presiden. Dari pengalaman berinteraksi itulah mereka bercerita dan memaparkan apa saja yang diketahuinya tentang komunikasi politik sang presiden dan kesan mereka terhadap kepemimpinan presiden tersebut.

Buku setebal 396 halaman itu mengungkap gaya komunikasi para presiden Indonesia dalam beragam kondisi. Soekarno digambarkan sebagai sosok yang banyak bicara dengan bahasa lugas, tanpa tedeng aling-aling. Sementara itu, gaya Soeharto berada di ekstrem yang lain, hight context, para pembantunya harus pintar memahami yang tersirat di balik yang tersurat, plus memahami senyumnya yang multitafsir.

Habibie digambarkan sebagai pribadi yang terbuka, tetapi terkesan mau menang sendiri dalam berwacana dan alergi terhadap kritik. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga memiliki gaya yang sangat terbuka, demokratis, tapi cenderung diktator. Gus Dur sangat impulsif. Ia bisa tertawa terbahak, tetapi bisa juga menggebrak meja sekerasnya di depan komunikannya.

Megawati lain lagi. Meski dipandang cukup demokratis, pribadi Megawati dinilai tertutup dan cepat emosional. Ia alergi pada kritik. Komunikasinya didominasi oleh keluhan dan uneg-uneg, nyaris tidak pernah menyentuh visi misi pemerintahannya. Dan, tanpa diragukan lagi, tulis Tjipta, Megawati adalah seorang pendendam.

Selanjutnya, Susilo Bambang Yudhoyono digambarkan sebagai sosok yang demokratis, menghargai perbedaan pendapat, tetapi selalu defensif terhadap kritik. Hanya, sayang, konsistensi Yudhoyono dinilai buruk. Ia dipandang sering berubah-ubah dan membingungkan publik.

Yang menarik dari buku ini adalah semua analisis ditarik berdasarkan kisah-kisah kecil interaksi sehari-hari antara presiden dan para menterinya. Sebagian kisah itu tak pernah muncul ke publik sebelumnya.

"Behind the Scene" (2): Megawati Lebih Antusias Bicara Soal "Shopping"
MEGAWATI Soekarnoputri adalah Presiden Indonesia kelima. Bisa disebut ia adalah Presiden Indonesia paling pendiam. Putri Bung Karno ini sepertinya seorang pengikut fanatik pepatah kuno "Silence is Gold". Namun, diamnya Megawati sering kali kelewatan. Ia tetap tak bersuara, bahkan ketika negeri ini membutuhkan kejelasan sikapnya. Sampai-sampai (alm) Roeslam Abdulgani, tokoh pejuang 45, berseru, "Megawati bicaralah sebagai Presiden!"

Mengapa Megawati lebih banyak diam? Tjipta Lesmana dalam bukunya Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa mengisahkan, pada suatu hari, saat masih menjabat sebagai Presiden, Megawati Soekarnoputri tampak tengah berbincang lama sekali dengan seorang menterinya di kediaman resminya, di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Sementara perbincangan berlangsung, seorang pembantu dekatnya yang lain menunggu dengan gelisah. Pasalnya, ia sudah menunggu lama lewat dari waktu yang dijanjikan untuk bertemu. Seusai pembicaraan Megawati dengan menterinya, pembantu ini bertanya kepada si Menteri.. "Lama amat sih kamu ngobrol-nya. Apa saja sih yang dibahas?" "Enggak ada Mas. Kami ngobrol hal-hal lain yang enggak ada kaitannya dengan negara!" jawab sang menteri sambil tertawa lebar (hal 272). Itulah Megawati. Berdasarkan penuturan Laksamana Sukardi, mantan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, jika berdiskusi dengan pembantunya, lebih sering soal-soal ringan, seperti masakan, tanaman, dan shopping. Pembicaraan dengan topik itu bisa membuat diskusi dengan Megawati berlangsung lama. Namun, jika sudah menyentuh soal pekerjaan atau negara, daya fokusnya sangat terbatas. Konsentrasinya kurang cukup untuk terus-menerus fokus ke permasalahan. Hal ini menimbulkan kesan Megawati orang yang tidak mau repot dalam mengurus negara.

Mantan pentinggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang kini hengkang dan mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan, Roy BB Janis, menuturkan dalam buku itu, dalam sidang kabinet, Megawati biasanya lebih banyak diam. Kalaupun angkat suara fungsinya hanya sebagai pengatur lalu lintas. Kalau ada dua menteri saling berdebat di sidang kabinet, Megawati hanya menonton, jarang memberikan pendapatnya sendiri atau menengahi keduanya meski perdebatan sudah berada pada tingkat "panas".

Ada cukilan kisah menarik tentang diamnya Megawati. Menjelang tutup tahun 2002 aksi-aksi unjuk rasa antipemerintah, terutama dilancarkan mahasiswa, menunjukkan eskalasi yang tinggi. Aksi ini menyusul kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik. Di tengah ingar-bingar unjuk rasa itu, beredarlah rumor yang menyebutkan ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mengompori rangkaian unjuk rasa itu.

Sebagai orang yang ikut bertanggung jawab atas stabilitas pemerintah, Hendropriyono (Kepala Badan Intelijen Negara), Susilo Bambang Yudhoyono (Menteri Koordinator Politik dan Kemanan), dan Da'i Bachtiar (Kapolri), rupanya terus memeras otak untuk mencari tahu siapa dalang aksi-aksi ini. Lantas, dalam rapat kabinet tanggal 20 Januari 2003, muncul empat nama yang disebut-sebut sebagai pihak yang berada di belakang aksi unjuk rasa. Mereka adalah Jenderal Wiranto, Fuad Bawazier, Adi Sasono, dan Eros Djarot. Tentang Fuad Bawazier, memang diketahui lama adalah mitra bisnis Rini Suwandi yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan dalam kabinet Megawati. Kemitraan mereka terjadi jauh sebelum Rini menjadi menteri.

Suatu hari bertemulah Hendropriyono dan Rini Suwandi di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar. Hendro menegur keras Rini soal sepak terjang Fuad. Kata-kata Hendro meluncur tanpa tedeng aling-aling. Teguran itu begitu menyakitkan Rini hingga ia menangis sambil memeluk Megawati.. Apa reaksi Presiden? Megawati hanya tersenyum menyaksikan adegan perang mulut antara dua pembantu dekatnya (hal 276).

Pendendam
Semua orang mafhum, hingga detik ini Megawati emoh bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden berkuasa yang notabene adalah mantan pembantunya di kabinet. Dalam upacara kenegaraan memperingati Ulang Tahun kemerdekaan Indonesia Ke-63, 17 Agustus, tahun ini, Megawati tidak hadir. Ketidakhadirannya diyakini karena faktor Yudhoyono sebagai Presiden.

Tjipta menulis, "Di mata Megawati, Susilo Bambang Yuhoyono tidak lebih seorang pengkhianat, bahkan seorang Brutus yang sadis," (hal 303). Ini semua karena sikap "diam-diam" SBY yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pemilu 2004. SBY dinilai tidak jantan. Beberapa kali Megawati bertanya kepada SBY apakah akan maju dalam Pemilu 2004. Dengan diplomatis SBY menjawab, "Belum memikirkan soal itu, Bu. Saya masih konsentrasi dengan tugas selaku Menteri Koordinator Politik dan Keamanan." (hal 288). Namun, Megawati dan kubunya menaruh kecurigaan besar terhadap SBY dan timnya. Perseteruan di balik selimut pun terjadi.. Terungkap ke publik bahwa Megawati mengucilkan SBY dari sidang-sidang kabinet. Sikap Megawati ini menguntungkan SBY karena dengan itu SBY tampil di media sebagai korban kezaliman Megawati. Pada 12 Maret 2004 SBY mengirimkan surat pengunduran diri dari kabinet. Dua hari kemudian ia terbang ke Banyuwangi, berkampanye untuk Partai Demokrat. Pada putaran kedua Pemilu 2004 SBY menang gemilang dalam pemungutan suara. Megawati sedih dan menangis.

Semua orang tahu, saat pelantikan SBY di Gedung MPR pada 20 Oktober 2004 Megawati tidak hadir, padahal banyak orang dekat membujuknya datang. Semua orang juga tahu, pagi itu Megawati bahkan tidak duduk di depan pesawat televisinya, tapi sibuk berkebun. Menurut penuturan Roy BB Janis, kegusaran dan kebencian Megawati diartikulasikan dalam rapat DPP PDI-P. "Kalau orang lain, Amien Rais presiden, Wiranto presiden, siapalah, saya datang. Namun, kalau ini (SBY) saya enggak bisa karena dia menikam saya dari belakang," begitu kata Megawati seperti ditirukan Roy (hal 289).

"Behind the Scene" (3): Gus Dur Menggebrak Meja Hingga Meraung-raung
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah Presiden Indonesia keempat. Masa kepemimpinannya tidak lama, hanya 21 bulan (20 Oktober 1999-23 Juli 2001). Ia dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dipimpin Amies Rais dan digantikan Megawati Soekarnoputri. Meski rentang kepemimpinannya paling singkat dalam sejarah Indonesia , sepak terjangnya banyak menuai kontroversi. Manuver-manuvernya sulit dipahami. Gayanya yang ceplas-ceplos menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Tjipta menyebut dalam bukunya Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa, Gus Dur tidak bisa memisahkan statusnya sebagai kiai dan Presiden Republik Indonesia . Statusnya sebagai kiai bahkan kerap lebih menonjol daripada sebagai Kepala Negara. Akibatnya, komunikasi politik Gus Dur kacau. Sebagai kiai Gus Dur adalah sosok yang terbuka terhadap siapa saja, termasuk terbuka terhadap segala informasi yang dibisikan kepadanya. Celakanya, Gus Dur sering percaya begitu saja pada bisik-bisik orang tanpa pernah lagi mengeceknya. Gara-gara bisik-bisik ini pula ada orang kehilangan kesempatan emasnya berkarier di luar negeri. Laksamana Sukardi, kala itu Menteri Negara Badan Urusan Milik Negara, menuturkan dalam buku tersebut, suatu kali dipanggil Gus Dur ke istana. Gus Dur menyampaikan, ada orang Indonesia yang bekerja di luar negeri dengan reputasi sangat baik. Ia masih muda dan pintar. Gus Dur ingin Laksamana mencarikan posisi untuk orang itu. "Dia pintar sekali. Lalu dia mau ditarik ke New York . Kan sayang kalau ada anak muda yang pintar, masak kerja di luar negeri. Tolong, deh," ucap Gus Dur seperti ditirukan Laksamana. Tak lama setelah hari itu, Laksamana kembali menghadap Gus Dur. Ada posisi lowong sebagai Direksi Indosat. "Gus, ingat enggak ini orang, anak muda yang tempo hari Gus titipkan kepada saya? Dia lebih cocok di Indosat Gus," kata Laksamana. Gus Dur rupanya sudah lupa. Setelah berpikir agak lama, tiba-tiba ia menjawab lantang, "Enggak bisa itu orang!" "Lho, kenapa, Gus?" Laksamana terperanjat. "Dia bawa lari istri orang."

Laksamana kaget setengah mati. Pasalnya, ia sudah menyuruh orang itu keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, bahkan diminta secepatnya keluar karena ada perintah Presiden. Orang itu pun sudah ada di Indonesia . Laksamana kemudian meminta orang itu menghadap ke kantornya. "Mas, kok Gus Dur bilang kamu bawa lari istri orang?" tanya Laksamana.

"Demi Allah Pak! Saya masih dengan istri saya yang sekarang," jawab orang itu. Usut punya usut, ternyata Gus Dur mendapat bisikan dari orang tertentu tentang anak muda ini.. Dan, faktanya bisikan itu tidak benar. Anak muda bergelar PhD ini akhirnya bekerja di sebuah bank swasta. Laksamana merasa kasihan. Bagaimana tidak! Kariernya di perusahaan luar negeri itu sudah bagus, tapi gara-gara seorang pembisik nasibnya jadi kacau balau (hal 207).

Gus Dur menangis meraung-raung
Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang emosional. Bila marah, ia bisa menggebrak meja dan kata-kata keras meluncur dari mulutnya. Salah seorang mantan menteri yang tidak bersedia disebutkan namanya menuturkan, ia pernah dimarahi habis-habisan. Ceritanya begini, ada seorang kerabat Gus Dur duduk dalam pemerintahan. Sebut saja namanya XZ. Gus Dur sebenarnya tidak pernah mengangkat XZ. Namun, seorang pimpinan salah satu instansi pemerintah mengangkat XZ sebagai pejabat eselon 1. Mungkin, orang itu berpikir dengan mengangkat kerabat Gus Dur kariernya akan jadi lebih baik mengingat kedekatan XZ dengan Gus Dur. Namun, sebagai pejabat eselon 1, XZ diketahui kerap "memeras" sejumlah konglomerat keturunan Tionghoa. Para pengusaha ini mendapat semacam "bantuan", tapi dengan imbalan yang sangat besar. Sang menteri tersebut, sebut saja AB, melaporkan perilaku XZ kepada Gus Dur. Gus Dur marah. AB dicaci maki Gus Dur karena Gus Dur tidak memercayai laporan AB. Beberapa hari kemudian, AB dipanggil Gus Dur ke istana..

Pertemuan empat mata. Begitu masuk ke ruang kerja Gus Dur, AB melihat Gus Dur menangis meraung-raung. Ia tampak dilanda kesedihan luar biasa.. Lama Gus Dur tidak bisa bicara, hanya menangis dan menangis. AB bingung, tidak tahu apa yang sedang dialami Gus Dur. Ia berusaha menenangkan Gus Dur.. "Gus, tenang, Gus. Tenang, Gus! Ada masalah apa?" ucapnya sambil mengusapi dan memijat-mijat tangan Gus Dur. Sesaat kemudian, Gus Dur berusaha menguasai dirinya, sebelum akhirnya membuka suara. Intinya, ia mengakui kebenaran informasi tentang perilaku XZ yang pernah disampaikan AB. "Saya malu! Sangat malu! Ternyata, apa yang kamu laporkan kepada saya memang benar semua! Kurang ajar dia!" ujar Gus Dur (hal 225). Sejak saat itu dan selama setahun lebih, Gus Dur tidak pernah menyapa XZ.

"Behind the Scene" (4): Habibie, Presiden Pintar yang Tidak Pernah Mau Kalah
Meski sekian lama menjadi bagian dari masa Pemerintahan Soeharto dan menganggap Soeharto adalah guru sekaligus bapaknya, gaya kepemimpinan Habibie jauh bertolak belakang dengan orang yang dihormatinya itu. Muladi, mantan Menteri Kehakiman di era Orde Baru, menuturkan, sidang kabinet yang dipimpin Soeharto selalu berlangsung dalam suasana mencekam. Para menteri takut angkat tangan mengajukan diri untuk bicara. Sementara itu, di zaman Habibie, para menteri justru berebut mengacungkan jari. Muladi menggambarkan, susana sidang kabinet seperti sebuah seminar: riuh, panas, kadang gebrak-gebrak meja seperti mau berkelahi. Habibie sendiri yang merangsang suasana seperti itu karena dia memang senang berdebat. Semakin didebat, ia semakin bersemangat. Karena semua menteri boleh bicara dan perdebatan dibuka seluas-luasnya sebelum diambil keputusan, sidang kabinet bisa berlangsung sampai larut malam.

Habibie, menurut Tjipta dalam bukunya "Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa", adalah seorang extrovert. Gaya komunikasinya penuh spontanitas, meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa mau memikirkan risikonya. Tatkala Habibie dalam situasi penuh emosional, ia cenderung bertindak atau mengambil keputusan secara cepat. Seolah ia kehilangan kesabaran untuk menurunkan amarahnya. Bertindak cepat, rupanya salah satu solusi untuk menurunkan tensinya. Karakteristik ini diilustrasikan dengan kisah lepasnya Timor Timur dari Indonesia .. Semua orang terkejut, terutama Almarhum Ali Alatas yang kala itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, ketika Habibie tiba-tiba mengumumkan kepada dunia internasional tentang pemberian opsi kepada rakyat Timor Timur: tetap bergabung dengan Indonesia atau melepaskan diri sebagai negara merdeka. Tjipta menganalisa, biang keladi dari keputusan besar ini adalah sepucuk surat Perdana Menteri Australia kala itu, John Howard, yang ditujukan kepada Habibie pada Desember 1998. Menurut penuturan Juwono Soedarsono, Habibie marah membaca isi surat Howard yang meminta Indonesia mempertimbangkan hak politik rakyat Timor Timur untuk menyatakan penentuan nasib sendiri. Habibie merasa surat itu seperti tantangan sekaligus kritik terhadap Pemerintah Indonesia . "Karena Habibie mempunyai tabiat tidak mau kalah dengan siapa pun maka tantangan itu pun secara spontan dijawab," tulis Tjipta. Dalam sidang kabinet 27 Januari 1999, kebijakan pemberian opsi ini dipertanyakan oleh Hendropriyono yang kala itu menjabat sebagai Menteri Transmigrasi. "Kalau plebisit kalah, bagaimana? Siapa bertanggung jawab? Ini kan nanti akan terjadi eksodus, eksodus dari para transmigran yang sudah 25 tahun di sana . Siapa yang bertanggung jawab?" cecar Hendro seperti ditulis dalam buku itu. Habibie dengan sigap menjawab, "Saya bertanggung jawab." Fahmi Idris, Menteri Tenaga kerja kala itu, segera menimpali, "Tanggung jawab apa, Presiden?" Wajah Habibie tampak merah. Seorang menteri dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) lantas menengahi situasi panas ini. (halaman 154)

Bagaimana dengan SBY?
Selanjutnya, bagaimana dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)? Tjipta menilai, SBY adalah sosok yang perfeksionis. Ia selalu tampil rapi dengan tutur kata yang tertata. SBY pasti sadar bahwa ia seorang pria yang dikaruniai Tuhan dengan wajah cukup ganteng, dan ia betul-betul memanfaatkan ketampanannya setiap kali tampil di depan pers. Seolah kegantengannya dan penampilannya yang dandy merupakan daya tarik tersendiri yang harus selalu 'dijual' kepada publik setiap kali ia tampil. "Pakaian yang dikenakan?apakah berupa setelan jas atau batik?selalu berkualitas No. 1 dengan warna, motif, dan ukuran mantap, mencerminkan seleranya berbusana yang tinggi. Ketika itu ia mungkin lebih pas diberikan predikat sebagai 'foto model' atau 'aktor' daripada seorang 'kepala negara'," tulis Tjipta.

Sebagai seorang perfeksionis, lanjut Tjipta, SBY selalu berusaha berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan verbal yang sempurna. Namun, gaya bahasanya sering kali high-context, cenderung berputar-putar, terutama ketika ia belum siap dengan keputusannya. Sayang, tidak banyak hal tersembunyi yang terungkap dalam analisis terhadap gaya komunikasi politik SBY. Tjipta banyak menggunakan contoh dari pemberitaan di media massa . Mungkin para pembantunya belum ada yang berani bicara terbuka karena Bapak Presiden masih berkuasahttp://ramaycollection.multiply.com/*
(Selesai)

Sabtu, Juni 27, 2009

Michael Jackson Meninggal Dunia

Kompas.com, Jumat, 26 Juni 2009 | 05:59 WIB

Mega bintang Michael Jackson dilaporkan meninggal dunia setelah dilarikan ke sebuah rumah sakit di Los Angeles, Kamis (25/6). Laporan tersebut dikeluarkan oleh Los Angeles Times dan Associated Press sementara jaringan televisi CNN belum memastikan laporan kematian bintang berusia 50 tahun itu.

Menurut sumber CNN, Jackson berada dalam kondisi kritis. Brian Oxman, pengacara keluarga Jakson, menjelaskan mendapatkan informasi dari kakak Michael Jaskcon, Randy Jackson bahwa mega bintang itu tidak sadarkan diri setelah menderita cardiac arrest atau mendadak terhentinya kerja jantung di kediaman di Los Angeles barat.
Jackson dilarikan ke UCLA Medical Center setelah petugas pemadam kebakaran Los Angeles menerima laporan itu dari jalur telpon permohonan bantuan darurat 911. Menurut Kapten Steve Ruda dari dinas pemadam kebakaran Los Angeles, permohonan bantuan itu diajukan dari sebuah kediaman di Los Angeles barat pada pukul 12:21 waktu Los Angeles atau 02.30 Jumat (26/6) WIB.
Mega bintang yang berasal dari Gary, Indiana ini dikenal dengan julukan "King of Pop." Jakson merupakan anak ke-7 dari sembilan bersaudara dari sebuah keluarga musisi yang terkenal.
Saat ini, setiap pintu masuk menuju fasilitas gawat darurat UCLA Medical Center dijaga ketat oleh personel keamanan. Bahkan tidak seluruh staf rumah sakit mendapatkan akses masuk ke ruang itu. Beberapa orang yang tampak berada di ruang tunggu sekitar fasilitas gawat darurat UCLA Medical Center tak kuasa menahan haru dan larut dalam kondisi duka dengan saling bertangis-tangisan.

Raja Pop Michael Jackson Meninggal Dunia
TEMPO Interaktif, Jakarta, Jum'at, 26 Juni 2009 | 09:39 WIB

Raja pop dunia Michael Jackson meninggal dunia hari Kamis (25/6) tengah malam, setelah dilarikan ke University California Los Angeles Medical Center. Dia terjatuh akibat serangan jantung di dalam rumahnya di Holmby Hills, Los Angeles, pada siang harinya, dan dipastikan meninggal pada malam harinya. "Dia meninggal di rumah sakit akibat serangan jantung," ujar saudaranya Randy Jackson.

Letnan Fred Corral dari kepolisian Los Angeles mengatakan sebuah otopsi untuk memastikan penyebab kematiannya akan dilakukan pada Jumat (26/6) hari ini, yang hasilnya akan segera diumumkan pada Jumat siang.

Jackson dalam kondisi kritis sejak Kamis siang, Ia kemudian dilarikan ke UCLA Medical Canter oleh dinas pemadam kebakaran Los Angeles, setelah mendapatkan panggilan darurat 911 pada pukul 12.21 waktu Los Angeles. Jackson segera masuk ke fasilitas unit gawat darurat begitu sampai di rumah sakit tersebut, namun jiwanya tak tertolong dalam beberapa jam kemudian. Ia meninggal pada usia 50 tahun.

Seluruh fasilitas umum di UCLA Medical Center, untuk sementara ditutup dan mendapatkan penjagaan ketat, begitu artis yang mendapatkan julukan sebagai 'the king of pop' ini masuk ke rumah sakit tersebut. Beberapa personel keamanan tampak disiagakan, untuk mengantisipasi serbuan kalangan media yang ingin meliput peristiwa ini. Sejumlah penggemarnya, terutama warga Amerika Serikat yang berkulit hitam, sudah tampak berada di UCLA Medical Center, dengan membawa karangan bunga dan tak kuasa menahan haru, menangis dan larut dalam kesedihan yang mendalam.

Menurut penulis buku biografi Michael Jackson, Ian Halperin, sebelumnya Jackson belum pernah dikabarkan menderita penyakit jantung. Pada bulan Desember tahun lalu, Michael Jackson memang sempat masuk rumah sakit, akibat menderita kelainan genetis tubuhnya tidak bisa memproduksi protein Alpha-1 antitrypsin, yang kemudian mempengaruhi kondisi paru-parunya, sehingga Jackson mengalami emphysema (sesak nafas). Ia sebernarnya direncanakan akan menjalani operasi cangkok paru-paru, namun karena kondisi fisiknya yang lemah, operasi itu masih tertunda sampai menjelang kematiannya. Ia dikabarkan juga menderita sejumlah penyakit pada saluran pencernaannya. Untuk itulah, proses otopsi masih diperlukan untuk memastikan penyebab kematian Jackson.
Michael Jakson tak hanya dikenal sebagai bintang penyanyi pop, tetapi juga dikenal sebagai 'icon' kebudayaan pop, yang melawan perspektif rasisme sebagian publik Amerika, dengan keputusannya menjalani operasi penggantian warna kulitnya yang aslinya berkulit hitam menjadi kulit putih, untuk menyatakan bahwa warna kulit sesungguhnya bukanlah sebuah penentu dominasi dalam kebudayaan, karena warna kulit bisa diubah. Sekaligus pernyataannya agar semua orang bisa menerima perbedaan warna kulit.
Sejumlah album legendaris Michael Jackson diantaranya adalah Off the Wall, Thriller dan Bad. "Ia akan dikenang dalam sejarah, bahwa yang menentukan keberhasilannya adalah benar-benar musik dan penampilannya yang luar biasa," ujar aktivis hak-hak sipil Amerika Serikat, Al Sharpton. WAHYUANA


Jacko Telah Tiada
Dijadwalkan Konser Juli

BRE REDANA, Jakarta, Kompas - Dunia terkejut. Pemusik yang telah menyerahkan seluruh hidupnya bagi industri pop, Michael Jackson, meninggal dunia di Los Angeles, Kamis (25/6) pukul 14.26 (Jumat pagi waktu Indonesia). Kabar meninggalnya sosok yang ditabalkan sebagai ”King of Pop” ini di Amerika segera melindas berita lain, dari berita politik sampai berita apa pun.
Di jantung New York yang berarti juga jantung dunia hiburan dunia, Times Square, para turis dan pejalan kaki melihat di layar televisi raksasa tulisan: ”Michael Jackson meninggal di usia 50”. Hampir seluruh layar televisi beralih ke berita mengenai Jackson. Kabar duka itu menyebar ke seluruh dunia, memancing komentar para pesohor dari kalangan hiburan sampai ke tokoh-tokoh pemerintahan.
Michael Jackson, yang praktis menyepi sejak tahun 2005, pingsan di rumah sewaannya di lingkungan eksklusif Los Angeles, Holmby Hills, sebelum dilarikan ke rumah sakit Los Angeles County Coroner—semacam rumah sakit jantung setempat. Juru bicara rumah sakit mengumumkan, Jackson meninggal pukul 14.26 karena serangan jantung. Dari berbagai kantor berita, otopsi akan dilakukan hari Jumat (26/6) yang berarti hari Sabtu ini waktu Indonesia.

Panggilan layar
Menambah daftar artis besar yang mati muda, perhatian dunia yang tersedot oleh meninggalnya Jackson barangkali hanya bisa dibandingkan dengan meninggalnya Elvis Presley, John Lennon, dan Putri Diana. Bagi sejumlah penggemar, meninggalnya Jackson pasti lebih mengagetkan lagi karena terjadi menjelang rencana konsernya setelah absen sekitar satu dekade. Jackson merencanakan rangkaian konser ”penghabisan”, dijadwalkan dimulai tanggal 13 Juli mendatang di London.
”Ini panggilan layar terakhir dan saya akan ketemu Anda Juli,” kata Jackson bulan Maret lalu di depan para penggemar yang hanya bisa melihat sekelebatan bintangnya itu. Ucapan tadi disambut histeria, dari teriakan sampai tangisan.
Nyatanya, layar panggung tak bakal pernah terbuka lagi. Ia telah meninggalkan penggemarnya dan siapa saja makhluk di zaman ini yang mustahil bisa menghindarkan diri dari persentuhan dengan industri pop.
Lahir 29 Agustus 1958 di Gary, Indiana, Amerika Serikat, sebagai anak ketujuh dari sembilan bersaudara, Jackson boleh dikata telah menyerahkan seluruh totalitas hidupnya bagi industri pop. Pada usia dini, 6 tahun di tahun 1964, ia telah bergabung dengan saudara-saudaranya (Jackie, Tito, Jermaine, dan Marlon) dalam kelompok yang dikenang orang sebagai The Jackson 5. Di kelompok itu sebagian orang barangkali bisa mengingat, dua bocah cilik, yaitu Jackson dan Marlon, masing-masing bermain conga dan tambourine. Pada perkembangannya, keduanya menjadi lead vocal dengan aksi yang pada masanya sangat menggemaskan.

Pucat
Michael Jackson melesat bagai meteor setelah berkarier secara solo dan bersama produser Quincy Jones pada tahun 1982 melahirkan Thriller—album terlaris sepanjang masa, dengan angka penjualan sejauh ini melampaui 41 juta. Dari perjalanan kariernya, Jackson tidak hanya melahirkan terobosan dari segi musik dengan campuran pop, R&B, rock, dan soul, tetapi juga melumerkan batas antara musik dan presentasi video. Pada Jackson, keduanya hadir serentak memukau pemirsa televisi di zamannya—atau sebutlah, pada masa itulah lahir generasi MTV.
Seluruh penampilan Jackson dikenang sebagian manusia di planet ini dengan gerak elektriknya yang seperti mengandung paradoks, ”maju ke belakang” lewat moonwalk. Sebagian orang Indonesia menyaksikan penampilan itu di Singapura beberapa tahun lalu. Pada waktu itu negeri tetangga tersebut dibanjiri orang Jakarta sampai seperti Pasar Baru—orang menyeberang jalan sesukanya dan membuat petugas di Singapura kewalahan belaka.
Perjalanan dari usia dini masuk dunia hiburan sampai kemudian ke takhta ”King of Pop”, pada akhirnya bukan tidak menuntut bayar pada Jacko—begitu dia disebut. Industri pop secara perlahan tapi pasti telah mengadopsi Jacko menjadi ”anak kandung”-nya.
Gemerlap dan manipulasi citra industri pop telah membawa ”sang raja” itu pada dunia gadungan, di mana yang nyata dan tidak nyata tak lagi bisa dibedakan. Kaburnya batas antara yang nyata dan tidak nyata berikut rekayasa industrial menyatu utuh dalam Jackson: wajahnya dipermak lewat operasi plastik, kulitnya diputihkan, dan seksualitasnya jadi kacau. Berkali-kali dia terkena dakwaan pelecehan seksual terhadap anak-anak.
Ia membangun tempat tinggal yang disebut Neverland, pulau pengembaraan tokoh fiktif yang menolak menjadi dewasa, Peter Pan. Transformasi fisik, kekacauan perkembangan kepribadian, keterasingan, sementara di pihak lain intrusi pers yang kejam terhadap kehidupan pribadi boleh jadi membawa orang-orang dalam posisi seperti ini sampai pada titik yang disebut death wish.
Beberapa artis yang akan tampil bersama Jackson bulan Juli mendatang bersaksi, kaget melihat penyanyi itu. Katanya, Jackson pucat, tubuhnya seperti kertas yang angin pun akan menerbangkannya. Raja pop itu menjelang ujung tragedi: mati dalam sepi.



Dunia Berduka bagi Jacko
Madonna Tidak Bisa Berhenti Menangis

Kompas, Sabbtu, 27 Juni 2009 | 03:44 WIB

Los Angeles, Jumat - Dari Sidney hingga Bogota, begitu juga di kota-kota di berbagai belahan dunia, para penggemar berduka bagi Michael Jackson (50). Tidak ketinggalan, selebritis dunia juga mengungkapkan kehilangan mendalam.
Begitu mendengar berita Raja Pop itu meninggal, Rina Masaoka, seorang mahasiswa di Jepang, mengatakan, ”Barangkali ini sama mengejutkannya dengan berita meninggalnya Putri Diana.”
Penggemar Jackson, atau yang juga biasa dipanggil Jacko, di Mumbai, India, Jumat (26/6), mengenang dia di lokasi konsernya di kota itu tahun 1996. ”Berapa orang yang bisa menari seperti dia? Bisa-bisa lehermu patah,” kenang Bal Thackeray (83), yang mengundang Jackson untuk menggelar konser di Mumbai.
Di Beijing, China, penggemar Jackson mengenang Raja Pop karena musiknya telah menjadi soundtrack bagi tahun-tahun pertama negara itu membuka diri kepada dunia hampir 30 tahun lalu. ”Hidupnya mungkin aneh, tetapi musiknya mengiringi saya sejak masa muda saya,” kata Wang Fang (45), pengusaha.
Dari Johannesburg, The Nelson Mandela Foundation turut berbelasungkawa atas meninggalnya Jackson. Mandela menyambut hangat Jackson saat berkunjung ke Afrika Selatan tahun 1999 untuk menerima penghargaan seumur hidup di Kora All Africa Music Awards.
Mark Lester, teman masa kecil Jackson, menuturkan, baru beberapa hari yang lalu dia bercakap-cakap dengan Jackson. ”Dia benar-benar sedang berada di puncak, bekerja keras, dan sangat bersemangat dengan pertunjukannya nanti. Sungguh-sungguh tak dapat dipercaya,” tuturnya.

Pujian dan kekaguman
Selebritis top dunia pun mengungkapkan duka mendalam dan rasa kehilangan. Lisa Marie Presley, putri mendiang Elvis Presley, yang menikahi Jackson pada pertengahan tahun 1990-an, menyatakan sangat sedih, terutama bagi anak-anak yang sangat dicintai Jackson.
Saudari Jackson, penyanyi Janet Jackson, menuturkan, dia sangat sedih dan hancur karena saudaranya mendadak meninggal. Dia langsung terbang ke California untuk bertemu keluarganya.
Penyanyi Madonna menuturkan bahwa dia tidak bisa berhenti menangis. ”Saya selalu mengagumi Michael Jackson. Dunia telah kehilangan salah satu orang terbesar, tetapi musiknya akan hidup selamanya,” tutur Madonna.
Mantan anggota The Beatles, Paul McCartney, yang pernah berkolaborasi dengan Jackson dalam lagu ”Say Say Say” dan ”The Girl is Mine” pada awal 1980-an, memuji Jackson sebagai seorang yang sangat berbakat dengan hati yang lembut. ”Saya merasa terhormat bisa bekerja bersama Michael,” ujarnya.
Penyanyi Celine Dion mengatakan, stres bisa jadi ikut berkontribusi dalam kematian Jackson. ”Saat kita melihat dia, kita merasakan kerapuhannya. Itu buruk karena, ya, dia luar biasa. Namun, tak mungkin manusia hidup seperti itu setiap hari. Apa yang saya lihat sekarang, sayangnya, adalah akibat stres,” tutur Dion kepada Europe 1.
Sederet bintang dunia, seperti penyanyi Justin Timberlake, aktris Brooke Shield, mantan gitaris Guns N’ Roses, Slash; aktris Elizabeth Taylor, dan sutradara Steven Spielberg, juga menyatakan kehilangan besar atas meninggalnya Michael Jackson.
(ap/afp/reuters/fro)

Kematian Muda Sang Raja Pop Dimata Artis-artis Hollywood

Jum'at, 26 Juni 2009 | 09:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kematian tragis Michael Jackson betul-betul mengagetkan dunia. Meninggal Kamis (25/6) malam hari di UCLA Medical Center, Los Angeles, pada usia 50 tahun, membuat semua orang terperangah, tak menyangka 'sang raja pop dunia' itu akan pergi secepat itu.

"Dari dalam lubuk hati yang dalam, saya sangat sedih kehilangan teman sejati saya Michael. Dia adalah seorang yang luar biasa, artis dan kontributor bagi seluruh dunia. Saya akan bergabung bersama keluarganya dan seluruh penggemarnya untuk merayakan kehidupannya sekaligus meratapi kepergiannya yang terlalu cepat," ujar artis dan model cantik Brooke Shields dalam statemen resminya.
Sedangkan bekas isteri Michael Jackson, Lisa Marie Presley, yang merupakan anak dari bintang pop tahun 60-an Elvis Presley, dalam pernyataan bela sungkawanya
menyatakan, "saya benar-benar kaget dan sedih atas kepergian Michael. Hatiku bersama anak-anaknya dan keluarganya."

Sahabat karib Michael, aktor Joe Pesci, mengatakan Michael tak hanya seorang entertainer hebat tetapi juga seorang ayah yang baik. "Dia seorang ayah yang baik, dia selalu menyenangkan dengan anak-anak," ujar Pesci.

Aktivis hak asasi manusia Amerika Serikat, Al Sharpton, mengaku sangat sedih tak menyangka atas kepergian Michael, karena beberapa bulan lalu ia sempat bertemu untuk mendukung dan ingin hadir dalam konser Michael di London bulan depan. "Dalam pembicaraan terakhir kami beberapa bulan lalu, saya telah mengatakan akan hadir dalam pertunjukkannya kembali di London, dan dia mengeluh tentang banyak orang yang telah meninggalkannya, tetapi saya bilang itu tidak masalah, karena penggemarmu tidak akan pernah pergi," ujar Al Sharpton.

"Untuk Michael yang pergi pada usia muda. Aku tidak mampu berkata-kata," ujar Quincy Jones, produser album Michael berlabel 'Thriller,' "dia entertainer yang sejati dan kontribusinya akan dikenang dunia sepanjang masa. Hari ini, saya sepert kehilangan saudara, dan sebagian perasaan saya hilang bersama kepergiannya."

Neil Portnow, presiden dari perusahaan rekaman The Recording Academy mengatakan, bahwa karir Jakson telah melampaui batas-batas musik dan kebudayaan dan kontribusinya akan selalu dikenang dalam hati setiap orang. "Jarang sekali dunia mendapatkan sebuah hadiah yang mempunyai bakat, magnet, dan visi seperti Michael Jackson. Dia benar-benar icon musik yang inovatif sejak dari kecil," ujar Portnow.

Pendapat lain dikemukakan oleh mantan pentinju kelas berat yang juga bekas teman Jackson, Michael Levine, "Michael mungkin telah lama menjalani masa-masa yang sulit dan sering merusak perjalanan hidupnya sendiri selama bertahun-tahun. Soal bakatnya tak usah dipertanyakan lagi, tetapi ia hidup tidak nyaman dengan berbagai norma-norma yang berlaku di dunia. Sebagai manusia normal, Ia tak mampu menghadapi tingkat stress yang tinggi dalam hidupnya," ujar Levine pada Foxnews.

"Sejak penampilan pertamanya dalam Jakson 5 sampai penampilannya dalam album Moonwalk dan Thriller, Michael adalah sebuah fenomena pop yang tidak pernah berhenti mencoba berkreativitas," ujar Gubernur California Arnold Schwarzenegger dalam ucapan bela sungkawa resminya," meskipun ada sejumlah pertanyaan dalam kehidupan pribadinya, tetapi tak diragukan lagi Michael adalah seorang entertainer besar, dan popularitasnya telah melampui perbedaan generasi dan global. Maria (mantan istri Jackson) dan saya akan bergabung dengan semua warga California merasa kaget dan sedih atas kepergian Michael, dan hati kami bersama dengan keluarga Jackson, anak-anaknya, dan penggemarnya di seluruh dunia," ujar Schwarzenegger yang juga mantan bintang film-film laga Hollywood.

WAHYUANA

Kematian Michael Jackson Seperti Kennedy

Jum'at, 26 Juni 2009 | 07:16 WIB

TEMPO Interaktif, Michael Jackson - Kabar meninggalnya Si Raja Pop Michael Jackson ternyata menyebar cepat. Sejak dia diboyong ke ruang perawatan intensif di UCLA Medical Center Kamis siang waktu Amerika Serikat, ratusan orang berdatangan memadati rumah sakit itu. Jackson di bawa ke rumah sakit setelah dia tak bernapas pukul 12.30.

Akibatnya polisi terpaksa memasang tali kuning bertuliskan "garis polisi dilarang melintas". "Bapak-bapak dan ibu-ibu, Michael Jackson telah meninggal," seorang perempuan yang naik bus di Manhattan berteriak.

Di Time Square, di New York, banyak orang menyatakan sedih saat sebuah papan iklan menayangkan kabar bahwa Jackson telah meninggal. Lalu secara beranting orang-orang di sana mengabarkan berita sedih lewat ponsel masing-masing kepada teman-temannya.

"Ini bukan lelucon. King of Pop benar-benar tiada," kata Michael Harris, 36 tahun, warga kota New York yang mendapatkan kabar itu dari SMS. "Kematiannya ini seperti saat Kennedy dibunuh. Saya akan selalu ingat bahwa saya sedang di Times Square saat Michael Jackson meninggal."


Michael Jackson: Paling Top, Paling Kontroversial
Jum'at, 26 Juni 2009 | 09:06 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Michael Jakson, yang meninggal di Los Angeles, Kamis (25/6), memang menjadi salah satu penyanyi dan penulis lagu paling berbakat di dunia. Tapi dia juga menjadi salah satu artis yang paling sering diberitakan karena kontroversi tindakannya.

Ia memang aneh. Ia gemar mengubah wajahnya lewat bedah plastik. Ia sangat eksentrik. Ia pernah disidang karena dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Jackson lahir sebagai anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Keluarga itu memang penuh bakat musik, jadi ayahnya membentuk grup band dengan nama Jackson Five.

Bocah ini bergabung dengan band keluarga yang cukup top di Amerika Serikat itu saat ia belum genap enam tahun. Dua tahun berikutnya--bersama kakaknya, Jermaine Jackson, ia menjadi penyanyi utama. Lewat band ini, Jackson kecil mengasah kemampuan bernyanyi dan menari.

Saat pamor Jackson Five (sempat mengubah nama menjadi The Jacksons) meredup, Michael merilis album solo pada 1979 yakni "Off the Wall". Album ini langsung melejit. Dua lagunya, "Don't Stop 'Til You Get Enough" dan "Rock with You", menduduki puncak tangga lagu Amerika Serikat.

Tapi album yang benar-benar membuatnya top adalah "Thriller" pada November 1982. Jackson menulis empat dari sembilan lagu di dalam album ini. Album ini menjadi album terlaris sepanjang masa dengan penjualan diperkirakan pada kisaran 100 juta buah.

Album itu digemari kulit putih maupun hitam. Ia berduet dengan Paul McCartney lewat "The Girl is Mine". Ia menggabungkan musik yang enak untuk ajojing dengan heavy metal lewat "Beat It" (raungan gitar Eddie Van Halen mengisi lagu itu)

Album itu benar-benar membuat Michael Jackson menjadi bintang paling top pada awal 1980-an. Ia bisa diterima penggemar musik kulit hitam maupun kulit putih. Tak heran, Presiden Ronald Reagan sampai mengundang Michael Jackson ke Gedung Putih. Ciri khas Michael Jackson--sarung tangan hanya dipakai di satu tangan dan baju ala Sargeant Pepper's Lonely Hearts Club Band--menjadi top.

Setelah album "Thriller", Jackon merilis sejumlah album lain yakni "Bad", "Dangerous", "HIStory", dan "Invicible". Album ini tidak bisa dibilang gagal untuk ukuran artis biasa, tapi dibanding dengan "Thriller", kalah jauh. Meski begitu, Jackson tetap top.

Tapi popularitas ini juga membuat keanehan Jackson tidak terkendali. Jackson membeli simpanse bernama Bubbles. Ia mengaku toilet untuk Bubbles dan dirinya sama. Ia juga mengaku menderita vitiligo yang membuat kulitnya memutih. Jackson juga diberitakan berusaha hidup awet muda dengan masuk tabung oksigen. Bintang ini kemudian membeli ranco--disebut Ranco Antah Berantah (Neverland Ranch)--seluas 1.100 hektare.

Berita tentang Jackson tidak berhenti di sini. Ia menulis biografi "Moonwalk" yang mengungkapkan saat kecilnya sering dipukuli ayahnya. Ia mengaku menjalani sejumlah operasi plastik.

Pada pertengahan 1990-an, Jackson dituduh melakukan pelecehan seksual kepada Jordan Chandler, 13 tahun. Kasus ini diselesaikan dengan damai, dengan Jackson membayar ganti rugi US$22 juta (Rp 225 miliar). Tapi kasus ini membuat Jackson terpaksa mengkonsumsi obat penenang. Belakangan ia malah ketagihan obat penenang ini.

Sesaat setelah kasus ini muncul, Jackson menikah dengan Lisa Marie Presley--anak satu-satunya penyanyi top Elvis Presley--tapi hanya bertahan dua tahun.

NURKHOIRI

Minggu, Juni 21, 2009

Boediono dan Neoliberalisme


Analisis Revrisond Baswir

Harian Kedaulatan Rakyat, 20 Juni 2009

DALAM tulisan sebelumnya (KR, 17/5/2009), saya telah mengemukakan secara singkat pengertian, asal mula dan perkembangan neoliberalisme. Kesimpulannya sangat jelas, sebagai pembaharuan liberalisme, neoliberalisme tetap memuja ekonomi pasar. Campur tangan negara, walaupun diundang, hanya dibatasi sebagai pengatur dan penjaga bekerjanya mekanisme pasar.
Yang menarik, dalam pro-kontra neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan yang terjadi belakangan ini, hampir semua pihak enggan disebut sebagai seorang neolib. Bahkan, sebagaimana dipertontonkan oleh para ekonom pembela Boediono, dengan sangat memaksa mereka mencoba mengaitkan Boediono dengan ekonomi Pancasila.
Pertanyaannya, mengapa kebanyakan ekonom yang selama ini sangat pro-pasar tersebut tiba-tiba menghindar disebut sebagai seorang neolib? Benarkah Boediono seorang pendukung ekonomi Pancasila? Dan peristiwa apa sajakah yang perlu dicermati untuk mengetahui ideologi ekonomi seseorang?
Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan mudah. Pertama, andaikan bukan dalam suasana pemilu, sebenarnya para ekonom pembela Boediono itu tidak memiliki alasan apa pun untuk mengelak dari tuduhan sebagai seorang neolib. Hal itu tidak hanya karena teori-teori yang mereka pelajari hampir seluruhnya berbasis liberalisme dan kapitalisme, tetapi terutama karena dukungan terbuka mereka terhadap pelaksanaan agenda-agenda Konsensus Washington selama ini.
Kedua, karena dalam pro-kontra neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan itu neoliberalisme secara langsung dibenturkan dengan konstitusi. Maka menentang konstitusi secara terbuka jelas bukan pilihan politik yang bijak. Walau pun demikian, sebagaimana berlangsung 40 tahun terakhir, hal itu sama sekali bukan jaminan bahwa para ekonom pro-pasar itu akan berhenti meminggirkan konstitusi.
Berangkat dari kedua penjelasan tersebut, maka upaya untuk mengenali posisi Boediono terhadap ekonomi Pancasila menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Pertama, secara jujur harus diakui, sebagai penyumbang tulisan dalam seminar ekonomi Pancasila yang digelar Fakultas Ekonomi UGM pada 1980 dan turut menyunting buku kumpulan makalah seminar itu, Boediono memang memiliki jasa yang cukup besar dalam mengangkat ekonomi Pancasila kepermukaan.
Pertanyaannya, kiprah apa sajakah yang dilakukan Boediono dalam mengembangkan ekonomi Pancasila setelah seminar tersebut? Beberapa tahun pertama setelah seminar itu, Boediono memang masih cukup aktif terlibat dalam perbincangan mengenai ekonomi Pancasila. Ia, misalnya, bersama Mubyarto, turut berpolemik dengan Arief Budiman. Setelah itu, Boediono juga turut menyumbangkan tulisan untuk buku Wawasan Ekonomi Pancasila yang disunting oleh Abdul Madjid dan Sri-Edi Swasono (1981).
Tetapi setelah bergabung dengan Bappenas pada 1984, Boediono serta merta hilang dari peredaran. Sebagian orang mungkin akan berkata, bukankah dengan menjadi birokrat Boediono justru memiliki kesempatan untuk mengamalkan ekonomi Pancasila?
Perjalanan karier Boediono ternyata berbicara lain. Sebagaimana diketahui, setelah berkarir di Bappenas, Boediono kemudian secara berturut-turut menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia, Kepala Bappenas dalam pemerintahan Habibie, menteri keuangan Pemerintahan Megawati, Menteri Koordinator Perekonomian Pemerintahan SBY-JK. Dan terakhir menjadi Gubernur Bank Indonesia. Tentu banyak catatan yang bisa dibuat mengenai sepak terjang Boediono sepanjang karier birokrasi dan pemerintahannya tersebut. Yang jelas, setelah Indonesia mengalami krisis moneter pada 1997/1998 dan Boediono menjabat sebagai Menteri Keuangan Pemerintahan Megawati, pada masa itulah privatisasi BUMN berlangsung secara masif.
Kemudian, pada 2006, ketika Boediono menjabat sebagai menteri koordinator perekonomian, pada masa ini pula pemerintahan SBY-JK sangat gencar menaikkan harga BBM. Pendek kata, dalam dua pemerintahan terakhir, Boediono terlibat secara aktif dalam melaksanakan agenda-agenda ekonomi neoliberal di Indonesia.
Pertanyaannya, di antara beragam peristiwa sepanjang karier birokrasi dan pemerintahan Boediono itu, peristiwa apakah yang sangat tegas mengungkapkan ideologi ekonominya?
Jawabannya dapat ditelusuri dengan menyimak proses amandemen Pasal 33 UUD 1945 pada 2002. Sebagai menteri keuangan, Boediono termasuk yang dimintai pendapat oleh MPR mengenai Pasal 33 UUD 1945. Tetapi berbeda dari Mubyarto yang secara mati-matian membela Pasal 33, Boediono ternyata mendukung amandemen. Mubyarto ketika itu pasti sangat membutuhkan dukungan Boediono selaku pejabat pemerintah. Tetapi fakta berbicara lain. Akibatnya, karena merasa dikeroyok oleh para ekonom neoliberal yang menjadi anggota Tim Ahli PAH IV MPR, kecuali Dawam Rahardjo, maka Mubyarto memutuskan untuk mundur sebagai ketua tim tersebut.
Boediono, yang ketika menggagas ekonomi Pancasila berada di sisi Mubyarto, saat amandemen Pasal 33 UUD 1945 ternyata berada di kubu seberang. Kesimpulannya, wallahua’lam. (Penulis adalah Tim Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM)-e

Jumat, Juni 19, 2009

Pilpres Iran : Pemerintah Vs Teknologi Internet


Kompas, Jumat, 19 Juni 2009

Memasuki hari keenam, protes massal terhadap hasil pemilihan presiden Iran kian gencar. Dukungan bagi gerakan reformasi dan kandidat presiden yang kalah (termasuk mantan Perdana Menteri Mir Hossein Mousavi) meluas setelah terjadi bentrokan berdarah dan tewasnya tujuh orang akibat terkena tembakan aparat keamanan Iran, Senin lalu.
Berkat teknologi internet, seluruh dunia dapat menyaksikan dan ikut merasakan apa yang tengah terjadi di Iran melalui pesan singkat atau rekaman kamera video. Potongan gambar dan rekaman video kekisruhan Iran tak henti-hentinya disiarkan berbagai media massa. Pemerintah Iran menilai berbagai media—terutama media asing—”menodai” citra Iran dengan melulu mempertontonkan foto dan gambar kekerasan.
Bahkan, media asing dituding menjadi ”corong” para pemrotes. Garda Revolusioner Iran juga menuduh media yang justru memancing kerusuhan. Akhirnya wartawan media asing dilarang beredar di jalanan dan meliput gelombang protes itu. Padahal, protes kali ini adalah yang terbesar sejak revolusi tahun 1979 yang melahirkan Republik Islam Iran.
Yang boleh dilakukan hanya bekerja dari dalam kantor, seperti membuat berita di dalam kantor, wawancara narasumber melalui telepon, dan memantau siaran berita resmi hanya dari stasiun televisi pemerintah. Pembatasan informasi terhadap wartawan juga pernah terjadi saat revolusi Iran tahun 1979. Saat itu berbagai media masih tergantung sepenuhnya pada jaringan telepon kabel dan teleks perusahaan telekomunikasi milik pemerintah untuk mengirimkan berita ke berbagai negara.
Menurut lembaga pemantau sensor internet, OpenNet Initiative, warga Iran juga pernah hanya bisa mengandalkan internet selama masa kepresidenan Mohammad Khatami tahun 1997 hingga 2005. Ketika itu, puluhan media independen ditutup dan wartawan dipenjara.
Selain menjegal media asing, pemerintah juga menutup akses internet berbagai media independen agar potongan gambar dan rekaman video tentang apa yang terjadi di Iran tidak bocor. Namun, upaya itu sia-sia karena sampai saat ini gambar dan video protes tetap bermunculan di mana-mana meski dengan kualitas yang tidak terlalu baik. Terkadang buram dengan gerak gambar yang tersendat-sendat.
Tidak akan mudah bagi rezim Presiden Mahmoud Ahmadinejad atau Garda Revolusioner Iran untuk menghambat bahkan menutup arus informasi di era internet seperti sekarang. Seperti kata peribahasa ”banyak jalan menuju ke Roma”, warga Iran (mayoritas anak muda) tak kehilangan akal dan berpaling ke situs jaringan sosial, seperti Facebook dan Twitter atau situs Youtube (forum global bagi ekspresi bebas), untuk menyebarkan informasi setiap saat.
Kini otomatis berbagai media sepenuhnya bergantung pada jurnalisme warga. Rekaman gambar dan video yang dipublikasikan para netter (pengguna internet) melalui internet ini yang disiarkan berbagai media asing, antara lain stasiun televisi CNN, dengan penjelasan asal sumber informasi. Pasalnya, mayoritas informasi yang ada di jaringan sosial belum dapat 100 persen dipastikan keasliannya.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menghalangi warga menyebarkan informasi. Selain internet, jaringan telepon juga dibatasi dan dipantau. Pakar masalah sensor di internet di Universitas Harvard, John Palfrey, mengatakan, pemerintah harus menutup seluruh akses ke dunia maya jika ingin mencegah warga menyebarkan pesan singkat, foto, atau surat elektronik (e-mail). Ini yang dilakukan rezim Korea Utara, Kuba, Moldova, dan Myanmar.
Solidaritas ”netter”
”Barisan dukung Mousavi tetap sesuai rencana jam 5 sore,” begitu salah satu pesan singkat atau ”tweet” di Twitter.
”Semoga sukses. Jangan bawa mobil,” bunyi pesan lain.
”Kata teman saya, ada 100 siswa yang ditahan. Para bajingan itu menyerang kita tanpa alasan jelas. Banyak sekali gas air mata yang dilempar ke arah kita. Saya minta tolong ke siapa saja yang bisa datang ke sini. Jangan tinggalkan kami,” begitu bunyi ”tweet” yang lain seperti yang dikutip di cnn.com.
Pesan-pesan berisi dukungan atau pengumuman seperti ini yang berseliweran setiap saat di Twitter. Meski dibatasi hingga 140 karakter, Twitter menjadi alternatif vital setelah pemerintah memblokir fasilitas pesan singkat (SMS) di telepon genggam. Khawatir pemerintah melacak identitas pengguna Twitter, banyak pengguna Twitter di luar negeri yang mengubah identitas dan alamatnya agar seakan-akan terlihat berada di Iran. Tujuannya untuk membingungkan pemerintah.
Saking pentingnya Twitter di Iran, Pemerintah AS meminta pengelola Twitter menunda jadwal perawatan. Pasalnya, Twitter harus dimatikan untuk sementara (kira-kira satu jam) jika dalam proses perawatan.
Meski jaringannya masih terbilang lamban, jumlah pengguna internet di Iran ”luar biasa”. Laporan OpenNet Initiative tahun 2007 menyebutkan lebih dari 23 juta dari 70 juta jumlah penduduk Iran memiliki akses internet (lebih dari 60 persen berusia di bawah 20 tahun).
Kesulitan akses internet Iran ini ditangkap simpatisan siber (cyber) di seluruh dunia yang beramai-ramai membantu warga Iran mengelabui sensor. Netter mengatur komputer dengan setelan proxy server yang bisa dipakai di dalam Iran. ”Kalau semua orang pakai proxy yang bisa mengubah rute lalu lintas Twitter, sulit dilacak dan tidak bisa diblokir,” kata konsultan teknologi AS, Nitin Borwankar.
Internet adalah jaringan yang akan mencari jalan-jalan alternatif untuk memastikan masuknya arus data tanpa hambatan. Pada prinsipnya, internet pasti akan mencari jalan saat terbentur hambatan. Berhasil atau tidak tergantung kelihaian pengguna internet.
Para pengguna Twitter di berbagai negara mengubah setelan waktu dan lokasi agar mereka terlihat seperti mengirim pesan dari Iran. Bukan hanya itu, netter juga mengirimkan perangkat lunak untuk membongkar filter internet atau ”menyerang” situs-situs yang mendukung Ahmadinejad. ”Ini terjadi spontan,” kata Memarian, pengamat jurnalisme di University of California, Berkeley.
Menurut Memarian, kini internet berperan sangat penting di Iran. Memarian juga mengaku ragu pemerintah akan bisa memblokir jaringan telepon dan satelit di seluruh negeri karena itu juga akan mengganggu komunikasi militer dan kepolisian. Bisa saja memblokir jalur-jalur tertentu, tetapi tidak akan bisa memblokir semua jaringan.(REUTERS/AFP/AP/LUK)

Senin, Juni 08, 2009

Budaya Pop di Jantung Perpolitikan Kontemporer


Diambil Selengkapnya dari Kompas, Minggu, 7 Juni 2009

IGNATIUS HARYANTO



Kebudayaan populer di Indonesia semakin menarik untuk diperbincangkan. Ia dibicarakan bukan semata-mata untuk menunjukkan bagaimana isi kebudayaan populer yang berevolusi dari waktu ke waktu, tetapi ia akan menarik jika dilihat sebagai juga buah tarik-menarik politik dan ideologi dari masa ke masa. Mungkin tak banyak yang percaya kebudayaan populer di mana pun ada kaitannya dengan dinamika politik yang ada.
Tentu saja politik di sini dimengerti bukan sebagai politik institusional, terkait dengan melulu masalah partai politik, pemilu, calon presiden, dan lain-lain, tetapi yang paling penting praktik kebudayaan populer hari ini ada di jantung perpolitikan Indonesia saat ini. Begitu tesis sentral Ariel Heryanto sebagaimana ditulisnya dalam pengantar buku ini.
Buku ini berisi sembilan tulisan yang membahas khusus kebudayaan populer di Indonesia dengan mengambil tema spesifik dan menarik untuk dibaca lebih lanjut.
Penulisnya para sarjana yang sebagian besar asal Australia atau berpendidikan di Australia (umpamanya Dr Rachmah Ida, Ketua Jurusan Komunikasi, Universitas Airlangga, lulusan dari Curtin University, Perth), dan ada juga yang bekerja sebagai aktivis LSM di Indonesia. Editornya, Ariel Heryanto, pengajar di Australian National University, Canberra, Australia, yang telah lama menekuni masalah budaya populer di Indonesia.
Keragaman tulisan dalam buku ini membahas mulai dari soal maskulinitas, sensor, dan kekerasan dalam sejumlah film di Indonesia (Marshall Clark), kemudian perbandingan film remaja di Indonesia dan Thailand (David Hanan), juga soal cara mengonsumsi film asal Taiwan, Meteor Garden, oleh penduduk di kampung Surabaya (Rachmah Ida). Ada juga ulasan menarik soal Indonesian Idol (Penelope Coutas), ulasan soal acara gosip di televisi dan soal redomestifikasi perempuan (Vissia Ita Yulianto), ulasan atas kondisi pertelevisian di Indonesia (Edwin Jurriens), serta evolusi musik di Yogyakarta (Max M Richter). Ariel Heryanto selain menulis pengantar buku ini juga menulis satu bab yang mengulas tentang representasi ketionghoaan dalam film-film Indonesia pasca-1998.
Saat bicara tentang politik dari budaya populer kita akan melihat kategori utama dalam kajian seperti ini adalah ideologi, representasi, pola konsumsi, regulasi, dan produksi. Ini akan mengingatkan kita akan bagan sirkuit kebudayaan yang pernah digagas akademisi Cultural Studies di Inggris; Paul du Gay, Stuart Hall, dan kawan-kawan (1997) dalam buku serial Culture, Media, and Identities. Kelima hal di sini saling berkait. Tak ada yang paling memengaruhi dibanding yang lain, tetapi semuanya punya kemungkinan peran yang sama.
Kedekatan budaya
Buku ini khusus membedah kasus-kasus budaya populer di Indonesia dan ia hadir dengan konteks spesifik di mana wilayah ini belum lama terbebas dari kungkungan kekuasaan otoriter. Kondisi ini memberi nuansa khas untuk melihat bagaimana media dan budaya yang terekspresi diproduksi dan dikonsumsi banyak pihak.
Oleh karenanya menjadi menarik membaca bahasan Clark ketika mengulas dua film Rudi Soedjarwo, Mengejar Matahari dan 9 Naga. Dua film ini mengisahkan dunia para pria remaja dengan segala dinamikanya. Film yang sangat ”laki-laki”, bersama dengan film-film lain pasca-1998, rupanya harus berhadapan dengan para penyensor baru yang datang dari kalangan agama yang puritan. Clark juga menekankan, film-film ini juga menegaskan karakter budaya kekerasan dalam masyarakat, tetapi soal penyensoran dari kalangan agamawan bisa berakibat besar untuk perkembangan film mainstream dan independen di Indonesia.
Tulisan menarik lainnya datang dari Rachmah Ida yang menunjukkan kegemaran penduduk di kampung di Surabaya akan serial televisi Meteor Garden. Ida menekankan soal adanya cultural proximity (kedekatan budaya) dari kultur para lelaki di dalam serial itu dengan keyakinan yang dimiliki para penontonnya yang terutama para perempuan (mahasiswi dan ibu rumah tangga).
Kedekatan budaya ini ditunjukkan untuk membedakan dengan, misalnya, serial lain di televisi kita yang sempat didominasi tampilan ala Hollywood. Para pria pemikat hati ini tampil dengan karakter yang tampan, trendy, baik hati, tidak kasar (tidak mengumpat-umpat seperti yang sering dilakukan para pria dalam film Hollywood), tidak bertato, bukan perokok, serta bentuk tubuh sempurna.
Di luar tampilan fisik, serial ini lebih menonjolkan aspek ”ketimuran” dalam hubungan antara pria dan wanita. Seks bebas tak tampil dalam serial ini. Kalaupun ada adegan pria dan wanita tidur bersama, lebih tampil dalam keromantisan tidur berdampingan. Beda dengan tampilan Hollywood yang pria dan wanita mudah jatuh dalam hubungan one night stand.
Representasi politik
Tulisan tentang Indonesian Idol dalam buku ini juga bahasan menarik. Penulisnya, Penelope Coutas, mau menunjukkan, Indonesian Idol sebagai bagian dari Idola yang ”imperialisitik”—karena ikon ”Idol” ada di mana-mana; American Idol, Malaysian Idol, Singaporean Idol, bahkan ASEAN Idol—lalu juga citra dari Indonesian Idol, hal tentang pemasaran Indonesian Idol, hingga ideologi acara yang sama.
Kita pun diingatkan akan pandangan imperialisme kultural yang pernah kita dengar pada dekade 1960-an ataupun akhir 1980-an. Indonesian Idol sebagai waralaba dari program serupa dari produksi Amerika bisa dilihat sebagai imperialisme kultural yang menokohkan si tokoh sebagai sesuatu yang tak jauh berbeda dari yang dihasilkan di Amerika. Pengemasan acara, gaya bernyanyi, pilihan lagu, lebih mencerminkan paduan global dan lokal—atau glocal dalam pandangan Annabelle Sreberny-Mohammadi—hal yang global ada di lokal dan yang lokal ada di global.
Dalam situasi ini, budaya populer adalah representasi dari politik, sementara politik pun kerap mengambil budaya populer sebagai cara penyampai pesan. Masih ingat pemandangan dalam setiap kampanye pemilu? Penyanyi dangdut selalu jadi andalan para juru kampanye partai mana pun. Jangan tanya siapa yang lebih didengar karena massa terlihat mengerumun saat iringan gitar band mulai berkoar, sementara massa memecah saat juru kampanye partai mulai mengambil corongnya.
Budaya populer di Indonesia saat ini terus berkembang dalam tarik-menarik dengan budaya lokal, nasional, dan global, sementara di sisi lain, lanskap budaya populer harus juga berhadapan dengan para regulator budaya yang baru, yang tampil dalam sosok mereka yang mengaku moralis, tetapi selalu intimidatif jika kehendaknya tak dituruti.

Ignatius Haryanto Direktur Eksekutif LSPP, Jakarta

Senin, Mei 04, 2009

CENTHINI, 40 MALAM MENGINTIP SANG PENGANTIN


Pengantar
SRI SUSUHUNAN PAKUBUWANA V, BUKAN HANYA RAJA dari Karaton Surakarta Hadiningrat, melainkan beliau juga seorang maecenas besar yang pernah dimiliki Indonesia. Meski kekuasaannya berlangsung sangat pendek (1820-1823), namun jasa dan gagasannya terukir panjang. Dari gagasan, dan tentu donasi beliau (yang bahkan telah dimulai ketika masih sebagai putra mahkota bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara ing Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV), lahirlah pada awal abad 19 itu, Suluk Tambangraras yang kemudian lebih dikenal sebagai Serat Centhini.
Serat Centhini, mulai ditulis pada Sabtu Pahing, 26 Mukharam Je 1724 (tahun Jawa) atau pada 8 Januari 1815, oleh tiga pujangga Karaton Surakarta. Yakni, Ki Ngabei Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura. Sebagai sebuah karya sastra, memenuhi syarat sebagai sebuah mahakarya yang memiliki pengaruh luas. Sampai banyak orang bisa berkomentar dan menilai, sekali pun sama sekali belum pernah membacanya, sampai hari ini. Begitu hebatnya ia, sampai-sampai karya ini muncul dalam banyak versi. Setidaknya ditengarai ada 12 versi Serat Centhini, dan itu sudah cukup menunjukkan kelasnya.
Daerah tebanya begitu luas. Ia mengenai apa saja. Bukan hanya mengenai sastra atau seni, melainkan juga tentang adat-istiadat, obat-obatan, makanan dan minuman (jaman sekarang disebut kuliner), pengetahuan tentang hewan, tanaman, agama, sejarah, dan bahkan tentang seks.
Tentang yang terakhir itulah, Serat Centhini antara lain dikenal luas. Karena Serat Centhini-lah karya sastra Jawa pada waktu itu, yang berbicara berterus-terang perihal seks. Penjabarannya, bukan hanya verbal tetapi kadang liar. Dalam Serat Centhini, juga dikisahkan bagaimana terjadi anal seks atau pun praktik homo-seksualitas. Dan bahkan, seks massal,...
Pada bagian-bagian yang berkait dengan seks itu, konon Pakubuwana V sendiri yang turun tangan, menulis langsung. Itu terjadi setelah tiga penulisnya dirasa tidak memuaskannya. Tidak nges, dan kurang lugas. Kurang mak nyus, kata almarhum Prof. Dr. Umar Kayam (yang kemudian ditirukan atau dipopulerkan oleh pakar kuliner Bondan Winarno). Maka, Serat Centhini jilid 5 s.d 10 yang ditulis sendiri oleh sang Raja, sebagaimana kemudian bisa dibaca dalam kitab Serat Centhini sekarang ini.
Ia mendapat banyak sebutan, sebagai karya korpus, monumental, sastra kanon yang begitu lengkap dan mencengangkan, karena cakupan isinya yang ensiklopedis, gaya bertuturnya, serta ketebalannya. Bayangkanlah, pada abad 19 itu, lahir karya sastra yang secara liris dan intens, ditulis sebanyak 12 jilid, dengan 722 pupuh tembang (jenis puisi Jawa). Satu pupuh tembang, tak jarang terdiri dari ratusan kuplet (bait), bahkan ada beberapa yang mencapai lebih dari 300 kuplet. Dan masing-masing kuplet terdiri antara 6 hingga 12 baris.
Bisa dibayangkan, kepiawaian bahasa para penulisnya. Karena masing-masing pupuh tembang diikat oleh guru wilangan (jumlah suku kata yang terukur dan terhitung pasti), dan guru lagu (akhir suku kata masing-masing baris yang baku, untuk mendapatkan pola pantunnya). Karena itu, kata-kata dalam bahasa Jawa yang dipakai para penulisnya begitu lentur karena mengejar rima dan bunyi.
Karena itu ketika Serat Centhini itu dilisankan (ditembangkan) siapa pun sepanjang mengetahui cara menyanyikan pupuh tembang itu, Centhini menjadi komunikatif, mudah untuk diapresiasi, dan mudah untuk disosialisasikan. Bahkan terbuka ditafsirkan dan punya kecenderungan bias, karena faktor pendengaran, pengertian, atau ingatan.
Hal ini menjadi mudah terjadi, karena tembang sebagai sastra lisan yang jamak dilakukan pada waktu itu, terjadi dalam berbagai bentuk pertemuan banyak orang, ketika berada dalam upacara sunatan, pengantin, atau berbagai pertemuan-pertemuan rutin, yang diselenggarakan oleh berbagai kelompok masyarakat, dalam berbagai waktu dan tempat.
Karena itulah Centhini bisa muncul dalam banyak versi. Seperti Centhini Pegon. Centhini Jalalen. Centhini versi Madura. Dan lain sebagainya. Tidak dalam niat menyamakan, demikian pulalah ketika para sahabat Muhammad SAW hendak mengumpulkan hadist nabi, yang tentunya disampaikan secara lisan. Maka ketika hadist itu hendak dikumpulkan dan dituliskan, dibutuhkan para perawi hadis yang sahih, yang bisa menjamin tingkat kebenarannya. Apalagi, untuk kasus penulisan Alquran, yang dilakukan setelah nabi wafat. Demikian pula dengan kasus penulisan Injil, yang ditulis berdasar penuturan sahabat-sahabat Jesus seperti Lukas, Paul, Johannes dan lain sebagainya.
Percontohan dalam karya sastra Indonesia, mungkin bisa ditemui pada novel “Para Priyayi” (1992) Umar Kayam, yang pembagian bab-nya ditulis menurut sudut pandang “aku” tokoh-tokohnya. Atau pada lahirnya novel kwarternarius “Bumi Manusia” (1980) Pramoedya Ananta Toer. Yang konon sebelum dituliskan, justeru dilisankan. Didongengkan terlebih dulu kepada sesama napi di Pulau Buru, untuk kemudian baru ditulis.
Serat Centhini (1815) berada dalam nasib berbeda, karena ia “hanya” sastra Jawa, yang tentu tidak segawat kasus penulisan kitab agama yang membutuhkan kesahihan dan kecanggihan. Demikian pula, ia bukan sastra teks Indonesia yang “mulia”, yang mempunyai para ahli kritiknya masing-masing. Sehingga perlu ada studi perbandingan atau studi kritis, sebagaimana dialami oleh Umar Kayam atau Pramoedya.

*

SERAT Centhini, dari teks Sang Raja kemudian berkembang-biak di masyarakat lata, dengan berbagai dampak pembiasan. Dan tidak terjadi huru-hara apa pun. Setidaknya, munculnya banyak versi itu justeru diyakini sebagai pengayaan. Apa yang dimaksudkan oleh Pakubuwana V, menemukan wadahnya. Bagaimana kebudayaan Jawa menjadi sesuatu yang hidup dan berkembang. Toh pada hakekatnya, berbagai isi pengetahuan dan panduan dalam Serat Centhini mengenai kebudayaan Jawa, masih tetap diketahui dan dipraktikkan dalam kehidupan keseharian manusia Jawa sampai hari ini. Bahwa kebudayaan pada jaman dulu berbeda dengan jaman sekarang, bukankah demikian kehidupan itu berubah dan berkembang? Tidak ada yang gawat dalam harmoni kehidupan Jawa. Semuanya rileks dan santai saja. Ia telah menjadi sastra komunal.
Semangat berkomunikasi (dalam tradisi kelisanan) pada Serat Centhini pun seperti itu. Ketika Serat Centhini harus pula memuat tentang teks-teks agama (Islam), karena ia memang diobsesikan untuk memuat apa saja tentang ilmu pengetahuan masyarakat Jawa waktu itu. Ia bergerak begitu saja bersamaan dengan kondisi waktu yang melingkupinya. Kenapa? Karena Centhini, sekali lagi, diobsesikan menjadi karya ensiklopedis, sebuah bothekan, yang menampung apa saja sehingga masyarakat Jawa mempunyai rujukan atau panduan. Maka Serat Centhini menjadi besar, karena ia menjadi referensi masyarakat. Referensi dalam obat-obatan, keris, memilih kuda, memilih pasangan hidup, membangun rumah, dan lain sebagainya, seperti halnya pengetahuan tentang agama itu.
Maka, ketika para penyelidik modern mengkritisi Serat Centhini dalam konteks sinkretisme Jawa-Islam, mempertentangkan pandangan kebatinan Jawa yang masih animistik dengan Islam, dan membacanya sebagai tidak munculnya resistensi sebagai sesuatu yang khas Jawa, atau pola inkulturasi yang tidak genuine serta agak dipaksakan, saya kira biarkanlah menjadi keributan para akademisi yang selalu membutuhkan ukuran-ukuran scientific. Persis sebagaimana kehidupan yang terekam dalam tokoh-tokoh Serat Centhini, praktik kehidupan masyarakat Jawa yang memahami kehidupan sekuler berdampingan aman dengan kehidupan religi.
Saya justeru melihat kehebatan Centhini dari yang diobesikan oleh Pakubuwana V. Bagaimana ia bisa memberikan rujukan atau referensi pada masyarakat Jawa (pada waktu itu) yang tentu saja dengan situasi dan kondisi teknologi serta penghetahuannya, telah berjasa besar dalam menyebarkan berbagai pengetahuan dan kebudayaan manusia kepada masyarakat ramai. Sampai hari ini. Dari sisi ilmu komunikasi, betapa sang raja memiliki kemampuan membaca sosiologi komunikasi masyarakatnya. Ia adalah seorang komunikator yang ulung. Bayangkan, jika Pakubuwana V berada di jaman internet sekarang, mungkin saja beliau akan menulis Serat Centhini di website atau face-book!
Bagaimana penyebaran dan pembelajaran agama (Islam) yang masih terbatas pada pesantren-pesantren, dibakukan dalam teks itu, dan kemudian dilisankan di berbagai pertemuan masyarakat Jawa, yang memang masih bertradisi budaya lisan. Saking seriusnya dengan harapan atas manfaat buku itu, sampai perlu Pakubuwana V mengutus Ki Ngabei Sastradipura mendalami agama Islam, dengan cara mengirimnya untuk naik haji (hingga kemudian, dalam proses penulisan Serat Centhini itu, yang semula bernama Ki Ngabei Sastradipura ketika proses observasi, dalam proses penulisan kreatifnya beliau sudah berganti nama menjadi Kyai Haji Muhammad Ilhar). Dan Pak Haji ini, ikut dalam proses penulisan sebuah buku yang juga menjabarkan pengetahuan tentang seks. MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang mendukung perlunya Undang Undang Pornografi, mungkin akan geleng-geleng kepala melihat hal ini.
Namun seks yang seperti apa? Karena ia bersifat ensiklopedis, tentu saja penjabarnnya menjadi berbeda. Sebagaimana juga dalam penajabaran faham pun, ia berada dalam semangat itu. Tidak ada korelasi dengan resistensi, harmoni, atau sinkretisme sebagaimana digawatkan oleh para akademisi. Dalam pola pemahaman rakyat jelata, Serat Centhini telah menjadi rujukan dan dipraktikkan. Sumber referensi dan menjadi panduan. Bayangkanlah, karena kitab ini juga bertutur tentang Nabi Sulaiman, Jibril. Berkisah tentang bangsa Yahudi Israel, atau bahkan pertemuan antara Ki Abdullah dengan Nabi Isa (Yesus Kristus), ketika Ki Abdullah meminta agar menghidupkan kembali isterinya yang telah mati (Serat Centhini, 154:49-53).
Berbeda nasibnya dengan “Para Priyayi” Umar Kayam, yang sering dibantai habis para kritikus, dengan mengatakan bahwa Umar Kayam adalah novelis yang gagal karena ia sosiolog. Persis sebagaiamana kritik terhadap novel-novel esai dari Sutan Takdir Alisyahbana “Grotta Azzura” yang dikesankan cerewet serta sok pintar. Semua tokoh-tokoh dalam novel seperti itu, sebagaimana YB Mangunwijaya juga mengalaminya dalam trilogi Rara Mendut, tokoh-tokohnya tidak berjiwa, dan hanya terdiri dari otak si penulis. Pramoedya, menjadi menonjol, karena beliau seorang pengarang, yang hidup sebagai penulis.
Tapi, biarlah itu keriuhan yang mengembangkan dunia ini. Sepanjang semua masih berjalan dengan memberi kebebasan pada orang lain untuk menafsir, serta tidak dalam semangat melenyapkan orang lain. Tidak ada yang perlu dikhawatikan.

*

KESULITAN kita sebagai generasi sekarang yang lebih melek huruf, dan dibesarkan dalam tradisi teks. Serat Centhini sebagai karya sastra menjadi tidak gampang dimengerti, bahkan oleh mereka yang kesehariannya bertutur dengan bahasa Jawa. Karena aturan dan pola tembang itu, memungkinkan terjadi dasanama, sinonim, atau pengubahan kata yang membuat kita bisa kebingungan. Nama tokoh-tokohnya pun, karena mengejar jumlah suku kata dalam satu baris (guru wilangan) bisa berubah-ubah. Jayengresmi, bisa saja menjadi Jengresmi. Atau karena harus patuh pada guru lagu, dalam satu barisnya Seh Amongraga bisa saja ditulis Seh Amongragi.. Ki Bayi Panurta, mertua Seh Amongraga, sering disebut Ki Bayi, tetapi jangan bingung jika dalam baris lain disebut sebagai Ki Baywa. Belum lagi nama Panurta bisa pula berubah menjadi Panurteki. Itu bukan salah cetak atau salah tulis, namun karena pola puisi yang harus dan tidak boleh ditawar. Dan seterusnya.
Maka, cobalah kita baca, bagaimana ketika sehabis upacara pengantin, dan Seh Amongraga hendak mengetahui sejauh mana pengetahuan Tambangraras membaca Alquran dan memulainya dengan basmalah dan surat Al Fatihah (Serat Centhini Jilid VI, pupuh 361, Kinanthi, pada gatra 126). Begini bunyinya:

“(bismilahi//)Rahmanirakim alkamdu
lilahi robil ngalamin,
arahmani rakimma,
malikiyaomidini,
wa iya kanabudua,
wa iya kanastangini,...//

Karena gatra itu berada dalam pupuh (jenis) tembang Kinanti, yang pola persajakannya haruslah satu kuplet terdiri dari enam baris. Baris pertama harus terdiri dari delapan suku kata dan berakhiran bunyi huruf “u”. Baris kedua, delapan suku kata, berakhiran huruf “i”. Baris ketiga, tujuh suku kata, berakhiran huruf “a”. Baris ke-empat delapan suku-kata, berakhiran huruf “i”. Baris ke-lima delapan suku kata, berakhiran huruf “a”. Baris ke-enam delapan suku kata, berakhiran huruf “i”.
Lihatlah melalui kasus ini: Dalam baris pertama, hanya disebut “rahmanirakim alkamdu” karena kata bismilah sudah ditulis pada baris terakhir kuplet sebelumnya. Baris ketiga ditulis “arahamni rakimma” bukan “arrahmani rakim” karena jumlah suku-kata (guru wilangan harus tujuh, bukan enam). Demikian pada baris berikutnya ditulis “malikiyaomidini” dan bukan “malikiyaomidin” karena akan kurang satu ketukan (suku kata). Begitu juga kenapa “wa iya kanabudua” dan bukan “wa iya kanabudu”, karena suku kata terakhir harus (jatuh pada sukon wulon atau guru lagu) berbunyi “a” bukan “u”. Maka pada baris terakhir, kasus penambahan suku kata sebagaimana baris 2, 3, 4 dan 5, bisa dimengerti (dalam Serat Centhini mengenai tembang ini dijelaskan dengan runtut dan jelas pada Jilid VI, Pupuh 367 dari bait 145 sampai dengan 226. Bahkan dikatakan, bahwa menurut Kyai Kelipa Buyut Mataram, para pujangga kuno meyakini pupuh atau jenis tembang Jawa itu semuanya ada 49. Hingga kemudian yang selazimnya dikenali hanya berjumlah sekitar 11, 12, 13. Perbedaan angka itu, karena tidak semua jenis tembang populer atau dipakai oleh beberapa orang di beberapa daerah berbeda seperti Sala, Yogyakarta, atau pun beberapa kota lainnya. Banyumas, Semarang, Madiun, Bojonegoro, dan lain sebagainya).
Yang menarik, gaya penuturan Serat Centhini sesungguhnya full humor. Khususnya ketika bertutur soal seks, atau memberikan laporan pandangan mata mengenai tingkat-polah dan perilaku masyarakat Jawa. Bahkan, ketika menuliskan tamu-tamu undangan dalam pesta perkawinan Amongraga-Tambangraras. Ada ratusan tamu, dari lurah (kepala desa), sanak-saudara, blantik, para ulama, pedagang. Nama mereka disebutkan satu-satu, hingga bait-bait tembang hanya berisi daftar nama (lihat Serat Centhini jilid VI, pupuh 357, Mijil, dari bait 234 s.d 280).
“Ki Pandu Tarumpaka Wiranggi,/Ki Dhemes Selobog,/Ki Pandelem Sumbreng Kebak Jolen,/Bambang Eko Bawen Moga Penggik,/Bancang Wora-wari,/ Dhempel Kuwel Mandul,...//” itu adalah nama-nama diantara para tamu Ki Bayi Panurta. Bayangkan kalau ratusan tamu itu disebutkan semuanya. Belum lagi nama-nama yang aneh seperti Ki Centhing, Pak Rumiyah Rajin, Pak Nakirah Kobis (pastilah ini pedagang sayur khususnya kol-kobis), Pak Remu, Pak Murah, Pak Surem, Pak Beser (mungkin karena kebiasaannya), Pak Garem (penjual garem), Ki Mangkurah Kunci. Ada juga beberapa nama seperti Pak Tomas (mungkinkah dia Katholik?), Ki Cek Yik, Ki Dokerok, Mangundrana Paris (apakah dari Paris, kota asal penulis Elizabeth D. Inandiak yang Perancis itu?).
Belum lagi ketika mencandra (menggambarkan dan menyindir) bagaimana penampilan para tamu dengan aneka rupa pakaiannya. Khas sinikal orang linuwih yang mengritik habis gaya hidup orang-orang setengah matang, yang tidak mengerti adat-istiadat sebenarnya.
Pada pupuh tembang yang lain, seperti Dandhanggula, Mijil, Pocung, Asmaradhana, Pangkur, lain lagi aturannya. Ada 12 jenis tembang dalam Serat Centhini, bahkan sampai pada jenis tembang Lontang, yang sama sekali sudah tidak dikenali lagi oleh masyarakat Jawa, bahkan mereka yang bergulat dengan (seni musik) karawitan Jawa sekali pun.

*

PERLU dijelaskan sedikit mengenai isi Serat Centhini ini. Agar panjenengan semua yang belum mengetahui tidak kebingungan.
Sengkala (penanggalan) Serat Centhini, yang berjudul asli Suluk Tambangraras, berbunyi “paksa suci sabda ji”, atau 1742 tahun Jawa atau 1815 tahun Masehi, yakni sekitar lima tahun sebelum penobatan KGPAA Amangkunagara sebagai Sunan Pakubuwana V, si empunya gagasan.
Suluk Tambangraras (diambil dari nama tokoh Tambangraras, bandara putri Centhini yang dinikahi Syekh Amongraga), bersumber pada kitab Jatiswara, yang ditulis semasa Sunan Pakubuwana III bertahta. Tapi tidak diketahui, siapa penulis kitab tersebut.
Tujuan penulisan Suluk Tambangraras, jelas dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa pada masa itu, yang termasuk di dalamnya keyakinan dan penghayatan mereka terhadap agama. Pengerjaan dipimpin langsung oleh Pangeran Adipati Anom Amangkunegara, dengan para penulis istana, yaitu Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura.
Sebelum dilakukan penulisan, ketiga penulis tersebut mendapat tugas khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur, Sastranegara bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, serta Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji, dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam. Dan ketika mereka kembali, bak peneliti lembaga studi jaman sekarang dengan para funding dan sponsornya, mereka pun kemudian bekerja, menulis.
Kitab itu disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar yang juga diutus Sultan Agung dari Kerajaan Mataram untuk menggempur Giri. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah kelahiran mereka, untuk melakukan pengelanaan, karena kekuasaan Giri dihancurkan Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengsari, dan si bungsu Rancangkapti, satu-satunya anak perempuan. Dalam pelariannya, mereka berpisah jalan. Jayengresmi berjalan ke timur, sementara Jayengsari dan Rancangkapti ke barat.
Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang, Banten.
Jayengresmi mengalami pendewasaan spiritual dalam berbagai perjumpaan dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa. Mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syekh Siti Jenar. Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaannya ini membuatnya kemudian dikenal dengan sebutan Seh (Syekh) Amongraga. Hingga kemudian bertemu Tambangraras, yang menjadi istrinya.
Sang isteri Tambangraras, memiliki pembantu bernama Centhini, yang meladeni apa pun kebutuhan Tambangraras, sampai ia juga yang harus menunggui malam-malam pengantin Amongraga dan Tambangraras, karena antara Tambangraras dengan Centhini seolah saudara kembar. Tambangraras mempunyai ketergantungan kepada Centhini, sampai pun ketika sudah menikah, ia meminta (ini tafsiran saya, SW) agar Centhini tidak akan pernah jauh darinya. Dalam konteks ini, dengan semangat sastra lisan dan kondisi sosio-kultural masyarakat Jawa, bisa jadi dari sinilah nama Suluk Tambangraras mengalami pembelokan dan lebih dikenal sebagai Serat Centhini. Karena pada bagian hadirnya Centhini ini, Suluk Tambangraras masuk dalam episode yang paling menggairahkan, yakni tentang seks. Meski dalam bibliografi Perpustakaan Karaton Surakarta, yang disusun Nancy K. Florida, sudah dituliskan sebagai “Serat Centhini” (bertahun 1815) pula. Centhini menjadi sosok sentral, justeru semua orang (yang ingin segera mengetahui apakah Tambangraras sudah disetubuhi oleh Amongraga) menunggu informasinya. Karena dialah satu-satunya orang paling dekat dengan Tambangraras. Demikian juga tentunya, para pembaca dan pendengar tembang Suluk Tambangraras itu kemudian, karena Centhini seolah adalah alterego Tambangraras. Hal itu akan lebih kentara nanti, ketika Syekh Amongraga minggat dari Wanamarta dan disusul oleh Tambangraras bersama Centhini yang menyaru sebagai laki-laki.
Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan di tempat lain, Jayengsari dan Rancangkapti diiringi santri bernama Buras, berkelana ke Sidacerma, Pasuruan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma, Banyumas.
Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, shalat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan selamatan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.
Setelah melalui perkelanaan yang memakan waktu bertahun-tahun, akhirnya ketiga keturunan Sunan Giri tersebut dapat bertemu kembali dan berkumpul bersama para keluarga dan kawulanya, meskipun hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena Seh Amongraga (Jayengresmi) kemudian melanjutkan perjalanan spiritual, menuju tingkat yang lebih tinggi lagi. Yaitu berpulang dari muka bumi, meninggalkan raganya.
Penggunaan Giri dan Mataram (antara Sunan Giri dan Sultan Agung Anyakrakusuma), menyiratkan dua pandangan Islam yang “berbeda”. Dan perjalanan Jayengresmi beserta adik-adiknya, menjadi tampak simbolik. Yang pada akhirnya, mereka kelak pun juga “tunduk”, menjelma menjadi “ulat” dan kemudian “dimakan” oleh Sultan Agung.
Ada banyak tokoh dan tempat disebut dalam Serat Centhini. Meski setting waktu kejadiannya, berkisar pada jaman kekuasaan Sultan Agung Anyakrakusuma. Namun rentang waktu yang terangkum dalam kisah-kisah Centhini, begitu lentur ke mana-mana, hingga sampai pada Syekh Wali Lanang (jaman peralihan Majapahit Hindu ke Islam) dan Syekh Siti Jenar dalam jaman Mataram Islam. Ia merangkum kebudayaan Jawa yang telah berkembang pada era Sebelum Masehi hingga abad ke-18 Masehi. Aneka karakter tokoh bermunculan di sini, sampai pada nama-nama yang kontroversial seperti Mas Cebolang, dan Ki Nuripin yang gila seks dan pengidap penyakit “kotor” gonorhea.
Serat Centhini, boleh dikata sebagai ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa. Serat ini meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya. Para kritikus memuji kitab ini, sebagai karya sastra Jawa yang megah, mewah, indah dan bermutu tinggi.
Teknis bertutur pada Serat Centhini pun, berbeda dengan karya sastra Jawa pada umumnya. Pada karya ini, terlihat penjarakan, yakni obyek tuturan dibiarkan sebagai obyek, dipaparkan begitu rupa tanpa pemasukan unsur subyektif penulis, sebagaimana model tuturan karya penulisan yang berkembang di Eropa pada waktu itu. Sesuatu yang belum lazim dalam tradisi Jawa, karena baik dan buruk dalam kebudayaan Jawa dituliskan begitu saja, apa adanya. Soal apa adanya itu, memang jadi kontroversial, karena sampai kini pun ketertutupan kita memposisikan Serat Centhini sebagai “kitab yang kotor”.
Namun, banyak ilmuwan yang membicarakan, mengkaji dan menimba ilmu pengetahuan Jawa dari Serat Centhini, yang kaya akan data dan fakta. Tidak berlebihan bila para ilmuwan besar, menyebut serat yang disusun atas prakarsa Pakubuwana V di Surakarta ini, sebagai warisan sastra dunia. Karya sastra ini telah memberi kontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Dokumentasi dan klasifikasi berbagai ilmu pengetahuan, menunjukkan wibawa para elit cendekiawan Jawa, mampu berkomunikasi di panggung ilmiah internasional.

*

SERAT Centhini, bersamaan Serat Gatholoco dan Serat Darmo Gandhul, adalah buku-buku yang saya kenali sejak kecil, bahkan sebelum saya bersekolah. Bukan karena ayah saya yang seniman (pemain kethoprak) sebagai penggila buku, melainkan karena ayah saya waktu itu pernah membuka perpustakaan untuk umum.
Yang saya maksud mengenali buku-buku itu, tak lebih sebatas tahu semata. Membaca secara “parah” belum pernah, karena masih dalam bahasa aslinya, Jawa klasik, dan dalam bentuk tembang pula, sehingga menurut saya tidak menarik. Karena tidak mudah dimengerti maknanya. Jangankan isinya, bahasanya saja saya tidak pernah mudheng alias faham.
Masa kecil saya, lebih bergelimang dengan koleksi buku perpustakaan yang saat itu sedang laris, novel-novel pop bahasa Jawa modern seperti yang ditulis oleh Any Asmara atau Suparto Brata. Ya, novel-novel pop yang kadang full percintaan dan petualangan asmara. Juga beberapa koran seperti Kembang Brayan, Jaka Lodhang, serta Swadhesi dan Anjangraya. Dua yang disebut terakhir (yang selalu dibeli eceran oleh kakak saya yang berjualan di Pasar Beringharjo), adalah koran kuning yang penuh dengan berita kriminal, yang tentu sama sebangun dengan koran-koran jenis seperti itu di masa sekarang, dibumbui ramuan mengenai seks dan mistik. Untungnya, disamping membeli koran itu, dibeli juga koran Pelopor Yogya, hingga saya sempat membaca beberapa nama penulis beradab dari rubrik Sabana dan Persada Studi Klub yang diasuh oleh Umbu Landu Paranggi.
Baru ketika menginjak SMP, saya banyak mendapatkan informasi, bahwa Serat Centhini, Gatholoco, dan Darmo Gandhul merupakan bacaan yang jauh lebih “gila-gilaan” dalam menguraikan perihal seks, dibanding novel-novel, komik, Any Arrow, dan bacaan lain yang waktu itu leluasa saya baca.
Saya menyesal, karena ketika kemudian mengubeg-ubeg mencarinya, buku tersebut sudah tidak ada di rumah. Untuk menanyakan di mana buku tersebut, saya malu dan tidak berani, karena masih duduk di SMP. Hingga kemudian saya menjumpainya ketika sudah dewasa (dan bertemu langsung dengan beberapa nama yang dulu saya bacai di koran Pelopor Yogya). Dan tetap saja bagi saya tidak menarik. Bahkan ketika almarhum Linus Suryadi AG (penyair, prosa lirik Pengakuan Pariyem) menawari kemungkinan saya untuk mengindonesiakan Serat Centhini, tentu saja yang sudah dilatinkan oleh Karkono Kamadjaja Partokusumo almarhum, tidak juga menggerakkan saya. Maafkan Mas Linus, semoga damai di Sorga!
Namun karena saya terlibat dalam proses penulisan kreatif “Pengakuan Pariyem” (1979-1981) Linus Suryadi AG itu, intensitas perkenalan dengan Serat Centhini lumayan intensif, meski pun kemudian terpaksa saya tinggalkan karena pengembaraan selama hampir seperempat abad di Jakarta.
Saya baru benar-benar tergerak, ketika pada suatu waktu, saudara Edie AH Iyabenu, direktur penerbitan Diva Press, menantang saya menovelkan Serat Centhini. Tergerak, karena beliau memberi kebebasan tafsir pada saya, dan saya juga dibebaskan untuk mengekspresikan kembali dengan cara yang saya sukai. Serat Centhini sendiri menyediakan diri sebagai teks terbuka. Ia memberikan outline yang multitafsir untuk dikembangkan. Dan itu mengagumkan.
Memang usaha pengindonesiaan mengenai Serat Centhini sudah dilakukan, setidaknya oleh UGM, setelah dirintis (penglatinan dari aksara Jawa) oleh Karkono Kamadjaja dan kawan-kawan (1981). Juga bahkan diperanciskan oleh Elizabeth D. Inandiak (yang kemudian dari sana dialihbasakan ke Indonesia, sebuah keajaiban budaya ketika Serat Centhini mengalami perjalanan mistical cultural dari Jawa, Perancis, baru Indonesia). Namun, semuanya masih dalam bentuk dan konteks Serat Centhini aslinya, yang bagi saya, masih terasa eksklusif.
Tentu saja, itu bukan cacat karena ia bernama pilihan. Saya dalam rangka sangat menghargai berbagai upaya itu. Dengan segala hormat dan ketulusan hati. Apa yang dilakukan Karkono, KRMT Sukmahatmanta, Daru Suprapto, Elizabeth D. Inandiak, adalah upaya para mujahid yang amat berguna bagi Serat Centhini di masa-masa mendatang. Sekarang ini, di dunia maya internet, Serat Centhini termasuk sastra Jawa yang paling berjaya dalam berbagai situs. Banyak anak muda mengakses, meski banyak situs merupakan copy-paste satu sama lain, dan ada banyak bias informasi di situ (ada juga yang menganggapnya kutipan Serat Centhini, padahal yang dimaksud Serat Kalatida), dan seterusnya. Serat Centhini mungkin satu-satunya karya yang banyak dikutip anak muda, tanpa harus mengetahui bahasa dan maknanya.
Mimpi untuk turut “mengindonesiakan” Serat Centhini, dan “mencairkannya” dari kebekuan eksklusivitas tembang (puisi) Jawa, makin tergoda ketika saya mendengar upaya untuk penerbitan “The Centhini, the Javanese Journey of Life Story” dalam bahasa Inggris oleh Suwito Santoso dan Kesty Pringgohardjono (2008). Dan bagi saya, Centhini garapan Pak Suwito dan Bu Kesty, adalah buku yang mengesankan, ketika melihat Centhini secara proporsional dalam konteks jamannya. Alangkah juga bagusnya, jika buku ini bisa terbit dalam edisi Indonesia. Karena, jika tidak, akan juga terasa betapa tragisnya Indonesia, ketika Serat Centhini di-Indonesia-kan (meski via bahasa Perancis) oleh penulis Perancis, atau teks yang sama di-Inggris-kan oleh orang Jawa. Meski fenomena itu sudah disinggung oleh Ranggawarsita dalam Serat Kalatida, yang ditulis setelah Serat Centhini. Maaf, ini bukan pernyataan rasis, melainkan ungkapan cinta buta.
Bersamaan dengan kegelisahan itu, tawaran saudara Edi AH Iyabenu itu, saya sambut dengan surprise dan terharu. Itu salah satu energi yang membuat saya menyelesaikan Centhini dalam versi novel ini. Pengertiannya, bahwa saya sepenuhnya berangkat dari teks Serat Centhini selengkapnya, dan sefahamnya (sebisanya). Tetapi, apa yang saya tulis, adalah tafsir ulang bukan hanya pada teks, melainkan konteks jaman dan situasi batin tokoh-tokohnya, serta teknis dan sudut pandangnya. Maafkan hamba, yang mulia Sinuhun Pakubuwana V. Bagaimana pun, andika adalah maecenas terdahsyat yang pernah dimiliki negeri ini, yang tidak juga ditiru-tiru meski pun presiden Indonesia silih berganti, baik dari orde ini dan itu, sampai pun pada jaman reformasi linglung ini.
Novel tafsir Centhini ini, dengan judul “Centhini, 40 Malam Mengintip Sang Pengantin”, bersumber sepenuhnya pada Serat Centhini jilid V, VI, dan VII, berdasar Serat Centhini Latin dari Yayasan Centhini Yogyakarta, yang diupayakan oleh Karkono Kamadjaja Partokusumo dan diterbitkan sebagai buku pada 1989, meski upaya pelatinan yang pertama sudah mulai diupayakan pada 1981. Untuk diterangkan pula, sumber Serat Centhini Latin ini dari Serat Centhini koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta. Hal ini penting dikemukakan, karena berbagai versi yang ada mengenai Serat Centhini). Meski pun untuk upaya penafsiran, saya membandingkan pula dengan beberapa versi lain, sekali pun hanya sepintas lalu. Seperti “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan” (2004) gubahan Elizabeth D. Inandiak, adalah rujukan penting yang menafsir 40 malam pengantin Syekh Amongraga dan Tambangraras.
Dalam Serat Centhini asli, tidak tercantum pengintipan pengantin itu. Bahkan, tidak terceriterakan detail malam-permalam. Dalam sekian banyak syair-syairnya, dari sejak jilid VI dan kemudian tersambung jilid VII, sebenarnya banyak bertutur mengenai urutan upacara pengantin Jawa, dari ijab, panggih (mempertemukan kedua mempelai), pahargyan (resepsi), kemudian sepasaran (lima hari dari ijab), ngunduh penganten (mengundang dan memestakan pengantin yang dilakukan oleh sanak-saudara), mendirikan rumah, dan boyongan (pindah dari rumah orangtua ke rumah baru milik sendiri). Baru setelah melewati 40 hari, dalam tradisi Jawa pengantin “harus” telah berdiri sendiri sebagai rumah tangga baru dengan rumah milik sendiri pula. Satu hal yang mungkin sekarang ini sulit terlaksana, meski tak sedikit yang sudah memiliki rumah sendiri meski belum menikah.
Dengan sekian banyak upacara dan ritual seperti itu, maka malam-malam pengantin Syekh Amongraga dan Tambangraras, tentulah muskil berada dalam satu tempat. Apalagi, dalam setiap kesempatan, Syekh Amongraga begitu “cerewet” membeberkan semua ajaran tentang agama. Bukan hanya di masjid atau pendhapa, melainkan di atas ranjang ketika hanya bersama Tambangraras. Bukan ajaran yang ringan, karena merangkum syari’at, tarikat, makrifat, dan hakikat sekaligus. Meski tentu juga jadi pertayaan, apakah tidak ada persintuhan sama sekali, jika melihat begitu mesranya Syekh Amongraga memperlakukan isterinya, dengan selalu menyentuh tangan halus Tambangraras sepenuh perasaan,...
Ki Ngabei Sastradipura (yang kemudian bergelar Kyai Haji Muhammad Ilhar), bisa jadi melakukan copy-paste terhadap semua teks-teks Islam yang (baru saja) dipelajarinya. Dan sebagai “pembelajar”, cara itu mungkin paling selamat, sekali pun terasa agak dipaksakan. Hal yang kemudian dikritik oleh Dr. Mohammad Rasjidi, dalam disertasi filsafat “Considerations Critique du Livre de Centhini” di Universitas Sorbone Perancis (1956). Dikatakan oleh Menteri Agama RI jaman Sukarno ini: “...
para penulis Serat Chentini tidak menguasai bahasa Arab, oleh karena itu beberapa kalimat dan ajaran dalam bahasa Arab yang ditemukan pada karya itu tidak masuk akal,....”
Mengenai kalimat dalam bahasa Arab, yang terdapat dalam Serat Centhini, bisa jadi yang dimaksud tidak menguasai dan tidak masuk akal, lebih karena problem “teknis” dari penulisan huruf asli Jawa untuk “menulis” bahasa Arab. Karena jumlah huruf Jawa dengan jumlah huruf Arab, di luar problem karakter dan filosofisnya, tentu merupakan persoalan tersendiri untuk “menaklukkan” bahasa itu. Maafkan, sekiranya bahasa Arab ditulis dalam huruf Kanji Jepang, juga bisa dipastikan persoalannya akan sama tidak masuk akalnya. Ditambah lagi, Serat Centhini terikat bentuk tembang dengan aturan-aturan bakunya atas guru wilangan serta guru lagu, yang “mengakibatkan” bahasa Arab ditulis secara tidak lazim.
Untuk masalah tafsirnya, berkait dengan ajaran, tentu beliau lebih mengetahuinya. Jika Serat Centhini ditulis ulang (mungkin dalam bahasa Indonesia) dan diprosakan, agar lebih bebas, pastilah kritik semacam Mohammad Rasjidi itu bisa diperhatikan, dan menjadikan Serat Centhini sebuah karya sastra ensiklopedis yang paripurna. Apalagi, dimasukkan dalam tim penulis para ahli agama. Mungkin, kanjeng sinuwun Pakubuwana V juga akan mengikhlaskannya. Tetapi mengutip pendapat Nyi Malarsih, ibu mertua Syekh Amongraga, semoga almarhum Mohammad Rasjidi bisa maklum, “... saking pikir kirang ngelmi, mung ilok-ilok kemawon.” (Itu semua karena tipisnya pengetahuan, hanya untuk hiasan saja, Serat Centhini, jilid VI, 359:70).
Ini adalah upaya untuk kita semua, karena kita diperbolehkan melakukan berbagai tafsiran di atas apa pun yang terpetakan di atas dunia. Apalagi, saya bukanlah orang yang percaya pada otoritas-otoritas tunggal, atau kemutlakan-kemutlakan, yang hanya menjebak kita untuk menilai ini lebih baik, itu lebih buruk. Dalam dunia kreatif, saya percaya aneka rupa tafsir itu mampu mengembangkan peradaban manusia.
Apa pun, terima kasih terbesar tentu pada saudara Edi AH Iyabenu, yang mempercayai dan memberi kesempatan. Terima kasih dan maaf saya yang tulus pada mas Gagat dan dik Titi atas persahabatan yang penuh kesabaran dan kekuatan. Terima kasih kepada Pawira Ngadena almarhum, ayah saya, yang telah membukakan pintu. Matur nuwun pula pada Aloysius Ngatiman, paman saya yang membantu pemahaman saya untuk bahasa Jawa yang super-uedan angelnya. Matur nuwun dan hormat saya pada Barbara Hatley (Monash Univercity, Australia) yang mendorong saya untuk tetap mencermati kesenian Jawa; Els Bogaerts, seorang Belanda yang pandai menari Jawa dan antusias mempelajari Jawa; Titiana Adinda yang mendukung data penulisan serta memberi perspektif gender; Arini Hidajati, yang dengan sabar mengoreksi dan mengikuti proses editing buku yang melelahkan ini; Juga kepada Lucianus Bambang Suryanto, serta mas Linus Suryadi AG (almarhum) yang masih menyimpan buku-buku Serat Centhini super uedan itu; Segala respek pada RPA Suryanto Sastroatmojo (KRT Sastra Hadinegara) almarhum, yang selalu mengingatkan saya pada Mas Cebolang, salah satu tokoh paling liar dalam Serat Centhini; Sembah sungkem pada simbah Kyai Mataram Sastrapratama yang sumare di Playen, Gunung Kidul; A.S.A., si pejuang Islam yang teguh, namun santun lagi cerdas dan bermanfaat itu.
Semoga menghibur, serta berguna.


Panasan, Yogyakarta, Nopember 2008
Slipi, Jakarta, April, 2009

Rabu, Maret 25, 2009

Bab 18 Versi Lengkap Syair Panjang Aceh


Pengantar:
Novel Politik Syair Panjang Aceh (Syahie Panyang Aceh), baru saja diterbitkan oleh Diva Press Yogyakarta (Maret, 2009, keterangan lebih lanjut bisa dilihat dalam www.divapress-online.com, harga buku Rp 45.000,00), salah satu bagiannya adalah bab 18, yang dalam versi lengkapnya, tanpa sensor, adalah sebagaimana dikutip dibawah ini, khususnya mengenai data dan fakta kekerasan di Aceh.



BAB 18


BAGAI SEDANG MENYAKSIKAN SEBUAH FILM, ADEGAN ITU silih berganti, berebut untuk disaksikan.
Meskipun pasukan militer non-organik sudah ditarik dari Aceh, seperti yang diinstruksikan Pangab Jenderal Wiranto tanggal 7 Agustus 1998, tidak serta-merta dapat menghilangkan luka dan duka yang pernah mereka torehkan selama beroperasi. Penderitaan fisik, mental dan intelektual banyak di alami masyarakat Aceh. Hal yang sulit dilakukan adalah memulihkan kondisi traumatis masyarakat Aceh yang telah menciptakan neurosa psikologis bagi sebagian besar masyarakat Aceh.
Berkait Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM), sedikitnya ada 30 model penyiksaan yang sudah terdata. Di antaranya, ada korban yang digorok hingga putus, lalu kepalanya dibawa aparat keamanan dengan dipertontonkan di desa asal korban. Selain itu, ada yang ditembak di sumur, diganduli batu ke tubuh lalu di buang ke sungai, penyetruman alat vital korban pada saat interogasi, botol yang dimasukkan ke kemaluan wanita, torehan luka yang ditetesi jeruk nipis dan sebagainya.
Selain itu, banyak muncul kasus orang hilang maupun yang mati tak wajar, yang bisa dikatagorikan ke dalam tiga kelompok. Pertama, besar kemungkinan terlibat GPK, yang sesungguhnya GAM itu diciptakan elit politik di jajaran militer yang gemar merekayasa keadaan. Kedua, hanya simpatisan, merasa kasihan pada korban, ataupun benci pada penculik yang bertindak semena-mena. Ketiga, adalah korban fitnah.
Tapi pada semua kasus itu, terjadi pelanggaran HAM. Baik dari proses penangkapan, penyiksaan, maupun hukuman tembak, yang tak melalui proses pengadilan. Dan, masyarakat sekarang sudah mengerti. Karena kesadaran hukum terus meningkat.
Dari kasus-kasus yang tercatat di DPRD Pidie, sekitar 20 persen korban penganiayaan berat, masih hidup dan siap memberi kesaksian. Mereka umumnya sangat mengenali para penyiksaannya. Di bawah ini akan dipaparkan beberapa kasus kekerasan yang terjadi.
Dari 680 kasus orang hilang yang tindak kekerasan plus pemerkosaan yang berhasil dihimpun Forum Peduli Hak Asasi Manusia (FP-HAM), setelah diklarifikasi terdapat sedikitnya 30 kasus yang berkualifikasi supersadistis.
Sebagaimana aksi kebiadaban tentara sekuler mana pun di dunia ini –seperti yang dilakukan tentara Nazi pada Perang Dunia II, tentara Serbia terhadap etnis Bosnia dan Albania– korban sipil biasanya ditelanjangi dan diperkosa secara bergiliran di antara tentara-tentara yang gagah, hingga pada model penyiksaan dan penindasan seperti laki-laki sipil dilarang untuk bersikap religius dalam menghadapi kematiannya. Pelecehan agama cukup banyak terjadi dalam peristiwa DOM Aceh. Kisah Bosnia berulang lagi atau terjadi bersamaan dengan apa yang dialami di Aceh. Umat Islam di Indonesia bahkan yang di Aceh sendiri, ironisnya, lebih peduli dengan nasib yang dialami Muslim Bosnia ketimbang yang dialami oleh umat Islam di Aceh, wilayah sendiri.
Bagaimana mungkin? Karena ketakutan pada rezim Soeharto yang melebihi teroris itu. Rasa takut yang luar biasa di kalangan umat Islam Indonesia, dan itu lebih dari cukup untuk membuatnya bungkam.
Lihatlah bagimana cara-cara mereka menyiksa umat Islam di Aceh berikut ini, sebagian di antaranya:
1. Digorok dan Rumah Korban Dibakar. Kejadian ini menimpa korban, M. Jalil, 40 tahun. Warga Desa Maneh, Kecamatan Geumpang, Pidie yang oleh aparat diduga terlibat GPK. Ia disudahi di Alue Bayuen, Aceh Timur, sekitar 250 km dari desanya, di suatu hari di tahun 1990. Menurut pengakuan istri korban, Saodah Aleh (41) ibu dari lima orang anak, suaminya itu sedang mendulang emas di Alue Bayuen ketika dibantai petugas. Lalu kepalanya dibawa pulang oleh aparat ke kampung asalnya, Desa Maneh, Pidie. Sedangkan tubuh korban ditinggalkan di TKP. Kedatangan aparat ke rumahnya, dengan membawa kepala suaminya –disaksikan oleh banyak penduduk desa Maneh– ternyata belum membuat derita Saodah berakhir. Sebab, setelah kepala suaminya diserahkan, giliran rumahnya dibakar. Saodah dan keluarganya juga dianiaya.
2. Rumah Dibakar, Tak Diganti Rugi. Teuku Nurdin, 70 tahun, benar-benar mengalami nasib sial yang berkelanjutan. Warga Ulee Reubek Barat, Seunuddon, Aceh Utara ini pada 27 Juli 1990 didatangi lima anggota GPK di rumahnya untuk minta makan sekaligus istirahat. Kalau tak diperkenalkan, ia diancam akan dibunuh di bawah todongan senapan. Tak lama kemudian, terdengar bunyi senjata dari pihak ABRI yang mengetahui kedatangan GPK ke rumah Teuku Nurdin. Maka, terjadilah kontak senjata antara pihak ABRI dengan GPK. Tuan rumah, seperti dikisahkan Hasan (30), anak korban, lari meninggalkan ajang pertempuran itu. Dari saksi mata (tetangga) mereka kemudian tahu bahwa rumah tersebut dibakar, dibantu oleh sejumlah masyarakat yang dipaksa oleh aparat. Sedangkan GPK melarikan diri. Sebelum dibakar, barang-barang milik Nurdin, senilai Rp3 juta diambil aparat. Esoknya, semua masyarakat setempat dikumpulkan untuk ditanyai, siapa pemilik rumah yang dibakar tersebut. Ternyata pemiliknya adalah Nurdin, yang kemudian Nurdin melarikan diri ke Blang Geulumpang, ke rumah famili. Setelah 20 hari baru ia kembali. Saat itu, Danramil setempat berjanji akan mengganti rugi rumah yang dibakar itu. Tapi, janji tersebut tak pernah diujudkan.
3. Diikat, Ditarik Ramai-ramai, lalu di-dor. Syech Asnawi Yahya (32), sarjana FKIP Jabal Ghafur, Sigli. Sebagai keuchik (kepala kampung/desa) di Blang Kulam, Kecamatan Batee, ia tak mau warganya disiksa oleh aparat atau diculik dengan dalih ikut operasi. Tapi, karena sering adu argumen dengan aparat mengenai masalah itu, ayah dua anak itu pun diambil petugas pada suatu hari di tahun 1991. lalu dibawa ke jembatan Delima, Pidie. Lehernya dipasangi tali, lalu beberapa warga disuruh menarik tali tersebut. Dalam situasi begitu, petugas menembakkan peluru ke tubuhnya. Syech Asnawi Yahya pun tewas di tempat. Mayat Syech Asnawi Yahya itu baru boleh diambil keesokannya oleh ibunya.
4. Diganduli batu, lalu dibenam ke Sungai. Sulaiman Ali (40), tidak menduga dirinya akan mati dengan cara yang mengenaskan. Warga Ulee Ruebek Seunuddon, Aceh Utara, ini disiksa di Mata Anoe, yang tak jauh dari desanya pada suatu hari pada tahun 1990. menurut adik kandung korban Teungku Nurdin Ali, abangnya itu diambil petugas selagi berkerja ditambak udang. Setelah itu ia diboyong ke Kantor Koramil setempat, kemudian diangkut ke Lhoksukon. Di kedua tempat ini ia disiksa dengan popor senapan mesin. Namun, karena masih bernyawa akhirnya ditubuhnya diganduli batu sebagai pemberat, ditenggelamkan di Sungai Sampoiniet, Aceh Utara. Dua hari kemudian, tubuhnya timbul kepermukaan dan dibawa masyarakat ke Masjid Raya Sampoinet, untuk dimandikan dan dikafankan.
5. Ajimat Dicabut dan Disiksa. Ishak Raja Bayan (55) mengalami siksaan pada bulan Maret 1990 di desanya, Matang Anoh, Seunoddon, Aceh Utara. Pagi hari yang naas itu ia bermaksud ke tambak untuk mengambil gajinya yang akan dibagikan pagi itu. Sewaktu pulang ia hadang oleh dua anggota Yonif 125 dan dibawa ke Koramil Seunoddon. Ia kemudian disiksa dan ditembak. Tapi, ternyata ia kebal. Lalu ajimatnya berupa cincin dicabut paksa. Setelah itu ia disiksa sampai memar dan lunglai. Ia kemudian disuruh pulang tanpa tahu apa sebab ia dikasari begitu.
6. Ditembak, kemudian kuburannya dibongkar. Walau Zainuddin (27) sudah jadi mayat, namun ia masih mengalami penderitaan. Peristiwa yang dialami Zainuddin tersebut terjadi pada bulan Agustus tahun 1991. warga Ulee Reubek, Seunuddon, Aceh Utara ini berangkat dari Bireuen menuju Pantolabu (Aceh Utara) pukul 01.00 dinihari. Para peronda malam menangkapnya setiba di Pos Cempedak, Jambo Aye. Karena tak merasa bersalah, ia melawan dan sempat dipukuli. Lalu, para peronda menggelandangnya ke Meunasah Cempedak. Sebagian yang lainnya memanggil polisi. Kemudian polisi datang, tapi korban melawan. Karena tampak garang, para peronda lalu memanggil anggota Kopassus di Alue Billi. Saat itu korban lari ke kebun. Anggota Kopassus langsung menembaknya secara membabi buta. Korban jatuh terkapar dengan tubuh yang bersimbah darah. Mayatnya dilemparkan ke parit di dekat balai pasar Ulee Reubek Timur, sekitar pukul 03.00 dinihari. Kemudian, masyarakat mengambil dan mengebumikan mayat tersebut. Esoknya, pukul 11.00 WIB kesatuan ABRI dari Korem lhokseumawe datang ke TKP ingin mengambil foto korban. Tapi, karena terlanjur dikubur warga, diperintahkan untuk dibongkar kembali. Setelah memfotonya, mereka pulang, dan warga mengubur Zainuddin kembali.
7. Penculikan akibat fitnah. Laporan orang hilang hingga 13 Juli 1998, mencapai 137 kasus. Sebagian kasus diduga kuat akibat fitnah antar masyarakat, fitnah politik, atau salah informasi, bahkan ada aparat yang sengaja menyalah-gunakan wewenang dengan memanfaatkan kasus DOM. Tak terkecuali fitnah terhadap lawan politik. Terutama menjelang Pemilu tahun 1997.
8. Ditembak di depan umum. Imuen Sulaiman (40), mengalami hal tak kalah sadisnya. Warga Lueng Dua, Simpang Ulim, Aceh Timur ini mengalami nahas di tahun 1990. Saat itu, seperti dikisahkan adiknya, M. Daud yang melapor ke Peduli HAM, abangnya yang meninggalkan enam anak itu diambil petugas sewaktu kenduri di rumah keuchik setempat. Lalu dibawa ke pos Lueng Peut. Diinterogasi dan dipukuli bertubi-tubi. Setelah itu, korban dibawa kelapangan sepak bola. Dipukuli dan dipertotonkan kepada warga. Lalu, ia ditembak disaksikan ratusan warga sebanyak dua kali. Tembakan pertama pada kepalanya, dan tembakan kedua di bahu kirinya. Setelah roboh, petugas berlalu.
9. Dijadikan tameng saat bertempur lawan GPK. Teungku Rahman Ali (70), warga Cot Baroh, Glumpang Tiga, Pidie, pada 1996 dibawa ke Pos Sattis Billie Aron, Rumoh Geudong. Ia ditembak lalu diobati. Tapi kemudian, disiksa lagi dan dibawa ikut operasi, untuk ditempatkan di barisan depan, sebagai tameng tentara, saat menghadapi serangan atau menyerang GPK.
10. Tangan dibedah, ditetesi air cuka. Rosli (25), warga Bola Mas Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Menurut ayah korban, Samidan Ali, yang melapor ke Peduli HAM, anaknya pada suatu hari di bulan Agustus 1991, pulang dari unit VI tempat dia bertani, ke rumah mereka di unit III. Dalam perjalanan itu, dia ditangkap petugas keamanan. Selama tiga bulan tidak pulang-pulang ke rumah istrinya. Setelah mencari ke sana-kemari, memasuki bulan keempat, pelapor mencari anaknya itu ke Pos Bola Mas unit III. Di tempat itu, ia temukan Rosli, sedang bekerja paksa sebagai tukang masak. Setelah didesak Samidan, akhirnya anaknya dikembalikan. Tapi, menurut pengakuan Rosli kemudian, begitu ia ditangkap kedua matanya ditutup dengan kedua belah tangan diikat. Kepada petugas dia mengaku akan pulang ke rumah, menemui istri dan mertuanya untuk mengabarkan bahwa lahan sawah mereka yang digarap selama ini sudah siap tanam. Tapi, penjelasannya itu tak digubris petugas yang justru menudingnya menanam senjata di suatu tempat. Karena tak bisa menunjukan tempat senjata itu, ia dipukuli dan ditendang. Sampai pada gilirannya, “Telapak tangan saya dibelah, lalu diperaskan air jeruk kecelah luka itu. Perihnya tak terbayangkan,” ujar Rosli sebagaimana ditirukan ayahnya. Setelah siksaan itu ia lewati, Rosli tak diperkenankan pulang ke rumah, melainkan dikaryakan sebagai tukang masak di pos keamanan.
11. Digantung. Penganiyaan yang dialami M Adam Puteh (55), penduduk Meunasah Cot Tunong, Simpang Tiga, yang diungkapkan kepada DPRD Pidiei. Pada tahun 1991, ia pernah digantung kepala di bawah, kemudian dipukul dengan kayu, ditendang dengan sepatu tentara. “Saya sudah ditahan, tapi tidak bisa melawan,” kata M. Adam yang juga hadir pada pertemuan dengan TPF DPR RI di Sigli. Selain itu, menurut pengakuannya, ke dalam mulutnya juga pernah dimasukan moncong senjata. Sampai menusuk ke tenggorokan dan berdarah. Seumur-umur ia mengaku tak pernah merasakan siksaan sedemikian parah itu. Menurutnya, penyebab ia ditangkap oleh oknum aparat itu hanya karena ia telah memotong buluh/bambu lemang. “Mereka menyangka saya akan membuat lemang untuk makan GPK. Karena di tempat itu memang tidak ada yang berani datang,” kata M Adam. Padahal, katanya, rumpun buluh itu sudah dibelinya dari Keuchik Saman dan akan dipotong untuk dijual kepasar.
12. Penyiksaan massal. Jumlah pelapor kasus orang hilang maupun tindak kekerasan di Pidie sampai 30 Juli 1998, mencapai 629 kasus. Angka ini merupakan gabungan antara laporan yang dicatat di DPRD Pidie (524 kasus) dan yang dicatat oleh para relawan dari FP-HAM (105 kasus). Kasus-kasus penyiksaan –baik yang disiksa, diperkosa, maupun ditembak atau dibunuh tapi tidak mati– semakin terungkap. Korban-korban penyiksaan kian berani memberi kesaksiannya. Bahkan di satu desa, Blang Iboih, Langgien, Bandar Baru, Pidie, sedikitnya, 30 warga, (separuh jumlah penduduk desa itu) telah diangkut serentak oleh oknum dan dibawa ke pos Sattis terdekat pada 1991. Di situ, mereka diperiksa sekaligus dianiaya, untuk mencari tahu keterkaitan mereka dengan GPK.
13. Kepala dikuliti di depan anak. M. Yusuf (12), bocah Desa Buloh Blangara, Lhokseumawe, yang masih mengenakan pakaian sekolah SD, menceritakan penculikan dan penganiayaan terhadap ayahnya, M. Jakfar, di rumah mereka, Desa Buloh Blangara, kecamatan kuta Makmur, Aceh Utara, tahun 1992. “Ayah saya diambil oleh tentara. Ayah dipukul, disepak, dan dihantam dengan bedil dikepala sampai kulit kepalanya koyak. Dia ditarik ke belakang, kemudian dilempar ke mobil. Usia saya baru enam tahun. Awalnya, malam itu saya bersama kedua orangtua sedang makan di rumah. Pintu depan diketuk dan setelah dibuka oleh ayah, langsung empat orang bersenjata (tentara) meninju dan menendangnya. Juga memukul ayah dengan popor senjata di kepala korban berkali-kali hingga kulit kepalanya sobek. Belum puas, dengan ganas penculik ayah mendekat dan menyobek kulit kepalanya. Ayah waktu itu terjatuh, dan kemudian penculik itu menginjak-injaknya. Dalam keadaan tak berdaya begitu, ayah masih dipukul, hingga kemudian diseret dan dilempar ke dalam mobil (tidak tahu jenis mobil itu). Saya dan emak hanya menangis dan ketakutan sekali. Ayah saya dibantai sekelompok tentara,...”
14. Ditembak dalam sumur. Korban kebiadaban aparat yang didor di dalam sumur itu adalah Muhammad Juned (28), warga Rawa Itiek, Pantonlabu, Aceh Utara. Suami Rabiah ini, menurut istrinya kepada FP-HAM, diambil aparat keamanan pada suatu hari di tahun 1990 di Desa Matang Ruebek. Dalam kejadian itu, Juned yang tak tahu apa salahnya, dikejar oleh aparat. Kakinya tersandung, lalu jatuh terperosot ke perigi (sumur). Di perigi itulah korban didor. Air sumur yang jernih sontak berubah memerah oleh kucuran darahnya. Masih dalam keadaan bergerak, Juned diboyong aparat naik ke mobil ke Lhokseumawe. Sejak itu dan sampai sekarang korban tidak diketahui bagaimana nasibnya. Oleh FP-HAM, musibah yang menimpa Muhammad Juned ini digolongkan sebagai korban orang hilang, meski keluarganya menduga Juned sudah almarhum, cuma saja tak diketahui di mana kuburnya.
15. Sudah jadi korban, keluarganyapun menjadi korban penipuan. Menurut Kamariah (25), pada 24 April 1998, pagi hari, rumahnya di Desa Cot Baro, Glumpang Minyeuk, didatangi beberapa penculik. Mereka mengatakan bahwa di rumah itu disimpan senjata. Dua kamar di dalam rumah digali, tapi tak ditemukan. Anehnya, malah mereka membawa Khatijah, ibu Kamariah, dan sampai sekarang belum kembali. Meskipun keluarga Khatijah tahu bahwa Khatijah sudah tidak pulang beberapa lama, beberapa anggota keluarga korban berusaha untuk mencari korban yang hilang dengan cara apa pun juga. Mereka bahkan ikut jadi korban penipuan.
Kejadian resupa juga menimpa keluarga A Gani Abubakar (29), seorang pengusaha kopi bubuk kemasan di Bereunun yang diculik tahun 1991. Menurut Saudah (35), kakaknya, kedua orangtua mereka pernah memberi uang Rp 500.000 kepada Yusuf Macek yang menawarkan akan mengurus pembebasan A Gani. Uang itu, kata Yusuf, akan dibelikan perhiasan untuk istri si penculik. Tapi sampai sekarang A Gani tak kunjung pulang, dan uang itu pun tak kembali lagi.
16. Ditaruh pemberat besi dan ditenggelamkan ke sungai. Abdurrahman Ahmad (52), mengalami tindak kekerasan sepulangnya dari kebun membelah kayu di tahun 1990. Kala itu, warga Leubok Peng-peng Kecamatan Peurelak, Aceh Timur ini kepergok ABRI yang sedang menyisir pinggiran hutan. Tanpa ditanya apa-apa, Abdurrahman langsung dibawa. Enam hari kemudian, lapor Ibrahim Ali (28), anak korban, jasad ayahnya ditemukan mengapung di Sungai Peurelak. Yang sangat menyedihkan, Abdurahman Ahmad diikat hidup-hidup pada besi yang berukuran sepanjang badannya, beratnya sekitar 17 koligram. Setelah diganduli besi, kemudian dilempar ke sungai.
17. Disiksa sembilan malam, dibiarkan dalam keadaan lapar. Abdul Gani Berdan (26), warga Jiem-jiem, Bandar Baru, Pidie. Jebolan SD yang punya tiga anak, mengalami siksaan pada tanggal 11 Oktober 1992 di Pos Sattis setempat. Ketika itu, ia bersama tujuh penduduk lainnya, dijemput sore hari (15.00 WIB) oleh tiga oknum berseragam loreng. Di Pos Sattis mereka disiksa selama sembilan hari sembilan malam. Selama tiga hari korban tidak diberi makan. Perutnya perih luar biasa. Setelah itu, seperti dilaporkan Siti Aminah (29), istri korban, Abdul Gani Berdan berhasil pulang dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.
18. Suami dibuang istri disetrum. Tahun 1996, Idris (30), tamatan SMP, dipermak di Murong Cot, Kecamatan Sakti, Pidie, pukul 07.00 WIB. Sebagian warga yang pendiam, Idris tergolong nekat. Ia diketahui menanam senjata di dekat rumahnya atas suruhan orang lain dengan imbalan uang. Karena ketahuan petugas, Idris di tangkap dan digelandang ke Lamlo. Delapan bulan ditahan, ia dibuang di Cot Panglima di Takengon, dengan tangan dan kaki terikat. Matanya ditutup. Tapi menurut pengaduan istrinya, Rosmiati (28), Idris kemudian berhasil ke luar dari Cot Panglima dan sampai rumah pada bulan Ramadhan tahun 1996. setelah itu, pulang-pergi beberapa kali. Belakangan, karena suaminya tak tertangkap, gilirin si istri dibawa ke rumah Gedong Aron. Di situ Rosmiati ditelanjangi dan dikontak, maksudnya disetrum, sampai mengeluarkan kotoran. Yang menelanjangi adalah Kopassus yang ia kenal.
19. Semua gigi dirontokkan. Teungku M. Yusuf Alibasyah, warga Blang Bunot, Bandar Baru, pada tanggal 5 Januari 1993, diambil paksa oleh dua orang petugas di Pos Sattis Jiem-jiem. Lalu dianiaya dengan cara mukanya dipukul berkali-kali sampai gigi rontok semua. Karena sulit mengunyah, lantaran tak lagi bergigi, makanan umumnya dia telan langsung. Kini, (Juli 1998), ia sakit-sakitan.
20. Cacat karena dipukul dengan balok. M Saleh Pakeh (32), warga Desa Lengkok, Sakti, pada tahun 1990 disiksa di Pos Sattis Tangse, kemudian di Pos Sattis Kota Bakti, Pidie. Ditahan 24 hari, disetrum, dan dipukul dengan balok sampai berdarah-darah. Ia bahkan pernah diobati Palang Merah Indonesia (PMI), namun kini mengalami cacat dan penuh bekas luka di badan.
21. Tulang rusuk dipatahkan. Ismail Usman (45), Cot Baroh, Glumpang Tiga, pada tahun 1992 di Pos Sattis Jiem-jiem dan Pos Sattis Kota Bakti, Pidie, dipukul dengan popor senjata balok kayu, dan benda keras lainnya hingga kini mengalami tulang rusuk patah. Dadanya sesak dan pahanya sakit.
22. Digantung kepala di bawah. Umar Ibrahim (60), Cot Baroh Glumpang Tiga, Pidie. Disiksa di Pos Sattis Jiem-jiem, Pidie, pada Juni 1994. Ia digantung dengan kepala ke bawah, lalu direndam dalam air dan tinja, serta dihujani pukulan. Ia masih bertahan hidup, mesti mengaku sangat trauma dan merasa secara fisik sudah rusak di dalam.
23. Dipaksa bersenggama dengan tahanan wanita. Penistaan seks juga dialami pemuda M. Taeb Hasan (20) di tahun 1998. Warga Blang Sukon, Bandar Baru, Pidie ini datang mengadu langsung ke Tim Investigasi FP-HAM. Ia diambil paksa dari kediamannya, lalu dibawa ke Pos Sattis Ulee Gle. Di sini ia diperiksa dan diinterogasi dengan berbagai pertanyaan yang bernada memposisikannya sebagai aktivis GPK. Karena mengaku tak tahu dan tak terlibat, Taeb dipukul dan ditelanjagi. Setelah itu ia dipaksa berbuat mesum dengan tiga wanita yang di tahan di pos tersebut. Dari sejumlah wanita janda yang juga dipaksa ditelanjangi di tempat itu, Taeb akhirnya hanya mampu melayani dua orang. Karena tak memenuhi “target” yang diingini penculiknya, Taeb akhirnya disiksa.
24. Diborgol, disiksa dan dirampas hartanya. Seorang pensiunan PNS, M. Yahya (59) penduduk Meunasah Manyang Muara Dua, mengadukan dirinya pernah diculik 12 Juni 1990. Para penculik memborgol tangannya, kemudian menyiksanya dengan bermacam cara dan jurus pukulan maut. Tidak hanya itu, malah hartanya seperti emas perhiasan istrinya, dan sepeda motor BL 7461 KB bersama buku hak miliknya, dikuras kelompok penculik.
25. Karena persoalan pribadi. Contoh kesewenang-wenangan lainnya, adalah kasus penganiayaan berat yang dilakukan Pratu II, anggota Bataliun 131 Payakumbuh, Sumatera Barat, terhadap Ramli Abubakar (28), warga Desa Kambuh Nicah, Kunyet, Padang Tiji. Syukri Abdullah (30), abang korban, mengaku heran meski tak bertugas di Pidie, Pratu II ternyata semena-mena menganiaya adiknya. Kejadian berlangsung 5 Maret 1995 saat Ramli sedang nonton teve di warung Bukhari, Desa Seunadu, Padang Tiji. Tiba-tiba masuk Pratu II yang baru datang dari Payakumbuh. II yang ternyata teman korban semasa remaja itu menyimpan dendam kepada Ramli. Menurut sejumlah saksi mata, II itu mengambil sebuah pompa sepeda dan langsung memukuli kepala korban hingga retak dan mengeluarkan banyak darah.6 Sebelum pulang ke Payakumbuh, menurut Syukri, Pratu II sempat akan mengancam akan menghabisi keluarga mereka kalau dia datang lagi nanti. Karena itu, pihaknya telah berulang kali melaporkan kasus itu ke Koramil Padang Tiji, Kodim 0102 Pidie, Sub Den-DOM, dan instansi terkait lainnya. Namun oknum ABRI yang diduga bersalah itu sejauh ini tak kunjung diproses, hanya lantaran DOM. “Padahal, kasus ini jelas-jelas karena persoalan pribadi,” sebut Syukri.
26. Sudah kehilangan suami, malah difitnah secara sistematis dengan surat.
Sejumlah janda, tepatnya istri, karena belum dipastikan suaminya meninggal, yang telah melaporkan kehilangan suaminya di DPRD Pidie, serentak menerima “surat dari suaminya” yang seolah dikirim dari Batam, Riau. Mereka yang menerima “surat dari Batam” itu semuanya warga Kecamatan Mutiara, Pidie. Menurut pengakuan para wanita itu, masing-masing mereka menerima surat secara terpisah. Begitu menerima surat, hati mereka sempat berdebar-debar. Tapi, setelah surat dibuka, kentara sekali bahwa surat itu direkayasa. Mereka bisa memastikan ini dari tanda tangan suami masing-masing dengan mencocokkannya pada tanda tangan asli di surat/KTP suami. Satu sama lain wanita itu, kemudian bertemu di rumah Dariarti yang sementara dinobatkan sebagai “pimpinan”dari kelompok janda-janda di Kecamatan Mutiara. Mereka lalu menghubungi yang lainnya. Ternyata, baru empat “surat dari Batam” yang diterima mereka. “Ini surat palsu. Tanda tangannya palsu. Saya tahu betul itu bukan tanda tangan suami saya. Disangkanya kami bodoh, mau ditipu-tipu begitu,” kata Dariati di Sigli. Ketiga temannya mengiyakan dengan penuh emosi bercampur sedih.
27. Status wajib lapor yang tak jelas. Dari banyak laporan masyarakat, status wajib lapor ternyata cukup merepotkan. Lebih-lebih selama krisis ekonomi. Meski kesalahan belum jelas, namun mereka terpaksa meninggalkan kerja, mengeluarkan ongkos untuk labi-labi, juga ongkos RBT, hanya untuk menghadap ke Pos Sattis yang ditunjuk. Bahwa seharusnya oknum-oknum aparat ditatar P-4 dulu, kalau perlu ditatar bagaimana menjadi manusia. Namun para penyiksa ternyata tidak semua aparat. Beberapa nama penyiksa di rumoh geudong ternyata warga setempat yang dijadikan TPO (tenaga pembantu operasi) sekaligus tukang pukul.
28. Ayah dibunuh di sebuah rumah di desa lain. Keadilan bagi Herawati Hamid (21) baru sebatas mimpi. Untuk mencari tahu siapa pembunuh ayahnya, Hamid Itam (50), ternyata tak cukup mengandalkan Kepolisian maupun Polisi Militer. Ia bersama pamannya, Usman Itam (40), adik kandung Hamid, selama dua tahun sudah pontang-panting mengusut sendiri.9 Tak sedikit tantangannya. Bahkan Usman sendiri pernah didatangi sejumlahnya oknum Kopassus ke rumahnya di Desa Tampieng Baroh, Indrajaya, beberapa waktu lalu. Kedua oknum itu minta ia menghadap atasan mereka di Pos Sattis Kota Bakti. Usman menolak. Ia pun diajak ke seorang paranormal untuk mencari tahu siapa pembunuh Hamid Itam sebenarnya. Tapi tetap dia tidak mau. Kalau memang dia juga harus mati. Biar mati di rumah saja.
Didampingi pengacaranya, Iskandar Ishak SH (direktur LBH Seuramoe Makkah, Sigli), meneceritakan hasil pengusutan mereka. Sebagian keterangan diperoleh dari saksi-saksi, sebagian juga dari sumber di kalangan polisi penyidik. “Ayah saya bukan dibunuh di Gunung Gurutee, tapi di Pidie. Di sebuah rumah di Kelurahan Blang Asan. Ada saksi yang mendengar tembakan itu,” tutur Herawati, mahasiswa Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) Jabal Ghafur, Pidie.
29. Pembantaian besar-besaran seperti membunuh hama. Dari jumlah sementara laporan orang hilang, tindak kekerasan, dan sejenisnya yang dilaporkan masyarakat di Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur hingga 27 Juli 1998, yang mencapai puluhan ribu seperti jumlah hama saja layaknya. Kasus mati tak wajar di daerah ini mayoritas terjadi tahun 1990-1991. Selama dua tahun itu telah terjadi pembantaian besar-besaran di daerah Serambi Mekkah. Di Pidie dari jumlah 375 kasus, sedikitnya 102 jiwa ditemukan telah menjadi mayat. Dan, dari jumlah 102 ini, sekitar 80 persen di antaranya adalah kasus yang terjadi tahun 1990-1991. Untuk kasus orang hilang di DPRD Pidie mencapai 131 kasus, 60 persen diculik antara 1990-1991. Pelaku pembunuhan –maupun kasus-kasus orang hilang dan tindak kekerasan lainnya di Pidie diperkirakan lebih 95 persen kasus, di duga –dan menurut keterangan saksi dan keluarga– pelaku penembakan dilakukan oleh oknum ABRI.
Sebaliknya di Aceh Utara, seperti pengakuan Ketua DPRD Aceh Utara Mas Tarmansyah, bahwa 60 persen kasus orang hilang dan di tindak kekerasan yang terdata di DPRD Aceh Utara diakuinya dilakukan oknum ABRI, dan 40 persen didalangi GPK. Di antara kasus-kasus kematian di Pidie, sejumlah pelapor mengaku cukup mengenali pelaku penculik atau setidaknya tempat tugas penculik.
30. Nyaris menyerupai siksa kubur oleh malaikat berbaju loreng. M Saleh Pakeh (32), warga Desa Lengkok, Sakti, pada tahun 1990 disiksa di PS Tangse dan PS Kota Bakti. Ditahan 24 hari, disetrum, dipukuli dengan balok sampai berdarah, dan pernah diobati PMI. Kini mengalami cacat dan penuh bekas luka di badan.
diinterogasi sambil dianiaya di kantor koramil Jungka Gajah selama dua hari dua malam. Kemudian ia mengaku dilepas.
Dan seterusnya, dan seterusnya. Ini baru separoh dari keseluruhan jenis laporan. Belum lagi yang berkait dengan kekerasan berkait agama. Orang sedang melakukan shalat tarawih, bisa begitu saja diambil dan tak pernah kembali lagi. Ada santri disuruh berdzikir dengan mulut disumbat. Disiksa untuk tak henti-henti menyebut “Allah”, ditunggui shalat dan kemudian di-dor, dan seterusnya. , dan seterusnya.

*

FIKRI tengah berjalan mondar-mandir dengan wajah gelisah. Beberapa anak buahnya, mengamati sekeliling mereka dengan cermat. Semuanya dengan senjata siap tembak di tangan.
Tak lama kemudian, muncul seorang GAM muda, dengan tergesa mendekat ke arah Fikri.
“Para pa’i itu menyerbu tempat ini,...” GAM itu melapor dengan terburu.
Fikri menoleh ke arah pelapornya. Dahinya mengkerut.
“Siapkan semuanya. Kita tunggu di sini. “
Pelapor itu kemudian memberikan perintah pada para GAM yang lain. Mereka kemudian kelihatan sibuk mencari posisi masing-masing.
GAM pelapor kembali berada di dekat Fikri.
“Beberapa teman, sebagian besar, mengikut Rizal Noordin, Kak,... Kekuatan kita sekarang tidak berimbang.”
“Ada yang bermuka dua di antara kita rupanya,...” Fikri menggeram.
“Tak ada waktu lagi untuk membahasnya.”
“Kau tahu di mana Abu Rizal Noordin sekarang?”
GAM pelapor menggeleng. “Yang aku duga, dia mengadakan kontak dengan TNI! Jika tidak, bagaimana mungkin TNI tahu markas kita?”
Fikri dan beberapa GAM yang lain sama-sama terdiam. Mata mereka dengan awas, mengamati seluruh titik yang ada di depan. Masing-masing siap dengan senjata di tangan.
“Mungkin yang dikata tawanan kita dulu itu, benar adanya,... Nge beta perintah si gere ne tertupang.”
“Soal apa?” tanya Fikri.
“Kematian Tengku Dawood.”
Fikri tercenung.
Terdengar suara luara letusan senjata laras panjang di kejauhan.
Fikri tersadar dari lamunan. Ia beranjak dari tempatnya, diikuti beberapa lainnya.
“Kita layani mereka!”
Mereka berdua kemudian perlahan melangkah maju, dengan senjata siap tembak.
“Beritahu yang lainnya, kita pancing mereka ke atas,...!”
GAM itu berlari mendekat ke para GAM yang lainnya. Sementara Fikri bergerak, memberi komando.
“Kita tahu, bahwa ini adalah hari-hari terakhir kita. Tetapi ingin kukatakan kepada kalian semua,” Fikri berpidato dengan suara lantang. “Tidakkah kalian akan menurut orang-orangtua, yang telah mengkhianati kita itu? Mereka telah menyeret-nyeret kita ke dalam mimpi besar mereka, dan kemudian menjadi mimpi kita bersama. Tapi apa yang terjadi? Mereka mendorong kita masuk ke kubangan, dan menjadikan kita barisan pecundang. Sementara para orangtua itu menikmati lezatnya konsesi-konsesi politik, kita tetap saja akan menjadi bangsa terjajah di tanah kelahiran kita sendiri,....
Kita akan menjadi anak-anak muda yang diperalat, dan kemudian dicampakkan begitu saja. Selebihnya, kita kemudian akan melata di jalanan atau di ladang-ladang penuh tangis, sebagai warga kelas dua yang akan selalu menyerahkan nasib di tangan orang-orang kaya dan pandai. Kita cacing yang melata kepanasan di aspal jalan. Jika kita melawan, itu karena kita tdak mau menjadi pecundang dan jadi bulan-builanan para orangtua itu.
Sekuat tenaga, kita akan terus berjuang melawannya, menawar agar anak-anak kita bisa memiliki meski pun Cuma sekedar kenangan untuk menolong dirinya sendiri. Biarlah mereka hanya bisa membangun sekolah dalam mimpi, menjadi pandai dalam mimpi, dan melakukan negasi dengan negosiasi yang beradab dalam mimpi pula. Mungin kita bukan martir. Tetapi sejarah telah menyurukkan kita ke rawa-rawa hina ini, sebagai generasi yang tak punya pilihan,...”
Selangkah demi selangkah, mereka menuruni bukit. Dengan penuh waspada, mengamati kawasan hutan yang sudah sangat dikenalinya itu.
Sementara itu, dari arah tepi hutan, merangsek pula beberapa anggota TNI dengan senjata di tangan. Seseorang, dengan lambaian tangan, memberi komando untuk terus merayap naik pada prajurit lainnya.
Tak lama kemudian, terjadi baku tembak. Mula-mula, anak buah Fikri menembak ke arah seorang prajurit TNI, dan langsung berbalas. Maka jadilah peluru berdesingan mencari sasaran.
Kalah dalam jumlah, pasukan Fikri bergerak mundur. Mereka kembali naik ke bukit. Tapi, tanpa dinyana, dari arah belakang terdengar pula letusan senjata, mengarah pada mereka.
“Kita dikepung, Kak,...” seorang GAM terlihat begitu panik.
Fikri dan GAM anak buahnya, kemudian mencari alternatif lain. Mereka bergeser ke tempat lain.
Salah seorang GAM, mengarahkan senjatanya pada seorang prajurit TNI yang berada dalam jarak tembak. Tapi, mendadak prajurit TNI itu terjengkang di terjang oleh peluru dari arah belakang.
GAM yang hendak menembak itu melongo, tapi segera paham ketika menoleh ke arah Fikri.
Fikri meniup loop pestolnya yang masih mengeluarkan asap mesiu. Ia kemudian membisikkan perintah mundur pada GAM yang terdekat posisinya. Dengan cara berantai, perintah itu disebarkan pada yang lain.
Fikri dan kawan-kawannya dengan segera meninggalkan tempat itu.


CATATAN KAKI:
Data sebagian besar diambilkan dari berbagai laporan lembaga-lembaga swadaya masyarakat terutama yang tergabung dalam Forum Peduli Hak Azasi Manusia (FP-HAM) di Aceh, berkait dengan upaya pengungkapan beberapa kejahatan kemanusiaan yang dilakukan dalam penerapan DOM Aceh 1989-1998. Pengutipan berdasarkan laporan faktual, untuk memberikan gambaran bagaimana kenyataan itu benar-benar bukan fiksi melainkan fakta riel.

Selasa, Maret 10, 2009

Kasih yang Tak Sampai


Mengenang 100 Tahun Sutan Sjahrir, dikutip dari MBM Tempo, 03/XXXVIII/09 Maret 2009 dalam edisi khusus "Sutan Sjahrir : Peran Besar Bung Kecil"

Cinta Sjahrir dan Maria dinyalakan api idealisme pergerakan. Meredup oleh jarak.

AMSTERDAM adalah kota yang menggairahkan Sjahrir. Dia menemukan idealisme di kota ini. Juga teman-teman sealiran. Salomon Tas, wartawan berhaluan kiri, yang saat itu menjabat Ketua Sociaal Democratische Studenten Club (Perkumpulan Mahasiswa Sosialis Demokrat) Amsterdam, adalah salah satu sahabat dekat Sjahrir. Berdarah Yahudi, Tas lahir dalam keluarga sederhana, terdidik, serta amat antikolonial. Mahasiswa Hindia Belanda yang sedang bersekolah di negeri itu, termasuk Sjahrir, segera menjadi kawan-kawan dekatnya.
Persahabatan dengan Tas kian erat ketika kakak Sjahrir, Siti Sjahrizad—alias Nuning—harus kembali ke Hindia Belanda pada 1931. Di rumah Nuning di Amsterdam Selatan itu tadinya Sjahrir tinggal, sejak datang pada Juni 1929. Tas kemudian menawarkan apartemennya sebagai tempat tinggal Sjahrir.
Di apartemen itu, Tas tinggal bersama istrinya, Maria Johanna Duchâteau, dan dua anak mereka yang masih kecil-kecil. Di rumah itu tinggal pula teman perempuan Maria bernama Judith van Wamel.
Tas, Maria, Judith, dan Sjahrir sama-sama menggemari sastra, film bermutu, dan musik. Mereka menonton film dan teater di Stadsschouwburg dan menghadiri pertemuan politik di bar Americain. Restoran terkenal Bohemien di kawasan Lange Leidse Dwaarstraat menjadi tempat berkumpul Sjahrir dan teman-temannya. Di restoran inilah Tas membentuk Perkumpulan Mahasiswa Sosialis Demokrat.
Perkawanan itu ternyata melahirkan asmara antara Sjahrir dan Maria, istri Tas. Perempuan peranakan Belanda-Prancis ini berpikiran maju dan banyak membantu Tas dalam aktivitas politiknya. Pernikahannya dengan Tas pada tahun-tahun itu sedang gersang. Tas tidak punya waktu untuk Maria dan anak-anak mereka. Hidupnya hanya untuk politik.
Tidak perlu waktu lama bagi Sjahrir untuk merebut Maria. Sebenarnya itu tidak bisa disebut merebut karena Tas tahu hubungan sahabatnya dengan Maria. Bahkan dia sendiri sudah mulai berhubungan dengan Judith. Kees Snoek—yang mempublikasikan kembali surat-surat Sjahrir kepada Maria—menyatakan kepada koresponden Tempo di Belanda, Asmayani Kusrini, kehidupan mahasiswa pergerakan saat itu amatlah bebas.
Sjahrir serius menjalin cintanya dengan Maria. Ketika hendak pulang ke Hindia Belanda pada 1932, ia meminta Maria ikut. Kepada Mieske, panggilan sayangnya kepada Maria, Sjahrir menyatakan kekasihnya bisa membantu kaum perempuan di bidang pergerakan.
Sjahrir juga ingin menikahi Maria di Hindia Belanda kelak. Sesuai dengan rencana, dia pulang lebih dulu mengambil alih pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Menurut Snoek, ketika itu Hatta, yang diplot sebagai pemimpin, belum selesai studinya. ”Sjahrir diputuskan kembali ke Indonesia lebih dulu,” ujarnya.
Maria, rencananya, akan menyusul bersama anak-anaknya empat bulan kemudian jika perceraiannya dengan Tas sudah beres. Medan menjadi tempat pertemuan mereka.
Dari Batavia, Sidi—begitu Maria memanggil Sjahrir—berangkat ke Medan, sementara Maria dan dua anaknya berlayar dari Kolombo ke Medan. Pertemuan itu akhirnya berlangsung pada April 1932. Pada tanggal 10 bulan itu, Sidi dan Mieske menikah di sebuah masjid di Medan.
Keduanya menginap di rumah tempat Sjahrir tinggal sebelum bersekolah ke Jawa. Mereka tidak pulang ke Koto Gadang karena ”tidak punya uang untuk pulang kampung.” Rencananya, Sjahrir akan mengajak Maria ke Jawa.
Sjahrir rupanya tidak sadar tindakannya menikahi perempuan kulit putih bisa dianggap provokasi. Meski Medan ketika itu termasuk kota Hindia Belanda yang ramai, pasangan Sjahrir-Maria segera mengundang gunjingan. Apalagi mereka juga datang ke tempat-tempat pertunjukan musik, film, dan teater, yang ramai disambangi orang kulit putih.
Maria, yang gemar berkebaya dan memakai kain, segera mengundang perhatian orang Belanda. Mereka bertanya, mengapa Maria mengenakan pakaian pribumi. Empat hari setelah pernikahan mereka, Sumatran Post, koran terbesar di Medan saat itu, menulis tentang Maria: ”Perempuan bersarung kebaya dalam penyelidikan polisi.”
Sebulan lewat, polisi mulai menyelidiki dokumen pernikahan Maria. Mereka menemukan Maria menikah dengan Salomon Tas, aktivis pergerakan antikolonial. Selain itu, Tas ternyata belum menceraikan Maria secara resmi. Karena Maria menikah secara Islam pada saat belum bercerai, keruan saja para pemuka agama jadi ribut.
Lima pekan setelah pernikahan mereka, pada 5 Mei 1932, pernikahan Sjahrir dibatalkan oleh pemuka agama setempat. Lima hari kemudian, Maria dipulangkan ke Belanda. Yang membuat hati Sjahrir pedih, Maria tengah mengandung anak laki-laki mereka.
Keinginan Sjahrir untuk segera menyusul sang istri ke Belanda ternyata penuh rintangan. Rentetan kejadian tragis kemudian menimpa Sjahrir. Hatta akhirnya pulang dari Belanda, tapi mendapat kecelakaan ketika mengunjungi orang tuanya di Sumatera. Sjahrir kembali mengundurkan niat ke Belanda. Surat Maria juga sudah lama tidak datang.
Belakangan datang kabar dari Maria yang menyebut kematian bayi mereka sesaat setelah dilahirkan. Hubungan Sjahrir dan Maria kembali terjalin. Mereka kembali bersurat-suratan. Sjahrir meneguhkan niatnya menyusul Maria. Apalagi ia sudah mengantongi izin dari Pendidikan Nasional Indonesia untuk kembali bersekolah di Belanda.
Rencananya, ia berangkat menumpang kapal uap S.S. Aramis dari Batavia pada Maret 1934 dengan bekal uang kiriman Maria. Celaka, akhir Februari itu, Hatta ditangkap. Sjahrir, yang bersembunyi di rumah adik tirinya, Radena, ditangkap polisi sehari kemudian.
Meski pertemuan dengan sang kekasih hati lagi-lagi kandas, hubungan Sjahrir dan Maria kian hangat lewat surat-menyurat. Maria menjadi satu-satunya tempat curahan hati yang memahami kesulitannya.
Dua tahun setelah penahanan Sjahrir, mereka kemudian menikah kembali, 2 September 1936. Pernikahan jarak jauh itu diwakili oleh pelukis Salim. Sjahrir, yang berada dalam pembuangan di Banda Neira, berangkat ke kantor gubernur. Sayang, pernikahan jarak jauh menciptakan suasana yang tidak sehat dan penuh ketegangan.
Untuk meredam masalah, Sjahrir meminta Maria menyusulnya ke Banda Neira. Keinginan itu gagal karena Maria tak punya cukup uang.
Akhir 1939, ketika Maria sudah punya uang , tidak ada kapal lagi yang menuju Hindia Belanda. Perang Dunia II sudah berkobar. Kembali mereka hanya surat-menyurat.
Setelah Indonesia merdeka dan Sjahrir menjadi perdana menteri pertama, tidak juga ada kabar baik bagi keduanya. Nyala cinta mereka mulai redup. Sebuah pertemuan di New Delhi, India, pada April 1947 menjadi penentu akhir perjalanan mereka.
Ketika itu, Nehru rupanya hendak membikin kejutan bagi Sjahrir. ”Ia tidak bilang akan mengundang Maria,” kata Snoek. Pada pikir Nehru, apalah salahnya mengundang Maria, yang masih jadi istri Sjahrir. Nehru tak tahu kala itu asmara sudah terjalin antara Sjahrir dan asistennya, Poppy.
Pertemuan setelah 15 tahun itu berlangsung dingin. Maria, bersama Nehru dan putrinya, Indira Gandhi, menyambut Sjahrir yang didampingi Poppy di bandar udara. Dalam sebuah wawancara pada 1988, Maria menyebut betapa Sjahrir sudah jauh berubah. ”Mungkin karena ia sudah menjadi negarawan.”
Sjahrir merangkul Maria dan menempelkan pipinya ke pipi Maria. Setahun kemudian, api cinta lama itu benar-benar padam. Keduanya memutuskan bercerai pada 12 Agustus 1948.
Belakangan, Maria menikah dengan adik Sjahrir, Soetan Sjahsyam, yang bersekolah di Belanda. Sejak kembali ke Belanda, Maria tinggal bersama Sjahsyam, yang ikut membesarkan anak-anak Maria dari perkawinannya dengan Tas.

Minggu, Maret 01, 2009

Sapto Rahardjo : Berlalunya Sebuah Era?


Kompas Minggu,
1 Maret 2009


Franki Raden

Sewaktu remaja saya pernah membaca sebuah artikel di majalah Aktuil tahun 1970-an tentang grup musik yang bernama Yogiharmonik (?) di Yogyakarta. Gambar yang terpampang pada artikel tersebut adalah alat musik yang terdiri dari kaleng-kaleng bekas beserta wajah penciptanya. Saat itu sulit saya bayangkan bagaimana bunyi musik yang keluar dari ”instrumen” seperti itu. Tidak beberapa lama kemudian ingatan saya tentang artikel dan grup musik ini pun memudar.

Beberapa tahun setelah itu saya mulai kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pada saat itu perhatian saya terhadap perkembangan musik kontemporer di negeri ini semakin menguat. Sebagai mahasiswa sekolah musik yang berkiblat ke Barat, pada awalnya perhatian saya tentu saja terpusat pada perkembangan musik kontemporer di sana. Kebetulan kehidupan musik kontemporer di dalam negeri sendiri pada tahun 1970-an sangat lengang. Di samping itu, Jakarta pada masa itu masih menjadi pusat perkembangan seni kontemporer di Indonesia sehingga apa yang terjadi di luar Jakarta sering kali lepas dari perhatian saya.

Pada awal hingga akhir tahun 1970-an, percaturan musik kontemporer di negeri ini memang masih berputar pada kertas notasi (partitur) yang menjadi tumpuan dari lomba komposisi musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang diprakarsai almarhum Frans Haryadi. Oleh sebab itu, yang tampil di atas panggung ”resmi” musik kontemporer umumnya hanyalah mereka yang (pernah) belajar komposisi di IKJ atau Akademi Musik Indonesia (sekarang ISI Yogyakarta). Pada tahun 1979, DKJ membuat program baru yang berjudul Pekan Komponis Muda. Dalam acara ini DKJ memperluas ruang lingkup gagasan musik kontemporer dengan menyertakan mereka yang berlatar belakang musik tradisional dan berkarya tanpa menggunakan partitur. Thus, karya mereka adalah pementasan mereka.

Pada saat itulah perkembangan musik kontemporer Indonesia mulai memasuki babakan baru yang sangat penting: katakanlah babakan postmodern jika Anda peduli. Sejak saat itu pergumulan musik kontemporer di luar Jakarta yang tidak bertumpu pada wacana estetika Barat tiba-tiba menjadi transparan. Pada awal tahun 1990-an, ketika saya melakukan penelitian lapangan tentang musik kontemporer Indonesia untuk menulis disertasi, di Yogyakarta muncul seorang tokoh musik ”baru” yang berada di luar pagar akademik AMI. Tokoh ini menyajikan pementasan musik yang jauh di luar jangkauan imajinasi para akademikus Yogyakarta sehingga ia menjadi tokoh yang sangat kontroversial. Komponis tersebut tidak lain adalah pencipta alat musik Yogiharmonik yang dahulu pernah saya baca di majalah Aktuil, yaitu Sapto Rahardjo, yang pada pagi kemarin baru saja dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.


Pementasan Sapto yang beberapa kali saya tonton di Purna Budaya, Yogyakarta, ternyata sangat memukau. Pada waktu itu karya-karyanya selalu muncul dengan menyertakan perlengkapan canggih teknologi multimedia. Tetapi, di tangan Sapto, pementasan yang memanfaatkan teknologi canggih ini dapat menjelma menjadi sebuah bentuk ritual dan sangat membumi pada realitas sosial di sekitarnya. Salah satu karyanya dipentaskan selama 24 jam nonstop tanpa membosankan sedikit pun. Karyanya yang lain dipentaskan di atas sebuah pick up kecil yang berkeliling di sekitar kota Yogyakarta.

Sapto Rahardjo, komponis yang baru saja berpulang, pada tahun 1990-an bukan saja mampu membuat kota Yogyakarta menjadi penting dalam peta musik kontemporer Indonesia, tetapi juga mampu membuat dunia musik kontemporer Indonesia itu sendiri menjadi sangat dinamis pada dekade 1990. Dinamika inilah yang memungkinkan saya untuk dapat menulis sebuah disertasi. Periode itu banyak melahirkan para komponis eksperimental yang dipelopori antara lain oleh Sapto Rahardjo. Di samping itu, dukungan terhadap dunia musik kontemporer datang dari mana-mana, terutama dari media massa (cetak dan elektronik), taman rekreasi (Ancol dan PRJ), asosiasi profesional (PII), pemerintah (Depdikbud dan DKI), para mahasiswa, seniman di bidang lain, dan juga para konglomerat. Pertumbuhan jenis musik ini juga terjadi di kota-kota di Jawa, Bali, dan Sumatera. Bahkan, sebuah desa seperti Desa Mungkid di Jawa Tengah pun memiliki pusat kegiatan musik eksperimental yang digalang oleh seorang komponis bernama Sutanto. Pada akhirnya dunia musik kontemporer Indonesia mampu menciptakan paradigmanya sendiri. Dalam hal ini jasa Sapto Rahardjo tidak kecil.

Sayangnya para komponis yang menjadi motor perkembangan musik kontemporer pada dekade 1990-an adalah para komponis yang kesehatannya sangat rentan. Di samping Sapto Rahardjo, kita telah kehilangan figur-figur muda lainnya yang juga sangat penting, yaitu Harry Roesli, Yazeed Djamin, dan Saut Sitompul yang meninggal dunia pada awal usia 50-an. Keempat komponis ini masing-masing memiliki posisi tersendiri di dalam dunia musik kontemporer Indonesia.

Setelah lebih dari sepuluh tahun tidak berada di Indonesia, saya baru menyadari betapa penting dan dinamisnya periode tahun 1990-an di mana Sapto Rahardjo memantapkan kariernya sebagai komponis. Mungkin Sapto sendiri tidak terlalu peduli dengan istilah ”musik kontemporer” atau ”musik eksperimental” yang kerap saya gunakan dalam tulisan. Gaya musiknya memang selalu tidak dapat diduga ke mana arahnya. Ia selalu bisa muncul dengan sesuatu yang membuat kita terperangah, entah karena kreativitasnya, kenakalannya, ataupun kenekatannya. Yang jelas etos kerja Sapto Rahardjo sebagai komponis dan pemusik memang sangat luar biasa. Inilah yang membuat ia mampu menggalang sebuah festival gamelan internasional di Yogyakarta hanya dengan bekal sebuah tekad.

Dunia musik Indonesia saat ini jelas telah kehilangan seorang figur komponis, pelopor, dan penggagas yang sangat penting. Tapi, yang sekarang saya pertanyakan kepada diri saya sendiri adalah: apakah era musik eksperimental Indonesia dewasa ini juga telah berlalu dengan perginya orang-orang seperti Sapto Rahardjo, Harry Roesli, dan Saut Sitompul? Jika ini benar terjadi, sungguh patut disayangkan karena mungkin kita tidak akan pernah lagi menyaksikan sebuah dinamika kehidupan musik di Indonesia yang sangat penuh dengan kejujuran, kenekatan, vitalitas, kreativitas, dan orisinalitas bak Sapto Rahardjo. Selamat jalan, sobat!

Franki Raden Etnomusikolog

Selasa, Februari 24, 2009

Kerja Lapangan Danny Boyle

Kompas, Selasa, 24 Februari 2009 | 00:20 WIB

Ninuk Mardiana Pambudy

”Kepada Mumbai, semua yang telah membantu kami membuat film ini dan juga semua yang tidak membantu, terima kasih banyak. Anda semua membuat dia tampak kecil,” kata sutradara Danny Boyle seraya mengangkat piala Oscar di tangannya.
Boyle (52) menjadi orang paling berbahagia ketika film garapannya, Slumdog Millionaire, meraih 8 penghargaan dari 10 nominasi, termasuk 2 penghargaan paling bergengsi, yaitu sutradara terbaik dan film terbaik. Penyerahan Oscar dilakukan di Kodak Theater, Los Angeles, Minggu (22/2) malam waktu setempat.
Ini adalah Oscar pertama untuk sutradara kelahiran Manchester, Inggris, yang dikenal lebih banyak menyutradarai film-film beranggaran kecil. Banyak orang sudah menjagokan Slumdog menjadi film terbaik, dan para juri sependapat.
Boyle menyisihkan empat sutradara lain, yaitu David Fincher (The Curious Case of Benjamin Button), Stephen Daldry (The Reader), Gus van Sant (Milk), dan Ron Howard (Frost/Nixon).
Kemenangan Boyle dalam Oscar sudah diduga setelah dia mendapat penghargaan dari Directors Guild of America. Sebagian besar sutradara yang mendapat penghargaan itu umumnya juga mendapat Oscar.
Slumdog bercerita tentang seorang anak yatim piatu dari daerah kumuh di Mumbai, Jamal Malik (diperankan aktor Inggris keturunan India, Dev Patel) dalam memenangi juara pertama acara kuis televisi Who Wants To Be a Millionaire versi India, dengan kilas balik ke masa kanak-kanak Jamal.
”Anak-anak saya sudah terlalu besar untuk mengingat sekarang (apa yang saya pernah katakan), tetapi ketika mereka masih anak-anak, saya bersumpah di depan mereka bahwa jika keajaiban (memperoleh penghargaan Oscar) ini terjadi saya akan mengubah diri saya menjadi Tigger dalam cerita Winnie the Pooh,” kata Boyle dalam pidato kemenangannya.

Menjadi yatim
Boyle patut bangga dengan Slumdog. Film ini meraih Oscar untuk sinematografi, tata suara, pengeditan film, lagu asli, komposisi musik asli, dan skenario adaptasi terbaik. Selama pembuatan film di Mumbai, Boyle dan timnya menghadapi banyak tantangan, mulai dari ular piton, panasnya udara Mumbai, sampai birokrasi India selama tiga bulan pengambilan gambar.
Bahkan, setelah proses produksi selesai pada Februari 2007, film ini sempat menjadi yatim piatu ketika penyandang dananya, Warner Independent Pictures, salah satu divisi dari industri film raksasa Warner Bros, memutuskan melepas Slumdog.
Fox Searchlight Pictures kemudian mengambil alih film ini yang meraih sukses komersial dan mendapat pujian banyak kritikus film, November lalu. Sejak diputar di bioskop, Slumdog berhasil meraih 150 juta dollar AS meskipun dari Mumbai muncul kritik karena menggambarkan kaum dalit di daerah kumuh.
Sebagai sutradara berpengaruh di negerinya, reputasi Boyle dibangun melalui film beranggaran kecil, seperti Shallow Grave (1995) dan Trainspotting (1996). Film-film Boyle banyak mencampur realisme yang dingin dengan drama, sering kali dengan irama riuh, hal yang tampak nyata dalam Slumdog sehingga melodrama dalam film ini dapat menyenangkan banyak penonton.
Dia juga lebih menyukai bekerja di dunia nyata daripada di studio yang dia sebut ”tidak berjiwa”. Itu yang juga dia lakukan dengan Slumdog.
Lahir dari keluarga Katolik Irlandia yang taat, Boyle pernah menjadi putra altar selama enam tahun dan sempat berpikir ingin menjadi rohaniwan. Akhirnya dia belajar drama dan sastra Inggris di University of Wales di Bangor.
Dia memulai kariernya dari dunia teater karena, katanya, mendekati dunia teater lebih mudah daripada film. Dia menjadi Deputi Direktur Royal Court Theatre antara tahun 1982 hingga 1987.
Pada tahun 1987 Boyle mulai memproduksi film untuk televisi, Scout. Film-filmnya yang lain di antaranya A Life Less Ordinary (1997), The Beach (2000/2001), hingga Sunshine (2007).
”Saya tidak ingin membuat film yang sok, serius. Saya menyukai film yang memiliki semangat. Saat ini, ketika Anda berpikir tentang penghargaan dan ingin memenanginya, Anda berpikir harus membuat film serius, tetapi insting saya mengatakan buatlah film yang bersemangat, penuh kegembiraan,” kata Boyle seperti ditulis IMDb.com.

Kerja total
Di luar penghargaan Oscar, Slumdog mengundang kontroversi tentang pemeran masa kanak-kanak Jamal dan Salim, Rubina Ali (8) dan Azharuddin Ismail (8).
Orangtua kedua anak itu, menurut laporan media setempat, merasa dieksploitasi dan bayaran untuk mereka terlalu rendah. Harian The Telegraph dari Inggris melaporkan, keluarga kedua anak itu keadaannya tidak berubah, tetap tinggal di gubuk. Bahkan gubuk orangtua Azharuddin kena gusur.
Tentang kritik tersebut, Boyle mengatakan, kedua anak itu mendapat jaminan pendidikan dari produser film dan akan mendapat uang dalam jumlah besar setelah berusia 18 tahun asalkan mereka tetap bersekolah.
Boyle menolak menyebut jumlah uang yang akan diterima kedua anak itu dengan alasan dapat mengundang bahaya bagi keluarga itu sendiri dari komunitas mereka, termasuk dari para gangster. Sebagian hasil keuntungan film pun dijanjikan akan diberikan kepada organisasi nonpemerintah yang bekerja untuk pendidikan anak-anak daerah kumuh di Mumbai.
Pemahaman Boyle terhadap Mumbai adalah bagian dari cara dia bekerja langsung di lapangan. Meskipun belum pernah ke India, Boyle tidak ragu-ragu mengambil gambar langsung di lapangan. Bau tak sedap menusuk adalah pengalaman indrawi pertama yang menyergap dia.
”Semua serba ekstrem. Udaranya sangat panas, tehnya terlalu manis; semuanya serba terlalu banyak,” kata Boyle tentang Mumbai kepada CNN.com. ”Tetapi, itu sangat bagus untuk (membuat film) drama, sangat bagus.”
Boyle dan timnya mengambil gambar di jalan-jalan dan di seputar penanda kota berjuluk ”kota mimpi-mimpi” tersebut dan memakai pengguna jalan sebagai figuran. Boyle juga mengambil gambar di kawasan kumuh Dharavi—terbesar di Asia—dan Juhu yang terlihat dari bandara kota itu.
Karena hanya punya waktu terbatas di India, Boyle memutuskan pergi ke kawasan yang dia ingin masukkan ke dalam filmnya, lalu meminta para pemain berlatih di tempat. Bisa dibayangkan bila kemudian mereka menjadi tontonan warga setempat dan hal itu awalnya membuat para pemain gugup.
”Saya ingin merasa benar-benar terlibat dengan kota itu. Saya tidak ingin melihat ke dalamnya, memeriksanya. Saya ingin tercebur ke dalam kekacauan di sana sebanyak-banyaknya. Ada waktu antara pukul 02.00 sampai 04.00 di mana semuanya berhenti dan hanya anjing yang berkeliaran, tetapi di luar waktu itu, tempat itu adalah lautan kemanusiaan,” kata Boyle.



Aktor film Sean Penn dari Amerika Serikat (tengah), Penelope Cruz dari Spanyol (kanan), dan Kate Winslet dari Inggris memegang Piala Oscar mereka setelah masing-masing menang sebagai aktor terbaik, pemeran pembantu wanita terbaik, dan aktris terbaik dalam penyelenggaraan Academy Awards Ke-81, Minggu (22/2) di Kodak Theater, Hollywood, California, AS. Dalam Academy Awards itu diberikan penghargaan sinematik terbaik untuk 24 kategori. Foto by EPA/PAUL BUCK


Data Diri
Nama: Danny Boyle
Tanggal dan tempat lahir: 20 Oktober 1956, Manchester, Inggris
Karya:
- Sebagai sutradara (di antaranya): Slumdog Millionaire (2008, mendapat Oscar 2009), Sunshine (2007), Millions (2004), 28 Days Later... (2002), Alien Love Triangle (2002), Vacuuming Completely Nude in Paradise (2001) (TV), The Beach (2000/2001), A Life Less Ordinary (1997), Trainspotting (1996), Shallow Grave (1995), dan sejumlah film televisi di Inggris
- Sebagai produser: 28 Weeks Later (2007), Twin Town (1997), The Nightwatch (1989, TV), Elephant (1989, TV), The Rockingham Shoot (1987, TV)