Senin, Mei 04, 2009

CENTHINI, 40 MALAM MENGINTIP SANG PENGANTIN


Pengantar
SRI SUSUHUNAN PAKUBUWANA V, BUKAN HANYA RAJA dari Karaton Surakarta Hadiningrat, melainkan beliau juga seorang maecenas besar yang pernah dimiliki Indonesia. Meski kekuasaannya berlangsung sangat pendek (1820-1823), namun jasa dan gagasannya terukir panjang. Dari gagasan, dan tentu donasi beliau (yang bahkan telah dimulai ketika masih sebagai putra mahkota bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara ing Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV), lahirlah pada awal abad 19 itu, Suluk Tambangraras yang kemudian lebih dikenal sebagai Serat Centhini.
Serat Centhini, mulai ditulis pada Sabtu Pahing, 26 Mukharam Je 1724 (tahun Jawa) atau pada 8 Januari 1815, oleh tiga pujangga Karaton Surakarta. Yakni, Ki Ngabei Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura. Sebagai sebuah karya sastra, memenuhi syarat sebagai sebuah mahakarya yang memiliki pengaruh luas. Sampai banyak orang bisa berkomentar dan menilai, sekali pun sama sekali belum pernah membacanya, sampai hari ini. Begitu hebatnya ia, sampai-sampai karya ini muncul dalam banyak versi. Setidaknya ditengarai ada 12 versi Serat Centhini, dan itu sudah cukup menunjukkan kelasnya.
Daerah tebanya begitu luas. Ia mengenai apa saja. Bukan hanya mengenai sastra atau seni, melainkan juga tentang adat-istiadat, obat-obatan, makanan dan minuman (jaman sekarang disebut kuliner), pengetahuan tentang hewan, tanaman, agama, sejarah, dan bahkan tentang seks.
Tentang yang terakhir itulah, Serat Centhini antara lain dikenal luas. Karena Serat Centhini-lah karya sastra Jawa pada waktu itu, yang berbicara berterus-terang perihal seks. Penjabarannya, bukan hanya verbal tetapi kadang liar. Dalam Serat Centhini, juga dikisahkan bagaimana terjadi anal seks atau pun praktik homo-seksualitas. Dan bahkan, seks massal,...
Pada bagian-bagian yang berkait dengan seks itu, konon Pakubuwana V sendiri yang turun tangan, menulis langsung. Itu terjadi setelah tiga penulisnya dirasa tidak memuaskannya. Tidak nges, dan kurang lugas. Kurang mak nyus, kata almarhum Prof. Dr. Umar Kayam (yang kemudian ditirukan atau dipopulerkan oleh pakar kuliner Bondan Winarno). Maka, Serat Centhini jilid 5 s.d 10 yang ditulis sendiri oleh sang Raja, sebagaimana kemudian bisa dibaca dalam kitab Serat Centhini sekarang ini.
Ia mendapat banyak sebutan, sebagai karya korpus, monumental, sastra kanon yang begitu lengkap dan mencengangkan, karena cakupan isinya yang ensiklopedis, gaya bertuturnya, serta ketebalannya. Bayangkanlah, pada abad 19 itu, lahir karya sastra yang secara liris dan intens, ditulis sebanyak 12 jilid, dengan 722 pupuh tembang (jenis puisi Jawa). Satu pupuh tembang, tak jarang terdiri dari ratusan kuplet (bait), bahkan ada beberapa yang mencapai lebih dari 300 kuplet. Dan masing-masing kuplet terdiri antara 6 hingga 12 baris.
Bisa dibayangkan, kepiawaian bahasa para penulisnya. Karena masing-masing pupuh tembang diikat oleh guru wilangan (jumlah suku kata yang terukur dan terhitung pasti), dan guru lagu (akhir suku kata masing-masing baris yang baku, untuk mendapatkan pola pantunnya). Karena itu, kata-kata dalam bahasa Jawa yang dipakai para penulisnya begitu lentur karena mengejar rima dan bunyi.
Karena itu ketika Serat Centhini itu dilisankan (ditembangkan) siapa pun sepanjang mengetahui cara menyanyikan pupuh tembang itu, Centhini menjadi komunikatif, mudah untuk diapresiasi, dan mudah untuk disosialisasikan. Bahkan terbuka ditafsirkan dan punya kecenderungan bias, karena faktor pendengaran, pengertian, atau ingatan.
Hal ini menjadi mudah terjadi, karena tembang sebagai sastra lisan yang jamak dilakukan pada waktu itu, terjadi dalam berbagai bentuk pertemuan banyak orang, ketika berada dalam upacara sunatan, pengantin, atau berbagai pertemuan-pertemuan rutin, yang diselenggarakan oleh berbagai kelompok masyarakat, dalam berbagai waktu dan tempat.
Karena itulah Centhini bisa muncul dalam banyak versi. Seperti Centhini Pegon. Centhini Jalalen. Centhini versi Madura. Dan lain sebagainya. Tidak dalam niat menyamakan, demikian pulalah ketika para sahabat Muhammad SAW hendak mengumpulkan hadist nabi, yang tentunya disampaikan secara lisan. Maka ketika hadist itu hendak dikumpulkan dan dituliskan, dibutuhkan para perawi hadis yang sahih, yang bisa menjamin tingkat kebenarannya. Apalagi, untuk kasus penulisan Alquran, yang dilakukan setelah nabi wafat. Demikian pula dengan kasus penulisan Injil, yang ditulis berdasar penuturan sahabat-sahabat Jesus seperti Lukas, Paul, Johannes dan lain sebagainya.
Percontohan dalam karya sastra Indonesia, mungkin bisa ditemui pada novel “Para Priyayi” (1992) Umar Kayam, yang pembagian bab-nya ditulis menurut sudut pandang “aku” tokoh-tokohnya. Atau pada lahirnya novel kwarternarius “Bumi Manusia” (1980) Pramoedya Ananta Toer. Yang konon sebelum dituliskan, justeru dilisankan. Didongengkan terlebih dulu kepada sesama napi di Pulau Buru, untuk kemudian baru ditulis.
Serat Centhini (1815) berada dalam nasib berbeda, karena ia “hanya” sastra Jawa, yang tentu tidak segawat kasus penulisan kitab agama yang membutuhkan kesahihan dan kecanggihan. Demikian pula, ia bukan sastra teks Indonesia yang “mulia”, yang mempunyai para ahli kritiknya masing-masing. Sehingga perlu ada studi perbandingan atau studi kritis, sebagaimana dialami oleh Umar Kayam atau Pramoedya.

*

SERAT Centhini, dari teks Sang Raja kemudian berkembang-biak di masyarakat lata, dengan berbagai dampak pembiasan. Dan tidak terjadi huru-hara apa pun. Setidaknya, munculnya banyak versi itu justeru diyakini sebagai pengayaan. Apa yang dimaksudkan oleh Pakubuwana V, menemukan wadahnya. Bagaimana kebudayaan Jawa menjadi sesuatu yang hidup dan berkembang. Toh pada hakekatnya, berbagai isi pengetahuan dan panduan dalam Serat Centhini mengenai kebudayaan Jawa, masih tetap diketahui dan dipraktikkan dalam kehidupan keseharian manusia Jawa sampai hari ini. Bahwa kebudayaan pada jaman dulu berbeda dengan jaman sekarang, bukankah demikian kehidupan itu berubah dan berkembang? Tidak ada yang gawat dalam harmoni kehidupan Jawa. Semuanya rileks dan santai saja. Ia telah menjadi sastra komunal.
Semangat berkomunikasi (dalam tradisi kelisanan) pada Serat Centhini pun seperti itu. Ketika Serat Centhini harus pula memuat tentang teks-teks agama (Islam), karena ia memang diobsesikan untuk memuat apa saja tentang ilmu pengetahuan masyarakat Jawa waktu itu. Ia bergerak begitu saja bersamaan dengan kondisi waktu yang melingkupinya. Kenapa? Karena Centhini, sekali lagi, diobsesikan menjadi karya ensiklopedis, sebuah bothekan, yang menampung apa saja sehingga masyarakat Jawa mempunyai rujukan atau panduan. Maka Serat Centhini menjadi besar, karena ia menjadi referensi masyarakat. Referensi dalam obat-obatan, keris, memilih kuda, memilih pasangan hidup, membangun rumah, dan lain sebagainya, seperti halnya pengetahuan tentang agama itu.
Maka, ketika para penyelidik modern mengkritisi Serat Centhini dalam konteks sinkretisme Jawa-Islam, mempertentangkan pandangan kebatinan Jawa yang masih animistik dengan Islam, dan membacanya sebagai tidak munculnya resistensi sebagai sesuatu yang khas Jawa, atau pola inkulturasi yang tidak genuine serta agak dipaksakan, saya kira biarkanlah menjadi keributan para akademisi yang selalu membutuhkan ukuran-ukuran scientific. Persis sebagaimana kehidupan yang terekam dalam tokoh-tokoh Serat Centhini, praktik kehidupan masyarakat Jawa yang memahami kehidupan sekuler berdampingan aman dengan kehidupan religi.
Saya justeru melihat kehebatan Centhini dari yang diobesikan oleh Pakubuwana V. Bagaimana ia bisa memberikan rujukan atau referensi pada masyarakat Jawa (pada waktu itu) yang tentu saja dengan situasi dan kondisi teknologi serta penghetahuannya, telah berjasa besar dalam menyebarkan berbagai pengetahuan dan kebudayaan manusia kepada masyarakat ramai. Sampai hari ini. Dari sisi ilmu komunikasi, betapa sang raja memiliki kemampuan membaca sosiologi komunikasi masyarakatnya. Ia adalah seorang komunikator yang ulung. Bayangkan, jika Pakubuwana V berada di jaman internet sekarang, mungkin saja beliau akan menulis Serat Centhini di website atau face-book!
Bagaimana penyebaran dan pembelajaran agama (Islam) yang masih terbatas pada pesantren-pesantren, dibakukan dalam teks itu, dan kemudian dilisankan di berbagai pertemuan masyarakat Jawa, yang memang masih bertradisi budaya lisan. Saking seriusnya dengan harapan atas manfaat buku itu, sampai perlu Pakubuwana V mengutus Ki Ngabei Sastradipura mendalami agama Islam, dengan cara mengirimnya untuk naik haji (hingga kemudian, dalam proses penulisan Serat Centhini itu, yang semula bernama Ki Ngabei Sastradipura ketika proses observasi, dalam proses penulisan kreatifnya beliau sudah berganti nama menjadi Kyai Haji Muhammad Ilhar). Dan Pak Haji ini, ikut dalam proses penulisan sebuah buku yang juga menjabarkan pengetahuan tentang seks. MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang mendukung perlunya Undang Undang Pornografi, mungkin akan geleng-geleng kepala melihat hal ini.
Namun seks yang seperti apa? Karena ia bersifat ensiklopedis, tentu saja penjabarnnya menjadi berbeda. Sebagaimana juga dalam penajabaran faham pun, ia berada dalam semangat itu. Tidak ada korelasi dengan resistensi, harmoni, atau sinkretisme sebagaimana digawatkan oleh para akademisi. Dalam pola pemahaman rakyat jelata, Serat Centhini telah menjadi rujukan dan dipraktikkan. Sumber referensi dan menjadi panduan. Bayangkanlah, karena kitab ini juga bertutur tentang Nabi Sulaiman, Jibril. Berkisah tentang bangsa Yahudi Israel, atau bahkan pertemuan antara Ki Abdullah dengan Nabi Isa (Yesus Kristus), ketika Ki Abdullah meminta agar menghidupkan kembali isterinya yang telah mati (Serat Centhini, 154:49-53).
Berbeda nasibnya dengan “Para Priyayi” Umar Kayam, yang sering dibantai habis para kritikus, dengan mengatakan bahwa Umar Kayam adalah novelis yang gagal karena ia sosiolog. Persis sebagaiamana kritik terhadap novel-novel esai dari Sutan Takdir Alisyahbana “Grotta Azzura” yang dikesankan cerewet serta sok pintar. Semua tokoh-tokoh dalam novel seperti itu, sebagaimana YB Mangunwijaya juga mengalaminya dalam trilogi Rara Mendut, tokoh-tokohnya tidak berjiwa, dan hanya terdiri dari otak si penulis. Pramoedya, menjadi menonjol, karena beliau seorang pengarang, yang hidup sebagai penulis.
Tapi, biarlah itu keriuhan yang mengembangkan dunia ini. Sepanjang semua masih berjalan dengan memberi kebebasan pada orang lain untuk menafsir, serta tidak dalam semangat melenyapkan orang lain. Tidak ada yang perlu dikhawatikan.

*

KESULITAN kita sebagai generasi sekarang yang lebih melek huruf, dan dibesarkan dalam tradisi teks. Serat Centhini sebagai karya sastra menjadi tidak gampang dimengerti, bahkan oleh mereka yang kesehariannya bertutur dengan bahasa Jawa. Karena aturan dan pola tembang itu, memungkinkan terjadi dasanama, sinonim, atau pengubahan kata yang membuat kita bisa kebingungan. Nama tokoh-tokohnya pun, karena mengejar jumlah suku kata dalam satu baris (guru wilangan) bisa berubah-ubah. Jayengresmi, bisa saja menjadi Jengresmi. Atau karena harus patuh pada guru lagu, dalam satu barisnya Seh Amongraga bisa saja ditulis Seh Amongragi.. Ki Bayi Panurta, mertua Seh Amongraga, sering disebut Ki Bayi, tetapi jangan bingung jika dalam baris lain disebut sebagai Ki Baywa. Belum lagi nama Panurta bisa pula berubah menjadi Panurteki. Itu bukan salah cetak atau salah tulis, namun karena pola puisi yang harus dan tidak boleh ditawar. Dan seterusnya.
Maka, cobalah kita baca, bagaimana ketika sehabis upacara pengantin, dan Seh Amongraga hendak mengetahui sejauh mana pengetahuan Tambangraras membaca Alquran dan memulainya dengan basmalah dan surat Al Fatihah (Serat Centhini Jilid VI, pupuh 361, Kinanthi, pada gatra 126). Begini bunyinya:

“(bismilahi//)Rahmanirakim alkamdu
lilahi robil ngalamin,
arahmani rakimma,
malikiyaomidini,
wa iya kanabudua,
wa iya kanastangini,...//

Karena gatra itu berada dalam pupuh (jenis) tembang Kinanti, yang pola persajakannya haruslah satu kuplet terdiri dari enam baris. Baris pertama harus terdiri dari delapan suku kata dan berakhiran bunyi huruf “u”. Baris kedua, delapan suku kata, berakhiran huruf “i”. Baris ketiga, tujuh suku kata, berakhiran huruf “a”. Baris ke-empat delapan suku-kata, berakhiran huruf “i”. Baris ke-lima delapan suku kata, berakhiran huruf “a”. Baris ke-enam delapan suku kata, berakhiran huruf “i”.
Lihatlah melalui kasus ini: Dalam baris pertama, hanya disebut “rahmanirakim alkamdu” karena kata bismilah sudah ditulis pada baris terakhir kuplet sebelumnya. Baris ketiga ditulis “arahamni rakimma” bukan “arrahmani rakim” karena jumlah suku-kata (guru wilangan harus tujuh, bukan enam). Demikian pada baris berikutnya ditulis “malikiyaomidini” dan bukan “malikiyaomidin” karena akan kurang satu ketukan (suku kata). Begitu juga kenapa “wa iya kanabudua” dan bukan “wa iya kanabudu”, karena suku kata terakhir harus (jatuh pada sukon wulon atau guru lagu) berbunyi “a” bukan “u”. Maka pada baris terakhir, kasus penambahan suku kata sebagaimana baris 2, 3, 4 dan 5, bisa dimengerti (dalam Serat Centhini mengenai tembang ini dijelaskan dengan runtut dan jelas pada Jilid VI, Pupuh 367 dari bait 145 sampai dengan 226. Bahkan dikatakan, bahwa menurut Kyai Kelipa Buyut Mataram, para pujangga kuno meyakini pupuh atau jenis tembang Jawa itu semuanya ada 49. Hingga kemudian yang selazimnya dikenali hanya berjumlah sekitar 11, 12, 13. Perbedaan angka itu, karena tidak semua jenis tembang populer atau dipakai oleh beberapa orang di beberapa daerah berbeda seperti Sala, Yogyakarta, atau pun beberapa kota lainnya. Banyumas, Semarang, Madiun, Bojonegoro, dan lain sebagainya).
Yang menarik, gaya penuturan Serat Centhini sesungguhnya full humor. Khususnya ketika bertutur soal seks, atau memberikan laporan pandangan mata mengenai tingkat-polah dan perilaku masyarakat Jawa. Bahkan, ketika menuliskan tamu-tamu undangan dalam pesta perkawinan Amongraga-Tambangraras. Ada ratusan tamu, dari lurah (kepala desa), sanak-saudara, blantik, para ulama, pedagang. Nama mereka disebutkan satu-satu, hingga bait-bait tembang hanya berisi daftar nama (lihat Serat Centhini jilid VI, pupuh 357, Mijil, dari bait 234 s.d 280).
“Ki Pandu Tarumpaka Wiranggi,/Ki Dhemes Selobog,/Ki Pandelem Sumbreng Kebak Jolen,/Bambang Eko Bawen Moga Penggik,/Bancang Wora-wari,/ Dhempel Kuwel Mandul,...//” itu adalah nama-nama diantara para tamu Ki Bayi Panurta. Bayangkan kalau ratusan tamu itu disebutkan semuanya. Belum lagi nama-nama yang aneh seperti Ki Centhing, Pak Rumiyah Rajin, Pak Nakirah Kobis (pastilah ini pedagang sayur khususnya kol-kobis), Pak Remu, Pak Murah, Pak Surem, Pak Beser (mungkin karena kebiasaannya), Pak Garem (penjual garem), Ki Mangkurah Kunci. Ada juga beberapa nama seperti Pak Tomas (mungkinkah dia Katholik?), Ki Cek Yik, Ki Dokerok, Mangundrana Paris (apakah dari Paris, kota asal penulis Elizabeth D. Inandiak yang Perancis itu?).
Belum lagi ketika mencandra (menggambarkan dan menyindir) bagaimana penampilan para tamu dengan aneka rupa pakaiannya. Khas sinikal orang linuwih yang mengritik habis gaya hidup orang-orang setengah matang, yang tidak mengerti adat-istiadat sebenarnya.
Pada pupuh tembang yang lain, seperti Dandhanggula, Mijil, Pocung, Asmaradhana, Pangkur, lain lagi aturannya. Ada 12 jenis tembang dalam Serat Centhini, bahkan sampai pada jenis tembang Lontang, yang sama sekali sudah tidak dikenali lagi oleh masyarakat Jawa, bahkan mereka yang bergulat dengan (seni musik) karawitan Jawa sekali pun.

*

PERLU dijelaskan sedikit mengenai isi Serat Centhini ini. Agar panjenengan semua yang belum mengetahui tidak kebingungan.
Sengkala (penanggalan) Serat Centhini, yang berjudul asli Suluk Tambangraras, berbunyi “paksa suci sabda ji”, atau 1742 tahun Jawa atau 1815 tahun Masehi, yakni sekitar lima tahun sebelum penobatan KGPAA Amangkunagara sebagai Sunan Pakubuwana V, si empunya gagasan.
Suluk Tambangraras (diambil dari nama tokoh Tambangraras, bandara putri Centhini yang dinikahi Syekh Amongraga), bersumber pada kitab Jatiswara, yang ditulis semasa Sunan Pakubuwana III bertahta. Tapi tidak diketahui, siapa penulis kitab tersebut.
Tujuan penulisan Suluk Tambangraras, jelas dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa pada masa itu, yang termasuk di dalamnya keyakinan dan penghayatan mereka terhadap agama. Pengerjaan dipimpin langsung oleh Pangeran Adipati Anom Amangkunegara, dengan para penulis istana, yaitu Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura.
Sebelum dilakukan penulisan, ketiga penulis tersebut mendapat tugas khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur, Sastranegara bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, serta Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji, dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam. Dan ketika mereka kembali, bak peneliti lembaga studi jaman sekarang dengan para funding dan sponsornya, mereka pun kemudian bekerja, menulis.
Kitab itu disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar yang juga diutus Sultan Agung dari Kerajaan Mataram untuk menggempur Giri. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah kelahiran mereka, untuk melakukan pengelanaan, karena kekuasaan Giri dihancurkan Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengsari, dan si bungsu Rancangkapti, satu-satunya anak perempuan. Dalam pelariannya, mereka berpisah jalan. Jayengresmi berjalan ke timur, sementara Jayengsari dan Rancangkapti ke barat.
Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang, Banten.
Jayengresmi mengalami pendewasaan spiritual dalam berbagai perjumpaan dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa. Mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syekh Siti Jenar. Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaannya ini membuatnya kemudian dikenal dengan sebutan Seh (Syekh) Amongraga. Hingga kemudian bertemu Tambangraras, yang menjadi istrinya.
Sang isteri Tambangraras, memiliki pembantu bernama Centhini, yang meladeni apa pun kebutuhan Tambangraras, sampai ia juga yang harus menunggui malam-malam pengantin Amongraga dan Tambangraras, karena antara Tambangraras dengan Centhini seolah saudara kembar. Tambangraras mempunyai ketergantungan kepada Centhini, sampai pun ketika sudah menikah, ia meminta (ini tafsiran saya, SW) agar Centhini tidak akan pernah jauh darinya. Dalam konteks ini, dengan semangat sastra lisan dan kondisi sosio-kultural masyarakat Jawa, bisa jadi dari sinilah nama Suluk Tambangraras mengalami pembelokan dan lebih dikenal sebagai Serat Centhini. Karena pada bagian hadirnya Centhini ini, Suluk Tambangraras masuk dalam episode yang paling menggairahkan, yakni tentang seks. Meski dalam bibliografi Perpustakaan Karaton Surakarta, yang disusun Nancy K. Florida, sudah dituliskan sebagai “Serat Centhini” (bertahun 1815) pula. Centhini menjadi sosok sentral, justeru semua orang (yang ingin segera mengetahui apakah Tambangraras sudah disetubuhi oleh Amongraga) menunggu informasinya. Karena dialah satu-satunya orang paling dekat dengan Tambangraras. Demikian juga tentunya, para pembaca dan pendengar tembang Suluk Tambangraras itu kemudian, karena Centhini seolah adalah alterego Tambangraras. Hal itu akan lebih kentara nanti, ketika Syekh Amongraga minggat dari Wanamarta dan disusul oleh Tambangraras bersama Centhini yang menyaru sebagai laki-laki.
Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan di tempat lain, Jayengsari dan Rancangkapti diiringi santri bernama Buras, berkelana ke Sidacerma, Pasuruan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma, Banyumas.
Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, shalat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan selamatan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.
Setelah melalui perkelanaan yang memakan waktu bertahun-tahun, akhirnya ketiga keturunan Sunan Giri tersebut dapat bertemu kembali dan berkumpul bersama para keluarga dan kawulanya, meskipun hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena Seh Amongraga (Jayengresmi) kemudian melanjutkan perjalanan spiritual, menuju tingkat yang lebih tinggi lagi. Yaitu berpulang dari muka bumi, meninggalkan raganya.
Penggunaan Giri dan Mataram (antara Sunan Giri dan Sultan Agung Anyakrakusuma), menyiratkan dua pandangan Islam yang “berbeda”. Dan perjalanan Jayengresmi beserta adik-adiknya, menjadi tampak simbolik. Yang pada akhirnya, mereka kelak pun juga “tunduk”, menjelma menjadi “ulat” dan kemudian “dimakan” oleh Sultan Agung.
Ada banyak tokoh dan tempat disebut dalam Serat Centhini. Meski setting waktu kejadiannya, berkisar pada jaman kekuasaan Sultan Agung Anyakrakusuma. Namun rentang waktu yang terangkum dalam kisah-kisah Centhini, begitu lentur ke mana-mana, hingga sampai pada Syekh Wali Lanang (jaman peralihan Majapahit Hindu ke Islam) dan Syekh Siti Jenar dalam jaman Mataram Islam. Ia merangkum kebudayaan Jawa yang telah berkembang pada era Sebelum Masehi hingga abad ke-18 Masehi. Aneka karakter tokoh bermunculan di sini, sampai pada nama-nama yang kontroversial seperti Mas Cebolang, dan Ki Nuripin yang gila seks dan pengidap penyakit “kotor” gonorhea.
Serat Centhini, boleh dikata sebagai ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa. Serat ini meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya. Para kritikus memuji kitab ini, sebagai karya sastra Jawa yang megah, mewah, indah dan bermutu tinggi.
Teknis bertutur pada Serat Centhini pun, berbeda dengan karya sastra Jawa pada umumnya. Pada karya ini, terlihat penjarakan, yakni obyek tuturan dibiarkan sebagai obyek, dipaparkan begitu rupa tanpa pemasukan unsur subyektif penulis, sebagaimana model tuturan karya penulisan yang berkembang di Eropa pada waktu itu. Sesuatu yang belum lazim dalam tradisi Jawa, karena baik dan buruk dalam kebudayaan Jawa dituliskan begitu saja, apa adanya. Soal apa adanya itu, memang jadi kontroversial, karena sampai kini pun ketertutupan kita memposisikan Serat Centhini sebagai “kitab yang kotor”.
Namun, banyak ilmuwan yang membicarakan, mengkaji dan menimba ilmu pengetahuan Jawa dari Serat Centhini, yang kaya akan data dan fakta. Tidak berlebihan bila para ilmuwan besar, menyebut serat yang disusun atas prakarsa Pakubuwana V di Surakarta ini, sebagai warisan sastra dunia. Karya sastra ini telah memberi kontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Dokumentasi dan klasifikasi berbagai ilmu pengetahuan, menunjukkan wibawa para elit cendekiawan Jawa, mampu berkomunikasi di panggung ilmiah internasional.

*

SERAT Centhini, bersamaan Serat Gatholoco dan Serat Darmo Gandhul, adalah buku-buku yang saya kenali sejak kecil, bahkan sebelum saya bersekolah. Bukan karena ayah saya yang seniman (pemain kethoprak) sebagai penggila buku, melainkan karena ayah saya waktu itu pernah membuka perpustakaan untuk umum.
Yang saya maksud mengenali buku-buku itu, tak lebih sebatas tahu semata. Membaca secara “parah” belum pernah, karena masih dalam bahasa aslinya, Jawa klasik, dan dalam bentuk tembang pula, sehingga menurut saya tidak menarik. Karena tidak mudah dimengerti maknanya. Jangankan isinya, bahasanya saja saya tidak pernah mudheng alias faham.
Masa kecil saya, lebih bergelimang dengan koleksi buku perpustakaan yang saat itu sedang laris, novel-novel pop bahasa Jawa modern seperti yang ditulis oleh Any Asmara atau Suparto Brata. Ya, novel-novel pop yang kadang full percintaan dan petualangan asmara. Juga beberapa koran seperti Kembang Brayan, Jaka Lodhang, serta Swadhesi dan Anjangraya. Dua yang disebut terakhir (yang selalu dibeli eceran oleh kakak saya yang berjualan di Pasar Beringharjo), adalah koran kuning yang penuh dengan berita kriminal, yang tentu sama sebangun dengan koran-koran jenis seperti itu di masa sekarang, dibumbui ramuan mengenai seks dan mistik. Untungnya, disamping membeli koran itu, dibeli juga koran Pelopor Yogya, hingga saya sempat membaca beberapa nama penulis beradab dari rubrik Sabana dan Persada Studi Klub yang diasuh oleh Umbu Landu Paranggi.
Baru ketika menginjak SMP, saya banyak mendapatkan informasi, bahwa Serat Centhini, Gatholoco, dan Darmo Gandhul merupakan bacaan yang jauh lebih “gila-gilaan” dalam menguraikan perihal seks, dibanding novel-novel, komik, Any Arrow, dan bacaan lain yang waktu itu leluasa saya baca.
Saya menyesal, karena ketika kemudian mengubeg-ubeg mencarinya, buku tersebut sudah tidak ada di rumah. Untuk menanyakan di mana buku tersebut, saya malu dan tidak berani, karena masih duduk di SMP. Hingga kemudian saya menjumpainya ketika sudah dewasa (dan bertemu langsung dengan beberapa nama yang dulu saya bacai di koran Pelopor Yogya). Dan tetap saja bagi saya tidak menarik. Bahkan ketika almarhum Linus Suryadi AG (penyair, prosa lirik Pengakuan Pariyem) menawari kemungkinan saya untuk mengindonesiakan Serat Centhini, tentu saja yang sudah dilatinkan oleh Karkono Kamadjaja Partokusumo almarhum, tidak juga menggerakkan saya. Maafkan Mas Linus, semoga damai di Sorga!
Namun karena saya terlibat dalam proses penulisan kreatif “Pengakuan Pariyem” (1979-1981) Linus Suryadi AG itu, intensitas perkenalan dengan Serat Centhini lumayan intensif, meski pun kemudian terpaksa saya tinggalkan karena pengembaraan selama hampir seperempat abad di Jakarta.
Saya baru benar-benar tergerak, ketika pada suatu waktu, saudara Edie AH Iyabenu, direktur penerbitan Diva Press, menantang saya menovelkan Serat Centhini. Tergerak, karena beliau memberi kebebasan tafsir pada saya, dan saya juga dibebaskan untuk mengekspresikan kembali dengan cara yang saya sukai. Serat Centhini sendiri menyediakan diri sebagai teks terbuka. Ia memberikan outline yang multitafsir untuk dikembangkan. Dan itu mengagumkan.
Memang usaha pengindonesiaan mengenai Serat Centhini sudah dilakukan, setidaknya oleh UGM, setelah dirintis (penglatinan dari aksara Jawa) oleh Karkono Kamadjaja dan kawan-kawan (1981). Juga bahkan diperanciskan oleh Elizabeth D. Inandiak (yang kemudian dari sana dialihbasakan ke Indonesia, sebuah keajaiban budaya ketika Serat Centhini mengalami perjalanan mistical cultural dari Jawa, Perancis, baru Indonesia). Namun, semuanya masih dalam bentuk dan konteks Serat Centhini aslinya, yang bagi saya, masih terasa eksklusif.
Tentu saja, itu bukan cacat karena ia bernama pilihan. Saya dalam rangka sangat menghargai berbagai upaya itu. Dengan segala hormat dan ketulusan hati. Apa yang dilakukan Karkono, KRMT Sukmahatmanta, Daru Suprapto, Elizabeth D. Inandiak, adalah upaya para mujahid yang amat berguna bagi Serat Centhini di masa-masa mendatang. Sekarang ini, di dunia maya internet, Serat Centhini termasuk sastra Jawa yang paling berjaya dalam berbagai situs. Banyak anak muda mengakses, meski banyak situs merupakan copy-paste satu sama lain, dan ada banyak bias informasi di situ (ada juga yang menganggapnya kutipan Serat Centhini, padahal yang dimaksud Serat Kalatida), dan seterusnya. Serat Centhini mungkin satu-satunya karya yang banyak dikutip anak muda, tanpa harus mengetahui bahasa dan maknanya.
Mimpi untuk turut “mengindonesiakan” Serat Centhini, dan “mencairkannya” dari kebekuan eksklusivitas tembang (puisi) Jawa, makin tergoda ketika saya mendengar upaya untuk penerbitan “The Centhini, the Javanese Journey of Life Story” dalam bahasa Inggris oleh Suwito Santoso dan Kesty Pringgohardjono (2008). Dan bagi saya, Centhini garapan Pak Suwito dan Bu Kesty, adalah buku yang mengesankan, ketika melihat Centhini secara proporsional dalam konteks jamannya. Alangkah juga bagusnya, jika buku ini bisa terbit dalam edisi Indonesia. Karena, jika tidak, akan juga terasa betapa tragisnya Indonesia, ketika Serat Centhini di-Indonesia-kan (meski via bahasa Perancis) oleh penulis Perancis, atau teks yang sama di-Inggris-kan oleh orang Jawa. Meski fenomena itu sudah disinggung oleh Ranggawarsita dalam Serat Kalatida, yang ditulis setelah Serat Centhini. Maaf, ini bukan pernyataan rasis, melainkan ungkapan cinta buta.
Bersamaan dengan kegelisahan itu, tawaran saudara Edi AH Iyabenu itu, saya sambut dengan surprise dan terharu. Itu salah satu energi yang membuat saya menyelesaikan Centhini dalam versi novel ini. Pengertiannya, bahwa saya sepenuhnya berangkat dari teks Serat Centhini selengkapnya, dan sefahamnya (sebisanya). Tetapi, apa yang saya tulis, adalah tafsir ulang bukan hanya pada teks, melainkan konteks jaman dan situasi batin tokoh-tokohnya, serta teknis dan sudut pandangnya. Maafkan hamba, yang mulia Sinuhun Pakubuwana V. Bagaimana pun, andika adalah maecenas terdahsyat yang pernah dimiliki negeri ini, yang tidak juga ditiru-tiru meski pun presiden Indonesia silih berganti, baik dari orde ini dan itu, sampai pun pada jaman reformasi linglung ini.
Novel tafsir Centhini ini, dengan judul “Centhini, 40 Malam Mengintip Sang Pengantin”, bersumber sepenuhnya pada Serat Centhini jilid V, VI, dan VII, berdasar Serat Centhini Latin dari Yayasan Centhini Yogyakarta, yang diupayakan oleh Karkono Kamadjaja Partokusumo dan diterbitkan sebagai buku pada 1989, meski upaya pelatinan yang pertama sudah mulai diupayakan pada 1981. Untuk diterangkan pula, sumber Serat Centhini Latin ini dari Serat Centhini koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta. Hal ini penting dikemukakan, karena berbagai versi yang ada mengenai Serat Centhini). Meski pun untuk upaya penafsiran, saya membandingkan pula dengan beberapa versi lain, sekali pun hanya sepintas lalu. Seperti “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan” (2004) gubahan Elizabeth D. Inandiak, adalah rujukan penting yang menafsir 40 malam pengantin Syekh Amongraga dan Tambangraras.
Dalam Serat Centhini asli, tidak tercantum pengintipan pengantin itu. Bahkan, tidak terceriterakan detail malam-permalam. Dalam sekian banyak syair-syairnya, dari sejak jilid VI dan kemudian tersambung jilid VII, sebenarnya banyak bertutur mengenai urutan upacara pengantin Jawa, dari ijab, panggih (mempertemukan kedua mempelai), pahargyan (resepsi), kemudian sepasaran (lima hari dari ijab), ngunduh penganten (mengundang dan memestakan pengantin yang dilakukan oleh sanak-saudara), mendirikan rumah, dan boyongan (pindah dari rumah orangtua ke rumah baru milik sendiri). Baru setelah melewati 40 hari, dalam tradisi Jawa pengantin “harus” telah berdiri sendiri sebagai rumah tangga baru dengan rumah milik sendiri pula. Satu hal yang mungkin sekarang ini sulit terlaksana, meski tak sedikit yang sudah memiliki rumah sendiri meski belum menikah.
Dengan sekian banyak upacara dan ritual seperti itu, maka malam-malam pengantin Syekh Amongraga dan Tambangraras, tentulah muskil berada dalam satu tempat. Apalagi, dalam setiap kesempatan, Syekh Amongraga begitu “cerewet” membeberkan semua ajaran tentang agama. Bukan hanya di masjid atau pendhapa, melainkan di atas ranjang ketika hanya bersama Tambangraras. Bukan ajaran yang ringan, karena merangkum syari’at, tarikat, makrifat, dan hakikat sekaligus. Meski tentu juga jadi pertayaan, apakah tidak ada persintuhan sama sekali, jika melihat begitu mesranya Syekh Amongraga memperlakukan isterinya, dengan selalu menyentuh tangan halus Tambangraras sepenuh perasaan,...
Ki Ngabei Sastradipura (yang kemudian bergelar Kyai Haji Muhammad Ilhar), bisa jadi melakukan copy-paste terhadap semua teks-teks Islam yang (baru saja) dipelajarinya. Dan sebagai “pembelajar”, cara itu mungkin paling selamat, sekali pun terasa agak dipaksakan. Hal yang kemudian dikritik oleh Dr. Mohammad Rasjidi, dalam disertasi filsafat “Considerations Critique du Livre de Centhini” di Universitas Sorbone Perancis (1956). Dikatakan oleh Menteri Agama RI jaman Sukarno ini: “...
para penulis Serat Chentini tidak menguasai bahasa Arab, oleh karena itu beberapa kalimat dan ajaran dalam bahasa Arab yang ditemukan pada karya itu tidak masuk akal,....”
Mengenai kalimat dalam bahasa Arab, yang terdapat dalam Serat Centhini, bisa jadi yang dimaksud tidak menguasai dan tidak masuk akal, lebih karena problem “teknis” dari penulisan huruf asli Jawa untuk “menulis” bahasa Arab. Karena jumlah huruf Jawa dengan jumlah huruf Arab, di luar problem karakter dan filosofisnya, tentu merupakan persoalan tersendiri untuk “menaklukkan” bahasa itu. Maafkan, sekiranya bahasa Arab ditulis dalam huruf Kanji Jepang, juga bisa dipastikan persoalannya akan sama tidak masuk akalnya. Ditambah lagi, Serat Centhini terikat bentuk tembang dengan aturan-aturan bakunya atas guru wilangan serta guru lagu, yang “mengakibatkan” bahasa Arab ditulis secara tidak lazim.
Untuk masalah tafsirnya, berkait dengan ajaran, tentu beliau lebih mengetahuinya. Jika Serat Centhini ditulis ulang (mungkin dalam bahasa Indonesia) dan diprosakan, agar lebih bebas, pastilah kritik semacam Mohammad Rasjidi itu bisa diperhatikan, dan menjadikan Serat Centhini sebuah karya sastra ensiklopedis yang paripurna. Apalagi, dimasukkan dalam tim penulis para ahli agama. Mungkin, kanjeng sinuwun Pakubuwana V juga akan mengikhlaskannya. Tetapi mengutip pendapat Nyi Malarsih, ibu mertua Syekh Amongraga, semoga almarhum Mohammad Rasjidi bisa maklum, “... saking pikir kirang ngelmi, mung ilok-ilok kemawon.” (Itu semua karena tipisnya pengetahuan, hanya untuk hiasan saja, Serat Centhini, jilid VI, 359:70).
Ini adalah upaya untuk kita semua, karena kita diperbolehkan melakukan berbagai tafsiran di atas apa pun yang terpetakan di atas dunia. Apalagi, saya bukanlah orang yang percaya pada otoritas-otoritas tunggal, atau kemutlakan-kemutlakan, yang hanya menjebak kita untuk menilai ini lebih baik, itu lebih buruk. Dalam dunia kreatif, saya percaya aneka rupa tafsir itu mampu mengembangkan peradaban manusia.
Apa pun, terima kasih terbesar tentu pada saudara Edi AH Iyabenu, yang mempercayai dan memberi kesempatan. Terima kasih dan maaf saya yang tulus pada mas Gagat dan dik Titi atas persahabatan yang penuh kesabaran dan kekuatan. Terima kasih kepada Pawira Ngadena almarhum, ayah saya, yang telah membukakan pintu. Matur nuwun pula pada Aloysius Ngatiman, paman saya yang membantu pemahaman saya untuk bahasa Jawa yang super-uedan angelnya. Matur nuwun dan hormat saya pada Barbara Hatley (Monash Univercity, Australia) yang mendorong saya untuk tetap mencermati kesenian Jawa; Els Bogaerts, seorang Belanda yang pandai menari Jawa dan antusias mempelajari Jawa; Titiana Adinda yang mendukung data penulisan serta memberi perspektif gender; Arini Hidajati, yang dengan sabar mengoreksi dan mengikuti proses editing buku yang melelahkan ini; Juga kepada Lucianus Bambang Suryanto, serta mas Linus Suryadi AG (almarhum) yang masih menyimpan buku-buku Serat Centhini super uedan itu; Segala respek pada RPA Suryanto Sastroatmojo (KRT Sastra Hadinegara) almarhum, yang selalu mengingatkan saya pada Mas Cebolang, salah satu tokoh paling liar dalam Serat Centhini; Sembah sungkem pada simbah Kyai Mataram Sastrapratama yang sumare di Playen, Gunung Kidul; A.S.A., si pejuang Islam yang teguh, namun santun lagi cerdas dan bermanfaat itu.
Semoga menghibur, serta berguna.


Panasan, Yogyakarta, Nopember 2008
Slipi, Jakarta, April, 2009

Rabu, Maret 25, 2009

Bab 18 Versi Lengkap Syair Panjang Aceh


Pengantar:
Novel Politik Syair Panjang Aceh (Syahie Panyang Aceh), baru saja diterbitkan oleh Diva Press Yogyakarta (Maret, 2009, keterangan lebih lanjut bisa dilihat dalam www.divapress-online.com, harga buku Rp 45.000,00), salah satu bagiannya adalah bab 18, yang dalam versi lengkapnya, tanpa sensor, adalah sebagaimana dikutip dibawah ini, khususnya mengenai data dan fakta kekerasan di Aceh.



BAB 18


BAGAI SEDANG MENYAKSIKAN SEBUAH FILM, ADEGAN ITU silih berganti, berebut untuk disaksikan.
Meskipun pasukan militer non-organik sudah ditarik dari Aceh, seperti yang diinstruksikan Pangab Jenderal Wiranto tanggal 7 Agustus 1998, tidak serta-merta dapat menghilangkan luka dan duka yang pernah mereka torehkan selama beroperasi. Penderitaan fisik, mental dan intelektual banyak di alami masyarakat Aceh. Hal yang sulit dilakukan adalah memulihkan kondisi traumatis masyarakat Aceh yang telah menciptakan neurosa psikologis bagi sebagian besar masyarakat Aceh.
Berkait Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM), sedikitnya ada 30 model penyiksaan yang sudah terdata. Di antaranya, ada korban yang digorok hingga putus, lalu kepalanya dibawa aparat keamanan dengan dipertontonkan di desa asal korban. Selain itu, ada yang ditembak di sumur, diganduli batu ke tubuh lalu di buang ke sungai, penyetruman alat vital korban pada saat interogasi, botol yang dimasukkan ke kemaluan wanita, torehan luka yang ditetesi jeruk nipis dan sebagainya.
Selain itu, banyak muncul kasus orang hilang maupun yang mati tak wajar, yang bisa dikatagorikan ke dalam tiga kelompok. Pertama, besar kemungkinan terlibat GPK, yang sesungguhnya GAM itu diciptakan elit politik di jajaran militer yang gemar merekayasa keadaan. Kedua, hanya simpatisan, merasa kasihan pada korban, ataupun benci pada penculik yang bertindak semena-mena. Ketiga, adalah korban fitnah.
Tapi pada semua kasus itu, terjadi pelanggaran HAM. Baik dari proses penangkapan, penyiksaan, maupun hukuman tembak, yang tak melalui proses pengadilan. Dan, masyarakat sekarang sudah mengerti. Karena kesadaran hukum terus meningkat.
Dari kasus-kasus yang tercatat di DPRD Pidie, sekitar 20 persen korban penganiayaan berat, masih hidup dan siap memberi kesaksian. Mereka umumnya sangat mengenali para penyiksaannya. Di bawah ini akan dipaparkan beberapa kasus kekerasan yang terjadi.
Dari 680 kasus orang hilang yang tindak kekerasan plus pemerkosaan yang berhasil dihimpun Forum Peduli Hak Asasi Manusia (FP-HAM), setelah diklarifikasi terdapat sedikitnya 30 kasus yang berkualifikasi supersadistis.
Sebagaimana aksi kebiadaban tentara sekuler mana pun di dunia ini –seperti yang dilakukan tentara Nazi pada Perang Dunia II, tentara Serbia terhadap etnis Bosnia dan Albania– korban sipil biasanya ditelanjangi dan diperkosa secara bergiliran di antara tentara-tentara yang gagah, hingga pada model penyiksaan dan penindasan seperti laki-laki sipil dilarang untuk bersikap religius dalam menghadapi kematiannya. Pelecehan agama cukup banyak terjadi dalam peristiwa DOM Aceh. Kisah Bosnia berulang lagi atau terjadi bersamaan dengan apa yang dialami di Aceh. Umat Islam di Indonesia bahkan yang di Aceh sendiri, ironisnya, lebih peduli dengan nasib yang dialami Muslim Bosnia ketimbang yang dialami oleh umat Islam di Aceh, wilayah sendiri.
Bagaimana mungkin? Karena ketakutan pada rezim Soeharto yang melebihi teroris itu. Rasa takut yang luar biasa di kalangan umat Islam Indonesia, dan itu lebih dari cukup untuk membuatnya bungkam.
Lihatlah bagimana cara-cara mereka menyiksa umat Islam di Aceh berikut ini, sebagian di antaranya:
1. Digorok dan Rumah Korban Dibakar. Kejadian ini menimpa korban, M. Jalil, 40 tahun. Warga Desa Maneh, Kecamatan Geumpang, Pidie yang oleh aparat diduga terlibat GPK. Ia disudahi di Alue Bayuen, Aceh Timur, sekitar 250 km dari desanya, di suatu hari di tahun 1990. Menurut pengakuan istri korban, Saodah Aleh (41) ibu dari lima orang anak, suaminya itu sedang mendulang emas di Alue Bayuen ketika dibantai petugas. Lalu kepalanya dibawa pulang oleh aparat ke kampung asalnya, Desa Maneh, Pidie. Sedangkan tubuh korban ditinggalkan di TKP. Kedatangan aparat ke rumahnya, dengan membawa kepala suaminya –disaksikan oleh banyak penduduk desa Maneh– ternyata belum membuat derita Saodah berakhir. Sebab, setelah kepala suaminya diserahkan, giliran rumahnya dibakar. Saodah dan keluarganya juga dianiaya.
2. Rumah Dibakar, Tak Diganti Rugi. Teuku Nurdin, 70 tahun, benar-benar mengalami nasib sial yang berkelanjutan. Warga Ulee Reubek Barat, Seunuddon, Aceh Utara ini pada 27 Juli 1990 didatangi lima anggota GPK di rumahnya untuk minta makan sekaligus istirahat. Kalau tak diperkenalkan, ia diancam akan dibunuh di bawah todongan senapan. Tak lama kemudian, terdengar bunyi senjata dari pihak ABRI yang mengetahui kedatangan GPK ke rumah Teuku Nurdin. Maka, terjadilah kontak senjata antara pihak ABRI dengan GPK. Tuan rumah, seperti dikisahkan Hasan (30), anak korban, lari meninggalkan ajang pertempuran itu. Dari saksi mata (tetangga) mereka kemudian tahu bahwa rumah tersebut dibakar, dibantu oleh sejumlah masyarakat yang dipaksa oleh aparat. Sedangkan GPK melarikan diri. Sebelum dibakar, barang-barang milik Nurdin, senilai Rp3 juta diambil aparat. Esoknya, semua masyarakat setempat dikumpulkan untuk ditanyai, siapa pemilik rumah yang dibakar tersebut. Ternyata pemiliknya adalah Nurdin, yang kemudian Nurdin melarikan diri ke Blang Geulumpang, ke rumah famili. Setelah 20 hari baru ia kembali. Saat itu, Danramil setempat berjanji akan mengganti rugi rumah yang dibakar itu. Tapi, janji tersebut tak pernah diujudkan.
3. Diikat, Ditarik Ramai-ramai, lalu di-dor. Syech Asnawi Yahya (32), sarjana FKIP Jabal Ghafur, Sigli. Sebagai keuchik (kepala kampung/desa) di Blang Kulam, Kecamatan Batee, ia tak mau warganya disiksa oleh aparat atau diculik dengan dalih ikut operasi. Tapi, karena sering adu argumen dengan aparat mengenai masalah itu, ayah dua anak itu pun diambil petugas pada suatu hari di tahun 1991. lalu dibawa ke jembatan Delima, Pidie. Lehernya dipasangi tali, lalu beberapa warga disuruh menarik tali tersebut. Dalam situasi begitu, petugas menembakkan peluru ke tubuhnya. Syech Asnawi Yahya pun tewas di tempat. Mayat Syech Asnawi Yahya itu baru boleh diambil keesokannya oleh ibunya.
4. Diganduli batu, lalu dibenam ke Sungai. Sulaiman Ali (40), tidak menduga dirinya akan mati dengan cara yang mengenaskan. Warga Ulee Ruebek Seunuddon, Aceh Utara, ini disiksa di Mata Anoe, yang tak jauh dari desanya pada suatu hari pada tahun 1990. menurut adik kandung korban Teungku Nurdin Ali, abangnya itu diambil petugas selagi berkerja ditambak udang. Setelah itu ia diboyong ke Kantor Koramil setempat, kemudian diangkut ke Lhoksukon. Di kedua tempat ini ia disiksa dengan popor senapan mesin. Namun, karena masih bernyawa akhirnya ditubuhnya diganduli batu sebagai pemberat, ditenggelamkan di Sungai Sampoiniet, Aceh Utara. Dua hari kemudian, tubuhnya timbul kepermukaan dan dibawa masyarakat ke Masjid Raya Sampoinet, untuk dimandikan dan dikafankan.
5. Ajimat Dicabut dan Disiksa. Ishak Raja Bayan (55) mengalami siksaan pada bulan Maret 1990 di desanya, Matang Anoh, Seunoddon, Aceh Utara. Pagi hari yang naas itu ia bermaksud ke tambak untuk mengambil gajinya yang akan dibagikan pagi itu. Sewaktu pulang ia hadang oleh dua anggota Yonif 125 dan dibawa ke Koramil Seunoddon. Ia kemudian disiksa dan ditembak. Tapi, ternyata ia kebal. Lalu ajimatnya berupa cincin dicabut paksa. Setelah itu ia disiksa sampai memar dan lunglai. Ia kemudian disuruh pulang tanpa tahu apa sebab ia dikasari begitu.
6. Ditembak, kemudian kuburannya dibongkar. Walau Zainuddin (27) sudah jadi mayat, namun ia masih mengalami penderitaan. Peristiwa yang dialami Zainuddin tersebut terjadi pada bulan Agustus tahun 1991. warga Ulee Reubek, Seunuddon, Aceh Utara ini berangkat dari Bireuen menuju Pantolabu (Aceh Utara) pukul 01.00 dinihari. Para peronda malam menangkapnya setiba di Pos Cempedak, Jambo Aye. Karena tak merasa bersalah, ia melawan dan sempat dipukuli. Lalu, para peronda menggelandangnya ke Meunasah Cempedak. Sebagian yang lainnya memanggil polisi. Kemudian polisi datang, tapi korban melawan. Karena tampak garang, para peronda lalu memanggil anggota Kopassus di Alue Billi. Saat itu korban lari ke kebun. Anggota Kopassus langsung menembaknya secara membabi buta. Korban jatuh terkapar dengan tubuh yang bersimbah darah. Mayatnya dilemparkan ke parit di dekat balai pasar Ulee Reubek Timur, sekitar pukul 03.00 dinihari. Kemudian, masyarakat mengambil dan mengebumikan mayat tersebut. Esoknya, pukul 11.00 WIB kesatuan ABRI dari Korem lhokseumawe datang ke TKP ingin mengambil foto korban. Tapi, karena terlanjur dikubur warga, diperintahkan untuk dibongkar kembali. Setelah memfotonya, mereka pulang, dan warga mengubur Zainuddin kembali.
7. Penculikan akibat fitnah. Laporan orang hilang hingga 13 Juli 1998, mencapai 137 kasus. Sebagian kasus diduga kuat akibat fitnah antar masyarakat, fitnah politik, atau salah informasi, bahkan ada aparat yang sengaja menyalah-gunakan wewenang dengan memanfaatkan kasus DOM. Tak terkecuali fitnah terhadap lawan politik. Terutama menjelang Pemilu tahun 1997.
8. Ditembak di depan umum. Imuen Sulaiman (40), mengalami hal tak kalah sadisnya. Warga Lueng Dua, Simpang Ulim, Aceh Timur ini mengalami nahas di tahun 1990. Saat itu, seperti dikisahkan adiknya, M. Daud yang melapor ke Peduli HAM, abangnya yang meninggalkan enam anak itu diambil petugas sewaktu kenduri di rumah keuchik setempat. Lalu dibawa ke pos Lueng Peut. Diinterogasi dan dipukuli bertubi-tubi. Setelah itu, korban dibawa kelapangan sepak bola. Dipukuli dan dipertotonkan kepada warga. Lalu, ia ditembak disaksikan ratusan warga sebanyak dua kali. Tembakan pertama pada kepalanya, dan tembakan kedua di bahu kirinya. Setelah roboh, petugas berlalu.
9. Dijadikan tameng saat bertempur lawan GPK. Teungku Rahman Ali (70), warga Cot Baroh, Glumpang Tiga, Pidie, pada 1996 dibawa ke Pos Sattis Billie Aron, Rumoh Geudong. Ia ditembak lalu diobati. Tapi kemudian, disiksa lagi dan dibawa ikut operasi, untuk ditempatkan di barisan depan, sebagai tameng tentara, saat menghadapi serangan atau menyerang GPK.
10. Tangan dibedah, ditetesi air cuka. Rosli (25), warga Bola Mas Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Menurut ayah korban, Samidan Ali, yang melapor ke Peduli HAM, anaknya pada suatu hari di bulan Agustus 1991, pulang dari unit VI tempat dia bertani, ke rumah mereka di unit III. Dalam perjalanan itu, dia ditangkap petugas keamanan. Selama tiga bulan tidak pulang-pulang ke rumah istrinya. Setelah mencari ke sana-kemari, memasuki bulan keempat, pelapor mencari anaknya itu ke Pos Bola Mas unit III. Di tempat itu, ia temukan Rosli, sedang bekerja paksa sebagai tukang masak. Setelah didesak Samidan, akhirnya anaknya dikembalikan. Tapi, menurut pengakuan Rosli kemudian, begitu ia ditangkap kedua matanya ditutup dengan kedua belah tangan diikat. Kepada petugas dia mengaku akan pulang ke rumah, menemui istri dan mertuanya untuk mengabarkan bahwa lahan sawah mereka yang digarap selama ini sudah siap tanam. Tapi, penjelasannya itu tak digubris petugas yang justru menudingnya menanam senjata di suatu tempat. Karena tak bisa menunjukan tempat senjata itu, ia dipukuli dan ditendang. Sampai pada gilirannya, “Telapak tangan saya dibelah, lalu diperaskan air jeruk kecelah luka itu. Perihnya tak terbayangkan,” ujar Rosli sebagaimana ditirukan ayahnya. Setelah siksaan itu ia lewati, Rosli tak diperkenankan pulang ke rumah, melainkan dikaryakan sebagai tukang masak di pos keamanan.
11. Digantung. Penganiyaan yang dialami M Adam Puteh (55), penduduk Meunasah Cot Tunong, Simpang Tiga, yang diungkapkan kepada DPRD Pidiei. Pada tahun 1991, ia pernah digantung kepala di bawah, kemudian dipukul dengan kayu, ditendang dengan sepatu tentara. “Saya sudah ditahan, tapi tidak bisa melawan,” kata M. Adam yang juga hadir pada pertemuan dengan TPF DPR RI di Sigli. Selain itu, menurut pengakuannya, ke dalam mulutnya juga pernah dimasukan moncong senjata. Sampai menusuk ke tenggorokan dan berdarah. Seumur-umur ia mengaku tak pernah merasakan siksaan sedemikian parah itu. Menurutnya, penyebab ia ditangkap oleh oknum aparat itu hanya karena ia telah memotong buluh/bambu lemang. “Mereka menyangka saya akan membuat lemang untuk makan GPK. Karena di tempat itu memang tidak ada yang berani datang,” kata M Adam. Padahal, katanya, rumpun buluh itu sudah dibelinya dari Keuchik Saman dan akan dipotong untuk dijual kepasar.
12. Penyiksaan massal. Jumlah pelapor kasus orang hilang maupun tindak kekerasan di Pidie sampai 30 Juli 1998, mencapai 629 kasus. Angka ini merupakan gabungan antara laporan yang dicatat di DPRD Pidie (524 kasus) dan yang dicatat oleh para relawan dari FP-HAM (105 kasus). Kasus-kasus penyiksaan –baik yang disiksa, diperkosa, maupun ditembak atau dibunuh tapi tidak mati– semakin terungkap. Korban-korban penyiksaan kian berani memberi kesaksiannya. Bahkan di satu desa, Blang Iboih, Langgien, Bandar Baru, Pidie, sedikitnya, 30 warga, (separuh jumlah penduduk desa itu) telah diangkut serentak oleh oknum dan dibawa ke pos Sattis terdekat pada 1991. Di situ, mereka diperiksa sekaligus dianiaya, untuk mencari tahu keterkaitan mereka dengan GPK.
13. Kepala dikuliti di depan anak. M. Yusuf (12), bocah Desa Buloh Blangara, Lhokseumawe, yang masih mengenakan pakaian sekolah SD, menceritakan penculikan dan penganiayaan terhadap ayahnya, M. Jakfar, di rumah mereka, Desa Buloh Blangara, kecamatan kuta Makmur, Aceh Utara, tahun 1992. “Ayah saya diambil oleh tentara. Ayah dipukul, disepak, dan dihantam dengan bedil dikepala sampai kulit kepalanya koyak. Dia ditarik ke belakang, kemudian dilempar ke mobil. Usia saya baru enam tahun. Awalnya, malam itu saya bersama kedua orangtua sedang makan di rumah. Pintu depan diketuk dan setelah dibuka oleh ayah, langsung empat orang bersenjata (tentara) meninju dan menendangnya. Juga memukul ayah dengan popor senjata di kepala korban berkali-kali hingga kulit kepalanya sobek. Belum puas, dengan ganas penculik ayah mendekat dan menyobek kulit kepalanya. Ayah waktu itu terjatuh, dan kemudian penculik itu menginjak-injaknya. Dalam keadaan tak berdaya begitu, ayah masih dipukul, hingga kemudian diseret dan dilempar ke dalam mobil (tidak tahu jenis mobil itu). Saya dan emak hanya menangis dan ketakutan sekali. Ayah saya dibantai sekelompok tentara,...”
14. Ditembak dalam sumur. Korban kebiadaban aparat yang didor di dalam sumur itu adalah Muhammad Juned (28), warga Rawa Itiek, Pantonlabu, Aceh Utara. Suami Rabiah ini, menurut istrinya kepada FP-HAM, diambil aparat keamanan pada suatu hari di tahun 1990 di Desa Matang Ruebek. Dalam kejadian itu, Juned yang tak tahu apa salahnya, dikejar oleh aparat. Kakinya tersandung, lalu jatuh terperosot ke perigi (sumur). Di perigi itulah korban didor. Air sumur yang jernih sontak berubah memerah oleh kucuran darahnya. Masih dalam keadaan bergerak, Juned diboyong aparat naik ke mobil ke Lhokseumawe. Sejak itu dan sampai sekarang korban tidak diketahui bagaimana nasibnya. Oleh FP-HAM, musibah yang menimpa Muhammad Juned ini digolongkan sebagai korban orang hilang, meski keluarganya menduga Juned sudah almarhum, cuma saja tak diketahui di mana kuburnya.
15. Sudah jadi korban, keluarganyapun menjadi korban penipuan. Menurut Kamariah (25), pada 24 April 1998, pagi hari, rumahnya di Desa Cot Baro, Glumpang Minyeuk, didatangi beberapa penculik. Mereka mengatakan bahwa di rumah itu disimpan senjata. Dua kamar di dalam rumah digali, tapi tak ditemukan. Anehnya, malah mereka membawa Khatijah, ibu Kamariah, dan sampai sekarang belum kembali. Meskipun keluarga Khatijah tahu bahwa Khatijah sudah tidak pulang beberapa lama, beberapa anggota keluarga korban berusaha untuk mencari korban yang hilang dengan cara apa pun juga. Mereka bahkan ikut jadi korban penipuan.
Kejadian resupa juga menimpa keluarga A Gani Abubakar (29), seorang pengusaha kopi bubuk kemasan di Bereunun yang diculik tahun 1991. Menurut Saudah (35), kakaknya, kedua orangtua mereka pernah memberi uang Rp 500.000 kepada Yusuf Macek yang menawarkan akan mengurus pembebasan A Gani. Uang itu, kata Yusuf, akan dibelikan perhiasan untuk istri si penculik. Tapi sampai sekarang A Gani tak kunjung pulang, dan uang itu pun tak kembali lagi.
16. Ditaruh pemberat besi dan ditenggelamkan ke sungai. Abdurrahman Ahmad (52), mengalami tindak kekerasan sepulangnya dari kebun membelah kayu di tahun 1990. Kala itu, warga Leubok Peng-peng Kecamatan Peurelak, Aceh Timur ini kepergok ABRI yang sedang menyisir pinggiran hutan. Tanpa ditanya apa-apa, Abdurrahman langsung dibawa. Enam hari kemudian, lapor Ibrahim Ali (28), anak korban, jasad ayahnya ditemukan mengapung di Sungai Peurelak. Yang sangat menyedihkan, Abdurahman Ahmad diikat hidup-hidup pada besi yang berukuran sepanjang badannya, beratnya sekitar 17 koligram. Setelah diganduli besi, kemudian dilempar ke sungai.
17. Disiksa sembilan malam, dibiarkan dalam keadaan lapar. Abdul Gani Berdan (26), warga Jiem-jiem, Bandar Baru, Pidie. Jebolan SD yang punya tiga anak, mengalami siksaan pada tanggal 11 Oktober 1992 di Pos Sattis setempat. Ketika itu, ia bersama tujuh penduduk lainnya, dijemput sore hari (15.00 WIB) oleh tiga oknum berseragam loreng. Di Pos Sattis mereka disiksa selama sembilan hari sembilan malam. Selama tiga hari korban tidak diberi makan. Perutnya perih luar biasa. Setelah itu, seperti dilaporkan Siti Aminah (29), istri korban, Abdul Gani Berdan berhasil pulang dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.
18. Suami dibuang istri disetrum. Tahun 1996, Idris (30), tamatan SMP, dipermak di Murong Cot, Kecamatan Sakti, Pidie, pukul 07.00 WIB. Sebagian warga yang pendiam, Idris tergolong nekat. Ia diketahui menanam senjata di dekat rumahnya atas suruhan orang lain dengan imbalan uang. Karena ketahuan petugas, Idris di tangkap dan digelandang ke Lamlo. Delapan bulan ditahan, ia dibuang di Cot Panglima di Takengon, dengan tangan dan kaki terikat. Matanya ditutup. Tapi menurut pengaduan istrinya, Rosmiati (28), Idris kemudian berhasil ke luar dari Cot Panglima dan sampai rumah pada bulan Ramadhan tahun 1996. setelah itu, pulang-pergi beberapa kali. Belakangan, karena suaminya tak tertangkap, gilirin si istri dibawa ke rumah Gedong Aron. Di situ Rosmiati ditelanjangi dan dikontak, maksudnya disetrum, sampai mengeluarkan kotoran. Yang menelanjangi adalah Kopassus yang ia kenal.
19. Semua gigi dirontokkan. Teungku M. Yusuf Alibasyah, warga Blang Bunot, Bandar Baru, pada tanggal 5 Januari 1993, diambil paksa oleh dua orang petugas di Pos Sattis Jiem-jiem. Lalu dianiaya dengan cara mukanya dipukul berkali-kali sampai gigi rontok semua. Karena sulit mengunyah, lantaran tak lagi bergigi, makanan umumnya dia telan langsung. Kini, (Juli 1998), ia sakit-sakitan.
20. Cacat karena dipukul dengan balok. M Saleh Pakeh (32), warga Desa Lengkok, Sakti, pada tahun 1990 disiksa di Pos Sattis Tangse, kemudian di Pos Sattis Kota Bakti, Pidie. Ditahan 24 hari, disetrum, dan dipukul dengan balok sampai berdarah-darah. Ia bahkan pernah diobati Palang Merah Indonesia (PMI), namun kini mengalami cacat dan penuh bekas luka di badan.
21. Tulang rusuk dipatahkan. Ismail Usman (45), Cot Baroh, Glumpang Tiga, pada tahun 1992 di Pos Sattis Jiem-jiem dan Pos Sattis Kota Bakti, Pidie, dipukul dengan popor senjata balok kayu, dan benda keras lainnya hingga kini mengalami tulang rusuk patah. Dadanya sesak dan pahanya sakit.
22. Digantung kepala di bawah. Umar Ibrahim (60), Cot Baroh Glumpang Tiga, Pidie. Disiksa di Pos Sattis Jiem-jiem, Pidie, pada Juni 1994. Ia digantung dengan kepala ke bawah, lalu direndam dalam air dan tinja, serta dihujani pukulan. Ia masih bertahan hidup, mesti mengaku sangat trauma dan merasa secara fisik sudah rusak di dalam.
23. Dipaksa bersenggama dengan tahanan wanita. Penistaan seks juga dialami pemuda M. Taeb Hasan (20) di tahun 1998. Warga Blang Sukon, Bandar Baru, Pidie ini datang mengadu langsung ke Tim Investigasi FP-HAM. Ia diambil paksa dari kediamannya, lalu dibawa ke Pos Sattis Ulee Gle. Di sini ia diperiksa dan diinterogasi dengan berbagai pertanyaan yang bernada memposisikannya sebagai aktivis GPK. Karena mengaku tak tahu dan tak terlibat, Taeb dipukul dan ditelanjagi. Setelah itu ia dipaksa berbuat mesum dengan tiga wanita yang di tahan di pos tersebut. Dari sejumlah wanita janda yang juga dipaksa ditelanjangi di tempat itu, Taeb akhirnya hanya mampu melayani dua orang. Karena tak memenuhi “target” yang diingini penculiknya, Taeb akhirnya disiksa.
24. Diborgol, disiksa dan dirampas hartanya. Seorang pensiunan PNS, M. Yahya (59) penduduk Meunasah Manyang Muara Dua, mengadukan dirinya pernah diculik 12 Juni 1990. Para penculik memborgol tangannya, kemudian menyiksanya dengan bermacam cara dan jurus pukulan maut. Tidak hanya itu, malah hartanya seperti emas perhiasan istrinya, dan sepeda motor BL 7461 KB bersama buku hak miliknya, dikuras kelompok penculik.
25. Karena persoalan pribadi. Contoh kesewenang-wenangan lainnya, adalah kasus penganiayaan berat yang dilakukan Pratu II, anggota Bataliun 131 Payakumbuh, Sumatera Barat, terhadap Ramli Abubakar (28), warga Desa Kambuh Nicah, Kunyet, Padang Tiji. Syukri Abdullah (30), abang korban, mengaku heran meski tak bertugas di Pidie, Pratu II ternyata semena-mena menganiaya adiknya. Kejadian berlangsung 5 Maret 1995 saat Ramli sedang nonton teve di warung Bukhari, Desa Seunadu, Padang Tiji. Tiba-tiba masuk Pratu II yang baru datang dari Payakumbuh. II yang ternyata teman korban semasa remaja itu menyimpan dendam kepada Ramli. Menurut sejumlah saksi mata, II itu mengambil sebuah pompa sepeda dan langsung memukuli kepala korban hingga retak dan mengeluarkan banyak darah.6 Sebelum pulang ke Payakumbuh, menurut Syukri, Pratu II sempat akan mengancam akan menghabisi keluarga mereka kalau dia datang lagi nanti. Karena itu, pihaknya telah berulang kali melaporkan kasus itu ke Koramil Padang Tiji, Kodim 0102 Pidie, Sub Den-DOM, dan instansi terkait lainnya. Namun oknum ABRI yang diduga bersalah itu sejauh ini tak kunjung diproses, hanya lantaran DOM. “Padahal, kasus ini jelas-jelas karena persoalan pribadi,” sebut Syukri.
26. Sudah kehilangan suami, malah difitnah secara sistematis dengan surat.
Sejumlah janda, tepatnya istri, karena belum dipastikan suaminya meninggal, yang telah melaporkan kehilangan suaminya di DPRD Pidie, serentak menerima “surat dari suaminya” yang seolah dikirim dari Batam, Riau. Mereka yang menerima “surat dari Batam” itu semuanya warga Kecamatan Mutiara, Pidie. Menurut pengakuan para wanita itu, masing-masing mereka menerima surat secara terpisah. Begitu menerima surat, hati mereka sempat berdebar-debar. Tapi, setelah surat dibuka, kentara sekali bahwa surat itu direkayasa. Mereka bisa memastikan ini dari tanda tangan suami masing-masing dengan mencocokkannya pada tanda tangan asli di surat/KTP suami. Satu sama lain wanita itu, kemudian bertemu di rumah Dariarti yang sementara dinobatkan sebagai “pimpinan”dari kelompok janda-janda di Kecamatan Mutiara. Mereka lalu menghubungi yang lainnya. Ternyata, baru empat “surat dari Batam” yang diterima mereka. “Ini surat palsu. Tanda tangannya palsu. Saya tahu betul itu bukan tanda tangan suami saya. Disangkanya kami bodoh, mau ditipu-tipu begitu,” kata Dariati di Sigli. Ketiga temannya mengiyakan dengan penuh emosi bercampur sedih.
27. Status wajib lapor yang tak jelas. Dari banyak laporan masyarakat, status wajib lapor ternyata cukup merepotkan. Lebih-lebih selama krisis ekonomi. Meski kesalahan belum jelas, namun mereka terpaksa meninggalkan kerja, mengeluarkan ongkos untuk labi-labi, juga ongkos RBT, hanya untuk menghadap ke Pos Sattis yang ditunjuk. Bahwa seharusnya oknum-oknum aparat ditatar P-4 dulu, kalau perlu ditatar bagaimana menjadi manusia. Namun para penyiksa ternyata tidak semua aparat. Beberapa nama penyiksa di rumoh geudong ternyata warga setempat yang dijadikan TPO (tenaga pembantu operasi) sekaligus tukang pukul.
28. Ayah dibunuh di sebuah rumah di desa lain. Keadilan bagi Herawati Hamid (21) baru sebatas mimpi. Untuk mencari tahu siapa pembunuh ayahnya, Hamid Itam (50), ternyata tak cukup mengandalkan Kepolisian maupun Polisi Militer. Ia bersama pamannya, Usman Itam (40), adik kandung Hamid, selama dua tahun sudah pontang-panting mengusut sendiri.9 Tak sedikit tantangannya. Bahkan Usman sendiri pernah didatangi sejumlahnya oknum Kopassus ke rumahnya di Desa Tampieng Baroh, Indrajaya, beberapa waktu lalu. Kedua oknum itu minta ia menghadap atasan mereka di Pos Sattis Kota Bakti. Usman menolak. Ia pun diajak ke seorang paranormal untuk mencari tahu siapa pembunuh Hamid Itam sebenarnya. Tapi tetap dia tidak mau. Kalau memang dia juga harus mati. Biar mati di rumah saja.
Didampingi pengacaranya, Iskandar Ishak SH (direktur LBH Seuramoe Makkah, Sigli), meneceritakan hasil pengusutan mereka. Sebagian keterangan diperoleh dari saksi-saksi, sebagian juga dari sumber di kalangan polisi penyidik. “Ayah saya bukan dibunuh di Gunung Gurutee, tapi di Pidie. Di sebuah rumah di Kelurahan Blang Asan. Ada saksi yang mendengar tembakan itu,” tutur Herawati, mahasiswa Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) Jabal Ghafur, Pidie.
29. Pembantaian besar-besaran seperti membunuh hama. Dari jumlah sementara laporan orang hilang, tindak kekerasan, dan sejenisnya yang dilaporkan masyarakat di Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur hingga 27 Juli 1998, yang mencapai puluhan ribu seperti jumlah hama saja layaknya. Kasus mati tak wajar di daerah ini mayoritas terjadi tahun 1990-1991. Selama dua tahun itu telah terjadi pembantaian besar-besaran di daerah Serambi Mekkah. Di Pidie dari jumlah 375 kasus, sedikitnya 102 jiwa ditemukan telah menjadi mayat. Dan, dari jumlah 102 ini, sekitar 80 persen di antaranya adalah kasus yang terjadi tahun 1990-1991. Untuk kasus orang hilang di DPRD Pidie mencapai 131 kasus, 60 persen diculik antara 1990-1991. Pelaku pembunuhan –maupun kasus-kasus orang hilang dan tindak kekerasan lainnya di Pidie diperkirakan lebih 95 persen kasus, di duga –dan menurut keterangan saksi dan keluarga– pelaku penembakan dilakukan oleh oknum ABRI.
Sebaliknya di Aceh Utara, seperti pengakuan Ketua DPRD Aceh Utara Mas Tarmansyah, bahwa 60 persen kasus orang hilang dan di tindak kekerasan yang terdata di DPRD Aceh Utara diakuinya dilakukan oknum ABRI, dan 40 persen didalangi GPK. Di antara kasus-kasus kematian di Pidie, sejumlah pelapor mengaku cukup mengenali pelaku penculik atau setidaknya tempat tugas penculik.
30. Nyaris menyerupai siksa kubur oleh malaikat berbaju loreng. M Saleh Pakeh (32), warga Desa Lengkok, Sakti, pada tahun 1990 disiksa di PS Tangse dan PS Kota Bakti. Ditahan 24 hari, disetrum, dipukuli dengan balok sampai berdarah, dan pernah diobati PMI. Kini mengalami cacat dan penuh bekas luka di badan.
diinterogasi sambil dianiaya di kantor koramil Jungka Gajah selama dua hari dua malam. Kemudian ia mengaku dilepas.
Dan seterusnya, dan seterusnya. Ini baru separoh dari keseluruhan jenis laporan. Belum lagi yang berkait dengan kekerasan berkait agama. Orang sedang melakukan shalat tarawih, bisa begitu saja diambil dan tak pernah kembali lagi. Ada santri disuruh berdzikir dengan mulut disumbat. Disiksa untuk tak henti-henti menyebut “Allah”, ditunggui shalat dan kemudian di-dor, dan seterusnya. , dan seterusnya.

*

FIKRI tengah berjalan mondar-mandir dengan wajah gelisah. Beberapa anak buahnya, mengamati sekeliling mereka dengan cermat. Semuanya dengan senjata siap tembak di tangan.
Tak lama kemudian, muncul seorang GAM muda, dengan tergesa mendekat ke arah Fikri.
“Para pa’i itu menyerbu tempat ini,...” GAM itu melapor dengan terburu.
Fikri menoleh ke arah pelapornya. Dahinya mengkerut.
“Siapkan semuanya. Kita tunggu di sini. “
Pelapor itu kemudian memberikan perintah pada para GAM yang lain. Mereka kemudian kelihatan sibuk mencari posisi masing-masing.
GAM pelapor kembali berada di dekat Fikri.
“Beberapa teman, sebagian besar, mengikut Rizal Noordin, Kak,... Kekuatan kita sekarang tidak berimbang.”
“Ada yang bermuka dua di antara kita rupanya,...” Fikri menggeram.
“Tak ada waktu lagi untuk membahasnya.”
“Kau tahu di mana Abu Rizal Noordin sekarang?”
GAM pelapor menggeleng. “Yang aku duga, dia mengadakan kontak dengan TNI! Jika tidak, bagaimana mungkin TNI tahu markas kita?”
Fikri dan beberapa GAM yang lain sama-sama terdiam. Mata mereka dengan awas, mengamati seluruh titik yang ada di depan. Masing-masing siap dengan senjata di tangan.
“Mungkin yang dikata tawanan kita dulu itu, benar adanya,... Nge beta perintah si gere ne tertupang.”
“Soal apa?” tanya Fikri.
“Kematian Tengku Dawood.”
Fikri tercenung.
Terdengar suara luara letusan senjata laras panjang di kejauhan.
Fikri tersadar dari lamunan. Ia beranjak dari tempatnya, diikuti beberapa lainnya.
“Kita layani mereka!”
Mereka berdua kemudian perlahan melangkah maju, dengan senjata siap tembak.
“Beritahu yang lainnya, kita pancing mereka ke atas,...!”
GAM itu berlari mendekat ke para GAM yang lainnya. Sementara Fikri bergerak, memberi komando.
“Kita tahu, bahwa ini adalah hari-hari terakhir kita. Tetapi ingin kukatakan kepada kalian semua,” Fikri berpidato dengan suara lantang. “Tidakkah kalian akan menurut orang-orangtua, yang telah mengkhianati kita itu? Mereka telah menyeret-nyeret kita ke dalam mimpi besar mereka, dan kemudian menjadi mimpi kita bersama. Tapi apa yang terjadi? Mereka mendorong kita masuk ke kubangan, dan menjadikan kita barisan pecundang. Sementara para orangtua itu menikmati lezatnya konsesi-konsesi politik, kita tetap saja akan menjadi bangsa terjajah di tanah kelahiran kita sendiri,....
Kita akan menjadi anak-anak muda yang diperalat, dan kemudian dicampakkan begitu saja. Selebihnya, kita kemudian akan melata di jalanan atau di ladang-ladang penuh tangis, sebagai warga kelas dua yang akan selalu menyerahkan nasib di tangan orang-orang kaya dan pandai. Kita cacing yang melata kepanasan di aspal jalan. Jika kita melawan, itu karena kita tdak mau menjadi pecundang dan jadi bulan-builanan para orangtua itu.
Sekuat tenaga, kita akan terus berjuang melawannya, menawar agar anak-anak kita bisa memiliki meski pun Cuma sekedar kenangan untuk menolong dirinya sendiri. Biarlah mereka hanya bisa membangun sekolah dalam mimpi, menjadi pandai dalam mimpi, dan melakukan negasi dengan negosiasi yang beradab dalam mimpi pula. Mungin kita bukan martir. Tetapi sejarah telah menyurukkan kita ke rawa-rawa hina ini, sebagai generasi yang tak punya pilihan,...”
Selangkah demi selangkah, mereka menuruni bukit. Dengan penuh waspada, mengamati kawasan hutan yang sudah sangat dikenalinya itu.
Sementara itu, dari arah tepi hutan, merangsek pula beberapa anggota TNI dengan senjata di tangan. Seseorang, dengan lambaian tangan, memberi komando untuk terus merayap naik pada prajurit lainnya.
Tak lama kemudian, terjadi baku tembak. Mula-mula, anak buah Fikri menembak ke arah seorang prajurit TNI, dan langsung berbalas. Maka jadilah peluru berdesingan mencari sasaran.
Kalah dalam jumlah, pasukan Fikri bergerak mundur. Mereka kembali naik ke bukit. Tapi, tanpa dinyana, dari arah belakang terdengar pula letusan senjata, mengarah pada mereka.
“Kita dikepung, Kak,...” seorang GAM terlihat begitu panik.
Fikri dan GAM anak buahnya, kemudian mencari alternatif lain. Mereka bergeser ke tempat lain.
Salah seorang GAM, mengarahkan senjatanya pada seorang prajurit TNI yang berada dalam jarak tembak. Tapi, mendadak prajurit TNI itu terjengkang di terjang oleh peluru dari arah belakang.
GAM yang hendak menembak itu melongo, tapi segera paham ketika menoleh ke arah Fikri.
Fikri meniup loop pestolnya yang masih mengeluarkan asap mesiu. Ia kemudian membisikkan perintah mundur pada GAM yang terdekat posisinya. Dengan cara berantai, perintah itu disebarkan pada yang lain.
Fikri dan kawan-kawannya dengan segera meninggalkan tempat itu.


CATATAN KAKI:
Data sebagian besar diambilkan dari berbagai laporan lembaga-lembaga swadaya masyarakat terutama yang tergabung dalam Forum Peduli Hak Azasi Manusia (FP-HAM) di Aceh, berkait dengan upaya pengungkapan beberapa kejahatan kemanusiaan yang dilakukan dalam penerapan DOM Aceh 1989-1998. Pengutipan berdasarkan laporan faktual, untuk memberikan gambaran bagaimana kenyataan itu benar-benar bukan fiksi melainkan fakta riel.

Selasa, Maret 10, 2009

Kasih yang Tak Sampai


Mengenang 100 Tahun Sutan Sjahrir, dikutip dari MBM Tempo, 03/XXXVIII/09 Maret 2009 dalam edisi khusus "Sutan Sjahrir : Peran Besar Bung Kecil"

Cinta Sjahrir dan Maria dinyalakan api idealisme pergerakan. Meredup oleh jarak.

AMSTERDAM adalah kota yang menggairahkan Sjahrir. Dia menemukan idealisme di kota ini. Juga teman-teman sealiran. Salomon Tas, wartawan berhaluan kiri, yang saat itu menjabat Ketua Sociaal Democratische Studenten Club (Perkumpulan Mahasiswa Sosialis Demokrat) Amsterdam, adalah salah satu sahabat dekat Sjahrir. Berdarah Yahudi, Tas lahir dalam keluarga sederhana, terdidik, serta amat antikolonial. Mahasiswa Hindia Belanda yang sedang bersekolah di negeri itu, termasuk Sjahrir, segera menjadi kawan-kawan dekatnya.
Persahabatan dengan Tas kian erat ketika kakak Sjahrir, Siti Sjahrizad—alias Nuning—harus kembali ke Hindia Belanda pada 1931. Di rumah Nuning di Amsterdam Selatan itu tadinya Sjahrir tinggal, sejak datang pada Juni 1929. Tas kemudian menawarkan apartemennya sebagai tempat tinggal Sjahrir.
Di apartemen itu, Tas tinggal bersama istrinya, Maria Johanna Duchâteau, dan dua anak mereka yang masih kecil-kecil. Di rumah itu tinggal pula teman perempuan Maria bernama Judith van Wamel.
Tas, Maria, Judith, dan Sjahrir sama-sama menggemari sastra, film bermutu, dan musik. Mereka menonton film dan teater di Stadsschouwburg dan menghadiri pertemuan politik di bar Americain. Restoran terkenal Bohemien di kawasan Lange Leidse Dwaarstraat menjadi tempat berkumpul Sjahrir dan teman-temannya. Di restoran inilah Tas membentuk Perkumpulan Mahasiswa Sosialis Demokrat.
Perkawanan itu ternyata melahirkan asmara antara Sjahrir dan Maria, istri Tas. Perempuan peranakan Belanda-Prancis ini berpikiran maju dan banyak membantu Tas dalam aktivitas politiknya. Pernikahannya dengan Tas pada tahun-tahun itu sedang gersang. Tas tidak punya waktu untuk Maria dan anak-anak mereka. Hidupnya hanya untuk politik.
Tidak perlu waktu lama bagi Sjahrir untuk merebut Maria. Sebenarnya itu tidak bisa disebut merebut karena Tas tahu hubungan sahabatnya dengan Maria. Bahkan dia sendiri sudah mulai berhubungan dengan Judith. Kees Snoek—yang mempublikasikan kembali surat-surat Sjahrir kepada Maria—menyatakan kepada koresponden Tempo di Belanda, Asmayani Kusrini, kehidupan mahasiswa pergerakan saat itu amatlah bebas.
Sjahrir serius menjalin cintanya dengan Maria. Ketika hendak pulang ke Hindia Belanda pada 1932, ia meminta Maria ikut. Kepada Mieske, panggilan sayangnya kepada Maria, Sjahrir menyatakan kekasihnya bisa membantu kaum perempuan di bidang pergerakan.
Sjahrir juga ingin menikahi Maria di Hindia Belanda kelak. Sesuai dengan rencana, dia pulang lebih dulu mengambil alih pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Menurut Snoek, ketika itu Hatta, yang diplot sebagai pemimpin, belum selesai studinya. ”Sjahrir diputuskan kembali ke Indonesia lebih dulu,” ujarnya.
Maria, rencananya, akan menyusul bersama anak-anaknya empat bulan kemudian jika perceraiannya dengan Tas sudah beres. Medan menjadi tempat pertemuan mereka.
Dari Batavia, Sidi—begitu Maria memanggil Sjahrir—berangkat ke Medan, sementara Maria dan dua anaknya berlayar dari Kolombo ke Medan. Pertemuan itu akhirnya berlangsung pada April 1932. Pada tanggal 10 bulan itu, Sidi dan Mieske menikah di sebuah masjid di Medan.
Keduanya menginap di rumah tempat Sjahrir tinggal sebelum bersekolah ke Jawa. Mereka tidak pulang ke Koto Gadang karena ”tidak punya uang untuk pulang kampung.” Rencananya, Sjahrir akan mengajak Maria ke Jawa.
Sjahrir rupanya tidak sadar tindakannya menikahi perempuan kulit putih bisa dianggap provokasi. Meski Medan ketika itu termasuk kota Hindia Belanda yang ramai, pasangan Sjahrir-Maria segera mengundang gunjingan. Apalagi mereka juga datang ke tempat-tempat pertunjukan musik, film, dan teater, yang ramai disambangi orang kulit putih.
Maria, yang gemar berkebaya dan memakai kain, segera mengundang perhatian orang Belanda. Mereka bertanya, mengapa Maria mengenakan pakaian pribumi. Empat hari setelah pernikahan mereka, Sumatran Post, koran terbesar di Medan saat itu, menulis tentang Maria: ”Perempuan bersarung kebaya dalam penyelidikan polisi.”
Sebulan lewat, polisi mulai menyelidiki dokumen pernikahan Maria. Mereka menemukan Maria menikah dengan Salomon Tas, aktivis pergerakan antikolonial. Selain itu, Tas ternyata belum menceraikan Maria secara resmi. Karena Maria menikah secara Islam pada saat belum bercerai, keruan saja para pemuka agama jadi ribut.
Lima pekan setelah pernikahan mereka, pada 5 Mei 1932, pernikahan Sjahrir dibatalkan oleh pemuka agama setempat. Lima hari kemudian, Maria dipulangkan ke Belanda. Yang membuat hati Sjahrir pedih, Maria tengah mengandung anak laki-laki mereka.
Keinginan Sjahrir untuk segera menyusul sang istri ke Belanda ternyata penuh rintangan. Rentetan kejadian tragis kemudian menimpa Sjahrir. Hatta akhirnya pulang dari Belanda, tapi mendapat kecelakaan ketika mengunjungi orang tuanya di Sumatera. Sjahrir kembali mengundurkan niat ke Belanda. Surat Maria juga sudah lama tidak datang.
Belakangan datang kabar dari Maria yang menyebut kematian bayi mereka sesaat setelah dilahirkan. Hubungan Sjahrir dan Maria kembali terjalin. Mereka kembali bersurat-suratan. Sjahrir meneguhkan niatnya menyusul Maria. Apalagi ia sudah mengantongi izin dari Pendidikan Nasional Indonesia untuk kembali bersekolah di Belanda.
Rencananya, ia berangkat menumpang kapal uap S.S. Aramis dari Batavia pada Maret 1934 dengan bekal uang kiriman Maria. Celaka, akhir Februari itu, Hatta ditangkap. Sjahrir, yang bersembunyi di rumah adik tirinya, Radena, ditangkap polisi sehari kemudian.
Meski pertemuan dengan sang kekasih hati lagi-lagi kandas, hubungan Sjahrir dan Maria kian hangat lewat surat-menyurat. Maria menjadi satu-satunya tempat curahan hati yang memahami kesulitannya.
Dua tahun setelah penahanan Sjahrir, mereka kemudian menikah kembali, 2 September 1936. Pernikahan jarak jauh itu diwakili oleh pelukis Salim. Sjahrir, yang berada dalam pembuangan di Banda Neira, berangkat ke kantor gubernur. Sayang, pernikahan jarak jauh menciptakan suasana yang tidak sehat dan penuh ketegangan.
Untuk meredam masalah, Sjahrir meminta Maria menyusulnya ke Banda Neira. Keinginan itu gagal karena Maria tak punya cukup uang.
Akhir 1939, ketika Maria sudah punya uang , tidak ada kapal lagi yang menuju Hindia Belanda. Perang Dunia II sudah berkobar. Kembali mereka hanya surat-menyurat.
Setelah Indonesia merdeka dan Sjahrir menjadi perdana menteri pertama, tidak juga ada kabar baik bagi keduanya. Nyala cinta mereka mulai redup. Sebuah pertemuan di New Delhi, India, pada April 1947 menjadi penentu akhir perjalanan mereka.
Ketika itu, Nehru rupanya hendak membikin kejutan bagi Sjahrir. ”Ia tidak bilang akan mengundang Maria,” kata Snoek. Pada pikir Nehru, apalah salahnya mengundang Maria, yang masih jadi istri Sjahrir. Nehru tak tahu kala itu asmara sudah terjalin antara Sjahrir dan asistennya, Poppy.
Pertemuan setelah 15 tahun itu berlangsung dingin. Maria, bersama Nehru dan putrinya, Indira Gandhi, menyambut Sjahrir yang didampingi Poppy di bandar udara. Dalam sebuah wawancara pada 1988, Maria menyebut betapa Sjahrir sudah jauh berubah. ”Mungkin karena ia sudah menjadi negarawan.”
Sjahrir merangkul Maria dan menempelkan pipinya ke pipi Maria. Setahun kemudian, api cinta lama itu benar-benar padam. Keduanya memutuskan bercerai pada 12 Agustus 1948.
Belakangan, Maria menikah dengan adik Sjahrir, Soetan Sjahsyam, yang bersekolah di Belanda. Sejak kembali ke Belanda, Maria tinggal bersama Sjahsyam, yang ikut membesarkan anak-anak Maria dari perkawinannya dengan Tas.

Minggu, Maret 01, 2009

Sapto Rahardjo : Berlalunya Sebuah Era?


Kompas Minggu,
1 Maret 2009


Franki Raden

Sewaktu remaja saya pernah membaca sebuah artikel di majalah Aktuil tahun 1970-an tentang grup musik yang bernama Yogiharmonik (?) di Yogyakarta. Gambar yang terpampang pada artikel tersebut adalah alat musik yang terdiri dari kaleng-kaleng bekas beserta wajah penciptanya. Saat itu sulit saya bayangkan bagaimana bunyi musik yang keluar dari ”instrumen” seperti itu. Tidak beberapa lama kemudian ingatan saya tentang artikel dan grup musik ini pun memudar.

Beberapa tahun setelah itu saya mulai kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pada saat itu perhatian saya terhadap perkembangan musik kontemporer di negeri ini semakin menguat. Sebagai mahasiswa sekolah musik yang berkiblat ke Barat, pada awalnya perhatian saya tentu saja terpusat pada perkembangan musik kontemporer di sana. Kebetulan kehidupan musik kontemporer di dalam negeri sendiri pada tahun 1970-an sangat lengang. Di samping itu, Jakarta pada masa itu masih menjadi pusat perkembangan seni kontemporer di Indonesia sehingga apa yang terjadi di luar Jakarta sering kali lepas dari perhatian saya.

Pada awal hingga akhir tahun 1970-an, percaturan musik kontemporer di negeri ini memang masih berputar pada kertas notasi (partitur) yang menjadi tumpuan dari lomba komposisi musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang diprakarsai almarhum Frans Haryadi. Oleh sebab itu, yang tampil di atas panggung ”resmi” musik kontemporer umumnya hanyalah mereka yang (pernah) belajar komposisi di IKJ atau Akademi Musik Indonesia (sekarang ISI Yogyakarta). Pada tahun 1979, DKJ membuat program baru yang berjudul Pekan Komponis Muda. Dalam acara ini DKJ memperluas ruang lingkup gagasan musik kontemporer dengan menyertakan mereka yang berlatar belakang musik tradisional dan berkarya tanpa menggunakan partitur. Thus, karya mereka adalah pementasan mereka.

Pada saat itulah perkembangan musik kontemporer Indonesia mulai memasuki babakan baru yang sangat penting: katakanlah babakan postmodern jika Anda peduli. Sejak saat itu pergumulan musik kontemporer di luar Jakarta yang tidak bertumpu pada wacana estetika Barat tiba-tiba menjadi transparan. Pada awal tahun 1990-an, ketika saya melakukan penelitian lapangan tentang musik kontemporer Indonesia untuk menulis disertasi, di Yogyakarta muncul seorang tokoh musik ”baru” yang berada di luar pagar akademik AMI. Tokoh ini menyajikan pementasan musik yang jauh di luar jangkauan imajinasi para akademikus Yogyakarta sehingga ia menjadi tokoh yang sangat kontroversial. Komponis tersebut tidak lain adalah pencipta alat musik Yogiharmonik yang dahulu pernah saya baca di majalah Aktuil, yaitu Sapto Rahardjo, yang pada pagi kemarin baru saja dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.


Pementasan Sapto yang beberapa kali saya tonton di Purna Budaya, Yogyakarta, ternyata sangat memukau. Pada waktu itu karya-karyanya selalu muncul dengan menyertakan perlengkapan canggih teknologi multimedia. Tetapi, di tangan Sapto, pementasan yang memanfaatkan teknologi canggih ini dapat menjelma menjadi sebuah bentuk ritual dan sangat membumi pada realitas sosial di sekitarnya. Salah satu karyanya dipentaskan selama 24 jam nonstop tanpa membosankan sedikit pun. Karyanya yang lain dipentaskan di atas sebuah pick up kecil yang berkeliling di sekitar kota Yogyakarta.

Sapto Rahardjo, komponis yang baru saja berpulang, pada tahun 1990-an bukan saja mampu membuat kota Yogyakarta menjadi penting dalam peta musik kontemporer Indonesia, tetapi juga mampu membuat dunia musik kontemporer Indonesia itu sendiri menjadi sangat dinamis pada dekade 1990. Dinamika inilah yang memungkinkan saya untuk dapat menulis sebuah disertasi. Periode itu banyak melahirkan para komponis eksperimental yang dipelopori antara lain oleh Sapto Rahardjo. Di samping itu, dukungan terhadap dunia musik kontemporer datang dari mana-mana, terutama dari media massa (cetak dan elektronik), taman rekreasi (Ancol dan PRJ), asosiasi profesional (PII), pemerintah (Depdikbud dan DKI), para mahasiswa, seniman di bidang lain, dan juga para konglomerat. Pertumbuhan jenis musik ini juga terjadi di kota-kota di Jawa, Bali, dan Sumatera. Bahkan, sebuah desa seperti Desa Mungkid di Jawa Tengah pun memiliki pusat kegiatan musik eksperimental yang digalang oleh seorang komponis bernama Sutanto. Pada akhirnya dunia musik kontemporer Indonesia mampu menciptakan paradigmanya sendiri. Dalam hal ini jasa Sapto Rahardjo tidak kecil.

Sayangnya para komponis yang menjadi motor perkembangan musik kontemporer pada dekade 1990-an adalah para komponis yang kesehatannya sangat rentan. Di samping Sapto Rahardjo, kita telah kehilangan figur-figur muda lainnya yang juga sangat penting, yaitu Harry Roesli, Yazeed Djamin, dan Saut Sitompul yang meninggal dunia pada awal usia 50-an. Keempat komponis ini masing-masing memiliki posisi tersendiri di dalam dunia musik kontemporer Indonesia.

Setelah lebih dari sepuluh tahun tidak berada di Indonesia, saya baru menyadari betapa penting dan dinamisnya periode tahun 1990-an di mana Sapto Rahardjo memantapkan kariernya sebagai komponis. Mungkin Sapto sendiri tidak terlalu peduli dengan istilah ”musik kontemporer” atau ”musik eksperimental” yang kerap saya gunakan dalam tulisan. Gaya musiknya memang selalu tidak dapat diduga ke mana arahnya. Ia selalu bisa muncul dengan sesuatu yang membuat kita terperangah, entah karena kreativitasnya, kenakalannya, ataupun kenekatannya. Yang jelas etos kerja Sapto Rahardjo sebagai komponis dan pemusik memang sangat luar biasa. Inilah yang membuat ia mampu menggalang sebuah festival gamelan internasional di Yogyakarta hanya dengan bekal sebuah tekad.

Dunia musik Indonesia saat ini jelas telah kehilangan seorang figur komponis, pelopor, dan penggagas yang sangat penting. Tapi, yang sekarang saya pertanyakan kepada diri saya sendiri adalah: apakah era musik eksperimental Indonesia dewasa ini juga telah berlalu dengan perginya orang-orang seperti Sapto Rahardjo, Harry Roesli, dan Saut Sitompul? Jika ini benar terjadi, sungguh patut disayangkan karena mungkin kita tidak akan pernah lagi menyaksikan sebuah dinamika kehidupan musik di Indonesia yang sangat penuh dengan kejujuran, kenekatan, vitalitas, kreativitas, dan orisinalitas bak Sapto Rahardjo. Selamat jalan, sobat!

Franki Raden Etnomusikolog

Selasa, Februari 24, 2009

Kerja Lapangan Danny Boyle

Kompas, Selasa, 24 Februari 2009 | 00:20 WIB

Ninuk Mardiana Pambudy

”Kepada Mumbai, semua yang telah membantu kami membuat film ini dan juga semua yang tidak membantu, terima kasih banyak. Anda semua membuat dia tampak kecil,” kata sutradara Danny Boyle seraya mengangkat piala Oscar di tangannya.
Boyle (52) menjadi orang paling berbahagia ketika film garapannya, Slumdog Millionaire, meraih 8 penghargaan dari 10 nominasi, termasuk 2 penghargaan paling bergengsi, yaitu sutradara terbaik dan film terbaik. Penyerahan Oscar dilakukan di Kodak Theater, Los Angeles, Minggu (22/2) malam waktu setempat.
Ini adalah Oscar pertama untuk sutradara kelahiran Manchester, Inggris, yang dikenal lebih banyak menyutradarai film-film beranggaran kecil. Banyak orang sudah menjagokan Slumdog menjadi film terbaik, dan para juri sependapat.
Boyle menyisihkan empat sutradara lain, yaitu David Fincher (The Curious Case of Benjamin Button), Stephen Daldry (The Reader), Gus van Sant (Milk), dan Ron Howard (Frost/Nixon).
Kemenangan Boyle dalam Oscar sudah diduga setelah dia mendapat penghargaan dari Directors Guild of America. Sebagian besar sutradara yang mendapat penghargaan itu umumnya juga mendapat Oscar.
Slumdog bercerita tentang seorang anak yatim piatu dari daerah kumuh di Mumbai, Jamal Malik (diperankan aktor Inggris keturunan India, Dev Patel) dalam memenangi juara pertama acara kuis televisi Who Wants To Be a Millionaire versi India, dengan kilas balik ke masa kanak-kanak Jamal.
”Anak-anak saya sudah terlalu besar untuk mengingat sekarang (apa yang saya pernah katakan), tetapi ketika mereka masih anak-anak, saya bersumpah di depan mereka bahwa jika keajaiban (memperoleh penghargaan Oscar) ini terjadi saya akan mengubah diri saya menjadi Tigger dalam cerita Winnie the Pooh,” kata Boyle dalam pidato kemenangannya.

Menjadi yatim
Boyle patut bangga dengan Slumdog. Film ini meraih Oscar untuk sinematografi, tata suara, pengeditan film, lagu asli, komposisi musik asli, dan skenario adaptasi terbaik. Selama pembuatan film di Mumbai, Boyle dan timnya menghadapi banyak tantangan, mulai dari ular piton, panasnya udara Mumbai, sampai birokrasi India selama tiga bulan pengambilan gambar.
Bahkan, setelah proses produksi selesai pada Februari 2007, film ini sempat menjadi yatim piatu ketika penyandang dananya, Warner Independent Pictures, salah satu divisi dari industri film raksasa Warner Bros, memutuskan melepas Slumdog.
Fox Searchlight Pictures kemudian mengambil alih film ini yang meraih sukses komersial dan mendapat pujian banyak kritikus film, November lalu. Sejak diputar di bioskop, Slumdog berhasil meraih 150 juta dollar AS meskipun dari Mumbai muncul kritik karena menggambarkan kaum dalit di daerah kumuh.
Sebagai sutradara berpengaruh di negerinya, reputasi Boyle dibangun melalui film beranggaran kecil, seperti Shallow Grave (1995) dan Trainspotting (1996). Film-film Boyle banyak mencampur realisme yang dingin dengan drama, sering kali dengan irama riuh, hal yang tampak nyata dalam Slumdog sehingga melodrama dalam film ini dapat menyenangkan banyak penonton.
Dia juga lebih menyukai bekerja di dunia nyata daripada di studio yang dia sebut ”tidak berjiwa”. Itu yang juga dia lakukan dengan Slumdog.
Lahir dari keluarga Katolik Irlandia yang taat, Boyle pernah menjadi putra altar selama enam tahun dan sempat berpikir ingin menjadi rohaniwan. Akhirnya dia belajar drama dan sastra Inggris di University of Wales di Bangor.
Dia memulai kariernya dari dunia teater karena, katanya, mendekati dunia teater lebih mudah daripada film. Dia menjadi Deputi Direktur Royal Court Theatre antara tahun 1982 hingga 1987.
Pada tahun 1987 Boyle mulai memproduksi film untuk televisi, Scout. Film-filmnya yang lain di antaranya A Life Less Ordinary (1997), The Beach (2000/2001), hingga Sunshine (2007).
”Saya tidak ingin membuat film yang sok, serius. Saya menyukai film yang memiliki semangat. Saat ini, ketika Anda berpikir tentang penghargaan dan ingin memenanginya, Anda berpikir harus membuat film serius, tetapi insting saya mengatakan buatlah film yang bersemangat, penuh kegembiraan,” kata Boyle seperti ditulis IMDb.com.

Kerja total
Di luar penghargaan Oscar, Slumdog mengundang kontroversi tentang pemeran masa kanak-kanak Jamal dan Salim, Rubina Ali (8) dan Azharuddin Ismail (8).
Orangtua kedua anak itu, menurut laporan media setempat, merasa dieksploitasi dan bayaran untuk mereka terlalu rendah. Harian The Telegraph dari Inggris melaporkan, keluarga kedua anak itu keadaannya tidak berubah, tetap tinggal di gubuk. Bahkan gubuk orangtua Azharuddin kena gusur.
Tentang kritik tersebut, Boyle mengatakan, kedua anak itu mendapat jaminan pendidikan dari produser film dan akan mendapat uang dalam jumlah besar setelah berusia 18 tahun asalkan mereka tetap bersekolah.
Boyle menolak menyebut jumlah uang yang akan diterima kedua anak itu dengan alasan dapat mengundang bahaya bagi keluarga itu sendiri dari komunitas mereka, termasuk dari para gangster. Sebagian hasil keuntungan film pun dijanjikan akan diberikan kepada organisasi nonpemerintah yang bekerja untuk pendidikan anak-anak daerah kumuh di Mumbai.
Pemahaman Boyle terhadap Mumbai adalah bagian dari cara dia bekerja langsung di lapangan. Meskipun belum pernah ke India, Boyle tidak ragu-ragu mengambil gambar langsung di lapangan. Bau tak sedap menusuk adalah pengalaman indrawi pertama yang menyergap dia.
”Semua serba ekstrem. Udaranya sangat panas, tehnya terlalu manis; semuanya serba terlalu banyak,” kata Boyle tentang Mumbai kepada CNN.com. ”Tetapi, itu sangat bagus untuk (membuat film) drama, sangat bagus.”
Boyle dan timnya mengambil gambar di jalan-jalan dan di seputar penanda kota berjuluk ”kota mimpi-mimpi” tersebut dan memakai pengguna jalan sebagai figuran. Boyle juga mengambil gambar di kawasan kumuh Dharavi—terbesar di Asia—dan Juhu yang terlihat dari bandara kota itu.
Karena hanya punya waktu terbatas di India, Boyle memutuskan pergi ke kawasan yang dia ingin masukkan ke dalam filmnya, lalu meminta para pemain berlatih di tempat. Bisa dibayangkan bila kemudian mereka menjadi tontonan warga setempat dan hal itu awalnya membuat para pemain gugup.
”Saya ingin merasa benar-benar terlibat dengan kota itu. Saya tidak ingin melihat ke dalamnya, memeriksanya. Saya ingin tercebur ke dalam kekacauan di sana sebanyak-banyaknya. Ada waktu antara pukul 02.00 sampai 04.00 di mana semuanya berhenti dan hanya anjing yang berkeliaran, tetapi di luar waktu itu, tempat itu adalah lautan kemanusiaan,” kata Boyle.



Aktor film Sean Penn dari Amerika Serikat (tengah), Penelope Cruz dari Spanyol (kanan), dan Kate Winslet dari Inggris memegang Piala Oscar mereka setelah masing-masing menang sebagai aktor terbaik, pemeran pembantu wanita terbaik, dan aktris terbaik dalam penyelenggaraan Academy Awards Ke-81, Minggu (22/2) di Kodak Theater, Hollywood, California, AS. Dalam Academy Awards itu diberikan penghargaan sinematik terbaik untuk 24 kategori. Foto by EPA/PAUL BUCK


Data Diri
Nama: Danny Boyle
Tanggal dan tempat lahir: 20 Oktober 1956, Manchester, Inggris
Karya:
- Sebagai sutradara (di antaranya): Slumdog Millionaire (2008, mendapat Oscar 2009), Sunshine (2007), Millions (2004), 28 Days Later... (2002), Alien Love Triangle (2002), Vacuuming Completely Nude in Paradise (2001) (TV), The Beach (2000/2001), A Life Less Ordinary (1997), Trainspotting (1996), Shallow Grave (1995), dan sejumlah film televisi di Inggris
- Sebagai produser: 28 Weeks Later (2007), Twin Town (1997), The Nightwatch (1989, TV), Elephant (1989, TV), The Rockingham Shoot (1987, TV)

Yang Manusiawi Jangan Dianggap Ilahi

Wawancara dengan Jalaluddin Rakhmat:

Dikutip selengkapnya dari Jurnal Islam Liberal, 16 Juni 2002

Sebagai pakar komunikasi yang aktif menggeluti wacana keislaman, Dr. Jalaluddin Rakhmat memiliki kompetensi untuk berbicara masalah freedom of speech sebagai bagian integral dari kebebasan berekspresi yang dijunjung tinggi ajaran Islam. Kang Jalal, demikian sapaan akrab beliau, menumpahkan kegalauannya atas fenomena institusionalisasi agama yang menyebabkan tersingkirnya pendapat-pendapat pinggiran atas nama Tuhan.

Kali ini, Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) mewawancarai Kang Jalal, pengasuh Yayasan Muthahhari, Bandung yang disiarkan Radio 68H dan jaringannya di seluruh Indonesia pada hari Kamis, 13 Juni 2002. Berikut petikannya:


Kang Jalal, Islam memiliki diktum "lâ ikrâha fî al-dîn" (Tidak ada paksaan = dalam beragama -red) dan "lakum dîinukum wa liyadîn" (bagimu agamamu dan bagiku agamaku -red). Nah, dari sini, bagaimana Islam melihat kebebasan berpendapat?
Saya kira rujukannya bukan pada "lâ ikrâha fî al-dîn". Kalau rujukannya dari situ, orang akan mengatakan: "Memang nggak ada sih, paksaan untuk masuk agama, tapi begitu kita sudah berada dalam agama tertentu, seseorang harus beragama!" Kalau mau masuk suatu akidah, begitu masuk dia dipaksa. Ini sama seperti ungkapan "tidak ada paksaan masuk PKB". Tapi setelah seseorang berada di dalam PKB, dia harus dipaksa memenuhi kewajibannya sebagai anggota PKB. Jadi, keterangan tentang kebebasan berekspresi dalam Islam, bisa kita rujukkan kepada dua hal. Pertama, melalui sumber-sumber Islam dari Alquran dan Sunnah. Kedua, melalui praktik-praktik sejarah.

Lantas apa landasan kebebasan berekspresi dalam doktrin agama?
Secara doktrin, kita akan banyak sekali menemukan ayat-ayat Alquran yang memberikan kebebasan kepada manusia, bahkan dalam memilih agama itu sendiri. Ayat-ayat "faman syâ'a falyu'min, wa man syâ'a falyakfur (barangsiapa yang menghendaki bolehlah dia beriman dan barangsiapa yang menghendaki bolehlah dia kafir).

Kalau begitu, ada juga hak untuk tidak beragama yang dihormati oleh Islam?
Ya, ada hak juga untuk kafir sekalipun dari ayat itu. Dan itu dihormati oleh Islam.

Kalau kita lihat dalam sejarah Islam, bagaimana fakta kebebasan berekspresi?
Dalam periode Nabi Saw, kebebasan berpendapat sangat dihormati. Nabi malah melarang orang memerangi pendapat yang berbeda. Di kalangan para sahabat saja, terjadi perbedaan pendapat dalam memahami Sunnah Nabi. Semua itu, berdasar fakta sejarah, diapresiasi oleh Nabi dengan arif.

Dan yang paling penting, Nabi tidak menyebutkan —misalnya— ini yang paling benar dan itu salah.

Namun demikian, dalam perkembangan sejarah ada beberapa skandal tentang pemberangusan kebebasan berpendapat seperti perlakuan terhadap aliran Mu'tazilah maupun kasus inkuisisi yang dilakukan Khalifah al-Makmun.

Bagaimana menjelaskan ini?
Ya, saya kira pemberangusan atau pembatasan kebebasan berpendapat bahkan dimulai sejak zaman kekhalifahan Abu Bakar yang memuncak pada zaman Umar bin Khattab. Lalu, mulai bebas lagi pada masa Ali bin Abi Thalib. Pada zaman Abu Bakar, dimulai larangan periwayatan hadits.

Padahal, seperti yang kita ketahui, hadits merupakan upaya para sahabat yang sezaman dengan Nabi untuk menangkap makna dari ucapan dan perilaku Nabi. Yang disebut Sunnah, menurut Fazlurrahman, adalah opini yang dikembangkan para sahabat berkaitan dengan perilaku Nabi. Mereka memberikan makna pada perilaku Nabi, dan kemudian menuliskannya. Pada zaman khalifah Abu Bakarlah larangan pengumpulan dan periwayatan hadits itu.

Bukankah pelarangan itu ada motifnya, yakni khawatir bisa menyaingi Alquran?
Itu terjadi pada masa Umar bin Khatab. Alasannya memang takut menyaingi Alquran. Khalifah Umar bahkan memenjarakan beberapa sahabat yang meriwayatkan hadits.

Saya kira, ketidaksenangan akan periwayatan hadits berlanjut jauh setelah khalifah yang empat?
Betul, sampai zaman Thâbiîn (penerus sahabat -red) masih banyak orang yang takut meriwayatkan hadits. Akibatnya, salah satu sumber berekspresi dan berpendapat kaum muslim menjadi terbengkalai. Kemudian pasca wafatnya Imam Ali atau sejak masa Muawiyyah, semua pendapat yang bertentangan dengan paham politik Muawiyyah diberangus. Waktu itu terjadi manipulasi besar-besaran terhadap hadits Nabi. Jadi, masa itu ada hadits Nabi yang dilarang untuk diberitakan, dan pada waktu bersamaan, ada juga hadits yang diciptakan. Itu karena kepentingan-kepentingan politik. Lalu siapa saja yang haditsnya bertentangan dengan hadits penguasa, dihukum.

Saya kira, sejarah seperti itu berulang terus sampai sekarang. Kalau kita tanyakan hal ini secara kritis, maka soal yang muncul adalah: "Mengapa pada level doktrinal, Islam menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, tapi pada fakta sejarah terjadi skandal-skandal seperti itu?"
Saya kira, itu terjadi juga pada agama lainnya. Kalau kita meniru doktrinnya, kita akan menemukan kebebasan berpendapat. Tapi setelah agama itu terlembagakan (institutionalized), mulai ada hierarki dan doktrin-doktrin yang dianggap resmi dan yang tidak resmi. Yang tidak resmi kemudian dianggap menyimpang dan tidak punya hak untuk tetap hidup bersama doktrin yang resmi. Itu gejala yang sama di setiap agama.

Begitu agama dilembagakan dan ada pengawalnya, kebebasan lenyap. Bisa dijelaskan lebih detail?
Mungkin kita bisa melakukan beberapa analisis. Bisa analisis psikologis, maupun sosiologis. Kita mulai dari analisis sosiologis. Agama yang sudah dilembagakan akan berkaitan erat dengan kekuasaan. Dan –tentu saja-- kekuasaan dilegitimasi oleh suatu ideologi. Sementara, ideologi sebetulnya merupakan pendapat yang sudah dibakukan menjadi pendapat resmi.

Munculnya dualisme pendapat resmi dan tidak resmi yang mengakibatkan pendapat resmi dianjurkan dan yang tidak resmi disingkirkan memang terjadi pada semua agama. Tapi yang ingin saya tanyakan secara spesifik, kenapa itu terjadi dalam agama Islam?
Pertanyaan "mengapa" itu, mungkin butuh jawaban panjang. Namun saya mencoba mencari jawaban yang pendek. Saya kira, ini berkaitan dengan sebuah sikap yang oleh Nabi selalu ditegur. Yaitu, sikap merasa diri yang paling benar. Karena merasa paling benar, maka pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya dianggap salah. Karena salah, secara agama harus dihancurkan. Istilah agama menyebut kesalahan itu bâthil. Sementara, doktrin agama menyebutkan adanya pertarungan antara haq dengan bâthil seperti disinyalir Alquran: "Wa qul jâ'a al-haq wa zahaqa al-bhâtil inna al-bhâtil kâna zahûqa" (dan katakanlah: "kebenaran telah datang, dan kebatilan akan sirna. Sesungguhnya kebatilan itu akan (selalu) sirna –red).

Ironisnya, tidak jarang yang dianggap benar adalah pendapat pribadi dia. Pendapat dia dianggap satu-satunya kebenaran.

Kemarin saya sempat berbincang dengan Pak Alwi Shihab. Katanya, salah satu penyebab terjadinya legalisme dalam Islam adalah kecenderungan untuk mengangkat pendapat kita yang sangat manusiawi menjadi sangat Ilahi. Sebetulnya, terkadang yang ada hanya pendapat kita tentang Alquran dan hadits, tapi lantas kita malah berpendapat itulah Alquran dan hadits sebenar-benarnya. Kalau orang seperti ini –misalnya-- berbeda pendapat dengan saya, maka saya diklaim bertentangan dengan Alquran dan hadits. Padahal tak jarang itu hanya pendapat mereka tentang Alquran dan hadits. Kasusnya sama seperti pendapat orang yang menganggap perlunya mendirikan negara berdasar syariat Islam. Di situ, syariat dianggap sangat divine (sangat Ilahi). Padahal, yang kita sebut syariat mungkin sembilan puluh persen sangat manusiawi. Artinya, syariat adalah pemahaman kita tentang syariat itu sendiri.

Sebagai contoh, saya pernah berdebat tentang syariat Islam di Makassar. Pada waktu itu, saya berhadapan dengan "orang-orang salih" yang berusaha menerapkan syariat Islam. Ketika saya bertanya: "Syariat Islam yang mana yang akan Anda terapkan di sini?" Sebab, syariat Islam itu sangat bergantung pada mazhab Anda: apakah syariat Islam ala Taliban, ala PAS di Malaysia, ala NAD di Aceh, Arab Saudi atau Iran? Jadi, penafsiran tentang itu berbeda-beda. Di situ, saya hanya ingin menyadarkan, bahwa apa yang kita sebut syariat, kebanyakan lebih manusia ketimbang yang ilahi. Malangnya, terkadang yang manusiawi itu sudah dianggap ilahi. Bila suatu pendapat sudah kita anggap sakral, maka setiap orang yang bertentangan dengan kita akan kita hancurkan karena dianggap bagian kebatilan.

Dulu ada pelarangan terhadap Darul Arqam, dan sekarang muncul usaha untuk memeriksa ajaran di Pesantren Zaytun Indramayu. Terlepas dari itu, bagaimana kita menyikapi perbedaan-perbedaan pemahaman dalam suatu ajaran?
Saya sendiri beranggapan, biarlah orang-orang Islam mengembangkan pendapat mereka sendiri dan tidak seorang pun di antara kita yang berhak menghakimi suatu kebenaran. Dan perlu diingat, sesuatu yang bisa kita lakukan dalam agama hanyalah mendekati (to aproximate) kebenaran dengan cara kita sendiri. Jadi ketika kita mencoba menghakimi suatu kelompok seperti Pesantren Zaytun, yang perlu dipertanyakan adalah: "Dari mana kriteria penyimpang itu?" Bukankah itu dari kriteria yang kita bikin?

Bukankah problem freedom of speech dalam konteks Indonesia juga sering
terjadi pada masa lalu (Baca: Orde Baru)?

Itu juga pertanyaan saya: kenapa kita baru meneriakkan kebebasan berpendapat sekarang? Sesuai concern saya sudah dari dulu memperjuangkan kebebasan berpendapat dengan resiko apa pun. Saya melihat, sebetulnya sepanjang sejarah, ada saja kelompok-kelompok yang berjuang menegakkan kebebasan berpendapat. Umpamanya di zaman khulafâ al-râsyidîn, muncul orang seperti Abu Dzar al-Ghifari yang oleh Nabi, lidahnya dijuluki sebagai orang yang paling jujur di bawah kolong langit. Itu merupakan pujian Nabi untuk seorang yang memperjuangkan kebebasan berpendapat.

Di Indonesia, pada zaman Orba juga ada beberapa orang yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Umumnya, mereka masuk penjara dan memikul resiko tinggi. Mungkin baru zaman Gus Dur orang yang bebas berpendapat tidak dipenjarakan. Maka muncullah hiruk pikuk freedom of speech. Mestinya, kita tidak lagi berbicara masalah ini, karena kita sudah menyaksikannya dalam realitas. Idealnya, sejak dulu kita meneriakkan itu. Hanya saja, sekarang —zaman Megawati— kita melihat adanya ancaman terhadap kebebasan berpendapat. Mungkin saya melihat ini secara remang-remang. Tapi ada ketakutan, dan kekhawatiran akan kembali lagi ke zaman Orba.

Tadi ada yang bertanya bagaimana menghadapi kelompok-kelompok yang keras dan tidak menerima adanya perbedaan pendapat seperti yang kita saksikan sekarang. Bagaimana menghadapi mereka ini?
Saya akan jawab dari pengalaman hidup saya saja. Pertama, saya akan mengajak mereka perlahan-lahan kepada kebebasan berpendapat atau penghargaan terhadap cara pandang lain. Biasanya, saya akan membuat mereka ragu lebih dulu atas pahamnya. Sebab sikap ekstrim biasanya muncul karena seseorang terlalu yakin bahwa pendapatnya adalah satu-satunya kebenaran. Saya tunjukkan kepada mereka —secara dialektis— bahwa pendapat mereka keliru dan menggiring mereka untuk menemukan sendiri kekeliruan itu. Tapi cara itu tidak gampang, karena memerlukan forum untuk berbicara seperti itu. Sementara kelompok seperti itu pada galibnya tidak memberikan forum seperti itu kepada kita. Biasanya sudah ada capnya. Misalnya, kelompok Ulil Abshar dari Jaringan Islam Liberal sudah pasti salah. Kalau sudah begini, Anda tidak akan diizinkan untuk masuk ke forum itu. Bila ini yang terjadi, cara yang terbaik adalah qâlû salâma. Saya akan ucapkan salam saja, ketimbang menghambur-hamburkan waktu untuk berdiskusi dengan mereka.

Masalahnya, membuat ragu orang lain selalu diasumsikan sebagai tindakan tasykîk (membuat bimbang -red) yang cenderung dituduh meragukan kebenaran Allah dan rasul-Nya.?
Ya, disitulah kesalahannya. Kita meragukan pendapat mereka, lantas diartikan ingin meragukan kebenaran Alquran dan Sunnah.

Biasanya sebagian kelompok yang anti-dialog itu berkelit dengan dalih bahwa apa yang mereka ungkapkan bukan pendapat pribadi mereka, tapi sejalan dengan yang tertera dalam Alquran dan hadits. Seolah-olah, orang yang meragukan pendapat mereka, telah menentang Alquran dan hadits tadi?
Mungkin kita harus membedakan antara fikih dengan syariat. Saya belakangan ini kembali mendalami fikih dan membuat rangkain tulisan yang nanti akan saya berikan pada Mas Ulil untuk bisa dimasukkan dalam situs islamlib.com. Judulnya "Dahulukan Akhlak di atas Fikih!". Judulnya sederhana saja. Saya ingin menunjukkan bahwa fikih adalah proses atau hasil pemahaman kita terhadap Alquran dan Sunnah. Fikih tidak ada yang seratus persen Alquran dan Sunnah. Fikih, bila dikalkulasikan, mungkin 90 persen adalah pemahaman, sementara 10 persen Alquran dan Sunnah.

Bagaimana jika ada fikih yang seratus persen Alquran dan Sunnah? Menurut saya, itu bukan fikih lagi. Maksudnya begini, ketika kita membuka Alquran, lantas berpendapat bahwa daging babi haram, bagi saya itu bukanlah fikih. Sebab gagasan itu sudah disebutkan secara eksplisit dalam Alquran: "Hurrimat `alaikum al-maitat-u wa al-dam-u wa lahma al-khinzîr" (diharamkan atasmu (daging) mayat, darah dan daging babi -red). Alquran sudah menyebut, secara detail kata haramnya, dan jenis dagingnya secara spesifik.

Nah, dalam hal yang seperti itu, saya tidak akan menentang pendapat Anda, karena itu bukan fikih. Contoh itu seratus persen nash (teks suci –red). Tapi ada pendapat (misalnya) bahwa bersentuhan dengan orang kafir yang basah adalah najis, dan mesti mandi. Kesimpulan fikih itu, tentu saja melalui proses bernalar yang panjang dan ayat Alqurannya sedikit dan tidak eksplisit: "Innamâ al-musyrikûn najasun" (orang musyrik itu najis). Pertanyaannya: Apakah yang musyrik itu orang atau tubuhnya atau bila tubuhnya basah saja? Bagaimana kalau tubuhnya kering? Contoh ini sudah mesti mengalami proses berfikir atau penalaran. Ada kemungkinan, orang-orang yang dihadapi Mas Ulil adalah orang-orang yang berpendapat bahwa pendapat mereka itu semata Alquran. Mereka mungkin akan mengatakan: "Kalau tidak percaya orang musyrik itu najis, baca dong ayat ini: "Innamâ al-musyrikûn najasun." Kita bisa bertanya lebih lanjut: dari mana Anda tahu?

Mungkin contoh lebih kongkrit adalah masalah boleh tidaknya orang non-Islam masuk masjid berdasar dalil "innamâ ya`muru masâjidallâh…" (yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang beriman saja)?
Betul. Untuk sampai pada kesimpulan begitu, kan melalui proses berpikir. Alquran secara tegas begini: "Sesungguhnya yang memakmurkan mesjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman pada Allah…"Ayat itu sebetulnya berbentuk "berita" saja. Tapi apakah defenisi "memakmurkan" di situ termasuk di dalamnya kegiatan memasuki masjid? Terus, ayat itu kan tidak secara eksplisit mengatakan kalau orang kafir tidak boleh masuk masjid. Di situ, yang dikatakan hanya orang mukminlah yang memakmurkan masjid.

Konon, katanya ada `adât al-taqshîr (kata yang berfungsi sebagai pembatas), pada kata innamâ (hanya/saja -red). Kalau ada kata innamâ, itu berarti ada pembatasan. Lalu, ada proses penyimpulaan dengan mekanisme mafhûm al-mukhâlafah (analogi terbalik -red). Ahli fikih sampai pada kesimpulan: "Bila dalam redaksinya hanya orang-orang mukmin yang memakmurkan masjid, maka mafhûm mukhâlafah-nya, yang tidak beriman tidak boleh memakmurkan masjid. Tapi perlu diingat, dalam Ushul Fikih saja, pemakaian mafhûm mukhâlafah ini juga polemik di kalangan ulama. Polemik itu menyangkut apakah ia boleh dijadikan dalil atau tidak? Sebagian ulama mengatakan tidak boleh. Jadi dari sini jelas terlihat banyaknya proses berpikir dalam penyimpulan hukum Islam.

Golput : Bukan Karena Bangun Siang

Lupa. Mungkin ini di Kompas Online. Oktober 2008 (ada yang tahu?)

Ujung ibu jari dan telunjuk Megawati saling menempel membentuk bulatan, tiga jari lainnya dibiarkan terbuka. Bahasa jari yang oleh pemiliknya sendiri diterjemahkan sebagai sikap 'tidak memilih' alias berjejer dalam barisan golongan putih (golput).

Catatan sejarah membuktikan, golongan putih muncul justru dari kesadaran politik.

Ujung ibu jari dan telunjuk Megawati saling menempel membentuk bulatan, tiga jari lainnya dibiarkan terbuka. Bahasa jari yang oleh pemiliknya sendiri diterjemahkan sebagai sikap 'tidak memilih' alias berjejer dalam barisan golongan putih (golput). Jari-jari yang sama sebelumnya digunakan untuk menyeka air mata.

Hari itu, Kamis, 22 Mei 1997. Di halaman rumahnya di Kebagusan III, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato dengan suara lantang dan tegas. Sebagai pribadi, "Saya tak akan menggunakan hak politik untuk memilih dalam pemilihan umum.

Latar perkara, kita telah mafhum. Kantor Mega di Jalan Diponegoro diserbu oleh massa yang disokong otorita keamanan waktu itu dan pemerintah hanya mengakui PDI versi Soerjadi. Sampai sekarang pun Mega belum menang untuk menyeret konseptor dan promotor penyerbuan ke penjara.

Megawati memang memilih tak datang ke bilik suara waktu itu. Tapi, lain lagi anjuran Mayjen Theo Syafei, orang dekat Mega. Kata dia, sewaktu menyampaikan orasi di depan 100 mahasiswa Universitas Petra Surabaya, 1997, kalau mau golput jangan diam di rumah. Nanti dicoblosi oleh orang lain.

Datang dan coblosi tiga-tiganya," ajar Theo. "Itu lebih baik karena berarti rakyat menyampaikan protesnya kepada pemerintah lewat pemilu bahwa tak ada wakil rakyat yang dapat dipilihnya." Istilah populer waktu itu, goltus alias golongan tusuk semua.

Cara apa yang dianjurkan untuk golput sekarang?

Jangan tanya ke Theo maupun Megawati. Kalau sekarang ditanya begitu, salah-salah dituduh melanggar undang-undang pemilu karena menganjurkan golput memang dilarang. Walaupun golput telah muncul sedari pemilu pertama digelar di Indonesia, 1955.

Angka golput paling tinggi malah terjadi pada pemilu pertama yang dikenal sebagai pemilu paling demokratis itu. Dari total pemilih terdaftar sebanyak 43.104.464 jiwa, terhitung 12,34 persen masuk kategori golput. Pada pemilu awal orde baru, tahun 1971, persentasenya memang langsung menurun. Hanya 6,67 persen dari 58.558.776 pemilih terdaftar. Tapi, dari pemilu ke pemilu berikutnya, terjadi peningkatan tak kalah tajam. Rata-rata mencapai 2 hingga 2,5 persen. Bila pada pemilu 1977 golput naik menjadi 8,40 persen periode berikutnya mendekati angka 10 persen. Bahkan pada pemilu 1999, setelah Soeharto jatuh yang dianggap sebagai penanda kemunculan reformasi, golput tetap lebih tinggi dari pemilu 1997. Tercatat 10,40 persen dari sebelumnya 10,07 persen.

Penganjur"jangan memilih" di pemilu pertama orde baru, salah satunya yang sampai sekarang dikenal sebagai juru bicara golput, Arief Budiman. Bersama-sama dengan Husein Umar, Julius Usman, Imam Waluyo juga Marsillam Simanjuntak dan Asmara Nababan, Arief mendeklarasikan gerakan moral bernama Golput. Hari itu, hari Kamis, 3 Juni 1971.

Para pemrakarsa menilai pemilu yang digelar oleh Soeharto sangat jauh dari demokrasi. Selain membatasi jumlah organisasi peserta pemilu, dan makin ketahuan pada pemilu 1977 yang hanya menghadirkan 3 parpol, Soeharto melalui perangkat militernya memaksa warga negara memilih Golongan Karya (Golkar). Dan nama golput memang dimaksudkan sebagai 'berdiri di seberang' Golkar. Lambang kampanye golput pun dibuat seperti tanda gambar Golkar. Warna putih tanpa noktah apapun dalam bidang segilima yang dialasi dengan banner.

Jalan yang diretas Arief Budiman dan kawan-kawannya itu bergulir ke pemilu berikutnya. Masih dengan latar soal yang sama, sistem politik Indonesia tak kunjung membaik. Meski gerakan moral ini dianggap kecil, tapi represi pemerintah memperlihatkan kenyataan lain. Golput, bukan sekedar upil yang mengganggu jalur pernafasan.

Buktinya, pemerintah Soeharto sampai perlu memenjarakan sejumlah aktivis. Diantaranya Poltak Ike Wibowo dan Lukas Luwarso, masing-masing dari Universitas Sultan Agung dan Universitas Diponegoro Semarang. Keduanya dianggap bertanggung jawab menggelar unjuk rasa di halaman Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 20 Mei 1992. Momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang digunakan oleh mahasiswa untuk menyikapi rencana pemilu, 9 Juni. Pemilu yang dinilai tak akan membawa perubahan apapun bagi Indonesia.

Guliran pemilu berikutnya sama saja.

Mahasiswa Universitas Indonesia, 21 Mei 1997, menggelar perhelatan"Aksi Putih Menyambut Pemilu 1997", di kampus Depok. Sekitar seratus mahasiswa mengenakan ikat kepala dari kain berwarna putih untuk melambangkan "bendera Golput". Aksi ini diproklamasikan sebagai puncak kekesalan mahasiswa setelah melihat pemilu 1971 - 1992 hanya dimanfaatkan untuk melanggengkan kekuasaan Golkar.

Aksi serupa terjadi di Malang, Yogyakarta dan Bandung. Di Yogyakarta, ratusan mahasiswa berpawai kendaraan sambil mengibarkan bendera putih. Di jalan, mereka tak diganggu aparat keamanan, lain lagi di kampus. Gedung Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga diserbu oleh Satgas Golkar. Di Bandung, aparat keamanan dari Kodam Siliwangi main adu cekatan dengan mahasiswa. Mereka menyita 5 ribu lembar pamflet yang sedianya disebarkan untuk kampanye golput.

Masih pada pemilu 1997, tokoh Oposisi Indonesia, Sri Bintang Pamungkas mendirikan partai politik. Namanya, Partai Uni Demokratik Indonesia (PUDI). Alih-alih berkampanye untuk kemenangannya, Sri Bintang malah menganjurkan orang untuk golput. Alasan dia, karena partai-partai peserta pemilu tetap mencalonkan Soeharto sebagai presiden periode 1998-2003. Anjuran golput ala Bintang disampaikan melalui kartu ucapan Hari Raya Idul Fitri. Gara-gara kartu ucapan golput ini, Jaksa Agung Singgih memeriksa Bintang, 5 Maret 1997 dan menahan dengan sangkaan tindak pidana subversif.

Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) mengeluarkan "Pesan Moral"yang ditandatangani tuju organisasi pemuda di kalangan NU, kecuali Gerakan Pemuda Anshor. Ketika itu, sang ketua, Drh Iqbal Assegaf dicalonkan menjadi anggota DPR dari daerah Jawa Timur. Sementara Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) menerbitkan Surat Gembala Pra Paskah 1997. Isinya, iimbauan moral kepada para pemilih untuk mengikuti hati nurani dalam menetapkan pilihan.

Bila merasa tidak terwakili dan yakin dengan suara hati yang jernih dan kuat, KWI dapat mengerti kalau hal tersebut mengungkapkan tanggung jawab dan kebebasan dengan tidak memilih," kata Direktur Eksekutif Pelayanan Krisis dan Pelayanan Rekonsiliasi KWI Romo Ismartono kala itu.

Seruan Golput juga muncul melalui kampanye di internet yang menamakan diri situs Golput, 6 Maret 1997. Di luarnegeri, Perhimpunan Pemuda Indonesia (PPI) Jerman dan API Indonesia, 20 Mei 1997, menyuarakan suara senada.

Hari ini? Juru bicara Golput, Arief Budiman, menilai proses demokrasi yang terjadi masih jauh dari harapan. Tapi, "Saya berpendapat, bergolput saat ini hukumnya 'tidak wajib' seperti saat kita bergolput pada tahun 1971.

Alasan Arief, tahun 1971 partai-partai yang tak disukai pemerintah dilarang berdiri atau didirikan kembali. Sekarang, partai-partai berhak berdiri tanpa halangan sepanjang memenuhi kriteria administratif. Maka, kata dia, tak wajib memboikot pemilu 2004. "Cuma, kalau amteri yang akan dipilih kita anggap di bawah standar, apa boleh buat. Golput menjadi halal," tandas Guru Besar Kajian Indonesia di Universitas Melbourne, Australia, ini.

Curi start kampanye, ijazah palsu, Golkar yang jadi lawan golput tetap eksis dan bisa merayu" aktivis mahasiswa penumbang Soeharto ikut di bawah payung beringin, apa materi yang ada masih memenuhi standar? Mari menghitung hari.

Airlambang | Andy Lala Waluyo

Selasa, Februari 17, 2009

Soeharto Raja Presiden 1971-1998


PARA PRESIDEN INDONESIA DAN ALMAMATER

1. Yang paling banyak
Universitas Indonesia adalah universitas yang paling banyak memproduksi menteri. sejak zaman kabinet Orla, Orba, Orde Reformasi, sampai Kabinet Indonesia Bersatunya SBY sekarang ini, alumni UI secara rata-rata paling banyak nyangkut di kabinet. Tapi untuk untuk jadi presiden? Belum pernah.. calon saja belon ada kok. Sepertinya UI hanya spesialis produsen menteri saja.

2. Yang paling produktif
Ternyata ITB adalah perguruan tinggi yang paling produktif sampai saat itu karena sudah mampu menelorkan dua presiden Indonesia, yaitu Soekarno dan Habibie.

3. Yang paling sial
UGM termasuk kategori yang paling sial, salah satu alumninya, sudah S3, professor (Amin Rais) dan selama 5 tahun “magang” di MPR untuk mempersiapkan diri sebagai calon presiden, dan didukung organisasi alumni pula.. eh ternyata gagal total menjadi presiden..

4. Yang paling jago strategi
IPB, ternyata adalah yang paling jago dalam hal strategi. Karena tahu persis kapan harus bertindak.. persis saat-saat ‘injuri time’, yaitu pada hari H-2, sebelum hari pencoblosan, memberikan gelar doctor (S3) untuk calonnya (SBY) dan ternyata sukses besar menjadi presiden…

5. Yang paling hebat
Tapi ITB dan IPB jangan sombong dulu, keduanya butuh waktu lama untuk mendidik alumninya (sampai S3 dan professor segala) untuk bisa menjadi presiden, yang paling hebat adalah UNPAD, karena cukup mahasiswa ‘drop out’ Fak Pertaniannya untuk bisa menjadi presiden (Megawati). Jangan meremehkan drop-out. Karena Gus Dur pun adalah juga seorang drop out. Bedanya, drop out dari Universitas Al Azhar Mesir dan Universitas 1001 Malam Bagdad, Irak.

***

SOEKARNO

SOEKARNO adalah presiden pertama Indonesia. Kepribadiannya terbuka, kharismatik, dan kuat karakternya. Dalam kunjungan ke Amerika Serikat tahun 1961, pers Barat banyak mengritik Soekarno yang megaloman dan flamboyant. Bahkan, dalam soal perempuan, pers Barat menuding Soekarno mata keranjang, play boy, suka mencuri-curi pandang dan melirik jika melihat perempuan cantik.
Soekarno marah dan menyerang balik pers Barat.
“Soekarno mencuri pandang, dan melirik melihat perempuan cantik?” katanya di depan puluhan wartawan internasional yang mengerumuninya. “Jika ada perempuan cantik, Soekarno melihat dengan mata selebar-lebarnya. Bukan melirik, bukan mencuri pandang. Kalau Soekarno punya seratus mata, semuanya akan dipakai untuk melihatnya,...”

***

SOEHARTO

MATERI humor Soeharto, mendominasi buku ini, karena semula memang buku ini hanya berisi humor tentang Soeharto. Karena itu, humor Soeharto bisa didapatkan pada bab-bab lain. Kalau pun dimunculkan salah satunya di sini, hanya sekedar contoh. Sebagai berikut.

ORANG Madura terkenal dengan sifat fanatismenya. Salah satunya bisa disimak dari yang terjadi sekitar tahun 1980-an. Pada jaman Soeharto, orang Madura tak gentar dengan fanatismenya. Salah satunya, dialog berikut antara Soeharto dan orang Madura.
Soeharto : Siapa Presiden RI sekarang?
Madura : Bung Karno,...!
Soeharto : (dengan heran bertanya lagi ) Siapa presiden Indonesia ?
Madura : Soekarno,...
Soeharto : Lho kok bisa begitu? Kan Presiden RI sekarang Pak Harto?
Madura : Siapa bilang? Pak Harto itu ‘kan cuma penggantinya,...!

***


HABIBIE

HABIBIE selesai dioperasi jantung dengan sukses di Jerman (habis, di mana lagi). Dia pulang terbang ke Jakarta dengan Lufthansa. Sampai di bandara Cengkareng dia lihat, dari jendela pesawat, sudah banyak para pengagumnya menanti. Baik dari kalangan KMI mau pun dari BPPT.
Habibie tahu, orang-orang itu sangat mencintainya, sangat mengharapkan kesehatannya pulih kembali, dan sebab itu dia ingin memberi kesan bahwa dia punya Gesundheit atawa kesehatan adalah walafiat atawa baik belaka. Waktu turun dari tangga pesawat, dengan gagah dia loncat dari anak tangga terakhir, ke tarmac (aspal landasan).
Di barisan depan penyambut ada Nasir Tamara, pengagumnya nomor wahid. Nasir sangat kaget dan terpesona dengan demonstasi kecil itu, dan datang memeluk Habibie. “Mein Gott” seru Nasir berdecak.
Habibie pun menjawab sambil berbisik, “Ach, Nasir, ingat ya, kalau di depan umum panggil saja saya Pak Habibie!”

***

GUS DUR


SUATU siang yang cerah di perairan Australia, di atas geladak USS Kitty Hawk berkumpullah pemimpin negara Indonesia, USA, dan Inggris untuk membahas soal keamanan di seputar pasifik.
Dalam suatu perbincangan, presiden USA George W.Bush memamerkan keberanian US Marine Corpsnya.
Bush berkata : “Bapak-bapak semua, US Marine adalah prajurit paling berani di dunia. Mau lihat buktinya?”
Bush kemudian memperintahkan kepada prajurit marinirnya. “Mayor! Cepat terjun ke laut dan berenang memutari kapal ini sepuluh kali”.
Mayor tersebut melihat ke bawah laut. Di sana telah berkumpul ikan-ikan hiu ganas yang sangat banyak. Tapi karena perintah Presiden, dia pun melompat dan berhasil berenang memutari kapal sebanyak sepuluh kali. Setelah naik ke geladak, mayor tersebut menghadap Bush sambil berkata, “Perintah telah dilaksanakan, God Bless America!”
Tony Blair tak mau kalah, “Gurkha Inggris adalah yang paling berani.
Kemudian dipanggilnya personil Gurkha, “Sersan! Terjun ke laut dan putari kapal ini sebanyak limapuluh kali.”
Byurrrr, sang sersan Gurkha langsung nyebur. Dan setelah 50 putaran, dia naik ke geladak sambil berkata “Perintah telah dilaksanakan, God save the Queen!”
Gus Dur tidak mau kalah. Dipanggilnya Kopral Jono. Kelasi juru masak di kapal perang TNI AL. “Kopral ! Terjun ke laut, dan putari kapal ini seratus kali!”
Kopral Jono menyahut spontan: “Dasar presiden gila! Masa’ saya disuruh terjun ke laut putari kapal 100 kali! Mana di bawah banyak hiunya lagi, bisa mampus saya! Dasar nggak punya otak huhhh!”
Sang Kopral berlalu pergi sambil ngedumel panjang kali lebar.
Gus Dur terkekeh penuh kemenangan. “Heh, he, he,... Sekarang lihat, siapa
yang prajuritnya paling berani?”

***

MEGAWATI

Setelah peristiwa 27 Juli 1996, kabar santer mengatakan “Megawati tidak mau dipanggil Pak Harto”, kata seorang teman. Bahkan, isyu itu makin dikuatkan, ketika meninggalnya Soeharto pun, Megawati memilih ngelencer ke luar negeri. Alasannya, mendapat undangan khusus dari petinggi negara di Eropa.
Bisa dimengerti, Megawati mungkin benar-benar sakit hati. Sejak ayahnya, Soekarno jadi pesakitan Soeharto paska 1965 sampai kematiannya, kehidupan keluarga Soekarno dipersulit. Bahkan, kuliah Megawati pun berhenti karena amputasi politik yang dilakukan Soeharto.
Tapi, benarkah tiada maaf, hingga Megawati tak mau dipanggil Pak Harto?
Sumpah mampus. Soekarno adalah presiden yang romantis. Hampir semua anaknya, diberi nama yang gagah dan indah. Lihat saja, Guntur, Guruh, Bayu, Taufan, Mega. Megawati sering dipanggil Bu Mega atau Mbak Mega. Lha, masa’ sudah diberi nama cantik macam “Megawati” kok di panggil “Pak Harto”, mana sudi!

***

SBY-JK


Banyak banget yang lucu. Nggak muat tempatnya, sumpih!


Dikutip dari buku "Orba-orbi Raja Presiden dan Murid-muridnya", Alfa Media, Yogyakarta, 2008.

Minggu, Februari 08, 2009

Soeharto dalam Pemasaran Politik PKS


Tempo Interaktif, Rabu, 10 Desember 2008 | 15:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sungguh biasa secara artistik, tidak secara politik. Inilah iklan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang belakangan jadi menu utama di atas meja diskusi kita.

Secara artistik, iklan berdurasi 31 detik itu tak istimewa. Narasinya terlampau verbal: ”Mereka sudah lakukan apa yang mereka bisa, mereka sudah beri apa yang mereka punya, mereka guru bangsa kita, mereka pahlawan kita, mereka motivator kita, mereka ilham bagi masa depan kita. Terima kasih guru bangsa, terima kasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS untuk Indonesia sejahtera.”
Suara sang narator juga seperti tercekat di kerongkongan. Pecah. Tak bulat dan jauh dari bertenaga seperti teriakan khas Soekarno. Lebih mirip teriakan demonstran pada hari-hari antara 1997 dan 1998. Visualisasinya berupa gerak perpindahan slide standar, menampilkan sosok Soekarno, Soeharto, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, M. Natsir, Mohammad Hatta, Jenderal Sudirman, dan Bung Tomo.
Tapi iklan itu tak biasa secara politik. Ia mendulang kontroversi lumayan panjang, terutama lantaran sosok Soeharto. Sebagian kalangan menolak penahbisan sang Jenderal Besar sebagai pahlawan dan guru bangsa. Sebagian kalangan bahkan langsung menaruh PKS di keranjang partai antireformasi.
Iklan itu pun menjadi salah satu pertaruhan penting PKS dalam mengulang sukses Pemilu 2004. Sebegitu penting dan genting perkara ini bagi PKS? Produktif atau kontraproduktifkah iklan itu bagi upaya PKS meraih target 15 persen suara atau 20 juta pemilih dan menjadi tiga besar?
Mari kita telisik perkara ini dengan teropong ”pemasaran politik” (political marketing). Sukses sebuah iklan dinilai dari keberhasilannya memperluas dukungan bagi produk politik (partai, kandidat, kebijakan, dan presentasi ketiganya) yang ditawarkan.
Masalahnya, tak ada iklan yang bisa efektif menjangkau semua karakter calon pemilih. Fungsi sebuah iklan pun mirip-mirip penepuk lalat. Anda mesti berkonsentrasi pada satu atau beberapa lalat saja. Ketika sang lalat tertepuk, Anda mesti menerima konsekuensi serta merta: lalat-lalat lain akan terbang menjauh dari jangkauan. Untungnya, tepukan bisa diulang-ulang untuk memperbanyak jumlah korban.
Begitulah logika kerja sebuah iklan politik. Semakin tegas, benderang, spesifik, dan tajam sasaran yang dibidiknya, semakin besar potensi sukses sang iklan. Sebagaimana menepuk lalat, Anda lalu bisa membuat banyak iklan untuk beragam sasaran bidik.
Celakanya, pemilih bukanlah lalat. Setiap karakter pemilih membutuhkan langgam ”tepukan” berbeda. Beriklan banyak untuk sasaran bidik beragam boleh saja. Tapi hasilnya akan lain manakala langgam iklan-iklan itu tak berkesesuaian, apalagi jika berbalas pantun, saling menyerang. Maka, alih-alih memperluas daya jerat, sang iklan akan membikin kabur identitas partai dan para pemilih potensialnya.
PKS rupanya tak ingin makan buah simalakama itu. Mereka tak membuat banyak iklan dengan target bidik beragam. Mereka membuat satu porsi gado-gado: Satu iklan yang menggabungkan banyak ikon, untuk satu kali tepukan. Plaaak! Berapa banyakkah yang tertangkap dan yang terbang menjauh?
Asumsikanlah bahwa PKS merupakan partai rasional yang dikelola politikus akil balig. Maka, iklan ”Soeharto guru bangsa” bisa jadi dilandasi kesadaran PKS tentang pentingnya ketokohan dalam menentukan pilihan sekaligus tentang sempitnya ceruk pasar partai-partai berbasis massa Islam.
Berdasarkan pendataan Litbang Kompas (2008), dalam Pemilu 1999, ceruk pasar itu hanya didiami 37,54 persen dari total pemilih. Sekalipun jauh lebih besar ketimbang ceruk partai berbasis massa Kristen, kedaerahan, dan etnik (1,42 persen), ceruk itu lebih kecil daripada ceruk partai-partai berbasis massa majemuk (61,04 persen). Dalam Pemilu 2004, perbandingan ketiga ceruk pasar ini tak bergeser terlalu jauh, menjadi 38,33 persen berbanding 2,14 persen berbanding 59,53 persen.
Celakanya, sebagaimana dibuktikan Dwight King dan Anies Baswedan (2005), para pemilih Indonesia bukanlah pelintas batas. Jangankan menyeberang ke partai-partai majemuk, para pemilih partai Islam cenderung mengalihkan dukungannya ke partai berbasis massa Islam lainnya. Pemilih ceruk lain juga setali tiga uang.
Pertarungan pokok pun terjadi di dalam ceruk, bukan lintas ceruk. Fakta ini tegas terlihat di Jakarta. Di daerah pemilihan paling prestisius yang dimenangi PKS pada Pemilu 2004 ini, tujuh partai berbasis massa Islam meraih 1.891.641 suara (46,89 persen); hanya berselisih kecil dengan suara yang diperoleh 16 partai berbasis massa majemuk (1.911.666 suara atau 47,39 persen). Sedangkan sisanya, 5,72 persen atau 230.657 suara, diraih partai berbasis massa Kristen (PDS).
Ternyata, para pemilih Jakarta bukanlah para pelintas batas ceruk. Dari Pemilu 1999 ke 2004, PBB, PPP, dan PAN masing-masing kehilangan berturut-turut 0,7 persen, 9,7 persen, dan 9,1 persen suara. Hilangnya 19,5 persen suara itu beralih ke tiga partai berbasis massa Islam lainnya, yakni PKB (bertambah 0,1 persen), PBR (3 persen), dan terutama PKS (bertambah 18,4 persen).
Situasi di ceruk pasar majemuk juga serupa. Suara PDIP dan Partai Golkar yang hilang (berturut-turut 25 persen dan 2,1 persen) ternyata lari ke sang pendatang baru, Partai Demokrat (20,2 persen) dan partai-partai majemuk lainnya.
Menyadari fakta itu, PKS rupanya merasa perlu membuat upaya luar biasa yang tak lazim untuk menjangkau para pemilih secara lintas ceruk. Mereka berusaha menjangkau para pemilih partai Islam sekaligus partai nasionalis-plural. Alasannya, mustahil PKS bisa meraih 15 persen suara hanya dari dalam ceruk sempit partai-partai berbasis massa Islam.
Pada titik itulah iklan ”Soeharto guru bangsa” menemukan relevansinya. Iklan itu adalah alat penepuk PKS untuk menggaruk pemilih dari semua ceruk. Iklan ini pun senapas dengan upaya PKS membuka selubung dirinya, berusaha menjadi inklusif via beragam cara. Mereka mendatangi sejumlah puri (belum pura) terpenting di Bali, mengumumkan bahwa calon anggota legislatif PKS tak harus orang PKS dan tak harus orang Islam. PKS menerbitkan buku tebal berisi platform partai yang menegaskan pemihakan pada demokrasi dan kemajemukan, melanjutkan dan meluaskan jargon partai dari ”bersih dan peduli” menjadi ”bersih, peduli, dan profesional”, dan seterusnya.
Maka, di satu sisi, iklan ”Soeharto guru bangsa” adalah sebuah upaya rasional sebuah partai yang berusaha melakukan ekspansi pasar secara segera. Tetapi, di sisi lain, iklan itu menegaskan alpanya PKS pada sumber-sumber utama pendongkrak suara mereka dalam Pemilu 2004.
Dalam Pemilu 2004, selain dari kerja organik partai, sukses PKS berasal dari dua sumber pokok: moderasi yang terjadi di kalangan pemilih muslim (sebagaimana ditunjukkan oleh serial riset R. William Liddle dan Saiful Mujani) dan sukses PKS membuat positioning-diferensiasi-branding yang tepat berhadapan dengan partai-partai Islam lainnya.
Pemilu 1999 dan 2004 menunjukkan bahwa kalangan Islam puritan, radikal, fundamentalis—atau apa pun namanya—adalah kelompok kecil bersuara nyaring. Alih-alih fundamentalisasi, arus utama yang terjadi di kalangan pemilih muslim adalah moderasi, bergerak makin ke tengah. Kepada merekalah PKS datang menawarkan citra, identitas, dan integritas partai yang berbeda dari partai-partai Islam konvensional. PKS menawarkan platform yang atraktif ketika partai-partai Islam lain masih terus sibuk dengan syair-syair lapuk yang diulang-ulang.
PKS pun berhasil membengkakkan raihan suaranya karena berhasil menjadikan dirinya sebagai kalimatun sawa, titik temu, bagi para pemilih muslim-rasional-kalkulatif. PKS alpa bahwa mereka inilah yang potensial menjauh terbang akibat tepukan iklan ”Soeharto guru bangsa” itu.
Maka, jika tak ada upaya-upaya pemasaran politik baru yang layak, sangat boleh jadi, iklan itu membikin PKS mengeluarkan ongkos politik teramat mahal. Sekalipun, tentu saja, sebuah partai tak akan mati terbunuh oleh sebuah iklannya.

EEP SAEFULLOH FATAH, Anggota Komunitas ”Para Penagih Janji”

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...