Selasa, Januari 14, 2020

Politik Sebagai Kejahatan Terselubung


Politics is more difficult than physics, ujar Mbah Kyai Albert Einstein. Politik lebih sulit daripada fisika. Benarkah? Tapi mengapa Napoleon Bonaparte malah berkata dalam politik kebodohan itu bukan suatu penghambat? Meski memang ada yang absurd, seperti kata Will Rogers, yang pelawak politik: Politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun kita harus mengeluarkan banyak uang.

Tulisan ini, dibangun dengan banyak kutipan pemikir, filsuf, jurnalis, pelaku, untuk sekedar membuktikan, bagaimana politik sudah membuat persoalan sejak lahirnya. Dan juga untuk berusaha jujur, bahwa tidak ada pemikiran baru di dunia ini. Sebagaimana ujar Pramoedya Ananta Toer, hanya tafsirnya yang tampak hebat.

Lihat skandal PDIP sekarang ini, berkait kasus PAW-nya yang heboh. Sebagai partai politik pemenang Pemilu, bahkan menguasai parlemen. Undang-undang Pemilu mereka (parlemen) yang membuatnya. Tapi ketika pilihan sistem proporsional terbuka merugikan, mereka melakukan uji materi atas produk mereka sendiri. Kebodohan mana lagi kau dustakan? Benar kata Napoleon di atas, bodoh nggak soal!

Politik adalah seni mencari masalah, menemukan di mana-mana, mendiagnosis itu salah, dan menerapkan solusi yang salah, ujar Groucho Marx. Memang, sebagaimana dirumuskan Paul Krugman, ekonom AS; Politik menentukan siapa yang akan memiliki kekuasaan, bukan memiliki kebenaran. Sementara Clement Attlee, yang pernah menjadi PM Inggris, mengatakan; Demokrasi adalah pemerintahan yang diisi dengan banyak diskusi, namun demokrasi hanya efektif bila engkau mampu membuat orang lain tutup mulut.

Bagaimana cara menutup mulut orang lain? Ya, itu tadi, menang-menangan dengan sebutan dan besutan demokrasi atau hukum. Dan praktik kekuasaan (bukan praktik kebenaran) itu, akan makin subur dalam warga negara yang cuek. Yang hanya akan teriak-teriak ketika kerugian menimpa dirinya dan kelompoknya semata. Jika kepentingan liyan yang jadi korban, cuek bebek dengan berkata; Bukan urusan saya. Saya, mah, gini aja udah bahagia.

Maka benarlah Hitler, alangkah beruntungnya penguasa, bila rakyatnya tidak bisa berpikir. Apalagi, lanjut Hitler, aku tidak perlu berpikir karena aku adalah pegawai pemerintah. Mungkin sebagaimana pendapat Henry Ford, pendiri Ford Motor: Berpikir adalah pekerjaan terberat, karena itulah sedikit sekali orang yang mau menggunakan otaknya.

Bagaimana politik menjadi sulit dan menyebalkan? Ketika politikus berkhianat, seperti dikatakan Joseph Schumpeter. Tugas politikus sesungguhnya melaksanakan kehendak rakyat. Namun, tambah Joseph, yang terjadi mereka hanya mementingkan dirinya sendiri.

Sementara kita tahu, sebagaimana dirumuskan sastrawan Inggris, Aldous Huxley; Paling kurang dua-per-tiga kemalangan kita berasal dari kebodohan manusia, kebencian manusia, dan para motivator dan hakim penentu kebencian dan kebodohan, idealisme, dogmatisme, dan penyepuhan label atas nama berhala agama atau politik. Setidaknya, dusta atau kebohongan itu, bersimaharajalela di tengah masyarakat abai. Abai terhadap apa? Abai pada permasalahan bersama, dan hanya asyik karena ia sendiri merasakan kenyamanan.

Sementara itu, ada sisi lain, sebuah monster kekuasaan bergerak, justeru mengatasnamakan kepentingan bersama. Partai politik, sebagaimana agama, menjadi kekuatan, atau kekuasaan, yang korup. Pada akhirnya menjadi predator bagi peradaban kemanusiaan. Tak semua politikus busuk, iya. Ada banyak manusia yang punya prinsip di partai-partai politik sebuah negara, namun menurut Alexis de Tocqueville, sejarawan dan pemikir politik Perancis, tak ada partai yang punya prinsip.

The whole art of politics consists in directing rationally the irrationalities of men, tulis Reinhold Niebuhr. Seluruh seni politik terdiri dari mengarahkan secara rasional irasionalitas manusia. Hasto Kristianto, dan beberapa elite PDIP hari-hari ini misalnya, mempraktikkan seni permainan itu. Victim playing. Mereka mengatakan korban dari sebuah framing media. Sembari terus mengatakan keberpihakan pada wong cilik, moralitas, demokrasi. Sebagaimana ditulis aktivis sosialis Jerman, Oscar Ameringer; Politik adalah seni halus mendapatkan suara dari orang miskin dan dana kampanye dari orang kaya, dengan menjanjikan melindungi satu dari yang lain. Itu kenapa seolah tiba-tiba ada orang baik budi, seperti Harun Masiku. Mengeluarkan uang ratusan juta, mungkin sampai milyar rupiah, untuk disebut Hasto sebagai ‘orangnya bersih’ dan ‘track-record’-nya jelas. Tapi tega nyuap!

Tidak ada sikap dan aksi yang jahat, atau khianat yang partai politik tak mampu lakukan, ujar Benjamin Disraeli. Karena apa? Kata orang yang pernah jadi PM Inggris itu, dalam politik tidak ada kehormatan! “Saya dahulu bilang bahwa politik adalah profesi tertua ke-dua di dunia,” berkata Ronald Reagan, Presiden AS beberapa tahun lampau. “Yang pertama adalah prostitusi. Namun saya baru menyadari bahwa politik sama kotornya dengan prostitusi.”

Maka, di negara di mana setiap orang dianggap bersalah, satu-satunya yang bisa dibilang kriminal hanyalah mereka yang tertangkap, dan satu-satunya yang bisa dianggap dosa adalah kebodohan. Itu tulis Hunter Thompson, jurnalis Amerika Serikat. Kalau partai politik, PDIP, bisa menunda penyelidikan KPK atas ruangannya, tetapi senyampang itu menyatakan mereka komit mendukung penegakan hukum, kita hanya bisa ketawa kecut. Dan politikus seperti Hasto, tentu tak akan sebodoh Harun Masiku. Makanya jadi sekjen.

“Kalau partai politik tak punya fondasi dalam memajukan keadaan menjadi lebih benar dan bermoral,” berucap mantan Presiden AS, Dwight Eisenhower, “maka itu bukanlah partai politik, melainkan hanya konspirasi untuk merebut kekuasaan!” Namun itu yang terjadi bukan? Dan konyolnya, seperti sindiran Charles de Gaulle, politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut bila rakyat mempercayainya.

Dan mereka bisa membodohi majoritas masyarakat diam. Meski di situ berkumpul orang pintar dan dengan keyakinan moral lebih bagus. Itu membuktikan kebenaran omongan Jesse Jackson, aktivis HAM AS; Dalam politik, satu minoritas yang terorganisasi adalah satu mayoritas politik. Itu bukan hanya berlaku untuk parpol macam PDIP, Gerindra, atau Golkar. Tapi juga berbagai lembaga seperti PKS yang juga parpol, FPI, PA-212, dan bahkan HTI yang sudah dibubarkan pemerintah. Dan sebagainya.

“Berpikir tentang perubahan sosial yang mendalam, kaum konservatif selalu mengharapkan bencana,” kata Carolyn Heilburn, feminis. “Sementara kaum revolusioner dengan percaya diri mengharapkan utopia. Keduanya salah!” Kritik tajam Gustave le Bon, sosiolog dan psikolog dari Perancis; “Fase pertama evolusi demokrasi yang menang adalah menghancurkan aristokrasi lama, yang kedua untuk menciptakan yang baru.” Sama saja!

Maka sebagaimana pemikiran lama yang kini berkembang kembali, sebagaimana ditulis dalam buku Tremendous Trifles (1955) oleh Gilbert Keith Chesterton (1874 – 1936); You can never have a revolution in order to establish a democracy. You must have a democracy in order to have a revolution. Anda tidak akan pernah bisa menegakkan demokrasi dengan revolusi. Anda harus menggunakan demokrasi untuk melakukan revolusi.

Tapi seperti lingkaran setan. Diserahkan ke partai politik? Politikus? De Gaulle bahkan sampai pada kesimpulan, “Politik urusan yang terlalu serius untuk ditangani para politikus semata.” Jika sebuah system nilai, baik dalam politik maupun agama (dan apalagi jika keduanya dikawinkan), dipercaya begitu saja, atau didiamkan berkeliaran, ia akan sungguh berbahaya. Sebagaimana dikatakan Anais Nin, wartawan dan penulis Perancis, “Bila kita secara buta menerima sebuah agama, sebuah sistem politik, kita menjadi robot. Kita berhenti bertumbuh.”

Indonesia pada tahun-tahun ini, pasca 1998 dan menjelang 2045, ialah sebuah negara yang berada dalam persimpangan peradaban. Apakah akan setback ke masa-masa Orde Baru dan sebelumnya? Atau melangkah dengan generasi milenialnya dalam transformasi sosial masyarakatnya? George Santayana, filsuf dari Spanyol mengingatkan, “Mereka yang tidak belajar dari masa lalu, akan dihukum dengan mengulangi kesalahan yang sama.”

Apakah kita akan membiarkan semuanya ini? “Guna mengatur dunia,” berkata Konfusius, filsuf agung dari Cina, “pertama-tama kita harus mengatur bangsa; mengatur bangsa, pertama-tama kita harus mengatur keluarga; mengatur keluarga, pertama-tama kita harus mengembangkan kehidupan pribadi kita; pertama-tama kita harus menempatkan hati kita secara benar.”

Itulah sebabnya, John Adams, yang pernah jadi Presiden AS, menulis memoarnya; “Saya mesti belajar politik dan perang, agar anak-anak saya mendapatkan kebebasan untuk belajar matematika dan filsafat. Anak-anak saya harus studi matematika dan filsafat, geografi, sejarah alam, arsitektur laut, navigasi, perdagangan dan pertanian agar mewariskan hak kepada anak-anaknya untuk belajar melukis, puisi, musik, arsitektur, pembuatan patung, pembuatan kue, dan porselin.”

Art, freedom and creativity will change society faster than politics, tulis Victor Pinchuk. Seni, kebebasan, dan kreativitas akan mengubah masyarakat lebih cepat daripada politik. Tapi kalau seniman jadi anteng dan tertib dengan dana keistimewaan? Itu juga tidak istimewa lagi. Tak bisa diharap banyak.

You may fool all the people some of the time, you can even fool some of the people all of the time, but you cannot fool all of the people all the time, ujar Abraham Lincoln. Kamu mungkin dapat menipu semua orang selama beberapa waktu, kamu bahkan dapat menipu beberapa orang sepanjang waktu, tetapi kamu tidak dapat menipu semua orang sepanjang waktu.  | @sunardianwirodono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...