Senin, Juni 10, 2013

Soehartoisme dan Bahaya Latent Orde Baru Bangkit Kembali

Taufik Kiemas, adalah salah seorang korban politik Soehartoisme pada jaman awal Orde Baru (yang salah satu tekadnya adalah memberangus Sukarnoisme). Dan ketika TK, sebagai ketua MPR-RI meninggal, beberapa elite politik dan capres Indonesia tidak tampak melayat, karena dalam waktu bersamaan mereka sedang mengikuti haul kelahiran HM Soeharto di Solo dan Yogyakarta.
Sebagai suatu kebetulan, tidak ada yang aneh di sana. Tulisan ini juga tidak dalam semangat mengonfrontasikan antara TK dan HMS. Tulisan ini hanya ingin sekedar mengingatkan soal isme, paham, aliran, atau setidaknya sebuah sistem politik yang dibangun oleh seorang yang ditabalkan sebagai pemimpin, utamanya presiden di sebuah negeri yang mengaku demokratis.
Ketika saya melewati Ngawi, Sragen, Karanganyar, Solo (melintas di depan Kalitan), poster, spanduk, banner, baliho Soeharto, tampak meriah dipasang sepanjang jalan. Ada apa ini? Oh, ternyata akan ada hajatan besar, peringatan kelahiran HM Soeharto (yang lahir 8 Juni 1921).
Sebagai pribadi, Soeharto bisa jadi, dan bisa saja, pribadi yang baik. Namun sebagai presiden, dengan sistem pemerintahannya yang otoritarian (dalam politik, ekonomi, serta kebudayaan), menyebabkan bangsa ini macet, stagnan, dan mengalami involusi.
Maka yang lahir kemudian adalah formalisme dalam berfikir dan beragama, pragmatisme dalam bertindak, dan vandalisme dalam berkekuasaan.
Tanjakan peradaban bangsa yang dibangun sejak 1908, 1928, 1945, dan puncaknya 1955 (ketika Pemilu pertama di Indonesia), perlahan nyungsep karena perang dingin AS-Rusia, comunisto-phobia) hingga betapa dominannya Soehartoisme. Pandangan mutlak-mutlakan Soehartoisme, menyebabkan kita tidak terdidik dalam perbedaan dan diskusi, tak terlatih dalam negosiasi dan berdemokrasi. Sistem pendidikan, sistem ekonomi, bahkan berkeagamaan pun perlahan menjadi formal dan artifisial.
Dulu di jaman Soeharto, selalu dibanggakan swa-sembada beras. Namun program intensifikasi yang hanya memberi makan (eksploitatif dengan pupuk an-organik) pada tanaman, menyebabkan kini kualitas tanah kita hancur, dan butuh waktu puluhan tahun untuk mengembalikan kesuburannya (sehingga siapapun presiden setelah Soeharto, tidak akan mudah mencapai 'prestasi' Soeharto karena tanah itu telah dirusak sebelumnya).
Tanah sebagai dasar peradaban manusia yang hancur itu, sama halnya dengan hancurnya peradaban bangsa. Membutuhkan waktu untuk menyembuhkannya kembali. Kerusakan sistem kepemimpinan Soeharto yang eksploitatif itu, memotong sejarah perdaban bangsa sehingga kita macet dan tidak punya kemampuan eksplorasi.
Jangankan orang awam, kadang saya temu seniman dan ilmuwan, yang suka ngomong dan membela rakyat, tiba-tiba bisa berkata; Jaman Soeharto lebih enak ya? Meski jaman sebelumnya tidak lebih baik dari jaman Soeharto, namun keadaban bangsa berjalan lebih baik. Dan jaman setelah Soeharto, meski harus melalui proses penyembuhan (juga melewati proses pembusukan Soehartoisme) yang panjang, pasti akan lebih baik lagi. Tentu saja salah satu syaratnya adalah, meninggalkan ajaran dan sistem Soehartoisme yang mutlak-mutlakan, merasa benar sendiri, dan hanya mengabdi pada kepentingannya sendiri. Kita percaya, anak-anak muda generasi Anies Baswedan dan kawan-kawan seangkatannya, akan menjadikan Indonesia lebih baik, jika bahaya latent Orde Baru bisa kita lewati dengan baik pula. Butuh kesabaran untuk revolusi jiwa.
Soeharto sebagai pribadi mungkin baik. Tetapi sebagai pemimpin negara, kejahatan kemanusiaannya telah menjebak Indonesia dalam sebuah involusi kebudayaan. Dan hingga kini kita sedang merasai akibat-akibatnya.
Limabelas tahun reformasi, tampaknya makin penting mewaspadai bahaya latent Orde Baru. Termasuk mewaspadai para capres yang membawa-bawa nama atau foto Soeharto.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar