Selasa, April 02, 2013

Kisah Tentang Polisi yang Jujur



Markas Korps Lalu Lintas Polri di jalan MT Haryono, Jakarta, begitu megah. Fasilitasnya baru dan modern. Sayang, diduga ada aroma busuk di dalamnya. Pada 31 Juli 2012, belasan penyidik KPK mengobrak-abrik markas tersebut. Mereka mencari bukti-bukti keterlibatan Kepala Korps Lalu Lintas Irjen Djoko Susilo dan Brigjen Didik Purnomo dalam kasus dugaan korupsi simulator SIM. Bulan ini, April 2013, kasus Djoko Susilo diserahkan ke kejaksaan.
Dulu, tahun 1968, Brigjen Pol Ursinus Medellu yang membangun markas korps lalu lintas itu dengan susah payah. Mendiang adalah polisi jujur. Pencipta konsep BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor, pada tahun 1960-an) dan Tilang ini, melihat bahwa pendapatan dari hasil BPKB ternyata cukup besar. Meski begitu, sedikitpun tak terlintas di benak Ursinus Elias Medellu untuk mencari keuntungan, apalagi korupsi.
Semua pendapatan itu oleh Ursinus, digunakan untuk kesejahteraan polisi. Ursinus mewujudkan itu dengan melakukan sejumlah pembangunan, salah satunya adalah kantor Direktorat Lalu Lintas (kini Korps Lalu Lintas) itu.
Lima bulan berjalan, Ursinus yang sibuk baru melapor ke Panglima Angkatan Kepolisian (kini Kapolri) Jenderal Hoegeng Imam Santoso. Ursinus menjelaskan jika pembangunan gedung utama memakan biaya Rp 50 juta lebih, "Maaf Pak Jenderal, saya sudah menggunakan uang BPKB untuk membangun gedung. Rencananya untuk kantor Direktorat Lalu Lintas, karena ruang kerja kami di gedung Mabak terlalu penuh sesak," katanya.
Ursinus harap-harap cemas karena khawatir pembangunan itu tak disetujui. "Tapi kalau tidak disetujui, sudah ada orang yang mau membeli dengan harga Rp 120 juta. Jadi kita masih untung Rp 70 juta," ujarnya.
Susah payah Ursinus membangun gedung tersebut dengan kerja keras dan kejujuran. Kini keringat Ursinus dikhianati para polisi korup yang tak punya integritas. Ursinus membangun kantor dan fasilitas lalu lintas Polri dengan fasilitas terbaik ketika itu. Saking semangatnya bekerja keras untuk Polri, jenderal jujur ini lupa memperhatikan kesejahteraan keluarganya. Dia mati-matian mencicil rumah dengan uang pensiunnya.
Ursinus adalah kisah seorang polisi yang menolak sogokan bahkan hanya satu almari es pun. Ia pernah menolak mentah-mentah 1.000 liter minyak sawit waktu menjabat Kapolda Sumut (1972-1975). Selalu mengecek kesiapan anak buahnya jam 04.00, dan kalau ada anak buah kedapatan menerima uang dari jalanan, tanpa ampun ia akan kirim ke pendidikan lagi. Ia tak pernah membawa pulang uang, selain hanya dari gajinya semata. Ia paling benci dengan korupsi dan itu dibuktikan dengan tindakan nyata. “Kalau saya mau kaya, saya tak akan jadi polisi,” kata Ursinus yang bahkan tak mampu menguliahkan anak-anaknya dan tak mampu membeli rumah sendiri. Ia membeli rumah cicilan, dengan lebih dulu meminjam uang ibu mertuanya.
Ursinus bukan kisah polisi ecek-ecek, dia bukan pejabat rendahan, karena ia pernah menjadi Direktur Lalu Lintas Markas Besar Angkatan Kepolisian (1965-1972), Kapolda, dan pernah punya proyek BPKB, dan membangun markas polisi lima lantai di MT Haryono. Ursinus pula, yang menciptakan konsep tilang (pengganti langsung) untuk menekan korupsi polisi di jalanan, tapi berbalik dan akhirnya justeru hal itu dipakai juga alat untuk korupsi. Beliau adalah juga pengajar di PTIK (1975-2000), dan menjadi pengajar Djoko Susilo juga. Dan apa kata Ursinus tentang sang Djoko Susilo yang resmi bakal jadi terdakwa kasus korupsi? “Dia adalah murid kesayangan saya, dan dia murid terpintar,...”
"Papa bangga sekali dengan Djoko Susilo,” cerita Eli, anak Ursinus, yang tak bisa kuliah karena uang ayahnya pas-pasan, “nilainya paling bagus. Papa bilang tidak ada komandan lalu lintas penggantinya yang secerdas Djoko."
Tapi murid terpintar itu, tak sejujur gurunya yang meninggal 8 Januari 2012 itu, yang bisa membangun gedung polisi megah namun tak mampu membeli rumah sekali pun rumah sederhana bernama ‘gudang hantu’. Salute, Pak Jenderal Ursinus!

1 komentar:

  1. Semangat pagi, saya putra ke 4 dari ayah kami Alm. IrJen Pol. Drs. Ursinus Elias Medellu, mengucapkan terima kasih atas perhatiannya.Semoga keteladanan ayah kami bisa menginspirasi dan menjadi berkat bagi banyak orang.
    Saat ini kami masih berjuang untuk meneruskan amanat dari ayah kami yaitu:
    1. Mewujudkan apa yg belum sempat beliau selesaikan, yaitu menerbitkan buku biografi beliau, yang puji Tuhan sudah di launching dan diterbitkan oleh Gramedia, di bantu oleh Bp.Jendral Pol (P) Drs. Widodo Budidarmo, IrJen Pol (P) Drs. Putera Astaman dan banyak pihak lain.
    2. Menyelesaikan keinginan beliau untuk menyerahterimakan asset2 yg sudah diserahkan kepada Kantor Polisi Lalu Lintas, yg sekarang KorLantas, secara notarial (legal), karena pada saat diserahkan semuanya berupa sertifikat hak milik atas nama beliau, yg pernah sebagian diserahkan diatas materai (tidak sah).
    Demikian masih ada satu hal yang beliau inginkan, yang sampai saat ini masih kami perjuangkan, kami sudah coba melalui KaKorlantas Bp. Irjen Pol Drs. Pudji Hartanto, juga sudah coba melalui mantan Kapolri Bp. Jendral Pol Drs. Timur Pradopo, juga sudah coba melalui mantan WakaPolri Bp. Komjen Pol Drs. Oegroseno, yg di limpahkan kepada Bp. IrJen Pol Drs. Sulistyo Ishak sebagai Asrena, dan saat ini sedang kami perjuangkan melalui jalur lain yg saat ini adalah petinggi/ pejabat pemerintahan yang mengerti benar mengenai asset-asset tersebut.
    Salam hormat kami Keluarga besar U.E. Medellu
    Joel Medellu (joelmedellu@gmail.com)

    BalasHapus