Minggu, Juni 03, 2018

Prabowo: Ksatria Penunggang Kuda Poni di Atas Kuda Troya

Lawan Jokowi sesungguhnya bukanlah Prabowo Subianto. Prabowo mah kartu mati. Kartu mati? 

Prabowo Subianto, bekas Danjen Kopassus? Bekas Pangkostrad? Letjen, dengan tiga kali naik pangkat dalam setahun. Tapi tiba-tiba, Dewan Kehormatan Perwira pada Mei 1998, memberhentikannya. 

Wiranto, juga Fahrurrozy di DKP bilang, istilah diberhentikan penghalusan kata dipecat. Karena PS mantu penguasa sangar saat itu. Soeharto menciptakan soehartoisme dan the soeharto system yang akut, sampai kini. 

Setelah itu, tak ada keistimewaan Prabowo. Ia kemudian hanya pedagang biasa. Jika pun tampak luar biasa, karena akibat kekuasaan Orde Baru dulu. Tiba-tiba menguasai konsensi hutan sekian ribu hektar. Tiba-tiba bikin pabrik kertas, meski ngemplang karyawan. Dan, tiba-tiba, punya lahan luas di Hambalang. 

Menjadi ketua HKTI pun, berkonflik dan tersingkir. Di Gerindra, dengan system latihan dan disiplin militer, parpol ini kalah canggih dalam pengkaderan dibanding PKS, yang jauh lebih miskin tetapi elitenya kaya. Mangkanya Gerindra lengket dengan PKS. 

Sebagai politikus, Prabowo terlalu culun. Bahkan kini pusing belum maju nyapres, karena dikunci gertakan PKS. Partai padi kuning itu hanya akan berkoalisi dengan Gerindra jika cawapresnya dari PKS. Kini masih tarik ulur. Jika pun Prabowo nyapres, tapi cawapresnya bukan dari PKS, dan PKS tak protes, bisa jadi sudah untung besar. 

Lantas, Prabowo sendiri, bergerak atas nama apa dan siapa? Bisa jadi atas nama dendam tak berkesudahan. Ia merasa dikhianati sejak konvensi Golkar, perjanjian Megawati, Jokowi-Ahok, hingga kemudian Ridwan Kamil, dan seterusnya. Celakanya, nyapres 2014 kemarin dikalahkan anak kemarin sore, bernama Jokowi. Kampret ‘ndak tuh? 

Amien Rais selalu ngritik Jokowi agen asing dan aseng. Tak peduli sepak-terjang Jokowi yang keras kepala dan menantang Amerika Serikat. Di bawah Jokowi, Indonesia lebih percaya diri dan dihormati berbagai negara. Tetapi Amien Rais tak percaya, namanya orang nggak suka, atau dikecewakan. Buta mata dan hati. Pura-pura tak mendengar Hashim Djojohadikusumo menjual Prabowo lebih murah. Akan jadi mitra terpercaya pemerintah AS yang jinak jika pemerintahan Indonesia di bawah Gerindra. 


Jadi siapa yang kampret? Amien Rais, Prabowo, atau Hashim? Prabowo dilenakan para oportunis di sekeliling. Ketika Soeharto longsor, kelompok Islam garis kekuasaan (juga garis kekerasan), mencoba mengambil kesempatan. Militer pecatan dan yang kecewa, bergabung dengan para kombatan, hingga muncul FPI. Cendana nimbrung dengan sakit hatinya. 

Kemudian kita tahu, Kivlan Zein ngomong bahaya komunisme. Dagangan lama. Sementara Rizieq Shihab ngomong soal agamaisme. Dan para jirih itu menunggangi Prabowo, dalam kubangan kepentingan. Prabowo bak kuda Troya, yang menunggang kuda pony, atas nama sirkus demokrasi. 

Harusnya ia balik kanan, berkhidmat pada NKRI, juga pada para yang hilang, entah ke mana, termasuk Wiji Thukul dkk. Sekiranya tak berada dalam halusinasi.

2 komentar:

Khianat Politikus Ketika Keringat Rakyat Belum Kering

Oleh: Sunardian Wirodono Sudah jamak, pemilu usai rakyat ditinggalkan. Rakyat pemilik hak suara, sebagaimana...