Kamis, Februari 08, 2018

Dengarkan, Dengarkan. Saya Menderita tetapi Jangan Dianggap Nganu

Berapa kali dalam pernyataan persnya kemarin, SBY mengucapkan kata “dengarkan, dengarkan,…”? Yang bisa tepat menebak, mintalah sepeda motor pada Fahri, karena kalau Jokowi hanya ngasih sepeda onthel. 

Apakah kata-kata penting? Bukan hanya bagi Anies. Bagi semua orang yang berkomunikasi dengan bahasa verbal, tentu kata-kata itu penting. Karena penting, kata-kata bisa berbahaya. Apalagi yang memakai tak sejalan antara lambe dan dengkul, apalagi pikiran (kalau misalnya punya, setidaknya di dengkul). 

Karena bagi yang lamis, bagi yang punya hiden agenda, yang suka mlungker-mlungker, yang suka apologi dan sinis, kata-kata bisa sangat berbahaya dan menyesatkan.

“Ini perang saya, this is my war, ini jihad saya,…” demikian kata SBY kemarin. Tampak gagah sekali. Bikin miris, bagi yang miris. Bikin gemetaran, bagi yang gemetaran. Bagi yang pernah diajari teknik retorika oleh Fahri, apa yang disampaikan SBY tidak terlalu mulus. Masih ketahuan belangnya di mana. Anak polah, bapa memang mesti pradah. Pradah Muja Karana. 

Sejak kapan kita sibuk dengan pencitraan? Sejak partai politik marak didirikan di negeri ini, tapi lebih banyak yang memperlakukan sebagai perusahaan keluarga. Sama sekali hanya memakai politik untuk kendaraan pribadi, untuk rebutan kekuasaan.

Jika pun ada parpol yang berbeda, dari sejak 1998 itu, hanya satu yang menarik, yakni Partai Solidaritas Indonesia. Hampir semua anak muda, di bawah 40 tahun. Apakah mereka akan bisa sebagaimana En Marche, partai yang sama sekali baru dan didukung anak-anak muda, tapi sukses memenangkan pemilu di Perancis beberapa tahun silam? 

Atau, setidaknya seperti Aam Aadmi (Partai Rakyat Biasa) di India, yang bisa mengalahkan BJP, meski di tingkat local? Padahal BJP baru setahun mampu menggulingkan trah Nehru dalam pemilu nasional. Itu sungguh luar biasa mengingat Aam Aadmi, adalah anak-anak muda yang melakukan pendekatan berbeda, dari rumah ke rumah. Memberikan kesadaran politik, tanpa uang (maksudnya semacam mahar politik atau amplopan kayak di Indonesia). 

Saya menunggu kiprah anak-anak PSI ini, jika mampu memberi penyadaran, bahwa saatnya rakyat bergerak, dan tidak menyerahkan kekuasaan begitu saja (dengan menjadi golput), kepada para politikus busuk yang hanya berbekal nasbung, tapi mau untung seuntung-untungnya.

Dengarkan, dengarkan. Semakin mendesak, generasi baru mengambil alih dominasi generasi masa lalu, yang sibuk dengan pencitraan. Sibuk dengan drama-drama, klaim-klaim, dan sinetron-sinetron derita hidup sebagai korban, disamping isu sektarianisme yang kini dijadikan andalan. 

Mestinya, tiap pemilu adalah tahapan untuk regenerasi. Pembaruan kontrak politik. Dan biarkan Amien Rais cum suis saja, yang meyakini Prabowo akan menang di tahun 2019. Saya sih nggak ngarep.

 https://www.youtube.com/watch?v=0Jmn03gZGqA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Erick Thohir di Mana Sentuhannya pada Jokowi?

Ketika saya membaca biografi tulisan Alberthiene Endah, “Jokowi Menuju Cahaya” (2018), saya tidak merasakan roh atau spirit Jokowi. Deng...