Minggu, Januari 22, 2017

Wayang dan Islam dan Candu Masyarakat



Salah satu siyasah politik Kanjeng Sunan Kalijaga dalam syiar Islam di Jawa, ialah dengan seni wayang kulit. Hadirnya tokoh-tokoh seperti Semar, juga Sanghyang Wenang, Bethara Guru (yang beranak Brama dan Wisnu), adalah dekonstruksi ajaran Trimurti agama Hindu yang waktu itu banyak dianut di Jawa.
 

Dalam lakon-lakon wayang kulit kreasi Kanjeng Sunan Kalijaga, Bethara Guru (modifikasi Dewa Syiva) dapat dikalahkan oleh tokoh-tokoh wayang daratan (artinya bukan dewa), untuk memposisikan Sanghyang Wenang sebagai simbolisasi Allah subhanahu wa ta’alla, allah yang tunggal, dan tiada tuhan selain allah.

Tokoh-tokoh rekaan seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, berasal dari bahasa Arab; Sammir (ada pula yang menyebut Ismar), Khair, Fatruk, dan Bagho, yang jika dirangkai dalam Ma-Reng-Truk-Gong, sebagai para punakawan, artinya; "Berangkatlah menuju kebaikan, maka kamu akan meninggalkan keburukan".

Itu pula sebabnya senjata paling ampuh dalam wayang, Jimat Kalimasada (dua kalimat syahadat) menjadi pegangan utama. Dan di serambi Masjid Demak, tiap maulid nabi, selalu diadakan pertunjukan wayang kulit dengan lakon itu.

Bahkan, peresmian Masjid Demak, dimeriahkan dengan pertunjukan wayang kulit kreasi dan dengan dalang Sunan  Giri (setelah wayang berbentuk boneka dari Sunan Kalijaga ditolak para sunan lainnya).

Cerita wayang kulit di Indonesia, dalam banyak hal, berbeda dengan kitab asalnya Ramayana dan Mahabharata yang diampu dari India.

Bahkan kata mayang (yang diartikan memainkan wayang), bukan sekedar sifat pertunjukannya dari permainan bayang-bayang, melainkan dari bahasa Sanskrit, ‘ma hyang’, yang berarti menuju kepada roh spiritual, dewa, atau tuhan. Ma Hyang berarti menjalankan laku ibadah.

Begitu banyak kreasi Sunan Kalijaga, juga Sunan Gresik, Giri, Bonang,  Muria, dalam menciptakan kreasi budaya lokal. Seperti gamelan, tembang macapat, sebagaimana pula Pasar Malam Sekaten di kraton-kraton Mataram Islam, dalam rangka inkulturasi dan syiar Islam.

Wayang yang semula tumbuh di pesisir utara Jawa abad 17, kemudian menjadi kesenian rakyat. Berkembang hingga kini, dengan sangat beragam.

Tiba-tiba, kini di medsos ribut soal spanduk-spanduk, yang bertuliskan bahwa pemutaran (pertunjukan?) wayang kulit, tak sesuai dengan syariat Islam. Ini pertanda apa? Ini pertanda maraknya faham salafi yang dibawa kaum wahabi ke Indonesia.

Bukan sesuatu yang baru, tetapi akan membawa persoalan bagi Negara Republik Indonesia, yang dengan Pancasila mengampu kebinekaan, pluralitas, sebagai negara bangsa.

Sekarang terserah saja pada para kaum ulama, juga para aktivis dan penganut agama, dan mereka yang mencintai Republik Indonesia sebagai negara bangsa.

Apakah masyarakat ramai akan dibiarkan dalam keterombang-ambingan perdebatan agama, yang tidak bermutu ini? Dalam ilmu komunikasi, pada abad digital ini, situasi itu akan menjadikan agama tidak produktif.

Bisa jadi agama menjadi musuh masyarakat, setelah sebelumnya menjadi candu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar