Sabtu, April 28, 2012

Pidato Chairil Anwar 1943

PENGANTAR | Pidato ini disampaikan di depan Angkatan Baru Pusat Kebudayaan, sebuah lembaga kebudayaan yang dibentuk oleh Sukarno pada jaman penjajahan Jepang 1942-1945, di Jakarta pada 7 Juli 1943, kemudian teks pidato itu dimuat di majalah Zenit, Th. I, No. 2, Februari 1951, dua tahun setelah Chairil meninggal. Sesuatu yang sangat khas Chairil Anwar, dan masih patut direnungkan, ketika kita sudi mengenang keberadaannya. Ialah tentang bagaimana semestinya seorang seniman berkarya, dengan segala totalitasnya, yang antara lain juga keberanian untuk memilih dan memilah, mana karya yang bertenaga dan mana yang ecek-ecek.

Motto :
Kita guyah lemah
Sekali tetak tentu rebah
Segala erang dan jeritan
Kita pendam dalam keseharian
Mari berdiri merentak
Diri-sekeliling kita bentak
Ini malam bulan akan menembus awan


Sengaja tidak kuberi bentuk pidato pada pembicaraan ini, karena pidato melepas-renggangkan dari pembicara rasanya.
Jadi kucari bentuk lain. Ada teringat akan menerang-jelaskan saja, sambil menganjurkan, sekali-sekali menyatakan pengharapan.
Tapi takkan memuaskan ini! Ah, mengapa kupakai perkataan “puas”? Kan dalamnya berpengaruh besar arti-arti tercapai dan berhasil? Inikah maksudku? Barangkali ia… Memang ia! Memang! Memang! Sungguhpun berhasilnya kubatasi hingga : supaya tiap-tiap kata yang kuucapkan dipikirkan dan direnungkan dengan tenang!!
Kesudahan kata : Kuberikan sebagian dari jiwa kalbuku, diriku… beberapa lembar dari buku harianku…


Di rumah, II/2603, malam


Ida! Idaku-sayang,
Aku bantah Idaku ini kali! Karena Ida katakn tenagaku mencipta sedikit sekali. Bukan! Jangan kira semata-mata akan mempertahankan diri maksudku, tetapi satu pikiran dan pendapatan (mungkin maksudnya: pendapat, sw). Tentang mencipta sendiri.
Dalam gaya-lagumu berbicara dan pemakaian kata-katamu tadi sore, aku memperoleh kesan, Ida dipengaruhi amat oleh teman-teman Ida yang masih muda umur serta jiwa. Mari kunamakan oleh “hokum-wahyu” mereka. Seperti S. dan A. (maksud C.A., ialah Sam Amir dan Azhar, sw).
Berapa kali kalau kita sedang berkumpul, percakapan dengan tak disedarkan mengelok kea rah seni, mereka berkata : Dorongan mencipta datang tiba-tiba, mendadak! Wahyu! Benar hingga kini! Aku setuju juga. Tapi disambung mereka lagi. Maka di waktu ini
pulalah harus terus mempercayakan, menyerahkan pada kertas. Dalam bentuk prosa atau puisi. Dan… sampun ‘ndoro! ‘Kan tak kena ini Ida-adik. Renungkanlah sendiri, agak ia-ia sebentar!
Kalau diturut mereka, maka pikiran dan dasar seni atau pilsapat itu datangnya sebagai cahaya surya dari langit, memanaskan kita dan jenak itu juga matang!!! Akibatnya : Ange’ ange’ ciri’ ayam!! Tidakkah hasil begini yang selalu jadi pokok
keluh-kesah Ida juga? Seni kita sampai kini masih dangkal-picik benar. Tak lebih dari angin lalu saja. Menyejukkan kening dan dahipun tidak!
Aku sebagai seniman Ida, harus mempunyai ketajaman dan ketegasan dalam menimbang serta memutus.
Dengarkan!!
Sepeninggal Beethoven didapat buku-buku penuh catatan.
Persediaan dan persiapan untuk lagu-lagunya yang merdu-murni serta sempurna.
Simponinya yang ke-5 dan ke-9 bukan begitu saja lahir, Idaku. Bertahun-tahun ahli musik besar ini bersiap-sedia, baru satu buah masak luar-dalam dapat dipetik. Missa solemnis-nya hasil kerja lima tahun lebih.
Ida tentu pernah mendengarkan Mozart. Musik berjalan kesahajaan-kesederhanaan yang indah permai. Tapi meminta waktu juga sebelum ia bisa mengatakan ciptaannya siap. Ini seniman-seniman dalam arti sebenarnya lagi, yang menerima segala terus dari Tuhan…!!!

Ida! Rangkaian jiwa, lihat!
Wahyu dan wahyu ada dua. Tidak tiap yang menggetarkan kalbu, wahyu yang sebenarnya.
Kita mesti bisa menimbang, memilih, mengupas dan kadang-kadang sama sekali membuang. Sudah itu baru mengumpul-satukan.
Jika kerja setengah-setengah saja, mungkin satu waktu nanti kita jadi impropisator. Sungguhpun impropisator besar!
Tapi hasil seni impropisasi tetap jauh di bawah dan rendah dari hasil seni cipta.
Soal hidup dan matilah yang ia! Jangan, jangan Ida picingkan mata sipit Ida –danau kaca jernih tempatku tenggelam—curiga aku melebih-lebihi. Percayalah adikku, tidak ada yang lebih benar dari ini…
Satu hal pula Ida salah tangkap. Apa yang kubentang-beberkan bukan untuk menghalangi ciptaan kita bertingkat-tingkat juga.
Maksudnya : Ada yang jelek, sedang, bagus. Ini suatu yang tak bisa diceraikan memang, kalau mencipta.
Tergantung pada kita jadinya. Hanya sebagai seniman sejati kita member sebanyak-banyaknya, sebisa-bisa semuanya!!!
Sedang membaca seni kesusasteraan asli, bertenang mendengarkan Beethoven akan terasa oleh kita kesadaran jasmani dan gelora rohani sama berat berada dalamnya. Hingga jadi padu-satu. Sekaligus kukatakan : Pikiran berpengaruh besar dalam hasil seni yang tingkatnya tinggi. Berpikir yang mengandung menimbang serta memutus dengan sehat-cermat….
Aku Ida, Ratu-Hatiku, jangan samakan dengan pengebeng (maksudnya “pengibing”, sw) ronggeng yang mendendangkan pantun-pantun didapatnya sedang menari berlenggak-lenggak oleh – ah, kata apalah kupakai, aku tak mau mencemar-nodai pengertian wahyu?!!! – melihat kepenuh-montokan bentuk perempuan lawannya menari…!!!


Di rumah, / 2603, malam.

Ida! Ida! Ida!
Baru kubayang-biaskan dengan sepintas lalu pada adik ada kupikirkan bentuk dan garis baru untuk kesusasteraan kita. Sedang kita naik sepeda bersama, digumul-gulat kenikmatan berdua-sendiri rahsia kubuka. Sebagai sambilan saja. Tapi Ida… aduh,
bahgia jiwa ada sangkut-kaitan!!! – terus penuh perhatian. Ida cengkam lenganku, mata Ida bersinar-sinar. Ida hujani aku dengan pertanyaan : Aku sendiri jadi terkejut…erhatian Ia terhadap tiap gerak-gerikku kiranya pancaran hati sanubari. Dan Ida pulalah, dupa-kepercayaanku, yang tahu minatku pada seni tidak sedikit.
Segala Ida ma uterus tahu, bertubi-tubi tanya datang. Sehingga aku tak bisa bilang apa-apa jadinya. Sedang malu tak menentu barangkali. Entah karena belum mendarah daging kepastian. Tapi terlepas juga tarian-coretan kasar dari kandungan, conteng-moreng dari maksud. Pujangga muda akan datang musti, pemeriksa yang cermat, pengupas-pengikis sampai ke saripati sesuatu. Segalanya, segalanya sampai ke tangannya dan merasai gores-bedahan pisaunya yang berkilat-kilat. Segalanya! Juga pohon-pohon beringin keramat yang hingga kini tidak boleh didekati!!!
Tapi pujangga di masa akan datang –pujangga sejati!—memanjatnya, dan memotong cabang-cabang yang merindang-merimbun tak perlu,...
Sudah berdesing-desing di kuping dahsat-hebat suara meneriakkan: Berhenti! Berhenti! Hai, Perusak, Peruntuh!!!
Aku berani memasuki rumah suci hingga ruang tengah! Tidak tinggal di pekarangan saja.
Aku terus Ida : aku terus, mengerti?!!!
Sungguhpun perlawanan-pertentangan menggunung. Sebentar-sebentar sangsi juga, tapi keberanian sebenarnya, ialah yang digenggam teguh melalui-menembus dinding sangsi.
Kembali lagi!
Adakah insap mereka, tujuanku: intan yang dicanai kilatnya menyilaukan, mengedip-ngedipkan mata si penglihat.
Dan – bukan untuk melepaskan diri dengan begitu saja, kan Ida kenal padaku – orang jangan kacau. Aku pengupas, bukan pendeta atau kyai tentang sesuatu. Sungguhpun mereka pengupas juga mustinya.
Salahnya di sini Ida, mereka terlalu banyak menyebar-membentang, sedikit sekali mengupas.
Ah! Penuh bahaya jalan untuk ditebas-rambah, Ida. Tapi hanya untuk menetapkan, aku pasti! Ini lagi! Adakah adikku pernah mendengar, tiang dan lantai penghidupan ialah… bahaya?!!


Di rumah,... /2603, malam.


Sayangku mesra,
Dari yang satu ke yang lain, adik, selangkah demi selangkah.
Jika di perjamuan, sekarang kepala hidangan!
Tapi selembar dari buku harian tidak akan member kelengkapan, Ida tentu mengerti! Jadi tertegun-tegun juga aku sebentar memikirkan tarikan-tarikan tepat jitu supaya dapat adik kesan yang penuh pasti. Dapatkah Idaku menerka apa yang terbayang dengan terang-menyilau di mataku, ketika menuliskan baris-baris ini? Dapat? Kolonel Yamasaki, Ida! Perwira-perwira dari Attu!
Aduh, terus bersatu jiwa dengan beliau ini. Penjelmaan citaku memang!

Chairil Anwar.

|Diketik ulang dengan ejaan baru, dari "Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45", HB Jassin, Gunung Agung, Jakarta, cetakan ke IV, 1978, h. 132-137


Catatan:
*Tahun 2603 yang dipakai C.A sebagai penanda tanggal, adalah tahun Showa dalam kalender Jepang, yakni bertepatan dengan tahun Masehi 1943.
**Kolonel Yamasaki ialah salah satu penasehat organisasi yang bernama Poesat Tenaga Ra’jat yang disingkat dengan nama Poetra. Organisasi ini dipimpin oleh Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K. H. Mas Mansyur. Tapi karena dianggap lebih menguntungkan Indonesia, Jepang membubarkan dan membentuk Keimin Bunka Sidhosho (Pusat Kebudayaan) yang antara lain dibidani oleh Kolonel Yamasaki. Bisa jadi, ada gagasan Yamasaki yang cocok dengan idealisme C.A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar