Sabtu, Februari 26, 2011

Revolusi Belum Selesai. Revolusi 'Cem Mana?



Jika kita mengutip kata-kata heroik Bung Karno, "revolusi belum selesai", mungkin kita mengatakan betapa benarnya kata-kata itu, melihat apa yang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya, dan beberapa negara Timur Tengah serta Afrika Utara. Tetapi di Indonesia, benarkah revolusi belum selesai? Belum, kata yang anti Nurdin Halid, dan mereka kemudian meneriakkan Revolusi PSSI.
Dengan segenap permohonan maaf, membandingkan yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah dengan "PSSI", tentu agak menggelikan, karena kata revolusi di situ terasa gagah dan kegedean, untuk sesuatu yang sederhana, yakni menegakkan hukum atau aturannya.
Revolusi yang dimaksud Bung Karno, ialah mengenai sesuatu yang bersifat paradigmatik, bukan kasuistik. Ialah perubahan drastis, mendasar dan besar-besaran dari satu cara pandang ke cara pandang yang memperbaruinya. Sesuatu yang bersifat basic, elementer, berkaitan dengan ideologi, mindset, cara pandang, mentalitas, cara berfikir, sikap hidup, sebagai buah dari aksi-reaksi keseharian yang dianggap monotone dan involutif, mandeg, kering, menipu.
Jika kita melihat perjalanan bangsa dan negara sejak 1957 (Demokrasi Terpimpin), 1963 (Sekber Golkar), 1966 (Orde Baru), 2009 (Indonesia Bersatu II), revolusi bukan saja sudah selesai, tapi sudah mati. Kita telah sampai pada zona aman bernama rakyat a-politis, apatisme, patron-klien, elitisme politik, dan tidak adanya korelasi lagi antara rakyat dan negara, karena negara dan aparatusnya berselingkuh dengan pasar (dengan berbagai dalih dan bentuk).
Indonesia sudah frozhen, masuk dalam kotak beku formalisme dalam berfikir, pragmatisme dalam bersikap, dan vandalisme dalam bertindak.
Jika demikian, teriakan Bung Karno menjadi relevan, bahwa revolusi belum selesai, karena itulah yang mesti dibongkar. Revolusi berfikir, revolusi bersikap, dan revolusi bertindak. Keluar dari titik beku bernama zona aman, out of the box. Karena revolusi macam "Revolusi PSSI" pun, tampak sebagai manifestasi dari kebuntuan kita berfikir. Itu hanyalah buah dari elitisme politik dan mekanisme patron-klien. Kasuistik dan bukan substansi. Kalau hukum ditegakkan dan kita punya pemimpin yang jelas, persoalan PSSI itu soal gampang. Betapa menderitanya untuk menurunkan Nurdin Halid saja harus seperti itu. Sangat infotainment!
Yang kita butuhkan revolusi berfikir-bersikap-bertindak. Jika dulu berfikir formal beragama itu ya rajin menjalankan ibadah, harus diubah menjadi beragama itu secara subtansial mampu menggerakkan seluruh tubuh dan jiwa kita untuk berbuat operasional pada manusia juga (bukan hanya pada Tuhan). Jika dulu bersikap pragmatis (segala sesuatu diukur berdasar azas manfaat), otoriter tidak mau mendengar orang lain, sekarang bagaimana bersinergi dengan berbagai kemungkinan. Jika dulu politik barter bagaimana sekarang politik partner. Jika dulu bertindak vandalis, merusak, menang-menangan, goblog-goblogan, bagaimana sekarang menjadi manusiawi, berdialog, menyentuh dan bukan menghajar dengan Allahu Akbar.
Revolusi belum selesai? Revolusi cem mana? Cem PSSI, itu bukan revolusi, tapi itu contoh kecil involusi Indonesia.

3 komentar:

  1. salam revolusi.....
    https://www.facebook.com/RevolusiBelumSelesai

    BalasHapus
  2. This is much bettеr because some of уour
    Ipad whіlе you use it to take picturеs οf certaіn obϳects and
    then record, in their own list. Тhere seems
    to be well on its ωaу to surpaѕѕ all the οther featurеs.

    BalasHapus
  3. Аpрle Inc has claimeԁ that іt has a" great number" οf ipаdѕ.


    Here is my webpage ... Ipad (xiglute.com)

    BalasHapus