Selasa, Februari 22, 2011

DIPO ALAM BUKAN DIPONEGORO

DIPO ALAM

Di masa Kabinet Indonesia Bersatu II ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi perintah kolusi.

Di depan sekali tuan menanti
Agak gentar. Iklan media kritis banyaknya seratus kali.
Boikot di kanan, nyonthong di kiri
Berselempang Menseskab yang tak bisa ngarti.

MAUUU

Ini iklan-iklan tak bergenderang-berpalu
Keniscayaan tanda perintah.

Sekali kritis
Sudah itu matikan

MAUUU

Bagimu Bossmu
Menyediakan a fee

Selagi di atas menghamba
Bosan kelamaan ditindas
Sungguh pun mental mesti tergadai
Jika hidup harus menjilati

Mauuu
Ruhut, eh, Rebut
Jilat
Tebang

| Digubah dari puisi "Diponegoro" karya Chairil Anwar (1943), yang aselinya ada di bawah ini;


DIPONEGORO
| Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sungguh pun ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

| Februari 1943. Budaya, Th III, No. 8. Agustus 1954

1 komentar:

  1. Puisi ini mengingatkan saya pada guru bahasa indonesia waktu SMP Negri Imogiri dulu. Belio bernama Ibu F. Semiyati, gaya beliau waktu memberi contoh membawa puisi ini sangat heroik sekali..

    Terima kasih Pak Su da Terima kasih Ibu F. Semiyati.

    BalasHapus