Minggu, Juli 12, 2015

Bung Karno: Masyarakat Onta dan Islam Sontoloyo

Sukarno, presiden pertama Indonesia, mengedepankan esensi dan substansi Islam ketimbang simbol-simbol Islam yang kaku. Ia menolak kecenderungan apa yang ia sebut sebagai masyarakat onta atau Islam Sontoloyo.
Bahkan sebelum periode Endeh, Bung Karno sudah menekuni pengetahuan Islam saat berada di penjara Sukamiskin. Baru mulai mengeluarkan berbagai pendapatnya di media massa mengenai masalah-masalah Islam saat dipindahkan ke Bengkulu. Namun di luar itu, Bung Karno melahap berbagai buku dari para ulama di banyak negeri Islam, ia juga murid dari tokoh utama Sarekat Islam: HOS Tjokroaminoto.
Lima ciri yang dimaksud BK, seperti terurai dari berbagai tulisannya:

ROYAL MENCAP KAFIR. Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930) dan artikel Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (1940), Bung Karno menulis kritik terhadap kecenderungan sebagian ulama dan umat Islam saat itu; “Kita royal sekali dengan perkataan kafir, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap kafir. Pengetahuan Barat kafir; radio dan kedokteran kafir; sendok dan garpu dan kursi  kafir; tulisan Latin  kafir; yang bergaul dengan bangsa yang bukan bangsa Islam pun kafir!” Menurut Bung Karno, yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, radio dan listrik, kemoderenan dan ke-uptodate-an, berarti mereka mau tinggal dalam keterbelakangan, kuno, makan tanpa sendok, dan naik onta.

TAKLID BUTA. Bagi Bung Karno, taklid itu seperti abu, debu, dan asap. Hal tersebut bukanlah api Islam. Islam tak lagi jadi agama yang boleh dipikirkan secara merdeka, tapi telah menjadi monopoli kaum fakih dan kaum tirakat. “Hampir seribu tahun akal dikungkung sejak kaum Mu’tazilah sampai Ibnu Rusyd dan lainnya. Asy’arisme pangkal taklidisme dalam Islam. Akal tidak diperkenankan lagi. Akal itu dikutuk seakan-akan dari setan datangnya,” paparnya. Mengutip Snouck Hurgronje, ia mengatakan ulama dari segala waktu terikat pada ucapan ulama terdahulu, masing-masing dalam kalangan mazhabnya. Syariat itu akhirnya bergantung kepada ijma’ dan tidak kepada maksud-maksud firman yang asli. Padahal jelas, dua sumber utama Islam adalah Kalam Allah dan Sunah Rasul. Dari dua sumber ini pula para ulama mengambil kesimpulan hukum. Dari dua sumber utama ini pula kita mesti menyalakan api Islam. Al-Quran dan Hadits itu tak berubah. Bahkan “teguh selama-lamanya, tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas.” Tapi pandangan masyarakat yang senantiasa berubah, berevolusi, dinamis, mengalir.

MENGUTAMAKAN FIKIH. Dalam tulisan "Islam Sontoloyo" (1940), Bung Karno menulis bahwa fikih bukanlah satu-satunya tiang keagamaan. Tiang utamanya ialah terletak dalam ketundukan kita punya jiwa pada Allah. “Fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama. Belum dapat memenuhi syarat-syarat ketuhanan yang sejati, yang juga berhajat kepada tauhid, akhlak, kebaktian ruhani, kepada Allah,” tulisnya. “Dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sama sekali tenggelam dalam kitab fikihnya saja, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya agama yang hidup.” Bung Karno tidak membenci fikih. Menurutnya, fikih tetap penting. Bahkan disebutkan, masyarakat Islam tak dapat berdiri tanpa hukum-hukum fikih. Sebagaimana tiada masyarakat tanpa aturan perundang-undangan. “Saya hanya membenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fikih, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja,” tulisnya. Dengan mengutip Farid Wadji, Muhammad Ali, Kwada Kamaludin, Amir Ali, BK mengatakan alangkah baiknya di samping mempelajari fikih, kita juga dengan sungguh belajar nilai dan visi etik Al-Quran. Bung Karno mempraktikkannya; salah satunya saat anjing yang ia pelihara menjilat air di dalam panci di­ dekat sumur. BK kemudian meminta Ratna Juami (anak angkat) untuk membuang air itu dan mencuci  panci itu beberapa kali dengan sabun dan kreolin. “Di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin! Nabi s.a.w. sendiri telah menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak nyata haram atau makruh.”

TAK MELEK SEJARAH. Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930), Bung Karno menulis, umumnya kita punya ulama dan kiai, tapi tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarahnya. Mereka punya minat hanya tertuju pada agama, terutama pada bagian fikih. Tapi pengetahuan tentang sejarah umumnya nihil. Padahal sejarah adalah padang penyelidikan yang maha penting! “Kebanyakan mereka tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masayarakat yang menyebabkan kemajuan atau kemundurannya sesuatu bangsa. Sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian,” tulisnya. Padahal, tulis BK, mereka hanya mengetahui tarikh Islam saja. Dari tarikh Islam ini seharusnya mereka sudah dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Tapi umumnya kita mempelajari hukum, kenal isi kitab fikih, mengetahui tiap perintah dan larangan agama hingga yang terkecil, tapi kita tidak mengetahui bagaimana cara Nabi, para sahabat, tabiin, khalifah menaafsirkan perintah dan larangan-larangan Allah di dalam urusan sehari-hari dan urusan negara. Menurutnya, pelajaran terbesar dari sejarah adalah bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda di atas angkasa, karena fikih tidak berdiri sendiri. Fikih disertai dengan tauhid dan etiknya Islam yang menyala-nyala. Fikih  hanyalah “kendaraan” saja. Jika pemuka dan umat Islam Indonesia tetap tidak mengindahkan pelajaran besar dari sejarahnya sendiri, dan hanya mengikuti jejak para pemimpin besar di negeri lain serta hanya berorientasi fikih, jangan harap umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai kekuatan jiwa hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini.

HADIS LEMAH SEBAGAI PEDOMAN. Menurut sebagian ulama, hadis lemah (da’if) bisa dijadikan sumber hukum selama tak bertentangan dengan Al-Quran. Bagi Bung Karno sendiri, hadis lemah di antara yang menyebabkan kemunduran Islam. “Saya perlu kepada Bukhari atau Muslim itu karena di situlah dihimpun hadis-hadis sahih. Walaupun dari keterangan salah seorang pengamat Islam bangsa Inggris, di Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia pun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam, banyaklah karena hadis-hadis lemah itu yang sering lebih laku daripada ayat-ayat Al-Quran. Saya kira anggapan ini adalah benar.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar