Selasa, Juli 11, 2017

Pembelaan untuk Afi Nihaya

Belum lama lalu, kita kembali dihebohkan oleh Afi Nihaya. Lagi-lagi soal plagiarisme. Kali ini mencontek video-testimoni Amanda Todd sebelum kematiannya.

Saya tak tertarik pada isu plagriarisme, dan berbagai ujaran kebencian serta sinisme pada Afi Nihaya. Saya lebih tertarik kenapa Afi Nihaya (katakanlah) meniru Amanda Tood. Kenapa Amanda Todd, dan bukan yang lain? 

Amanda Todd, meninggal karena bunuh diri pada 12 Oktober 2012. Gadis 15 tahun itu, depresif karena menjadi korban pembullyan di sosmed. 

Semua berawal saat Amanda kenalan dengan seorang cowok di internet, yang berhasil membujuk untuk menunjukkan buah dadanya lewat webcam. Setahun kemudian, cowok itu menyebarkan foto topless Amanda lewat internet. Bahkan membuat akun facebook dengan foto topless Amanda sebagai profile picturenya. 

Hal itu membuat banyak orang membully Amanda, termasuk lewat 9gag, dan itu membuat Amanda dicemooh di sekolah dan lingkungannya. Sebulan sebelum bunuh diri, Amanda mengupload video di youtube berisi kisah hidupnya yang tragis, juga 4 jam sebelum kematiannya, tentang situasi batinnya.

Afi Nihaya tidak diminta seorang cowok untuk memamerkan buah dadanya. Tapi Afi Nihaya dibujuk oleh momentum. Ketika kita sangat butuh pahlawan atau pun motivator. Afi ditarik ke ruang publik. Ia dibawa ke kampus. Ia dibawa ke studio televisi, dipertemukan pada banyak tokoh. Ia dibawa ke Istana Presiden. Untuk sekedar menunjukkan contoh, betapa ada anak manusia yang waras (masih belia pula dalam usia 19 tahun) bisa ngomong tentang toleransi, ketika waham intoleransi begitu marak.

Dalam pusaran arus itu, Afi menjadi korban bully yang paling nyata. Oleh siapapun, dengan motivasi apapun. Saya lebih meyakini Afi Nihaya korban dari egoisme masyarakat kita. Dan kita abaikan potensinya yang sesungguhnya bisa kita pelihara. Tapi situasi dan kondisi telah menjahatinya. Ia tumbuh sebagai anak bajang. 

Sayang sekali, ketika lewat di kecamatan Gambiran, Banyuwangi menjelang lebaran kemarin, saya tak bisa ketemu Afi, meski sangat berhasrat. Karena waktu mepet, dan ada tiga desa dengan nama sama. Jika saya ketemu dengannya, ceritanya mungkin akan sangat lain. 

Bukan apa-apa, saya kira dengan ayah penjual cilok dan ibu yang rabun (karena menderita glukoma akut), dan tak bisa secara sempurna mendampingi anaknya ini, Afi adalah anak bajang yang kehilangan arah angin. Bukan anak bajang yang menggiring angin, tapi bahkan dia digiring angin puting beliung. 

Dari sebuah keluarga miskin, Afi telah kita lemparkan dalam satu situasi yang sama sekali tidak dia ketahui. Dan betapa jahatnya orang-orang, yang punya banyak pengetahuan tetapi tidak mengetahui siapa sebenarnya Afi, dan bagaimana memperlakukannya. Ini potret masyarakat sakit.

Lebih karena kemiskinan kita akan pahlawan, dan kurangnya hal-hal yang tidak akan mungkin memenuhi keserakahan kita, dalam meluncaskan kemarahan serta kecemburuan kita. Kita selalu mengulang-ulang hal yang sama. Masyarakat yang reaktif tapi tidak responsif. Masyarakat yang eksploitatif tapi tidak eksploratif. Masyarakat by product bukannya by process. 

Masyarakat yang hidungnya kembang kempis karena harum bunga, tapi menjadikan bunga itu mati muda disiram garam iri-dengki. Ataukah kita sedang memuaskan diri, membiarkan Afi meniru langkah Amanda Todd? Apakah Anda pernah, atau bisa merasakan, bagaimana dibully begitu rupa, sebagaimana dialami oleh Amanda Todd? Sebagaimana dialami oleh Afi Nihaya?

Afi sangat butuh seorang psikolog, psikiatri. Apakah Anda ahlinya? Mau datang ke rumahnya di Banyuwangi? Atau Anda juga cuma bagian dari para pembully itu?


Semoga kita pernah membaca novel ‘Dunia Sophie’ Joestein Gaarder, tentang Sophie Amundsend, gadis remaja berkepribadian 18. Dalam novel Joestein Gaarder, remaja berusia 14 di pinggiran kota Oslo itu, menjelang ultahnya yang ke-15, disergap pertanyaan paling fundamental dalam eksistensi manusia, “Siapa aku?”

Kini mari melihat ‘Dunia Afi’, remaja yang juga berkepribadian tak sederhana. Terimakasih kepada yang kini melakukan pendampingan atas remaja Banyuwangi itu. Afi adalah anak remaja Indonesia, yang saya kira berada dalam kumparannya. Ia mempunyai pilihan unik. Berbeda dari generasi sebaya dan lainnya. Pemilihan yang unik, karena ia tumbuh dalam kemiskinan lingkungan dan orangtuanya.
Wilayah kecamatan Gambiran (Banyuwangi, Jawa Timur), adalah wilayah petani pada umumnya. Jauh dari hingar-bingar teknologi modern, meski smartphone sudah sampai di sana, termasuk dalam genggaman Afi.

Masyarakat Gambiran, adalah masyarakat warna-warni. Hidup dalam pluralitas masyarakat beragama Hindu, Buddha, juga Protestan-Katholik, bahkan Khong Hu Cu, serta beberapa aliran kepercayaan, dan tentunya Islam.
Banyuwangi, kita tahu, pertautan penting dalam sejarah transformasi agama-agama paska Majapahit (terutama Hindu, Buddha, Islam), atau gojag-gajeg dalam istilah antropolog Nusya Kuswantin, yang melakukan penelitian situasi di Banyuwangi paska 1965 (Senjata Cakra di Atap Wihara, 2017).

Afi, hidup bersama kedua orangtuanya yang berbeda dunia. Ayahnya penjual cilok (artinya tidak mempunyai sawah). Ibunya rabun karena glukoma akut, nyaris buta total. Semua itu menggambarkan kemiskinan yang mendera. Dan Afi mempunyai dunianya sendiri. Dunia Afi, dunia anak remaja usia 19, yang lebih suka menyendiri di kamar dengan buku-buku.

Prestasinya di sekolah, tak bisa dikatakan menonjol, meski sangat kuat untuk mata pelajaran bahasa dan ilmu-ilmu sosial. Afi fasih berbahasa Inggris. Mampu menggunakan logika. Bahkan menerapkan system tbl (think by logic) secara mandiri. Sesuatu yang hanya dilakukan mereka yang aktif berfikir. Afi anak pintar. 

Jika Afi menonjol, menjadi viral, trending topic, itu karena medsos. Tapi benarkah itu karena kepandaian Afi? Saya menduga, lebih karena tema pilihan atau content yang disampaikan. Ia, sebagaimana puisi sobat saya, in momento! Berada dalam momen.

Momen ketika antara bumi datar dan bumi bulet bunder bertikai. Antara kaum intoleran, dengan kaum yang lebih ramah lingkungan dan adaptif. Momen ketika yang anti dan pro Ahok berhadapan. Lebih luas lagi, ketika mereka yang tidak pro Jokowi saling bully dengan pendukung Jokowi.
Justru ironisnya, lebih karena pilihan ideologi atau keyakinannya. Afi pro toleransi, dan tak sepaham dengan waham intoleransi. Ia kritis pada agama (Islam), dan itu masalahnya. Anda tahu, ia justeru menjadi korban dari kedua belah pihak yang bertikai. Afi bagaikan pelanduk mati di tengah pertikaian gajah.

Pada satu sisi, ia menjadi symbol keberanian menyampaikan pendapat. Diseret-seret ke sana-kemari. Ke kampus, televisi, istana presiden. Tapi senyampang itu, atau justeru karena itu, ia dibully oleh mereka yang tak sepaham. Ia diteror, ditelpon malam-malam, dini-hari, jam berapa pun, sepanjang hari. 

Ia dimaki, dikutuk, dengan berbagai cara. Bahkan ancaman pembunuhan. Bukan hanya di medsos, melainkan juga di dunia nyata, meski lewat telepon, sms, whatsaap, di-suspend akun fesbuknya, dan sebagainya. Anda pernah merasakan dibully sedemikian rupa? Menjadi proporsional, bukan hal mudah.

Mengenai plagiarisme, hormat saya pada kaum kreatif yang menjunjung tinggi kedigdayaan orisinalitas. Saya adalah korban plagiarisme, yang dilakukan oleh teman saya sendiri. Novel tulisan saya (buku kedua dari trilogi “Centhini, 40 Malam Mengintip Sang Pengantin”), dijiplak di atas 80%, dan itu sudah diakui pelaku serta editornya, di depan lawyer saya (10/10/2010). Saya sakit hati atas hal itu, tapi alasan kemanusiaan membuat saya tidak menuntutnya secara hukum. Bahkan juga tidak meminta ganti rugi, meski dalam UUHC saya bisa dapatkan Rp 500 juta!

Cukup empirik alasan saya anti plagiarisme. Tetapi saya mengabaikan hal itu pada Afi. Bukan karena saya pro apa yang dilakukan, karena saya juga tidak tahu berapa dari seluruh tulisan Afi yang jiplakan, dan berapa yang orisinal. Anda tahu? Secara persis? Jika tidak tahu, Anda masuk golongan yang dzalim, apalagi ikut menghakimi. 

Jika Afi memilih ‘meniru’ Amanda Todd, dalam video testimoninya, itu bukan karena semangat plagiat. Itu bisa dipastikan karena giringan angin tematik dalam kumparan psikologisnya. Setan pikiran akan membawa kemana pun engkau kehendaki, kata Ali bin Abi Thalib. Ketika ketemu video Amanda Todd, Afi bukannya tak sadar. Saya mengira, itu searching atas kegelisahannya. Jika hal itu dibiarkan, diteruskan, ia bisa melakukan hal yang sama. Kasus Afi adalah kasus kemanusiaan, setidaknya kasus psikologi, bukan semata yang mulia dewa orisinalitas dan kreativitas.

Di New York City, Mark David Chapman dengan sadar menembak top idolatrynya, John Lennon, pada 8 Desember 1980. Chapman tak mencoba angkat kaki, dan bahkan sedang membaca buku The Catcher in the Rye, saat polisi datang ke TKP. Di pengadilan, Chapman menyatakan diri bersalah, tetapi menurutnya Tuhan telah menitahkannya berbuat demikian. Buku yang dibaca saat ditangkap itulah yang menyeret ilusinya. 

Apakah Afi sakit? Menurut Anda yang waras, mungkin saja. Tetapi apakah Anda waras? Di dunia ini, siapa yang waras 100%? Gila 100%? Semua orang punya potensi, hanya kadarnya berbeda-beda. Semua orang berhak gila, bukan hanya karena potensi. 

Bagaimana kita mengapresiasi, menghargai, dan mengajak berdialog untuk saling belajar, itu soalnya. Sekiranya kita menghendaki peradaban tumbuh, sebagaimana spirit kemanusiaan, itu mestinya lebih utama dari sekian banyak kepentingan pilihan. Bukan sekadar perayaan eksistensial karena rindu tampil.

Semoga Afi Nihaya berada dalam lindungan yang Mahakuasa. Semoga ia bisa melanjutkan studi, menjadi mahasiswa di universitas yang diimpikan. Di dalam kekayaan sekaligus kemiskinannya. Apakah ia hanya menjadi simbol negara, atau negara akan memenuhi kewajibannya, seperti tertuang dalam UUD 1945 pasal 31 dan 34?


Mari kita sekarang bicara soal yang konon jadi sumber bully-an, bahwa Afi adalah seorang plagiator, penjiplak. Kita ngomong soal kreativitas dan orisinalitas di sini. Tak ada urusan dengan soal Afi, hanya karena dia pro toleransi dan kalian kaum intoleran terus membully dengan alasan plagiat.
Atas dasar apa kita membully, atau menghakimi, Afi Nihaya plagiator? Tahu berapa jumlah tulisannya, berapa yang jiplakan? Bisa menunjuk data empiris dan analisa akademiknya? Hadeh, di medsos membawa kata-kata ngilmiah gini? Tulisan ini akan lebih merupakan otokritik, terutama kaitannya dengan “diri saya”. 

Di Senayan, saya kerap temui orang kaya, anggota parlemen, memiliki gadget mahal dan canggih. Tapi saya temui pula banyak yang gaptek. Para orangtua jadul, generasi analog. Gadget canggih lebih banyak untuk komunikasi sebagaimana handhone jadul. Fasilitas canggih yang bisa mereka pakai paling cuma video-call, selebihnya sms dan wa.

Para aktivis medsos kelahiran 50, 60, 70, sebenarnya sudah masuk generasi jadul dalam revolusi teknologi informatika ini. Mungkin memakai gadget dan segala macam berbau digital, tetapi pola fikir, sikap dan perilaku, masih analog.
Punya banyak akun seperti email, linked-in, two, facebook, twitter, path, whatsApp, Instagram, dan segala macam, tapi mungkin hanya whatsapp dan Instagram yang dioperasikan. Lainnya lupa password, karena jarang dipakai.

Sementara generasi Afi Nihaya bukanlah generasi alay. Betapapun ia dari desa, dengan keterbatasan ekonomi, ia sangat canggih. Akun facebooknya di-set for public, tanpa tedeng aling-aling. Siapa pun bisa mengaksesnya, tentu juga membullynya, meski tidak kenal, tidak terhubung. Dan sangat mungkin tidak membaca tulisannya, apalagi memahami. Itu khas generasi analog. Tak mendengar apalagi melihat langsung, tapi langsung saja ngrasani, ngegosip, dan menghujat.

Akun facebook Afi diikuti ratusan ribu orang. Tulisannya di-like ratusan ribu orang, bahkan kadang mencapai setengah juta lebih. Di-share ratusan ribu pembacanya. Anehnya, mendapat banyak komentar negative, hujatan dan maki-maki dari sebagian nama-nama yang tak ada dalam friend-list-nya. Sementara berapa pembaca akun saya?

Generasi analog, seperti saya misalnya, menset facebook hanya untuk teman/friend saja. Sudah males dengan percekcokan tak jelas juntrungnya, kecuali rela sebagai bak sampah. Tapi di wall facebook Afi, para pembenci lalu-lalang, bebas menuliskan komentar, dan dibiarkan oleh Afi. 

Orang-orang yang menyerang Afi dari sisi plagiarisme, plagiasi, saya kira memang datang dari (1) generasi jadul, setidaknya dalam sikap, perilaku, dan cara berfikir. Mereka tidak akan ngerti bagaimana generasi Afi hidup dalam keserentakan, di dalam akselerasi bukan saja dalam mereplikasi dan menduplikasi, melainkan juga dalam multiplikasi, kultur jaringan. (2) kelompok bumi datar, yang kelihatannya sedang membela-bela agama, tetapi senyampang itu sesungguhnya sedang menghina-hina agamanya sendiri. Cuma bahasanya saja lamis, soal plagiasi. 

Ini adalah abad di mana tumbuh generasi multi-focus, tetapi masing-masing focus adalah sama-sama 100%. Bukan lagi jaman 100% dibagi banyaknya focus perhatiannya. Dan kita masih ngomong soal orisinalitas? Plagiasi? Medsos itu dumay, dengan karakter dan hukum medianya yang tersendiri. Kita tak sedang ngomongin tesis atau disertasi.

Tulisan-tulisan Afi Nihaya cermin pikiran yang cerdas. Diksinya kuat, lugas, dan tampak seorang pembelajar serta pembaca buku yang baik. Tatabahasa dan ejaannya tidak alay dan lebay. Ia terdidik. Tak mudah untuk menjadi demikian, kecuali telah berlatih bertahun-tahun. Apa yang saya lakukan sepanjang hayat, sangat mungkin diringkas Afi hanya dalam beberapa tahun saja.

Pada para pemuja orisinalitas, juga copy-right, perlu juga tahu soal otentisitas dan copy-left, ketika dekonstruksi dan post-truth merambah. Baca lagi Jean Baudrillard, dalam perdebatan makna dan realita. Bagaimana melihat realitas kontemporer dan merefleksikan masa depan, dengan memberi peringatan dini tentang yang akan terjadi. 

Globalisasi menyebabkan masyarakat perkotaan menjadi satu model yang berperilaku ‘seragam’, tulis Baudrillard. Keseragaman disebabkan pengaruh media yang berperan dalam penyebaran tanda-tanda. Hingga terjadi pergeseran pola pikir dan logika konsumsi masyarakat. Bukan lagi use value atau exchange value, melainkan apa yang disebut symbolic value. Bukan lagi berdasarkan nilai tukar atau guna, melainkan nilai tanda yang abstrak tapi terkonstruksi.

Jika pembullyan Afi datang dari bumi datar, itu wajar, karena diksi Afi tentang toleransi dan intoleransi lugas dan jelas keberpihakannya. Tapi kalau penghakiman soal plagiasi Afi, oleh mereka yang bergerak di dunia kreatif dan komunikasi (apalagi sosiologi dan filsafat, tetapi dari generasi analog), sungguh menyedihkan.

Pernah saya tulis ulang tulisan Shailesh S. Mody, soal Revolusi Industri ke-4 dan Era Exponential di wall ini. Sempat baca? Uber menjadi perusahaan transportasi terkaya di dunia, padahal tak punya armada. Airbnb menjadi perusahaan perhotelan terbesar di dunia, padahal sama sekali tak memiliki properti apapun. Kok bisa?

Gini saja deh, tahu Asrofi? Pemuda asal Kebumen yang jadi viral, karena mencari pekerjaan via JPO? Diunggah lewat twitter dan kemudian menjadi viral? Gayanya mirip video Amanda Todd, hanya bukan dengan flash-card, melainkan memajang fotonya dengan secarik kertas di tangan, bertuliskan nama dan maksud tujuannya. Dan dia kebanjiran tawaran.

Salahnya kok salah membaca fenomena Afi, termasuk para penasihat politik Jokowi, yang mungkin saja terpesona teori-teori Jean Baudrillard, tapi luput memaknai simbol. Senyampang itu, salah kaum bumi datar juga, yang luput membaca tanda-tanda karena involusi peradabannya. Jadilah jadul-dul semuanya.

Afi Nihaya itu fenomena biasa, kalau kita rajin membaca. Tapi karena malas belajar kita mudah tersepona, atau kalau tidak marah-marah, cemboker. Ini jaman aplikasi, dan kita masih saja di dalam simplifikasi otak. Plagiasi? Emang situ aseli?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar