Minggu, Januari 22, 2017

Ketika Rizieq Menghina Sukarno

Sukarno adalah manusia besar, bahkan dalam pandangan musuh-musuhnya. Itu menunjukkan bagaimana Sukarno adalah ‘a great human being’ dalam suatu era peradaban manusia. 

Pada waktu perang kemerdekaan, dan dalam situasi krisis politik paska Demokrasi Terpimpin, bahkan Bung Hatta pun mengakui hal itu. Sebagaimana dituturkan salah satu puteri Bung Hatta, Bung Karno mendapat previlege dari teman-teman seperjuangannya, karena ia asset terpenting bangsa Indonesia. Bahkan berkait dengan ‘kegemarannya’ pada perempuan. 

Dari sejak muda, ia terobsesi untuk kemerdekaan bangsa dan negaranya. Ia memproduksi tulisan, diskusi ke mana-mana, mengobarkan nasionalisme. Sampai pun ia di Landraad Bandung, 1930, bukan hanya dengan berani tapi juga rinci, ia kritik habis pemerintahan Belanda, dalam Indonesia Menggugat, sampai kemudian merumuskan nilai-nilai yang disebut Pancasila. 

Dibanding Megawati, yang masih melingkar-lingkar dalam eufemisme, Sukarno lebih brutal. Bukan saja menentang melainkan menantang mereka yang mau mengarabkan Indonesia, dengan konsepsi negara berdasar syariah Islam. Jika benar Rizieq Shihab sedang menulis tesis tentang Pancasila, mungkin ia merasakan hunjaman kata-kata Sukarno 80-an tahun silam itu. 

Rumusannya tentang Pancasila, hingga sebagaimana disepakati seperti sekarang, juga yang tertabalkan dalam preambule UUD 1945, adalah buah dialektika panjang, bahkan Sukarno perlu berkonsultasi dengan beberapa ulama, seperti Mbah Kyai Wahab Chasbullah yang menjadi bumper Sukarno. Rumusannya tidak sesederhana pantat-gila di mulut Rizieq Shihab. 

Mereka yang membela Rizieq Shihab, dalam memperhinakan Sukarno, ialah yang sejalan dan seideologi dengan pemimpin ormas FPI itu. Apa yang ada dalam kepala Fadli Zon, Fahri Hamzah, Benny K. Harman (yang setuju mencopot Kapolda Jabar), Amin Rais, Ma’ruf Amien, Din Syamsuddin, termasuk Novel Bakmumin dan Tengku Zulkarnaen, serta mereka yang mendirikan Pengajian Politik Islam yang meskipun mazhabnya beda-beda namun satu politik. Politik apa? Pilkada DKI Jakarta 2017? 

Anies Baswedan pun datang ke Petamburan, menjadi anakronistik dengan spirit kakeknya, AR Baswedan, yang secara liberal mendirikan Partai Arab Indonesia, sebagai penolakan eksklusivisme kaum Arab di Indonesia. Baswedan sebagai keturunan Arab biasa, menolak pengistimewaan para sayyid dan habib. 

Maka ketika marga Baswedan merunduk ke marga Shihab, di Petamburan itu, betapa kerdilnya politik. Bisa jadi memang mempunyai mimpi yang sama. Ini bukan lagi kejumudan, melainkan kemunduran, justeru ketika agama harusnya terbuka. 

Semua tak pernah berjalan mundur. Agama hanyalah salah satu bagian, di samping ilmu dan pengetahuan, serta teknologi, yang sering dituding bawaan setan, bi’dah, dan kafir. Itu pengingkaran ajaran agama sejati, yakni mestinya belajar dan belajar. Bukan hanya takbir dan takbir. 

Maka aneh jika kita membiarkan Rizieq Shihab menghina-hina Sukarno, Indonesia, dan artinya kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar