Rabu, Januari 25, 2017

Kebodohan dari Awal Sampai Akhir

Ini tulisan sangat panjang. Bagi yang tak suka baca dan kurang sabar; Langsung saja ke paragraf terakhir. Bagi yang sabar, bisa mulai dari sini:



“Seperti diketahui, Dewa memberikan manusia semua hal baik, terkecuali mereka yang merusak, berbahaya dan tak berguna. Orang-orang tersebut bukanlah pemberian Dewa, mereka seperti itu karena kebutaan dan kebodohan mereka sendiri.” 

Demikian pernyataan Democritus (460 – 380 SM), ahli astronomi dan filsuf Yunani. Tentu saja ia menyebut Dewa, karena sebutan lain waktu itu belum ada. Tak usah sensi bahwa itu klenik. Ini hanya menunjukkan, bahwa kebodohan ada sejak dulu kala. Dalam batas pengetahuan kita, mungkin sejak Adam dan Hawa atau Eva. 

Senyampang kebodohan, adalah juga sifat kebanggaan, yang menurut Thomas Fuller (1608 – 1661), pendeta dan penulis Inggris, kebanggaan adalah anak dari kebodohan. Seperti diuraikan Samuel Butler (1612 – 1680), penyair Inggris: The truest characters of ignorance are vanity and pride and arrogance. Karakter paling nyata dari kebodohan adalah kesombongan dan kebanggaan pada kecongkakan. Persis siapa hayo?

Bahkan Elbert Hubbard (1859 – 1915), penulis dan penerbit dari AS, punya resep untuk kebodohan abadi: yakni puas dengan pendapatmu dan puas dengan pengetahuanmu sendiri. Dan untuk orang seperti itu, kita seolah berhadapan dengan seorang die hard, jihader, alias kepala batu, somplak.

Penyair Britania Raya, Dame Edith Sitwell (1887 – 1964) bahkan mengaku jujur bisa sabar menghadapi kebodohan, tapi tidak tahan dengan orang bodoh yang membanggakan kebodohannya. 

Dan Anda tahu akibatnya? Sekarang ini kita seolah berada dalam situasi itu. Soal hal yang paling mendasar, agama dan politik. Betapa agama (juga politik) menjadi kontra-produktif. Malah justeru menjadi bagian dari masalah daripada pengurai masalah. Filsuf dan sufi Persia, Abu Hamid Al Ghazali (1058 – 1111) sudah mengatakan lama; Setengah tak percaya pada Tuhan di dunia ini, disebabkan oleh orang-orang yang membuat tampilan jelek pada agamanya, karena perilaku buruk dan kebodohan mereka.

The difference between genius and stupidity is; genius has its limits, kata Albert Einstein (1879 – 1955). Betapa mengerikan kebodohan itu. Perbedaan antara kebodohan dan kecerdasan adalah; kecerdasan memiliki batasannya. Lebih sadis lagi pendapat Sir Isaac Newton (1642 – 1727), bahwa ia dapat menghitung pergerakan bintang-bintang di langit, tetapi ia tak dapat menghitung kebodohan manusia. Entahlah, karena Newton yang bodoh, atau seperti kata Einstein, betapa tak terhingganya.

Sekali lagi, apakah kebodohan sesuatu yang berbahaya? Prejudice is the child of ignorance, kata William Hazlitt (1778 – 1830), penulis dari Inggris. Prasangka adalah turunan dari kebodohan. Dan Anda tahu turunan dari prasangka? Bisa ke penghakiman, penudingan, perundungan, bahkan fitnah ataupun hoax. Tak ada yang lebih menakutkan daripada kebodohan dalam tindakan, seperti ujar negarawan India, Jawaharlal Nehru (1889-1964). Johann Wolfgang von Goethe (1749 – 1832), intelektual dan penyair Jerman meyakini; Tak ada yang lebih buruk dari kebodohan yang agresif!

Lantas, bagaimana dengan itu semua, dengan kesibukan lapor-melapor, demo-mendemo, dukung-mendukung kegiatan-kegiatan bodoh itu? Yang diam-diam didukung media yang berprinsip ‘bad news is good news’? Bahkan beberapa orang sekolahan pun ikutan dalam tarian gendang kebodohan ini? 

Pintu gerbang menuju kebijaksanaan yang besar, kata Benjamin Franklin (1706 – 1790), adalah mengenali dengan jelas tentang kebodohan kita sendiri. Nothing in the world is more dangerous than sincere ignorance and conscientious stupidity, kata Martin Luther King (1929 – 1968), pendeta dan aktivis HAM Amerika Serikat. Tak ada di dunia ini yang lebih berbahaya daripada ketidakpedulian yang ikhlas dan kebodohan yang sungguh-sungguh.

Kebaikan satu-satunya adalah pengetahuan, dan kejahatan satu-satunya adalah kebodohan, demikian kutbah Socrates (469 - 399 SM). Tetapi tentunya kita mesti waspada juga. Menurut George Bernard Shaw, penerima Nobel Sastra tahun 1925, waspadai pengetahuan palsu, karena hal itu lebih berbahaya ketimbang kebodohan. Beware of false knowledge; it is more dangerous than ignorance. 

Pengetahuan palsu? Fenomena yang terjadi di Indonesia saat-saat ini, bisa jadi menggambarkan kekhawatiran itu. Dulu, kebodohan dan uang adalah dua hal yang terpisah, tapi sekarang hal itu ada di setiap orang, kata Adlai Stevenson (1853 – 1914), yang pernah menduduki kursi wakil presiden AS. Bahkan, lebih ekstrim lagi, uang merajai semuanya, bukan lagi yang bodoh tapi juga yang pintar.

Apalagi bagi yang berideologi uang, karena education costs money but then so does ignorance, kata seorang ahli statistik Inggris, Claus Moser (1922 – 2015). Pendidikan membutuhkan uang, begitu juga dengan kebodohan. Bahkan, bagi mereka yang ingin memanfaatkan kebodohanpun, uang adalah senjata efektif. Apa manfaat kebodohan? Tentu saja, untuk dibodohi. Penulis dan penyair AS, Oliver Wendell Holmes (1809 – 1894) menuliskan; Ibarat sapu lidi, semua dosa menggunakan pengikat berupa kebodohan.

Bagaimana menyikapi ini? Voltaire, yang terkenal dengan ‘soal uang semua orang agamanya sama’, mengatakan bahwa jiwa yang hidup adalah cinta, dan jiwa yang mati adalah kebodohan. Maka, ujar investor dan pengusaha Warren Buffet; Lihat fluktuasi pasar sebagai teman bukan musuh, ambil pelajaran dari kebodohan bukan ikut-ikutan berada di dalamnya.

Apakah Anda mau ikut-ikutan menambah kebodohan, yang sedang mengalami inflasi ini? Ikut-ikutan teriak sana teriak sini, sembari ongkang-ongkang doang? Jangan sensi, jangan baper, jangan marah. Karena menurut Bruce Lee (1940 – 1973), si pengungfu itu, a quick temper will make a fool of you soon enough. Cepat marah membuat kebodohan Anda makin ketahuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar