Minggu, Oktober 09, 2016

Serat Centhini Dwi Lingua, Buku Lengkap Serat Centhini


Banyak yang menyebut Serat Centhini sebagai 'Kamasutra Jawa'. Penyamaan itu sama sekali tidak tepat. Karena Kamasutra, dari India, adalah buku tentang teknik-teknik bersenggama. Sementara Serat Centhini sebuah ensiklopedi dengan isi beragam --termasuk soal seks tentunya, dan lebih gila-gilaan pemaparannya dibanding Kamasutra atau katakanlah Enny Arrow.

Serat Centhini, sebagai banyak warisan budaya disikapi dengan segala mistifikasi dan glorifikasinya (oleh masyarakat Nusantara). Tapi, saya memandang Serat Centhini sebagai buku biasa yang luar biasa, apalagi ditulis oleh orang Jawa pada abad 18 (dalam kurun tahun 1815 – 1823). Saya kira, begitulah sebagaimana dijelaskan penulisnya sendiri, Sri Susuhunan Pakubuwana V dalam pengantarnya, buku ini diperuntukkan bagi generasi muda.

Saya kira, Pakubuwana V ini pakar komunikasi. Ngerti target audiens, dan ia setting begitu rupa bukunya, juga bahasanya yang tidak sastrawi (Jawa ngoko dan pop). Isinya disebut sebagai ‘babon pangawikan Jawi’ (sumber ilmu pengetahuan dunia, penyebutan Jawa karena jagat besar mereka waktu itu). Pakubuwana V, sejak masih pangeran, menyadari ekonomi dan moral rakyat Surakarta yang bangkrut akibat perang, dan butuh pegangan.

Penciptaan sebuah buku panduan, macam Serat Centhini, dalam bentuk tembang, pilihan yang sangat cerdas, karena banyak rakyatnya yang buta huruf. Dengan tembang, menyebabkan Serat Centhini mudah dihafal dan diingat. Hingga kemudian kita tahu, Serat Centhini dari sastra tulis menjadi sastra lisan (dan ketika dari sastra lisan dituliskan kembali --rewriting-- ada banyak versi Serat Centhini, lebih dari 11 versi). Sementara aselinya, masih tersimpan rapi di museum kraton Surakarta, juga Mangkunegaran.

Sebagaimana dimaksudkan sebagai ensiklopedi (baboning pangawikan Jawi, sumber pengetahuan Jawa), isinya sangat beragam. Dari soal kehidupan sehari-hari, memasak, bertani, beternak, cara membuat keris, merawat tubuh agar tetap sexy, agar kuat ngesex, teori kepemimpinan, menjinakkan kuda, cara menyembelih sapi supaya enak dan sehat, jejamuan. Hingga ke cerita-cerita mitos, legenda, sejarah, traveling dan reportase ke beberapa situs, mendengarkan cerita para juru kunci.

Hingga cerita-cerita mengenai Nabi Isa, Buddha, Syiwa, Wisnu, Muhammad, sampai bagaimana Prabu Yudhistira dituntun membaca dua kalimat syahadat oleh Sunan Kalijaga. Belum pula cerita-cerita fantastis bagaimana Syekh Amongraga yang sudah diranjap mati pasukan Sultan Agung dan jasadnya dilempar ke Laut Kidul, bisa hidup kembali. Terbang mengawang di atas pulau Jawa, berperang melawan seorang perompak yang hendak merebut isterinya!

Dan tentu, jangan dilupakan, cerita petualangan sex para tokohnya, yang sama sekali membuat generasi sekarang tercengang. Buku yang ditulis tahun-tahun 1815-1823 ini, dengan fasih bertutur mengenai praktik persenggamaan, termasuk party-sex, orgy, three-some, lgbt, dan Sang Cebolang yang unisex, serta Nyi Sembada janda kaya yang sehari tiga kali berpesta-sex dengan tiga pemuda sekaligus.

Pola penulisan Serat Centhini pun, menggunakan cara-cara yang mencengangkan. Sebuah ensiklopedi yang mendongeng. Teknis pengumpulan datanya menarik, dengan melakukan survey lapangan (hanya di pulau Jawa, meski ada yang melesat sampai ke Mekkah). Menggunakan periset dan informan lapangan. Bukan yang pertama karena Stamford Raffles dalam menulis ‘History of Java’ memakai metoda ini. Bahkan beberapa informan Rafless, dipakai juga oleh Pakubuwana V untuk Serat Centhini.

Kerja penulisan Serat Centhini adalah kerja intelektualitas biasa. Tidak ada yang ajaib, sebagaimana kerja-kerja intelektual para akademisi (yang baik). Bahkan, maafkan jika saya menduga, Serat Centhini juga melakukan copy-paste sumber-sumber tertulis lain (karya-karya dari pujangga sebelumnya), tanpa menyebut sumbernya. Secara teknis juga tak mudah menuliskan catatan kaki, atau nara sumber dalam penulisan tembang yang terikat polanya.

Serat Centhini adalah ensiklopedi yang ditulis dengan teknik bertutur, dengan sebuah cerita model discovery. Berlatar belakang penghancuran Kasunanan Giri oleh Adipati Surabaya, sebagai panglima perang Sultan Agung. Dan diam-diam di sana, Jawa menegasi Islam dengan substilnya. Bagaimana Syekh Amongraga yang hendak menyatukan ulama-umara dalam dirinya, disulap menjadi kwangwung (hama kelapa), dan kemudian dibakar hidup-hidup oleh Sultan Agung.

Sudah banyak buku tafsir Centhini, dalam bentuk pengubahan dan penggubahan menjadi novel atau prosa liris, bahkan juga penerjemahan (namun diubah dalam bentuk prosa, dan ada beberapa penghilangan, penghalusan teks, karena konon ada yang takut terkena cekal saking nge-sexnya).

Dengan bekal itu, maka ketika saya membacai dan menggeluti teks Serat Centhini dalam bahasa aselinya (Jawa), saya ingin berbagi bagaimana agar masyarakat umum, dan anak muda khususnya, bisa pula turut membacainya. Dalam teks serta bahasa dan bentuk aselinya, hingga bukan hanya sekedar rumor yang dicopast dari internet, dan hanya mengambil bagian-bagian erotiknya semata.

Dari sanalah maka terbit buku ‘Serat Centhini Dwi Lingua’ (artinya, satu buku berisi teks dalam bahasa aselinya Jawa beserta terjemahannya ke dalam Indonesia baris demi baris, hingga hal itu membantu untuk bisa memaknai buku aselinya). Dari 12 jilid keseluruhan, saya baru bisa menerjemahkan beberapa jilid (hingga buku ke 7), dan baru bisa mencetak jilid 1 dan 2, sudah ber-ISBN komplit sejak 2012.

Proyek ini macet karena proyek pribadi dan diupayakan secara indie. Anda bisa memilikinya, dengan ganti ongkos cetak dan kirim, dan menghubungi saya. | 
 
sunardianwirodono@yahoo.com
 
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar