Senin, Agustus 08, 2016

Pasar Uang? Pasarnya Siapa?

Apakah kita sepakat, bahwa reshuffle presiden Jokowi disambut positif pasar? Pasar mana? Di Indonesia ini ada banyak pasar. Yang bernama pasar modern, terlalu abstrak alias tak jelas tempatnya. Kadang bahkan tidak memakai tempat. Bisa jadi hanya berupa imagination. Sebagaimana halnya bangsa Indonesia ini, yang oleh Ben Anderson dibilang imagined communities.

Berbeda dengan pasar tradisional. Hampir di semua kota, di berbagai daerah pelosok Indonesia, dengan gampang ditemu pasar ini. Bahkan banyak ragamnya. Ada pasar pagi, sore, malam. Ada pula pasar hewan, pasar burung, pasar buah, juga pasar rakyat yang sama sekali tentu tidak menjual rakyat. 

Di Yogyakarta, bahkan ada pasar kangen, khususnya bagi kelompok hedonis kelas yang lain. Yakni kelas kemelakatan pada masa lalu, pada makanan murah-meriah bernama gatot-thiwul, sate kere, bothok mandhing, sawut, wedang uwuh dan sejenisnya. Tentu, tak mahal-mahal banget. Hedonis kelas bawahlah, yang dengan 50 ribu rupiah sudah waton-wareg-waras-wiris. Berbeda dengan kaum hedonis yang suka shopping ke Singapore.

Belum lagi ada yang bernama Pasar Legi, Pasar Pon, Pasar Wage, Pasar Kliwon, Pasar Paing. Atau di Jakarta ada Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Jumat dan Pasar Minggu. Meski sulit kita menemu Pasar Selasa, Pasar Kamis dan Pasar Sabtu di Jakarta. Mungkinkah pada tiga hari itu orang Jakarta tidak pergi ke pasar? Mungkin pada hari itu hanya Sarimin yang pergi ke pasar? 

Di pasar-pasar itu, apakah kita dengar sentimen positif atau negatif atas reshuffle yang dilakukan Jokowi? Boro-boro. Orang-orang di pasar itu terlalu sibuk. Kalau pun tak sibuk, pokok perhatian mereka mengawasi dagangan. Karena meleng sedikit, dagangan dicomot tukang kutil yang lalu-lalang. 

Jika kita bertanya pada mbok-mbok bakul (aktivis pasar tradisional adalah kaum ibu), mereka sama sekali tidak tahu apa itu reshuffle. Apa kepentingannya dengan hajat hidup kesehariannya? Beberapa ibu pedagang yang lebih gaul dan paham gadget, lebih suka berburu pokemon daripada nonton televisi.

Jadi kalau kita dengar reshuffle kabinet disambut positif oleh pasar; Pasar yang mana? Media hanya menyebut pasar doang. Tak jelas apakah pasar pagi, pasar malam, pasar kangen, pasar hewan, pasar senen. Media dan Pramono Anung tak pernah menyebut pasar secara spesifik.

Kalau pun ada kehebohan di pasar-pasar tradisional, palingan berkait dengan lagu campursari karangan Soni Joss, berjudul Sri Minggat. “Sri, kapan kowe bali,…” Tapi mereka tidak tahu, bahwa Sri sudah pulang, dan kemarin dilantik jadi menteri keuangan. Tetapi Sri hanya menteri keuangan, bukan menteri kepasaran, bukan menteri rakyat kecil, apalagi menteri kehidupan. 

Masing-masing pasar tradisional sudah punya mantri sendiri. Nggak ada urusan dengan menterinya Jokowi. Menteri keuangan dengan sendirinya hanya disambut di pasar uang, yang bernama bursa efek dan saham. Tak ada kaitan dengan rakyat kecil, yang memang hanya obyek, bukan subyek.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar