Senin, Agustus 08, 2016

Palsu

Di Indonesia ini, ada begitu banyak hal-hal palsu. Bahkan kita tahu, ada vaksin palsu, kartu BPJS palsu. Dan kepalsuan dua hal terakhir itu, merembet pada tudingan pemerintahan palsu, janji-janji palsu, bahkan presiden palsu.

Seolah kita manusia aseli anti kepalsuan. Celakanya, kita selalu menganggap diri sendiri aseli, sementara orang lain adalah palsu. Karena kita menganggap bahwa aseli adalah mulia, palsu adalah hina-dina. Padahal aseli dan palsu sesuatu yang melekat dalam kehidupan. Sejak awal sudah ada istilah Tuhan Palsu, Nabi Palsu. Dalam keseharian kita juga mengenal uang palsu dan beras palsu. 

Palsu dan aseli, adalah pertarungan abadi kehidupan itu sendiri. Ia adalah koin kehidupan. Bukankah ada sebutan hidup yang palsu? Makanya kenapa ada istilah; Dunia panggung sandiwara!

Jika berkait tentang nilai, persoalan terpenting sesungguhnya bukan hanya pada pengetahuan saja, melainkan juga sikap. Bagaimana pengetahuan dan sikap kita sendiri atas yang bernama palsu dan aseli itu.

Mengapa muncul ijasah palsu, tas bermerk palsu, janji palsu, cinta palsu, kemuliaan yang palsu, pernyataan palsu, testimony palsu, sumpah jabatan palsu, bahkan sampai pada akun fesbuk palsu, beragama palsu? Bagaimana dengan kaki palsu, gigi palsu, jantung palsu, atau alis palsu? Bagaimana bisa ada istilah aspal, aseli tapi palsu? Kompromi atau munafik? Atau berkompromi dengan kemunafikan, alias permisif?

Dimana sumber masalahnya? Pengetahuan dan sikap kita, serta itikad atas sesuatu yang akan lebih menentukan. Semuanya berangkat dari nilai-nilai pribadi yang ada dalam diri kita sendiri. Konon agama sumber ajaran moral manusia. Tapi mengapa orang beragama tak terhindar dari nilai-nilai kepalsuan?

Bukan pada nilai agamanya, tapi nilai keberagamaannya. Belum ketemu bukti ada agama mengajarkan keburukan. Semua ajaran mulia dan memuliakan kehidupan. Praktiknya? Praktik adalah ranah si pemakai. Disitu, orang beragama bisa berkelakuan palsu. Tidak sejalan dengan ajaran agamanya. 

Enstein mengatakan beragama tanpa ilmu adalah buta. Tapi orang berilmu juga bukan jaminan sikap dan perilaku seperti pengetahuannya tentang kebaikan (sebagaimana hal itu diketahuinya dari nilai-nilai ajaran agama). 

Soal palsu dan aseli dalam segala sendi kehidupan, lebih tergantung pada sikap dan karakter manusia. Tak hanya tergantung pada agama atau ilmu-pengetahuan. Kemampuan mengolah nilai-nilai dua hal tersebut, dalam praksis kehidupan sehari-hari, menjadi ukurannya. 

Kemampuan untuk mengolah nilai-nilai prinsip kehidupan, itulah yang akan menentukan di tingkat praksis atau bagaimana outputnya. Dalam filsafat tari gagrak Ngayogyakarta; sawiji, greged, sengguh, ora mingkuh. Antara yang diketahui dan dilakukan, adalah satu kesatuan. 

Kalau tidak tahu? Belajar. Kalau tidak bisa? Latihan. Bukannya langsung marah-marah. Kelihatan bodohnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar