Senin, Agustus 08, 2016

Masyarakat Kepo

Yang menarik dari pernyataan Tri Rismaharini; Beliau mengatakan tetap committed dengan Surabaya. Tak akan meladeni dorongan siapapun untuk ke Jakarta. Karena apa? Karena Walikota Surabaya itu menyebut, akan ada (banyak) yang senang, jika ia meninggalkan Surabaya. Siapa dan mengapa? Mereka yang tak ingin disaingi Risma di Jawa Timur. Waduh! 

Apa yang dikatakan Risma ini, persis yang dikatakan Ridwan Kamil ketika akhirnya menolak ke Jakarta. Bahkan, dengan lebih jelas, ia juga berterus terang, akhir tahun ini mungkin akan mendeklarasikan maju dalam Pilgub Jawa Barat. Untuk ke Jakarta sekarang, ia mencium beberapa pihak mendorongnya agar keluar dari Bandung. Kenapa? Sama alasan dengan Risma.

Soal pidato pamitan terakhir, yang banyak dilansir media sebagai isyarat Risma mau ke Jakarta? Ada dua kemungkinan, media memang sengaja memainkan isu, atau mereka guoblog nemen. Dalam keyakinan beberapa orang Islam, mohon maaf berkait idul fitri, harus dituntaskan pada bulan syawal. Risma pidato dalam konteks syawalan hari terakhir dengan seluruh anak buahnya.

Media kepo menghasilkan masyarakat kepo. Hingga tiba-tiba ada kelompok masyarakat Surabaya mau ke Jakarta menemui Jaklovers, untuk mengatakan mereka mengikhlaskan Risma ke Jakarta. Hadeh, benar-benar kacrut. Masyarakat anomali seperti itu, biasanya produk dari dua hal, parpol dan media kocluk. Yang begitu terpesona dan tergantung pada tokoh. 

Kita tidak tahu, bagaimana masyarakat Surabaya yang tak rela melepaskan Risma (seperti halnya masyarakat Bandung yang tak mau melepaskan Ridwan Kamil) harus berdiskusi dengan masyarakat Jakarta yang butuh banget pertolongannya. Kita sungguh tidak tahu 'masyarakat' ini siapa, merepresentasikan apa, dan siapa? Ukurannya apa? Hj. Neno Warisman memangnya makhluk istimewa dalam demokrasi, punya hak suara 10% DPT DKI Jakarta? 

Kita berada dalam demokrasi berukuran sak-penake dhewe. Karena pusing nyari lawan Ahok, dan tidak pede. Sampai-sampai muncul pernyataan yang menjelaskan keputusasaannya; Kambing dibedaki pun akan menang jika lewat partainya. Hal itu idiom biasa dalam dunia politik? Tentu saja, politik haus kekuasaan kelas ecek-ecek.

Dibandingkan beberapa daerah lain, Pilkada DKI Jakarta kali ini terasa lebih menyedihkan. Mungkin seiring indeks demokrasi kita sejak 2014, yang menurut data BPS mutakhir, memang menurun. Tidak menunjukkan lahir dari masyarakat yang terdidik, baik secara media maupun politik Hanya karena masing-masing pihak ngotot dengan mimpinya sendiri-sendiri. Tak terlihat bau kontestasi di sana.

Padahal baik pendukung dan penentang, pada akhirnya juga hanya akan menjadi masyarakat sia-sia, ketika sistem sosial kita tidak bisa, tidak mau, dan tidak tahu (cara) mengontrol kekuasaan. Karena masyarakat kepo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar