Kamis, Juli 21, 2016

PKI Gaya Baru atau Lama?

Kivlan Zein pasti langsung mencak-mencak begitu mendengar atau membaca kata PKI. Itu karena pikiran kotor inheren padanya. Tapi apakah dianya ngerti, bahwa PKI baru benar-benar bangkit di Indonesia? Partai Konsumerisme Indonesia?
Konsumerisme jauh lebih berbahaya daripada komunisme. Tapi kita selalu menggelapkan fakta ini. Tentu saja ulah penggelapan biasanya dilakukan kaum modal, yang lebih menyukai masyarakat tergantung (dependent) dan masyarakat gelap mata.

Ideologi para konsumeris (penganut ideologi konsumsi) di negeri ini, menjadi lebih berbahaya karena lebih besar pasak daripada tiang. Sementara untuk menyamakan besar pasak, bukannya membesarkan tiang namun memaksakan diri menyangga yang di luar kemampuan. Hasilnya, karena bukan bangsa produksi, adalah menjadi bangsa kuli. Pura-pura tidak tahu bahwa rupiah kita serahkan ke beberapa Negara investor dengan sukarela. Exploitation de l'homme par l'homme terjadi dengan suka rela pula, tanpa paksaan.

Untuk memenuhi hasrat atau nafsu konsumsinya, jalan apapun ditempuh. Tanpa ingat kemampuan yang pas-pasan, dan bahkan cupet alias kurang. Makanya di negeri ini usaha jasa kredit sangat subur, hingga sering kita dengar uang gaji atau penghasilan sering habis tandas disedot bunga-berbunga. Kartu kredit juga laris, karena bisa menopang gaya hidup kaum konsumeris dengan gali lobang tutup lobang (bikin kartu kredit baru untuk nutup kartu kredit yang jatuh tempo). Bekerja bukan untuk berproduksi, melainkan untuk kewajiban membayar konsumsi itu, mengangsur utang-utang itu. Dan selalu tekor. Dan terjadilah lingkaran setan belang. 

Soal mahalnya daging sapi, tetap saja memaksa diri membeli. Meski harga dipermainkan pasar (baca: pedagang) secara tak proporsional. Ada ikan laut yang lebih murah dan gizinya lebih tinggi, kaum PKI (Partai Konsumeris Indonesia) ini, tak mau berganti haluan. Apalagi memboikot tak membeli daging. Padahal Ibu Susi Pudjiastuti sukses membuat negeri ini melimpah perolehan ikan lautnya.

Betapa lemah iman konsumen Indonesia, kaum konsumeris ini, dalam melahap apapun produknya. Yang sebetulnya lebih banyak bernilai tersier, dan sekunder, daripada primer. Harga gadget naik, harga mobil naik, harga kacamata naik, harga celdam naik, kita enjoy aja. 

Indonesia Raya yang sebetulnya kaya raya ini, perlahan menjadi miskin raya. Majoritas masyarakat penganut ideologi konsumsi, bukan ideologi produksi. Gerakan PKI, Partai Konsumerisme Indonesia, ini jauh lebih berbahaya, karena ketergantungan yang parah pada keduniawiannya. 

Kalaupun ada yang diproduksi, ternyata produksi isu, hoax, dan fitnah. Itu lebih tragis. Revolusi mental mentul.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar