Kamis, Juli 21, 2016

Menjual Tuhan a la Kierkegaard

Yang pertama, Søren Aabye Kierkegaard (5 Mei 1813-11 November 1855), adalah pengritik Hegel yang tajam. Tak sependapat mengenai ilmu pengetahuan haruslah objektif, dan kita hanya bebagai pengamat. Kierkegaard merasa kita harus terlibat langsung, dalam suatu fenomena atau peristiwa tersebut. Analisis subjektif tidak dapat merusak objektivitas. 

Kierkegaard sangat menghargai kekonkretan dan individualitas tiap manusia. Tidak ada objektivitas yang tetap untuk melihat gejala pada manusia. Objektivitas dan abstraksi akan memunculkan kesepakatan bersama mengenai kebaikan atau keburukan dalam aturan masyarakat yaitu moral. Pendekatannya ialah humanistic.

Objektivitas dalam moralitas pada dasarnya tidak berarti sesuai antara hukum dan kenyataan. Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar tentang PKI? Siapa yang pantas dihukum dalam kasus tersebut? Atas nama kesatuan negara, banyak aturan dan hukum muncul secara mendadak. Dijadikan tameng dan kedok murahan. Kita merasa sah menjadi manusia massa. 

Kierkegaard memegang kuat eksistensi manusia yang individual, personal dan subjektif. Manusia yang mempunyai eksistensi, tidak dapat diabstraksikan maupun digeneralisasi dengan teori-teori umum. Penentu dari suatu perbuatan tertentu, terletak pada diri individu itu sendiri. Padangan Kierkegaard mengenai kehendak bebas, berhubungan erat dengan masalah kebebasan manusia. Satu aspek yang melekat dari kebebasan adalah tanggung jawab. 

Selain kagum pada Socrates, Kierkegaard selalu mencontoh Nabi Ibrahim sebagai model dala soal bertuhan. Kita sering melihat manusia yang religious memiliki sikap yang dianggap aneh, nyentrik, tak masuk akal atau bahkan gila. Hal ini disebabkan nilai-nilai religious bersifat murni subjektif, sehingga seringkali sulit diterima akal sehat. Banyak paradoks yang muncul tentang tuhan, misalnya jika tuhan ada dan mahasempurna, kenapa membiarkannya ada kejahatan, keburukan? 

Disinilah Kierkegaard mengatakan bahwa paradoks tuhan bukan sesuatu yang bisa dipikirkan secara rasional. Sosok Nabi Ibrahim menurut Kierkegaard telah masuk dalam tahap religiousitas ini. Ibrahim telah lulus dalam mempertahankan keyakinan subjektifnya yang berdasarkan iman. Ibrahim bersedia mengorbankan anaknya, Ismail, atas dasar keyakinan pribadi; bahwa tuhan telah memerintahnya untuk dikorbankan. 

Jika kita memakai ukuran kebenaran obyektif, Nabi Ibrahim akan tampak begitu kejam dan bodoh, untuk menyembelih anaknya sendiri. Tergantung pada soal keimanan atau keyakinan kita. Nabi Ibrahim memilih berkeyakinan itu, tanpa reserve, tanpa tanya, tanpa mosting cacian di fesbuk, apalagi ngajak-ngajak orang lain bertuhan atau tidak. Maka, mereka yang jualan agama atau tuhan dengan nilai uang rupiah, dollar, atau dinar, diragukan obyektivitasnya karena meragukan subyektivitasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar