Kamis, Juli 21, 2016

Kudeta? Antara Ngomdo dan Gosok Gigi

Yang menarik, di medsos Indonesia, terlihat begitu rupa dukungan pada Erdogan, presiden Turki. Senyampang itu, ada juga yang berharap mestinya kudeta dilakukan di Indonesia, pasti sukses. Dalam pada itu, bersamaan waktunya, mudah pula didapat komentar-komentar dukungan pada Papua merdeka. Tentu saja, semua dengan pembenarannya.

Seolah menyambung itu semua, tokoh bernama Dr. Kwik Kian Gie pun mengatakan; Untuk perubahan (Indonesia saat ini), tak ada jalan lain kecuali kudeta. Dan menurutnya, mengutip Fukuyama segala, pemerintahan diktator adalah jaminan kehidupan. Pasti lebih makmur bagi rakyat.
Bagaimana cara memilih pemimpin? Saran Kwik, jangan lewat pemilu, karena penuh kecurangan. “Saya usulkan, mungkin MUI yang mampu, pilih pemimpin, orang yang sangat dihargai rakyat,…” Gubrakkkk, para netizen bisa mengubah tawa kwakwakwakwak menjadi kwikwikwikwik,…! :D

Meski berangkat dari alasan pikiran masing-masing (dengan sentimen agama, sentimen humanisme-universal, dan sentimen liberalisme), apakah bisa kompak bersatu-padu, melakukan kudeta misalnya? Pasti tidak. Semuanya juga akan terjebak pada kepentingan masing-masing, dan seberapa besar tanggungjawab dengan omongannya. 

Mungkin saja banyak yang percaya, seperti slogan Malala Yousafzal; One child, one teacher, one book, one pen, can change the world. Tapi apakah hanya itu? Tentu tidak. Coba pertemukan Sartre dengan Marx. Mungkin hasilnya akan lebih baik. Tapi bisakah keduanya tidak bermasalah sejak awal? Kita akan mengulang perdebatan Hegel dan Kierkegaard soal obyektivitas dan subyektivitas. 

Karena masalahnya memang bukan salah dan benar, sebagaimana kata Friedrich Hegel, tragedi kita hari ini ialah soal hak dan kepentingan. Hidup, apalagi berbangsa dan bernegara, tak semudah kuli-kutip (sebutlah jurnalis) mengutip omongan orang. 

Sepanjang hanya nggedebus di medsos, tak akan terjadi apa-apa. Karena dalam semua gerakan, atau katakan kudeta, ideologi yang bergeraklah yang akan membawa kita. Ideologi macam apa yang kini dianut orang Indonesia? Ideologi konsumsi atau produksi? 

Kwik tentu tak ada apa-apanya dengan Sukarno, meski dalam hal ilmu ekonomi lebih pintar. Tapi di arena politik Kwik nyalinya cupet. Para pemuja Erdogan (yang adalah pembenci Jokowi), boleh jadi sama a-historisnya dengan Kwik. 

Mereka tak pernah dengar perdebatan M. Natsir dan Sukarno mengenai sekularisme, Islam dan Negara (ketika Sukarno memakai Turki sebagai model).

Kata Iwan Fals, mari ngomdo dan gosok gigi,…!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar