Jumat, Juli 22, 2016

Jangan Berubah Sendirian, Tuan Jokowi



Jokowi, Anda adalah presiden Republik Indonesia 2014-2019. Semua orang Indonesia tahu itu, bahkan mereka yang mencoba menggelapkannya pun!

Secara pribadi, dan tulisan ini atas nama pribadi bukan atas nama lembaga-lembaga tuhan dan manusia, saya berterimakasih karena rakyat pemilik hak suara pilpres 2014 lebih banyak memilihmu. Untunglah wa syukurillah.

Setidaknya, kehadiran Jokowi menjawab tantangan Warren Bennis; The most dangerous leadership myth is that leaders are born-that there is a genetic factor to leadership. That’s nonsense; in fact, the opposite is true. Leaders are made rather than born. Perubahan jaman menolak geneologi politik yang palsu itu.

Kemenangan Jokowi penting, sebagai satu faset yang harus dilalui Indonesia, setelah blangsak akibat kejahatan kemanusiaan dan kebudayaan Soeharto (1967-1998). Lebih dari 30 tahun, mungkin setengah abad bahkan, bangsa ini muter-muter di tempat. Hingga tertinggal dari bangsa-bangsa lain, bahkan oleh Malaysia, Thailand, Vietnam, atau beberapa Negara Afrika. Progresi masyarakat madani dimatikan oleh Soeharto.

Fakta menunjukkan, setelah Sukarno (yang tahun 1960 memproyeksikan Indonesia akan melampaui Jepang pada tahun 1975), Indonesia tidak mendaki melainkan  menurun. Dari sisi kekayaan SDA, kualitas SDM, tingkat korupsi, kemunduran dalam literasi dan pendidikan. Bahkan, betapa biadabnya mengkorupsi vaksin kesehatan bagi generasi masa depan.

Semua itu nyata. Bahwa Soeharto pernah membawa Negara ini swasembada beras, sungguh itu benar. Tapi dengan sistem tanam intensifikasinya, hanya memberi makan tanaman dan bukan tanahnya. Kini yang diwariskan adalah tanah-tanah cengkar, kering. Membutuhkan puluhan tahun untuk memulihkannya. Waktu tanam padi jadi lebih lama, dan menghasilkan bulir-bulir padi lebih kurus.

Kita selalu ngomong saatnya berubah. Tapi alangkah susahnya. Dalam kepolitikan, adab kita masih rendah. Parpol justeru hanya area legitimasi bagi manusia-manusia pemuja hedonisme kekuasaan. Para elite parpol sama sekali gagal mendidik bangsa ini ke arah lebih baik. Parpol bukan pusat rekrutmen kepemimpinan atau pusat edukasi masyarakat secara progresif. Sekolah-sekolah formal hingga perguruan tinggi, belum juga mampu memposisikan sebagai pusat perubahan. Justru lebih banyak melahirkan manusia dependent daripada independent.

Perkembangan dunia, dengan segala macam lekuk-likunya, adalah keniscayaan. Dan Indonesia Negara yang telah terjerat, dan dijerat, dengan berbagai aturan internasional, sejak kekalahan sosdem bersamaan dengan tergulingnya Sukarno. Tidak mudah berkelit diantara begitu banyak prakarsa dan ketidaksabaran, di tengah kapitalisme global dan neo-liberalisme.

Jika saya boleh menasehati Anda, Tuan Presiden, jangan berubah sendirian. Anda pasti tahu nasihat Jack Welch; Before you are a leader, success is all about growing yourself. Tetapi ketika Anda menjadi pemimpin, kesuksesan adalah soal menumbuhkan orang lain. Bagaimana cara? 

A leader is a dealer in hope, ujar Napoleon Bonaparte. Seorang pemimpin adalah dealer harapan. Atau sebagaimana rumusan Peter Drucker, kepemimpinan adalah mengangkat visi seseorang untuk pemandangan tinggi, meningkatkan kinerja seseorang untuk standar yang lebih tinggi, pembangunan kepribadian melampaui keterbatasan normal.

Jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil bijaksana, warga yang peduli, bisa mengubah dunia, demikian nasihat Margaret Mead. Karena itu, kita tidak sedang bicara soal otoritas, melainkan apa yang dinamakan dengan pengaruh. Ralph Nader memulai dengan premis; That the function of leadership is to produce more leaders, not more followers. Fungsi kepemimpinan adalah menghasilkan pemimpin yang lebih, bukan pengikut yang berlebih. 

Karena itu, pemimpin berpikir dan berbicara tentang solusi, sementara pengikut berpikir dan berbicara tentang masalah. Jangan pula dinafikan kenyataan, bahwa hanya sedikit orang menginginkan kebebasan, kebanyakan hanya menginginkan seorang tuan yang adil. Sudah adilkah sampeyan, Tuan Presiden?

Kebahagian dari setiap negara lebih bergantung pada watak penduduknya daripada bentuk pemerintahannya, sebagaimana Thomas Chandler Haliburton menyarikan. Karenanya, jangan berubah sendiri Jokowi. Tetapi ubahlah juga way of life masyarakat yang engkau pimpin.

Bukan hanya masyarakat, yang karena pendidikannya rendah, melainkan juga (terutama dan khususnya) para pejabat negara, para abdi negara, di semua tingkatan, agar tidak lagi bersikap kolonialis dan orbais atau soehartois. Agar tidak menjadi bangsa yang formalis dalam berpikir dan beragama, tidak menjadi pragmatis dalam bertindak, tidak menjadi vandalis ketika berkuasa. Sebagaimana katamu, negara Indonesia adalah negara besar, bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar.


Atau mesti sebagaimana layaknya Tuan Presiden memakai mahkota Rama, tentang ke-delapan unsur alam semesta, dimana kepemimpinan mestilah menggambarkan sifat 8 Dewa? Dimana Tuan Presiden mesti mulat laku jantraning (mengikuti laku dari) bantala (Bathara Wisnu), surya (Bathara Surya), kartika (Bathara Ismaya), candra (Bathari Ratih), samodra (atau tirta, Bathara Baruna), akasa (Bathara Indra), maruta (Bathara Bayu), agni (Bathara Brahma)?

Memiliki watak bumi yang memiliki sifat kaya akan segalanya, dan suka berderma. Watak matahari yang akan selalu menjadi penerang di antara sesama. Memiliki watak bintang yang mapan (teguh) dan tangguh, walaupun dihempas angin prahara. Namun juga memiliki watak rembulan, penerang kepada siapapun yang sedang mengalami kegelapan budi, serta memberikan suasana tenteram pada sesama.

Berwatak samodera yang dapat memuat apa saja yang masuk ke dalamnya. Walaupun berupa sampah industri dan rumah tangga, bangkai anjing, bangkai manusia, semua dapat diterima dengan sikap tulus tidak pernah menggerutu. Sebagaimana watak air selalu rendah hati dalam perilaku badan (solah) dan perilaku batin (bawa) atau andhap asor. Selalu menempatkan diri pada tempat yang rendah.

Namun juga memiliki watak langit, yang melindungi atau mengayomi terhadap seluruh makhluk tanpa pilih kasih, dan memberi keadilan dengan membagi musim di berbagai belahan bumi. Berwatak angin yang selalu menyusup di manapun ada ruang yang hampa, walau sekecil apapun. Angin mengetahui situasi dan kondisi apapun dan bertempat di manapun. Dan, menggenapinya dengan berwatak api, yakni mematangkan dan meleburkan segala sesuatu masalah dan kesulitan, menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga.


Pada intinya, pemimpin adalah pengayom (pelindung), dan pengayom adalah pelayan. Jika masyarakat tenang bekerja dalam bidang masing-masing, Anda telah menegakkan kepemimpinan itu. Masalahnya, dalam carut-marut Indonesia saat ini, bermodal sisa-sisa pesta-pora era kekuasaan sebelumnya, memang tidak mudah. Karena bisa-bisa bukan hanya dituding sebagai tukang cuci piring, tetapi penanggung jawab dari masa lalu, di mana kita semuanya adalah korban.

Namun, bukankah menurut Richard M. Nixon, menyikat lantai dan mencuci pispot sama mulianya seperti menjadi presiden? Setidaknya presiden yang menyikat lantai dan mencuci pispot?

Saya menunggu, dan akan tetap mengingatkan jika Anda lalai. Apalagi lancung.

Yogyakarta, 20 Juli 2016
Sunardian Wirodono

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar