Senin, November 30, 2015

MKD dan Out of Focus Tupoksi

Anggota parlemen kita suka banget menggunakan kata 'tupoksi' (tugas pokok dan fungsi), tetapi betapa tak jelasnya apa tugas pokok dan fungsi mereka. Namun dengan pengaduan SS soal perilaku SN (ketua DPR-RI), reaksi parlemen tak karu-karuan. Padahal yang dilaporkan adalah soal etika pejabat publik yang berkait tugas pokok dan fungsi di DPR.

Yang terjadi justeru, SN hendak melaporkan SS ke Polisi tapi tiba-tiba dibatalkan, dan katanya memaafkan kekhilafan SS. Ingin dikesankan ke publik bahwa SS-lah yang bersalah. Apalagi di media sosial beredar cerita yang tak jelas sumbernya, jagoan teori konspirasi tapi tak sadar jadi korban black-mail dan susah dikonfirmasi.

Bahwa SS begini-begitu jahatnya, ingin memperpanjang kontrak Freeport, tapi dengan data sumir atau bahkan tanpa data. SS adalah orangnya si ini dan si itu, sementara LBP begini RR begitu, BS ngomong rekaman aselinya lebih ngeri. FZ dan FH terus kompak menyanyi dalam koor-koor yang sumbang, bahwa ada yang salah dalam konstruksi berfikir bangsa kita, kata FH. Ini soal apa?

Pengaduan SS soal perilaku SN ke MKD adalah berkait code of conduct di DPR. Respons yang muncul mestinya, MKD segera bersidang membuktikan benar tidak aduan SS itu. Apalagi tudingannya adalah angota parlemen mencatut nama Presiden dan wakilnya. Jika benar, tindakan etik harus dikenakan, jika tidak barulah SN yang teradu merasa perlu melaporkan SS ke Polisi atau tidak?

Dalam proses sidang itu, simpel saja, semua bukti-bukti dan saksi-saksi dipertemukan dan di-crosscheck, sesuai azas yang berlaku, terukur, kredibel dan fair. Disitu fungsi MKD sebagai mahkamah kehormatan bagi anggotanya. Tutup kuping soal skandal Freeport itu. Dan baru setelah semua tudingan SS benar terbukti, kasus berikutnya bisa bergulir, soal mafia ini-itu yang terbukti dalam percakapan SN ke ranah hukum.

Tetapi watak kepartaian kita yang oligarkis dan penuh kepentingan kelompok, membuat hal 'sederhana' (kasus SN) itu menjadi riuh-rendah, dan kita tidak proporsional menanggapinya (dari elite KMP yang reaktif, masyarakat yang terbelah sebagai follower tidak kritis, hingga fitnah bertebaran kian-kemari). Dan endingnya, justeru SS kini jadi korban blackmail, dan tak penting lagi melihat spirit awalnya, bahwa ia bertanggungjawab pada apa yang dilakukannya, termasuk soal clear & clean governance.

Soal Freeport itu sendiri, harus juga dilihat pokok persoalannya, karena ia rangkaian dari kisah lama, dan pemerintahan sekarang mendapatkan impaknya. Bahkan bisa dibayangkan, menjelang pelantikan Jokowi, SBY mengeluarkan keputusan penting soal kontrak kerja Freeport, yang akhirnya merepotkan posisi pemerintah Indonesia kemudian.

Nasionalisme adalah kata-kata yang sangat mudah dikatakan, bahkan sejak sebelum Sukarno. Namun 67 tahun merdeka, kata-kata itu masih saja menjadi perdebatan kita. Bahkan perdebatan kita hari ini tentang nasionalisme justeru lebih sempit dan tertutup, kita seolah berhadapan dengan kaum fundamentalis yang menisbikan konstelasi politik-ekonomi dunia. Bahkan atas nama nasionalisme, kita bisa saling bunuh dan tikam bangsa sendiri, tak jauh beda dengan waham wahabiyah. Kata asing pun kini ditambahi aseng. Apa maksudnya?

Tentu saja parlemen adalah lembaga politik, dengan para anggotanya dari partai politik. Tapi alangkah sedihnya, kita tak bisa membedakan soal etik dan politik berkait tupoksi. Dan kita, rakyat, diseret-seret dalam kedunguan yang penuh kebencian satu sama lain.

Sabtu, November 28, 2015

Siti, Kemenangan Kesederhanaan

Jika engkau adalah perempuan, seorang isteri, telah berjuang membantu atau bahkan membebaskan suami dari belenggu kesulitan, dan suamimu yang lumpuh mengiyakan saja igauanmu untuk pergi meninggalkan kebosanan, karena ada godaan indah di luar sana; apa yang engkau lakukan?

Pertanyaan itu menyergap-nyergap saya semalam, sehabis menonton film 'Siti' skenario dan sutradara Eddie Cahyono (yang diputar anak-anak Unstrat-UNY Karangmalang, Yogyakarta, 27/11). Poin itu sangat eksistensialis, ideologis, dan paradoksal, tetapi justeru itu tidak dieksplore.

Tetapi setidaknya, kepenasaran saya atas kemenangan 'Siti' sebagai film terbaik FFI 2015 terjawab sudah. Pantas saja film ini menang, di samping karena FFI memang selalu penuh kejutan, tetapi juga panitia dan juri film Indonesia selalu mudah tergoda dengan yang 'lain' dan 'agak' baru. Padahal kalau FFI tidak sangat cosmopolitan dan turistik pandangannya, film model 'Siti' sesungguhnya banyak digarap anak muda Indonesia. Fourcolours Films beruntung karena Isa Isfansyah produsernya, berada dalam momentum yang kita semua tak boleh cemburu.

Film hitam-putih dengan gaya realisme-sosialis ini menceritakan tokoh Siti, yang punya suami lumpuh karena kecelakaan waktu melaut. Berjualan jingking untuk menghidupi keluarga, suami yang lumpuh dan seorang anaknya yang butuh biaya sekolah, tidaklah cukup. Apalagi dalam desakan utang yang diultimatum harus dilunasi dalam tiga hari. Godaan untuk kembali ke kehidupan malam, bekerja sebagai pemandu karaoke, apalagi ada Gatot, the other man yang gagah, seolah mengundang katup pelepas.

Tetapi benarkah Siti seremeh itu, berselingkuh dengan Gatot yang reserse, gegara suami (yang cuma nelayan) lumpuh? Bukankah ancaman rentenir telah berhasil ia jawab, dengan mendapatkan uang untuk melunasi utangnya? Bukankah Siti berhak marah, meledak, ketika suaminya adalah stereotype masyarakatnya, yang tak bisa membedakan pengorbanan dan pelacuran? Bukankah Siti butuh cinta, perhatian, dan perlindungan dari lelakinya? Sayangnya, Siti harus ‘menjelaskan’ pada anaknya, juga pada ibu mertuanya, dan klimaks itu jadi tak punya energy lagi.

Dan menjadi banyak pertanyaan, ketika Siti malam-malam sendiri, pergi menuju laut. Mau bunuh diri? Mandi malam, atau mau ketemu Nyai Ratu Kidul? Tidak penting, karena laut adalah misteri. Dan film ini menyisakan banyak pertanyaan. Termasuk pertanyaan berbagai aspek sinematografisnya.

Tetapi bagaimana pun, film Siti telah menyodorkan pendekatan berbeda dari mainstreaming film Indonesia. Jika ini menarik di forum-forum internasional, justeru karena nilai yang hendak dibawakannya, yang bisa mengabaikan unsur-unsur teknis. Ini penghargaan atas keberanian Isa Isfansyah dan kawan-kawan dalam mempercayai Eddi Cahyono menelorkan 'Siti'. Mereka telah menjadi fenomena, ketika produksi non-Jakarta, di luar mainstream, menjadi film terbaik FFI. Betapapun.

Kemenangan "Siti" sebagai film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2015 sungguh menarik. Film ini setidaknya menyabet penulis skenario aseli (Eddie Cahyono) dan penata musik (Krisna Purna) terbaik, dua dari tiga nominasinya termasuk film terbaik.

Sementara, Guru Bangsa Tjokroaminoto yang disutradarai Garin Nugroho dan mendominasi unggulan, tersingkirkan meski menang di pengarah sinematografi, artistik dan penata kostum (Retno Ratih Damayanti). Meski Garin marah-marah tak dinominasikan dalam FFI kali ini, "mungkin saya tidur,..." twitnya.

Jika menurut juri sebagai dasar penilaian, kali ini tak ada film yang benar-benar mencengkam dengan mengumpulkan unggulan skenario, penyutradaraan, sinematografi, editing, dan pemeranan dalam satu film.

Hasil penjurian itu, sesungguhnya juga menyiratkan, bahwa kekuatan semua lini sebuah film tidak merata. Bisa diduga hal itu terkait dengan disain produksi ketika sebuah film dirancang. Film terbaik di Indonesia, sering lebih terbangun karena faktor-faktor non-film. Jika bukan karena tema, teknik pendekatan, atau pun unsur kebaruan pada hal-hal yang hendak diarahkan juri (atau panitia festival) ke mana film Indonesia sebaiknya dituju.

Sebelum bertarung di FFI, Siti telah melanglang ke berbagai festival internasional, di Italia, Amerika Utara, dan Belanda. Mendapatkan penghargaan Best Performance di Singapore International Film Festival (2014), Best Scripting di Shanghai International Film Festival ke-18 (2015), film Panjang Terbaik di Apresiasi Film Indonesia (2015).

Panitia FFI tahun ini menyebut 'Film dan Teater' dengan memakai ikon Teguh Karya. Sebagai wacana merupakan terobosan menarik, meski butuh penjabaran serius. Apa itu film, apa itu teater, dan mau ke mana seni film kita?

Film dan teater di Indonesia tampanya lahir dari satu rahim, namun betapa jarang kita dapati kemajuan dunia pemeranan kita. Lahirnya aktor lebih sering dikatrol skenario dan penyutradaraan, daripada inner-acting pemeranan. Artis datang dan pergi tanpa kesan. Mencengangkan sebagai new-comer, tapi hilang kemudian.

FFI jadi selalu terkesan lebih politis, dibandingkan FFB (Festival Film Bandung) yang melihat film sebagai film. Hal itu lebih menyiratkan kegelisahan orang film itu sendiri, yang belum selesai dengan problem internalnya. Antara seni dan industri.

Namun keberanian memenangkan Siti, semoga membuat industri film kita lebih toleran dan memberi ruang pada kreativitas sineas. Bukan hanya menempatkan insan film sebagai buruh mesin duit belaka. Kreativitas dan pencapaian, hal yang sering tak berharga dalam dunia film kita.

FFI sendiri selalu berubah-ubah arah, tergantung panitia dan jurinya. Tak ada arah pasti, kecuali proyeksi sebagai langkah antisipasi perkembangan situasi dan jaman. Dengan ideologi pragmatis itu, dunia film Indonesia tampak adaptif, fleksibel, tapi 'mudah terpengaruh' alias labil.

Sebagai penonton, saya terkesan dialog-dialog antara Siti dan anak lelaki tunggalnya. Belum sangat sublim, tetapi Eddie potensial untuk menggali nilai-nilai paradoks dalam kehidupan, sebuah syarat film realisme-sosial, meski fatalitas dalam ending film ini terasa mengganggu.

Tak ada adegan seronok sesungguhnya, dalam mainstream film Indonesia. Kalau yang porno dan tidak nyambung, banyak. Namun adegan ciuman bibir yang lama dan penuh nafsu dari Siti dan Gatot, sungguh berani, tanpa sensor dan tedeng aling-aling. Juga adegan buka baju Siti di depan cermin, yang berhasil tidak (dan juga tidak dalam rangka) memunculkan sensualitas.

Untung pemeran Siti bukanlah Luna Maya, atau Jupe misalnya, karena memang tak ada bintang di sini, pemain lokalan semua (!). Namun akting Sekar Sari (sebagai Siti), untuk aktris terbaik sebenarnya lebih siap, dibanding permainan Tara Basro dalam A Copy of My Mind.


Sabtu, November 14, 2015

Enny Arrow, Pejuang, Pendidik, Generasi Bangsa


Catatan Tambahan: Tulisan ini sebenarnya saya tulis serius karena diminta oleh sebuah blog di Yogyakarta, yang bertagline; “Sedikit Nakal Banyak Akal”. Tapi karena tulisan itu bukan hanya diedit, melainkan diubah-ubah, dan akhirnya memang sempat dimuat (12/11/2015), saya keberatan karena tulisannya menurut saya jadi ngaco. Saya minta tulisan itu dicabut atau dimuat utuh. Saya senang mereka akhirnya memilih mencabutnya, meski lagi-lagi mereka melakukan begitu saja tanpa menghubungi saya lagi. Itu soal etika sih, karena saya tidak cari perkara kirim tulisan ke mereka, tapi mereka yang meminta tulisan saya. Untung saya sama sekali tak menggubris pertanyaan mereka soal nomor rekening saya. Karena bagi saya menulis adalah kebahagiaan, bukan soal honorarium. Untuk mengobati kekecewaan, karena saya menulis artikel ini serius dan menghabiskan energi, saya muat di sini seutuhnya, kecuali mencoret dan mengganti kata atau nama yang berkait dengan peminta tulisan saya tersebut. SW



1. Biar kelihatan serius, pakai angka-angka. Enny Arrow adalah fenomena, setidaknya fenomena rusuh, lebih spesifik lagi; rusuh seks. Rusuh seks atau seks rusuh? Seks memang rusuh, karena itu rusuh seks nilainya lebih rusuh lagi, complicated. Jika di dunia sepakbola ada bonek atau aremania, ini lebih rusuh dari itu. Apalagi dibanding pendemo profesional, atau kaum haters yang belum juga bisa move on.
Jagat Enny Arrow adalah jagat pinggiran, di seputar Pasar Senen dan Pasar Baru, Jakarta, pada penerbit lapakan. Benar-benar hanya berdagang buku dengan satu lapak meja. Buku siapa? Buku yang mereka terbitin sendiri, cetak sendiri, meski tentu penulisnya bukan mereka. Itu persis para penerbit komik di Los Mini Topsy (Pasar Baru). Cara jual beli naskah, novel atau komik, benar-benar dengan transaksi amat biasa. Pembelinya, para taoke toko buku itu, tak perlu melihat atau membacanya. 
Sebuah naskah novel dari nama yang tidak terkenal, pada tahun 1980an, bisa hanya ditawar antara 10.000 s.d 20.000 rupiah. Untuk penulis novel, bukan hanya judul, bahkan nama pengarangnya pun bisa diganti. Apakah Anda tak pernah menduga, jika teman Anda pernah menulis novel gituan, dan nama yang ditabalkan atas buku cerita itu menjadi Enny Arrow? Jika tak pernah, cobalah menduga. Sesekali.
Itulah fenomena novel seks atau cerita stensilan (padahal dicetak handpress) jaman itu, dalam hampir tiga dekade 1970-1990. Jaman sebelum internet dan era digital merangseks (artinya = merangkul seks).



2. Meski kita masuk era teknologi dan komunikasi modern, bukan berarti kita gampang akses informasi. Bahkan sampai kini, jika pun ada yang menulis biografi Enny Arrow, tak pernah jelas sumber informasinya.
Konon Enny Arrow dulunya ‘hanyalah’ pekerja di toko usaha tukang jahit bernama ‘Arrow’ di Kalimalang, Jakarta Timur. Entah karena suntuk kerja sebagai penjahit, ia menulis novel pertama pada 1965. Judulnya agak seram juga; Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta. Judul yang oleh para communistofobi akan dituding kiri. Nama Arrow di belakang nama aselinya, Enny (Sukaesih Probowidagdo) memang diambilkan dari nama tempatnya bekerja waktu itu. 
Entah berhubungan atau tidak, antara novel yang berjudul kekiri-kirian dengan situasi jamannya (pecah peristiwa 30 September 1965), pada akhir tahun itu Enny Arrow kabur ke Filipina, untuk kemudian ke Hong Kong, dan akhirnya ke Seattle, Amerika Serikat, April 1967.
Perempuan kelahiran Hambalang, Bogor tahun 1924 itu, pada awalnya memang wartawan. Memulai karir kewartawanan pada masa pendudukan Jepang, belajar Steno di Yamataka Agency, kemudian direkrut menjadi salah satu propagandis Heiho dan Keibodan. Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Enny Arrow bekerja sebagai wartawan Republikein, yang mengamati jalannya pertempuran di seputar wilayah Bekasi.
Soal riwayat Enny Arrow, masih simpang-siur. Ada yang mengatakan, Abdullah Harahap (penulis novel-novel horor sejaman Motinggo Boesje) konon tahu persis Enny Arrow adalah nama samaran penulis lelaki, dan masih hidup hingga sekarang. Siapa? Sialnya, Abdullah Harahap sudah almarhum, sehingga tak bisa dikonfirmasi. 
 
Di Amerika Serikat Enny Arrow belajar penulisan kreatif bergaya Steinbeck. Menemukan irama Steinbeck, Enny Arrow mencoba menulis untuk beberapa koran terkenal AS. Salah satu yang dimuat, novel (cerber) berjudul "Mirror Mirror".

 
Tahun 1974 kembali ke Djakarta, bekerja di salah satu perusahaan asing di Jakarta, sebagai copy-writer atas kontrak-kontrak­ bisnis, Enny Arrow kembali tergoda menulis. Dalam pertengahan dekade 70-an, nama Enny Arrow melambung melampaui popularitas Teguh Esha dengan Ali Topan. Selama satu dekade ke depan, hingga pertengahan 80-an, Enny Arrow merajai bacaan remaja Indonesia, bersamaan dengan jaman keemasan komik-komik roman seperti Zaldy, Sim, Jan, dan seterusnya, termasuk kemudian disusul komik-komik silat Ganes TH, Man, Djair, Hans dan lain-lainnya.

Era itu, Orde Baru sedang berjualan moralitas Pancasila. Belum ada FPI dan sejenisnya, namun sudah ada ritual ‘gropyokan Enny Arrow’ dan membakar komik-komik roman yang dianggap meracuni moral generasi muda. Pelakunya, para penegak hukum, dan para moralis, meski belum ada Surat Edaran Kapolri Badrodin, yang waktu itu masih kanak-kanak.
Jaman itu, pornografi jadi musuh Negara. Sampai Motinggo Boesje, sastrawan yang terpeleset ke novel seks pun, pada dekade 1980-an putar haluan. Masih menulis roman sahdu, tetapi dengan baluran agama. Sehingga banyak adegan di mana tokohnya bentar-bentar mandi junub, bentar-bentar mandi junub.

3. Persoalannya, jika ini dianggap persoalan, Enny Arrow lahir di jaman itu. Jaman ketika yang namanya komunitas anti hegemoni belum tumbuh. Itu jika dianggap persoalan. Tapi jika tak dianggap, ya, buat apa paragraph ini ditulis, apalagi sampai dibaca?
Seandainya Enny Arrow hidup di komunitas Salihara, dan GM tidak mengenal Ayu Utami, misalnya, bagaimana coba? Atau misalnya, di jaman efek mediasi ini, Enny Arrow hidup sejaman Eka Kurniawan, sama-sama belajar John Steinbeck, apakah nasib Enny Arrow akan penuh luka, meski tidak cantik?
Ayu Utami, atau Eka Kurniawan, bisa menulis soal kelamin dengan leluasa. Atas nama peradaban atau keterdidikan? Itu sih pinter-pinternya para juru tafsir saja. Yang pasti, para juru tafsir Enny Arrow, hanyalah pedagang lapak buku yang merangkap penerbit di Pasar Senen dan Pasar Buku. Tak satu pun yang ikut komunitas sastra, apalagi ikut nongkrong di angkringan komunitas bloger. 
Pertama kali, buku-buku Enny Arrow diterbitkan oleh penerbit ‘Mawar’. Padahal, di beberapa koran dan televisi, ‘Mawar’ selalu identik dengan nama korban perkosaan. Apakah para penulis berita itu dulu penggemar Enny Arrow? Biarlah itu jadi rahasia dunia. Selebihnya, hampir semua penerbit di Pasar Senen tanpa perlu menyebut nama penerbitannya. Cukup menuliskan nama Enny Arrow doang, dan itu jaminan best-seller.
Mereka hanya tahu, setelah 1965 dan Mbah Soeharto tampil, dunia sosial-politik melulu milik Negara. Sementara, siapa yang mengisi moral dan rohani masyarakat? Agama belum laku diperdagangkan waktu itu. Satu-satunya hanyalah hiburan pop, musik ngak-ngik-ngok, termasuk di dalamnya novel kelas stensilan dan komik-komik.
 
Generasi yang tumbuh pada jaman itu, menurut survei yang pernah dilakukan majalah "Men's Health” edisi Indonesia (2003), mengungkap mereka (17,2% responden) adalah pembaca karya Enny Arrow, sebagai sumber pertama pengetahuan tentang seks. Para pembaca Enny Arrow itu, saat ini adalah para pembuat keputusan puncak, dalam institusi sosial politik masing-masing. Mereka berumur kisaran 40-60 tahun. Mungkin ada yang jadi menteri, anggota parlemen, atau mendirikan angkringan sebagai life-style.




4. Namun yang dahsyat dari Enny Arrow, mungkin juga Freddy S, Nick Carter (ini konon dari Amerika aseli), nama-nama mereka menjadi nama generik. Sama seperti cerita komik anak-anak waktu itu. Ada banyak komik cerita HC Andersen, tapi sumpah mampus, pemilik nama itu sangat bisa jadi tidak tahu menahu. Bukan karyanya dijiplak, cukup namanya saja yang dipakai, sebagai merk dagang dan tanpa ijin, apalagi membayar copy-right.  
Ketika menjadi redaktur ‘Optimis’, majalah perbukuan, dan bekerja di Pengembangan Minat Baca Masyarakat (1984) Jakarta, saya mengadakan survey penerbitan pinggiran ini, yang semuanya berpusat di Pasar Senen dan Pasar Baru. Buku, entah novel stensilan atau komik, pada jaman itu pernah menjadi penanda jaman, bahkan mewarnai perjalanan satu generasi. 
Enny Arrow adalah merk dagang, hingga periode terakhirnya, pertengahan dekade 80-90, namanya bukan mulai menyurut melainkan me-rusak (menuju rusak). Enny Arrow yang asli makin tak banyak berkarya, karena penerbit abal-abal memakai nama itu sebagai merk patent atau jaminan laris, dari berbagai penulis lain yang bisa dibayar lebih murah. Hingga kemudian, matilah Enny Arrow pada 1995.
Kisah Enny Arrow sesungguhnya tragis, tetapi ia adalah fenomena. Nama kepenulisannya bisa menjadi merk dagang. Itu sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Eka Kurniawan, atau siapalah. Mana ada penerbit meminta penulis murahan, terus kemudian tulisannya diberi merk Ayu Utami atau siapalah! Tak ada ‘kan? Karena peradaban sudah tumbuh di Indonesia. Kalau pun masih berlangsung, modusnya lain, misal jadi ghost-writer penulis laris (di dunia sinetron, praktik seperti ini marak). 
Misal pembajakan, penjiplakan, atau meniru-niru. Baik di dunia musik, film, penulisan, dan sejenisnya. Kalau kita nonton film ‘Pendekar Tongkat Emas’ karya Isa Isfansyah, kita mungkin kayak pernah melihatnya di film Hero, Crouching Tiger Hiden Dragon’ atau ‘Red Cliff’-nya John Wo. Atau musiknya Koes Plus, Ahmad Dhani, dan sebagainya. Atau novelnya si anu yang menggemparkan, tapi sangat dipengaruhi Steinbeck, dan sebagainya. Gitu-gitulah. Kalau nggak gitu-gitulah, ya, berarti gini-ginilah.


5. Di Indonesia yang sangat kaya raya ini, pada setiap generasinya, cenderung dididik oleh generasi KW atau generasi generik. Itu bukanlah sebuah aib benar. Sesuatu yang wajar-wajar saja.
Ketika di Jawa masih terjadi Perang Diponegoro (1825-1830), di Eropa sono Charles Darwin sudah mengungkapkan teori evolusi, Karl Marx berduet dengan Friederich Engels menerbitkan Communist Manifesto (1847). Atau jauh sebelumnya, Jane Austin (1775-1817) novelis Inggris, meluncurkan novelnya ‘Sense and Sensibility’.  Meski di tanah Jawa pada 1817, Sri Susuhunan Pakubuwana V, raja Karaton Surakarta, telah menulis Serat Centhini yang lebih vulgar dari semua pakar penulis sastra perkelaminan.
Maka, jika sebuah survey menyebut 17,2% respondennya mengaku mengetahui seks dari Enny Arrow, mantan penjahit itu telah berjasa sebagai pejuang pendidikan seks, justeru ketika masih dianggap tabu-tabunya. Padahal kata beberapa kyai di pesantren, dunia berputar karena selangkangan. Sampai Enny Arrow wafat dalam keadaan miskin, namanya sangat melegenda atas pengalaman empirik generasi bangsa. Ia pernah menjadi sebuah outlet, katarsis perkelaminan. Semoga khusnul qotimah. Alfatehah!

6. Tapi sikap kepenulisan Enny Arrow menarik, ketika ia tidak mau masuk ke penerbit besar, dan menjual bukunya ke toko-toko buku besar. Ini masih konon, benar-tidaknya masih butuh bantuan CIA, secara Enny Arrow memang agak misterius. Sementara mengharap BIN bertindak, seperti mengharap Sutiyoso pit-pitan dengan saya. Bukan karena saya tak punya sepeda, tapi tentu saya punya alas an ogah diajak Sutiyoso. 
Jangan-jangan, dengan novel pertamanya dulu, yang agak kekiri-kirian, beliaunya memang kiri. Hingga harus tersingkir atau menyingkir. Jika benar, sikap itu menarik, justeru ketika banyak penerbit takluk dalam aturan toko buku. Bahwa 50% lebih, dari harga buku, adalah hak toko buku. Selagi penerbit saja takluk, apalagi penulisnya, yang hanya mendapat 10% dari harga buku.
Maka para penulis yang anti asosiasi profesi, mending memilih semi-flat, dapat bayaran cash per-1000 eks dapat Rp 1.000.000, atau jual putus karena kebelet kawin!
Angka itu, sungguh tak sebanding dengan menerbitkan sendiri model indie. Jika laku 10-20 eks, bisa dapetin uang yang sama dengan yang 1.000 eks tadi. Tentu saja, jika laku dan tidak diminta gratisan teman-temannya.

7. Benarkah era Enny Arrow pudar di jaman dvd, blue-ray atau teknologi digital ini? Justeru tidak. Sepanjang masih bernama manusia rindu berproduksi, beregenerasi, atau prokreasi, cerita-cerita lendir terus bergulir. Buku-buku Enny Arrow dalam bentuk pdf, e-book, mudah ditemui di internet.
Bahkan regenerasi cerita model Enny Arrow, mewabah dan punya laman-laman khusus di berbagai media internet. Malah ada yang membuka interaksi antara penulis dan pembaca cerita-cerita soal perkelaminan ini. Buruan googling deh!
Enny Arrow, setidaknya membuktikan kekuatan genre, yang ketika dibalut dengan teknik-teknik pencanggihan model Ayu Utami, atau Eka Kurniawan, akan sangat tergantung pada para penopang atau juru tafsirnya. Setidaknya, era tulisannya sangat dikenal, tapi penulisnya tidak. 
Itu sungguh sangat susah be’eng dijalankan saat ini. Karena popularitas bukan sekedar effect samping, tapi juga effect depan, dan belakang. Ikutan di Frankfurt BF (book fair, bukan blue film) misalnya, itu sesuatu banget, meski harus nombok-nombok. Wong GM pun sebagai ketua panitia, juga harus nombok.

8. Masih membacanya? Untuk tulisan bertele-tele ini, karena setelah ditunggui sekian paragraph tak ada desah-desahnya, saya ingin menutupnya dengan mengutip novel pendek karya Agus Mulyadi, dari blognya 13 November 2014, berjudul “Mengelak dan Harga Diri”, dengan kategori "Ra Jelas', yang kalau dilafalkan lidah cedal menjadi 'la-jel-as'.
Diceritakan suami-isteri Johnson dan Sri, ingin mencoba gaya baru dalam bersenggama. Mereka ingin bercumbu secara outdoor. Malam adalah waktu yang dipilih karena aman. Tapi, karena penulisnya mungkin masih imut (item dan ngemutan), Jonhson dan Sri masih malu-malu. Kurang liar, tak sebagaimana Ayu Utami. Atau kurang nyeteinbeck ‘Seperti Dendam’-nya Eka Kurniawan. 
Johnson dan Sri fullnaked, masuk dalam satu sarung dan bergumul. Eh, tiba-tiba, muncul Bagyo mengonangi mereka. Agus Mulyadi seperti stand-up comedian yang tak sabar dalam punch-lines, buru-buru menutup dengan semprotan Bagyo; “Krukupan sendiri ndasmu, Krukupan sendiri kok kakinya ada empat!”
Tapiii, bisa jadi itu bukan Agus Mulyadi aseli. Bisa jadi namanya di-hack, atau Agus Mulyadi generic. Karena hampir mirip dengan gaya penutup novel-novel stensilan Enny Arrow, setelah ah-uh-ah-uh sepanjang halaman, tiba-tiba di halaman akhir bisa muncul 2-3 paragraf dengan ajaran moral khas Indonesia, semacam permintaan doa pada yang kuasa. Walau cuma satu ayat atau satu kata, tapi ‘kan sudah berkutbah. Artinya, moralnya nggak ancur-ancur banget. 
Meski jaman dulu kala, di jaman kejayaan Enny Arrow, selalu ada the first reader. Tugasnya, memberi kode-kode tertentu di halaman berapa bagian hotnya. Pembaca berikutnya, langsung membaca bagian hot itu. Tidak penting segala macam lead, set up atau pun premis-premis. Emangnya menulis di blog lucu, harus pakai teori-teori teknis?

9. Sebetulnya poin terakhir ini, tidak ada. Tapi, untuk pantes-pantes, agar terlihat gusdurian yang NU-nya berbintang 9, maka angka ini diadakan. Biar kelihatan agak taklim-muta'alim, sebagaimana stensilan kitab-kitab kuning. Sekian.