Minggu, September 06, 2015

Tenaga Kerja Asing; Pengalaman Pribadi


Pertama kali masuk kerja di dunia televisi, di Indosiar tepatnya, saya benar-benar sama sekali tidak tahu, jenis pekerjaan apa kiranya yang hendak dilakukan.
Hilman Hariwijaya waktu itu hanya memberi gambaran sebagaimana kerja di media penerbitan (cetak). Dan saya percaya karena si pengarang Lupus itu yang merekrut saya. Saya agak tenang, karena media cetak bukan dunia asing. Sejak dari Yogyakarta hingga hijrah ke Jakarta (1980) saya bergelut di dunia itu. Bukan dari reporter, tapi justeru pertama menjadi redaktur, dan berpindah-pindah baik sebagai reporter, redaktur, hingga stringer dan freelance.
Tapi televisi? Memang sama sekali buta. Beruntunglah karena Indosiar waktu itu mempersiapkan dengan baik. Hampir setahun (1994) kami dididik dan dilatih oleh tenaga-tenaga profesional dari TVB Hong Kong yang merupakan bagian dari Star TV London. Karena Indosiar bukan saja hendak menjadi stasiun penyiaran melainkan juga broadcasting production. Semua program acara adalah produksi sendiri. Mulai dari sinetron, talkshow, infotainment, news, hingga Indosiar menjadi stasiun pertama yang juga mengadopsi berbagai kesenian tradisi menjadi mata acaranya. Sistem produksi sendiri itu, yang kemudian dibajak habis oleh Ishadi SK dengan juga memboyong anak-anak Indosiar yang sudah terdidik dan terlatih, untuk membangun Trans TV (tanpa perlu keluar biaya pendidikan).
Setahun digojlog di daerah Rawamangun yang sumpeg, sampai frustrasi rasanya. Bukan karena digojlog oleh profesional Hong Kong yang notabene TKA dan China pula, tapi karena menjadi tidak sabar ingin segera siaran. Karena kerja di televisi tapi setahunan tak ada outputnya. Tiap hari hanya melakukan try-out dan pendadaran tak habis-habis baik dari sejak konsep hingga post-production, dan terutama team-work serta manajemen produksi. Ini sesuatu yang baru karena hampir kebanyakan kami dulunya adalah pekerja individu, dengan otoritas yang relatif penuh.
Tapi dari itulah, sembari menunggu gedung Indosiar di daerah Daan Mogot siap, kami (setidaknya saya) merasa siap untuk bekerja. Karena kita bukan saja merasakan apa itu transfer of technologie, tetapi lebih dari itu adalah transfer of knowledge, sampai faham betul bahwa setiap teknologi mempunyai karakter dan filosofinya sendiri.
Sampai ketika bertemu dengan seorang reporter NHK di Jakarta, yang menawari saya sebagai stringer untuk 'Asian Programme", saya menolaknya karena merasa belum cukup dengan ilmu dan pengetahuan saya. Saya merasa berada dalam situasi yang menyenangkan, karena belajar dari yang lebih ahli dan berpengalaman, dan merasa sayang jika ditinggalkan.
Tapi bukan tanpa masalah, masuknya beberapa nama besar (seniman individu) di Indosiar, dan beberapa orang (yang sudah) tua dan senior di pertelevisian Indonesia, bereaksi. Isyunya sudah sangat rasis dengan ujung keyakinan; Ngapain kita didikte orang-orang China itu, sementara kita sendiri bisa melakukannya!
Ketika Indosiar sudah pindah ke Daan Mogot dan mulai siaran, terjadilah konflik yang kami khawatirkan. Permasalahan tenaga kerja (profesional) asing itu meledak ke permukaan, hingga sempat dilaporkan ke DPR-RI segala. Kita tidak tahu konteksnya, dan kita tahu akhirnya apalagi Indosiar diketahui umum adalah milik Liem Soei Liong. Hingga akhirnya, para profesional dari Hong Kong itupun disudahi kontrak kerjanya. Padahal jumlah mereka, tidak lebih dari 15 orang yang tentu tak sebanding dengan kami yang mencapai 800-an orang di segala lini, administrasi, produksi dan teknis.
Ketika menyiapkan produksi sinetron untuk menyambut 50 Tahun Indonesia merdeka (1995), saya dipercaya memimpin persiapan dengan tim produksi drama (sinetron) perjuangan. Tim sutradara, tim penulis, dipilih untuk membuat disain program. Rapat berlangsung hampir sehari-semalam, sejak pagi hingga sore, dua kali break, tak ada keputusan. Dilanjutkan malam hari, tapi akhirnya tetap tanpa keputusan. Kenapa? Karena satu kepala tak hanya berangkat dari satu ide, semuanya ngotot idenya paling benar dan susah mendengarkan pendapat orang lain.
Kami waktu itu yang muda-muda, frustrasi karena tak bisa mempraktikkan pengetahuan kami tentang bagaimana membangun tim. Egosentrisme yang besar mengalahkan sistem yang hendak dibangun, hingga proyek itu gagal. Bukan karena tidak menghasilkan output, tapi ketika sampai proposal produksi, hambatan lain muncul. Disain cerita yang kami sodorkan ditolak mentah-mentah pengawas siaran internal, yang waktu itu semua stasiun televisi punya, biasanya adalah perwira tinggi TNI-AD. Ini masih jamannya Soeharto, Bung!
Saya masih ingat kata-kata pati TNI (yang sekarang aktif di sebuah partai politik) itu; Cerita yang hendak kami angkat, dituding menghina sejarah. Padahal kami melakukan riset pustaka dan mewawancarai puluhan saksi hidup dan pelaku perjuangan kemerdekaan 1945. Waktu itu, disemangati film Tom Hanks "Forrest Gump", kami memang menyodorkan tesis anti-hero. Ingin membuat cerita perjuangan yang tak hanya berisi bambu runcing dan teriakan Allahu Akbar yang selalu memenangkan perang (padahal faktanya tidak selalu seperti itu).
Tapi, saya sangat berterimakasih pada para instruktur kami dari Hong Kong itu, yang juga mengajari kami 'i love writing i hate rating'. Meski kami belum bisa melakukan perubahan, karena industri televisi di Indonesia juga belum tumbuh dengan baik dan benar. Bajak-membajak masih terjadi, karena perputaran uang di dalamnya bukan main besarnya, juga yang digelapkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar