Senin, September 28, 2015

Buku Baru Sunardian Wirodono

Ini dua buku Sunardian Wirodono yang diterbitkan secara indie, tidak dijual di toko buku umum, hanya melalui fesbuk semata.

Jokowi Undercover (2014) adalah novel dan sekaligus semacam ensiklopedi politik Indonesia kontemporer, 1.000 halaman, harga Rp 150.000.

Serat Centhini Dwi Lingua (2012) sastra Jawa klasik karya Sri Susuhunan Pakubuwana V dengan terjemahan text by text oleh Sunardian Wirodono, 700 halaman, harga Rp 125.000. Ini buku two-in-one, dua buku dalam satu buku, berbahasa Jawa sesuai teks aseli Serat Centhini dan bahasa Indonesia terjemahannya.

Harga terus naik meski nilai rupiah turun dibanding dollar AS. Pembelian bisa di-inbox. Demikian iklan.


Selasa, September 08, 2015

Islam dan Islami Beda


Di tengah keriuhan Fadli Zon dan Setya Novanto bersama Donald Trump, mari undur sejenak pada isyu lain yang cenderung disembunyikan: Seiring dengan krisis pengungsi Suriah, sebuah laman facebook The Syrian Community in Denmark berbagi video tentang pengungsi Suriah yang diperbolehkan masuk Austria lewat Hongaria, dan membuat pengguna lain bertanya, "Mengapa mereka kabur dari wilayah saudara-saudara kita sesama Muslim, yang seharusnya lebih bertanggung jawab, ketimbang ke negara-negara yang mereka sebut sebagai 'negara kafir'?"
Harian Makkah bahkan menerbitkan kartun, yang juga disebarkan lewat media sosial, memperlihatkan seorang pria berbaju tradisional dari negara Teluk, menunjuk pintu lain berbendera Uni Eropa sambil berkata, "Kenapa kamu tak mengizinkan mereka masuk? Dasar orang-orang tidak sopan!?"
Adalah Professor Scheherazade S Rehman dan Professor Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian mengenai negara-negara dalam praksis keislamian. Pertanyaan yang dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan semarak ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk kesalehan sosial berdasarkan ajaran Al Quran dan hadis.
Dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010), hasilnya: 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), mempunyai nilai-nilai yang rendah dalam mempraktikkan nilai-nilai keislaman. Justeru negara-negara Eropa, yang sekuler memiliki peringkat lebih tinggi.
Parahnya, Arab Saudi yang menjadi tanah kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad, tempat di mana Islam muncul dan menyebar di seluruh penjuru dunia, serta negara yang diharap sebagai negara Islam justru mendapatkan peringkat ke-91 sebagai negara Islami, dikalahkan oleh 90 negara-negara lain di dunia.
Dari studi itu, disimpulkan negara paling Islami di dunia adalah Irlandia, Denmark, Luxemburg, dan Selandia Baru (New Zealand) sebagai lima posisi teratas negara paling islami di dunia. Lebih lanjut, Askari mengatakan bahwa negara Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia adalah negara yang menerapkan ajaran Islam paling riil atau nyata. Fakta ini tentu mengejutkan, dan bakal dibantah ramai-ramai.
Mengapa kontradiksi ini terjadi? Syaikh Basuni, seorang ulama Indonesia dari Kalimantan, pernah berkirim surat kepada Muhammad Rashid Ridha, ulama terkemuka Mesir: “Limadza taakhara muslimuuna wataqaddama ghairuhum (mengapa muslim terbelakang dan umat yang lain maju)?" Surat itu dijawab panjang lebar dan dijadikan buku dengan judul yang dikutip dari pertanyaan itu. Inti jawaban Rasyid Ridha, "Islam mundur karena meninggalkan ajarannya, sementara barat maju karena meninggalkan ajarannya."
Berdasarkan hasil penelitian Askari, disimpulkan kebanyakan negara Islam menggunakan agama sebagai instrumen untuk mengendalikan negara. Di Indonesia, kita perlu berhati-hati dengan kelompok orang yang mengatasnamakan agama untuk negara. Apakah itu FPI, FUI, HTI, bahkan sekali pun MUI yang kini juga cenderung memakai agama untuk dalil politik negara. Padahal ada perbedaan signifikan antara negara Islami dan negara Islam.
Negara Islam menerapkan aturan-aturan syari'at Islam dalam bernegara secara formal, sedangkan negara Islami merupakan negara yang mengamalkan nilai dasar atau nilai substantif daripada doktrin Islam. Negara Islami tidak harus menerapkan syari'at Islam secara formal, tetapi lebih menekankan pada aplikasi atau praktik yang mencerminkan nilai-nilai-nilai universal Islam.
Manurut Rashid Ridha, umat Islam terbelakang karena meninggalkan ajaran iqra, cinta ilmu dan budaya baca (Indonesia menempati urutan 111 dalam index membacanya). Muslim meninggalkan budaya disiplin dan amanah. Tak heran negara-begara Muslim terpuruk pada kategori low trust society, yang masyarakatnya sulit dipercaya dan sulit mempercayai orang lain, alias selalu penuh curiga. Tak ada kesalehan sosial, tapi melulu lebih mementingkan kesalehan individual (tapi tak peduli liyan). Muslim meninggalkan budaya bersih yang menjadi ajaran Islam. Jangan heran jika kita mehat mobil-mobil mewah di kota-kota besar, dengan sticker berhuruf Arab, tapi tiba-tiba melempar sampah ke jalan melalui jendela mobilnya.
Muhammad Abduh, ulama besar Mesir, setelah berkunjung ke Eropa, pernah berkata, ”Saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalau orang Muslim banyak saya temukan di dunia Arab.”
Siapa yang salah? Mungkin yang membuat survey. Seandainya keislaman sebuah negara itu diukur dari jumlah jama’ah haji, pastilah Indonesia pada ranking pertama. Ini sebuah otokritik. Tak perlu ngamuk.
Pada sisi itu, kita bisa mengerti mengapa Fadli Zon ingin mensomasi Imam Besar Masjid New York City, dan nafsu untuk berselfie-ria dengan Donald Trump yang kapitalis-rasis. Tak ada hubungannya dengan agama. Itu soal kepentingan.

Minggu, September 06, 2015

Kampung Code, Pelajaran Bagi Ahok dan Lainnya


Pada mulanya Kampung Code adalah pemukiman kumuh dan miskin di pinggiran Kali Code yang membelah tengah kota Yogyakarta. Kondisi masyarakat miskin dapat tergambarkan pada Kampung Code, yang terdiri dari pemulung, pengamen, pengemis, pelacur, dan lain-lain. Kebanyakan pemukimnya pekerja kasar dan informal di lingkungan sekitar kawasan.
Pada 1983 pemerintah kota Yogyakarta bermaksud menggusur pemukiman ini, namun atas permohonan ketua RT Willy Prasetya dan Romo Mangun (YB Mangunwijaya), rencana tersebut ditangguhkan. Sebagai gantinya diselenggarakan suatu proyek revitalisasi dengan melibatkan 2 koran lokal untuk mendukung pendanaan.
Perencanaan dan pembangunan area ini dimulai pada tahun 1983 dan selesai selama kurang lebih 2 tahun. Hampir tidak ada gambar atau dokumen konstruksi dibuat untuk proyek ini. Semua berlangsung secara spontan dan alamiah. Secara umum konstruksi rumah berbentuk huruf A dengan rangka dari bambu, dinding bilik bambu dan atap seng. Hanya tiga tukang kayu dan 2 tukang batu dipekerjakan untuk proyek ini, selebihnya adalah tenaga partisipasi warga dan sukarelawan. Mahasiswa seni rupa ikut terjun sebagai relawan, membimbing warga memperindah tampilan luar rumah mereka.
Bahasa estetika dari Kali Code ini adalah bahasa estetika rakyat jelata yang tradisional, berwarna-warni, sederhana tanpa pretensi berindah-indah. Mungkin agak banal, tapi apa adanya.
Selain estetika visual, dalam proyek ini terpendam juga estetika kemanusiaan yang justru lebih indah. Yaitu bagaimana sesuatu yang dicap jelek, kumuh, tidak bernilai ternyata mampu bertransformasi menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan memberi nilai tambah pada estetika perkotaan.
Bagaimana semua itu dicapai? Jawabannya terletak pada keberhasilan mensintesakan dua faktor pendukung kebudayaan. Yakni faktor human capital, dan faktor nilai-nilai lokal yang biasanya tidak selalu beriringan. Human capital termanifestasi dalam figur local jenius, sementara khazanah nilai-nilai lokal terlembagakan dalam kesadaran teologis mengembangkan sikap bijak terhadap lingkungan yang sering disebut juga local wisdom.
Meski bukan magnum-opusnya dalam bidang arsitektur, tapi apa yang dilakukan Romo Mangun untuk warga pinggir Kali Code merupakan penghargaan besar terhadap kemanusiaan. Usaha masyarakat bersama Romo Mangun, mendapat hasil berupa penghargaan internasional yaitu Aga Khan for Architecture pada tahun 1992.
Kampung Code telah menjadi sebuah miniatur peradaban berbasis arti penting local wisdom, yang diperlopori oleh seorang local jenius yang gigih. Hal ini dimungkinkan karena Romo Mangun tidak hanya mengubah desain arsitektur fisik perkampungan itu, akan tetapi dia juga mendorong terciptanya perubahan sosial (sosial engineering) dengan cara mensolusikan dan memberdayakan perekonomian mereka. Sebagai arsitek, Romo Mangun tak hanya piawai menata interior dan eksterior sebuah bangunan, tetapi mental, moral, dan kepercayaan diri masyarakat Kali Code juga menjadi proyek garapan.
Pada mulanya pasca terjadinya banjir Kali Code, Romo Mangun datang tidak sebagai duta kemanusiaan. Namun nalurinya terpicu untuk menata ulang kampung ini menjadi lebih baik dan sehat, karena kedekatan beliau dengan masyarakat sekitar. Beliau menata ulang permukiman seperti menambahkan WC umum, ruang terbuka untuk bermain, dan balai serbaguna yang dapat berfungsi sebagai perpustakaan, tempat belajar atau pertemuan warga sehingga fasilitas umum terpenuhi.
Ada semacam konvensi tak tertulis di dalam kampung ini. Rumah-rumah di situ tidak boleh diklaim oleh siapapun. Mereka yang benar-benar belum memiliki rumah, atau bagi gelandangan, boleh menempati rumah tersebut dengan biaya sangat murah. Jika keadaan ekonomi warga tersebut telah membaik, atau anggota keluarga telah meninggal dunia atau menikah atau keluar dari kampung, maka rumah tersebut harus dikembalikan kepada kampung, dan dapat digunakan kembali oleh warganya yang benar-benar membutuhkan.
Pak Bahran, yang pernah menjabat sebagai Ketua RT 01 Code pada tahun 2009, mengutip pesan Romo Mangun, “Kalau sudah lebih mapan secara ekonomi, beli saja tanah di luar kampung. Rumah di kampung ini bisa ditempati oleh warga lain yang lebih membutuhkan.”
Sesama warga pun selalu menganjurkan kepada warga lain, yang keadaan ekonominya telah membaik untuk tidak mengembangkan rumah. Artinya, yang juga harus dibangun adalah mentalitas masyarakatnya. Untuk tak selalu bergantung pada kata, seperti kata A. Teeuw.

Televisi: Indonesia Bukan Hanya Jakarta

Belum lama lalu, Presiden Jokowi dan beberapa jajaran menterinya, mengundang awak media televisi ke Istana Presiden. Presiden menyampaikan harapan, agar televisi Indonesia terlibat dalam upaya pembangunan bangsa. Utamanya dalam menyajikan materi program yang tidak hanya terjebak dalam rating, tetapi tanpa meninggalkan kaidah etik mengenai sajian yang berkualitas.
Harapan itu menarik, sebagaimana banyak diharap oleh masyarakat juga, mengenai betapa minim sumbangsih televisi sebagai media pembelajaran, dan lebih terjebak dalam eksploitasi selera rendah, serta kurang mengembangkan program yang bersifat eksploratif.
Tetapi langkah presiden itu, menurut saya kurang strategis. Bukannya tidak bermutu, melainkan negara tampak melakukan pembiaran, padahal negara mempunyai UU Penyiaran Tahun 2002 yang sudah sangat memenuhi harapan tersebut jika saja undang-undang itu dijalankan dengan murni dan konsekuen.
Sampai tahun ini, dari sejak pemerintahan SBY, janji-janji para owner untuk mematuhi UU Penyiaran tersebut tidak tampak sama sekali. Padahal mereka sudah berjanji untuk mematuhi dari sejak 2008, 2010, 2012, hingga kini.
UU Penyiaran sendiri mengatur bahwa televisi swasta tidak boleh bersiaran nasional. Beberapa televisi di Jakarta (ada 12 channel), jika mau bersiaran di daerah, mesti menjalin kerja sama dengan televisi lokal (di daerah tersebut) atau mendirikan studio penyiaran di daerah. Hal itu, sebagaimana diatur UU, juga akan menyangkut content, yang dengan sendirinya tidak akan didominasi dengan Jakarta sebagai sebuah subkultur untuk Indonesia dari Sabang-Merauke yang sangat beragam nilai-nilai budayanya.
Semangat UU Penyiaran, yang lahir atas desakan reformasi 1998, adalah munculnya upaya untuk menolak penyeragaman kebudayaan, hegemoni Jakarta dengan berbagai nilai-nilai pragmatis dan stereotypenya, yang berakibat buruk pada kesadaran nasional kita, dan mendorong tumbuhnya penghargaan atas keragaman dan nilai-nilai kebudayaan Nusantara.
Untuk itu UU Penyiaran juga hanya mengatakan, TVRI-lah satu-satunya televisi yang bersiaran secara nasional. Tetapi celakanya, pemerintah justeru tidak memakai TVRI ini untuk tujuan strategis, dalam pengertian menjadi sumber-referensi nilai baik dari sisi informasi maupun warna kebudayaan. Bahkan, menyedihkannya, TVRI justeru meniru-niru gaya televisi swasta.
Di beberapa negara, siaran televisi nasional dibatasi, dan bahkan masing-masing hanya memiliki satu televisi yang boleh siaran nasional, kecuali AS dengan 3 stasiun bersiaran nasional, itupun dengan aturan yang sangat ketat.
Tentu saja, di luar televisi nasional mereka, ada begitu banyak stasiun televisi kabel atau dengan sistem berbayar yang sifatnya tertutup. Ada puluhan dan bahkan ratusan stasiun televisi untuk itu, sampai TV yang hanya khusus menyiarkan hal-ihwal binatang doang.
Jika pun Presiden memahami dampak media televisi yang menjadi satu-satunya sumber referensi rakyat Indonesia saat ini, karena tak adanya minat baca masyarakat, bukankah Presiden Jokowi bisa memerintahkan Lemhanas, untuk mendidik para awak televisi mengenai filosofi negara, nilai-nilai nasionalisme serta kesadaran berbangsa dan bernegara, agar memiliki sensitivitas dan sensibilitas publik?
Presiden yang katanya hanya akan tunduk pada konstitusi, silakan memahami soal UU Penyiaran ini, untuk menjadi dasar kebijaksanaannya. Hidupkan TVRI sebagai televisi publik yang layak untuk siaran nasional, yang tentu berbeda dengan jaman Orde Baru yang doktriner.
Indonesia bukan hanya Jakarta!

Agama Menjadi Kian Tak Penting

Suatu ketika, Salman Al-Farisi, sahabat Kanjeng Nabi Muhammad shallaullahu allaihi wassallam, sangatlah gelisah. Sebelum mengenal Nabi dan menjadi muslim, Salman penganut Nasrani, dan pernah tinggal bersama para biarawan di gereja. Salman mengenal para biarawan sebagai orang-orang yang baik dan saleh. Hal itu membuatnya sedih. Ia mengira para biarawan itu akan masuk neraka sebab mereka bukan muslim.
Kesedihan dan kegelisahan yang sama dialami Ahmad Wahib marhum, seperti dituliskannya dalam “Pergolakan Pemikiran Islam”, ketika ia tinggal di asrama Realino Yogyakarta. Ia mengenal pastor-pastor yang lembut dan baik hati. Adakah mereka akan masuk neraka, hanya karena bukan muslim?
Jika merunut Al-Baqarah ayat 62, hal itu sudah terjawab. “Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal saleh, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.”
Surga tampak begitu luas. Tak bertepi. Karena yang sempit hanyalah ketakmampuan akal dan nurani kita merenungkannya. Bukankah Allah bagi semua agama adalah Dia Sang Maha Adil dan Maha Pengasih? Sekiranya kita selalu mengisi hidup dengan perbuatan baik dan cinta kasih pada sesama. Ukuran sesama inilah, yang pada kenyataannya menjadikan surga begitu sempit, dan Allah seolah maha pilih kasih. Mban cindhe mban siladan.
Sesungguhnya tidak asyik membicarakan soal agama. Itu soal keyakinan pribadi. Tapi ukuran kita soal output manusia yang satu dengan lainnya beda, itulah penyebab hidup kadang menyebalkan. Apalagi dengan ngotot-ngototan.
Pernahkah kita bayangkan kehidupan pada abad-abad mendatang? Bagaimana dengan penemuan-penemuan baru manusia, bahwa ada kehidupan lain, bahwa ada planet lain di luar bumi?
Generasi hari ini mungkin masih belum akan menyaksikan migrasi manusia dalam jumlah besar ke luar atmosfer bumi. Namun jika laju peradaban tak terhambat, atau berjalan mundur, dalam beberapa generasi ke depan mungkin akan muncul koloni-koloni baru di orbit luar bumi, seperti bulan, mars, atau tempat-tempat lainnya lagi.
Majelis Fatwa Nasional Malaysia pada 2007 menerbitkan panduan shalat dan puasa untuk dua astronot muslim yang hendak berkunjung ke stasiun ruang angkasa internasional di orbit bumi. Panduan itu menjawab masalah-masalah teknis seperti kesulitan soal kiblat, gerakan shalat dalam gravitasi nol, juga waktu puasa dan berbuka di mana batas siang-malam tak lagi jelas. Peristiwa ini menjadi pembuka wacana mengenai masa depan kehidupan beragama, khususnya Islam, di luar angkasa. Tidak mudah bukan menjadi astronot syariah?
Semua agama yang lahir di bumi, memiliki kaitan yang erat dengan fenomena-fenomena planet bumi. Dengan alam dan cuacanya, fenomena sosial budayanya, ruang dan waktunya. Secara khusus, setiap agama terbentuk sebagai respons atas kondisi alam dan budaya yang khas di masing-masing waktu dan tempat.
Al-Qur’an menyebut vegetasi seperti kurma dan anggur serta hewan seperti unta dan domba. Tripitaka menyebut vegetasi asal Buddha Gautama seperti teratai, mangga, beringin, serta hewan angsa dan harimau. Hal itu menyiratkan, semakin jauh sebuah agama keluar dari konteks waktu dan tempat lahirnya, semakin sulit untuk mengatakan masih relevan pada tataran permukaan atau kulitnya.
Jika kita memandang agama sebagai bungkus atau kulit, sebatas ritual permukaan, maka dapat dipastikan agama tidak lagi penting di masa depan. Jumlah a-theis kini bertambah, pun juga di beberapa Negara Timur Tengah seperti Arab Saudi. Tidak mungkinkah muncul agama baru, yang sanggup berbicara lebih canggih tentang rekayasa genetika, pembelokan ruang waktu, lubang hitam, rumus-rumus fisika, atau misteri jagat raya?
Maka mereka yang tak memahami hukum ijtihad, kecenderungan terbesarnya adalah konflik atau perang. Di situ agama bisa bertentangan dengan nilai ajarannya.

Tenaga Kerja Asing; Pengalaman Pribadi


Pertama kali masuk kerja di dunia televisi, di Indosiar tepatnya, saya benar-benar sama sekali tidak tahu, jenis pekerjaan apa kiranya yang hendak dilakukan.
Hilman Hariwijaya waktu itu hanya memberi gambaran sebagaimana kerja di media penerbitan (cetak). Dan saya percaya karena si pengarang Lupus itu yang merekrut saya. Saya agak tenang, karena media cetak bukan dunia asing. Sejak dari Yogyakarta hingga hijrah ke Jakarta (1980) saya bergelut di dunia itu. Bukan dari reporter, tapi justeru pertama menjadi redaktur, dan berpindah-pindah baik sebagai reporter, redaktur, hingga stringer dan freelance.
Tapi televisi? Memang sama sekali buta. Beruntunglah karena Indosiar waktu itu mempersiapkan dengan baik. Hampir setahun (1994) kami dididik dan dilatih oleh tenaga-tenaga profesional dari TVB Hong Kong yang merupakan bagian dari Star TV London. Karena Indosiar bukan saja hendak menjadi stasiun penyiaran melainkan juga broadcasting production. Semua program acara adalah produksi sendiri. Mulai dari sinetron, talkshow, infotainment, news, hingga Indosiar menjadi stasiun pertama yang juga mengadopsi berbagai kesenian tradisi menjadi mata acaranya. Sistem produksi sendiri itu, yang kemudian dibajak habis oleh Ishadi SK dengan juga memboyong anak-anak Indosiar yang sudah terdidik dan terlatih, untuk membangun Trans TV (tanpa perlu keluar biaya pendidikan).
Setahun digojlog di daerah Rawamangun yang sumpeg, sampai frustrasi rasanya. Bukan karena digojlog oleh profesional Hong Kong yang notabene TKA dan China pula, tapi karena menjadi tidak sabar ingin segera siaran. Karena kerja di televisi tapi setahunan tak ada outputnya. Tiap hari hanya melakukan try-out dan pendadaran tak habis-habis baik dari sejak konsep hingga post-production, dan terutama team-work serta manajemen produksi. Ini sesuatu yang baru karena hampir kebanyakan kami dulunya adalah pekerja individu, dengan otoritas yang relatif penuh.
Tapi dari itulah, sembari menunggu gedung Indosiar di daerah Daan Mogot siap, kami (setidaknya saya) merasa siap untuk bekerja. Karena kita bukan saja merasakan apa itu transfer of technologie, tetapi lebih dari itu adalah transfer of knowledge, sampai faham betul bahwa setiap teknologi mempunyai karakter dan filosofinya sendiri.
Sampai ketika bertemu dengan seorang reporter NHK di Jakarta, yang menawari saya sebagai stringer untuk 'Asian Programme", saya menolaknya karena merasa belum cukup dengan ilmu dan pengetahuan saya. Saya merasa berada dalam situasi yang menyenangkan, karena belajar dari yang lebih ahli dan berpengalaman, dan merasa sayang jika ditinggalkan.
Tapi bukan tanpa masalah, masuknya beberapa nama besar (seniman individu) di Indosiar, dan beberapa orang (yang sudah) tua dan senior di pertelevisian Indonesia, bereaksi. Isyunya sudah sangat rasis dengan ujung keyakinan; Ngapain kita didikte orang-orang China itu, sementara kita sendiri bisa melakukannya!
Ketika Indosiar sudah pindah ke Daan Mogot dan mulai siaran, terjadilah konflik yang kami khawatirkan. Permasalahan tenaga kerja (profesional) asing itu meledak ke permukaan, hingga sempat dilaporkan ke DPR-RI segala. Kita tidak tahu konteksnya, dan kita tahu akhirnya apalagi Indosiar diketahui umum adalah milik Liem Soei Liong. Hingga akhirnya, para profesional dari Hong Kong itupun disudahi kontrak kerjanya. Padahal jumlah mereka, tidak lebih dari 15 orang yang tentu tak sebanding dengan kami yang mencapai 800-an orang di segala lini, administrasi, produksi dan teknis.
Ketika menyiapkan produksi sinetron untuk menyambut 50 Tahun Indonesia merdeka (1995), saya dipercaya memimpin persiapan dengan tim produksi drama (sinetron) perjuangan. Tim sutradara, tim penulis, dipilih untuk membuat disain program. Rapat berlangsung hampir sehari-semalam, sejak pagi hingga sore, dua kali break, tak ada keputusan. Dilanjutkan malam hari, tapi akhirnya tetap tanpa keputusan. Kenapa? Karena satu kepala tak hanya berangkat dari satu ide, semuanya ngotot idenya paling benar dan susah mendengarkan pendapat orang lain.
Kami waktu itu yang muda-muda, frustrasi karena tak bisa mempraktikkan pengetahuan kami tentang bagaimana membangun tim. Egosentrisme yang besar mengalahkan sistem yang hendak dibangun, hingga proyek itu gagal. Bukan karena tidak menghasilkan output, tapi ketika sampai proposal produksi, hambatan lain muncul. Disain cerita yang kami sodorkan ditolak mentah-mentah pengawas siaran internal, yang waktu itu semua stasiun televisi punya, biasanya adalah perwira tinggi TNI-AD. Ini masih jamannya Soeharto, Bung!
Saya masih ingat kata-kata pati TNI (yang sekarang aktif di sebuah partai politik) itu; Cerita yang hendak kami angkat, dituding menghina sejarah. Padahal kami melakukan riset pustaka dan mewawancarai puluhan saksi hidup dan pelaku perjuangan kemerdekaan 1945. Waktu itu, disemangati film Tom Hanks "Forrest Gump", kami memang menyodorkan tesis anti-hero. Ingin membuat cerita perjuangan yang tak hanya berisi bambu runcing dan teriakan Allahu Akbar yang selalu memenangkan perang (padahal faktanya tidak selalu seperti itu).
Tapi, saya sangat berterimakasih pada para instruktur kami dari Hong Kong itu, yang juga mengajari kami 'i love writing i hate rating'. Meski kami belum bisa melakukan perubahan, karena industri televisi di Indonesia juga belum tumbuh dengan baik dan benar. Bajak-membajak masih terjadi, karena perputaran uang di dalamnya bukan main besarnya, juga yang digelapkan.

Meramal Jatuhnya Jokowi

Bertambah satu lagi juru-ramal kepresidenan Indonesia. Setelah Ki Gendeng Pamungkas (yang meramalkan Jokowi turun tahun ini, meski sebelumnya gagal ramal dengan mengatakan Jokowi pasti turun 20 Mei 2015), kini muncul Sujiwo Tejo; Jika dollar tembus Rp 15.000 Jokowi akan turun. Digantikan militer, bukan Prabowo.
Sebelum Sujiwo Tejo, Emha Ainun Nadjib (konon dengan bahasa sastra, dan berharap kita ngerti bahasa sastra) mengatakan Jokowi orang yang tidak ngerti apa-apa. Bahkan ketika menjadi presiden pun tidak ngerti bahwa dirinya adalah presiden. Dan kita diminta berdoa, agar Jokowi diselamatkan dari penderitaan. Yakni, membebaskan dari ketidakmengertian, yang adalah berarti Jokowi bukan lagi presiden. Makin cepat makin baik.
Jokowi, diakui atau tidak, telah menjungkirbalikkan logika dan keadaban kita. Dan kita bisa mati-matian antara benci dan cinta, suka dan tidak suka, yang masing-masing bisa begitu hadir secara absolut.
Termasuk SBY yang kini mati-matian mengatakan bahwa sebaiknya presiden kini tidak menyalahkan presiden sebelumnya. Meski pada SBY juga bisa dipesan agar presiden sebelumnya tidak menyalahkan presiden sesudahnya. BJ Habibie, mungkin satu-satunya mantan presiden yang masih hidup dan paling bijak dalam menyikapi kepemimpinan Indonesia.
Sekali pun sebenarnya yang mengritik SBY bukan hanya Haryo Aswicahyono (CSIS) yang sudah memprediksi permasalahan ekonomi hari ini setahun sebelumnya, tetapi juga Faisal Basri, Ichsanuddin Noorsy, dan terbaru Christine Lagarde, Managing Director IMF; "Presiden Jokowi jenius, sudah benar mengutamakan pengembangan infrastruktur sebagai kebijakan utama. Dalam empat tahun mendatang, belanja infrastruktur akan didorong tinggi. Jika dibandingkan pemerintahan sebelumnya, lebih penakut dalam pengambilan keputusan," ujarnya.
Soal penilaian Lagarde, apakah itu basa-basi tamu? Tentu tidak. Bagaimana pun juga, dia adalah pemimpin eksekutif IMF. Ia mempertaruhkan kredibilitas dan kepercayaan public atas jabatannya. Yang mengatakan itu basa-basi politik, tentu karena berangkat dari orientasi diri yang suka basa-basi, berhobi silat lidah atau terbiasa culas.
Dan seperti rekomendasi Prof. Anwar Nasution, tidak ada yang lebih mengkhawatirkan kecuali ketidakmampuan kita sendiri dalam menciptakan momentum dan mengubah paradigma kita, untuk mendorong BUMN yang jago kandang, peningkatan ekspor, perbaikan system dan managemen perdagangan dan perindustrian kita, serta ketidaksiapan Pemda dalam menyerap anggaran. Semua bertumpu pada kualitas SDM dan ketidaksiapan menghadapi perubahan.
Perubahan paradigma, sudut pandang, dan bahkan cara berfikir, bukan sesuatu yang mudah setelah terciptanya grey-area sebagai comfortable-zone bagi mereka yang hanya mementingkan diri dan kelompoknya. Pers juga masih berkutat pada opinionated news daripada hard-news. Menyodorkan pikiran atau pendapat pejabat dan kaum ahli tanpa membei perspektif peristiwanya, seolah masyarakat tak bisa berfikir atas hal itu.
Kita masih dalam euphoria Reformasi 1998, dengan perubahan simbolik dan intellectual exercise, tetapi tidak pernah beranjak dari ego masing-masing dan tidak mampu menumbuhkan sinergitas. Karena era sekarang ini, tidak dibutuhkan presiden satrio piningit yang harus ngerti apa-apa.
Jokowi barangkali tidak ngerti apa-apa, sama dengan presiden sebelum-sebelumnya, tetapi ia mendengarkan, mengorganisasi dan memberi ruang kepada pihak lain. Bahkan ia presiden paling santun yang pernah kita miliki, yang sopir bis Jakarta bisa menangis membelikannya batu akik macan merah, karena bisa makan bareng semeja dengan sang presiden.
Tidak mudah untuk bisa menerima Jokowi, bagi yang membencinya kepati-pati tentu. Tetapi Indonesia tidak hanya bisa bertumpu pada pertentangan ideologis semata, apalagi di jaman ketika kita tidak bisa membedakan antara marxisme dan marxianisme!
Saya tidak pegang rupiah, apalagi dollar, namun saya memahami dialektika sahabat-sahabat saya dari desa-desa kerajinan Bali dan Bantul tertawa lebar ketika penerimaan dollar mereka naik (padahal keluar negeri juga kagak pernah). Serahkan pada ahlinya, dan kita juga ahli di bidang masing-masing, termasuk untuk realistis dan tetap bersemangat menghadapi perubahan.
Di jaman amplifieryzing dan TOA ini, juga dibutuhkan kemampuan mendengar suara hati yang terdalam, yang terbebas dari kepentingan sejenak.

Ahli Surga dalam Politik Kita

Apakah engkau percaya pada tawaran revolusi, bahkan ketika itu yang selalu didengungkan oleh Sukarno? Atau Faisal Assegaf Progress 98, yang dulunya mengajak dan kini kecewa berat pada Amien Rais?
Dulu ada seorang anak muda yang takjim shalat, tiba-tiba menjadi atheis dan masuk fakultas filsafat, gegara begawan pujaannya mengecewakan hati. Sementara ada begitu banyak begawan di Indonesia, mengajak-ajak melakukan revolusi, pemakjulan, dengan cara-cara yang remeh, dengan menghina-dina diri-sendiri, hingga menjadi rasis, sinis, dan fatalis.
George Orwell rasanya benar ketika mengatakan Charles Dickens, novelis Inggris, bukan seorang penulis yang digerakkan oleh semangat revolusioner. Padahal Dickens (1812-1870) sebagaimana makna namanya, adalah pengritik sosial paling galak terhadap masyarakat Inggris abad 19.
Charles Dickens mungkin bisa menjadi contoh yang aneh, karena novel-novelnya, atau kritik-kritiknya, menjadi sangat ditunggu oleh masyarakatnya. Padahal hampir tak ada lembaga-lembaga sosial di Inggris waktu itu, yang luput dari kritikannya. Apakah itu sistem hukum, pemerintah, parlemen, sistem pendidikan, kehidupan kelas menengah dan bahkan masyarakat bawah sekali pun. Ia mengritik setiap orang, tapi tak seorang pun menjadi resah karenanya.
Buku-bukunya justeru ditunggu, dan menjadi bacaan yang begitu menggairahkan. Ia menjadi begawan bagi masyarakatnya, menjadi rujukan, justeru karena ia berumah di angin, sebagaimana Rendra dalam sebuah pidato kebudayaan, ketika menerima penghargaan dari pemerintah.
Berumah di angin, ialah membebaskan diri dari kepentingan. Dan adakah itu pada para begawan kita kini?
Charles Dickens mungkin terasa tak begitu cocok untuk Indonesia, sekali pun kritiknya mungkin sebagaimana yang diidealkan oleh Soeharto, kritik membangun. Di dalam masyarakat berkepentingan sekarang ini, kritik itu menjadi kritik yang naif. Apalagi tampak ia tidak begitu ngotot memperjuangkan keadilan sosial atau menegakkan kesamaan hak. Asumsi Dickens mungkin terlalu elitis, kalau kelakuan dan cara pikir orang-orang diperbaiki, sistem itu dengan sendirinya bekerja untuk orang banyak. Kritik moralis ini, menurut Orwell, sama dengan kritik seorang montir mobil. Mengecek segala yang rusak, membenahinya agar mobil bisa berjalan kembali.
Apakah itu maksud Revolusi Mental? Moralisme semacam itu tentu akan menjadi tertawaan pemikir Marxis. Dalam bahasa antropologi modern yang diubah hanya sistem simbolik, bukan sistem sosial. Dalam arti ini ideologi hanya suatu istilah untuk menggantikan kesadaran palsu.
Lantas, bagaimana dengan Reformasi 1998? Banyak lembaga negara diubah dengan semangat kesadaran baru, namun tidak ada yang berubah di sana. Demikian pula pers yang kini jauh lebih bebas, menjadi buruk karena kepentingan owner sebagai sindikat kaum modal lebih mengemuka. Belum lagi mereka yang memakai media bukan untuk massa melainkan untuk kepentingannya sendiri.
Ketidakmampuan dalam mengubah sistem, menjadikan agama sebagai senjata ampuh untuk memaknai segalanya. Sementara kita tahu, dalam hal itu pun tak kalah problematiknya, ketika agama juga menjadi semakin profan dan para begawan sibuk berpose dengan begitu banyak claiming karena kepentingannya yang tak kalah garing. Pernah ada dalam sebuah polling, Habieb Rizieq bernilai 60% sementara Jokowi 0%. Menjadi jumawa karena merasa sebagai ahli surga dan tahu segala, dan rakyat tak dianggap punya pikirannya sendiri. Padahal kita semua adalah ahli surga, bukan? Meski pun dalam dialektikanya, semua yang ahli surga berarti ahli neraka bukan?
Pasti ada yang menjawab; bukan!