Minggu, Juli 26, 2015

Siapa Paling Dekat dengan Tuhan?

Gus Dur mempunyai joke cukup populer menjawab pertanyaan; Siapa paling dekat dengan Tuhan. Tentu saja joke ini hanya bagi mereka yang punya selera humor.
Kaum sufi punya banyak pandangan menarik soal ini, juga para penyair yang suka menemu idiom bagus perihal ‘distance’ ini. Tentu saja semuanya adalah penghayatan masing-masing pribadi.
Jika kita berfikir masing-masing manusia mempunyai tuhannya masing-masing, bukankah tuhan berarti sebanyak manusia yang ada, dikurangi yang atheis? Meski yang atheis juga belum tentu bisa membuktikan bahwa tuhan tidak ada.
Kebaikan memang ada, tapi bagaimana ia mampu disejajarkan dengan kejahatan dalam perspektif Tuhan? Apakah sebenarnya manusia mampu melihat semua yang dikerjakan Tuhan, ataukah itu hanya sekedar perspektif manusia atas Tuhan?
Manusia memang terbatas, namun pikirannya terus ingin mencari tahu. Keraguan dalam agama pun muncul dalam mengatasi pandangan Tuhan atas manusia dan sebaliknya. Bagaimana agama yang katanya mengerti tentang Tuhan mampu mengatasi konflik dan penderitaan saat ini? Mampukah manusia memahami Tuhan tidak melalui agama?
Sisi baik dan buruk adalah nilai manusia, dan melabeli Tuhan dengan pandangan manusia hanya akan merendahkan Tuhan. Seperti kata Feuerbach, teologi pada dasarnya adalah antropologi karena terlalu melihat Tuhan secara antropomorfis dalam predikat manusia.
Meskipun demikian, bukan berarti beragama itu salah. Beragama perlu berjalan bersama rasionalitas, sehingga apa yang dipercayai sebagai mitos dapat masuk akal untuk dipercayai.
Aktivitas berfikir manusia (tentang tuhan) inilah yang menjadi pusat dari metafisika. Namun memahami Tuhan tidak cukup dilakukan hanya dengan memahami dogma agama. Karena itu, memahami Tuhan secara rasional diperlukan.
Fichte mengatakan subjektivitas adalah inti dari manusia itu sendiri, dan dengan ini pula manusia melihat dunia. Pada tesisnya, manusia ada dan memahami dirinya sendiri lalu berhadapan dengan apa yang berbeda dengan dirinya. Dalam sebuah logika, keterbatasan ego manusia bertemu ego lain yang juga terbatas.
Subjektivitas manusia mengantarkan manusia dari dirinya yang terbatas menuju sesuatu yang tak terbatas. Jika ia mampu memahami dirinya sendiri, maka realitas lain pun akan dipahaminya.
Manusia berusaha mengenal Tuhan melalui akal budi, bukan melalui eksistensinya, dengan memahami esensi dari peng-ada-an itu sendiri. Metafisika menyediakan jalan menuju pada Tuhan, dengan memahami realitas utama dari segala sesuatu. Sisi materi ataupun ide, hanya menjadi jalan menuju Tuhan sebagai bentuk pengandaian pikiran manusia. Pengandaian itu lalu mengarah pada konsep dan substansi Tuhan yang tetap, sehingga ia menemukan realitas itu. Hal ini tidak berhenti begitu saja, karena penafsiran atas segala sesuatunya selalu akan berjalan. Pemahaman akan suatu kebenaran pun akan selalu berbeda.
Maka fanatisme, dan apalagi fundamentalisme, menjadi kontra-produktif justeru bagi yang menganggap ada atau tak ada Tuhan. Yang ada bukan diskusi, melainkan menang dan kalah atas rasa frustrasi, karena tidak secara verbal dan material menemukan jawab di mana Tuhan itu. Jauh maupun dekat. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar