Jumat, Maret 13, 2015

Menjatuhkan Jokowi Mengkudeta Rupiah


Lumpur Lappindo, instalasi karya Dadang Christanto (2014)
Di tengah terpuruknya rupiah terhadap dollar, ada berita yang cukup mencengangkan. Panglima TNI Jenderal Moeldoko, menyerahkan barang bukti Black Dollar (BD) kepada Wakapolri Komjen Badrodin Haiti. Kasus ini merupakan temuan dari penyidik Polisi Militer TNI AL.
Penyerahan barang bukti sejumlah US $6.900 dalam pecahan 100 dilakukan di Markas Pomal, Kelapa Gading, Jakut, Jumat (13/3/2015). Selain BD, tampak di antaranya juga narkoba sabu, suntikan, dan alat isap sabu.
Ada apa ini? Sayang berita di media online sering tak menjelaskan.
Dalam penangkapan itu, mulanya adalah satu Mayor pengguna narkotika, yang setelah didalami, ternyata ada rangkaian lain, ada BD itu. Ada pula dua sipil terlibat, mereka warga Bali yang menitipkan uang BD ke anggota militer yang tertangkap itu.
Apa itu BD? Black Dollar, adalah uang Dolar US$, Euro$ atau Pound$. Uang ini banyak yang bilang palsu, tapi ada juga yang bilang asli. Tak penting aseli atau palsu, tapi dengan melihat material (bahan baku uang kertasnya), ini kejahatan canggih dan berkelas internasional. Kejahatan tingkat tinggi ini salah satu tujuannya untuk mengacaukan keuangan dunia. Disinyalir, bekerjasama dengan orang-orang lokal,  Negara-negara adidaya seperti AS, Inggris, dituding mempunyai peranan.
Kasus-kasus BD (Uang Hitam Dollar) di Indonesia, sebenarnya bukan barang baru, dan yang banyak tertipu adalah permainan para perantara yang mencari PO (Proyek Ongkos), yang bisa menghabiskan ratusan juta bahkan miliyaran.
Proses pengadaan BD (karena itu suka dibilang aseli), karena proses pengiriman ke Indonesia tidaklah mudah. Bahan kimia SSD dan BD, hanya bisa melalui UN atau Kedutaan Amerika Serikat di Indonesia. Bukankah artinya melalui proses legal (meski lewat jalur diplomatic)? Jika pun tidak legal, mana mungkin kedutaan akan menerima proses pembayaran dan penebusan barang-barang tersebut? Yang pasti, bahan kimia yang dipakai untuk material jenis ini benar benar hebat, tidak semua ahli kimia menguasainya.
Sebenarnya BD bukan barang baru di Indonesia. Yang menguasai kebanayakan orang-orang kaya, para elite, dan pejabat tinggi Negara. Paska reformasi 1998, banyak orang indonesia terjebak dalam BD ini, karena adanya tawaran menarik melalui email atau internet.
Sampai saat ini nilai rupiah masih terpuruk terhadap dollar Amerika Serikat, dan sepertinya, menurut analisa para ahli moneter, akan terus berlanjut. Setidaknya ada tiga penyebab penting yang membuat rupiah tetap lemah terhadap dollar Amerika, yaitu defisit neraca perdagangan, proyeksi IMF, penghentian stimulus The Fed.

Tingginya defisit neraca perdagangan, akan menyebabkan respon negatif dari pelaku pasar. Semakin tinggi impor bisa membuat nilai tukar rupiah kian terpuruk terhadap dolar. Melemahnya rupiah akan membuat investor asing hengkang, sehingga aksi jual marak terjadi.
Nilai tukar rupiah juga melemah setelah pelaku pasar merespon proyeksi IMF mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang dikatakan karena ekspor yang menurun dan kepercayaan investor yang lemah. Belum lagi IMF juga memproyeksikan defisit transaksi berjalan Indonesia bisa membengkak.
Sementara itu, stimulus the fed atau quantitative easing telah diluncurkan AS sejak 2009 lalu, juga mempunyai dampak lanjutan di Indonesia. The Fed menganggap ekonomi Amerika sudah dapat berjalan tanpa stimulus. Angka pengangguran pun sudah menurun. Dan ketika stimulus ini diluncurkan, Indonesia menjadi salah satu sasaran investasi asing. Setelah kebijakan stimulus dikurangi pada Juni 2014, investor kemudian mulai meninggalkan Indonesia. Hal ini menyebabkan pasokan dolar di Indonesia menurun. Itu artinya, semakin melemahnya rupiah.
Tentu Fed bukan merupakan factor tunggal, tetapi belum terjadinya kesepakatan dengan Bank Cantral Amerika, mengenai penghentian stimulus dan membaiknya data-data manufaktur serta construction spending AS, menimbulkan persepsi bahwa tapering off The Fed akan terjadi. Hal ini akan membuat pasokan dollar Amerika semakin berkurang dan menyebabkan nilai tukar dollar juga akan naik. Berita ini kemudian menimbulkan sentimen negatif sehingga membuat rupiah melemah di level negatif.
Sudah barang tentu, faktor-faktor yang terjadi di dalam negeri juga turut serta mempengaruhi, entah itu ulah para spekulan yang menumpangi, atau pun kebijakan ekonomi serta gaya hidup serta konsumsi dari bangsa Indonesia sendiri yang tidak mandiri.
Semua hal itu berkelindan, dan saling menelikung. 

Pada sisi lain, di dalam negeri sendiri (Indonesia) agaknya juga banyak kepentingan-kepentingan yang bekerja keras untuk mendorong kea rah terjadinya krisis moneter. Untuk apa? Mungkin orang belajar dari skenario kejatuhan Soeharto. Bagaimana jika Jokowi dijatuhkan dari sisi ini?
Para pengusaha, khususnya yang hitam, tentu tak nyaman dengan model-model kepemimpinan Jokowi ini.  Apalagi ketika parlemen dan partai politik (tempat bersarangnya kong-kalikong kebijakan publik) mulai tersandera dan terlibat konflik internal.
BI dan PPATK, tentu mengetahui persis, dan dapat melihat aliran dana segala mata uang. Siapa saja sesungguhnya yang menikmati situasi ini dengan memborong dollar dan menjualnya kembali. Hingga dari sana juga bisa kita ketahui siapa saja yang berpesta-pora karena melemahnya rupiah ini.
Sayang sekali jika Indonesia masih terus berada dalam politik kekuasaan dan politik kepentingan yang tak berkesudahan, dan hanya sebagai mainan segelintir elite di kegelapan siang hari.
Sementara, sas-sus yang dikembangkan di dunia sosmed, tentang ketidakbecusan pemerintah pengelola keuangan Negara, telah mengakibatkan skeptisme yang lain, sembari menggotong-gotong ideologi mistik tentang kepemimpinan.
Mestinya, masalah ini adalah pertaruhan bangsa dan Negara. Tapi anehnya, ada juga yang bahagia dengan hal ini, dan bertepuk tangan di pinggir pasar, nyukurin Jokowi dan mendoakannya jatuh.
Padahal, pertaruhannya bukan hanya sekedar Jokowi, tapi juga bangsa dan Negara sesungguhnya. Termasuk kepentingan bisnis Prabowo, Hashim, ARB, Hatta Radjasa, SBY, Tommy Soeharto, dan semua orang Indonesia yang kaya. Dan, tentu, lebih-lebih, seluruh rakyat Indonesia, entah itu yang pro atau anti siapa.
Kisah bangsa yang tragis, yang nasionalismenya cukup terhibur oleh Haji Lulung versus Ahok semata. 

| Sunardian Wirodono, ditulis dari berbagai sumber.

1 komentar: