Senin, Januari 05, 2015

Secebis Embun di Pagi Dingin

Desau arus sungai depan rumah memanggil-manggilku. Alangkah nyaman menyimak jalannya air. Mengalir begitu saja. Barangkali ia tidak perlu berpikir, tetapi siapa tahu bahwa ia telah menemukan sistem perjalanannya sendiri, yang disebut hukum alam. Dan aku yakin Thomas Alva Edison tidak berkata kepada air, melainkan kepadaku, yang masih juga gagu; Tidak ada jalan keluar yang dipakai untuk menghindarkan diri dari sesuatu, kecuali berfikir.
Itu mungkin yang mendorong Mark Zuckerbergh menanyaiku terus di fesbuk ciptaannya. Apa yang Anda pikirkan? Nothing, selain curcol dan gosip.
Kulihat babal nangka pinggir sungai itu makin membesar. Akan menjadi sebuah gori yang menawarkan pilihan, menjadikannya gudeg yang lezat atau nangka kuning yang renyah?
“Tapi, yang menentukan masa depan adalah pilihanmu, bukan kesempatan,…” secebis embun yang nempel di daun labu menyapaku. Nama embun itu Jean Nidetek.
Aku diam saja. Terlalu banyak aku tinggal di masa lalu, dan hari ini, baru beberapa jam lalu.
“Jika segala sesuatu hilang, masih ada masa depan,” ujar Bavee, seekor katak yang meloncat-loncat di cerukan sungai.
Langit masih kotor, tak ada jasa loundry mengerjakannya, kecuali Tuhan berkehendak lewat kepastian hukum. Semoga hari ini cuaca bersahabat, agar saudara-saudara kita yang terhempas bencana di Selat Karimata tertemukan.
“Hadapilah masa depan yang suram tanpa rasa takut, tetapi dengan hati jantan,” Longfellow menyapaku sembari tersenyum. Ekornya yang panjang menjadi penyeimbang untuk lincah meloncat dari dahan ke dahan, menyusuri reranting bambu yang lentur. Matanya yang kecil bulat begitu cemerlang. Seekor tupai yang cantik.
Pagi ini, barisan semut hitam berhimpun, menyusun kembali kata-kata Jean Jacques Rosseau; “Aku melakukan usaha yang belum pernah mempunyai contoh sebelumnya, dan aku tidak akan mempunyai penirunya. Aku mengusulkan untuk menunjuk kepada sesamaku sebagaimana alam membuatnya, dan ia pastilah diriku sendiri.”
Sombong banget, tapi keren.
Mbah Albert Einstein melintas dengan kambing-kambing piaraannya, “Kalau saya periksa diri dan metode berfikir saya, sampailah saya pada kesimpulan bahwa karunia daya khayal lebih berarti dari pada bakat saya untuk menyerap pengetahuan.”
Halah, nggak nyambung. Aku ingatkan Mbah Einstein yang pikun itu, agar kambing-kambing gembalaannya tidak menggerogoti dedaunan tanaman terong yang melebat di halaman depan rumah.
Di seberang sungai, kulihat kerumunan orangtua sibuk berbincang, sembari membakar ketela pohon.
“Berbagai hal dapat datang kepada orang yang menunggu,” berkata Abraham Lincoln, “Tetapi berbagai hal akan meninggalkan orang yang terburu-buru.”
Ngomong sendiri dibantah sendiri, kataku dalam hati hati-hati.
“Winners work smartly hard, losers blindy hard,...” tukas Lao Tzu mencoba English.
“Yang artinya?” seekor kadal menyahut.
“Orang-orang yang sukses cermat dalam bekerja. Orang-orang yang gagal, ceroboh.”
“Untung aku cuma kadal,…” sungut kadal sambil ngeloyor.
“Kenalilah dirimu sendiri, maka engkau akan memenangkan semua pertempuran,…”
Kadal itu makin bersungut, “Ya, aku kenali diriku, aku kadal,…!”
“Para prajurit yang berjaya, menang dulu baru pergi berperang. Sementara para prajurit pecundang, pergi berperang dulu baru berusaha untuk menang,…” Sun Tzu ikutan ndleming.
“Mangsudnya?”
“Siapa kamu?” Sun Tzu balik bertanya.
“Aku seekor kadal,….!”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar