Senin, Januari 26, 2015

Nasehat untuk Relawan Jokowi


Tulisan ini ditujukan untuk relawan dan pendukung Jokowi. Yang bukan relawan dan apalagi bukan pendukung Jokowi, tak usah membacanya. Kalau himbauan ini dilanggar, jangan salahkan akibatnya.
Hari-hari ini, tentu rasanya nyesek melihat Indonesia Raya. Nyesek bagaimana Jokowi sepertinya tidak sesuai espektasi, harapan, dan bahkan tuntutan di benak nurani kita. Apalagi dengan penunjukan menteri-menterinya, yang dibanding tetangga kita kayaknya masih pantesan tetangga kita. Belum lagi makbedunduk muncul kasus BG, yang berujung pada KPK versus Polri, hingga dengan manisnya Anis Hidayah menuding Jokowi tak lebih tegas dibanding Ketua RT. Seolah Anis sedang menghina Jokowi seorang, padahal sebetulnya yang dihina jauh lebih banyak. Yaitu para Ketua RT, pekerja amatiran yang adalah rakyat jelata tanpa jobdesk jelas, sekedar diperalat untuk menyangatkan hiperbola Anis.
Kalau dulu kita suka menghina pendukung SBY adalah SBY Fans Club, tuduhan yang sama juga bisa diberikan pada Jokowi Fans Club. Ketika Jokowi diserang, pembelaan yang dilakukan seolah Jokowi dewa tanpa salah. Ini kesalahan fatal, karena ideologi Jokowi justeru adalah kita semua manusia biasa saja, bukan superhero, karena itu mari bekerja bersama-sama.
Salam dua jari, adalah simbol victory untuk memenangkan era baru. Yakni, memotong Soehartoisme dan Orbaisme. Dan kemenangan itu nyata, ialah Jokowi presiden dan Prabowo kalah, tidak menjadi presiden. Salam dua jari baru berubah menjadi salam gigit jari, jika Jokowi tak jadi presiden bukan?
Kehadiran Jokowi penting, karena ia merepresentasikan kita, yang menginginkan perubahan. Apa perubahan itu? Di sini masalahnya. Bahwa ketika Jokowi resmi menjadi presiden, perjuangan terberat justeru sedang dimulai. Ialah melewati situasi transisi yang kritis dan bisa menimbulkan krisis. Karena apa? Kata Bob Kennedy, karena perubahan akan lebih banyak mengundang musuh.
Dulu ketika pilpres, lawan kita adalah Prabowo dan pendukungnya. Kini, setelah menang presiden, lawan bisa berubah menjadi musuh (atau bahkan bisa berbalik menjadi kawan), tetapi kawan perjuangan bisa menjadi pula berubah menjadi musuh (dalam selimut). 
Politik tidak berada di ruang hampa, dan musuh Jokowi bisa jauh lebih banyak, bahkan bisa datang dari partai-partai dan orang-orang pendukungnya. Dalam kasus penempatan orang, entah itu penempatan menko, penasehat, bahkan Kapolri seperti kasus BG, kita lihat bagaimana Surya Paloh dan orang-orang Nasdem menjadi pendorong paling gigih. Senyampang dengan itu, manuver orang-orang PDIP seperti Hasto Kristianto dan Sugianto, serasa makin memojokkan Jokowi. Dan seterusnya.
Ketika Jokowi menjadi gubernur DKI, kita tahu bagaimana perlawanan birokrasi dalam menghambat proses reformasi birokrasi yang hendak dilakukan. Kini, di ruang kepentingan yang jauh lebih luas, hal yang sama sangat mungkin terjadi.
Di Istana Presiden, apakah kita tahu yang terjadi? Warisan masalah yang ditinggalkan SBY sangatlah banyaknya. Dan itu menyangkut kepentingan berbagai kelompok. Semua orang kini seolah menagih pada Jokowi, imbalan atas dukungan mereka.
Mengertilah duhai para relawan Jokowi, salah satu tujuan besar Jokowiisme adalah mari bekerja bersama-sama, tak ada superhero di situ. Semua mempunyai peranan penting, sepanjang mereka masing-masing mengetahui secara proporsional peran dan tugasnya. Dan itu tidak mudah, karena kita 30 tahun dididik Soeharto dengan pandangan-pandangan kemutlakan. Formalisme dalam berfikir, pragmatisme dalam bertindak, dan vandalisme dalam berkuasa.
Ketika membaca-bacai grup-grup relawan Jokowi di fesbuk dan berbagai media sosial lainnya, tampak para relawan masih sibuk dengan pernyataan-pernyataan yang tak penting lagi. Hanya terlibat dalam saling membully antara pro Jokowi dan Prabowo. Semua itu menunjukkan, bahwa para relawan tak punya agenda apa-apa, kecuali hanya tersepona pada Jokowi persona.
Sekarang Jokowi sudah menjadi presiden. Dan itulah mestinya, pekerjaan nyata baru dimulai. Tinggalkan semua sentimen masa lalu. Masuk dalam agenda Indonesia hari ini dan ke depan. Apa itu? Mengubah dan meninggalkan yang buruk-buruk di masa lalu dengan ideologi baru. Ideologi anti-kemutlakan, anti-hero, ideologi egalitarian dan membersama bahu-membahu.
Bagaimana caranya? Kita tak harus menjadi politikus untuk belajar politik. Mengerti politik itu penting, agar kita tidak tampak bodoh dalam pembelaan. Politik Jokowi sebenarnya sangat sederhana dan lugas; Jujur dan kerja keras. Itu saja. Tak ada lainnya. Bahwa kita harus tahu aturan dan sebagainya, tentu saja. Tapi jujur dan kerja keras, itu yang hancur dalam sistem sosial, sistem politik, dan sistem perekonomian kita. Itu yang harus didorong, bukannya meninggalkan Jokowi sendirian justru ketika Jokowi memerlukan waktu dan dukungan untuk membalikkan situasi itu. Dan itu bukan membalikkan telapak tangan.
Untuk pemahaman ini, butuh pemahaman ideologi, grand-design, road-map, target goal, yang kalau bisa mengujudkannya, kita akan menjadi bangsa yang bermartabat, berdikari, mandiri, berdaulat. Anda tahu itu tak mudah bukan? Banyak perlawanan dan penghambatan karena kepentingan. Dan kita tahu apa yang terjadi? Mau mengganyang rekening gendut polisi saja, sangat susah. Kenapa? Karena memang tak semudah mengatakan; bubarkan polisi, apalagi hanya harus lebih tegas dari Ketua RT. Semua harus dihitung dan terukur, karena menyangkut lebih dari 200 juta nyawa dan perut manusia. Dan itu memang mencapekkan, bagi mereka yang tidak menyadari bahwa perjuangan belum dimulai.
Mereka yang bermimpi di siang hari, akan lebih menyadari bahaya yang luput dari penglihatan mereka yang mimpi di malam hari, demikian ujar Edgar Allan Poe. Karena perubahan bukan soal mimpi, melainkan kerja keras. ‘Mulai’ adalah kata yang penuh kekuatan. Dan cara terbaik untuk menyelesaikan sesuatu adalah, ‘mulai’. Tapi juga mengherankan, pekerjaan apa yang dapat kita selesaikan, kalau kita hanya memulainya? 
Anda harus tahu, memulai apa!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar