Sabtu, Januari 03, 2015

Manusia Kotak Kotak Kotak


"Mereka lahir lalu dimasukkan dalam kotak, belajar dengan mencentang kotak, pergi untuk 'bekerja' di dalam kotak, di tempat kerja duduk di dalam kotak, menyetir ke toko pangan dalam kotak untuk membeli makanan dalam kotak, pergi ke tempat olahraga dalam kotak untuk duduk dalam kotak; bicara mengenai 'berfikir di luar kotak'; dan ketika mati ditaruh dalam kotak. Semua kotak, kata Euclidian yang mulus secara geometris," demikian tulis Nassim Nicholas Talleb dalam The Black Swan.
Saya teringat dongeng kutu anjing yang bisa melenting tinggi, namun menjadi lemah ketika ditaruh di dalam kotak korek api. Apakah demikian? Apakah benar bahwa abad 20 adalah hancurnya utopia sosial, dan abad 21 akan menjadi masa kehancuran utopia teknologi? Semua mata manusia lekat pada monitor apapun, dan kehilangan pesona keindahan matanya?
Ah, saya tak ingin membuka awal tahun dengan hal yang bikin pusing. Ingatan pada ajaran Ki Ageng Suryomentaram menggeremang di kepala. Hidup adalah mencatat sejak lahir hingga mati. Ada tiga hal yang dicatat; Yang berasal dari pancaindera, keinginan, dan dari aku. Pada waktu kita tidak tidur, ketiga-tiganya kita catat. Pada waktu tidur, kita hanya mencatat dari keinginan dan dari aku.
Di sana ada yang dinamakan idam-idaman (idealisasi), dan cinta kasih justeru lahir ketika idam-idaman tidak ada (lho, gimana sih?). Karena ketika mengejar idam-idaman, orang lupa akan makna hidup.
Sebentar. Saya pusing dengan ajaran Ki Ageng ini. Lantas bagaimana hidup baik dan benar itu? Ki Ageng menyodorkan idiom 'sepi ing pamrih'. Wujud cinta kasih adalah segala hasrat dan usaha yang bebas dari kepentingan diri-sendiri (segala hasrat adalah untuk membahagiakan orang lain), karena dalam rasa cinta-kasih, semua orang hidup rasanya sama. Seperti ujar Rendra, langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa.
Apakah hasrat diri itu adalah kotak? Saya tidak tahu apakah Talleb dan Ki Ageng Suryomentaram itu orang yang berkomplot untuk menyindir-nyindir saya. Tapi, apakah saya mesti mematikan hasrat, termasuk hasrat untuk bahagia, hasrat cinta dan hasrat seksual? Sementara para kyai sembari mengaji kitab kuning mengatakan; dunia berputar karena selangkangan? Ini kitab apalagi?
Ufs, selamat tahun baru, dan tetap merdeka.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar