Senin, Januari 26, 2015

Nasehat untuk Relawan Jokowi


Tulisan ini ditujukan untuk relawan dan pendukung Jokowi. Yang bukan relawan dan apalagi bukan pendukung Jokowi, tak usah membacanya. Kalau himbauan ini dilanggar, jangan salahkan akibatnya.
Hari-hari ini, tentu rasanya nyesek melihat Indonesia Raya. Nyesek bagaimana Jokowi sepertinya tidak sesuai espektasi, harapan, dan bahkan tuntutan di benak nurani kita. Apalagi dengan penunjukan menteri-menterinya, yang dibanding tetangga kita kayaknya masih pantesan tetangga kita. Belum lagi makbedunduk muncul kasus BG, yang berujung pada KPK versus Polri, hingga dengan manisnya Anis Hidayah menuding Jokowi tak lebih tegas dibanding Ketua RT. Seolah Anis sedang menghina Jokowi seorang, padahal sebetulnya yang dihina jauh lebih banyak. Yaitu para Ketua RT, pekerja amatiran yang adalah rakyat jelata tanpa jobdesk jelas, sekedar diperalat untuk menyangatkan hiperbola Anis.
Kalau dulu kita suka menghina pendukung SBY adalah SBY Fans Club, tuduhan yang sama juga bisa diberikan pada Jokowi Fans Club. Ketika Jokowi diserang, pembelaan yang dilakukan seolah Jokowi dewa tanpa salah. Ini kesalahan fatal, karena ideologi Jokowi justeru adalah kita semua manusia biasa saja, bukan superhero, karena itu mari bekerja bersama-sama.
Salam dua jari, adalah simbol victory untuk memenangkan era baru. Yakni, memotong Soehartoisme dan Orbaisme. Dan kemenangan itu nyata, ialah Jokowi presiden dan Prabowo kalah, tidak menjadi presiden. Salam dua jari baru berubah menjadi salam gigit jari, jika Jokowi tak jadi presiden bukan?
Kehadiran Jokowi penting, karena ia merepresentasikan kita, yang menginginkan perubahan. Apa perubahan itu? Di sini masalahnya. Bahwa ketika Jokowi resmi menjadi presiden, perjuangan terberat justeru sedang dimulai. Ialah melewati situasi transisi yang kritis dan bisa menimbulkan krisis. Karena apa? Kata Bob Kennedy, karena perubahan akan lebih banyak mengundang musuh.
Dulu ketika pilpres, lawan kita adalah Prabowo dan pendukungnya. Kini, setelah menang presiden, lawan bisa berubah menjadi musuh (atau bahkan bisa berbalik menjadi kawan), tetapi kawan perjuangan bisa menjadi pula berubah menjadi musuh (dalam selimut). 
Politik tidak berada di ruang hampa, dan musuh Jokowi bisa jauh lebih banyak, bahkan bisa datang dari partai-partai dan orang-orang pendukungnya. Dalam kasus penempatan orang, entah itu penempatan menko, penasehat, bahkan Kapolri seperti kasus BG, kita lihat bagaimana Surya Paloh dan orang-orang Nasdem menjadi pendorong paling gigih. Senyampang dengan itu, manuver orang-orang PDIP seperti Hasto Kristianto dan Sugianto, serasa makin memojokkan Jokowi. Dan seterusnya.
Ketika Jokowi menjadi gubernur DKI, kita tahu bagaimana perlawanan birokrasi dalam menghambat proses reformasi birokrasi yang hendak dilakukan. Kini, di ruang kepentingan yang jauh lebih luas, hal yang sama sangat mungkin terjadi.
Di Istana Presiden, apakah kita tahu yang terjadi? Warisan masalah yang ditinggalkan SBY sangatlah banyaknya. Dan itu menyangkut kepentingan berbagai kelompok. Semua orang kini seolah menagih pada Jokowi, imbalan atas dukungan mereka.
Mengertilah duhai para relawan Jokowi, salah satu tujuan besar Jokowiisme adalah mari bekerja bersama-sama, tak ada superhero di situ. Semua mempunyai peranan penting, sepanjang mereka masing-masing mengetahui secara proporsional peran dan tugasnya. Dan itu tidak mudah, karena kita 30 tahun dididik Soeharto dengan pandangan-pandangan kemutlakan. Formalisme dalam berfikir, pragmatisme dalam bertindak, dan vandalisme dalam berkuasa.
Ketika membaca-bacai grup-grup relawan Jokowi di fesbuk dan berbagai media sosial lainnya, tampak para relawan masih sibuk dengan pernyataan-pernyataan yang tak penting lagi. Hanya terlibat dalam saling membully antara pro Jokowi dan Prabowo. Semua itu menunjukkan, bahwa para relawan tak punya agenda apa-apa, kecuali hanya tersepona pada Jokowi persona.
Sekarang Jokowi sudah menjadi presiden. Dan itulah mestinya, pekerjaan nyata baru dimulai. Tinggalkan semua sentimen masa lalu. Masuk dalam agenda Indonesia hari ini dan ke depan. Apa itu? Mengubah dan meninggalkan yang buruk-buruk di masa lalu dengan ideologi baru. Ideologi anti-kemutlakan, anti-hero, ideologi egalitarian dan membersama bahu-membahu.
Bagaimana caranya? Kita tak harus menjadi politikus untuk belajar politik. Mengerti politik itu penting, agar kita tidak tampak bodoh dalam pembelaan. Politik Jokowi sebenarnya sangat sederhana dan lugas; Jujur dan kerja keras. Itu saja. Tak ada lainnya. Bahwa kita harus tahu aturan dan sebagainya, tentu saja. Tapi jujur dan kerja keras, itu yang hancur dalam sistem sosial, sistem politik, dan sistem perekonomian kita. Itu yang harus didorong, bukannya meninggalkan Jokowi sendirian justru ketika Jokowi memerlukan waktu dan dukungan untuk membalikkan situasi itu. Dan itu bukan membalikkan telapak tangan.
Untuk pemahaman ini, butuh pemahaman ideologi, grand-design, road-map, target goal, yang kalau bisa mengujudkannya, kita akan menjadi bangsa yang bermartabat, berdikari, mandiri, berdaulat. Anda tahu itu tak mudah bukan? Banyak perlawanan dan penghambatan karena kepentingan. Dan kita tahu apa yang terjadi? Mau mengganyang rekening gendut polisi saja, sangat susah. Kenapa? Karena memang tak semudah mengatakan; bubarkan polisi, apalagi hanya harus lebih tegas dari Ketua RT. Semua harus dihitung dan terukur, karena menyangkut lebih dari 200 juta nyawa dan perut manusia. Dan itu memang mencapekkan, bagi mereka yang tidak menyadari bahwa perjuangan belum dimulai.
Mereka yang bermimpi di siang hari, akan lebih menyadari bahaya yang luput dari penglihatan mereka yang mimpi di malam hari, demikian ujar Edgar Allan Poe. Karena perubahan bukan soal mimpi, melainkan kerja keras. ‘Mulai’ adalah kata yang penuh kekuatan. Dan cara terbaik untuk menyelesaikan sesuatu adalah, ‘mulai’. Tapi juga mengherankan, pekerjaan apa yang dapat kita selesaikan, kalau kita hanya memulainya? 
Anda harus tahu, memulai apa!

Sabtu, Januari 24, 2015

Manuver Blunder Partai Lebay Pendukung Jokowi



Dwi Ria Latifa, anggota DPR-RI dari Fraksi PDIP tampaknya kheky betul. Partainya jadi bulan-bulanan netizen dan masyarakat luas, dalam kaitan KPK versus Polri. Ia mengatakan bahwa yang mendukung BG sebagai Kapolri adalah 9 Fraksi (artinya hanya minus Demokrat). Perkataannya itu, tentu pembenaran bahwa PDIP, juga Nasdem bersama 7 fraksi lainnya memang mendukung BG sebagai kapolri, dalam fit and proper test yang mereka lakukan. Itu fakta, sebagaimana pengakuan Dwi Ria sendiri bukan?
Pernyataan DRL menjelaskan, bagaimana kebanyakan politikus PDIP menjadi tidak sensitif dalam puting-beliung kepolitikan nasional. Terlalu naif, culun, polos, dan sejenis-jenis itu. Ia tidak melihat, bagaimana statemen Bambang Soesatyo (Golkar) dan Desmond J Mahesa (Gerindra) usai fit and proper calon kapolri. Ia juga tidak melihat, bagaimana kemudian Yunus Yosfiah (die hard Prabowo) berada di gedung KPK, dan mendukung Bambang Widjojanto. Ia juga tidak melihat bagaimana Denny Indrayana (mantan orang SBY), terlibat aktif dalam pembelaan KPK. Sebagaimana ia tidak melihat rentetan peristiwa sebelumnya, ketika Hasto Kristianto mengutik-utik soal Abraham Samad, dan Sugianto Sabran melaporkan BW ke Bareskrim.
Ndilalahnya ndilalah, pas peristiwa penangkapan BW oleh Bareskrim, di Teuku Umar, kediaman Megawati, justru sedang banyak karangan bunga numpuk, karena beliaunya sedang ulang tahun. Dan seperti biasa, tak sepatah-kata pun keluar dari ibu kita ini, dalam merespons situasi yang tentu negatif untuk partainya.
Dalam marketing politik, PDIP memang tidak secanggih partai-partai lain seperti Demokrat, Gerindra dan lebih-lebih Golkar beserta PKS. Sebagaimana hal yang sama juga dilakukan Nasdem. Partai ini jadi kayak pahlawan kesiangan, karena nyaris sama begonya dengan PDIP.
Partai lain yang tak disebut? Anggap saja mereka tidak significant!
Tulisan ini tidak ingin mengajari bagaimana berkelit, tetapi bukankah jualan partai memang jualan kepercayaan? Atau karena selama ini di luaran, syndrome opposant membuat Megawati dan Surya Paloh tidak sensitive, dan tak punya sensibilitas?
Merebut kepercayaan rakyat adalah dengan berpihak kepada mereka. Dan itu bukan pencitraan, melainkan memperlihatkan sikap dan keberpihakan. Sementara apa sikap dan keberpihakan partai-partai itu? Mereka melawan arus opini public, dan hanya memakai logika normative, legal, formal, procedural. Bahkan omongan Menkopolhukam, bahwa massa belum tentu benar, adalah konyol, apalagi beberapa statemennya menyudutkan KPK, dan menyalahkan KPK dalam soal penetapan BG sebagai tersangka.
Dalam satu ruang kelas anak-anak SMP pun, kita bisa pastikan mayoritas akan lebih mendukung dan percaya KPK daripada intitusi Kepolisian. Namun agaknya, para politikus pendukung Jokowi berfikir legal-formal-prosedural belaka. Mereka sama sekali tidak mempunyai kepekaan, apalagi keberpihakan tentang apa yang dituntut selama ini oleh rakyat.
Parlemen telah diberi panggung oleh presiden, untuk membahas pencalonan BG sebagai calon Kapolri. Tapi meski sudah berstatus tersangka (oleh KPK), orang-orang parlemen justeru tetap antusias dan dengan kepentingan berbeda, KMP dan KIH meluluskannya dalam fit and proper test. Dua kepentingan berbeda, bertemu dalam kuali. Hasilnya, bertolak belakang dengan nilai kepatutan dan kepantasan, yang menjadi ukuran bawah sadar rakyat.
Dan rakyat tidak bodoh dalam melihat rentetan kasus peristiwa darimana munculnya nama BG sebagai calon Kapolri. Kemudian KPK menetapkannya sebagai tersangka. DPR tetap meluluskan. Parlemen, dan terutama fraksi pendukung Jokowi, mendesak-desak pelantikan BG, tapi Jokowi menundanya. Dan Surya Paloh kebakaran jenggot. Sementara para politikus KMP, menjalankan skenario keduanya, bahwa jika Jokowi tak melantik BG sebagai kapolri, sudah disiapkan amunisi untuk interpelasi.
Lantas terjadilah kegaduhan dari Hasto hingga Sugianto yang berujung pada ditangkapnya BW, serta tidak proporsional dan profesionalnya polisi dalam proses penangkapan BW hingga menjelang ditangguhkannya penahanan.
Itu semuanya adalah rangkaian peristiwa dalam satu masalah. Tidak berdiri sendiri-sendiri. Dan di situ, wajar jika publik (terutama pemilih Jokowi) marah pada terutama PDIP dan Nasdem sebagai sumber petaka. Kalau marah pada Polri? Itu sih sudah sejak dulu, karena basisnya memang sudah tidak percaya.
Kemenangan PDIP dalam Pemilu dan Pilpres 2014, tidak bisa dibaca kemenangan PDIP sebagai partai politik yang tangguh. Melainkan, kemenangan PDIP adalah juga faktor dukungan rakyat yang menginginkan Jokowi sebagai presiden.
Kenapa menghendaki Jokowi sebagai presiden? Karena hanya ada dua calon dan kompetitornya adalah Prabowo Subianto. Jumlah yang menolak Prabowo jauh lebih besar. Padahal, jangankan delapan juta, selisih 10 suara saja tetap bisa untuk menentukan siapa kalah siapa menang.
Jokowi lebih dipercaya untuk tuntutan pemerintahan yang bersih, bebas dari korupsi. Sementara Prabowo tidak dipercaya. Kenapa? Karena Jokowi sebagai generasi di luar jalur politik, dan sejarah masa lalu, relatif tidak punya beban kepentingan kelompok, sebagaimana generasi Prabowo ke atas memilikinya. Kita bisa melihat, bagaimana SBY menjadi lebih banyak berkompromi, karena belitan masa lalu dan kepentingan kelompok.
Dan kini, ketika para pendukung Jokowi bahkan mengritik keras Jokowi, dalam kaitan kasus KPK vs Polri, apakah itu artinya salam dua jari menjadi salam gigit jari? Tentu saja tidak. Karena sudah jelas, salam dua jari telah memenangkan Jokowi menjadi presiden. Akan menjadi salam gigit jari kalau pemenangnya adalah Prabowo. Dan kenyataannya, Jokowi adalah Presiden Republik Indonesia 2014-2019, yang sah dan konstitusional.
Pendukung yang rasional dan proporsional, ialah akan terus tetap mendesakkan kepentingan-kepentingannya. Berani mengritik yang didukungnya, untuk tetap konsisten sebagaimana untuk apa ia perlu didukung.
Jadi seyogyanya partai pendukung Jokowi jangan lebay-lebay amat. Toh kalian dalam proporsi KMP-KIH juga kalah jumlah dan kalah siasat. Itu yang juga menyebabkan, posisi Jokowi selalu dalam situasi krisis dan kritis. Apalagi ditambah dengan sikap PDIP dan Nasdem, yang terlihat ambisius dalam menyusupkan agenda-agenda kepentingannya, dengan memasukkan orang-orang mereka dalam pemerintahan Jokowi.
Kasus BG, yang berkembang menjadi konflik terbuka KPK vs Polri, tak bisa tidak, akan dibaca bagian dari berbagai manuver-blunder partai lebay pendukung Jokowi.
Berkuasa itu memang enak bukan?
Tapi tidak (enak), kalau keblinger!

Minggu, Januari 18, 2015

Petualangan Tintin di Negeri Cenayang


Atas bujukan Biaca Castafiore dan Kapten Haddock, Tintin akhirnya memilih Boodhy Guncloudly. Tapi, Thomson and Thompson agaknya tak akur. Thomson tanpa ‘p’ menyatakan Boodhy Guncloudly cacat mental, sedang Thompson (detektif dongok dengan ‘p’) mendorong BG untuk tetep jadi pilihan Tintin, dengan alasan corps.
Di Negeri Cenayang, tepatnya Cenayang City Money Laundry (CCML), dua kelompok yang semula berseteru pun kompak. Menerima BG tanpa syarat. Meski tujuannya beda-beda. Satu berjurus politikus culun pengidap inferiority complex karena minoritas, satunya menganggap etika bukan bagian dari politik. Yang penting menang, karena sudah kalah.
Bangsat Soesatyo yang biasanya vokal, memuji-muji BG. Sembari ia berbisik-bisik, kelompok mereka tak ingin dijebak permainan Tintin. Sementara Despot Jenar Mahesa (yang popular dengan sebutan Despot J. Mahesa), memuji-muji BG. Meski di luar sidang, Despot mengatakan; “Kita sudah tahu barang busuk yang dilempar Tintin ini. Ini game. Jadi, kalau kita sudah setujui, tinggal pilih Tintin berhadapan dengan Thomson tanpa ‘p’ atau berhadapan dengan penguasa CCML. Kalau dilantik, Tintin akan berhadapan dengan detektif Thomson, kalau tidak dilantik akan berhadapan dengan CCML. Ayo dipilih-dipilih-dipilih,…”
Sekali tepuk dua lalat kliyengan. Sementara itu duo FZ (Fadlib Zonk and Fahriham Zah), disuruh oleh boss mereka untuk spa di belakang gedung CCML. Biar tidak ember di media.
Dan kini Tintin pun puyeng.
“Sudah dinyatakan tersangka, tapi kok CCML melakukan fit and proper test? Apanya yang fit dan proper? Di mana logikanya?" Prof. Calculus menggerundel sembari mencari bandulnya, dan, "Lebih ke barat, lebih ke barat,…”
Snowy buru-buru menghindar dari professor bahlul itu. Ia memilih tidur mendengkur, daripada kepala pusing cenut-cenut.
Bianca Castafiore melengkingkan symphoni number 9 dari Beatles. Suaranya memekakkan jantung. Kapten Haddock uring-uringan dengan sumpah serapahnya; “Biang panu, kutu busuk, kakerlak, jusufkalla, tomiwinata, century, hambalang, wedus, jancuk,….”
Snowy kaget terbangun, menjilati cambang Kapten Haddock, “Cup, cup, cup, sayang, guk, guk, guk,…!”

Sabtu, Januari 17, 2015

Jokowi Berselancar di Negeri Angin Ribut

Profesionalitas dan proporsionalitas semestinya dua hal yang bisa berpadu-padan. Tapi ternyata tak mudah. Celakanya, di sekitaran kita justeru sering menjadi tidak profesional karena mencoba proporsional, atau menjadi tidak proporsional ketika mengharuskan diri profesional.
Di dalam dunia kepolitikan kita, hal tersebut menjadi lebih nyata lagi. Bagaimana orang-orang Senayan kehilangan proporsionalitasnya, lebih karena mencoba menjadi profesional. Seorang profesional ialah mereka yang dibayar (mendapat imbalan upah) karena keahliannya, bukan karena merasa ahli.
Dalam kasus pencalonan Kapolri BG, yang ditersangkakan oleh KPK, terlihat bagaimana para politikus KIH, terutama dari PDIP, menunjukkan kelas rendahnya. Bahkan setelah paripurna meloloskan BG menjadi Kapolri, sore hari di acara TV One, berdebatkusir dengan Fajroel Rachman, Henry Yosodiningrat ngotot, "Kalau perlu malam ini juga dilantik,..." (16/1, jam 19:00). Kenapa sih ngebet banget? Sakaw ya?
Dengan nada jengkel, ketika FR mengatakan tidak percaya pada DPR, Henry dengan enteng mengatakan bahwa keputusan menerima BG sebagai Kapolri dilakukan 9 dari 10 fraksi yang ada. Kalau FR tidak percaya pada DPR, itu hanya satu dari 250 juta penduduk Indonesia. Wah, bener-bener sakaw berat deh.
Dwi Ria Latifa, yang juga profesi sebelumnya pengacara, punya pendapat hampir sama. Mempersoalkan kerja KPK, surprise karena KMP full mendukung pilihan Jokowi atas BG.
Sementara kita tahu, karakter KMP dalam menggoalkan UUMD3, kemudian Prabowo mengundurkan diri dari proses penghitungan suara Pilpres di KPU, terlihat lebih penuh manuver, dan kadang mengabaikan nilai-nilai etika berupa kejujuran dan ketulusan. Tapi KIH masih saja naif, cupu (culun punya alias dogol), dan berusaha berfikir linier serta kehilangan kepekaan ketika dikadalin. Kalau dalam soal main drama, PDIP (juga Nasdem) belajarlah pada PKS dan Golkar.
Bambang Soesatyo usai fit and proper test blak-blakan mengatakan, bahwa mereka (KMP), tidak mau terjebak dalam bola panas yang dilempar Jokowi dengan calon tunggal BG itu. Artinya, Bangsat sudah tahu, siapa BG ini sebenarnya. Demikian juga Desmond J Mahesa lebih blak-blakan, ini game. Maka BG yang kata Desmond adalah barang busuk itu, sekalian saja diterima. Tinggal ditunggu bagaimana sikap Jokowi setelah barang busuk tadi diloloskan? Desmond bilang, kalau dilantik Jokowi berhadapan dengan KPK, kalau tidak dilantik KMP mengancam menggalang interpelasi karena contempt of parliament.
KMP dan KIH sama-sama meloloskan, tetapi tujuan keduanya berbeda, dan KIH merasa KMP bersamanya. Tolol banget, hanya karena ngebet BG jadi Kapolri. Agenda apa sih kok ngebet banget dengan si BG? Sampai-sampai mesti "malam ini juga" dilantik? Pada dapat apa sih, dijanjiin rumah ya, hanya karena konon BG polisi murah hati yang suka bagi-bagi rumah? Dasar oportunis pecundang! Soal kepemimpinan KPK ditundtunda, soal APBNP tidak dirasa penting, eh soal Kapolri yang nggak penting dipenting-pentingin.
Tak ada dugaan lain, pasti karena order khusus. Siapa pengordernya, dan untuk apa? Balas dendam ya? Para ortu ini memang harus segera ditinggalkan untuk Indonesia Baru tanpa tradisi balas dendam kesumat.
Dan Jokowi pun akhirnya mementahkan dua jebakan batman (dari KIH maupun KMP) itu, dengan menunda pelantikan BG jadi Kapolri, sembari menunggu proses hukum.
Setelah DPR "menerima BG untuk menolak Jokowiisme", terus bagaimana? Jokowi melemparkannya ke KPK. Kita tunggu proses hukumnya. Sekarang masalahnya di mana? Ya, bekerjalah KPK jangan ngomdo. Terlalu banyak alasan untuk banyak pekerjaan yang dibanggakan. Katanya mulai 2010, tapi kok makbedunduk dimunculkan menjelang fit and proper test BG? Kamu berpolitik ya? Kalau tidak, ngapain kebakaran jenggot? Mentang-mentang AS dan BW pada punya jenggot!
Sekarang kita lihat, mana yang profesional dan proporsional sekaligus? Apakah DPR, baik KMP maupun KIH? Jokowi? KPK? Atau orang-orangtua seperti Megawati? Surya Paloh? Jusuf Kalla?
Tanpa partai politik, duo Jokowi-KPK sebenarnya masih bisa diharap untuk Indonesia Baru. Asal mereka profesional dan proporsional. Memang seperti meniti jembatan kawat di arena sirkus. Tapi apa boleh buat. Daripada ngasih makan singa-singa kelaparan yang tak tahu diri, bukankah mending membuka pekerjaan untuk 20 juta pengangguran, menjamin sirkulasi dan distribusi ekonomi mikro yang adil, dan menggerakkan roda pemerintahan sinergis dari pusat hingga ke pemerintahan desa? Ayo lihat lagi pola kerjamu, profesional dan proporsional, sekali pun (atau justeru karena) berselancar di negeri angin ribut ini.
 
ISTANA PRESIDEN DALAM LAPORAN PANDANGAN MATA ADIAN NAPITUPULU | Politikus PDI Perjuangan, Adian Napitupulu buka suara mengejutkan. Dia mengungkap bahwa situasi di sekitar Istana mengerikan. “Ada penjilat, ada para munafik, ada pembisik informasi palsu, ada yang diam-diam tapi pengkhianat,” katanya.
Tidak cuma itu. Adian meski tidak menyinggung bagaimana kondisi carut marut politik di negeri ini terkait penetapan calon Kapolri, dia juga mencermati situasi di dalam Istana, menurutnya, ada yang manggut-manggut tapi menikam dari belakang.
“Ada mata-mata, ada agen rahasia, ada yang mengancam dengan kata, ada yang dengan senjata,” ungkap anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan ini dalam keterangan persnya kepada LICOM, Jumat (16/1/2015).
Lebih mengerikan lagi, menurut Adian, “Ada yang dengan Guna-guna, si Jahat berkerja di dunia nyata hingga maya. Di Istana ada ribuan kepentingan yg bekerja dengan jutaan cara,” tambah Adian.
Adian bicara blak-blakan, mengatakan Jokowi si tukang meubel itu sekarang sedang berhadapan dengan konspirasi tak tampak mata. “Konspirasi yang bisa lebih silent dari freemason, bisa lebih jahat dari Nazi. Konspirasi tanpa bentuk, tak beraroma, tak diakui tapi ada dan bekerja, katanya lagi.
Lantas, Adian mebandingkan situasi di Istana dengan di luar. Menurutnya, ada banyak aktivis mahasiswa yang bahkan melawan dosen pun tak punya nyali, ada banyak tokoh yang takut bahkan pada isteri sendiri.
Adian juga menyindir, “Ada banyak pengamat yang kalah pada birahi. Dan kini, mereka semua berlomba menghakimi Jokowi seolah mereka yang paling berani.”
Dalam kegalauan Presiden Jokowi, menurut Adian, si kurus itu mengutip Pramoedya dan menegaskan sikap serta pendiriannya bahwa sebagai Presiden ia menghormati semua lembaga, setiap orang, tapi sebagai Presiden dia tak bisa di intimidasi siapa pun!
“Si kurus tukang meubel itu seolah ingin berkata “silahkan bicara, silakan berpendapat, silahkan beri data dan masukan, silahkan ancam, silahkan teror, silahkan marah tapi saya yang akan memutuskan… Karena saya adalah Presiden!”
Adian seperti terang-terangan membela Presiden Jokowi. Menurutnya, karena menghadapi situasi Istana yang mengerikan itu Jokowi berkata: “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” @licom_09 | Politik sekitar Istana mengerikan, ini kata Adian Napitupulu,  Jumat, 16 Januari 2015 17:29 WIB. Editor: D Irianto |  LENSAINDONESIA.COM

Jumat, Januari 16, 2015

Jadi, Mewakili Siapa Anggota DPR?

Jadi mewakili siapa sampeyan, para anggota DPR-RI ini? Mongsok 560 anggota DPR tidak ada separohnya plus satu yang tidak keberatan bahwa calon Kapolri BG sudah ditetapkan sebagai tersangka?
Surya Paloh, pemilik MetroTV dan Parpol Nasdem meradang dan mengatakan; "Kalau sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, apakah itu berarti ia sudah bersalah dan kehilangan hak? Bisa kacau negeri ini,..."
Dan bola panas ada di Jokowi. Semua beban kesalahan diletakkan pada Jokowi. Dan kita pura-pura tak tahu, bagaimana sistem kerja Kompolnas, DPR, dan tentunya juga KPK yang jadi nampak politis. Makbedundug KPK mentersangkakan BG yang adalah calon Kapolri. Dan orang-orang pun ramai dengan tafsirnya sendiri-sendiri. Emang penting banget bagi kita semua, soal Kapolri ini?
Dan para yang pro BG jadi Kapolri, hampir berkata senada. Tetapi proses politik yang terjadi di Senayan, dari sidang Komisi III dan Paripurna DPR-RI, sudah menunjukkan gejala mencurigakan sejak awal. Beberapa aktor Senayan, yang biasa disebut para bintang enemy public itu, suaranya sangat pro Pemerintah. Dan dalam sidang paripurna kemarin, dua ketua DPR, Fadli Zon dan Fahri Hamzah sama sekali tak terlihat, dan sama sekali tak bersuara seperti biasanya.
Hanya Demokrat, dan kemudian disusul PAN yang bersuara beda. Tapi tak ada artinya, karena impresi ketulusan sudah hilang dari dua partai politik ini, sebagaimana kita sebaliknya juga bercuriga, ada apa dengan Gerindra, PKS, Golkar, PPP yang justeru antusias menggoalkan BG sebagai Kapolri pilihan Jokowi?
Padahal kita tahu, KPK mentersangkakan seseorang, tentu tidak main-main. Reputasinya menunjukkan itu. Apalagi di KPK tidak mengenal SP3, untuk pengunduran atau pembatalan. Proses akan berlanjut, dan minimal dua alat bukti tinggal diproses dalam persidangan.
Lantas apa yang akan terjadi, jika ada seorang yang status hukumnya tersangka dilantik menjadi Kapolri? Tentu saja aib secara politik dan hukum. Apakah Jokowi akan segoblog itu masuk dalam jebakan batman from Senayan?
Pertanyaan goblognya tentu, kenapa mayoritas anggota DPR menyetujui pencalonan Kapolri ini? Dari sini jelas, bahwa anggota DPR memang hanya pegawai atau pesuruh partai. Tak ada kaitannya dengan rakyat, kecuali waktu kampanye dan pencoblosan mereka saja. Selebihnya mereka menjadi budak atau kacung partai, dan tentu mereka ketakutan dicopot dari parlemen karena membangkang perintah partai.
Siapa partai ini? Siapa lagi kalau bukan Megawati, Surya Paloh, Wiranto, Muhaimin Iskandar, Aburizal Bakri dan Agung Laksono, Prabowo, dan nama-nama lain yang bisa disebut seperti Yudhoyono, Hatta Radjasa, dan sejenis-jenis itu. Apakah Indonesia akan diserahkan pada segelintir orang macam gituan? Kalau mereka pinter, bolehlah. Kalau pun nggak pinter tapi tulus, tak apalah. Tapi kalau tak pinter dan tak tulus mengabdi pada negeri ini?
Kita masih bertarung dengan oligarki partai. Dan partai masih representasi dari orang-orang bermasalah daripada penyelesai masalah. Karena itu kita masih butuh perang gerilya, untuk akhirnya menundukkan oligarki partai itu.
Kita masih percaya, pada akhirnya Jokowi akan mengatakan ia menunggu proses hukum yang akan dijalankan KPK atas tersangka BG, sekaligus mendorong KPK agar tidak terlalu lelet dengan berbagai alasan keterbatasannya. Wong gimana pun juga gaji orang-orang KPK tak bisa dikatakan rendah.
Baru setelah pengadilan status BG naik dari tersangka menjadi terdakwa dan kemudian terpidana, Jokowi tinggal cari gantinya. Dalam bahasa Gus Dur, "Ngono ae kok repot, Cuk!"
Sila Jokowi bermanuver atau berakrobat politik macem-macem soal Kapolri ini. Tapi bagaimana cara mendidik dan menjagai stabilitas mikro-ekonomi kita, agar rakyat juga dibela di depan para bakul sembako, pedagang gas 3kg, sopir angkot, para programer TV yang nggak mutu, misalnya. Agar tidak eker-ekeran di bawah.

Rabu, Januari 14, 2015

Jokowi Quo Vadis? What Ever Will Be!


Jokowi apa kabar? Kita, atau setepatnya saya, tidak tahu benar apa yang terjadi pada Jokowi, Joko Widodo, presiden Republik Indonesia 2014-2019 sekarang ini.
Bahwa banyak kejadian tentangnya, dan di sekitarnya, diliput dan diaplut media (apapun medianya) kita membacainya. Apakah kita mengetahui dan memahaminya? Itu soal lain lagi, dan sepertinya tak penting.
Ada begitu banyak spekulasi, gossip, dan bahkan teori konspirasi, yang merupakan ciri khas negara-negara yang dibangun dari sistem demokrasi yang korup. Atau setidaknya berada dalam situasi transisi, dari pemerintahan korup ke upaya konsistensi (dan resistensi) penegakan nilai-nilai substansi demokrasi, yakni partisipasi publik.
Pada kasus pengajuan calon tunggal Budi Gunawan sebagai Kapolri, kita lihat bagaimana publik menjadi bagian penting dari semua proses yang terjadi. Dan semua berkembang dengan teorinya sendiri-sendiri, yang sama-sama spekulatifnya. Hingga sampai pada presiden boneka, manut simboke (Megawati), politik balas budi, dan lain sebagainya.
Benarkah semua isu (atau celometan) yang berkembang itu? Tak ada yang bisa menjamin kebenarannya, bahkan the all president’s  men dan apalagi kita yang jauh dari pusat kekuasaan dan media.
Pertanyaan naïf kita tentu sederhana; Mungkinkah presiden tidak tahu informasi A1, karena dari KPK dan PPATK Presiden Jokowi sudah mendapat data (yang merupakan rahasia Negara) bahwa BG adalah calon menteri (ketika Jokowi mengajukan nama-nama anggota kabinetnya dulu, Oktober 2014) yang mendapat catatan merah (alias tidak lulus) versi KPK dan PPATK? Tak masuk akal jika Jokowi tidak tahu. Ia pemimpin tertinggi negeri ini yang memiliki semua akses kekuasaan.
Dari mana kita tahu BG terkena raport merah? Dari tuitan Yunus Husein, mantan kepala PPATK yang menangani kasus pelaporan keuangan BG. Karena laporan PPATK bersifat rahasia Negara, dan hanya diketahui oleh presiden, darimana kita tahu? Ya, karena Yunus Husein telah membocorkan rahasia Negara itu lewat twitternya. Dan Andi Widjajanto (menseskab) dengan dingin menembak Yunus Husein, “Itu rahasia Negara, hanya presiden yang tahu, kami tidak tahu,…”
Kita tahu, apa hukum bagi pembocor rahasia Negara? Hayo siapa bakal menuntut, mumpung Yunus Husein belum berkilah bahwa akun twitternya dihack orang atau dibilangnya media sudah memelintirnya menjadi info mintilihir.
Berbeda dengan tindakan Abraham Samad, ia memberitahukan sebuah proses kerja KPK dari 2013 hingga intensif Juli 2014, dan kemudian sampai pada informasi final, BG adalah tersangka dalam kasus penyelewengan jabatan negara, dengan lebih dari dua alat bukti.
Baru setelah KPK mengemukakan hasil gelar perkaranya, semua spekulasi langsung diam. Kalau pun masih ada spekulasi, hanya dua; dari pemuja dan pembenci Jokowi dengan pemahaman masing-masing dan sesuai kepentingan masing-masing.
Ada juga para pemain setelah itu, partai-partai yang merasa mendapat panggung politik, termasuk Partai Demokrat, setelah status tersangka BG. Padahal, semula, boleh dikata hanya ICW yang resisten. Teten Masduki (mantan ketua ICW) yang menjadi staf khusus mensesneg dan terlibat dalam pembahasan BG, memilih bungkam. Ada apa?
Perihal BG, semula DPR juga sama sekali tak ada penolakan. Dari aktor-aktor drama Senayan, seperti Bambang Soesatyo, juga beberapa anggota komisi III DPR seperti PKS, PAN, PPP, tak ada penolakan. Bahkan Komisi III pada tanggal 16 Januari mengagendakan audiensi ke rumah BG, dalam kaitan fit and propher test, ingin tahu keseharian dan rumah tangga, ingin kenal dengan isteri dan anak BG. Untuk apa?
Kita tahu, dalam pertemuan itu tak  mungkin BG (baik punya atau tak punya rekening gendut) hanya menyuguh tamu dengan secangkir wedang teh dan secuil kue. Apalagi kalau BG punya rekening gendut, mainkan Mang!
Semua orang punya teori dan spekulasi sendiri-sendiri. Sebagaimana halnya di Indonesia semua bidang ada pengamatnya. Sepakbola, pesawat jatuh, bahkan fesbuker pun ada pengamatnya, juga orang kiri atau kanan pun ada pengamatnya.
Pentingkah semua itu? Tidak. Partisipasi publik yang tidak artikulatif, tak ada artinya, kecuali hanya untuk katarsis pribadi-pribadi narsis. Pada sisi itu akan kelihatan, kecerewetan rakyat itu pada sisi apa? Sesuatu yang positif atau sia-sia belaka?
Yang kita tahu kemudian, harga-harga sembako juga alat dan suku cadang kendaraan, ternyata tidak turun meski harga BBM turun, dan tidak mengikuti pasar dunia. Kita lihat betapa canggihnya para bakul di pasar jika BBM naik, langsung menaikkan harga. Tapi ketika BBM turun, alasannya cem-macem, untuk bertahan dengan harga yang semula dinaikkan gegara BBM. Apalagi para pengusaha Organda, mulutnya lebih terlatih lagi dalam berkilah, yang lebih tidak logis. Kalau tarif angkutan naik gegara BBM naik, tetapi tidak menurun tarif angkutan meski BBM turun. Karena alasan mereka gegara kita tergantung dollar. Demikian juga ketika kita ngomong soal tarif rendah pesawat terbang dengan keselamatan. Para pengamat mengatakan, tak ada hubungan antara tarif rendah dengan keselamatan. Memang tak ada. Keselamatan itu berkait dengan kesialan. Kesialan berkait dengan Tuhan yang mahakuasa. Dan pengamat berkait dengan asal ngomong meski pun tampak ahli.
Dan kita tahu sebenarnya, apa komponen kenaikan harga-harga itu? Antara lain juga karena Negara tidak hadir dalam sistem pasar ekonomi kita, dan masyarakat kita berada dalam disiplin sosial yang rendah. Pada kenyataannya, pemerintah tidak mempunyai kemampuan mengontrol dan mengendalikan pasar. Pasar begitu liar dengan alasan yang aneh, demokrasi.
Semuanya itu menjadi pertarungan tesis antara pemikiran lama dan baru (dan media serta pengamat, sering lebih mewakili pandangan lama, yang bermula dari kata “seyogyanya,…” atau “biasanya,…”), para netizen amatir tentu saja menjadi follower yang patuh untuk itu.
Apa yang dilakukan Jokowi dan para menterinya, apakah itu Susi Pudjiastuti, Ignatius Jonan, juga dalam hal kecil revolusi birokrasi di sekneg oleh Pratikno, bukanlah sesuatu yang mudah. Negeri ini dikungkung oleh mafia ekonomi, mafia bisnis dengan segala jenis kartel-kartel yang bergelantungan pada hampir semua lini pemerintahan. Sesuatu yang sudah berlangsung sejak Orde Baru Soeharto, dilanjutkan hingga Orde Soesilo Bambang Yudhoyono.
Itu kenapa kita boleh terheran-heran. Ada mafia perijinan, ada mafia sepakbola, ada mafia migas, mafia bisnis penerbangan, mafia ini dan itu. Bagaimana Jenderal Moeldoko sebagai panglima TNI, turun langsung memimpin pengambilan black-box pesawat Air Asia. Ada apa? Kenapa tak mengembangkan teori-teori spekulatif soal ini? Kenapa kita hanya asyik dengan skandal gossip bahwa BG bukan hanya mantan ajudan presiden melainkan juga pacar Megawati? Kenapa kita hanya menggosipkan bahwa BG adalah pilihan dari Megawati, atau Surya Paloh, dan Jokowi presiden boneka?
Informasi dari mana coba? Tak ada yang berani bertanggung jawab sebagai pelempar isyu. Persis pelempar bom dan teror di beberapa tempat di Indonesia. Tak ada yang angkat tangan mendaku. Khas teroris kelas kampret.
Dan seterusnya.
Biarkan saja semua itu keributan dalam media dan gosip politik kita. Karena kita memang bangsa yang suka gegap-gempita dengan aneka pendapat. Semua hal seolah harus kita tahu. Sementara kita sering abai, bahwa rakyat hanya butuh mereka terjamin hajad hidupnya, hukum ditegakkan seadil-adilnya tanpa pandang pangkat, kebutuhan akan kesehatan dan pendidikan keluarganya tercukupi, kesempatan untuk mengembangkan diri terwadahi dan dilindungi oleh Negara secara adil.
Selama Jokowi tetap berkhidmad pada keadilan dan kesejahteraan rakyat, semuanya akan berjalan normal. Kita hanya butuh penjaminan-penjaminan itu, yang mesti harus segera dilakukan oleh Jokowi dalam lomba adu cepat antara gerakan mafia perubahan dan gerakan mafia anti-perubahan. 
Mafia memang harus dilawan dengan mafia pula. Sayangnya, mafia perubahan tidak terorganisasi dan solid. Dalam gerakan perubahan, hanya yang akan tersingkir yang solid bersatu mempertahankan diri. Itu hukum alam. Dan kita mesti melalui situasi kritis ini dengan kehati-hatian dan kesabaran.
Sementara jalannya perubahan, adalah karena keikhlasan bergerak dalam perubahan secara diam-diam. Begitu banyak orang ngomong, tanda tak ada yang mendengarkan. Dan betapa bahayanya asal ngomong tanpa data, fakta, dan apalagi jalan keluar.
Dari sanalah kita akan tahu, tidak mudah memposisikan diri menjadi Tenzing Norgay (yang mempersilakan Sir Edmund Hillary untuk menjadi orang pertama yang menginjak puncak Mount Everest), di segala lapangan kehidupan, apalagi politik. Semua orang ingin naik ke puncak lancar jaya.

DI DALAM ROLLER COASTER POLITICS | Malam yang dingin ini (rabu, 14 Januari 2015 jam 22:53 ketika tulisan susulan ini dibuat), bisa jadi merupakan malam yang panas. Setidaknya bagi mereka yang pro dan kontra BG sebagai Kapolri. Mereka yang meyakini Jokowi memainkan politik tingkat tinggi, dengan teori 'nabok nyilih tangan', bisa jadi terbawa adem-panas hawa politik.
Meleset dari berbagai dugaan, DPR (meski baru komisi III yang berwenang melakukan fit and proper test) secara aklamasi menyetujui penunjukkan BG sebagai Kapolri. Walaupun sinyal-sinyal mencurigakan sudah dilemparkan oleh anggota DPR Bambang Soesatyo, beberapa politisi PKS, Azis Syamsuddin dan Desmond J Mahesa. Bahwa proses pencalonan BG sepertinya akan mulus. Setidaknya barisan KMP tak bentrok dengan KIH.
Dugaan 'kalau bisa dipersuit kenapa dipermudah', tidak terjadi. Justeru sebaliknya, yang tampaknya problematik menjadi begitu mudah. Sehari kelar, dan besok paripurna DPR akan menindaklanjuti keputusan Komisi III, padahal kita tahu Kapolri Jendral (Pol) Sutarman baru akan pensiun Oktober 2015. Semuanya begitu cepat dan lancar jaya. Dari Jumat (9/1) hingga Kamis (15/1) angin seolah sulit ditebak. Ada apa?
Padahal kita tahu, sehari sebelumnya (13/1), KPK menyatakan BG sebagai tersangka. Dan sehari setelah fit and proper itu, paripurna akan menyidangkannya (15/1, jika rencana semula tak ada perubahan), apakah BG disetujui atau tidak sebagai Kapolri.
Jokowi dengan enteng mengatakan menghormati proses hukum (KPK) dan proses politik (DPR). Padahal, ternyata, dua proses itu berada dalam contradictio in terminis. Meski pihak Istana bisa berkata selama proses hukum belum menjatuhkan vonis pada BG, proses pelantikan bisa tetap berjalan (dan kalau kelak di tengah jalan, setelah dilantik jadi Kapolri kemudian sidang Tipikor memutus BG jadi terpidana, dengan sendirinya jabatan sebagai Kapolri akan gugur, dan Jokowi bisa mengulang proses pergantian Kapolri dari awal).
Tapi ini sebuah blunder Jokowi yang menyesakkan. Dan jebakan batman berlangsung sukses, dengan sekali tepuk dua lalat kena. Jokowi akan terkunci dengan kredibilitasnya (akibat tetap mengajukan BG) serta KPK terdelegitimasi oleh DPR (senyatanya keputusan KPK memtersangkakan BG 'diabaikan' DPR) seolah tidak penting, padahal kita tahu reputasi KPK ketika mengambil keputusan mentersangkakan orang (apalagi sebagai calon Kapolri). Dan penumpang gelap bermunculan. Beredar pula foto-foto Abraham Samad yang konon bermesraan dengan perempuan ayu Putri Indonesia 2014.
So? Hare gene masih berpolitik? Memang tensinya masih tinggi. Pengajuan APBNP juga membutuhkan kondisioning antara pemerintah dan parlemen. Ini memasuki bulan ke-4 pemerintahan Jokowi-JK yang masih menggemaskan.
Kita masih berada dalam roller-coaster politik itu, Dan itu mengecewakan.


TENZING NORGAY DAN TELOR MATA SAPI | Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay, pemandu/sherpa, kembali dari puncak Mount Everest (1953), hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary. Dan kita tahu legenda Sir Edmund Hillary ini kemudian, sebagai penakluk Mount Everest yang pertama kalinya di dunia.
Pada waktu itu, hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay. Reporter itu bertanya, "Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?"
Tenzing Norgay yang pada awalnya bernama Namgyal Wangdi, menjawab polos, "Sangat senang."
"Anda seorang sherpa bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?"
"Ya, benar sekali. Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilahkan Edmund Hillary untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia, yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia,…"
"Mengapa Anda lakukan itu?"
"Karena itulah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih impiannya.”
Pepatah mengatakan, "Bila Anda hendak jadi pahlawan, harus ada yang bertepuk tangan di pinggir jalan." Dan di dunia ini, tidak semua manusia berkeinginan atau memiliki impian seperti Sir Edmund Hillary, menjadi pahlawan.
Orang-orang seperti Tenzing cukup berbahagia dengan memberikan pelayanan, membantu orang lain mencapai impian. Kadang, orang-orang seperti ini diperlakukan ibarat telor mata sapi. Yang punya telur ayam, yang tersohor sapi.


Senin, Januari 05, 2015

Secebis Embun di Pagi Dingin

Desau arus sungai depan rumah memanggil-manggilku. Alangkah nyaman menyimak jalannya air. Mengalir begitu saja. Barangkali ia tidak perlu berpikir, tetapi siapa tahu bahwa ia telah menemukan sistem perjalanannya sendiri, yang disebut hukum alam. Dan aku yakin Thomas Alva Edison tidak berkata kepada air, melainkan kepadaku, yang masih juga gagu; Tidak ada jalan keluar yang dipakai untuk menghindarkan diri dari sesuatu, kecuali berfikir.
Itu mungkin yang mendorong Mark Zuckerbergh menanyaiku terus di fesbuk ciptaannya. Apa yang Anda pikirkan? Nothing, selain curcol dan gosip.
Kulihat babal nangka pinggir sungai itu makin membesar. Akan menjadi sebuah gori yang menawarkan pilihan, menjadikannya gudeg yang lezat atau nangka kuning yang renyah?
“Tapi, yang menentukan masa depan adalah pilihanmu, bukan kesempatan,…” secebis embun yang nempel di daun labu menyapaku. Nama embun itu Jean Nidetek.
Aku diam saja. Terlalu banyak aku tinggal di masa lalu, dan hari ini, baru beberapa jam lalu.
“Jika segala sesuatu hilang, masih ada masa depan,” ujar Bavee, seekor katak yang meloncat-loncat di cerukan sungai.
Langit masih kotor, tak ada jasa loundry mengerjakannya, kecuali Tuhan berkehendak lewat kepastian hukum. Semoga hari ini cuaca bersahabat, agar saudara-saudara kita yang terhempas bencana di Selat Karimata tertemukan.
“Hadapilah masa depan yang suram tanpa rasa takut, tetapi dengan hati jantan,” Longfellow menyapaku sembari tersenyum. Ekornya yang panjang menjadi penyeimbang untuk lincah meloncat dari dahan ke dahan, menyusuri reranting bambu yang lentur. Matanya yang kecil bulat begitu cemerlang. Seekor tupai yang cantik.
Pagi ini, barisan semut hitam berhimpun, menyusun kembali kata-kata Jean Jacques Rosseau; “Aku melakukan usaha yang belum pernah mempunyai contoh sebelumnya, dan aku tidak akan mempunyai penirunya. Aku mengusulkan untuk menunjuk kepada sesamaku sebagaimana alam membuatnya, dan ia pastilah diriku sendiri.”
Sombong banget, tapi keren.
Mbah Albert Einstein melintas dengan kambing-kambing piaraannya, “Kalau saya periksa diri dan metode berfikir saya, sampailah saya pada kesimpulan bahwa karunia daya khayal lebih berarti dari pada bakat saya untuk menyerap pengetahuan.”
Halah, nggak nyambung. Aku ingatkan Mbah Einstein yang pikun itu, agar kambing-kambing gembalaannya tidak menggerogoti dedaunan tanaman terong yang melebat di halaman depan rumah.
Di seberang sungai, kulihat kerumunan orangtua sibuk berbincang, sembari membakar ketela pohon.
“Berbagai hal dapat datang kepada orang yang menunggu,” berkata Abraham Lincoln, “Tetapi berbagai hal akan meninggalkan orang yang terburu-buru.”
Ngomong sendiri dibantah sendiri, kataku dalam hati hati-hati.
“Winners work smartly hard, losers blindy hard,...” tukas Lao Tzu mencoba English.
“Yang artinya?” seekor kadal menyahut.
“Orang-orang yang sukses cermat dalam bekerja. Orang-orang yang gagal, ceroboh.”
“Untung aku cuma kadal,…” sungut kadal sambil ngeloyor.
“Kenalilah dirimu sendiri, maka engkau akan memenangkan semua pertempuran,…”
Kadal itu makin bersungut, “Ya, aku kenali diriku, aku kadal,…!”
“Para prajurit yang berjaya, menang dulu baru pergi berperang. Sementara para prajurit pecundang, pergi berperang dulu baru berusaha untuk menang,…” Sun Tzu ikutan ndleming.
“Mangsudnya?”
“Siapa kamu?” Sun Tzu balik bertanya.
“Aku seekor kadal,….!”

Sabtu, Januari 03, 2015

Manusia Kotak Kotak Kotak


"Mereka lahir lalu dimasukkan dalam kotak, belajar dengan mencentang kotak, pergi untuk 'bekerja' di dalam kotak, di tempat kerja duduk di dalam kotak, menyetir ke toko pangan dalam kotak untuk membeli makanan dalam kotak, pergi ke tempat olahraga dalam kotak untuk duduk dalam kotak; bicara mengenai 'berfikir di luar kotak'; dan ketika mati ditaruh dalam kotak. Semua kotak, kata Euclidian yang mulus secara geometris," demikian tulis Nassim Nicholas Talleb dalam The Black Swan.
Saya teringat dongeng kutu anjing yang bisa melenting tinggi, namun menjadi lemah ketika ditaruh di dalam kotak korek api. Apakah demikian? Apakah benar bahwa abad 20 adalah hancurnya utopia sosial, dan abad 21 akan menjadi masa kehancuran utopia teknologi? Semua mata manusia lekat pada monitor apapun, dan kehilangan pesona keindahan matanya?
Ah, saya tak ingin membuka awal tahun dengan hal yang bikin pusing. Ingatan pada ajaran Ki Ageng Suryomentaram menggeremang di kepala. Hidup adalah mencatat sejak lahir hingga mati. Ada tiga hal yang dicatat; Yang berasal dari pancaindera, keinginan, dan dari aku. Pada waktu kita tidak tidur, ketiga-tiganya kita catat. Pada waktu tidur, kita hanya mencatat dari keinginan dan dari aku.
Di sana ada yang dinamakan idam-idaman (idealisasi), dan cinta kasih justeru lahir ketika idam-idaman tidak ada (lho, gimana sih?). Karena ketika mengejar idam-idaman, orang lupa akan makna hidup.
Sebentar. Saya pusing dengan ajaran Ki Ageng ini. Lantas bagaimana hidup baik dan benar itu? Ki Ageng menyodorkan idiom 'sepi ing pamrih'. Wujud cinta kasih adalah segala hasrat dan usaha yang bebas dari kepentingan diri-sendiri (segala hasrat adalah untuk membahagiakan orang lain), karena dalam rasa cinta-kasih, semua orang hidup rasanya sama. Seperti ujar Rendra, langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa.
Apakah hasrat diri itu adalah kotak? Saya tidak tahu apakah Talleb dan Ki Ageng Suryomentaram itu orang yang berkomplot untuk menyindir-nyindir saya. Tapi, apakah saya mesti mematikan hasrat, termasuk hasrat untuk bahagia, hasrat cinta dan hasrat seksual? Sementara para kyai sembari mengaji kitab kuning mengatakan; dunia berputar karena selangkangan? Ini kitab apalagi?
Ufs, selamat tahun baru, dan tetap merdeka.


Kentut dalam Cinta

Sebenarnya tidak terlalu patut pagi-pagi membicarakan tentang kentut. Setidaknya, terasa sangat tidak sopan. Dan juga sungguh sangat absurd, menghubungkan kentut dan cinta. Perpaduan tidak ideal.
Bayangkanlah saja ketika Anda sedang bersama orang terkasih Anda, dengan pacar, kekasih, suami atau isteri. Ketika sedang bercengkerama memadu kasih dan kemudian salah satunya kentut. Baik kentut dengan bunyi atau tidak dengan bunyi, keduanya seolah kejadian yang memalukan. Apalagi kalau kentut tidak bunyi tapi tahu-tahu menyebarkan bau tak sedap dihidung yang sedang mendengus-ndengus karena rangsangan cinta.
Jika kentut tak berbunyi dan tak berbau, mungkin tidak menimbulkan bahaya. Tetapi kentut sering tak bisa diprediksi. Ia bisa hadir tanpa bunyi. Tapi kalau berbau bagaimana? Kesadaran kita selalu terlambat, baru mengingat-ingat setelah muncul gas amoniak yang tak sedap, tadi makan apaan ya? Kemudian kita merasa berdosa, dan tersiksa karena tak tahu mau ngomong apa, minta maaf atau pura-pura tidak tahu padahal tahu, dan pura-pura blo'on padahal memang iya.
Tapi, tahukah Anda, bahwa kentut adalah sebuah alat pengukur seberapa dalam cinta itu mempunyai nilai dan makna kesungguhan. Cobalah kentut di depan orang terkasih Anda, dan coba ajak pasangan Anda untuk membicarakan kentut itu. Diskusikan dengan penuh kasih-sayang, dan jika terjadi kesepakatan, ajaklah untuk berlomba kentut. Lebih keren lagi, kalau Anda bisa menjelaskan secara ilmiah, apakah warna kentut itu? Ada yang bilang kentut itu berwarna hijau. Benarkah?
Bukan karena kentut itu sehat bagi manusia sehat (bayangkan, orang yang terpaksa dibawa ke dokter atau rumah sakit, gegara tak bisa kentut), namun karena kentut itu juga bisa menjadi media bagi semuanya untuk mengekspresikan kasih sayang. Sampai akhirnya kelak akan bisa memahami dan mengapresiasi, bahwa kentut tidak seburuk yang kita sangka. Cobalah kentut di depan kekasih, isteri, suami, anak, ortu, presiden, menteri, anggota parlemen Anda. Sampai Anda yakin, bahwa itu lebih baik dan mulia daripada Anda berbohong.
Selamat kentut.

Hidup yang Mendadak Ndangdhut

Hidup adalah perjuangan. Perjuangan adalah doa. Perjuangan dan Doa adalah Rhoma Irama. Rhoma Irama adalah ndhangdhut. Hidup adalah ndhangdhut.
Dan kita mendadak ndhangdhut. Dan begitu mudah menyimpulkan segala sesuatu, dengan analogi sederhana, dengan referensi seadanya, dengan informasi asal-asalan atau asal di sana senang di sini senang. Seperti pramuka. Praja Muda Kapiran, atau malah kapir beneran karena suka mengkapir-kapirkan liyan.
Mencatat Republik Indonesia 2014 adalah mencatati segala kemendadakan. Mendadak politis, mendadak detektif, mendadak jurnalis, mendadak fesbuker, mendadak apa saja, pokoke njoget. Dan semua orang mengutuk peminum oplosan, sambil menenggak oplosannya sendiri-sendiri dengan berbagai merk. Ada merk agama, merk KMP, merk Jokowi, merk Wahabi, merk ini-itu, dan lain sebagainya.
Pembicaraan begitu riuh-rendah, semua orang bicara, tapi tak ada dialog, karena tak ada yang mendengarkan. Jalanan begitu padet-det, tapi betapa sonya-ruri, tak ada saling sapa. Dan tak dibutuhkan Sartre untuk meneriakkan eksistensialisme, karena yang terpenting adalah eksis. Aku ngomong maka aku eksis. Aku selfie maka aku hadir. Aku bikin status maka aku punya status.
Siapakah engkau? Tak penting! Karena persoalan kita hari ini adalah apakah engkau? Dan kita tak bisa menanya, bagaimanakah engkau, apalagi mengapa engkau, dan dimanakah engkau.
Siapa dan apa lebih pada pernyataan, bukan pertanyaan. Sementara bagaimana, mengapa dan dimana, lebih merupakan pertanyaan, bukan pernyataan. Itu semua pertanda dialog sudah ditutup. Kita tidak tertarik mengetahui liyan, karena kita sibuk dengan pernyataan siapa dan apa diri kita, dan menghardik sang liyan untuk mengikutinya. Sementara pernyataan bagaimana, mengapa dan di mana, sekedar hanya memetakan kawan dan lawan. Tidak untuk dipahami melainkan untuk dilawan dan dibasmi.
Mendadak ndhangdhut terasa lebih mudah, dan afdol, karena dengan demikianlah kita menunjukkan inferiority complex kita. Sebuah bangsa yang lebih menggemari klaim-klaim kebenaran mutlak, dan tanpa ruang pertemuan. Bisa jadi sindroma kekalahan, tapi sangat bisa jadi juga karena ketidakmampuan memformulasikan sejarah dan mengartikulasikannya dalam laku-jantranya sebagai manusia.
Kita terlalu lama terjebak dalam komunalisme, dan kita rajin membangun komunitas-komunitas untuk memamerkan kekalahan demi kekalahan. Dan dibutuhkan waktu lebih lama lagi untuk menjadikan individu-individu yang liat dan kuat, karena individualisme konon adalah ajaran sesat. Dan MUI mendadak mengharamkan yoga, entah atas nama apa.
Jadi kita harus bagaimana dalam keserbamendadakan ini? Kita mesti mengapa dalam keserbamendadakan ini? Kita kudu di mana dalam keserbamendadakan ini? Bukan pertanyaan yang menarik. Semuanya makbedunduk harus dibungkam dengan pernyataan-pernyataan fundamentalis; siapa dan apa. Kemudian senyap. Dan senyap pun juga tidak lolos sensor dari LSF, lembaga sok suci tetapi korup itu.
Ini tahun yang blangsak, seblangsak-blangsaknya. Tetapi selalu ada harapan di tahun baru, jika nalar kita masih terpelihara dengan sehat, walau sakit rasanya.
Sing waras ngalah, adalah resolusi kekalahan. Sing waras, ya, waraslah. Dan tetap merdeka.

Tahun yang Baru dan yang Lama

Hari ini, Kamis Kliwon, 1 Januari 2015, atau 10 Maulud 1948 Ehe yang berada dalam wuku langkir pada kalamangsa kapitu (7), ialah hari pertama pada tahun 2015. Apa istimewanya? Sebagai penanda waktu, keistimewaannya ialah ia yang pertama kali menyudahi tahun 2014. Tak ada tanggal lain selain 1 Januari itu yang bisa menyudahi 31 Desember.
Penting? Tidak sih, terutama bagi kita yang suka menolak-nolak apapun yang dirayakan banyak orang. Menjadi pribadi yang berbeda dan melawan, adalah pilihan dan kebahagiaan tersendiri, juga kegagahan yang ahik. Semua hari itu penting, atau tidak penting, sebagai sebuah kontinyuitas. Tapi menikmati liburan panjang, sebagai akibat sampingannya, tak bisa dikesampingkan untuk dinikmati. Karena libur mah nggak punya agama.
Yang dinamakan waktu, tentu saja hanyalah sebagai penanda, sebagai niscaya, sesuatu yang tak terhindarkan dalam kenyataan sosial kita, sebagai makhluk sosial maupun anti-sosial sekali pun.
“Satu-satunya alasan untuk waktu adalah agar segala sesuatu tidak terjadi sekaligus,” demikian Mbah Kyai Albert Einstein. Anda bisa bayangkan, kalau kamis adalah juga selasa, yang itu artinya sama dengan minggu atau senin? Bagaimana kalau tanggal 1 sama dengan tanggal 7, 13, 21 atau 29?
Mereka yang menjawab semua hari sama, semua tanggal sama, akan kelojotan kalau janji mendapat gaji atau honor hari ini ternyata mundur dua minggu atau sebulan lagi. Dan tambah kelojotan lagi kalau sekarang tanggal jatuh tempo pembayaran utang tapi duit belum kepegang juga. Mereka yang dijanjikan dilamar tanggal 3 Januari besok pasti akan kelimpungan kalau mendadak dangdut diundur tanggal 29 Desember, atau bahkan pelamarnya undur-diri tanpa alasan.
Ini pikiran yang tidak penting mengenai waktu, tetapi toh kita tak bisa menghindarkan dari hitungan waktu. Kemampuan reflektif manusialah yang akan menjadikan waktu itu penting atau tidak penting.
Namun, jangan biarkan masa lalu mencuri, kata Cherralea Morgen, sekaranglah (waktu) Anda. Saya tidak tahu siapa dia, tak penting (yang penting pendapatnya menarik).
Kita semua tinggal di masa lalu terlalu banyak. Dan kenangan atas masa lalu, baik maupun buruk, bisa membelenggu, entah itu bernama comfortable zone atau pun perayaan-perayaan ketakutan traumatik. Pada sisi itulah, memaknai waktu sebagai sebuah continuum, kontinyuiti, menjadi penting. Bahwa apa yang sekarang adalah sambungan dari yang kemarin, dulu, dan seterusnya.
Kita sering mendengar kata-kata bijak "jangan biarkan masa lalu Anda menentukan masa depan Anda." Nasehat yang bisa menyesatkan. Masa lalu memang landasan masa kini dan masa depan. Tapi kegagalan masa lalu bukanlah penentu atau menjadikan kegagalan masa depan Anda. Kegagalan dan kesuksesan lebih karena bagaimana masa kini, hari ini, dijalani dengan menyelaraskan masa lalu dan masa depan, mensinergikan antara yang sudah dan belum, antara yang kapasitas dan yang kemungkinan.
Maka, lihat ulang tahun-tahun lama Anda. Sudah ngapain saja. Dan apa yang kemudian ingin Anda petakan dan lakukan. Tapi, Mbah Kyai Socrates bilang, “Hati-hati dengan kemandulan kehidupan yang sibuk.“ Jangan sibuk-sibukan hanya untuk membunuh waktu. Sekedar untuk gagah-gagahan agar tak dikata berstatus pengangguran. Mainlah fesbuk, paling tidak Anda akan punya status. Kan lumayan, tiap hari atau jam berganti status.
Selamat bertahun lama.

NAMA KOTA DAN NEGARA DI DUNIA KARENA INDONESIA

Banyak nama-nama kota dan Negara di dunia ini, yang ternyata diambil dari kosakata bahasa Indonesia dan bahkan Jawa. Beberapa diantaranya sebagaimana dilaporkan oleh kontributor ternama; Willy Pramudya (WP) Lukas Mopet Pranowo (LMP), Eko Winardi (EW), Stefanus Hestu Marwoto (SHM), Eyang Sepuh Hakim (ESH), Anityo Yusdi (AY), Valentinus Rommy Iskandar (VRI), Denmas Noenoeg (DN), Tri Cahyono (TC). Berikut hasil survey dan research mereka yang bisa dipertanggungjawabkan dan terakreditasi.




Paris, diambil dari judul buku Paris Gelap Terbitlah Terang
Denmark, dekat Kudus, lengkapnya Denmark Bintoro (WP)
Arab Saudi, diambil dari nama Saudi Silalahi,...
Jedah Mbah Carik, Kaliurang (EW)
Kuwait Mbiyen (dari dulu, WP)
Irak, air berirak tanda tak dalam (DN)
Kabul Tessy, Srimulat (ESH)
Libya Kandaou (DN)
Chili, Negara yang tidak gede.
Pyongpyang, bawah Pathuk, Gunung Kidul (SHM)

Pyongpyang, dari lagu campursari, Pyongpyang-payingan (EW)
Togo, symbol kota Yogya untuk selfie
Togo dan mBilung (WP)
Barcelona, mau mbengi Barcelonan (EW)
Do re mi fa Seol,... (LMP)
Guatemala, penyanyi dangdut ‘Selamat Malam’
Zambia, judul lagu ndangdut Achmad Albar, Zambia Zambia
Shanghai, yuk kita shanghai kata Rhoma (ESH)
Roma, pendangdhut yang pengen jadi presiden, Roma Irama (ESH)
Roma biscuit

Itali rafia, ibukota di Roma Makan Padang (WP)
Thailand, Taiwan, Tahiti, saudara lain bapak lain ibu.
Thailand Cung, diproduksi oleh anus ayam (VRI)
Muangthai, pas lagi nyapu ketemu barang ini (TC)
Wimblendon, hamil, wetengnya wimblendon (EW)
Panama, dari syair lagu Di Bawah Bulan Panama (WP)
Tokyo Samijaya di Malioboro (LMP)
Dakkar ayam (EW)
Selangdia Baru, komentar tak penting
Kyoto, pakan burung (LMP)

Zealand, nyekel pring Zealand (LMP)
Brasil = sukses (WP)
Vatikan, sering dipakai Jokowi selain baju putih
Rusia, bawa ke bengkel (LMP)
India, dari lagu Betawi: India Si Jali Jali!
Swedia, dari lagu iklan ‘jika aku diare, ibu slalu waspada pertolongan oralit slalu siap swedia,…’ (AY)
Swedia Payung Sebelum Hujan
Kairo, dari suku Batak Kairo (EW)
Mesir, mesir sepatu atau mesir rambut
Mesir, judul film Indonesia “Mesir Berbisik”

Spanyol, akronim ‘separuh nyolong’ (WP)
Bulgaria, makanan rakyat Indonesia jaman Jepang
Burundi, bade tindak Burundi? (WP)
Holland, tidak betah di rumah, kluyuran (LMP)
Afrika, biasa untuk campuran salad
Kongo, sepuluh, sewelas,… (LMP)
Jibouti, nek nakal tak jibouti lho! (WP)
Zimbabwe, saudara Zimtomang
Mbahdad saudara Mbahrawa
Bahrein, njagong bahrein (WP)

Gabon, ayam gabon.
Malawi dekat Tegal (WP)
Maladewa, kakak dari Prabu Kresna
Liberia, mereka penganut neo-liberia (WP)
Oslo, alias Surakarta
Yunani, gudeg kendhil Yogya (ESH)
Yunani, kenikmatan swalayan (LMP)
Guyana, adik dari Mas Suyana, Mbrosot, Kulon Progo, DIY
Sudan Gaharu Cendana Pula
Sudan deres! (WP)

Hong Kong, hongkonge gedhe (DN)
Bhutan rimba (WP)
Jerman Ngantuk, aktor film 80’an
Jerman Sembada, salah satu kabupaten di DIY
Cirghistan, bocah kok cirghistan (WP)
Argentina, melayani pengiriman Tina dalam partai besar dan kecil.
Laos, bumbu penyedap masakan (ESH)
Lima, ibukota Peru yang lebih dari satu
Vietnam, tujuh, delapan
Vietnam, lebih kejam dari pembunuhan

Uruguay, tumpukan sampah (LMP)
Pantai Gading, selatan Alkid Yogya (DN)
Ghana dan Guinea, suami-isteri rebutan harta Ghana Guinea (WP)
Uganda, Negara yang hanya ditulis dengan satu huruf
Korea, dekat Cilacap
Kamerun, dari kata kamerun-sung (WP)
Ceko, tangannya nggak beres
Ceko Winardi, kontributor dari Yogyakarta yang tinggal di Banyuwangi tapi kerja di Denpasar
Swiss, ‘sing swiss ya swiss’ ajaran Ki Ageng Suryomentaram
Maroko dilarang di areal SPBU (LMP)

Brunei, isterinya Pakne
Rwanda, Pos Rwanda Malam (WP)
Austria, Nicky Austria lady rocker from Bandung
Australia, austria dengan sisipan ‘al’
Canbera, mumpung ada toilet (LMP)
Bangladesh, dari Rawabelong, saudara ipar Bang Thoyib
Mali, kawannya Bolot (WP)
Suriah, judul lagu Benyamin S; suriah njot-enjotan,…!
Belanda, menghabiskan duit (LMP)
Kenya deh lu! (WP)