Selasa, Oktober 14, 2014

Mark Zuckerbergh dan Soe Hok Gie di Stasiun Gambir

Di kedai kopi lantai dua Gambir, MZ bertemu dengan seorang yang sebaya dengannya. Mencangklong tas punggung di bahu. Mereka pun berkenalan atas nama life-style yang relative sama. Ini uniformitas kaum modern.
Gampang berkenalan hanya karena kode-kode visual. Generasi penampakan.
Pada pemilik kedai, lelaki pencangklong tas punggung itu meminta untuk memindah channel. Di layar televisi sedang ditayangkan sinetron Mahabharata.
“TV One, dong, mbak,...” teriak lelaki itu.
“TV One?” MZ keheranan. Ada juga anak muda yang menyukai TV One. “Anda menyukai gaya jurnalismenya?”
“Panggil saya Gie, Soe Hok Gie!”
“Oh,...”
“Jangan berfikir. Apalah artinya nama!”
“Untuk orang Indonesia, nama adalah penting.”
“Itu untuk orang Indonesia. Tidak bagi saya. Saya WNI Keturunan. Keturunan China.”
“Bukankah untuk orang China justeru jauh lebih penting?”
“Saya bilang, saya keturunan. Keturunan China. Itu artinya bukan China banget. Jadi kalau WNI keturunan China, itu artinya Indonesia bukan, China pun bukan.”
“Jadi?”
“Jadi tidak penting.”
“Soal TV One?”
“Ya, itu juga tidak penting. Namanya saja mungkin terdengar bagus. Tapi kualitas tidak ditunjukkan oleh nama. Nama Anda?”
“MZ.”
“Mark Zuckerbergh?”
MZ tak segera menjawab.
“Kalau pun iya, saya juga tidak akan surprise,” tukas Gie kalem,… demikian kutipan hal 172-173 dalam novel Jokowi Undercover karya Sunardian Wirodono (Oktober 2014, 960 halaman, harga Rp 120.000), tidak dijual di toko buku umum. Pemesanan dan pembelian bisa melalui pm akun fesbuk ini atau email sunardianwirodono@yahoo.com, sms 0813 9397.9400 atau whatsapp ke 0856 4332 0856. Bagi yang di Yogyakarta bisa juga delivery book order ke: 0857 2590 6400.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar