Kamis, Oktober 30, 2014

Jokowi Undercover : Revolusi Mental atau Revolusi Seks?


DK teringat film Gandhi yang pernah ditontonnya. Dalam sebuah pertemuan doa di taman, Gandhi bertemu dengan rakyat. Di antara kerumunan itu Nathuram Godse. Ia mendekat dan bersujud, Gandhi menangkupkan kedua tangan dan membungkuk. Tapi tiba-tiba Godse mencabut pestol dan menembak Gandhi.
DK merasa bisa melakukan itu pada Prabowo.
“Aku bisa!” DK bergumam.
Kaka Slank menoleh ke arah DK. “Bisa apa?”
DK tidak menjawabnya. Ia menggigit-gigit bibirnya. Tapi, darimana mendapatkan pestol? Mestikah mengorbankan diri, membujuk seorang polisi atau tentara untuk mendapatkan senjata itu? Dengan memanfaatkan vaginanya?
DK bergidik.
“Katanya laper? Kok nggak dimakan?”
Suara Kaka Slank membuyarkan kepala DK yang penuh. Dalam setiap perjuangan mesti ada pengorbanan. Kalau Prabowo tewas? Selesai semuanya. Dendam pun terbayarkan lunas. Bukan revolusi mental, tapi revolusi seks!
DK menggeram. Tangannya mengepal dan ia pukulkan pada meja makan di depannya.
“Brakkk!”
Demikian kutipan hal 752, “Jokowi Undercover”, novel dengan latarbelakang pilpres 2014, ditulis oleh Sunardian Wirodono. Tentang pertarungan ideologis kiri dan kanan, antara Jokowi dan Prabowo, antara para netizen dan masa lalu. Buku setebal 960 halaman seharga Rp 120.000 ini dijual hanya melalui pemesanan online di email sunardianwirodono@yahoo.com, akun fb sunardian wirodono, atau melalui sunardian.blogspot.com., atau sms ke 0813 9397 9400, whatsapp ke 0856 4332 0856; atau untuk wilayah Yogyakarta delivery book order ke: 0857 2590 6400.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar