Minggu, Oktober 19, 2014

Indonesia Raya dan Jutaan Kotak Korek Api

Kutu anjing (kutu demodek), adalah binatang yang bersarang di bawah kulit, namun mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya yang hanya beberapa inci. Tetapi apa yang terjadi, bila ia dimasukkan ke dalam kotak korek api kosong, lalu dibiarkan di sana selama satu hingga dua minggu? Hasilnya, kutu itu kemudian akan hanya mampu melompat setinggi kotak korek api itu saja!
Persoalan pertama jika tidak percaya soal ini, ambil seekor kutu anjing (itu kalau kutunya punya ekor, dan pastikan Anda punya anjing) kemudian cari kotak korek api. Cuma, agar terlihat cerdas, search di google, dan bertanyalah pada beliau mengenai data fisik dan profil kutu anjing ini.
Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api, ia mencoba melompat tinggi. Namun saja selalu terbentur dinding kotak korek api.
Ia mencoba lagi, terbentur lagi.
Coba lagi, terbentur again.
Terus begitu dan begitu terus, berkola-kali, sampai pun berkoang-kaing. Sehingga kemudian ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri. Itu testimoni beliau sang kutu anjing, yang sumpah mampus frustrasi permanen, karena tubuhnya jadi sakit, berkali-kali membentur karton dinding korek api.
Kutu anjing pun mulai berpikir, "Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya segini, hiks, cape dueh,..."
Perlahan, setelah berpikir, ia pun mengambil keputusan diam-diam. Loncatan beliau, disesuaikan dengan tinggi kotak korek api.
Dan aman. Tak lagi ia merasa membentur tembok.
Saat itulah beliau menjadi sangat yakin, "Nah benar 'kan? Kemampuan saya memang cuma segini. That is me!"
Ketika kutu anjing itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, eh, beliau masih terus merasa, bahwa batas kemampuan lompatnya memang hanya setinggi kotak korek api. Dan ketika ia mencoba melenting sekuat tenaga, yah, memang hanya setinggi itu semata, karena dibentuk oleh kebiasaannya.
Sang kutu anjing pun, hidup seperti itu, hingga akhir hayat dikandung badan. Kemampuan yang sesungguhnya, meloncat 300 kali tinggi badannya, tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh lingkungannya.
Anda tentu bukanlah kutu, dan sudah barang tentu juga bukan anjing. Sumpah, dan I believe! Namun, betapa tak sedikit, yang terkungkung di dalam kotak korek api kehidupan ini.
Misal saja, Anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai. Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya, maka dia akan sengaja menghambat perkembangan karir Anda. Ketika Anda mencoba melompat tinggi, dia tidak pernah memuji, bahkan justru tersinggung. Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengkerdilkan Anda.
Teman kerja, juga bisa jadi kotak korek api. Coba ingat, ketika teman Anda berkata, "Ngapain sih, kamu kerja keras seperti itu? Kamu nggak bakalan dipromosikan, kok."
"Ngapain sih, sok kritis, kita ini bangsa kerdil. Jangan idealislah. Realistis aja,..."
"Udah deh, turutin mereka saja, daripada dituding kita jualan barang haram. Jangan bikin cafe minuman ama roti, bikin aja yang sesuai selera mereka, warung masakan Arab yang dijamin halal!"
Dan seterusnya.
Ingat! Mereka adalah kotak korek api. Dan kotak korek api ini bisa berbentuk apa saja, siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Kotak korek api yang sakti dan ajaib tentu, karena bisa berubah-ubah bentuk. Ia bisa berbentuk lingkungan, keluarga, tempat kerja.
Ia bisa tak lain dan tak bukan suami Anda, isteri Anda, pacar, ortu, anak, temen deket, mertua, kekasih gelap dan terang, capres yang gagal, menteri, anggota DPR, FPI, orang partai, pengaku santri, programmer televisi, blogger, facebooker,...
Atau bisa saja beliau berujud kesengsaraan, kemiskinan, cacat fisik, usia ("saya masih terlalu muda", "saya sudah tua"), tingkat pendidikan (formal, "saya cuma lulusan play group", "sekolah saya tidak terdaftar"), atau karena alasan wajah Anda yang begitu buruk (kalau itu mah, emang dari sono-nya, tenang saja).
Di dunia ini, apalagi di Indonesia Raya, begitu banyak dikepung kepentingan kotak korek api itu. Sementara, apakah mereka yang akan memberi makan Anda, mengerti penderitaan Anda, memberi uang, menemani saat Anda terkaing-kaing kesepian, menjamin Anda masuk sorga?
Ssst, jangan terburu menyalahkan orang lain, karena kita pun tentu punya andil dalam penganggapan itu. Orang lain, atau siapa saja, bisa kita pandang sebagai penghambat, penghalang, dan pembatas diri kita. Justeru pada intinya, sudut pandang, cara berfikir, dan sikap hidup kita sendiri juga bisa menjadi kotak korek api permanen dalam kehidupan kita.
Jika Anda ingin kekuatan diri yang sesungguhnya, Anda mestilah take action untuk menembus kotak korek api itu. Talk less do more, kata Djenar Maesa Ayu setelah dibayar oleh pabrik rokok.
Anda akan bisa melihat bagaimana Helen Keller, yang dengan mata buta, tuli, dan "gagu", namun dia mampu lulus dari Harvard University. Bill Gates yang tak pernah menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi "raja" komputer. Termasuk si MZ, Mark Zuckerbergh yang juga mahasiswa DO, namun kini menjadi anak muda terkaya di dunia berkat facebook temuannya.
Di Indonesia ada yang bernama Andre Wongso, tidak menamatkan sekolah dasar, namun mampu menjadi motivator nomor satu di Indonesia. Mantan Meneg BUMN Sugiharto, pernah menjadi pengasong, tukang parkir, dan kuli di pelabuhan. Atau Jokowi, dari si tukang meubel menjadi Presiden Indonesia? Dan masih banyak lagi contoh. Orang-orang yang semula nothing menjadi something. Dari zero ke hero.
Kemiskinan tidak menghambat untuk maju. Jangan menudingnya karena dunia politik kita yang tak jelas! Atau cobalah ingat, Nelson Mandela. Ia menjadi presiden Afrika Selatan setelah usianya lewat 65 tahun. Mother Theresa, atau Kolonel Sanders yang sukses membangun jaringan restoran fast food ketika usianya sudah lebih dari 62 tahun. Itu contoh para gaek untuk Anda yang selalu bilang, "yah saya 'kan udah tua!" kalau disuruh kerja dan kreatif. Giliran disodorin pacar baru, ngomongnya beda lagi. Rosa!
Hidup Anda, Anda sendirilah yang menentukan. Cara pandang, cara berfikir dan bersikap, akan menentukan. Ada ribuan dan mungkin jutaan kotak korek api yang mengungkung kehidupan Anda, tetapi pikiran yang merdeka, tidak akan mampu dibatasi oleh apapun dan siapapun, juga kapan pun dan dimana pun.
Namun, memang, ketika Anda tak tahu, dan bahkan Anda rela dikungkung kotak korek api, apapun-siapapun-kapanpun-dimanapun, akan membuat Anda jauh lebih kecil dari seekor kutu anjing. Padahal, saya ingatkan sekali lagi, pada awal tulisan ini, kutu demodek itu hidupnya di bawah kulit anjing, tapi lihat kemampuannya.
Bayangkanlah, Indonesia Raya dengan jutaan kotak korek apinya, bagi 250 juta kutu demodek itu,...!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar