Kamis, Agustus 21, 2014

Prabowo, Hanya Karena Kita Sangat Toleran

"Perjuangan baru dimulai, kita akan terus berjuang. Perjuangan kita tak berhenti sampai ke titik akhir," kata Prabowo Subianto di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Jawa Barat, (19/8/2014). "Ini bukan karena saya ingin merebut kekuasaan, bukan karena Hatta Rajasa ingin menjadi wakil presiden, tapi ini tanggung jawab saya kepada puluh jutaan rakyat yang telah mendukung saya, karena selama ini proses berjalannya pemilu penuh dengan kecurangan." Terus, puluhan juta juga yang tidak mendukungmu, tanggung jawab siapa? Mari kita goblog-goblogan saja.
Untuk itu, seperti dikatakan Prabowo pada kesempatan itu, gugatan akan diajukan kepada PTUN, dan MA, biar saja dilakukannya. Dan kita biarkan orang menghina-dina dirinya dikata tidak ngarti hukum. Tak peduli bahwa apa yang sudah diputuskan oleh MK, bersifat final dan mengikat. Ataukah tujuan sebenarnya memang mau mengacau-balaukan system hokum dan system kepolitikan kita? Dan rakyat dibikin main-mainan seolah dunia hanya benar jika dirinya menang? Kalau Indonesia hanya menuruti mimpi-mimpi ARB, Hashim, Harry Tanoe, Fadli Zon, beberapa petinggi PKS, bisa puyeng kita. Kalau para lawyer mereka sih, semua tergantung bayaran, nggak usah direwes. Kalau client mereka kalah, mereka pasti akan jadi orang bijak, “sebagai orang yang mengerti hokum, kita mesti menjunjung tinggi keputusan hakim.” Toh kekalahan bukan karena mereka, tetapi karena keputusan hakim.
Toh Tim Hukum Merah Putih sudah mengajukan gugatan KPU ke PN Jakpus sebelum MK menjatuhkan vonis. Sementara Fadli Zon juga mengajukan ketua KPU ke Polda Jaya, selain gugatan ke DKPP dan mungkin masih banyak lagi kelak yang akan digugat ke berbagai lembaga hukum, disamping upaya untuk pembentukan Pansus Parlemen dan niatan menjegal pemerintahan, dan bahkan mengajak kaum ibu untuk siap-siap membuka dapur umum karena perjuangan baru dimulai. Memangnya rakyat Indonesia ini semua memilih dia? Dan semua tunduk pada nafsu dia? Itu sangat menghina rakyat Indonesia seolah tak punya otak, tak punya kemampuan menilai, tak punya akses untuk membandingkan dengan berbagai informasi mana yang benar dan mana yang benar-benar hoax? Kalau ada orang bodoh banget mengikuti ajakan bodoh, hanya ada dua kemungkinan, yakni kalau bukan bayaran memang nuraninya sudah mampet.
Semuanya itu menunjukkan ambivalensi antara malu-malu disebut ngotot menginginkan kekuasaan, namun di sisi lain sudah merasa di posisi kalah (cuma tak mau menerima), dan tak tahu jalan pulang. Makanya jangan hanya nari poco-poco, sesekali dengarkan lagu Sandy Sandoro. Ini tragedi sebuah karakter manusia dan tetironnya, yang kebetulan ditunggangi para pihak yang memanfaatkan kelemahan karakter tersebut. Bukan persoalan bangsa sebenarnya, jika saja kita tak terlalu berbaik hati dan bertoleran. Akal sehat kita pada dasarnya akan tetap bekerja secara normal, dengan kalkulasi biasa saja. Popularitas Prabowo sendiri turun, juga di kalangan pendukungnya. Akun abal-abal di facebook, dan beberapa blog gratisan sebagai bloopers Prabowo, sudah melorot drastis karena de-active ataupun passif. Nilai-nilai keadaban public, secara alamiah akan bekerja dengan sendirinya.



Emangnya siapa Prabowo, si anak manja yang dibesarkan dalam pelarian think-tanker PRRI-Permesta, hingga harus didewakan dengan mengorbankan kepentingan bangsa dan Negara kita, yang jauh lebih besar? Sudah saatnya menyudahi segala omong kosong ini, dan kembali bekerja pada fitrah kemanusiaan kita. 
Kentut itu pedih, Korporal Diroen!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar