Selasa, Agustus 05, 2014

Piknik Spiritual ke Kraton Yogyakarta dengan Route Terbalik



Jika Anda piknik ke kraton Yogyakarta, maka Anda akan masuk dari sisi utara atau tengah, melalui pintu depan (tepatnya   samping) melewati pagelaran terus masuk ke selatan. Bagaimana kalau dibalik? Bukan tubuh sampeyan yang dibalik, tapi routenya justeru dari selatan ke utara. Timbul pertanyaan, mengapa?
Ini memang hanya usulan, sekiranya Kanjeng Sinuwun Hamengku Buwana X berkenan. Jika tidak, juga tak apa, kita berwisata lewat teks saja. Bahwa kraton adalah sebuah pusat kebudayaan, begitu sejarah awalnya. Sekarang pusat kebudayaan adalah Google. Jadi kita wisata via Google saja, melihat teks-teks masa lalu.
Dari segi arsitektur Jawa, yang penuh simbolisme, bangunan kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memang mempunyai makna. Pangeran Mangkubumi, yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengku Buwana I pada 1756, membangun istananya tidak sembarang.
Kita selusuri dari sisi selatan, mulai dari panggung Krapyak (tak jauh dari Pondok Pesantren Krapyak milik mertua Anas Urbaningrum, sekarang), Plengkung Nirbaya, alun-alun selatan atau alkid, terus ke utara, merupakan gambaran perjalanan hidup manusia. Dari dalam roh, masa kanak-kanak, remaja dan sampai pada puncak cita-cita sebagai raja, personifikasi kemuliaan kehadiran manusia.
Itulah kenapa di alkid, ada tanah berpasir, pohon kepel, pohon asem, tanjung, mangga, dan lain sebagainya, yang semuanya itu mengandung ujaran dan ajaran fase-fase hidup manusia. Tapi siapa coba yang membacai simbol-simbol dan maknanya itu, jika di alkid yang banyak cuma mereka yang menyewakan tutup mata dan sepeda berlampu kelap-kelip? Demikianlah jaman. 
Ketika perjalanan melewati pagelaran, dalam upacara Garebeg, perjalanan pulang ke istana (artinya kembali ke arah selatan), adalah gambaran dari manusia yang berpulang  ke rahmatullah. Berpulang ke alam keabadian dengan mengiklaskan segala benda duniawi, termasuk pangkat, anak serta isteri.
Jika dilihat dari ini, dan agaknya hal itu juga mempunyai pengaruhnya pada kepribadian Hamengku Buwana IX sebelum mangkat, kraton merupakan pelajaran amat menarik  tentang kehadiran manusia di dunia, yang dalam konsep aristrokrasi Jawa, kehidupan untuk didarmabaktikan pada manusia lain. Apalagi mereka yang mendapat kesempatan, kepercayaan atau kekuasaan. Makna yang lebih luas dari hal itu, bukan hanya hak, melainkan beban kewajiban. 
Jika para wisatawan mengambil route dari selatan, taruhlah melalui alun-alun kidul, para guide kraton akan lebih leluasa menerangkan makna simbol arsitektur awal abad 18 itu. Para peziarah budaya, bukan hanya dikenalkan pada fungsi-fungsi dari masing-masing tempat, melainkan juga makna dari tempat itu (baik dari personifikasi bahasa dengan idiom-idiom nama dan jenis pohon misalnya), secara berangkaian dengan bagian-bagian  lain dari perjalanan hidup manusia di dunia hingga  saat menghadap kembali ke tuhannya.
Cerita para guide secara runtut, niscaya akan merupakan pelajaran moral tersendiri. Bukan hanya moral Jawa, melainkan juga moral manusia, makluk sosial, makluk religius  yang sadar akan keberadaannya di dunia. Dengan demikian berwisata ke kraton tak hanya akan mendapat informasi tentang bentuk-bentuk bangunan, dibuat tahun berapa dan apa fungsinya. Kompleks peziarahan Sunan Ampel di Surabaya, mungkin bisa menjadi contoh menarik (atau juga misalnya dalam ziarah religi berbungkus ibadah haji di Makkah). Semua urutan waktu dan tempat adalah memorable dan mengambil hikmah.
Mempelajari simbolisasi kraton untuk kembali ke feodalisme? Tentu tidak.  Mempelajarinya justru untuk menjadi seorang ‘ningrat’ dalam arti manusia sejati, yang harus dibedakan dengan pegertian feodal. Selama ini selalu ada salah pengertian tentang ‘keningratan’ yang diartikan sebagai life-style ‘feodalistik’. Secara semantik, itu tudingan yang kacau secara logika. Feodalisme adalah ajaran umum, yang bisa lahir di Batak,  Bugis, Betawi, Inggris, Perancis, Belanda, dan seluruh permukaan bumi.
Keningratan adalah konsep ajaran kesempurnaan  hidup. Bahwa yang bernama ‘ningrat’ itu, seseorang harus menggapai lewat perjalanan hidup yang penuh aturan, disiplin, tata krama dan laku keprihatinan, untuk sampai pada tingkah laku dan budi pekerti  (kesaktian, keilmuan) yang tinggi.
Jika kemudian pengertian ‘ningrat’ identik dengan kaum bangsawan kraton, yang kaya raya dan kuasa, karena pada mulanya kraton adalah sumber atau pusat kehidupan. Untuk masuk kraton, apalagi menjadi raja, harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Hanya mereka yang pandai dan sakti (berilmu dan ulet) mampu menembus dinding kraton, sebagaimana para urbanis sekarang yang harus berbekal kepandaian, untuk bisa berhasil di kota besar. Dan istilah sekarang ningrat adalah kaum elite kita. Kita semua kini, bisa menjadi raja pada masing-masing kerajaan yang kita bangun (sumber tulisan: Berwisata di Kraton Bagaimana Jika Sebaiknya Dibalik? Sunardian Wirodono, Kedaulatan Rakyat, 30 Oktober 1988).

Route Kraton Yogyakarta dari Selatan ke Utara | Untuk menjadi ‘raja’ kita bisa belajar dari makna simbolis bangunan kraton-kraton Mataram. Coba saja ikuti petunjuk di bawah ini:

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dibangun dengan konsep simbolis perjalanan anak manusia hingga mencapai puncaknya sebagai raja (manusia sempurna, pemimpin) dari garis lurus panggung Krapyak, di sebelah selatan kraton Yogyakarta, tepat diantara garis imajine dari Laut Kidul melintasi sitihinggil kraton, hingga gunung Merapi di utara.
Krapyak adalah tempat raja berburu rusa, berbentuk panggung di tanahd lapang. Tempat ini menggambar asal roh-roh manusia. Menuju ke utara, terdapat kampung ‘Mijen’ yang bermakna sebagai tempat wiji (benih, cikal bakal) manusia. Pada tepi jalan yang lurus   membujur ke utara, terdapat pohon asem dan tanjung, yang melambangkan benih manusia haruslah menjadi anak yang lurus budinya (disimbolkan pohon asem), elok parasnya sebagai buah sanjungan (disimbolkan pohon tanjung) orangtua.
Melewati Plengkung Gading dan Nirbaya, berarti anak manusia itu telah melewati batas  periode masa kanak-kanak ke masa puber. Di sini perjalanan akan mencapai ke ‘alun-alun selatan’, alias alun-alun kidul, dan dikenal sebagai ‘alkid itu, dengan ringin kurung di tengahnya, yang kini justeru diberhalakan untuk mencari berkah, sukses karir dan jodoh.
Lima ruas jalan yang bertemu di alun-alun ini, tanah berpasir, pepohonan kweni, dan pakel yang menggambarkan bahwa: dalam tahap pra-puber anak manusia  masih merupakan misteri, belum terbentuk kepribadiannya (masih seperti pasr), meski panca-inderanya sudah berfungsi (lima arus jalan menuju alkid), namun masih belum teratur. Namun si anak sudah mulai tumbuh keberaniannya, karena menjelang masuk ke alam akil baliq.
Pada ‘Sasanahinggil’ di sebelah utara alun-alun kidul, sebelumnya terdapat tratag, tempat istirahat yang kanan kirinya terdapat pohon gayam yang rindang serta harum baunya. Di sini digambarkan pada masa akil baliq, manusia melalui proses saling tertarik pada  lawan  jenis (disimbolkan pohon gayam tadi).
Pada  Sasanahinggil ini, dahulu di tengahnya terdapat pendapa, dan di tengah lantai  pendapa terdapat ‘selagilang’. Di sekitar pendapa terdapat pohon mangga cempora,  menggambarkan ketika anak manusia menjadi suami isteri, bercampur dan menumbuhkan benih baru.
Terus ke utara, sampai ke halaman ‘Kemandungan’ yang dipenuhi pohon kepel, pelem (mangga), cengkir gading, serta jambu dersana. Tempat ini melambangkan wanita (ibu-isteri) yang mengandung atas kemauan bersama, karena saling mengasihi antara suami  dan isteri. Menjadi satu tekad untuk meneruskan kehidupan dalam satu kekuatan.
Dari Kemandungan menuju ke ‘Gedung Mlati’ dan kemudian ‘Kemagangan’, terdapat jalan yang mula-mula sempit kemudian terang melebar terang-benderang, menggambar proses kelahiran manusia (yang masih disebut magang, calon manusia).
Selewat ‘magangan’ terdapat dapur kraton yang disebut ‘Gebulan’ atau ‘Sekulangen’, bahwa untuk si anak telah disediakan makanan secukupnya. Namun, sebagaimana digambarkan jalan besar lurus ke utara menuju kraton, hendaknya anak dididik menjadi  manusia yang lurus hati (lurus ke utara dengan pancer kursi raja, sebagai sumber cita-cita   dan arah pandang citra budi luhur).

Perjalanan Menjadi Raja | Bukan berarti setelah menjadi sultan atau raja, perjalanan manusia akan selesai sampai disitu. Ada tataran lain yang perlu diingat semasa menjadi raja. Masih banyak pelajaran simbolis yang harus dilalui.
Seusai upacara Garebeg, dahulu Sri Sultan selalu hadir, dan selalu kembali ke kraton.   Dalam perjalanan pulang itu, ada beberapa makna yang bisa dipetik.
Mula-mula Sri Sultan keluar dari regol ‘Srimanganti’ menuju bangsal ‘Pancaniti’. Perjalanan ini bermakna raja sedang meneliti, memeriksa atau intropeksi. Memusatkan diri dan sujud kepada Sang Maha Pencipta Alam. Melaksanakan perintahnya, dan kemudian menuju ‘Regol Brajanala’, lantas naik tangga lantai yang di depannya terdapat tembok yang disebut ‘renteng mentog baturana’. Maknanya, raja tak perlu khawatir atau sangsi   menjalankan hukum negara yang adil. 
Dari sini berbelok ke kanan, dan akan didapati pohon jambu klampok yang bermakna   agar raja berkata yang harum-harum, baik dan benar, niscaya kebaikan dan kebenaranlah  yang akan tersebar ke seluruh negeri.
Sampai di Sitihinggil terdapat kemuning berjajar empat, agar sang raja mulai mengheningkan fikiran. Baru kemudian setelah itu, raja menuju ke bangsal  ‘Witana’ (wiwit ana). Di sini keberadaan raja dalam kaitannya dengan lingkungan mulai  diperhatikan.  
Raja duduk di singgasana ‘manguntur tangkil’yang telah dipersiapkan oleh abdi dalem ‘wignya’ dan ‘derma’, agar raja selalu ingat diri pandai-pandai (wignya) duduk di   singgasana karena raja hanya sekedar (saderma) mewakili Tuhan yang Mahaesa.
Bangsal ‘Manguntur Tangkil’ adalah bangsal kecil yang terdapat di tratag ‘Sitihinggil’, yang bermakna bahwa di dalam roh kita terdapat roh atau jiwa. Makna simbolis lain,  meski raja  dihadap hamba sahaya, namun di Manguntur Tangkil itu raja juga harus    menghadap lurus dan teguh pada Tuhan Penguasa Alam Semesta.
Sebelum raja bersabda, gending Monggang ditabuh pelan, dan mulailah raja mengheningkan cipta selama beberapa saat. Abdi dalem ‘keparak’ ada di dekatnya, sebagai simbol raja selalu ingin dekat (keparak) pada kekuasaan Illahi untuk menjalankan kekuasaan.  
Di sekitar tempat duduknya, terdapat abdi dalem kanca kriya, gemblak, marta-lulut,  gangsa, gandhek, singanegara, majegung, pecat tanda, untuk menggambarkan betapa aneka ragamnya rakyatnya.
Sementara itu ampilan (hiasan-hiasan) banyak dhalang, sswung galing, ardawalika,  kecu-mas, kuthuk, handil, saput, masing-masing dibawa para manggung dalam pakaiannya yang indah-indah. Semua itu menggambarkan lambang-lambang kesucian, kewaspadaan, kebijaksanaan, keberanian, kewibawaan, kegesitan. Sebab raja adalah penyangga segala tanggung jawab, penghapus segala kekotoran, penerang hati rakyat.
Artinya, untuk menjadi pemimpin moralitas, seseorang tidak untuk dirinya sendiri, melainkan pelayan seluruh umat. Simbolika moral ini terus berlanjut, antara tarub agung   sampai tugu, dan gunung merapi.
Dalam samadi raja, alun-alun utara yang sunyi, mengajak raja (atau seseorang) haruslah memiliki pandangan yang penuh konsentrasi, mengosongkan segala keinginan, agar lurus  ke utara (pucuk gunung Merapi, personifikasi  keillahian). Tidak tergoda di jalan  simpang  ‘Pengurakan’  (antara Kantor Pos dan Gedung BNI kini). Juga agar tidak tergoda pada kenikmatan dunia di sepanjang jalan (antara Senopati, Malioboro, Tugu, dengan adanya pasar Beringharjo, tempat aneka rupa makanan), demikian juga tidak tergoda oleh pangkat dan simbol kebendaan (disimbolkan pada bangsal Kepatihan di Malioboro). Tapi terus lurus ke utara, dari pucuk tugu pal putih (tugu golong gilig, simbol bersatunya titik fokus kawula-Gusti), untuk kemudian sampai pada tingkat semadi sempurna, berkonsentrasi sepenuhnya pada Tuhan seru sekalian alam. Kalau cuaca baik, cobalah kita berada di belakang kursi tahta raja Yogyakarta di bangsa Witana, dan memandang lurus ke utara, maka seolah kita melihat tv-wall raksasa, dengan pemandangan sepanjang alun-alun utara, malioboro, tugu, hingga puncak gunung Merapi.

Perjalanan Ketika Raja Mangkat | Pelajaran simbolis lain, pada perjalanan Sultan ke kraton, sebagai gambaran bahwa manusia akan berpulang ke alam baka. Meninggalkan Sitihinggil, raja akan sampai ke Kemandungan Lor dan melihat pohon ‘Keben’. Maknanya, tutuplah (tangkeben) mata, telinga, dan rasa, sebab akan menginjak kepada kematian.
Kemudian di Srimanganti, raja dijemput oleh permaisuri dan putra-putrinya, sebagai gambaran ketika sudah menginjak ke alam barzah. Datangnya dua orang bupati nayaka,  yang bertugas menyampaikan perintah dan menyampaikan berita dari luar, adalah perlambang datangnya dua malaikat, yang memberikan pelajaran pada sang mati di alam barzah.
Dari Srimanganti raja menuju bangsal ‘Trajumas’ untuk mengingatkan agar kita selalu   dapat menimbang  perbuatan yang betul dan salah. Dari bangsal ini, pandangan  diarahkan ke selatan pada gedung ‘Purwaretna’ agar raja selalu ingat pada asal muasalnya.
Pada regol ‘Danardapa’, raja diingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bisa mengalahkan nafsu pribadinya, dan memberi serta meninggalkan kenikmatan duniawi  kepada orang lain. Melewati plataran kedathon, menaiki bangsal Kencana, raja diingatkan akan bersatunya kawula-Gusti (manusia  bertemu Tuhan), untuk kemudian  masuk ke gedung Prabayeksa, dengan lampu yang tak kunjung padam bernama Kyai Wiji. Menurut kepercayaan Jawa, perjalanan roh akan mengikuti jalannya cahaya, yang tetap pada keabadian.
Dan terakhir, di sebelah kanan ‘prabayeksa’ terdapat Gedhong Kuning. Di sini gambaran roh-roh yang telah hening, bening, di keabadian sorgawi (Kraton Ngayogyakarta  Hadiningrat, Makna Simbolik Perjalanan Hidup Manusia, Sunardian  Wirodono, Harian Kedaulatan Rakyat, 15 September  1991).                


Berziarah Pada Peradaban Budaya | Berwisata ke kraton, ke tempat-tempat bersejarah, mestinya adalah berziarah pada kebudayaan. Akan sama dengan membuka kitab-kitab pusaka, tentang bagaimana menjadi insan peradaban bangsa dibangun.
‘Inside to kraton today’ akan bermafaat ganda. Meski tentu para guide harus ditatar terlebih, untuk bisa berkomunikasi dengan idiom-idiom aktual (kata orang: yang lebih rasional). Bukan hanya pengagungan segi mitos atau keangkerannya saja. Sebab dari segi faktual saja, berdasar konsep bangunan HB I, semua mengandung filosofi dan alasan dari segi letak dan bentuknya. Dan teks untuk menjelaskan itu, masih tersimpan di kraton.
Kita masih ingat, HB IX sudah menyiratkan bagaimana sikap sebaiknya dalam menghadapi alam tradisi dengan gejala modernitas. Sikap beliau sendiri tegas, sebuah sintesa dari renungan panjang. “Meskipun saya berpendidikan Barat, tetapi saya adalah dan tetap orang Jawa.” Waktu itu beliau 28 tahun, masih muda tetapi reflektif.
Dengan sikap itulah, beliau mampu menerjemahkan nilai-nilai kraton untuk diimplementasikan dalam tindakan nyata, rasional, relevan dengan jamannya. 
Para peziarah budaya, untuk mendapatkan berkah  dalam pengertian rasional, selain dipuaskan mripatnya mestinya juga akan dipuaskan hatinya, nuraninya, dan jiwanya. Konon itulah pariwisata yang sebenarnya. Bermanfaat pada jiwa, mensyukuri nikmat Allah, mengagumi dan mendapatkan inspirasi bagi kehidupan sosialnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar