Kamis, Agustus 21, 2014

Karena Prabowo, Pentingkah Hari Ini, 21 Agustus 2014?


Apakah tanggal 21 Agustus penting? Sebenarnya tidak penting-penting amat, tentu bagi kita yang menganggapnya biasa saja. Kecuali bagi yang berultah hari ini, atau mempunyai kenangan khusus dengan mantan, atau bagi yang menyebutkan bahwa tanggal ini, hari ini, adalah pertaruhan hidup dan mati. Apalagi yang taruhan.

Kalau menurut catatan sejarah Indonesia, pada 21 Agustus 1945 adalah hari dilakukannya perebutan kekuasaan maritim dari tangan Jepang, yang dalam jaman Bung Karno diperingati sebagai Hari Maritim. Namun di jaman Bung Harto dan seterusnya, tak pernah terdengar lagi mengenai hari maritim itu. Entah juga kalau Jokowi lupa janjinya kelak, untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara maritim.

Namun pada tanggal ini juga, di tahun 1962, masyarakat Indonesia untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan yang bernama: televisi. Pada waktu itu juga, di Indonesia sedang diselenggarakan Ganefo, Games of the New Emerging Forces di Stadion Senayan. Bayangkan, tahun itu kita menjadi pelopor untuk kekuatan The New Emerging Forces, sebagai tandingan PBB!

Dua hal itu, secara simbolik, untuk ziarah pemikiran, sebenarnya menarik. Jauh lebih menarik daripada melihat bagaimana MNC Grup dan TV-One, yang telah secara kriminal memakai televisi sebagai media provokasi. Hanya untuk kepentingan kelompok kepentingan mereka semata, televisi milik Harry Tanoe dan ARB, secara terstruktur, sistematis, dan massif, berjuang untuk membangun konstruksi kebenaran menurut mereka. Jurnalisme mereka; perspektif dibangun berdasarkan persepsi, bukan persepsi dibangun berdasarkan perspektif sebagaimana mestinya kaidah obyektivitas sebuah media massa.

Untuk kepentingan 21 Agustus hari ini, televisi-televisi itu benar-benar hanya menganggap bahwa  Prabowo Subianto adalah kebenaran mutlak. Pandangan kemutlakan itu persis sebagaimana karakter Soeharto.

Kita tentu tak ingin Indonesia berjalan mundur, dengan 1945 sebagai titik kulminasi, dan kemudian makin menurun pada 1957, 1965, 1971, 1998, 2009, dan 2014 serta kelak. Para founding fathers and mothers telah mencontohkan puncak-puncak pemikiran 1908, 1928, 1945, 1955. 
Namun yang tak boleh dilupa, 21 Agustus 1998, adalah tanggal ketika Prabowo Subianto dicopot dari dinas kemiliterannya, karena dakwaan pelanggaran etik oleh Dewan Kehormatan Perwira. Dan pada tanggal yang sama, 16 tahun kemudian, Prabowo mengalami nasib serupa. Gugatan pilpresnya ditolak MK, dan kandaslah segalanya. Tentu makin tak muda untuk kembali dalam pilpres 2019, karena untuk tahun ini pun ia sudah dianggap generasi lanjut usia.
Maka, jika ia terus uring-uringan, barangkali bisa dimengerti, meski tak bisa dimaklumi.

"Saya percaya bahwa segala sesuatu terjadi karena suatu alasan sehingga orang berubah, dan Anda dapat belajar untuk melepaskan sesuatu yang salah, agar Anda menghargai mereka ketika mereka benar,” itu kata Marilyn Monroe, yang bukan politikus. “You believe lies so you eventually learn to trust no one but yourself, and sometimes good things fall apart so better things can fall together,” katanya kemudian. Anda percaya kebohongan sehingga Anda akhirnya belajar untuk tak mempercayai siapa pun kecuali diri Anda sendiri, dan hal-hal baik kadang-kadang berantakan, sehingga hal-hal yang lebih baik lagi bisa jatuh bersama-sama."

Sekiranya kita mau belajar dari sejarah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar