Rabu, Agustus 27, 2014

Prabowo, Mau Sampai Kapan Begini Terus?

Lewat televisi di lantai 26 Hotel Grand Hyatt, Jakarta (21/8), Prabowo Subianto menyimak majelis hakim Mahkamah Konstitusi membacakan putusan sengketa pemilihan presiden. Di griya tawang tersebut pada Kamis pekan lalu, ia ditemani Hatta Rajasa-pasangannya dalam pemilihan-dan elite partai penyokong. Ada Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta, dan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali.
Para sekretaris jenderal serta pejabat teras partai juga memantau persidangan dari hotel di jantung Ibu Kota itu.
Dua politikus senior, Akbar Tandjung dan Amien Rais, juga ada di sana. Semua politikus itu menyimak pembacaan putusan tersebut lewat televisi.
Para politikus itu menemani Prabowo hingga malam, sampai majelis rampung membacakan putusan mereka.
Suasana tegang terjadi saat Prabowo Subianto menonton pembacaan putusan sengketa pemilu presiden 2014 yang digelar Mahkamah Konstitusi, Kamis, 21 Agustus 2014 lalu. Saat itu, seperti dimuat di majalah Tempo edisi 25-31 Agustus 2014, Prabowo berada di griya tawang lantai 26 Hotel Grand Hyatt Jakarta.
Prabowo marah saat membaca draf pidato koalisinya dalam menyikapi putusan Mahkamah Konstitusi yang memenangkan Jokowi-JK. "Kalian berkhianat? Dapat apa dari Jokowi?" kata Prabowo kepada koleganya, para petinggi partai yang mendukung Prabowo-Hatta.
Prabowo kemudian ngeloyor meninggalkan ruangan. Ia kembali beberapa saat kemudian sambil bersungut-sungut menolak putusan Mahkamah Konstitusi. Awalnya, tak ada yang menukas Prabowo.
Peserta pertemuan lainnya menyebut Prabowo sempat marah saat para elite politik pengusung yang ada di sana menyetujui pidato menyikapi putusan Mahkamah. Mereka memang membuat pidato tersebut sebelum Mahkamah selesai membacakan putusan. Isinya, antara lain, menerima putusan bila Mahkamah menolak gugatan mereka sekaligus mengukuhkan kemenangan Jokowi-JK.
Tanda-tanda kekalahan memang sudah terasa sejak satu jam pertama saat majelis hakim Mahkamah Konstitusi membacakan putusan. Sidang Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu di tempat terpisah siang itu juga menolak sebagian besar pengaduan kubu Prabowo-Hatta. Pasangan nomor urut satu ini melaporkan semua anggota Komisi Pemilihan Umum dengan tuduhan berpihak pada rival mereka, Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Calon wakil presiden Hatta Rajasa kemudian mempertanyakan sikap Prabowo. "Mau sampai kapan begini terus?" ujar Hatta ke Prabowo. Hatta lalu menjelaskan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan mengikat. Bila gugatan mereka ditolak, Jokowi tetap akan dilantik sebagai presiden.
"Pak Ical kan pernah di pemerintahan, pasti tahu juga soal ini," katanya, merujuk ke Aburizal Bakrie, bekas Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
Hatta Rajasa kemudian mengusulkan mereka menyiapkan pidato untuk menyikapi putusan Mahkamah. Isinya, antara lain, menerima putusan bila Mahkamah menolak gugatan mereka sekaligus mengukuhkan kemenangan Jokowi-JK.
Tudingan Prabowo keluar setelah dia membaca draf pidato guna menyikapi putusan Mahkamah Konstitusi. Isinya, antara lain, menerima putusan bila Mahkamah menolak gugatan mereka sekaligus mengukuhkan kemenangan kubu pesaing, Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Dia kemudian ngeloyor meninggalkan ruangan dan kembali seraya tetap bersungut-sungut menolak putusan Mahkamah.
Prabowo juga membuat suasana jadi tegang. Hal itu diakui Akbar Tandjung, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golongan Karya. "Ada suasana yang agak keras, tapi saya tak mau mendetailkan," ujarnya, Jumat, 22 Agustus 2014.
Orang dekat Prabowo yang juga politikus Gerindra, Andre Rosiade, menyanggah kabar bahwa suasana sempat memanas lantaran Prabowo murka. "Saya hadir di situ. Tak ada marah-marah. Suasana tenang, bahkan Pak Prabowo ketawa-ketawa," katanya.
Menurut sumber Tempo, sekitar pukul 20.00 Prabowo akhirnya mau menerima isi pidato tersebut. Dia menjadi orang terakhir yang membubuhkan tanda tangan pada pidato itu. Walau demikian, ia enggan muncul di depan pers untuk membacakan pidato.
Karena Prabowo tak mau menampakkan diri, kata sumber Tempo, para pemimpin partai, termasuk Hatta Rajasa, sepakat tak menghadiri pembacaan sikap. Mereka mendelegasikan urusan ke para sekretaris jenderal. Selanjutnya, para sekretaris jenderal menunjuk politikus Golkar, Tantowi Yahya, membacakan sikap Koalisi Merah Putih--koalisi partai pendukung Prabowo-Hatta.
Dalam konferensi tersebut, Tantowi menyatakan kubunya menerima putusan MK sebagai putusan final. Meski demikian, dia mengatakan bahwa Koalisi Merah Putih bersama para relawan tak akan berhenti memperjuangkan demokrasi. Dia juga mengatakan koalisinya akan tetap berjuang walaupun di luar pemerintahan.

Ahli hukum tata negara dan pengamat politik Indonesia, Refly Harun, mengkritik sikap kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang terus mengupayakan gugatan pemilihan presiden ke lembaga peradilan selain Mahkamah Konstitusi (MK).
Refly menyayangkan keputusan kubu Prabowo mencoba menggugat keputusan pemilihan presiden ke pengadilan tata usaha negara (PTUN). “Sepanjang yang saya lihat, PTUN tidak akan mengabulkan permohonan tersebut,” katanya. Soalnya, dasar pengajuan gugatan sangat lemah dan hanya bisa menyinggung ihwal surat keputusan pemilu.
Refly mengatakan putusan Mahkamah Konstitusi sudah absolut, bersifat final dan mengikat. Putusan Mahkamah, dia melanjutkan, sudah mencakup hukum dan proses suatu kebijakan yang bersifat sistematis dan terstruktur. “Itu, kan, yang mereka gugat, dan tidak terbukti,” katanya.
Kriminolog dari Universitas Indonesia, Priyono B. Sumbogo, menilai jika ada gugatan soal hasil pemilu presiden setelah putusan Mahkamah Konstitusi maka aksi tersebut bisa digolongkan sebagai tindakan makar. "Sebab, Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga istimewa yang menghasilkan putusan yang sifatnya istimewa," ujarnya di Cikini, Ahad, 24 Agustus 2014.
Ia mencontohkan beragam kasus sengketa pemilu kepala daerah yang disidangkan di MK serta-merta konflik antar-pendukung reda begitu putusan MK dibacakan. "Kasus pemilihan Gubernur di Jawa Timur dan Wali Kota di Palembang berhasil diredam konfliknya begitu putusan MK terbit," ujar Priyono.
Berdasar pertimbangan tersebut, maka Priyono tak ragu untuk menyebut kelompok yang akan melakukan gugatan pasca-putusan MK sebagai penjahat dan melakukan makar. "Sebab, kelompok ini berpotensi menghasut rakyat dan mengancam legitimasi presiden terpilih yang sudah dikuatkan putusan MK.”

Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute, Hanta Yuda, menilai gugatan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa ke Pengadilan Tata Usaha Negara lebih banyak berdampak negatif. Menurut dia, masyarakat bisa menilai Prabowo-Hatta tak legawa terhadap hasil pemilu presiden.
"Masyarakat jenuh dengan sengketa pemilu yang tak kunjung usai," kata Hanta saat dihubungi Tempo, Jumat, 22 Agustus 2014.
Efeknya, kata Hanta, popularitas Prabowo-Hatta pun kian menurun. Padahal, masyarakat bisa saja tetap mendukung Prabowo-Hatta jika keduanya mengakui kemenangan Jokowi-JK. Masyarakat pun bisa mendapat pelajaran demokrasi seandainya Prabowo-Hatta menerima hasil pemilu presiden.
Anggota tim kuasa hukum Joko Widodo-Jusuf Kalla, Teguh Samudera, menilai keinginan tim advokasi Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menggugat Komisi Pemilihan Umum ke Pengadilan Tata Usaha Negara tak punya dasar hukum. Sebabnya, keputusan KPU tidak bisa digugat di PTUN.
"Tidak semua keputusan bisa digugat ke PTUN," kata Teguh kepada Tempo, Senin, 18 Agustus 2014. "Obyek gugatan tim Prabowo nanti tidak memenuhi syarat hukum yang pas, sehingga tidak bisa dilakukan."
Menurut Teguh, dalam UU Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang telah diubah dengan UU Nomor 51 Tahun 2009 dijelaskan bahwa segala macam keputusan KPU daerah sampai KPU pusat tidak bisa digugat. Dengan demikian, jika nantinya tim Prabowo tak puas dengan hasil Mahkamah Konstitusi dan menggugat KPU ke PTUN, hasilnya akan menjadi nihil.
Teguh juga mengatakan akan selalu membela KPU jika nanti dibentuk panitia khusus pemilihan presiden di parlemen. Namun hingga saat ini dia pesimistis pansus pilpres itu akan terbentuk. "Itu hanya hiruk-pikuk politik," ujarnya. "Tidak mungkin juga kalaupun pansus pilpres dibentuk akan membatalkan kemenangan Jokowi."
Juru bicara Koalisi Merah Putih, Tantowi Yahya, mengatakan koalisinya mengakui keputusan Mahkamah Konstitusi. Menurut dia, langkah politik dan keadilan akan tetap dikawal oleh koalisi pengusung Prabowo-Hatta ini.
"Kami menerima putusan MK sebagai putusan yang final terhadap pilpres," kata Tantowi dalam konferensi pers di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis, 21 Agustus 2014.
Tantowi mengatakan Koalisi Merah Putih bersama para relawan tak akan berhenti memperjuangkan demokrasi. Dia juga mengatakan koalisinya akan tetap berjuang walaupun di luar pemerintahan.
Pengakuan ini ditandatangani oleh semua ketua umum partai pengusung Koalisi Merah Putih. Konferensi pers ini dihadiri oleh Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, Sekjen Partai Bulan Bintang Wibowo, Sekjen PPP Romahurmuziy, Sekjen PAN Taufik Kurniawan, Sekjen PKS Taufik Ridho, dan Sekjen Golkar Idrus Marham. Ada pula Fadli Zon dari Gerindra, Fahri Hamzah dari PKS, dan sebagainya.



Disarikan dari kumpulan berita Tempo.Co., 25-27 Agustus 2014

Senin, Agustus 25, 2014

Jokowi Undercover Setebal 800 Halaman Beredar September

Tribune Network, Warta Kota, Kamis, 21 Agustus 2014 16:28 WIB

Buku Jokowi Undercover Setebal 800 Halaman Beredar
Warta Kota/Willy Pramudya
Cover buku Jokowi Undercover 
 
WARTA KOTA, MATRAMAN - Ini kabar gembira bagi masyarakat, khususnya para peminat masalah politik dan pecinta buku. Sebuah buku berjudul Jokowi Undercover karya penulis senior yang juga dikenal sebagai budayawan dan intelektual, Sunardian Wirodono, akan segera meluncur ke pasaran mulai September 2014 mendatang. 
 
Buku setebal 800 halaman dan berukuran 12X19 ini bukan sekadar berkisah tentang perjalanan seorang lelaki Indonesia asal Solo, Jawa Tengah bernama Joko Widodo alias Jokowi, yang kini tampil sebagai Presiden Terpilih, melainkan buku yang merekam semua pembicaraan politik negeri ini, yang dinilai begitu gegap-gempita sepanjang Pemilu 2014, khususnya Pemilihan Presiden 2014.

Kepada Warta Kota, Kamis (21/8/2014) Sunardian mengaku lebih suka menyebut buku terbarunya ini sebagai memorabilia yang merekam emosi dan spirit bangsa dan negara ini setelah 16 tahun lengsernya Soeharto. Juga merekam suasana yang menyertainya sejak hadirnya revolusi teknologi informasi dan komunikasi, yang telah mengubah banyak hal, di tengah rendahnya tingkat kemelekhurufan dan budaya baca bangsa Indonesia.

"Sebagian besar dari kita masih berada dalam pemahaman lama, mengenai apa itu pemimpin, yang selalu dan masih digambarkan sebagai super-hero dengan segala mistifikasi dan glorifikasinya. Sementara beberapa negeri yang maju, telah mulai menggeser peran-peran para super-hero tersebut pada munculnya pergerakan dari masyarakat itu sendiri. Sehingga di sini hasilnya merupakan pencampuran antara fakta dan fiksi yang begitu tumpang-tindih," ujarnya.

Secara khsusus, dalam teks promosi yang diunggah di akun facebooknya, Sunardian menulis bahwa buku yang diterbitkan oleh Penerbit Wiwara, 2014 ini merupakan sebuah memorabilia cerita-cerita politik sepanjang Pilpres 2014, yang menguliti sisi-sisi "kenapa Prabowo dan kenapa Jokowi".

Jadi, katanya, buku ini bukan merupakan hasil analisis politik melainkan buku yang berisi tentang kisah petualangan politik dari sisi kanan dan kiri, atas dan bawah, antara fakta dan fiksi. Kesemuanya ditulis ulang  secara campur aduk khas Sunardian Wirodono.

Karena itu, lanjut, Sunardian, dalam buku ini akan ditemukan antara lain tulisan yang menimbulkan pertanyaaan, bagaimana mungkin Devi Kiriani bertemu dengan Mark Zuckerbergh, hingga mendapat wejangan dari murid Muso, tokoh PKI tua itu di Gunung Klothok, Kediri. Atau, bagaimana mungkin Dor dan Hashim Ponto mendengarkan pidato 1 Juni 1945 dari Bung Karno, dalam percintaan mereka di hutan perbatasan antara Indonesia dan Malysia di Kalimantan Barat.

"Ya semuanya sangat mungkin, karena antara fakta dan fiksi sangat cair dalam literacy politik di Indonesia," tegasnya. "Itu semua terekam di dalam buku 'Jokowi Undercover" ini," tambahnya.
"Tak pernah dalam sepanjang sejarah kepolitikan Indonesia, gairah masyarakat negeri ini sebagaimana yang terlihat sekarang," ujarnya.
 
Faktanya, jelasnya lebih jauh, dengan hadirnya media-sosial seperti facebook, twitter, blog, dan sejenisnya, politik menjadi kosakata yang sangat akrab dan dekat dengan kehidupan keseharian. Ia mengalahkan gosip artis dari dunia hiburan pop.  "Ini bukan hanya bagi kalangan terdidik di kota, melainkan juga jauh ke pelosok dusun dan gunung, bahkan bagi mereka yang sangat terbatas akses informasi serta tingkat pendidikan mereka," tuturnya.

Buku Jokowi Undercover meramu semua itu dalam tulisan campur-aduk, penuh dengan kutipan media, yang disusun sedemikian rupa menjadi sebuah cerita politik dengan rentang perjalanan waktu Indonesia, dari sejak pemilu pertama 1955, hingga kejadian mutakhir sekarang ini.

Jadi ada fakta dan fiksi dalam buku ini, semua bercampur-baur menjadi satu, seperti sebuah kolase, karena yang lebih penting adalah impresi dalam pembacaan semua persoalan yang disodorkan dalam buku ini. Sebagai novel mungkin terlalu cerewet, tetapi ini memang tentang bangsa yang sangat cerewet, terutama para pemimpin dan para elitenya di semua sisi. Baik dari sisi pandangan paling kiri dan paling kanan dalam wacana dialog kita selama ini.

Menurut sang penulis buku seharga Rp 120.000 per eksemplar ini tidak dijual di toko buku, melainkan melalui pemesanan lewat online di email sunardianwirodono@yahoo.com, akun fb sunardian wirodono, atau melalui sunardian.blogspot.com.

Minggu, Agustus 24, 2014

Jokowi dengan Perubahan-perubahannya


Sejak keputusan MK 21 Agustus 2014 lalu, dengan ditolaknya gugatan Prabowo-Hatta atas keputusan KPU 21 Juli, Jokowi adalah presiden terpilih Republik Indonesia.
Itu kenyataan politik, suka dan tidak suka, sekiranya kita menghargai keputusan mayoritas rakyat Indonesia. Itu harga demokrasi, di tengah klaim-klaim pribadi para pejuang revolusioner, dengan teriakan heroik menyeru revolusi kelas, namun tak pernah menginjak tanah. 
Jokowi, tentu saja akan berubah, karena situasi-situasi di sekitarnya. Ada protokoler, ada paspampres, dan ada Jusuf Kalla di sampingnya. Wakil Presiden tentunya hanya pembantu presiden, tetapi pagi-pagi kita sudah melihat karakter aseli Jusuf Kalla. Sama persis dengan elite politik kita, sering tidak bijak dalam memberikan pernyataan ke publik.
Tapi itu kenyataan politik yang harus diterima. Lima tahun ke depan, mungkin proses transisi akan lebih mulus, lepas sama sekali dari Orde Baru. Keinginan untuk merombak sistem dan kabinet, tentu masih menemu kendala. Tapi kita berharap, Jokowi tetaplah seorang keras kepala untuk apa yang diyakininya sebagai berpihak kepada rakyat.
Salute dan hormat untuk Jendral Muldoko, dan para serdadunya yang adaptif. Kehadiran Jokowi dengan gayanya, akan mengubah pola kerja protokoler ring 2 dan 3, dan itu lebih baik. Semua pihak, mesti bekerja untuk itu, agar rakyat bawah tidak disingkirkan. Mau kanan atau kiri, selama masih ada elite yang hanya berkhidmat pada kepentingan kelompok mereka, keduanya sama saja buruk.
Setidaknya, dengan Jokowi sebagai presiden, kaum ibu dan para orangtua bisa mengatakan: Semua orang berhak mencapai cita-citanya, sebagaimana kata Bung Karno, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Indonesia sudah terlalu lama dikangkangi para elite yang tak lebih dari 3% penduduk Indonesia tetapi menguasai perputaran 70% kekayaan negeri ini.
Setidaknya, menjelang abad 22 ini, setelah 16 tahun longsornya Soeharto, pengaruh 32 tahun Orde Baru perlahan bisa disingkirkan. Setidaknya, garis militer dan dinasti politik darah-biru, bisa dipotong oleh anak tukang kayu.
Kalau kita perlu membantu Jokowi, bukan dalam rangka mengimbangi sok seniornya Jusuf Kalla dan gerak-gerik parlemen, dan terutama kubu yang sampai hari ini menyatakan Jokowi tidak legitimated. Kita membantu dengan mengawasi Jokowi, apakah tetap berkhidmad pada Negara dan bangsa, atau tidak.
Apa yang dibutuhkan sekarang adalah rakyat yang berdaulat, kritis, berani, tetapi pintar dan proporsional. Tidak perlu pose sok gagah dan heroik. Rakyat bersendiri atau berkelompok bisa membuat parlemen sosmed. Rakyat bisa berhimpun dalam change.org untuk mendesakkan kepentingannya. UU produk presiden dan parlemen, bisa dimentahkan oleh satu orang, jika MK menganggap dalilnya terpenuhi.  Tak butuh lawyer, karena kepentingan rakyat itulah lawyer sejati.
Untuk kritis dan pintar, mesti proporsional. Tidak mudah diprovokasi media, terutama media online dan televisi milik ARB, Harry Tanoe, Surya Paloh, dan kelompok kepentingan lain. Cari kebenaran berita dengan perbandingan, bukan hanya satu media.
Kalau perlu baca 10 media, asal bukan yang satu type seperti intriknews, inilah.com, pkspiyungan, voaislam, dakwatuna, swaranews, tikusmerah, vivanews, dan yang sejenis itu, karena hasilnya tentu akan sama saja, jokowi-hater. Baca media dari tiga kelompok yang berbeda; pro Jokowi, pro Prabowo, dan di luar itu. Dengan begitu akan terjadi perbandingan memadai, mana yang hoax dan mana tukang fitnah.
Jokowi silakan berubah karena situasi-kondisi-toleransi (sikonler) protokoler, kita maklumi. Namun jika kebijakan-kebijakan politiknya berubah merugikan bangsa dan Negara, mengkhianati janjinya pada rakyat, wajib hukumnya mengkritisi. Dan itu bukan dosa. Dalam ajaran nabi dan para khalifah, kalau rujukannya ke Arab, mengingatkan pemimpin itu wajib.
Kita tidak sedang menunggu seorang satria piningit, superstar atau superhero, tetapi kita menginginkan seorang yang lebih meyakinkan untuk mengajak kita bekerja bersama-sama. Yang bekerja untuk tumbuh bersama-sama, karena kepentingan-kepentingan kita yang sama. Sudah terlalu lama rakyat hanya menjadi obyek dan sasaran tipu-daya elite. Rakyat diperdaya, bukan diberdayakan dalam berbagai bentuk kerja-kerja pemerintahan yang koruptif, kolusif, dan manipulatif.
Indonesia masih terbelit utang luar negeri. Banyak sumberdaya alam dikelola secara mafioso. Angka pengangguran tinggi, dan enterpreunership serta daya saing SDM masih rendah. Sementara elite politik kita masih mengidap post-power syndrome dan penyakit gerontolisme!
Semestinya kita menjadi bangsa yang waras dan proporsional, setelah hampir setengah abad, 32 + 16, perjalanan terus menukik.
Selamat bekerja, Mr. President!

Kamis, Agustus 21, 2014

Karena Prabowo, Pentingkah Hari Ini, 21 Agustus 2014?


Apakah tanggal 21 Agustus penting? Sebenarnya tidak penting-penting amat, tentu bagi kita yang menganggapnya biasa saja. Kecuali bagi yang berultah hari ini, atau mempunyai kenangan khusus dengan mantan, atau bagi yang menyebutkan bahwa tanggal ini, hari ini, adalah pertaruhan hidup dan mati. Apalagi yang taruhan.

Kalau menurut catatan sejarah Indonesia, pada 21 Agustus 1945 adalah hari dilakukannya perebutan kekuasaan maritim dari tangan Jepang, yang dalam jaman Bung Karno diperingati sebagai Hari Maritim. Namun di jaman Bung Harto dan seterusnya, tak pernah terdengar lagi mengenai hari maritim itu. Entah juga kalau Jokowi lupa janjinya kelak, untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara maritim.

Namun pada tanggal ini juga, di tahun 1962, masyarakat Indonesia untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan yang bernama: televisi. Pada waktu itu juga, di Indonesia sedang diselenggarakan Ganefo, Games of the New Emerging Forces di Stadion Senayan. Bayangkan, tahun itu kita menjadi pelopor untuk kekuatan The New Emerging Forces, sebagai tandingan PBB!

Dua hal itu, secara simbolik, untuk ziarah pemikiran, sebenarnya menarik. Jauh lebih menarik daripada melihat bagaimana MNC Grup dan TV-One, yang telah secara kriminal memakai televisi sebagai media provokasi. Hanya untuk kepentingan kelompok kepentingan mereka semata, televisi milik Harry Tanoe dan ARB, secara terstruktur, sistematis, dan massif, berjuang untuk membangun konstruksi kebenaran menurut mereka. Jurnalisme mereka; perspektif dibangun berdasarkan persepsi, bukan persepsi dibangun berdasarkan perspektif sebagaimana mestinya kaidah obyektivitas sebuah media massa.

Untuk kepentingan 21 Agustus hari ini, televisi-televisi itu benar-benar hanya menganggap bahwa  Prabowo Subianto adalah kebenaran mutlak. Pandangan kemutlakan itu persis sebagaimana karakter Soeharto.

Kita tentu tak ingin Indonesia berjalan mundur, dengan 1945 sebagai titik kulminasi, dan kemudian makin menurun pada 1957, 1965, 1971, 1998, 2009, dan 2014 serta kelak. Para founding fathers and mothers telah mencontohkan puncak-puncak pemikiran 1908, 1928, 1945, 1955. 
Namun yang tak boleh dilupa, 21 Agustus 1998, adalah tanggal ketika Prabowo Subianto dicopot dari dinas kemiliterannya, karena dakwaan pelanggaran etik oleh Dewan Kehormatan Perwira. Dan pada tanggal yang sama, 16 tahun kemudian, Prabowo mengalami nasib serupa. Gugatan pilpresnya ditolak MK, dan kandaslah segalanya. Tentu makin tak muda untuk kembali dalam pilpres 2019, karena untuk tahun ini pun ia sudah dianggap generasi lanjut usia.
Maka, jika ia terus uring-uringan, barangkali bisa dimengerti, meski tak bisa dimaklumi.

"Saya percaya bahwa segala sesuatu terjadi karena suatu alasan sehingga orang berubah, dan Anda dapat belajar untuk melepaskan sesuatu yang salah, agar Anda menghargai mereka ketika mereka benar,” itu kata Marilyn Monroe, yang bukan politikus. “You believe lies so you eventually learn to trust no one but yourself, and sometimes good things fall apart so better things can fall together,” katanya kemudian. Anda percaya kebohongan sehingga Anda akhirnya belajar untuk tak mempercayai siapa pun kecuali diri Anda sendiri, dan hal-hal baik kadang-kadang berantakan, sehingga hal-hal yang lebih baik lagi bisa jatuh bersama-sama."

Sekiranya kita mau belajar dari sejarah.

Prabowo, Hanya Karena Kita Sangat Toleran

"Perjuangan baru dimulai, kita akan terus berjuang. Perjuangan kita tak berhenti sampai ke titik akhir," kata Prabowo Subianto di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Jawa Barat, (19/8/2014). "Ini bukan karena saya ingin merebut kekuasaan, bukan karena Hatta Rajasa ingin menjadi wakil presiden, tapi ini tanggung jawab saya kepada puluh jutaan rakyat yang telah mendukung saya, karena selama ini proses berjalannya pemilu penuh dengan kecurangan." Terus, puluhan juta juga yang tidak mendukungmu, tanggung jawab siapa? Mari kita goblog-goblogan saja.
Untuk itu, seperti dikatakan Prabowo pada kesempatan itu, gugatan akan diajukan kepada PTUN, dan MA, biar saja dilakukannya. Dan kita biarkan orang menghina-dina dirinya dikata tidak ngarti hukum. Tak peduli bahwa apa yang sudah diputuskan oleh MK, bersifat final dan mengikat. Ataukah tujuan sebenarnya memang mau mengacau-balaukan system hokum dan system kepolitikan kita? Dan rakyat dibikin main-mainan seolah dunia hanya benar jika dirinya menang? Kalau Indonesia hanya menuruti mimpi-mimpi ARB, Hashim, Harry Tanoe, Fadli Zon, beberapa petinggi PKS, bisa puyeng kita. Kalau para lawyer mereka sih, semua tergantung bayaran, nggak usah direwes. Kalau client mereka kalah, mereka pasti akan jadi orang bijak, “sebagai orang yang mengerti hokum, kita mesti menjunjung tinggi keputusan hakim.” Toh kekalahan bukan karena mereka, tetapi karena keputusan hakim.
Toh Tim Hukum Merah Putih sudah mengajukan gugatan KPU ke PN Jakpus sebelum MK menjatuhkan vonis. Sementara Fadli Zon juga mengajukan ketua KPU ke Polda Jaya, selain gugatan ke DKPP dan mungkin masih banyak lagi kelak yang akan digugat ke berbagai lembaga hukum, disamping upaya untuk pembentukan Pansus Parlemen dan niatan menjegal pemerintahan, dan bahkan mengajak kaum ibu untuk siap-siap membuka dapur umum karena perjuangan baru dimulai. Memangnya rakyat Indonesia ini semua memilih dia? Dan semua tunduk pada nafsu dia? Itu sangat menghina rakyat Indonesia seolah tak punya otak, tak punya kemampuan menilai, tak punya akses untuk membandingkan dengan berbagai informasi mana yang benar dan mana yang benar-benar hoax? Kalau ada orang bodoh banget mengikuti ajakan bodoh, hanya ada dua kemungkinan, yakni kalau bukan bayaran memang nuraninya sudah mampet.
Semuanya itu menunjukkan ambivalensi antara malu-malu disebut ngotot menginginkan kekuasaan, namun di sisi lain sudah merasa di posisi kalah (cuma tak mau menerima), dan tak tahu jalan pulang. Makanya jangan hanya nari poco-poco, sesekali dengarkan lagu Sandy Sandoro. Ini tragedi sebuah karakter manusia dan tetironnya, yang kebetulan ditunggangi para pihak yang memanfaatkan kelemahan karakter tersebut. Bukan persoalan bangsa sebenarnya, jika saja kita tak terlalu berbaik hati dan bertoleran. Akal sehat kita pada dasarnya akan tetap bekerja secara normal, dengan kalkulasi biasa saja. Popularitas Prabowo sendiri turun, juga di kalangan pendukungnya. Akun abal-abal di facebook, dan beberapa blog gratisan sebagai bloopers Prabowo, sudah melorot drastis karena de-active ataupun passif. Nilai-nilai keadaban public, secara alamiah akan bekerja dengan sendirinya.



Emangnya siapa Prabowo, si anak manja yang dibesarkan dalam pelarian think-tanker PRRI-Permesta, hingga harus didewakan dengan mengorbankan kepentingan bangsa dan Negara kita, yang jauh lebih besar? Sudah saatnya menyudahi segala omong kosong ini, dan kembali bekerja pada fitrah kemanusiaan kita. 
Kentut itu pedih, Korporal Diroen!

Rabu, Agustus 20, 2014

Jokowi Undercover

Sebentar lagi beredar, September 2014, buku campur aduk mengenai cerita-cerita politik sepanjang pemilihan presiden Republik Indonesia 2014.
Diramu dalam fantasi sebebasnya oleh Sunardian Wirodono, dari sisi kanan dan kiri, atas dan bawah, fakta dan fiksi.
Buku ini tidak dijual di toko buku, melainkan pemesanan lewat online di email sunardianwirodono@yahoo.com, akun fb sunardian wirodono, atau melalui blog ini.

Harga plus ongkos kirim Rp120.000 per-eksemplar.

Data Buku

Judul
JOKOWI UNDERCOVER

Penulis
SUNARDIAN WIRODONO

Ukuran Buku
19x12 Cm, 800 halaman
Kertas mangkak

ISBN
978-602-9087-3-0






Minggu, Agustus 17, 2014

69 Tahun Kemerdekaan Indonesia


Semalaman, setelah memutarkan film-film perang dari berbagai Negara, bersama anak-anak muda dan tua di sebuah gunung sunyi, saya terlibat dalam gerakan kata-kata bersama mereka hingga nyaris subuh. Saya serang mereka dengan kata-kata seadanya: Segala yang dapat diciptakan, telah diciptakan, demikian sabda Charles H. Duell. Bukan seorang fatalis, melainkan seorang komisaris hak patent AS pada tahun 1899. Dan para Hegelian pasti sepakat dengan omongan Hegel, bahwa semua yang riil bersifat rasional, dan semua yang rasional bersifat riil.
Permainan kata-kata itu tak pernah lahir dengan sendirinya. Ada banyak teks penjelas yang dihilangkan dari sana, karena dirasa tak penting dan terlalu menjelas-jelaskan. Mungkin nasehat belajar ilmu pasti tidaklah buruk-buruk amat. Ilmu pasti yang sederhana saja, bahwa orang yang belajar pasti pintar, kalau tidak barangkali sial saja. Bahwa orang makan pasti kenyang, kalau tidak bisa jadi makannya cuma sedikit. Bahwa orang yang berjuang pasti menang, kalau tidak, yah, mungkin kalah gigih. Orang pacaran pasti nikah, kalau tidak mungkin lagi apes saja, mana sudah ketipu pula, atau pacarnya ternyata sudah menikah dengan yang lain.
Semua toh menyiratkan yang sama, antara yang pasti dan tidak. Kesadaran kita memilih yang pasti, tapi kepastiannya belum pasti karena ada ketidakpastian di sana, yakni bagaimana bergelut dengan kepastian-kepastian atau keniscayaan-keniscayaan. Perpektif itu akan membangun persepsi atau paradigma, membangun ukuran-ukuran dengan kacamata yang dikenakan. Dalam dagelan jadul, seorang pelawak akan merasa semua yang dilihatnya hitam, kemudian dia baru sadar, karena memakai kacamata hitam.
Jika pembacaan atas diri dan hidup kita tidak lengkap dan terbatas, maka itu juga yang akan menuntun kita. Mengira Prabowo hebat dan tegas, padahal ia lucu. Membacai Jokowi itu cungkring, padahal kurus, maka luculah bila ditandingkan kompetitornya. Dan seterusnya. Itu kerja kacamata yang mengakibatkan yang didapat adalah apa yang dilihat. Bagi orang yang tidak ringan mulut, semakin banyak kacamata semakin kaya yang dilihat. Tapi bagi kuda, kacamata yang aneh-aneh akan membuat pusing. Maka ia, si kuda itu, hanya percaya kacamata kuda yang dibuat manusia.
Seorang penulis bernama Anatole France, menulis begini: “Buku sejarah yang tidak mengandung kebohongan pastilah sangat membosankan.” Kita tidak tahu, apakah beliau penulis sejarah yang ditolak dalam proyek penulisan sejarah Perancis atau bukan. Tidak penting. Namun, hidup bersama orang suci ternyata jauh lebih melelahkan daripada menjadi orang suci itu sendiri. Sebagaimana sindiran kolumnis Don Marquis, “Orang yang munafik adalah orang yang berteriak; Hei, siapa sih yang tidak munafik?” Semua orang memuji-muji surga, tapi tidak ada yang mau pergi ke sana sekarang juga, ujar James Baldwin, penulis yang juga aktor.
Sembari menunggui matahari nongol dari balik bukit, Adolf Hitler ngedumel, “Alangkah beruntungnya penguasa, bila rakyatnya tidak bisa berpikir,…” Dan apakah yang kita pikir tentang semuanya ini, bila pemimpin, atau tepatnya politikus seperti kata de Gaulle, tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri? Karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya! Politik itu mahal, bahkan untuk kalah pun harus mengeluarkan banyak uang. Jangan bertanya pada Will Rogers yang mengatakan, tapi tanyakan kepada Hasim Djojohadikusumo yang mengalaminya.
To accomplish great things, we must not only act, but also dream; not only plan, but also believe, tulis Anatole. Untuk mencapai kesuksesan, kita jangan hanya bertindak, tapi juga perlu bermimpi. Jangan hanya berencana, tapi juga perlu untuk percaya. Namun ingatlah, setiap orang mencoba mencapai suatu hal yang besar, jika tanpa menyadari bahwa hidup itu kumpulan dari hal-hal kecil, bersiap-siaplah kecewa.
Memang, menurut para motivator, hebat adalah untuk melakukan satu hal yang biasa dengan cara yang tidak biasa. Excellence is to do a common thing in an uncommon way. Tapi visi tanpa eksekusi adalah lamunan, dan eksekusi tanpa visi adalah mimpi buruk, begitu peribahasa Jepang. Dan kita? Sering hanya mengerti kesalahan orang lain, karena kesalahan kita sendiri terletak di punggung kita.
Maka semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu, begitu nasehat Benjamin Franklin. Bukan pada mereka yang sedang marah saja tentu, tetapi kita yang sedang mau ikut-ikutan marah.
Jika kita hari ini sedang memperkarakan soal keajaiban 69, dengan segala kenikmatannya, ingatlah di dalamnya adalah juga paradoks-paradoks itu sendiri. Dan hari-hari ini kita disuguhi itu, seolah Tuhan tengah bercanda, menyodorkan soal yang mestinya sudah usai 9 Juli tapi kita olor-olor hingga 21 Agustus, hingga Oktober, hingga entah kapan nunggu stroke atau stress berat tak ketulungan, atau nunggu kantong para lawyer penuh-sesak.
Mereka yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. Dan sungguh, sekarang ini saya ngantuk berat, karena semalaman berjuang mati-matian, begadangan demi 69 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Merdeka!

Selasa, Agustus 05, 2014

Piknik Spiritual ke Kraton Yogyakarta dengan Route Terbalik



Jika Anda piknik ke kraton Yogyakarta, maka Anda akan masuk dari sisi utara atau tengah, melalui pintu depan (tepatnya   samping) melewati pagelaran terus masuk ke selatan. Bagaimana kalau dibalik? Bukan tubuh sampeyan yang dibalik, tapi routenya justeru dari selatan ke utara. Timbul pertanyaan, mengapa?
Ini memang hanya usulan, sekiranya Kanjeng Sinuwun Hamengku Buwana X berkenan. Jika tidak, juga tak apa, kita berwisata lewat teks saja. Bahwa kraton adalah sebuah pusat kebudayaan, begitu sejarah awalnya. Sekarang pusat kebudayaan adalah Google. Jadi kita wisata via Google saja, melihat teks-teks masa lalu.
Dari segi arsitektur Jawa, yang penuh simbolisme, bangunan kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memang mempunyai makna. Pangeran Mangkubumi, yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengku Buwana I pada 1756, membangun istananya tidak sembarang.
Kita selusuri dari sisi selatan, mulai dari panggung Krapyak (tak jauh dari Pondok Pesantren Krapyak milik mertua Anas Urbaningrum, sekarang), Plengkung Nirbaya, alun-alun selatan atau alkid, terus ke utara, merupakan gambaran perjalanan hidup manusia. Dari dalam roh, masa kanak-kanak, remaja dan sampai pada puncak cita-cita sebagai raja, personifikasi kemuliaan kehadiran manusia.
Itulah kenapa di alkid, ada tanah berpasir, pohon kepel, pohon asem, tanjung, mangga, dan lain sebagainya, yang semuanya itu mengandung ujaran dan ajaran fase-fase hidup manusia. Tapi siapa coba yang membacai simbol-simbol dan maknanya itu, jika di alkid yang banyak cuma mereka yang menyewakan tutup mata dan sepeda berlampu kelap-kelip? Demikianlah jaman. 
Ketika perjalanan melewati pagelaran, dalam upacara Garebeg, perjalanan pulang ke istana (artinya kembali ke arah selatan), adalah gambaran dari manusia yang berpulang  ke rahmatullah. Berpulang ke alam keabadian dengan mengiklaskan segala benda duniawi, termasuk pangkat, anak serta isteri.
Jika dilihat dari ini, dan agaknya hal itu juga mempunyai pengaruhnya pada kepribadian Hamengku Buwana IX sebelum mangkat, kraton merupakan pelajaran amat menarik  tentang kehadiran manusia di dunia, yang dalam konsep aristrokrasi Jawa, kehidupan untuk didarmabaktikan pada manusia lain. Apalagi mereka yang mendapat kesempatan, kepercayaan atau kekuasaan. Makna yang lebih luas dari hal itu, bukan hanya hak, melainkan beban kewajiban. 
Jika para wisatawan mengambil route dari selatan, taruhlah melalui alun-alun kidul, para guide kraton akan lebih leluasa menerangkan makna simbol arsitektur awal abad 18 itu. Para peziarah budaya, bukan hanya dikenalkan pada fungsi-fungsi dari masing-masing tempat, melainkan juga makna dari tempat itu (baik dari personifikasi bahasa dengan idiom-idiom nama dan jenis pohon misalnya), secara berangkaian dengan bagian-bagian  lain dari perjalanan hidup manusia di dunia hingga  saat menghadap kembali ke tuhannya.
Cerita para guide secara runtut, niscaya akan merupakan pelajaran moral tersendiri. Bukan hanya moral Jawa, melainkan juga moral manusia, makluk sosial, makluk religius  yang sadar akan keberadaannya di dunia. Dengan demikian berwisata ke kraton tak hanya akan mendapat informasi tentang bentuk-bentuk bangunan, dibuat tahun berapa dan apa fungsinya. Kompleks peziarahan Sunan Ampel di Surabaya, mungkin bisa menjadi contoh menarik (atau juga misalnya dalam ziarah religi berbungkus ibadah haji di Makkah). Semua urutan waktu dan tempat adalah memorable dan mengambil hikmah.
Mempelajari simbolisasi kraton untuk kembali ke feodalisme? Tentu tidak.  Mempelajarinya justru untuk menjadi seorang ‘ningrat’ dalam arti manusia sejati, yang harus dibedakan dengan pegertian feodal. Selama ini selalu ada salah pengertian tentang ‘keningratan’ yang diartikan sebagai life-style ‘feodalistik’. Secara semantik, itu tudingan yang kacau secara logika. Feodalisme adalah ajaran umum, yang bisa lahir di Batak,  Bugis, Betawi, Inggris, Perancis, Belanda, dan seluruh permukaan bumi.
Keningratan adalah konsep ajaran kesempurnaan  hidup. Bahwa yang bernama ‘ningrat’ itu, seseorang harus menggapai lewat perjalanan hidup yang penuh aturan, disiplin, tata krama dan laku keprihatinan, untuk sampai pada tingkah laku dan budi pekerti  (kesaktian, keilmuan) yang tinggi.
Jika kemudian pengertian ‘ningrat’ identik dengan kaum bangsawan kraton, yang kaya raya dan kuasa, karena pada mulanya kraton adalah sumber atau pusat kehidupan. Untuk masuk kraton, apalagi menjadi raja, harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Hanya mereka yang pandai dan sakti (berilmu dan ulet) mampu menembus dinding kraton, sebagaimana para urbanis sekarang yang harus berbekal kepandaian, untuk bisa berhasil di kota besar. Dan istilah sekarang ningrat adalah kaum elite kita. Kita semua kini, bisa menjadi raja pada masing-masing kerajaan yang kita bangun (sumber tulisan: Berwisata di Kraton Bagaimana Jika Sebaiknya Dibalik? Sunardian Wirodono, Kedaulatan Rakyat, 30 Oktober 1988).

Route Kraton Yogyakarta dari Selatan ke Utara | Untuk menjadi ‘raja’ kita bisa belajar dari makna simbolis bangunan kraton-kraton Mataram. Coba saja ikuti petunjuk di bawah ini:

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dibangun dengan konsep simbolis perjalanan anak manusia hingga mencapai puncaknya sebagai raja (manusia sempurna, pemimpin) dari garis lurus panggung Krapyak, di sebelah selatan kraton Yogyakarta, tepat diantara garis imajine dari Laut Kidul melintasi sitihinggil kraton, hingga gunung Merapi di utara.
Krapyak adalah tempat raja berburu rusa, berbentuk panggung di tanahd lapang. Tempat ini menggambar asal roh-roh manusia. Menuju ke utara, terdapat kampung ‘Mijen’ yang bermakna sebagai tempat wiji (benih, cikal bakal) manusia. Pada tepi jalan yang lurus   membujur ke utara, terdapat pohon asem dan tanjung, yang melambangkan benih manusia haruslah menjadi anak yang lurus budinya (disimbolkan pohon asem), elok parasnya sebagai buah sanjungan (disimbolkan pohon tanjung) orangtua.
Melewati Plengkung Gading dan Nirbaya, berarti anak manusia itu telah melewati batas  periode masa kanak-kanak ke masa puber. Di sini perjalanan akan mencapai ke ‘alun-alun selatan’, alias alun-alun kidul, dan dikenal sebagai ‘alkid itu, dengan ringin kurung di tengahnya, yang kini justeru diberhalakan untuk mencari berkah, sukses karir dan jodoh.
Lima ruas jalan yang bertemu di alun-alun ini, tanah berpasir, pepohonan kweni, dan pakel yang menggambarkan bahwa: dalam tahap pra-puber anak manusia  masih merupakan misteri, belum terbentuk kepribadiannya (masih seperti pasr), meski panca-inderanya sudah berfungsi (lima arus jalan menuju alkid), namun masih belum teratur. Namun si anak sudah mulai tumbuh keberaniannya, karena menjelang masuk ke alam akil baliq.
Pada ‘Sasanahinggil’ di sebelah utara alun-alun kidul, sebelumnya terdapat tratag, tempat istirahat yang kanan kirinya terdapat pohon gayam yang rindang serta harum baunya. Di sini digambarkan pada masa akil baliq, manusia melalui proses saling tertarik pada  lawan  jenis (disimbolkan pohon gayam tadi).
Pada  Sasanahinggil ini, dahulu di tengahnya terdapat pendapa, dan di tengah lantai  pendapa terdapat ‘selagilang’. Di sekitar pendapa terdapat pohon mangga cempora,  menggambarkan ketika anak manusia menjadi suami isteri, bercampur dan menumbuhkan benih baru.
Terus ke utara, sampai ke halaman ‘Kemandungan’ yang dipenuhi pohon kepel, pelem (mangga), cengkir gading, serta jambu dersana. Tempat ini melambangkan wanita (ibu-isteri) yang mengandung atas kemauan bersama, karena saling mengasihi antara suami  dan isteri. Menjadi satu tekad untuk meneruskan kehidupan dalam satu kekuatan.
Dari Kemandungan menuju ke ‘Gedung Mlati’ dan kemudian ‘Kemagangan’, terdapat jalan yang mula-mula sempit kemudian terang melebar terang-benderang, menggambar proses kelahiran manusia (yang masih disebut magang, calon manusia).
Selewat ‘magangan’ terdapat dapur kraton yang disebut ‘Gebulan’ atau ‘Sekulangen’, bahwa untuk si anak telah disediakan makanan secukupnya. Namun, sebagaimana digambarkan jalan besar lurus ke utara menuju kraton, hendaknya anak dididik menjadi  manusia yang lurus hati (lurus ke utara dengan pancer kursi raja, sebagai sumber cita-cita   dan arah pandang citra budi luhur).

Perjalanan Menjadi Raja | Bukan berarti setelah menjadi sultan atau raja, perjalanan manusia akan selesai sampai disitu. Ada tataran lain yang perlu diingat semasa menjadi raja. Masih banyak pelajaran simbolis yang harus dilalui.
Seusai upacara Garebeg, dahulu Sri Sultan selalu hadir, dan selalu kembali ke kraton.   Dalam perjalanan pulang itu, ada beberapa makna yang bisa dipetik.
Mula-mula Sri Sultan keluar dari regol ‘Srimanganti’ menuju bangsal ‘Pancaniti’. Perjalanan ini bermakna raja sedang meneliti, memeriksa atau intropeksi. Memusatkan diri dan sujud kepada Sang Maha Pencipta Alam. Melaksanakan perintahnya, dan kemudian menuju ‘Regol Brajanala’, lantas naik tangga lantai yang di depannya terdapat tembok yang disebut ‘renteng mentog baturana’. Maknanya, raja tak perlu khawatir atau sangsi   menjalankan hukum negara yang adil. 
Dari sini berbelok ke kanan, dan akan didapati pohon jambu klampok yang bermakna   agar raja berkata yang harum-harum, baik dan benar, niscaya kebaikan dan kebenaranlah  yang akan tersebar ke seluruh negeri.
Sampai di Sitihinggil terdapat kemuning berjajar empat, agar sang raja mulai mengheningkan fikiran. Baru kemudian setelah itu, raja menuju ke bangsal  ‘Witana’ (wiwit ana). Di sini keberadaan raja dalam kaitannya dengan lingkungan mulai  diperhatikan.  
Raja duduk di singgasana ‘manguntur tangkil’yang telah dipersiapkan oleh abdi dalem ‘wignya’ dan ‘derma’, agar raja selalu ingat diri pandai-pandai (wignya) duduk di   singgasana karena raja hanya sekedar (saderma) mewakili Tuhan yang Mahaesa.
Bangsal ‘Manguntur Tangkil’ adalah bangsal kecil yang terdapat di tratag ‘Sitihinggil’, yang bermakna bahwa di dalam roh kita terdapat roh atau jiwa. Makna simbolis lain,  meski raja  dihadap hamba sahaya, namun di Manguntur Tangkil itu raja juga harus    menghadap lurus dan teguh pada Tuhan Penguasa Alam Semesta.
Sebelum raja bersabda, gending Monggang ditabuh pelan, dan mulailah raja mengheningkan cipta selama beberapa saat. Abdi dalem ‘keparak’ ada di dekatnya, sebagai simbol raja selalu ingin dekat (keparak) pada kekuasaan Illahi untuk menjalankan kekuasaan.  
Di sekitar tempat duduknya, terdapat abdi dalem kanca kriya, gemblak, marta-lulut,  gangsa, gandhek, singanegara, majegung, pecat tanda, untuk menggambarkan betapa aneka ragamnya rakyatnya.
Sementara itu ampilan (hiasan-hiasan) banyak dhalang, sswung galing, ardawalika,  kecu-mas, kuthuk, handil, saput, masing-masing dibawa para manggung dalam pakaiannya yang indah-indah. Semua itu menggambarkan lambang-lambang kesucian, kewaspadaan, kebijaksanaan, keberanian, kewibawaan, kegesitan. Sebab raja adalah penyangga segala tanggung jawab, penghapus segala kekotoran, penerang hati rakyat.
Artinya, untuk menjadi pemimpin moralitas, seseorang tidak untuk dirinya sendiri, melainkan pelayan seluruh umat. Simbolika moral ini terus berlanjut, antara tarub agung   sampai tugu, dan gunung merapi.
Dalam samadi raja, alun-alun utara yang sunyi, mengajak raja (atau seseorang) haruslah memiliki pandangan yang penuh konsentrasi, mengosongkan segala keinginan, agar lurus  ke utara (pucuk gunung Merapi, personifikasi  keillahian). Tidak tergoda di jalan  simpang  ‘Pengurakan’  (antara Kantor Pos dan Gedung BNI kini). Juga agar tidak tergoda pada kenikmatan dunia di sepanjang jalan (antara Senopati, Malioboro, Tugu, dengan adanya pasar Beringharjo, tempat aneka rupa makanan), demikian juga tidak tergoda oleh pangkat dan simbol kebendaan (disimbolkan pada bangsal Kepatihan di Malioboro). Tapi terus lurus ke utara, dari pucuk tugu pal putih (tugu golong gilig, simbol bersatunya titik fokus kawula-Gusti), untuk kemudian sampai pada tingkat semadi sempurna, berkonsentrasi sepenuhnya pada Tuhan seru sekalian alam. Kalau cuaca baik, cobalah kita berada di belakang kursi tahta raja Yogyakarta di bangsa Witana, dan memandang lurus ke utara, maka seolah kita melihat tv-wall raksasa, dengan pemandangan sepanjang alun-alun utara, malioboro, tugu, hingga puncak gunung Merapi.

Perjalanan Ketika Raja Mangkat | Pelajaran simbolis lain, pada perjalanan Sultan ke kraton, sebagai gambaran bahwa manusia akan berpulang ke alam baka. Meninggalkan Sitihinggil, raja akan sampai ke Kemandungan Lor dan melihat pohon ‘Keben’. Maknanya, tutuplah (tangkeben) mata, telinga, dan rasa, sebab akan menginjak kepada kematian.
Kemudian di Srimanganti, raja dijemput oleh permaisuri dan putra-putrinya, sebagai gambaran ketika sudah menginjak ke alam barzah. Datangnya dua orang bupati nayaka,  yang bertugas menyampaikan perintah dan menyampaikan berita dari luar, adalah perlambang datangnya dua malaikat, yang memberikan pelajaran pada sang mati di alam barzah.
Dari Srimanganti raja menuju bangsal ‘Trajumas’ untuk mengingatkan agar kita selalu   dapat menimbang  perbuatan yang betul dan salah. Dari bangsal ini, pandangan  diarahkan ke selatan pada gedung ‘Purwaretna’ agar raja selalu ingat pada asal muasalnya.
Pada regol ‘Danardapa’, raja diingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bisa mengalahkan nafsu pribadinya, dan memberi serta meninggalkan kenikmatan duniawi  kepada orang lain. Melewati plataran kedathon, menaiki bangsal Kencana, raja diingatkan akan bersatunya kawula-Gusti (manusia  bertemu Tuhan), untuk kemudian  masuk ke gedung Prabayeksa, dengan lampu yang tak kunjung padam bernama Kyai Wiji. Menurut kepercayaan Jawa, perjalanan roh akan mengikuti jalannya cahaya, yang tetap pada keabadian.
Dan terakhir, di sebelah kanan ‘prabayeksa’ terdapat Gedhong Kuning. Di sini gambaran roh-roh yang telah hening, bening, di keabadian sorgawi (Kraton Ngayogyakarta  Hadiningrat, Makna Simbolik Perjalanan Hidup Manusia, Sunardian  Wirodono, Harian Kedaulatan Rakyat, 15 September  1991).                


Berziarah Pada Peradaban Budaya | Berwisata ke kraton, ke tempat-tempat bersejarah, mestinya adalah berziarah pada kebudayaan. Akan sama dengan membuka kitab-kitab pusaka, tentang bagaimana menjadi insan peradaban bangsa dibangun.
‘Inside to kraton today’ akan bermafaat ganda. Meski tentu para guide harus ditatar terlebih, untuk bisa berkomunikasi dengan idiom-idiom aktual (kata orang: yang lebih rasional). Bukan hanya pengagungan segi mitos atau keangkerannya saja. Sebab dari segi faktual saja, berdasar konsep bangunan HB I, semua mengandung filosofi dan alasan dari segi letak dan bentuknya. Dan teks untuk menjelaskan itu, masih tersimpan di kraton.
Kita masih ingat, HB IX sudah menyiratkan bagaimana sikap sebaiknya dalam menghadapi alam tradisi dengan gejala modernitas. Sikap beliau sendiri tegas, sebuah sintesa dari renungan panjang. “Meskipun saya berpendidikan Barat, tetapi saya adalah dan tetap orang Jawa.” Waktu itu beliau 28 tahun, masih muda tetapi reflektif.
Dengan sikap itulah, beliau mampu menerjemahkan nilai-nilai kraton untuk diimplementasikan dalam tindakan nyata, rasional, relevan dengan jamannya. 
Para peziarah budaya, untuk mendapatkan berkah  dalam pengertian rasional, selain dipuaskan mripatnya mestinya juga akan dipuaskan hatinya, nuraninya, dan jiwanya. Konon itulah pariwisata yang sebenarnya. Bermanfaat pada jiwa, mensyukuri nikmat Allah, mengagumi dan mendapatkan inspirasi bagi kehidupan sosialnya.