Sabtu, Juli 19, 2014

22 Juli 2014, Hari Gerakan di Rumah Saja


Add caption
Sebanyak 245.000 polisi diturunkan oleh Polri untuk pengamanan penghitungan suara di KPU pada 22 Juli 2014. Demikian juga, TNI bakal gelar pasukan dengan alat beratnya. Sementara itu, dari kubu Prabowo-Hatta, akan menurunkan ribuan relawannya ke gedung KPU. Organisasi buruh pendukung Prabowo, juga akan menurunkan puluhan ribu pendukungnya. Mereka semua beralasan dan bertujuan: Agar KPU tidak diintervensi, merasa aman dan nyaman dari kerusuhan.
So? Bagi pendukung Jokowi-JK, bermainlah cantik dan cerdas. Jika semua pendukung Jokowi-JK tetap tinggal di rumah, atau yang bekerja tetap tinggal di kantor atau di tempat kerjanya, tidak turun ke jalan, kalian akan memenangkan teori perang jebakan Batman ini. Biarkan siapapun yang ingin bertarung dengan bayangannya sendiri melawan angin sampai ndeprok.
Usahakan tanggal 22 Juli 2014 sama sekali tidak keluar rumah. Cukupkan kebutuhan logistik pada tanggal itu. Kita tinggal nonton televisi, dan siapkan senjata di tangan, yaitu handphone untuk terus berkorespondensi saling berkabar. Saling kirim foto selfi juga boleh.
Itu juga cara untuk menjaga keamanan. Kalau pro Jokowi tak satu pun di jalan, dan tempat-tempat publik steril dari kita, maka jika “ada apa-apa” bukan kita yang membuatnya. Dan dengan gampang kita tahu, siapa yang inginkan itu semua. Hayo, patahkan strategi perang kota itu dengan perang foto selfi dari rumah masing-masing.
Tentu meluapkan kegembiraan asyik-asyik saja. Tapi, turun ke jalan dengan pawai rakyat, kenduri rakyat, memakai atribut pilpres, dan sebagainya, nanti deh dipikir ulang. Bersabar, jangan model Orba yang suka mutlak-mutlakan. Kalau kita norak, di mana perbedaannya? Kemenangan Jokowi, karena perbedaannya.
Jadilah masyarakat warga yang cerdas dan terdidik. Jangan mudah terpancing dan terprovokasi. Percayakan pada para profesionalnya. Kalau sudah ada biang kerusuhan profesionalnya, percayakan pada mereka. Dan percayakan juga pada tim pengamanan profesionalnya juga. Kita tinggal menikmati di rumah, nonton TV dari sajian para professional di lapangan.
Kita masyarakat sipil cinta damai, bisa belajar demokrasi yang lebih cantik dan bermartabat. Setelah berjuang dan berupaya, selebihnya berpasrah pada Sang Seru Sekalian Alam, Allah subhanahu wa ta’alla.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar