Sabtu, Juni 21, 2014

Pilpres 2014, Mari Berlomba Menjadi Kenthir



Ijinkan menulis soal perkenthiran mengenai Pemilu 2014 di Republik Indonesia ini, sebagai upaya untuk berfikir dengan logika merdeka, dan menolak tidak merdeka, apalagi kenthir.
Dalam nahimunkar.com (17/6) ditulis; “Forum Ulama Akhirnya Keluarkan Fatwa: Haram Hukumnya Memilih Jokowi-JK”, dan tulisan itu mudah ditemui di seantero laman internet. Ketua Forum Ulama Umat Indonesia(FUUI), KH Athian Ali Lc, MA. menegaskan haram memilih Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019, dan ia menyatakan secara tegas dan bertanggung jawab di hadapan Allah. Allahuma amin!
Adalah hak saya pribadi menolak ajakan itu, karena FUUI tidak menyatakan bahwa secara terbuka dan eksplisit bahwa memilih Prabowo-Hatta Radjasa adalah halal. Dengan logika sederhana saya, tapi merdeka, tidak adanya pernyataan yang saya harap itu, FUUI tidak amanah. Kalau tidak amanah, gimana saya mempercayai? Kalau menyatakan kebenaran tapi malu-malu kucing, sungguh kasihan kucingnya.
Eh, tiba-tiba ada politisi pendukung Jokowi-JK menulis di FB bahwa “Prabowo Jelmaan Iblis atau Dajjal yang Menyamar Jadi Manusia” (itu menurut nahimunkar.com., 19/6). Waduh, segitunya, sampai-sampai ada postingan sang Wimar Witular yang mengatakan bla-bla-bla. Atau postingan gambar cover Koran Berita Buana tentang “Letjen Prabowo Dipecat dari ABRI” dari Neta S. Pane di laman facebooknya (13/6) melalui BlackBerry Smartphones App (hihihi sponsor) dan tulisnya: “OBOR RAKYAT NEWS: Siapa bilang Prabowo tidak dipecat dari ABRI? Ini buktinya, Berita Buana edisi Agustus 1998 saat aku jadi Redaktur Pelaksana di koran itu. Lalu, apakah Jenderal yg sdh dipecat masih pantas jadi presiden? Hati nurani Rakyatlah yg menetukan 9 Juli besok. OBOR RAKYAT NEWS hanya menunjukkan fakta2 saja dan bukan memfitnah. Oke Bos....... wakakakkakk”.
Sementara di Tempo.Co (20/6) ditulis berita: “Top of FormKhatib Jumat Bandingkan Prabowo dengan Rasulullah”. Lukmanul Hakim, sang khatib salat Jumat di Masjid Cut Meutia, Jakarta Pusat, membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan calon presiden Prabowo Subianto. Dalam khotbahnya di depan ratusan jemaah masjid itu, khatib mengimbau masyarakat mencari pemimpin yang taat pada Tuhan dan mencintai rakyat. "Bayangkan Nabi Muhammad, begitu dihargai dan dicintai rakyatnya," ujar Lukmanul. "Mari doakan agar Pak Prabowo terpilih dan menjadi presiden," kata Lukmanul dalam khotbahnya, Jumat, 20 Juni 2014. Khatib yang tinggal di Kampung Melayu, Jakarta Timur, itu pun memuji Prabowo sebagai figur amanah, layaknya Rasulullah.
Sementara sebagai ketua Tim Pemenangan, Prof. Moh. Mahfud MD, setelah mendengar pernyataan Wiranto soal pemecatan Prabowo dari militer dan dugaan pelanggaran HAM, mengatakan,"Sebelum G-30 S PKI terjadi, ada juga pelanggaran HAM. Umat Islam banyak yang dibantai, jenderal-jenderal banyak yang dibantai, itu yang bertanggung jawab adalah Bung Karno sebagai Presiden," kata Mahfud dalam pidatonya. Dan itu membuat berang Rachmawati Soekarnoputri, yang menjadi salah satu timses Prabowo-Hatta. Wkwkwkwk, kenthir. Mahfud yang konon dekat dengan NU itu lupa, lewat musyawarah dan bahtsul masa'il, ulama-ulama NU memberi gelar "waliyul amri dhoruri bisyaukah" kepada Presiden Sukarno (1953).
Bagaimana melihat hal ini? Mahfud dalam sebuah pidatonya yang bagus banget, mengatakan soal siyasah dan agama, yang intinya agama boleh dibawa, jika untuk berjuang. Problemnya, berjuang untuk memenangkan capresnya dengan segala cara, Prof? Jangan sembunyikan ayat lainnya yang bisa membantah logika sampeyan.

Soal politik dan agama, dari sejak jaman dulu memang menjadi persekongkolan kenthir dan terlalu menghina-dinakan “logika” Allah yang “menciptakan” agama-agama itu. Yang dipraktikkan di Indonesia, lebih banyak kekenthiran dan mudharatnya, daripada manfaatnya. Jika kita hanya bersandar pada logika kepentingan, orang kenthir mungkin lebih mulia, karena dia tak punya kepentingan.
Coba saja ingat, duluuuuu bagaimana Fadli Zon (detikNews, 20/6) memberikan pernyatan tertulis (sekali lagi tertulis, Beib) pada 21 September 2012, yang isinya memuji Jokowi seperti Umar bin Khattab. Tulis Fadli Zon, Umar bin Khattab yang mengunjungi rakyat di pasar dan rumah-rumah mereka secara langsung, bukan diwakili, begitu juga Jokowi. Saat mengunjungi rakyat, Umar bin Khattab tidak membawa orang untuk mengawalnya karena alasan keamanan disebabkan rasa takut. Begitu juga dengan Jokowi, karena dengan keadilannya memimpin, rakyat mencintai bukan membenci,…” Qiqiqiqiqi, tentu saja, ceritanya waktu itu Fadli Zon mendorong Jokowi sebagai cagub DKI Jakarta.
Ditulisnya lebih lanjut, “Umar bin Khattab biasa memakan makanan/menu yang dimakan oleh rakyat miskin, Jokowi biasa makan di warteg apa adanya.”
Oh, betapa mulianya para penyanyi ndangdhut yang memamerkan susu dan udelnya, “Cintaku buta, oh, cintaku pada uang,…”
Siapa tidak ‘kan kenthir melihat penyanyi ndhangdut itu memuter-muter pantat sambil menjulurkan lidahnya? Tapi saya tetap tidak kenthir kok. Kalau horny, mungkin.
Pada sisi lain, lembaga Survei Vox Populi: merilis hasil surveynya “Jokowi Hanya Unggul pada Pemilih Tidak Tamat SD” (Tempo.Co., 20/6), kalah dari pasangan capres-cawapres, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, di hampir berbagai tingkatan kelompok pemilih yang disurvei. Jokowi-JK hanya unggul pada kelompok pemilih yang tidak tamat SD. "Pada tingkatan pemilih tidak tamat SD, mereka menginginkan pemimpin yang sederhana, pemimpin yang suka blusukan," ujar Direktur Eksekutif Vox Populi Survei, Basynursyah, saat memaparkan hasil survei di Whiz Hotel Cikini, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Jumat (20/6/2014).
Kita tidak tahu, yang kenthir media yang memuat rilis survey itu atau lembaga surveynya.
Sementara itu, Burhanuddin Muchtadi dari Indikator mengatakan di media (emang mau di mana lagi kalau bukan di media? Di kamar mandi? Siapa yang meliput!), “kelas menengah kita emosional dan mengandalkan persepsi.” Konteks kalimatnya, ia menyayangkan fanatisme pada Jokowi. Pernyataan yang aneh, karena Burhanuddin pun juga memakai persepsi. Semua orang yang bekerja di lembaga survey, tentu saja memakai persepsi. Mereka mempersepsikan sample 1000 orang namun dapat mewakili populasi misalnya. Atau, cobalah Burhanuddin membaca novel kisah pedang samurai Miyamoto Musashi deh. Persepsi adalah melihat dengan pikiran. Bukan sekadar pengamatan yang melihat dengan mata. Tetapi pikiran yang muncul dari kedalaman hati, bukan ukuran emosionalitas semata. Pikiran yang orisinial atau otentik bisa muncul dalam relasi seperti itu, termasuk pada yang berada di luar perspektif pikiran mainstream kita. "Ini yang mengherankan. Kok bisa orang dengan pendidikan tinggi lebih ke Prabowo," kata Burhanuddin insinuatif. Bisa kenthir mendiskusikan ini. Indikator apa coba?
Senyampang dengan itu, “Puluhan Orang Demo KPU Minta Debat Capres Berbahasa Inggris” (detikNews, 19/6). Massa yang berjumlah sekitar 30 orang itu mendatangi kantor KPU. Mereka membawa spanduk berwarna merah putih dengan tulisan 'Presiden Indonesia Harus Cerdas Bisa Bahasa Internasional'. Mereka menilai presiden perlu kemampuan bahasa Inggris yang matang. "Masa mau pakai bahasa Jawa? Jadi buruh saja harus paham bahasa Inggris, karena bahasa Inggris itu bahasa internasional," imbuh sang coordinator demo.
"Indonesia harus dipimpin oleh pribadi yang mempunyai wawasan internasional sehinggga kita tidak malu bila presiden kita disejajarkan dengan pemimpin negara lain," tegasnya bersama 29 temannya. 30 orang cing, dengan pemikiran kenthir itu bisa nongol di televise dan media cetak serta online.
Siapa yang kenthir, yang melakukan aksi itu atau media yang memuatnya? Oh, ini demokrasi Mas, semua mendapat tempat semua boleh ikut serta dengan percuma, tut, tut, tut, siapa hendak turut!

Hingga betapa mengharukannya, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tampak berdiri diam saat keluar dari Gedung Sasana Manggala, Bandara Halim Perdanakusuma, di Jakarta, Jumat (20/6/2014) sore, setelah melakukan perjalanan ke Republik Fiji. Sejumlah menteri memutuskan untuk lebih dulu pulang, padahal dulu sebelumnya baru berani pulang kalau mobil RI 1 sudah meninggal bandara terlebih dahulu. Politik bisa membuat kita kenthir. “Massa yang besar lebih menerima daya tarik retorika daripada hal-hal lain,” sabda Hitler sang fasis, yang agaknya lebih diturut para mulia itu.
Ini sudah semakin menyebalkan.
Kita buktikan, 190 juta pemegang suara dalam Pilpres nanti, berapa yang ikut kenthir dan yang normal-normal saja. Segeralah 9 Juli 2014, sehingga kita segera memasuki proses kenthir berikutnya, yang bisa jadi lebih kenthir sekenthir-kenthirnya.

2 komentar: