Minggu, Juni 15, 2014

Pilpres 2014: Antara Cinta Buta dan Benci Buta


Plato pernah berujar ‘cinta adalah penyakit mental yang serius’.  Kita tidak tahu, adakah Plato yang filsuf itu pernah jatuh cinta dan ditolak cintanya. Tapi, mungkin kita semua lebih filsuf dibanding Plato ketika berkait dengan hal itu, termasuk dalam cinta buta, cinta melek, dan bahkan benci buta atau pun benci melek.
Yang pasti, sikap bodoh akan melahirkan tindakan bodoh, dan perlahan akan ketahuan kebodohannya itu. Darmawan Sepriyosa sudah mengaku di depan media dan public, bahwa dia terlibat dalam penerbitan tabloid ‘Obor Rakyat’, sebagaimana demikian pula Setiyardi, assisten staf khusus kepresidenan biro Pembangunan dan Otonomi Daerah.
Kenapa Setiyardi membuat Obor Rakyat? Kita semua sudah membaca pengakuan dia di depan publik. Di forum diskusi Warung Daun Cikini (14/6), dengan memakai baju kotak-kotak khas Jokowi dia berkata; "Saya pakai kotak-kotak karena saya warga Jakarta yang dulu pilih Jokowi waktu jadi Gubernur. Saya juga merasa berhak pakai baju kotak-kotak seperti ini,…"
Wah sadar teater banget. Padahal, jika catatan dirinya belum dihapuskan, Setyardi merupakan bagian dari anggota Tim Sukses Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli di Pilkada DKI 2012.
Sebagai salah satu ungkapan kecewa maka Setiyardi berinisiatif mencetak tabloid Obor Rakyat bersama seorang rekannya (Darmawan Sepriyosa). Dia pun menegaskan bahwa nama asli dia cantumkan di tabloid itu. Sementara Darmawan mengaku memakai nama samaran karena secara etik jurnalistik dia terikat karena bekerja di media lain, inilah.com (yang ternyata juga pimrednya adalah Setiyardi, hahaha, makin aneh logika keduanya).
Setiyardi menyatakan bahwa Obor Rakyat adalah murni karya jurnalistik. Meski pun dia tak tuliskan alamat kantor redaksi di tabloid. "Itu karena waktu itu saya bingung mencari kantor redaksi. Karena masih merintis jadinya saya pikir tak apa-apa kalau tidak cantumkan alamat. Sebenarnya kami sudah cantumkan alamat di website, tapi website kami di-hack," kilah Setiyardi, yang hebatnya ngaku minta cuti dari dinas untuk bisa mengelola tabloid 'Obor Rakyat'. 
Percaya, atau mau tertawa? Begitu simple dan naifnya. Sementara keduanya juga membuat media online dengan nama lain, juga tanpa alamat, yang isinya hanya menghantam Jokowi.
Pemimpin Redaksi "Obor Rakyat" ini juga mengatakan uang yang digunakan untuk mengerjakan dan menerbitkan tabloid "Obor Rakyat" diambil dari kantongnya pribadi. Dia membantah ada pihak-pihak tertentu yang membiayainya. "Biayanya itu rahasia perusahaan. Itu dari saya sendiri. Ada yang menyumbang ke rekening Jokowi, itu ekspresi rakyat bergembira, sumbangan bisa beragam, ada yang sumbang spanduk, stiker, dan lain-lain. Saya sebagai warga negara menyumbang tabloid," kata Setiyardi (DetikNews, 14/6). Rasanya, ini lelucon paling kocak.
Dia mengatakan staf redaksi yang mengerjakan tabloid ini hanya berdua, dia dan Darmawan Sepriyossa. Dia mengatakan dia dan Darmawan sendiri yang mewawancarai beberapa narasumber. Hal itu menurut dia, mudah karena wawancara bisa dilakukan melalui telepon.
"Saya maunya tidak hanya ke pesantren. Saya ingin ke semua rakyat Indonesia dan ke Pak Jokowi juga tetapi kemampuan saya terbatas. Saya berharap ada yang sumbang saya baik dari tim Jokowi atau Prabowo, supaya saya melanjutkan apa yang sudah saya rintis," kata Setiyardi (Pikiran Rakyat, 14/6).
Itu karena sudah ketahuan. Kalau tidak ketahuan? Tentu saja akan diam saja dan terus mencetak dan menyebarkan Obor Rakyat. Bagaimana bisa ketahuan? Sikap bodoh, tindakan bodoh, akan segera ketahuan secara sederhana saja.
Terbongkarnya nama Darmawan terjadi karena blunder. Pada akhir April 2014, Darmawan sempat menghubungi Gun Gun Heryanto, Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah untuk menulis tentang PDIP buat tabloid Obor Rakyat.
Gun Gun menyanggupi dan mengirimkan tulisannya karena tak menyangka bahwa karyanya itu akan dimuat di sebuah tabloid propaganda anti Jokowi. Begitu Obor Rakyat terbit, dengan segera Gun Gun pun dipersoalkan oleh kenalan-kenalannya yang menganggap dia sudah menjadi tim sukses Prabowo.  Tak terima dituduh begitu, Gun Gun pun bercerita pada publik tentang sejarah kelahiran artikelnya.
Dan dengan mekanismenya sendiri, publik dan media telah sampai pada pengakuan Darmawan dan Setiyardi. Sementara Bawaslu, Polisi, dan BIN, malah sibuk membuat alibi khas Orde Baru. Mana yang ini mana yang itu, melakukan buying time.
Setiyardi Boediono adalah loyalis SBY, teman sekelas Andi Arief yang staf khusus kepresidenan biro Bencana Alam. Di biro kepresidenan SBY, SB menjadi assisten Velix Wanggai, staff khusus kepresidenan biro Pembangunan dan Otonomi Daerah.
Setiyardi pernah mengenyam pendidikan di STT Telkom Bandung, tapi tidak tamat karena lebih menekuni profesi wartawan. Meski mengaku ‘membenci’ Jokowi namun tidak memihak Prabowo, Setiyardi sebagai komisaris salah satu BUMN ini, pernah mengatakan tujuannya mendukung Prabowo-Hatta adalah adalah untuk menjaga kehormatan SBY, dan tidak mau dianggap berkhianat pada SBY serta jangan sampai PDIP dan Jokowi berkuasa memenangkan Pilpres.
Namun setelah kasus Obor Rakyat ini terbongkar, ucapannya berubah lagi.  Bahkan, ke depan, dia masih berencana terus menerbitkan tabloid "Obor Rakyat". Tidak menutup kemungkinan dia juga ingin mengkritik Prabowo. Namun, hal itu menurutnya akan sangat bergantung pada kemampuan finansialnya. Sebelumnya "Obor Rakyat" diterbitkan 100 ribu eksemplar dan dikirim ke banyak tempat.
Kenapa tidak sejak pertama menerbitkan Obor Rakyat tidak sekalian Jokowi-Prabowo sebagai obyek tulisannya? Alasannya tak kalah simple, waktu itu, baru Jokowi yang dicalonkan sebagai presiden (menjelang Pileg 9 April). Dan ia pura-pura tidak tahu, bagaimana Prabowo sudah setahunan lebih mengiklankan diri sebagai calon presiden di Pemlu 2014. Bahkan, Mahfud MD sendiri terang-terangan pada pers mengatakan, Prabowo sudah dua tahun menginginkan diri menjadi presiden. Kura-kura dalam perahu?
Baiklah dan biarlah. Namanya juga alasan, setidakmutu apapun. Sekelas assisten staf khusus kepresidenan dan komisaris BUMN bersikap seperti itu, adalah sah. Kita tinggal menilai pantas atau tidaknya. Mungkin kalau soal kepantasan, agak sedikit lebih baik yang dilakukan oleh anak Rhoma Irama, yang mengancam akan pindah propinsi kalau Jokowi nyapres (entah sudah dilakukan belum), atau akan pindah ke luar negeri kalau Jokowi jadi presiden. Dan sepertinya melanggaran aturan umum adalah wajar, berbekal kekecewaan pribadi. Kalau seorang Jendral kecewa karena jagoannya kalah terus nembaki orang sepasar bagaimana, karena dia tidak bisa bikin tabloid?
Bayangkanlah tindakan orang di ruang publik bisa se-simple itu. SB mencintai Jokowi (jadi gubernur DKI) kemudian membenci Jokowi (karena merasa dikhianati, ditinggalkan nyapres), terus kemudian membuat tabloid, menurut LP3Y, Dewan Pers dan LIPI, berisi pencemaran nama baik dan bukan karya jurnalistik, menyebarkannya ke desa dan pesantren, dan kini tetap akan terus (hendak) menerbitkan Obor Rakyat. Bagaimana itu semua bisa terjadi di negeri Pancasila yang penuh dengan aturan hukum dan perundang-undangan ini? Itu namanya benci buta karena cinta buta. Atau di sini Bawaslu, Polri, BIN, dan sebagainya lembaga terhormat itu, juga terlibat dalam cinta buta dan benci buta?
Maka meleklah dalam bercinta dan membenci, agar tidak tersesat makin jauh. Soal pemilu, pileg, pilpres, mestinya masih bisa didekati dengan akal sehat, kecuali kalau kita tidak punya. Dalam demokrasi, suka dan tidak suka, dukung dan tidak dukung, setuju tidak setuju, itu biasa, dan tinggal dihitung dalam angka. Jokowi dibilang mengkhianati Jakarta, tetapi dalam pileg 9 April lalu, PDIP menang di Jakarta, ini fakta bahwa langkah Jokowi dijadikan capres didukung dalam perolehan suara rakyat di DKI dengan memenangkan PDIP (setelah dua kali kalah di DKI).
Ketika KPU sudah menetapkan Jokowi dan Prabowo resmi jadi capres, tinggal kita lihat bagaimana keduanya membujuk kita dengan akal sehat. Soal ajakan Anis Matta dan Amien Rais untuk ‘pilihlah presiden yang tampan dan kaya harta’, anggap saja itu kampanye hitam yang kehabisan kata-kata. Tetap fokus pada akal sehat, mencermati performance para capres dan gerak-geriknya, baru kemudian tentukan. Tak ada kaitannya dengan Perang Badar atau Perang Bharatayudha.
Di Indonesia banyak orang pinter, tetapi kata Gus Mus, belum tentu yang pinter itu terdidik, karena soal moralitas itu soal lain lagi.
Karena cinta dan benci buta bisa membuat kita kehilangan akal. Contoh, misalnya, tim Prabowo-Hatta akan memolisikan penyebar surat rahasia DKP, soal pemberhentian Prabowo dari dinas militer. Eh, ternyata diakui oleh Prof. Mahfud MD, dialah yang memerintahkan menyebarkannya, karena dia tahu bahwa Prabowo diberhentikan dengan hormat, bukan dipecat. Jadi, siapa yang mau dipolisikan oleh tim hukum Prabowo-Hatta? Mahfud MD?
Juga ketika Mahfud Siddiq mengritik rekening untuk Jokowi-JK dari rakyat sebagai sesuatu yang tak pantas, karena dianggapnya mengemis, kini bagaimana pendapatnya ketika akhirnya Prabowo-Hatta juga melakukan hal serupa, dengan yang dinamainya Dana Aspirasi? Cinta buta bisa membuat kita tidak proporsional dalam bersikap. Jadi? Tenang sajalah, 9 Juli 2014 tetap hak mutlak rakyat untuk menentukan pendapatnya. Dan mereka jauh lebih banyak dari jumlah elite yang mengaku mempunyai jutaan pengikut.
Kalau nanti Jokowi jadi presiden, apakah yang anti mau bikin Negara sendiri dengan mengangkat Prabowo jadi presiden? Kalau Prabowo jadi presiden, apakah yang mendukung Jokowi harus dimusnahkan? Itu terlalu lebay binti alay dalam demokrasi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar