Selasa, Juni 10, 2014

Orang Jujur Tak Perlu Belajar Pidato


Gema debat capres masih melingkupi ruang kita hari-hari ini. Ada tiga kelompok yang bisa disebut. Yang pro Prabowo menganggap pasangan PS-HR lebih hebat, dan itu biasa. Sama biasanya dengan yang pro Jokowi memuji-muji pasangan JW-JK, mereka adalah kelompok fanatic dan setia. Ada juga kelompok skeptis yang menganggap keduanya sama saja, serta bersikap pasif. Kelompok ketiga, yang secara objektif mampu berjarak dan menilai pada substansi kualitas kontestan yang berdebat.  Tiga kelompok ini bisa dipadatkan lagi menjadi dua kelompok, yang tetep keukuh dengan pendapatnya, tanpa hirau pada apa yang terjadi, dan kelompok yang mau mencermati. Meski kelompok kedua ini, masih bisa dipecah menjadi dua, atau tiga, dan seterusnya, tergantung sikap yang mereka mau tentukah. Ikut menjatuhkan pilihan, atau tetap saja wait and see.
Terlibat dalam dinamika politik berbangsa dan bernegara, dalam pilpres misalnya, masih merupakan persoalan. Karena generasi ini, tidak memiliki preferensi memadai, bahwa demokrasi adalah kepentingan kita. Sebagaimana Bertold Brecht mencoba meyakinkan, mereka yang apolitis, sama saja bersepakat membiarkan kejahatan politik berlangsung. Kejahatan politik bisa termanifestasikan dalam perilaku kepolitikan kita dalam berbangsa dan bernegara. Dan itu artinya, memberi keleluasaan pada elite politik bekerja tanpa pengawasan.
Padahal, dengan dua capres saja, sebenarnya sangat mudah untuk menilai dan memilih di antaranya.  Perbedaannya sangat tajam dan jelas. Namun yang hitam-putih itu, dalam politik kita, masih direcoki dengan ukuran-ukuran yang abstrak dan absurd, yang tidak mempunyai korelasi atau sebaiknya memang sudah tidak penting lagi menjadi perdebatan. Karena munculnya capres, tentu melalui KPU tidak seperti membeli kucing dalam karung. Proses penentuan dan pengesahan capres melalui peraturan dan pengukuran yang sudah disepakati bersama dan correct.
Namun ketidak siapan dalam berdemokrasi, menyebabkan munculnya banyak pandangan subyektifisme yang didesakkan, karena agenda-agenda kepentingan masing-masing pihak di kitarannya. Politik kekuasaan kita, masih dalam era transaksional dan bukan partisipasi.
Ajakan Jokowi agar pilpres menjadi kegembiraan politik, masih akan menemui hambatan, karena paradigma kepolitikan kita yang sejak reformasi 1998 justeru menunjukkan keinginan untuk set-back, kembali ke alam Orde Baru yang mutlak-mutlakkan.
Para pengamat politik dan ahli public speaking, masih tetap berpegangan pada teori-teori materialistic, dan tak mampu menangkap aspek spiritualitas yang selalu menjadi inspirasi perubahan.
Dalam debat capres seri I, semua teori itu rontok nyatanya, meski masih ada yang memasalahkan bahwa tidak articulatednya seorang capres, berpengaruh negative. Dan ternyata pendapat itu tidak tepat. Feedback yang tercatat dari Politicalwave menunjuk hal berbeda. Bahwa content jauh lebih penting dari cara.
“Sepandai-pandainya orang belajar pidato di John Robert Power, atau di berbagai kursus presentasi, kejujuran dan kebohongan akan terbaca,” demikian pendapat Jay Wijayanto, Choir Master di The Indonesia Choir, lulusan Komunikasi UGM, dan salah satu pelatih vocal yang paling disegani di Indonesia. Orang jujur tidak perlu belajar bicara di depan umum. Karena kejujuran dan kewajaran selalu membuat orang jatuh hati. Dan menurut Guruh Sukarnoputra, jamannya berbeda. Anak bungsu Sukarno itu mengatakan gaya Sukarno dibutuhkan oleh jamannya. Dan ia merasa kasihan pada siapapun yang sekarang menirukan gaya Sukarno. Kalau soal pemikiran, relevansinya ada pada substansi pendekatan masalah, bukan pada packaging, yang membuat Amien Rais jatuh hati dan mengatakan Prabowo adalah ‘Bung Karno Kecil’.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar