Minggu, Juni 29, 2014

Garuda Pancasila, Sejarah dan Makna


Setelah Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949, disusul pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda melalui Konfrensi Meja Bundar pada 1949, dirasa perlu Indonesia (yang pada saat itu bernama Republik Indonesia Serikat) memiliki lambang negara. Pada 10 Januari 1950, dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II. Presiden Soekarno menugaskan Sultan Hamid II (1913-1978, kelahiran Pontiana, bernama asli Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, Sultan Pontianak), merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang Negara. Susunan panitia teknis: Muhammad Yamin sebagai ketua, dan beranggotakan Ki Hajar Dewantara, MA Pellupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Poerbatjaraka bertugas menyeleksi usulan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.
Dalam buku “Bung Hatta Menjawab” dijelaskan terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin, dan pemerintah serta DPR menetapkan rancangan Sultan Hamid II. Alasannya, mengacu kepada ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, dengan sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila yang divisualisasikan dalam lambang Negara itu.

Sultan Hamid II (1913-1974)
Namun tidak sekali proses, karena Presiden RIS, Ir, Sukarno dan PM Mohamad Hatta, terus melakukan penyempurnaan rancangan itu dengan Sultan Hamid II.  Mereka bertiga sepakat mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika".
Tanggal 8 Februari 1950, rancangan lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan kembali. Masjumi keberatan terhadap gambar burung Garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai, dan dianggap terlalu bersifat mitologis.
Setelah diskusi yang seru, dengan mempertimbangkan berbagai masukan, Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya, lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.
Namun Soekarno tampaknya terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950, beliau memerintahkan Dullah, pelukis istana, melukis kembali rancangan tersebut. Antara lain dengan penambahan "jambul" pada kepala Garuda Pancasila, mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita (semula di belakang pita menjadi di depan), atas masukan Presiden Soekarno. Menurut Soekarno, menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip bald eagle (lambang Negara Amerika Serikat).
Sultan Hamid II sendiri ikut menyelesaikan penyempurnaan bentuk final, dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang Negara (lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974). Rancangan Garuda Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari perunggu berlapis emas, disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, ditetapkan sebagai lambang negara Republik Indonesia, dan desainnya tidak berubah hingga kini.

Filosofi Garuda Pancasila. Garuda Pancasila adalah burung Garuda yang sudah dikenal melalui mitologi kuna dalam sejarah bangsa Indonesia (Nusantara). Ia kendaraan Wishnu yang menyerupai burung elang rajawali. Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.
Mitologi garuda berasal dari kebudayaan Hindu. Garuda digambarkan sebagai manusia burung dengan bulu keemasan, dan memiliki mahkota di kepalanya. Konon ukuran tubuh garuda sangatlah besar sehingga mampu menutupi matahari. Garuda juga sering digambarkan sebagai kendaraan Vishnu. Dalam Mahabarata, konon saat Garuda lahir dari telurnya, bumi gonjang-ganjing (bergetar), sehingga para dewa memohon padanya untuk tenang. 

Garuda adalah anak Kasyapa dan Vinata. Vinata memiliki utang terhadap Kadru, ibu para ular karena suatu pertaruhan. Untuk menghapus utang tersebut, Garuda diminta Kadru untuk memberikan obat keabadian yang disebut Amrita padanya. Garuda kemudian mencuri Amrita dari tempat para dewa. 
Namun meskipun para dewa bersatu menghadang Garuda, mereka bukanlah tandinganya. Dalam perjalanan pulang, Garuda bertemu dengan Vishnu, Vishnu berjanji akan memberikan keabadian pada Garuda biarpun tanpa meminum Amrita. Sebagai gantinya, Garuda menjadi kendaraan Vishnu.
Garuda kemudian bertemu dengan Indra, dan sekali lagi dia mendapat penawaran. Garuda berjanji akan memberikan Amrita pada Indra, dan Indra akan memberikan para ular sebagai makanan Garuda. Akhirnya Garuda memberikan Amrita pada para ular untuk menghapus hutang ibunya. Setelah Amrita diberikan, Indra turun dari langit, merebut Amrita, dan menghabisi para ular. Sejak saat itu Garuda menjadi rekan para dewa. Tunggangan kebanggan Vishnu, sekaligus menjadi musuh utama para ular.
Deskripsi Simbol. Warna keemasan pada burung Garuda melambangkan keagungan dan kejayaan.. Memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan. Jumlah bulu Garuda Pancasila melambangkan hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, yakni: 17 helai bulu pada masing-masing sayap, 8 helai bulu pada ekor, 19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor, dan 45 helai bulu di leher

Perisai Garuda. (1) Perisai adalah tameng yang telah lama dikenal dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai bagian senjata yang melambangkan perjuangan, pertahanan, dan perlindungan diri untuk mencapai tujuan. (2) Di tengah-tengah perisai terdapat sebuah garis hitam tebal yang melukiskan garis khatulistiwa yang menggambarkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa membentang dari timur ke barat. (3) Warna dasar pada ruang perisai adalah warna bendera kebangsaan Indonesia "merah-putih". Sedangkan pada bagian tengahnya berwarna dasar hitam. (4) Pada perisai terdapat lima buah ruang yang mewujudkan dasar negara pancasila.

Pengaturan lambang pada ruang perisai adalah sebagai berikut: (1) Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima berlatar hitam
(2) Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai berlatar merah
(3) Sila Ketiga: Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin di bagian kiri atas perisai berlatar putih
(4) Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan atas perisai berlatar merah
(5) Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih.

Pita Bertuliskan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kedua cakar Garuda Pancasila mencengkeram sehelai pita putih bertuliskan "Bhinneka Tunggal Ika" berwarna hitam.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata "bhinneka" berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, kata "tunggal" berarti satu, kata "ika" berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap adalah satu kesatuan, bahwa di antara pusparagam bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.
Alangkah sayangnya sesungguhnya, jika Garuda Pancasila yang bhineka tunggal ika itu kemudian menjadi garuda yang satu warna, garuda yang melenyapkan perbedaan, terjebak dalam persatuan menjadi persatean. 

Skala Lambang Garuda Pancasila





Disain Pertama Sultan Hamid II
Revisi Sultan Hamid II
Garuda Pancasila 15 Februari 1950

Revisi Final, 20 Maret 1950



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar