Kamis, Mei 01, 2014

The Working Class Hero, Lagu Buruh dari John Lennon

Yang mengenalkan kata 'kelas pekerja' atau ‘buruh’ pada saya, adalah John Lennon. Hebatnya, dia langsung ngomong ke saya, dalam kamar saya. Ngomongnya sambil nyanyi pula, meski tidak lagi bersama Beatles. Waktu itu, setiap pulang sekolah, sembari makan, kuping disumpal muterin kaset.
“The working class hero is something to be,…” itu nikmat banget ditirukan sembari mengunyah nasi. Nggak ngerti artinya, karena waktu itu masih SMP. Tapi sangat membekas. Lagu itu dirilis tahun 1970, dalam album solo "Plastic Ono Band", beberapa bulan setelah The Beatles resmi dibubarkan.
Sudah banyak cerita soal Lennon, musisi yang lagu-lagunya banyak yang bertema pemberontakan untuk perdamaian. Sifat pemberontak sudah terlihat sejak SMA, dengan "partner-in-crime"-nya, Pete Shotton. Di sekolahnya sering membuat kekacauan. Tidak menyukai banyak pelajaran di sekolah. Di kelas lebih sering menggambar karikatur wajah guru yang ia tidak sukai, daripada mengikuti pelajaran.

As soon as you’re born they make you feel small
By giving you no time instead of it all
Till the pain is so big you feel nothing at all


A working class hero is something to be


Menurut Lennon, segera setelah engkau lahir, mereka (kaum modal, orang kaya) membuatmu merasa kecil. Dengan memberikanmu tak ada waktu, sampai rasa sakit yang begitu besar engkau rasakan. Seorang pahlawan kelas pekerja adalah sesuatu yang harus (dihadirkan).
Lirik tersebut bagian dari lagu Working Class Hero. Lennon berulang kali mengakhiri liriknya dengan sebuah kalimat yang bisa jadi sangat menggangu; Bahwa kita semua adalah kelas pekerja, suka atau tidak suka.
Melalui lagu tersebut Lennon membetot kesadaran kita, yang selalu mengganggap bahwa segala gelar akademis setinggi langit, dapat membuat kita terhindar dari label kelas “pekerja”, dan alih-alih sembunyi pada sebutan ‘profesional’ atau bahkan ‘konsultan ahli’ dan sejenisnya.
Sebuah penyangkalan yang ditanamkan sejak dini, atas apa yang dikatakan Hegel sebagai proses dialektika diri melalui kerja. Namun dialektika itu berhenti di situ saja, karena logika sistem dan aturan egois untuk memberi ruang bagi kelas yang lain, tidak dimungkinkan.
Satu situasi yang memunculkan traumatik dan ketergantungan. Sehingga untuk menekan munculnya kegilaan massal itu ke permukaan, diberikanlah kesenangan artifisial, berupa hiburan dalam dosis tinggi, “Keep you doped with religion and sex and TV,…” teriak Lennon.
Lennon, sang filsuf-musisi, dalam lagunya meneruskan pemikiran Hegel dan Marx. Working Class Hero sebuah ajakan untuk menyadari diri dan posisinya dalam struktur masyarakat. Dalam liriknya Lennon menggambarkan bahwa “pahlawan kelas pekerja” adalah seseorang yang berani memulai kesadaran, dan tidak terbuai dalam sistem kelas imajiner dengan kenyamanan yang memabukkan (seperti hiburan dalam dosis tinggi). Harus berani tawar-menawar, kerjasama dalam kesetaraan. Tentu saja kesetaraan dalam pengertian proporsional, karena hampir menjadi wajah umum, kelas pekerja yang bekerja selama lebih dari 30 tahun, tetap saja miskin.
Selama ini buruh berada pada rantai terbawah dari proporsi perputaran pertumbuhan, karena tak pernah menjadi perhatian. Masyarakat sebagai pengkonsumsi media, dan teori-teori kelas fesbuker maupun blogger amatiran, menjadi tidak ngarti ketika terjadi pemelintiran makna atas konsep buruh dan kelas pekerja. Kelas pekerja (working class) saat ini dibekukan dalam definisi sempit untuk menggambarkan buruh. Sehingga pekerja jenis lainnya, yang bekerja di belakang meja, dapat terlepas dari segala konotasi yang melekat pada kata “kelas pekerja”. Padahal menurut Lennon, lugas saja; “A working class hero is something to be!”
Selamat hari buruh. Buruh di dalam buruh di luar, buruh di atas buruh di bawah, bersatu dalam jiwa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar