Rabu, Mei 28, 2014

Prabowo, Kecuali Dia Bisa Lebih Baik dari Jokowi


Catatan: Sunardian Wirodono

Dalam sebuah pertemuan dengan partai pendukungnya, Prabowo Subianto, capres dalam Pemilu 2014 mengatakan; "Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,..."
Kata-kata itu seolah menunjukkan kebijaksanaannya, tetapi itulah realitas politik yang dihadapinya saat ini dan ia salah membacanya.
Dengan adagium bahwa seribu kawan terasa kurang, maka ia merekrut semua, mengajak semua, bahkan kalau perlu membujuk semua. Karena dengan begitu maka ia akan didukung banyak pihak. Dalam kalkulasi perolehan suara pileg, maka partai-partai pendukungnya, dengan perolehan masing-masing seperti PPP, PKS, Golkar, PAN, PBB, dan bahkan bisa dipastikan nantinya Demokrat, seolah telah memposisikan capres Prabowo sebagai pemenang Pilpres 9 Juli 2014 mendatang.
Prabowo menjadi tokoh yang sangat ambisius. Jauh sebelum penyelenggaraan pileg 9 April 2014, Hashim Djojohadikusumo sudah sesumbar, bahwa dia menyiapkan dana unlimited untuk kakaknya itu. Dana untuk apa? Tentu saja dana politik. Bukan hanya pada partai nasional, pada 3 partai lokal di Aceh pun, kita bisa dapatkan informasi, bagaimana dana politik Gerindra menyebar ke mana-mana. Belum lagi fenomena kisruh dukungan SDA yang maju-mundur, juga PKS, yang keduanya mengancam keluar dari dukungan, ketika masuk Hatta Radjasa dari PAN. Belum lagi negosiasi alotnya Golkar dan Gerindra. Hingga kemudian muncul janji soal posisi menteri utama, negosiasi uang sampai Rp 3 trilyun.
Berbagai manuver Gerindra kemudian adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya pihak. Hampir semua pihak yang "dikecewakan" kubu Jokowi, dibujuk dan dimanfaatkan, seperti pada Rhoma Irama, Mahfud MD, demikian juga Guruh Soekarnoputra dan Rachmawati Soekarnoputri (kenapa tidak sekalian Guntur Soekarnoputra dan Sukamawati Soekarnoputri?), meski Guruh dan Rachma tidak secara eksplisit menyatakan dukungan.
Dengan keyakinan "seribu kawan masih terlalu sedikit", maka Gerindra dan koalisinya mengembangkan berbagai cara. Hingga perlu menjadikan kepala daerah, bupati, camat, sampai kepala desa untuk menjadi tim pemenangan di wilayah masing-masing.
Cara-cara terakhir itu, dengan melibatkan pejabat publik (apalagi yang dipilih berdasar demokrasi), akan menjadi gangguan yang serius. Meski pejabat publik dimenangkan oleh kelompok pemilihnya, bukan berarti kelompok yang tidak memilihnya waktu itu, kemudian diposisikan bukan alamat bagi kebijakan dan kebajikannya. Apalagi jika pada prakteknya kemudian tak jauh beda dengan jaman Orde Baru Soeharto, yang dijalankan dengan ancaman, intimidasi, dan bahkan penyelewengan kekuasaan untuk kepentingan kelompoknya sendiri.
Cara-cara Prabowo tak jauh beda dengan cara-cara militer. Politik didekati dengan indoktrinasi. Dan semua kawan koalisi Gerindra, kini berperilaku sama, meskipun itu bernama Mahfud MD atau Amien Rais. Statemen mereka, kemudian tak jauh beda dengan komentator fesbuker atau netizen amatiran.
Sementara hanya dua kandidat yang maju, maka rakyat akan dihadapkan secara head to head, untuk memilih siapa yang disukai dan dipercaya. Dan ini sesuatu yang sangat mudah pembacaannya, karena dua kubu menampilkan sebuah kontras.
Dalam visi dan misi, semua orang boleh berbusa-busa. Dan apa sebetulnya yang tertuang di sana, semua bisa dianggap baik, ideal, penuh harapan dan sebagainya. Namun, yang harus segera di sadari oleh kubu Prabowo, adalah soal rekam jejak.
Secara obyektif harus dikatakan, bahwa Prabowo sama sekali tidak punya rekam jejak yang meyakinkan dalam kepemimpinan. Bahwa ia anak manis, anak orang kaya, dan menantu orang yang sangat berkuasa, yang menjadikan begitu lulus AMN terus masuk dalam rising star, sampai kemudian menjadi Danjen Kopasus dan kemudian Pangkostrad. Celakanya, fakta sejarah yang tidak bisa ditolak, dalam karir militernya itu, Prabowo dipecat. Tidak mudah menerima tentara dipecat itu kelak menjadi Panglima Tertinggi TNI.
Sementara itu, mengukur kepemimpinan di militer, tentu berbeda dengan kepemimpinan di dunia sipil. Buktinya? Dalam membangun komunikasi politik, watak otoritarian Prabowo tampak menonjol. Dan keputusan-keputusan politiknya sering terlihat blunder. Dalam gesture pun hal itu tampak jelas, bagaimana ia adalah pribadi yang dominan, namun sangat pragmatis.
Dalam manifesto politiknya, Gerindra menyiratkan bahwa negara akan menjadi penentu soal agama yang benar dan tidak benar, akan menjadi pembina bagi yang dianggapnya melenceng dari syariat, dan senyampang dengan itu Prabowo mengisyaratkan mau bekerjasama dengan FPI. Tetapi ketika diserang dalam hal konsepsi keagamaannya, dengan tingan dibantah dalam permainan kata-kata belaka.
Begitu juga ketika dalam manifestonya, untuk menonjolkan sisi nasionalisme, ia akan menasionalisasi beberapa perusahaan multi-nasional. Dan ketika hal itu dikritik oleh SBY, dengan menyatakan bahwa Demokrat tak mungkin mendukung capres yang akan membuat kekacauan ekonomi (karena nasionalisasi tadi), Prabowo pada waktu yang tak lama berselang, berjanji akan melanjutkan konsepsi pembangunan yang sudah dilakukan oleh Demokrat. Padahal, sampai pada saat deklarasi pencapresannya, Prabowo masih mengkritik konsepso pembangunan pemerintahan SBY.
Hal yang sama dan sebangun dikatakan berkait pengakuan siapa dirinya. Ketika berkunjung pada para purnawirawan, Prabowo mengatakan bukan kader Golkar dan sudah menyatakan keluar. Tetapi hanya selang seminggu kemudian, ketika akhirnya Golkar sepakat bergabung dengan koalisi Gerindra, Prabowo dengan enteng mengatakan mereka berdua (Prabowo dan ARB) adalah sama-sama kader Golkar.
Hal-hal semacam itu, memposisikan Prabowo sebagai calon pemimpin yang belum matang, ketika selalu pihak mereka menyerang Jokowi sebagai orang yang belum mempunyai pengalaman nasional. Kalau ingin mencari orang yang berpengalaman nasional, sesungguhnya mudah saja, pilih saja pensiunan presiden!
Tetapi kenapa para pensiunan presiden tidak mencalonkan, atau kenapa tidak diinginkan oleh rakyat? Karena ukurannya tentu berbeda. Pemilu sebagai daulat rakyat, adalah otoritas rakyat yang akan menentukan. Boleh saja para elite, penggede dan orang pintar mengaku bisa punya pengaruh, tetapi kenyataannya, pileg kemarin hanya menghasilkan 76% suara sah, artinya ada 24% suara tidak sah. Dan dengan perolehan suara yang hanya 18%, 14%, 12% dan 10%, itu sungguh sangat kecil, apalagi partai-partai politik yang perolehannya dibawah itu.
PKB mengklaim sebaca partainya NU, dan kita tahu konon NU memiliki jemaat hingga 60-an juta. Tapi bagaimana perolehan PKB pada pileg kemarin? Hanya sekitar 11 juta suara. Ke mana yang 50-an juta? Pertanyaan sama perlu dilakukan pada Golkar, PKS, Gerindra, PAN, Demokrat, PPP, dan lain sebagainya. Toh pada kenyataannya, sistem politik di Indonesia memakai sistem floating mass, dan one man one vote yang membuat siapapun pemegang kartu suara mempunyai nilai sama, tak peduli dia pemimpin ormas, kyai, atau pun tukang becak dan pelacur pinggir jalan.
Preferensi yang dikedepankan bahwa Prabowo adalah pemimpin yang tegas dan berwibawa, dengan hal-hal di atas sesungguhnya sama sekali tidak terasa. Bahwa secara postur dan wajah, fisik, dia "lebih baik" dari Jokowi, barangkali bisa betul. Namun sama sekali tidak terbuktikan bahwa postur tubuhnya itu, mencerminkan ketegasan dan kewibawaan, sekali pun ia dari militer. Karena ketika terjadi pilihan langsung dari rakyat yang pertama, dan mereka terpesona pada SBY (yang lebih gagah dari Megawati), toh pada akhirnya SBY adalah sosok kepemimpinan yang dianggap lemah, lamban, peragu, dan sering tidak hadir dalam situasi-situasi critical.
Tulisan ini tidak ingin menyinggung pada masalah-masalah diluar "kepemimpinan nasional", misalnya soal bagaimana Prabowo menjadi pengusaha dan bagaimana kehidupan rumah-tangganya. Meski pun dua hal ini akan menjadi sorotan penting bagi pemilih, karena pemilih bukan hanya fesbuker dan aktivis dunia maya.
Mayoritas pemilih di Indonesia akan melihat karakter tokoh, kepribadiannya, sikap-sikapnya, dan apa yang sudah dikerjakan, Pada faktor apa yang dikerjakannya itu, Jokowi lebih leading. Sentimen yang dibangun kelompok Prabowo, dengan mendeligitimasi Jokowi sebagai bodoh, tidak cerdas, boneka, tidak bisa shalat, Cina, bukan Islam, hanya akan menjadi bumerang, karena pada faktanya Prabowo semula adalah Kristen, yang kemudian pindah Islam karena menikah dengan Titiek Soeharto. Mama Prabowo, adiknya, adalah Kristen, meski Sumitro adalah Islam. Dua adiknya lagi, bahkan adalah Katholik. Ini fakta dan bukan fitnah, dan apakah PKS atau partai-partai yang mendaku sangat Islami itu mengerti soal ini? Ini sisi lemah black campaign dengan isyu SARA yang bisa dipakai. Tetapi apa relevansinya? 
Sementara Jokowi, anak orang miskin dari pinggiran sungai, ditarik ke pusaran arus kekuasaan oleh anak Sukarno bernama Megawati (ketua umum partai politik pemenang Pemilu 2014, dan pemegang mandat kongres partai yang mempercayakan padanya untuk menentukan siapa saja), siapa yang tidak gonjang-ganjing dengan hal ini, ketika semua partai percundang berebutan kekuasaan, sampai kehilangan harkat dan martabatnya dari capres, menjadi wapres, kemudian mentri utama, dan kemudian atas nama kamuflase tidak menjadi apa-apa?
"Seribu musuh terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak," itu dilema Prabowo sekarang. Gara-gara satu orang bernama Jokowi, dia jadi kelimpungan. Sebelum Jokowi masuk bursa kepemimpinan nasional, Prabowo selalu teratas dalam survey dari sejak 2010-2012. Namun akhir 2012, ketika muncul Jokowi, Prabowo rontok elektabilitasnya.
Dan kini, peta politiknya menjadi lebih sederhana, David lawan Goliath. Jokowi yang kerempeng menjadi penantang serius Prabowo yang gemuk tembem, meski pendek. Pertarungannya kini mengerucut antara "orang kota" dengan "orang desa", "orang pusat" dengan "orang pinggiran", "orang kaya" dengan "orang miskin", "orang tampan dan priyayi" dengan "orang jelek dan ndesit".
Dan rakyat akan selalu memberikan antitesisnya. Sebuah hukuman sejarah ketika elite partai politik tak bisa membaca signal kejengkelan rakyat, melalui hasil pileg 9 April kemarin.
Pemilu, dengan pileg atau pilpres, bukanlah sesuatu yang ajaib-ajaib banget. Dia masih dalam ranah manusia. Namun karena di dalamnya menyangkut hajat hidup orang banyak, pastilah nilai-nilai kemuliaan dengan sendirinya menjadi ukuran di sana. Siapa capres yang tidak punya, atau bahkan berkhianat pada nilai-nilai kemuliaan itu, akan dijauhi rakyatnya, meski dia ganteng dan gagah. Karena untuk memuliakan bangsa dan negara, bukan ditentukah oleh sosok fisik, melainkan kemuliaan jiwanya yang dimanifestasikan dengan apa yang dipikirkan dan apa yang sudah dikerjakan. Dan ini, hampir menjadi harga mati dalam pemilu mana pun.
Dalam sebuah tulisannya; The Science of Leadership, "WHY TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP WORKS", Joseph H. Boyett, Ph.D., dari Boyett & Associates mengatakan; Pemimpin transformasional sukses karena mereka menyadap (mungkin tepatnya 'menyerap') beberapa kebutuhan paling dasar manusia, seperti kebutuhan untuk rasa identitas, kebutuhan untuk memiliki, kebutuhan untuk merasa baik tentang upaya kita, kebutuhan untuk merasa bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang istimewa, kebutuhan untuk percaya bahwa masa depan kita adalah perpanjangan harapan masa lalu kita, dan kebutuhan untuk merasa bahwa kita mencapai sesuatu worthwhile dengan kehidupan kita. Singkatnya, kepemimpinan transformasional bekerja karena kebanyakan dari kita sebagai pengikutnya sangat ingin bekerja.
Dan hal itu terlihat lekat pada Jokowi. Keterikatan kita pada pemimpin, didasarkan pada rasa ke-putusasa-an kita untuk merebut kembali bahwa "kami kehilangan surga masa kecil kami”. Dengan adanya pemimpin kharismatik, 'kami' kembali menjadi lengkap dan berharga. Pemimpin sebagai jawaban untuk ruang kosong dalam jiwa kita. Tidak ada rasa rasa komunitas, tradisi, dan berbagi makna yang memberi generasi sebelumnya rasa penguasaan, keyakinan pribadi dan harga diri.
Kepemimpinan kita yang tidak partisipatif, korup dan miskin keteladanan, menjadikan rakyat hanya sebagai obyek dan bukan subyek, telah meletakkan rakyat dan penguasa vis a vis berhadapan, secara diametral, bermusuhan. Hal tersebut menumbuhkan kelaparan yang bersifat psiko-sosial. Kelaparan untuk bimbingan rohani. Keinginan untuk diisi oleh dzat Tuhan, oleh agama, kebenaran, oleh kekuatan dan kepribadian seorang pemimpin atau guru. Dan terutama konsumerisme kronis.
Keharusan untuk mengisi kekosongan dengan barang-barang konsumen dan pengalaman "menerima" sesuatu dari dunia. Pemimpin sebagai "Good Parent", sebagaimana Soeharto memerankan dirinya, atau ada orang mendaku sebagai keturunan Pangeran Diponegoro, dan sebagainya (contoh soal dari SW).
'Kami' (kumpulan individu) ingin merasa penuh harapan tentang masa depan. Pemimpin karismatik menanamkan dalam diri kita keyakinan; bahwa semua akan baik sekali jika kita hanya mengikuti dia.
Sementara, pendapat lain tentang kepemimpinan transformatif, mempunyai ikatan yang jauh lebih efektif, karena model kepemimpin transformasional lebih memberikan perhatian individu: mendengarkan, sensitif, terutama dibutuhkan untuk kebutuhan pribadi, dan untuk pengembangan serta pertumbuhan.
“Pemimpin Transformasional” berkomunikasi menggunakan pesan emosional. Terbuka dan ekspresif. Terlibat dalam hangat, penuh kasih, dan menerima komunikasi emosional. Ia mengatur tantangan realistis dan menginspirasi kemampuan seseorang untuk mencapainya. Karena itu, ia lebih mengembangkan otonomi, motivasi dan inisiatif dalam diri pengikutnya.
Menciptakan rasa identitas, nilai dan kompetensi, pada tingkat individu dan kelompok. Menerima dan memperkuat individu mengembangkan kebutuhan untuk mandiri. Memperkuat rasa berharga, identitas, dan kompetensi. Bertujuan kerja dengan standar kinerja, tetapi tidak kritis menghakimi. Mengatur keterbatasan, menetapkan aturan bagi yang tidak disiplin, tetapi tidak mengkritik, tidak dominan, menekan atau melarang tanpa alasan.
Pemimpin transformasional menyediakan kesempatan untuk pengalaman dan re-inforces kesuksesan. Memberikan stimulasi intelektual; merangsang imajinasi dan berpikir, serta mengembangkan kreativitas.
Pemimpin transformasional membangun perasaan harga diri, self generations, kompetensi, kemandirian, motivasi batin diarahkan, kemauan untuk menginvestasikan upaya lebih lanjut dan berusaha untuk sukses. Memungkinkan orang untuk memanfaatkan potensi individu dan organisasi mereka. Menghasilkan rasa harga diri, kematangan emosional, kompetensi, kemerdekaan, berorientasi prestasi. Pemimpin transformasional mempunyai kepercayaan penuh dan rasa hormat, dan menciptakan perasaan kekaguman dan bangga berada di dekatnya. Menjadi contoh pribadi. Berfungsi sebagai model imitasi dan identifikasi.
Orang-orang termotivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan harga diri mereka (identitas dan komunitas) dan harga diri-sendiri. Penghargaan didasarkan pada rasa kompetensi, kekuasaan, prestasi atau kemampuan untuk mengatasi dan mengendalikan lingkungan seseorang. Harga diri didasarkan pada rasa kebajikan dan nilai moral, dan didasarkan pada norma-norma dan nilai-nilai tentang perilaku.
Bagaimana kepemimpinan transformasional melakukan pekerjaannya? Apa itu pemimpin transformasional yang membuat begitu menarik? Mengapa kita menginginkan perubahan dalam cara kepemimpinan kita? Ada apa dengan jiwa kita yang membuat kita begitu terbuai atas ‘upaya’ tipu muslihat pemimpin transformasional ini?
Tidak ada jawaban yang pasti untuk hal itu. Namun mimpi rakyat bertumpu pada Jokowi. Jokowi mampu memformulasikan yang tak bisa diteorikan oleh para pengamat politik. Mungkin jawaban sederhana adalah; ia bekerja karena 'kami' menginginkannya untuk bekerja. Kami perlu untuk hal itu, yakni bekerja. Kami menginginkan memiliki identitas. Kami ingin merasa bahwa kita memiliki. Kami ingin untuk merasa baik tentang upaya kita dan diri kita sendiri. Kami ingin merasa, bahwa kita mencapai sesuatu yang berharga dengan hidup kita. Kami ingin melihat masa depan kita sebagai perpanjangan harapan masa lalu kita. Kami ingin membuat perbedaan. 
Dan siapa yang berada dalam aras bawah sadar atau harapan itu, dan bisa meyakinkan rakyat, bahwa dengan mengikutinya kita dapat memenuhi keinginan tersebut, jadilah ia pemimpin transformatif. Jika ia tidak berada dalam aras bawah sadar masyarakatnya, sebanyak apapun uang dibuangnya, rekayasa diciptakannya, media memuja-mujanya, semuanya juga akan sia-sia. 
Atau pun jika sebaliknya, ketika pemimpin transformational itu dituding hanya bagian dari rekayasa, boneka, punya konspirasi dengan Yahudi, China, AS (kok nggak dituding dengan Arab Saudi ya, misal dengan kaum wahabi), semuanya juga akan sia-sia belaka. 
Kepemimpinan tidak berada di ruang hampa. Ia nyata, hidup, dan berinteraksi.
Jokowi adalah representasi dari mimpi dan harapan rakyat, kecuali jika Prabowo dan pendukungnya bisa meyakinkan bahwa dirinya tidak lebih buruk. Amien Rais, juga para kader PKS, atau Mahfud MD, bisa mengatakan apa saja tentang Jokowi, tetapi mereka hanyalah bagian kecil dari 186 juta pemilik suara dalam permainan ini.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar