Minggu, April 13, 2014

SEPULUH KISAH CALEG GAGAL


KISAH PERTAMA  | Seorang caleg gagal tiba-tiba mendatangi kantor polisi, "Pak Polisi, Pak Polisi, ada kecelakaan, ada kecelakaan,…"
"Siap! Dimana, Pak?"
"Tadi saya lihat di TV,…"

*

KISAH KE-DUA | Seorang caleg gagal menuju ke stasiun lintasan kereta-api, bertanya pada penjaga pintu lintasan, "Kereta dari Yogya-Jakarta, lewat sini pukul berapa?"
"3.30"
"Kalau dari Surabaya?"
"4.30"
"Kalau dari Semarang?"
"Trus, bapak ini cuma mau nyeberang 'kan? Lelucon basi!"
"Bukaaaan, ini serius saya mau bunuh diri,…"
“Brarti bapak kesiangan bangunnya,…!”

*

KISAH KE-TIGA | Seorang caleg gagal tampak sedang serius, menulis sesuatu pada selembar kertas. Datang seorang jurnalis fesbuk bertanya, "Bapak ini nulis apaan, sih?"
"Lho, nggak lihat? Kan nulis surat!"
"Hare gene nulis surat? Kan bisa sms atau email. Surat untuk siapa?"
"Untuk aku sendiri,…"
"Trus, isinya apa, Pak?"
"Mana aku tahu, wong belum dikirim. Belum juga rampung nulisnya,…"

*

KISAHKE-EMPAT | Seorang caleg gagal kini lebih banyak duduk termenung di depan laptop. Suatu ketika ia mengundang cucunya, "Kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Aku wariskan semua kekayaan kakek,…"
"Oh, ya Kek? Yang bener?"
"Semua pabrik, sawah, gudang, sapi, deposito bank,…"
"Cucu nggak pernah dengar dan lihat semuanya itu,…"
"Kusimpan di Farmville . Tapi aku lupa passwordnya, Cu,…"

*

KISAH KE-LIMA | Seorang caleg gagal mengumpulkan anak-anak dan isterinya.
"Kaliva, kamu anak tertua mewarisi Apartemen Kuningan,…"
Kaliva mengangguk.
"Winardi, kamu kuberi seluruh kawasan Kelapa Gading Indah,…"
Winardi mengangguk.
"Miracle, sebagai anak bungsu, kamu kuwarisi perkantoran Mulia Tower,…"
Isterinya terheran-heran dan bertanya, "Pap, nyebut, Pak, nyebut,…"
"Emang kenapa?"
"Kegagalan jadi caleg nggak usah dipikirin banget-banget. Bapak ini 'kan cuma tukang loper susu,…"
"Lho, lha iya. Itu daerah yang kuwariskan ke mereka bertiga. Bapak punya banyak pelanggan di situ,… Bapak tetep mau ke Senayan!”
“Lho, kan bapak nggak lolos?”
“Tapi di sana pasti banyak yang suka susu,…”

*

KISAH KE-ENAM | Seorang caleg gagal rambutnya awut-awutan, duduk termenung di depan rumah. Tetangganya datang mendekat, "Mbok rambutnya dirapiin, jangan kayak gitu, nanti dikira,…"
"Aku nggak punya sisir,…"
"Lah, kan bisa pinjam ibumu."
"Kan Ibuku sudah wafat."
"Wah, kuwalat kamu. Ibu masih idup dibilang wafat. Lha ‘kan bisa pinjam sisir ayahmu,…"
"Ayahku gundul,…"

*

KISAH KE-TUJUH | Seorang caleg gagal duduk-duduk bengong di ruang tamu. Isterinya mendekat, "Biasanya hari gini kan kamu main golf ama si Kaliva."
"Apa kamu mau main golf lawan orang curang?"
"Ya enggaklah. Siapa juga yang mau main ama orang curang!"
"Itulah yang Kaliva bilang padaku!"

*

KISAH KE-DELAPAN | Seorang caleg gagal menerima telpon. Tapi hanya sekitar 30 menit, pembicaraan selesai. Isterinya keheranan, "Kok cuma sebentar? Biasanya, kalau udah ngobrol politik bisa telponan sampai berjam-jam,…"
Sang suami menjawab bijak, "Itu tadi salah sambung,…"

*

KISAH KE-SEMBILAN | Kali ini bukan seorang caleg gagal, tetapi sepasang suami-isteri yang keduanya maju caleg. Dan keduanya gagal. Sang isteri pagi-pagi datang ke seorang dokter jiwa, "Dokter, tolonglah kami. Suami saya selalu merasa bahwa dirinya adalah ayam."
"Mengapa Ibu tidak mengajaknya serta kemari?"
"Saya maunya gitu, membawanya kemari. Tapi saya lagi butuh telur. Biar dia bertelur dulu, ya, dok?" 

*


KISAH TERAKHIR | Seorang caleg gagal, yang masih muda, mendatangi ayahnya, "Ayah, saya ingin menikah."
"Itu baik, dan kau bisa lupakan kegagalan kemarin. Siapakah calon isterimu?"
"Nenek!"
"Tunggu. Stress boleh tapi jangan gila kayak gini. Nenekmu itu ibuku, tahu!"
"Apa bedanya? Ayah juga nikahin ibuku! Dasar ayah gila!"

*

BONUS | Seorang caleg gagal, yang tinggal di kawasan Slipi, Jakarta, pinjam handphone pada isterinya. HP-nya sendiri amblas diberikan tim-suksesnya. Tapi beberapa jam setelah itu, suaminya hilang. Di tunggu sampai sore, belum juga pulang.  Meminjam handphone anaknya, sang isteri menelpon suaminya, “Kamu di mana?”
“Mbogor,…” terdengar jawaban suaminya di handphone.
“Lha, ngapain?”
“Tadi, aku sms teman di Mbogor.”
“Terus?”
“Aku bawalah handphonemu itu sampai ke Mbogor.”
“Lho ngapain? Kan tinggal sms saja? Alesan. Kamu pasti ada main ke Mbogor,…”
“Kalau dia nggak lihat monitor handphone yang kupakai sms itu, gimana dia bisa membaca isi sms-ku?”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar