Minggu, April 27, 2014

Sebuah Imbauan Untuk Aburizal Bakrie

Pak Aburizal Bakrie yang baik, ijinkan saya mengimbau kepada sampeyan, ketika sampeyan tetap bersikukuh bakal mencapreskan diri. Mestinya saya juduli ‘Kritik Untuk Pak ARB’, seperti tulisan saya sebelumnya “Kritik Untuk Pak Jokowi’, namun berhubung belum pastinya pencapresan sampeyan, termasuk resistensi di internal Golkar sendiri, saya juga urung menyampaikan kritik, dan lebih memilih mengimbau sampeyan.
Fakta yang sulit dibantah, dalam internal partai sampeyan sendiri muncul penolakan dan kontroversi. Hal seperti itu memberi petunjuk ada masalah yang belum selesai. Bukan sekedar dalam tubuh partai, melainkan tubuh sampeyan sendiri, dan lebih masuk lagi; lubuk hati sampeyan.
Sampeyan dikenal sebagai orang sukses, namun ukuran orang sukses di Indonesia sering bias. Ketika orang sukses itu adalah orang kaya, maka yang tidak sukses adalah orang miskin. Dan jika kepantasan seseorang hanya dinilai dari hal itu, sampeyan melupakan banyak hal, ketika maju sebagai presiden atau pemimpin bagi bangsa dan Negara ini.
Orang boleh menjadi kaya-raya, yang dengan kekayaannya bisa membeli apa dan siapa saja. Di Indonesia kekayaan memberikan privilege, bahkan untuk mendirikan partai politik, dan nepsong menjadi presiden bagi ratusan juta manusia.
Maafkan, saya ingin membicarakan soal pantas dan tidak pantas, yang tentu berdasar nilai kepantasan, kepatutan, dan keadaban publik. Dalam hitungan angka-angka (terutama angka-angka rupiah), apa dan siapa saja bisa dibeli, bisa dinikmati dan sebagainya. Sebagai pemimpin, manajer, CEO, owner, sampeyan bisa mempertunjukkan diri begitu rupa, dan bahkan anak sampeyan yang masih unyu-unyu itu, bisa menghardik para buruhnya untuk setia. Itu pun bukan tanpa perlawanan.
Tetapi ketika sampeyan melampaui batas ruang dan waktu, sampeyan akan berhadapan dengan nilai-nilai abstrak bin absurd bernama kepantasan. Apakah saya ingin mengatakan sampeyan tidak pantas untuk menjadi presiden? Jangan terlalu reaktif. Namun ingin saya jelaskan, berapa jumlah seluruh manusia di Indonesia ini yang tergantung hidupnya pada sampeyan, di seluruh perusahaan milik sampeyan? Sampeyan pasti tidak hapal, apalagi kalau saya tanya berapa yang suka pada sampeyan, dan berapa yang tidak? Berapa yang mengabdi tulus, berapa penjilat, dan berapa yang diam-diam memaki-maki sampeyan?
Sementara itu, rakyat Indonesia, tentulah jauh lebih besar dan buanyak dibanding karyawan sampeyan. Melampaui batas ruang dan waktu dan kepentingan dan mimpi-mimpi dan harkat dan martabat dan lain sebagainya.
Pada sisi ini, kita bicara pada ranah yang tidak sebagaimana sampeyan yakini, hanya dengan menepuk-nepuk ketebalan pundi-pundi sampeyan (dan juga pundi-pundi utang sampeyan, ingat itu).
Ketika sampeyan ingin mencapreskan diri, sampeyan harus bisa menundukkan hati dan jiwa seluruh rakyat Indonesia, atau setidaknya minimal 40% saja dari 186 juta pemegang hak suara, atau sekitar 70 juta suara sajalah. Bisa? Jika harga suara di pasar real Rp 25 ribu per-suara (di pasar calo bisa dua kali lipat), tinggal dihitung berapa duit untuk itu? Bagi sampeyan, itu matematika ecek-ecek. Kalau duit kurang, bisa utang pada cukong dan bandar internasional, tinggal nyodorin proposal menjual Indonesia.
Saya tak ingin membicarakan soal elektabilitas dan hasil survey ini-itu, atau pun upaya para politikus gaek di internal Golkar seperti AT dan JK. Tapi sekali lagi, ada dua hal pertimbangan saya, dan mungkin juga puluhan juta rakyat Indonesia lainnya. Siapakah sampeyan ini? Manusia atau monster? Monster dalam arti, kok kami, setidaknya saya, tidak pernah melihat sampeyan dalam hajat hidup rakyat Indonesia ini? Di sini, sampeyan tidak berada di ruang hampa Bakrie in corporations. Disitulah kepatutan dan kepantasan diukur. Di situ Ahmad Bakrie, bapak sampeyan, bisa menjadi inspirasi dan diapresiasi.
Sementara itu, dengan banyak perusahaan, punya banyak karyawan, tahukah sampeyan relasinya lebih dibatasi kepentingan pragmatis-praktis, hubungan karyawan dan boss? Sementara hubungan rakyat dan pemimpin, bukan sekedar nasi bungkus, atau amplopan yang cuma Rp 50 ribu (itu pun lima tahun sekali). Tetapi seberapa besar di sana sampeyan mampu menyihir ghirah, semangat, harapan dan mimpi rakyat Indonesia. Dan itu hanya bisa dicapai dengan nilai-nilai kemuliaan publik. Jangan bicara soal primordial soal Jawa dan bukan, karena sesama Sulawesi pun bisa baku-bunuh di tanah air ini.
Soal Lapindo, ketika MK memutuskan pemerintah agar menegur pembayaran Lapindo atas masyarakat korban lumpur, dan presiden menyindir hal itu, sampeyan menyepelekan. Bahkan sampeyan mengatakan sudah mengeluarkan uang pribadi membantu masyarakat korban di luar kewajiban hukum sampeyan. Tetapi pada saat lain, sampeyan mengklaim itu bukan ganti rugi, melainkan proses jual beli, yang telah mencapai 90 persen dengan harga 18 kali nilai jual objek pajak . "Enggak ada ganti rugi dalam Lapindo, yang ada adalah jual beli,” ujar sampeyan seminggu lalu. Dengan enteng sampeyan ngomong, "Bahkan yang enggak punya surat dan hanya dengan sumpah pocong saja kami bayar"? Tolong renungkan, apakah masyarakat Sidoarjo waktu itu mau menjual tanah pusaka mereka, dan ikhlas disuruh pindah dari tanah kelahiran?
Hal terakhir, dan ini jauh lebih prinsip, ketika sampeyan diterpa isyu boneka Teddy Bear. Entah apa yang ada pada otak sampeyan, atau konsultan politik dan penjilat sampeyan, ketika sampeyan dengan isteri, anak, menantu, bahkan cecunguk sampeyan di partai Golkar, berpotret bersama dengan masing-masing membopong boneka Teddy Bear. Apa hubungannya? Kenapa tidak sekalian ajak mereka semua memakai bra dan celdam warna pink, terus berpotret bareng mengundang wartawan lebih banyak lagi? Siarkan juga di TVOne dan ANTV! Posting di youtube pulak!
Kalau boneka merupakan budaya universal, bagaimana anak saya nggak ngakak melihat ketua umum dan sekjen parpol berpose bopong Teddy Bear? Bagaimana kaum perempuan bisa memahami Tatty Bakrie, menggendong boneka menirukan gaya Marcella, perempuan yang sampeyan ajak studi banding ke Maldives itu? Di situ azas kepantasan dan kepatutan tidak nyambung dengan mimpi dan harapan rakyat Indonesia, yang dalam data Bank Dunia, 40% masih miskin. Sakit perut rakyat melihat foto itu.
So? Saya hanya bisa menyampaikan imbauan ini, meski sulit untuk mencegah hasrat seksual sampeyan, pada yang benama libido kekuasaan itu.
Tapi, mungkin juga karena itulah, sampeyan dipanggil “Ical”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar